Anda di halaman 1dari 8

MATA KULIAH MANAJEMEN KEPERAWATAN MATERNITAS

LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Ajar Manajemen Keperawatan Maternitas


Pembimbing Klinik :
Idhah Lestari, S.Kep. Ns
Pembimbing Akademik :
Fatikhu Yatuni Asmara, MSc

Disusun Oleh :
Anif Usni Faizah
22020112130077

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

A. Definisi
Abortus atau keguguran adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan
berat janin kurang dari 500 gram (Murray, 2002 dalam Mitayani, 2009).
Macam-macam aborsi :
1. Aborsi imminens
Memiliki nama lain threatened abortion atau abortus mengancam yang
merupakan proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan perdarahan per
vaginam sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik
intrautrin. Diagnosis ini dapat ditegakkan jika terjadi perdarahan wanita hamil kurang
dari 20 minggu, kadang disertai rasa mules, uterus membesar sebagaimana usia
kehamilan, serviks tidak membuka dan tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Ibu
hanya mengeluarkan sedikit darah per vaginam dan dapat berlanjut selama beberapa
hari atau berulang. Jika terjadi abortus ini masih dapat kemungkinan untuk janin
dipertahankan. Jika dilakukan pemeriksaan menggunakan USG maka dapat
menunjukkan hasil buah kehamilan masih utuh dan baik, ada tanda kehidupan janin,
meragukan, dan buah kehamilan tidak baik atau janin mati.
2. Abortus incipiens
Memiliki nama lain inevitable abortion atau abortus sedang mengancam yang
merupakan proses abortus yang sedang berlangsung dan tidak lagi dapat dicegah yang
ditandai dengan terbukanya ostium uteri eksternum selain adanya perdarahan.
Ditegakkan apabila dijumpai ostium dalam keadaan terbuka dengan hasil konsepsi
masih terdapat dalam uterus. Darah keluar banyak dan kadang bergumpal-gumpal,
nyeri dan kontraksi kuat, terdapat dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk
dan meraba. Ibu dapat meninggal akibat perdarahan dan sisa bayi atau placenta dapat
menyebabkan

infeksi

sehingga

kontra

indikasi

dari

keadaan

ini

adalah

mempertahankan kehamilan..
3. Abortus inkompletus
Merupakan proses abortus dimana sebagian hasil konsepsi telah keluar melalui
jalan lahir. Ostium uteri aksternum dijumpai terbuka, dan kadang-kadang teraba
adanya jaringan atau bahkan kadang menonjol di ostium.
4. Abortus kompletus
Merupakan proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi telah keluar
melalui jalan lahir.
5. Missed abortion
Merupakan berakhirnya suatu proses kehamilan sebelum 20 minggu, namun
keseluruhan hasil konsepsi itu tertahan dalam uterus selama 6 minggu atau lebih.

Ditandai dengan pengecilan ukuran uterus hamil, oleh karena itu sering kali diagnosis
ditegakkan setelah melalui beberapa kali pemeriksaan serial. Biasanya abortus ini
didahului dengan abortus imminens yang kemudian menghilang spontan atau setelah
diobati.
6. Abortus habitualis
Merupakan abortus yang terjadi 3 kali atau lebih secara berturut-turut dengan
berbagai sebab.
7. Abortus infeksius
Suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi baik yang
diperoleh dari luar rs maupun yang terjadi setelah tindakan di rs. Diagnosa ini
ditegakkan apabila telah ada tanda-tanda infeksi yakni kenaikan di mana suhu tubuh >
38o C, kenaikan angka leukosit (WBC) dan discharge berbau per vaginum.
8. Septic abortion
Merupakan suatu komplikasi yang lebih jauh daripada abortus infeksius, di
mana pasien telah masuk dalam keadaan sepsis akibat infeksi tersebut. Ditegakkan
apabila ditandai dengan tanda-tanda sepsis seperti nadi cepat dan lemah, syok dan
penurunan kesadaran.
Klasifikasi abortus berdasarkan penyebabnya :
1. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.
2. Abortus buatan atau abortus provocatus
- Abortus therapeutics merupakan indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya
ibu memiliki penyakit jantung, hipertensi esensial, dan karsinoma serviks yang
jika dilanjutkan kehamilannya maka akan dapat mengancam nyawa ibu dan bayi.
Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang tersiri dari dokter, ahli kebidanan,
-

penyakit dalam dan psikiatri, atau psikolog.


Abortus provocatus criminalis dimana terjadi pengguguran kandungan yang
disengaja tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan
dilarang oleh hukum untuk dilakukan. Beberapa cara yang dapat dilakukan pada
proses aborsi ini yaitu :
Manual vakum dimana dilakukan bedah aborsi di awal kehamilan hingga
usia 7 minggu setelah periode menstruasi terakhir. Prosedur ini
menggunakan tabung yang tipis dan panjang yang dimasukkan ke dalam
rahim dan jarum suntik yang melekat pada tabung akan menyedot embrio

keluar.
Metode kuret metode ini paling umum dilakukan biasanya untuk usia 6-14
minggu karena bayi sudah lebih besar, maka dokter harus melakukan
peregangan pada leher rahim dengan menggunakan batang besi. Setelah
leher rahim terbuka dokter memasukkan tabung plastik keras ke dalam

rahim yang dihubungkan dengan mesin penghisap, kemudian dokter akan


melakukan pembersihan sisa janin dengan pisau yang berbentuk bulat

untuk membersihkan sisa janin yang ada di dalam.


Aborsi menggunakan pil aborsi ini dilakukan dengan cara ibu meminum pil
atau obat yang berguna untuk membunuh embrio dan mengeluarkannya
dari dalam rahim. Biasanya dilakukan saat usia kehamilan 4-7 minggu.

Obat ini tidak dapat bekerja pada kehamilan ektopik.


Pelebaran dan evakuasi dilakukan saat memasuki usia trimester ke dua
kehamilan, dalam proses ini leher rahim akan dibuka lebih lebar setelah
terbuka maka dokter akan mengeluarkan janin dengan menggunakan forsep
atau tang dan tengkorak janin akan dilumatkan untuk mempermudahproses.

B. Etiologi
Penyebab abortus dapat merupakan gabungan dari beberapa faktor baik dari dalam
maupun dari luar. Abortus pada umumnya disahului oleh kematian janin. Faktor-faktor
yang dapat menyebabkan terjadinya abortus yaitu :
1. Faktor janin
Kelainan yang paling sering dijumpai adalah gangguan pertumbuhan zigot,
embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada
-

trimester pertama yakni :


Kelainan telur dimana telur yang dibuahi ternyata kosong, kerusakan embrio, atau

kelainan kromosom (monosomi, trisomo, atau poliploidi).


- Embrio dengan kelainan lokal
- Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas).
2. Faktor maternal
- Infeksi-infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang sedang
berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua.
Tidak diketahui penyebab kematian bayi secara pasti, apakah janin yang terinfeksi
ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebab. Beberapa
organisme yang dapat menyebabkan keguguran diantaranya adalah virus (Rubella,
Sitomegalovirus, Virus herpes simpleks, Varicella zoster, Vacinia, Campak,
Hepatitis, Polio, Ensefalomielitis), bakteri (Salmonella typhi), dan parasit
-

(Toxoplasma gondii, Plasmodium).


Penyakit vaskular misalnya hipertensi vaskuler.
Kelainan endokrin abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak

mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid, defisiensi insulin.


Faktor imunologis dimana terdapat ketidak cocokan (inkompabilita sistem HLA

(Human Leukocyte Antigent).


Trauma kasus ini jarang terjadi, jika terjadi biasanya karena jatuh, dan adanya
pembedahan

pengangkatan

ovarium

yang

mengandung

korpus

luteum

graviditatum sebelum minggu ke 8 atau pembedahan intraabnormal dan operasi


-

pada uterus pada saat hamil.


Kelainan uterus seperti hipoplasia uterus, mioma terutama mioma sub mukosa,

serviks inkompelen, atau retrofixcio uteri gravisi incarcerata


Faktor psikosomatik dimana hal yang mempengaruhi psikomatik belum jelas.

3. Faktor Eksternal
- Radiasi
- Obat-obatan seperti antagonis asam folat dan antikoagulan. Ibu hamil sebaiknya
tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan 16 minggu kecuali telah
-

dibuktikan bahwa obat tersebut tidak membahayakan janin.


Bahan-bahan kimia lain yang mengandung arsen dan benzen.

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada wanita hamil yang mengalami abortus adalah :
1. Adanya terlambat haid atau amenorea kurang dari 20 minggu
2. Keluarnya darah per vaginam baik darah banyak maupun sedikit dan dapat pula
disertai jaringan
3. Terasa nyeri atau kram pada perut atau punggung seperti pada saat menstruasi
4.
-

terutama pada daerah suprasimfisis.


Saat dilakukan pemeriksaan ginekologi hasilnya menunjukkan
Saat inspeksi vulva terdapat perdarahan pervaginam
Inspeksi perdarahan pada kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup.
Dilakukan pencolokan pada vagina porsio masih terbuka atau sudah tertutup,
teraba atau tidak adanya jaringan dalam kavum uteri.

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan ultrasonografi atau doppler untuk menentukan apakah janin masih
hidup atau tidak, serta menentukan prognosis.
2. Pemeriksaan kadar fibrinogen pada missed abortion
3. Tes kehamilan
E. Penatalaksanaan
1. Abortus imminens
- Jika kehamilan utuh dan ada tanda kehidupan janin, maka istirahat selama 3x24
-

jam dan diberikan preparat progesteron bila perlu.


Istirahat baring guna meningkatkan aliran darah ke uterus dan mengurangi

2.

rangsang mekanis.
Fenobarbital 3 x 30 mg untuk menenangkan penderita.
Melakukan diet tinggi protein dan vitamin c.
Bersihkan vulva minimal 2 kali sehari dengan cairan antiseptik.
Abortus incipiens

Dilakukan evakuasi atau pembersihan vakum uteri (DK atau suction curretage)
-

sesegera mungkin (DK= dilatasi dan Kuretase) dan antibiotik selama 3 hari.
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu yang disertai perdarahan dengan

pengosongan uterus memakai kuret vakum atau hanya abortus.


Pada kehamilan lebih dari 12 minggu maka berikan infus oksitoksin 10ui dalam

dekstrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes permenit.


Bila perdarahan tidak banyak tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan

selama 36 jam.
Bila janin sudah keluar namun plasenta masih maka lakukan pengeluaran plasenta

secara manual.
3. Abortus inkompletus
Abortus ini ditangani dengan cara yang hampir sama dengan abortus insipiens
kecuali jika pasien dalam keadaan syok karena perdarahan banyak, maka harus
dilakukan resusitasi cairan bahkan dilakukan tranfusi jika diperlukan untuk
mengatasi syoknya. DK atau suction curretage dapat dilakukan setelah syok
teratasi. Dan suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuskular. Lakukan evakuasi
digital, kurelasi, uterotonik, dan antibiotik selama 3 hari. Jika masih terdapat
plasenta pada ibu maka lakukan pengeluaran plasenta secara manual.
4. Abortus kompletus
Pada abortus ini tidak memerlukan tindakan DK, namun mungkin memerlukan
tranfusi dan pengobatan suportif lainnya untuk animia. Jika pasien dalam keadaan
baik, maka berikan ergonometrin 3x1 tablet selama 3 sampai 5 hari. Anjurkan
klien diet tinggi protein, vitamin, dan mineral.
5. Missed abortion
Dengan kadar fibrinogen normal maka dapat dilakukan DK, dan perbaikan
keadaan umum tetapi jika sadar fibrinogen rendah maka perlu diberikan dulu
fibrinogen atau darah segar. Jika kehamilan kurang dari 12 minggu maka lakukan
pembukaan serviks dengan gagang laminaris selama 12 jam lalu lakukan dilatasi
serviks dengan gagang laminaria selama 12 jam, lalu lakukan dilatasi serviks
dengan dilatator hegar. Jika kehamilan lebih dari 12 minggu maka berikan
dietilstibestol 3 x 5 mg, infuse oksitoksin 10 iu dalam dekstrose 5 % sebanyak 500
ml mulai dari 20 tpmdan naikkan dosis saznpai 2 hari di bawah pusat. Keluarkan
konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui
dinding perut.
6. Abortus infeksius
Sebaiknya tidak langsung dilakukan evakuasi namun diberikan payung biotika
terlebih dahulu minimal 48 jam dan kemudian baru dilakukan evaluasi. Jika tidak
diberikan payung antibiotika, tindakan kuretase justru akan menyebabkan sepsis.
Lakukan penanggulangan infeksi, tingkatkan volume cairan jika perlu lakukan

tranfusi. Dalam 24 jam - 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat
lagi bila terjadi perdarahan dan sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.
F. Komplikasi
Komplikasi utama pada ibu abortus adalah hemorargi, syok, gagal ginjal, infeksi
bahkan terkadang hingga terjadi sepsis.
1. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisasisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan
dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam

posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita pelu diamati dengan
teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung
dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.
Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan
persolan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi
perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian
terjadinya perforasi, laparotomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya
cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna
mengatasi komplikasi.
3. Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya

ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang
dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar
lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan kemungkinan diikuti
oleh syok.
4. Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan infeksi

berat (syok endoseptik).


5. Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus abortus biasanya berasal dari efek
infeksi dan hipovolemik yang lebih dari satu. Bentuk syok bakterial yang sangat
berat sering disertai dengan kerusakan ginjal intensif. Setiap kali terjadi infeksi
klostridium yang disertai dengan komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal
20 ginjal pasti terjadi. Pada keadaan ini, harus sudah menyusun rencana untuk
memulai dialysis yang efektif secara dini sebelum gangguan metabolik menjadi
berat (Cunningham, 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Achadiat, M. Chrisdiono. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. EGC : Jakarta
dilihat pada hari Selasa, 10 Maret 2015 pada pukul 15.00 WIB di
https://books.google.co.id/books?
id=PVJ6pCnlsSEC&pg=PA26&dq=abortus+adalah&hl=id&sa=X&ei=daXVIbKMYfkuQT974L4Dg&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=abortus
%20adalah&f=false
Cunningham, F.Gary, dkk. 2005. Obstetri Williams. EGC : Jakarta
Hanafiah, Jusuf, dkk. 2007. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Ed.4. EGC : Jakarta
Prawiroharo. 1999. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka : Jakarta
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Salemba Medika : Jakarta
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri operatif , Obstetri Sosial Ed.2. EGC : Jakarta
Sastrawinata, Sulaiman, dkk. 2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri Patologi Ed.2.
EGC : Jakarta dilihat pada hari Selasa, 10 Maret 2015 pada pukul 15.15 WIB di
https://books.google.co.id/books?
id=5SXtVDOPciIC&pg=PA2&dq=abortus+adalah&hl=id&sa=X&ei=daXVIbKMYJf
kuQT974L4Dg&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=abortus%20adalah&f=false
Wheeler, Linda . 2003. Buku Saku Keperawatan Prenatal & Pasca Partum. EGC : Jakarta