Anda di halaman 1dari 12

PEMBUATAN PREPARAT PROTOZOA

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah Mikroteknik
yang diampu oleh Drs. Dadang Machmudin, M.Si.

Oleh :
Kelompok 8
Kelas C2 2014
Annisa Aprinandri

(1405659)

Dwi Surya Artie

(1401037)

Julia Francesca N

(1407073)

Naufan Aldi Sujatmoko

(1401128)

Satrio Haryo Benowo

(1403870)

Yeyen Wijaya

(1400241)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Membuat preparat dari kultur Protozoa.
2. Menganalisis faktor faktor yang menyebabkan
kegagalan dan keberhasilan pembuatan preparatpreparat awetan kultur Protozoa.
B. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Praktikum Pembuatan Preparat Kultur
Protozoa
Waktu
: Senin, 6 Maret 2015
Tempat
: Laboratorium Struktur Hewan
C. DASAR TEORI
Mikroteknik merupakan suatu ilmu yang mempelajari
metode atau prosedur pembuatan preparat mikroskopik. Namun,
pendekatan

secara

mikroteknik,

tidak

teoritis
memadai

pada pembelajaran
untuk

mengenai

pemahaman

secara

menyeluruh mengenai mikroteknik. Pembelajaran mengenai


mikroteknik, lebih menekankan pembelajaran pada wilayah
aplikatif, meskipun pada dasarnya teoritis juga dibutuhkan
sebagai suatu petunjuk yang harus dilalui agar pembuatan
sediaan sesuai dengan prosedur kerja dan alasan penggunaan
ataupun pemilihan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
sediaan mikroskopis (Chocolate, 2011; Hamid,2010). Pembuatan
preparat merupakan upaya untuk mempermudah pengamatan
suatu bahan (Dwee, tanpa tahun).
Mikroteknik merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ,
jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah.
Penelaahan umumnya dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena
struktur jaringan secara terperinci pada galibnya terlalu kecil untuk
dapat dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang mencakup
materi mikroteknik dapat diperoleh dari sejumlah definisi dan
peristilahan yang bisa dipakai, hanya saja sebaiknya kita mencamkan

dalam pikiran kita bahwa suatu spesimen mikroteknik dapat


merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan.
Selain dilekapkan dengan kaca preparat, spesimen tadi umumnya
dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat
tipis ataupun plastik yang tembus pandang yang direkatkan diatas
spesimen tersebut (Gunarso, 1989). Sedangkan menurut Amar (2008)
Mikroteknik adalah ilmu yang akan mempelajari metode/prosedur
pembuatan preparat mikroskopik. Organ adalah susunan dari bagian
organisme, yang tujuannya melakukan fungsi tertentu ataupun
kesatuan yang erat kaitannya. (Gunarso, 1989).
Keberhasilan pembuatan preparat Protozoa
dipengaruhi oleh faktorfaktor kinerja. Pembuatan preparat
dimulai dengan penyiapan kaca objek yang harus steril agar
hasil preparat tidak didominasi oleh kotorankotoran debu.
Pengerjaan harus dilakukan dengan akurat, agar tidak terjadi
kecerobohan dalam pengerjaan maka setiap kaca objek diberi
label yang sesuai.
Terdapat berbagai cara untuk membuat suatu preparat.
Pembuatan preparat merupakan upaya untuk mempermudah
pengamatan suatu bahan. Sediaan apusan merupakan pembuatan
preparat dengan menggunakan bahan berupa zat cair. Fungsi
pembuatan preparat apusan adalah untuk mengamati sel-sel
dalam cairan tubuh, misalnya pada darah, sperma dan Protozoa.
1. Kultur Protozoa
Protozoa merupakan hewan berukuran mikroskopis
yang terdiri dari satu sel. Istilah Protozoa berasal dari bahasa
Yunani, yaitu protos berarti pertama dan zoon berarti hewan.
Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan
reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).
Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika

kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan


maka Protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat
yang disebut kista. Setiap individu protozoa tersusun dari
organela organela yang merupakan kesatuan lengkap dan
sanggup melakukan semua fungsi kehidupan. Sebagian besar
protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa jenis hidup
sebagai parasit pada binatang dan manusia.
Sesuai dengan klasifikasi Protozoa termasuk Protista
yang menyerupai hewan. Kelompok ini mulanya dibentuk
untuk mengelompokan organisme yang bukan tumbuhan dan
bukan hewan. Itulah sebabnya Protozoa disebut organisme
seperti hewan (animal like). Sebagian besar Protozoa
uniseluler memiliki ukuran tubuh antara 2m-1.000m,
protozoa termasuk eukariot. Biasanya hidup di dalam air,
namun ada juga yang ditemukan di dalam tanah bahkan di
dalam tubuh organisme lain sebagai parasit. Di perairan laut
ataupun air tawar, Protozoa berperan sebagai zooplankton.
Ciri-ciri Protozoa :
a. Tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof).
b. Memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu,
bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel).
c. Hidup bebas, saprofit atau parasit.
d. Organisme bersel tunggal.
e. Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati.
f. Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok).
g. Protozoa tidak mempunyai dinding sel.
h. Protozoa

merupakan

organisme

prokariot (Anonim, 2011).

mikroskopis

yang

Salah satu contoh dari Protoza adalah Paramecium.


Paramecium merupakan salah satu protista mirip hewan.
Protista ini berukuran sekitar 50-350m. Paramecium telah
memiliki selubung inti (eukariot). Uniknya Protista ini
memiliki dua inti dalam satu sel, yaitu inti kecil
(mikronukleus)

yang

berfungsi

untuk

mengendalikan

kegiatan reproduksi, dan inti besar (makronukleus) yang


berfungsi

untuk

mengawasi

kegiatan

metabolisme,

pertumbuhan, dan regenerasi.


Paramecium bereproduksi secara aseksual (membelah
diri dengan cara transversal), dan seksual (dengan
konjugasi). Paramecium bergerak dengan menggetarkan
silianya. Hal ini akan terlihat jika menggunakan mikroskop.
Mereka menangkap makanan dengan cara menggetarkan
silianya, maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel.
Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan
organik atau hewan uniseluler lainnya. Protozoa memiliki
vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan
mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang
berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.

Gambar 1. Struktur Tubuh Paramecium


Sumber : (Anonim, 2015)

D. ALAT DAN BAHAN


1. Apusan Protozoa
a. Kaca objek (object glass)
b. Kaca penutup (cover glass)
c. Kertas label
d. Air kultur jerami
e. Larutan formalin 0,2%
f. Albumin
g. Pewarna metilen blue (biru)
h. Xylol
i. Entelan
j. Tusuk gigi
k. Pipet tetes
l. Cawan petri
m. Mikroskop listrik
n. Paraffin heater

E. CARA KERJA

1. Apusan Protozoa
a. Kaca objek yang kering dan bersih disiapkan dan diberi label.
b. Kaca

objek

ditetesi

dengan

albumin,

kemudian

diratakan

menggunakan jari tangan dan diamkan hingga kering.


c. Ditetesi setetes air kultur jerami di atas kaca objek yang telah kering..
d. Kaca objek disimpan di atas paraffin heater pada suhu 33C hingga
cukup kering.
e. Dilakukan fiksasi menggunakan formalin 0,2% terhadap air kultur
jerami yang mengering pada kaca objek , lalu setelahnya didiamkan
kembali hingga kering.
f. Preparat diwarnai dengan metilen blue menggunakan pipet tetes hingga
warna menempel, lalu dibilas dengan aquades. Pewarna dialirkan pada
preparat menuju cawan petri. Setelah diperiksa dengan mikroskop,
apabila warna pada preparat terlihat tipis maka kembali dilakukan
pewarnaan, sementara bila warna terlihat tebal maka dibilas kembali.
g. Preparat dikeringkan, diberi entelan. Preparat ditutup dengan cover
glass. Apaila entelan belum merata, diberi setetes xylol pada bagian
tepi cover glass.
a. Dilakukan

finishing, sisi objek yang tidak tertutup oleh cover

glass dikerik dan dibersihkan dengan alkohol 70%.


h. Preparat siap digunakan.

F. TABEL HASIL PENGAMATAN


Tabel 1. Hasil Pengamatan Preparat Protozoa
No
1.

Keterangan
Nama

Hasil Bagus

Hasil Gagal

:
prepara
t
Protozo

a
Perbesaran : (10 x
Metode

10) kali
:

smear
Pewarnaan :
metilen
blue

Gambar 2. Preparat

Gambar 3.

protozoa
Sumber : (Dokumen

Preparat Protozoa
Sumber :

pribadi, 2015)

(Dokumen pribadi,
2015)

G. PEMBAHASAN
1. Preparat Protozoa
Pada pembuatan preparat Protozoa
digunakan Protozoa dari hasil kultur jerami. Protozoa yang
diambil untuk pembuatan preparat ini kebanyakan dari spesies
Paramecium sp. Sebelum melakukan pembuatan preparat
protozoa, air kultur protozoa disiapkan terlebih dahulu
minimal seminggu sebelum pembuatan preparat sebelum agar
protozoa yang akan digunakan berukuran cukup besar untuk
dijadikan objek preparat awetan. Untuk pembuatan preparat
Protozoa ini teteskan air dari kultur jerami ke kaca objek
tetapi sebelumnya beri albumin pada objek glass yang akan
diteteskan air jerami tadi. Albumin tadi bertujuan agar
protozoa yang akan dibuat preparat menempel pada objek
glass. Semakin banyak albumin pada object glass semakin
banyak protozoa yang melekat begitu pula sebaliknya
semakin sedikit albumin pada object glass semakin sedikit
Protozoa yang menempel, namun perlu diperhatikan untuk
ketebalan albumin yang digunakan karena apabila albumin
terlalu tebal maka yang terlihat lebih dominan ketika hasil
pewarnaan. Setelah itu teteskan formalin 0,2 % dan keringkan
menggunakan paraffin heater. Amati di bawah mikroskop,
apabila protozoa lisis turunkan derajat paffin heater yang
digunakan atau tidak perlu melanjutkan ke tahap selanjutnya.
Apabila hasil terlihat bagus beri warna Protozoa dengan
metilen blue, setelah kering beri entelan dan tutup dengan
kaca penutup.

Preparat

Protozoa

dikatakan

baik

apabila Protozoa pada preparat terwarnai oleh metilen blue,


tidak lisis, selain itu tidak terdapat banyak kotoran dan
gelembung setelah dientel. Untuk menghindari lisis gunakan
formalin 0,2% dan pengeringan dalam suhu kamar.
Pembuatan

preparat

yang

gagal

biasanya disebabkan karena formalin yang digunakan


presentasenya terlalu besar dan suhu paraffin heater yang
terlalu tinggi sehingga terjadi lisis. Selain itu albumin yang
dioleskan tidak merata sehingga sebaran Protozoa pun tidak
merata.

H. KESIMPULAN
1. Apusan Protozoa yang baik dapat dilihat dari bentuk protozoanya
yang jelas, terwarnai, dan tidak lisis ketika dilihat di bawah
mikroskop. Selain itu juga preparatnya tidak terdapat banyak
pengotor dan gelembung udara. Beberapa faktor yang menunjang
keberhasilan apusan preparat protozoa ini ialah umur kultur jerami
yang digunakan, proses pelekatan dengan albumin, pengeringan,
dan pewarnaan yang dilakukan. Beberapa hal yang mnyebabka
gagalnya pembuatan preparat Protozoa adalah karena terlalu
banyak mengolesi albumin yang tidak merata, ketika fiksasi

menggunakan formalin yang tidak sesuai menyebabkan protozoa


menjadi lisis, dan juga suhu yang terlalu tinggi pada saat
pengeringan prepaat Protozoa menggunakan paraffin heater.

DAFTAR PUSTAKA
Chocolate. (2011). Mikroteknik Hewan. [Online]. Diakses dari:
http://chocoolee.wordpress.com/2011/06/06/mikroteknikhewan/. (11 April 2015)
Poerba, Wedy. (2013). Metoda - Metoda dalam Mikroteknik.
[Online]. Diakses dari : http://catattanaku.blogspot.com/2013/04/metoda-metoda-didalammikroteknik.html . (11 April 2015)

Anonim. (2012). Mikroteknik. [Online]. Diakses dari :


http://bio.unsoed.ac.id/kurikulum-matakuliah/mikroteknik#.VSppaPmUfc9 . (11 April 2015)

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.Struktur Tubuh Paramecium (Anonim, 2015).
[Online]. Diakses dari: http://gambarhewan.web.id/ (12
April 2015).