Anda di halaman 1dari 10

BAB 7

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Oleh
SUHARMIN
441 413 058
KIMIA B

A. Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data
apalagi peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk
menentukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga
apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden
yang
lebih
mendalam
dan
jumlah
respondennya
sedikit/kecil.

Wawancara dapat dilakukan secara


terstruktur maupun tidak terstruktur, dan
dapat dilakukan melalui tatap muka (face to
face)
maupun
dengan
menggunakan
responden.

Wawancara

contoh wawancara terstruktur

1. Bagaimanakah tanggapan
bapak/ibu terhadap
pelayanan
pendidikan di
kabupaten ini?
a. Sangat bagus c. Tidak
bagus
b. Bagus
d. Sangat tidak
bagus
2. Bagaimanakah tanggapan
bapak/ibu terhadap pelayanan
kesehatan di kabupaten ini?
a. Sangat bagus c. Tidak
bagus

Contoh
wawancara
tidak
terstruktur :
Bagaimana pendapat bapak/ibu
terhadap kebijakan pemerintah
terhadap
perguruan
tinggi
berbagai
hukum?
Dan
bagaiman peluang masyarakat
miskin
dalam
memperoleh
pendidikan
tinggi
yang
bermutu?

2. Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis
kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel
yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

Prinsip Penulisan Angket

Isi dan Tujuan Pertanyaan


Bahasa Yang Digunakan
Tipe dan Bentuk
Pertanyaan
Pertanyaan Tidak Mendua
Tidak Menanyakan yang
Sudah Lupa

Pertanyaan Tidak
Menggiring
Panjang Pertanyaan
Urutan Pertanyaan
Prinsip Pengukuran
Penampilan Fisik Angket

C. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang
spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara
dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara
dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi
tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alami yang lain.

Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi


merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang
tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikhologis.

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi


dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi
berperan serta) dan non participant observatiaon, selanjutnya
dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat
dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

1. Observasi Berperan Serta (Participant Observation)

Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan


kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati
atau yang digunakan sebagai sumber data
penelitian. Sambil melakukan pengamatan,
peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan
oleh sumber data, dan ikut merasakan suka
dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka
data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam,
dan sampai mengetahui pada tingkat makna
dari dari setiap perilaku yang nampak.

2. Observasi Non Partisan


Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat
langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang
diamati, maka dalam observasi nonpartispan peneliti tidak
terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Misalnya dalam suatu tempat pemungumutan suara (TPS),
peneliti dapat membuat bagaimana perilaku masyarakat
dalam hal menggunakan hak pilihnya, dalam interaksi
dengan panitia dan pemilih yang lain. Peneliti
mencatat,menganalisis dan selanjutnya dapat membuat
kesimpulan tentang perilaku masyarakat dalam pemilihan
umum.
Pengumpulan
data
dengan
observasi
nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan data yang
mendalam, dan tidak sampai pada tingkat makna.

a. Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang
secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan
dimana tempatnya. Jadi observasi terstruktur dilakukan apabila
peneliti telah tahu dengan pasti tentang variabel apa yang
akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti
menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji
validitasnya. Pedoman wawancara terstruktur, atau angket
tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk
melakukan observasi. Misalnya peneliti akan melakukan
pengukuran terhadap kinerja pegawai yang bertugas dalam
pelayanan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), maka peneliti dapat
menilai setiap perilaku dan ucapan dengan menggunakan
instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan
tersebut.

b. Observasi Tidak Terstruktur


Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang
tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang
akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti
tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan
diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi
hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
Dalam suatu pameran produk industri dari berbagai
negara, peneliti belum tahu pasti apa yang akan
diamati. Oleh karena itu peneliti dapat melakukan
pengamatan bebas, mencatat apa yang tertarik,
melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.