Anda di halaman 1dari 42

FARMAKOLOGI

PADA GANGGUAN
FUNGSI GINJAL

Bag. Farmakoterapi FK Uniba

Gangguan-gangguan Fungsi Ginjal


Fungsi ginjal dapat terganggu karena :
Infeksi bakteri, radang,
batu ginjal.
Gangguan2 tersebut diantaranya :
1. Radang Ginjal (pielonefritis)
2. Gagal ginjal
3. Sindrom nefrotik
4. Batu Ginjal

1. Radang Ginjal (Pielonefritis)


Radang ginjal terjadi karena adanya kerusakan
nefron, khususnya glomerulus yang disebabkan
oleh infeksi bakteri.
Rusaknya nefron mengakibatkan urine masuk kembali
ke dalam darah dan penyerapan air menjadi
terganggu sehingga timbul pembengkakan di
daerah kaki.
Radang ginjal akut disebabkan oleh E. coli, proteus,
Pseudomonas, Klebsiella sp.

Pengobatan
Sambil menunggu hasil kultur urin dan tes sensitifitas dpt
diberikan salah satu obat non antibiotik.
- Nitrofurantoin 3 x 100 mg
- Asam nalidiksat 3 x 1 tab (500 mg), Urineg
- Asam pipemidat 2x 1 kapsul (400 mg) ; Urotractin, Urinter,
Urixin, Palin
- Preparat-preparat sulfa ; kombinasi trimetoprim dan
sulfametoksazol dosis 2x2 tablet, diberikan selama 5-7 hari.
Setelah ada hasil biakan urin dan tes sensitifitas, lalu berikan
anti biotik selama 7-10 hari.
Untuk kasus-kasus kronis diberikan maintenance therapy dgn
obat non antibiotik spt : nitrofurantoin, asam nalidiksat,
asam pipemidat atau preparat sulfa, 1 tablet sesudah
makan malam

2. Gagal Ginjal
Gagal ginjal terjadi jika salah satu ginjal tidak
berfungsi
a. Gagal Ginjal Akut (GGA)
b. Gagal Ginjal Kronik (GGK)

A.Gagal Ginjal Akut


Gagal ginjal akut (GGA) merupakan penurunan fungsi
ginjal secara tiba-tiba yang ditandai dengan
ketidakmampuan renal (ginjal) untuk mengeluarkan
sampah sisa metabolit (air dan sampah nitrogen)
dan menjaga keseimbangan asam basa.
Seseorang dikatakan mengalami GGA bila terjadi
peningkatan kadar kreatinin (SrCr) >0,5 mg/dL
(untuk SrCr dasar <2,5 mg/dL) dan peningkatan
SrCr >1 mg/dL (untuk SrCr dasar >2,5 mg/dL).
(Kimble & Anne, 2005)

Berdasarkan perkembangan penyakitnya


(patogenesis), GGA dipengaruhi oleh
beberapa keadaan fisiologis produksi dan
eliminasi urin diantaranya:
1. Darah yang mengalir ke glomeruli.
2. Pembentukan dan pengolahan ultrafiltrat
oleh glomeruli dan sel tubular.
3. Pengeluran urin melalui ureter, kandung
kemih, dan uretra.

terapi tanpa obat (non farmakologis) dan terapi


obat (terapi farmakologis).
Terapi non farmakologis berupa terapi hidrasi.
Terapi ini merupakan terapi pertama yang
harus dilakukan dan cairan yang digunakan
adalah NaCl 0,45% atau 0,9%. Terapi hidrasi
yang cukup dapat meningkatkan perfusi renal
dan menurunkan kerja dari sel tubulus

Harus diperhatikan agar pasien tidak


mengalami over hidrasi khususnya pasien
yang mengalami disfungsi ventrikular kiri atau
preexisting liver.
Hindari juga penggunaan obat-obat yang
bersifat nefrotoksik (racun bagi ginjal) yaitu
penisilin, ciprofloksasin, amfoterisin B,
golongan aminoglikosida dan sulfonamid.

Pengobatan dipusatkan untuk mencegah penimbunan


cairan dan limbah metabolik yang berlebihan.
Asupan cairan dibatasi dan disesuaikan dengan
volume air kemih yang dikeluarkan.
Asupan garam dan zat-zat yang dalam keadaan
normal dibuang oleh ginjal, juga dibatasi.
Penderita dianjurkan untuk menjalani diet kaya
karbohidrat serta rendah protein, natrium dan
kalium.

Untuk meningkatkan jumlah cairan yang dibuang


melalui ginjal, bisa diberikan diuretik.
Kadang diberikan natrium polistiren sulfonat untuk
mengatasi hiperkalemia.
Untuk membuang kelebihan cairan dan limbah
metabolik bisa dilakukan dialisa.
Dengan dialisa penderita akan merasa lebih baik dan
lebih mudah untuk mengendalikan gagal ginjal

Indikasi dilakukannya dialisa adalah:


- Keadaan mental menurun
- Perikarditis
- Hiperkalemia
- Anuria
- Cairan yang berlebihan
- Kadar kreatinin > 10 mg/dL dan BUN > 120
mg/dL.

Pengobatan GGA
- Ditujukan thd penyebab dari penyakit.
- Atasi infeksi dgn obat non-nefrotoksik
- Infus asam amino esensial.
- Pengaturan keseimbangan cairan dgn diuretik kuat
spt : furosemid.
- Memperbaiki asam basa dgn Na-HCO3
-

Memperbaiki keseimbangan K/Na, terutama pada


fase poliuria.
Hemodialisis dini atas indikasi hiperkalemia,
asidosis berat, uremia yg berat, overhidrasi,
perikarditis, uremia.

1. Nama generik : Furosemid


Nama dagang di Indonesia: Afrosic (produksi Heroic), Arsiret
(Meprofarm), Diurefo (Pyridam), Farsiretic (Ifars), Farsix
(Fahrenheit), Furosix (Landson), Gralixa (Graha Farma),
Husamid (Gratia Husada Farma), Impugan (Alpharma), Lasix
(Aventis), Laveric (Harsen), Mediresix (First Medipharma),
Uresix (Sanbe Farma), Yekasix (Yekatria Farma)
Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400 ml/hari)
karena gagal ginjal
Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis (pengerasan)
hati, gagal ginjal dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50
ml/hari)
Bentuk sediaan: Tablet 40 mg; Injeksi 10 mg/ml

Dosis, aturan pakai:


Dosis oral (tablet) pada oliguria
Dosis awal : 250 mg sehari; jika diperlukan dosis lebih besar,
tingkatkan bertahap dengan 250
mg, dapat diberikan setiap 4-6 jam sampai dosis maksimal tunggal 2
g (jarang digunakan).
Dosis (injeksi) intramuscular atau intravena lepas lambat
Dosis awal 20-50 mg; Anak-anak 0,5 -1,5 mg/kg dengan dosis harian
maksimal 20 mg
Dosis (injeksi) intravena pada oliguria
Dosis awal 250 mg selama 1 jam (kecepatan tidak lebih dari 4
mg/menit), jika tidak tercapai output urin yang diinginkan lanjutkan
dengan dosis 500 mg selama 2 jam. Jika belum tercapai,lanjutkan
lagi dengan dosis 1 g selama 4 jam; jika respon masih tidak
memuaskan, mungkin diperlukan dialisis; dosis efektif (sampai
dengan 1 g) dapat diulang setiap 24 jam

Efek samping: hiponatremia, hipomagnesia, hipokalemia,


alkalosis hipokloremik, ekskresi kalsium meningkat;
jarang terjadi mual, gangguan pencernaan, hiperuricemia
dan gout (penyakit asam urat); hiperglikemia (jarang terjadi
jika dibandingkan golongan thiazid), kadar kolesterol dan
trigliserid meningkat yang bersifat sementara;
jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas dan depresi
sumsum tulang (hentikan pengobatan), pankreatitis (terjadi
pada dosis besar injeksi), tinitus dan ketulian (biasanya
karena pemberian dosis injeksi yang besar dan cepat, serta
pada gangguan ginjal)
Resiko khusus (harus diperhatikan pada pasien dengan
kondisi berikut): Hipotensi; kehamilan dan menyusui; dapat
menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; memperburuk
Diabetes Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

2. Nama generik: Bumetanid


Nama dagang di Indonesia: Burinex (Leo
Pharmaceutical)
Indikasi: edema, oliguria (urin yang dihasilkan < 400
ml/hari) karena gagal ginjal
Kontraindikasi: keadaan prakoma karena sirosis
(pengerasan) hati, gagal ginjal
dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50 ml/hari)
Bentuk sediaan: Tablet 1 mg; Injeksi 0,5 mg/2 ml

Dosis, aturan pakai:


Dosis oral (tablet) Satu mg pada pagi hari, ulangi
setelah 6-8 jam jika perlu; kasus yang parah 5 mg
sehari dengan pilihan meningkatkan sejumlah 5
mg setiap 12-24 jam tergantung respon; Usia
Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup
Dosis (injeksi) intravena 1-2 mg, ulangi setelah 20
menit; Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup
Dosis (infus) intravena 2-5 mg selama 30-60 menit;
Usia Lanjut, 0,5 mg sehari mungkin cukup
Dosis (infus) intravena Dosis awal 1 mg kemudian
disesuaikan terhadap respon; Usia Lanjut, 0,5 mg
sehari mungkin cukup

Efek samping: lihat pada Furosemid; sakit


kepala, lelah, myalgia (nyeri otot)
Resiko khusus (harus diperhatikan pada
pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi;
kehamilan dan menyusui; dapat
menyebabkan hipokalemia dan
hiponatremia; memperburuk Diabetes
Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

3. Nama generik: Torasemid


Nama dagang di Indonesia: Unat (Boehringer
Mannheim)
Indikasi: edema, hipertensi
Kontraindikasi: keadaan prakoma karena
sirosis (pengerasan) hati, gagal ginjal
dengan anuria (urin yang dihasilkan < 50
ml/hari)
Bentuk sediaan: Tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg;
Injeksi 5 mg/ml

Dosis, aturan pakai:


Edema 5 mg sekali sehari, lebih baik pada pagi
hari, tingkatkan jika diperlukan sampai 20 mg
sekali sehari; maksimal 40 mg sehari
Hipertensi 2,5 mg sehari, tingkatkan jika
diperlukan sampai 5 mg sekali sehari

Efek samping: lihat pada Furosemid; mulut


kering
Resiko khusus (harus diperhatikan pada
pasien dengan riwayat berikut): Hipotensi;
hindarkan pada kehamilan dan menyusui;
dapat menyebabkan hipokalemia dan
hiponatremia; memperburuk Diabetes
Mellitus; gagal hati, pembesaran prostat

B. Gagal Ginjal Kronik.


Suatu keadaan klinis yg dikaitkan dgn mundurnya faal
ginjal (unit nefron) yg sifat progresif atau menetap,
dgn akibat menumpuknya sisa metabolit (toksin
uremik).
Toksin uremik adalah bahan yg difonis sbgi biang
keladi sindrom klinis uremia.
Toksin uremik yg telah diterima : H2O, Na, K, P
organik, PTH, renin.
Toksin uremik yg belum diterima : BUN, kreatinin,
asam urat, guanidin, middlemolecule, dsb.

Pengobatan :
Tujuan pengobatan GGK ialah menunda saat dialisis
atau transplantasi dgn memperlama periode
asimptomatik.
Caranya :
- Memperbaiki faktor-faktor yg reversible
- Treatable dan mencegah menumpuknya toksin
uremik dgn diet dan obat-obatan
- Memperbaiki penyakit dasar
- Mengatasi keluhan dan gejala dgn obat-obatan
- Mencegah/ menghidari tindakan-tindakan yg
menambah kerusakan ginjal lebih lanjut.

Mencegah timbulnya penyulit yg memperjelek GGK


-

Hati-hati thd obat nefrotoksik ; NSAID jangka lama,


kombinasi aminoglikosida sefalosporin dgn furosemid
Hindari dehidrasi, hipovolemia, hipotensi, anti hipertensi yg
terlalu kuat, diuretik yg berlebihan, pantang air dan garam
yg terlalu ketat, keseimbangan cairan yg baik.
Hindari gangguan elektrolit
Hindari undernutrition akibat diet yg terlalu ketat, rendah
protein yg berlebihan.
Hindari kehamilan
Hindari katerisasi urin yg tdk perlu, (bahaya ISK &
urosepsis) hindari kontras urografin pd penderita DM, MM,
dehidrasi, hiperurisemia
Obati dekompensasi jantung, agar CO membaik.

Memperlambat progresivitas GGK


- Kendalikan tekanan darah, hipertensi maligna,
- Obati ISK dgn antibiotik non-nefrotoksik yg sesuai
- Obat nefrotoksik diberikan dgn dosis interval
berdasarkan kliren kreatinin.
- Obati hiperfosfatemia, mencegah
hiperparatiroidisme. Cara : diet rendah fosfat, obat
pengikat fosfat (phosphate binders)
- Hiperurisemia berat pd GGK dpt menyebabkan
pembuntuan tubulus, inflamasi interstitial sehingga
menjadi jaringan ikat. Diet rendah purin, obat
alopurinol
- Asidosis metabolik diobati dgn Na-HCO3 tab/i.v, air
soda.

Mengurangi gejala uremia


Semua keluhan dan gejala dapat diobati secara simptomatik
-

Diet rendah protein


Asam amino esesial
Gatal (pruritus), difenhidramin, paratiroidektomi,
transplantasi ginjal.
Keluhan GI : anoreksia, mual, muntah, kadang-kadang
membaik dgn diet, memperbaiki asidosis dgn NaHCO3, obat
anti muntah.
Keluhan neuromuskular : lelah, parestesi, kram, diberi
vitamin B1, B2, B12 dosis tinggi, diazepam.
Anemia : preparat Fe, asam folat, nandrolon dekanoat,
hormon anabolik untuk stimulasi eritropoetin
Osteodistrofi Renal : koreksi asidosis, obat pengikat fosfat,
suplementasi kalsium, vitamin D3.

Kelainan akut yg dapat mencetuskan GGK yg


sudah ada.
-

Gangguan keseimbagan H2O dan elektrolit;


dehidrasi, defisit Na, hiponatremia, hipokalemia.
Gangguan hemodinamik : payah jantung
kongestif, hipotensi, syok.
Infeksi sistemik atau renal (bakteri atau virus)
Bahan nefrotoksik: obat-obatan, bahan kimia,
aminoglikosida, sefalosporin, amfoterisin B,
bahan-bahan kontras radiologi, dsb.
Hipertensi maligna
Gangguan metabolik : hiperkalsemia,
hiperurisemia, hiperoksaluria
Nefropati obstruktif dan nefrolitiasis.

3. Sindrom Nefrotik
Suatu sindrom klinis yg dapat disebabkan oleh banyak
penyakit, ditandai dgn meningkatnya permeabilitas
membran basal kapiler glomerulus thd protein dgn gejala
utama proteinuria > 3.5 gram/24 jam.
Penyebab :
a.
Penyakit glomerulus primer (glomerulonefropati primer)
b.
Kelainan glomerulus sekunder krn penyakit a.l :
- infeksi : sifilis, malaria, tuberkulosis, tifus, virus
- nefrotoksin : diuretik merkuri, bismuth, emas
- alergen : sengatan lebah, gigitan ular, tepun sari.
- penyakit jaringan ikat/kolagen
- penyakit-penyakit lain : miolema, DM, gagal jantung
kongestif, trombosis vena renalis, dsb.

Gejala klinis :
- Kencing berbuih
- Sembab tungkai yg makin progresif
sampai sembab seluruh tubuh (anasarka)
- Sesak napas (kalau ada cairan pleura)
- Sebah dan perut buncit (kalau ada asites)

Pengobatan :
Diet tinggi kalori (25-50 kal/kg), tinggi protein (100-150 gr/hari),
rendah garam
2.
Obat :
- kortikosteroid (dilarang pd sebab amiloidosis, DM), hasil
baik pd minimal changes. Prednison 2 mg/kg/hari (max
80 mg/hari) selama 4 minggu, diturunkan bertahap
sampai 5-10 mg/hari.
- imunosupresif (hanya diberikan pd penderita steroid
resistent siklofosfamid 2 mg/kg/hari selama 8-10 minggu
atau klorambusil 0,2 mg/kg/hari selama 8 minggu.
- diuretik furosemid 40-80 mg/hari kalau diperlukan
- antiagregasi platelet dipiridamol 3 x 75 mg/hari (mulai
dgn 3 x 25 mg)
- infus albumin
3. Terapi/koreksi penyakit primernya.
1.

Komplikasi
-

Kelainan kardiovaskular (arteriosklerosis)


Syok hipovolemik
Mudah infeksi
Gagal ginjal kronik

4. Batu Ginjal
Batu ginjal terjadi karena adanya endapan garam
kalsium dalam ginjal sehingga menghambat
keluarnya urine dan menimbulkan nyeri dan infeksi
sekunder.
Batu ginjal yang besar disebut sebagai Staghorn
calculus yang berada di dalam rongga ginjal. Batu
ginjal rata-rata 90% mengandung garam Kalsium.
Batu ginjal mengandung 90% Kalsium, 65% Oxalat, 5
% Urat dan 2-3% mengandung Cystine.

Pengobatan
1. Tindakan Farmakoterapi:
yaitu tindakan pengobatan dengan cara minum obat.
Gejala dapat diatasi dengan pemberian tablet / suntikan anti spasmodik
(Papaverin). Bila tidak menolong, maka dapat diberikan suntikan obat
yang mengandung Narkotik (injeksi Pethidin).
Batu dengan ukuran kecil (2-3 mm) dapat keluar dari tubuh dengan
banyak minum, sehingga dapat memproduksi air seni lebih banyak dan
dapat mendorong keluar batu ginjal.
Ekstrak Daun Kejibeling dan Daun Tempuyung (obat Herbal) dapat juga
dipakai untuk mengeluarkan batu dengan banyak minum.
Peningkatan kadar asam urat di dalam darah maka penderita dapat
diberikan tablet Alopurinol 100 mg (nama generik), sehari 3x1 tablet,
yang diminum sesudah makan.
antibiotika bila ada Infeksi ginjal dan saluran kencing yang ditandai
dengan adanya demam.
Untuk batu ginjal dengan ukuran yang besar (Staghorn calculus), harus
dilakukan operasi ginjal.
2. Bedah
3. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL).

Gangguan- Gangguan ginjal lainnya


A. Glukosuria
Glukosuria adalah penyakit yang ditandai adanya glukosa dalam urine.
Penyakit glukosuria sering juga disebut dengan penyakit gula atau
Kencing manis (Diabetes mellitus).
Kadar glukosa dalam darah meningkat karena kekurangan hormon
insulin. Nefron tidak mampu menyerap kembali sehingga kelebihan
glukosa dan terbuang bersama urine.
B. Hematuria
Hematuria merupakan penyakit yang ditandai adanya sel darah merah
dalam urine.
Penyakit tersebut disebabkan adanya peradangan pada organ urinaria
atau karena iritasi akibat gesekan batu ginjal

C. Albuminuria
Merupakan penyakit yang ditujukkan oleh adanya molekul albumin dan
protein lain dalam urine.
Penyebab karena adanya kerusakan pada alat filtrasi.
D. Nefritis Glomerulus
Nefritis glomerulus merupakan radang membran filtrasi glomerulus di
dalam korpuskulum renalis.
Penyebab radang secara umum adalah reaksi alergi terhadap racun
yang dilepaskan oleh bakteri streptococcus yang menginfeksi bagian
tubuh lain, khususnya tenggorokan.
Penyakit ini ditandai dengan kenaikan permeabilitas membran filtrasi dan
akumulasi sel sel darah putih di daerah membran filtrasi.
Akibatnya, sejumlah besar protein plasma memasuki urine.
Keberadaan protein plasma meningkatkan tekanan osmotik filtrat urine,
sehingga volume urine meningkat dan menyebabkan gagal ginjal.

E. Sistisis
Sistisis adalah radang pada kantung kemih
terutama bagian mukosa dan sub mukosa.
Sistisis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, zat
kimia, atau luka.

F. Ketosis
Ketosis adalah ditemukannya senyawa keton di
dalam darah. hal ini dapat terjadi pada orang yang
melakukan diet karbohidrat.

G. Diabetes insipidus
Diabetes insipidus terjadi karena tubuh kekurangan hormon
antidiuretik (ADH), sehingga pengeluaran urine berlebih.
Penyakit ini diatasi dengan pemberian ADH sintetis melalui
suntikan, dihirup, atau pun tablet.
H. Penyakit Polisistik
Penyakit ini bisa disebabkan karena kerusakan sistem
saluran ginjal yang merusak nefron dan menghasilkan
pembesaran seperti kista (Benjolan) sepanjang saluran ini.
Kerusakan ginjal ini umumnya bersifat menurun.
I. Anuria
Adalah kegagalan ginjal dalam mensekresikan urine,
disebabkan oleh kurangnya tekanan untuk melakukan
filtrasi atau radang glomerulus sehingga plasma darah tidak
dapat masuk ke glomerulus.

TERIMA KASIH