Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Agama merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Permasalahan agama dewasa ini juga semakin kompleks.
Banyak orang yang tidak mengetahui tentang ajaran agama yang dia anut.
Ajarannya saja tidak paham bagaimana dia akan beribadah. Banyak konflik
yang terjadi dalam masalah agama, baik dari dalam maupun dari luar.
Masalah dari dalam antara lain merebaknya aliran sesat yang membawa nama
agama, perbedaan pendapat bagi sebagian penganut agama. Masalah dari luar
seperti yang tengah dialami negara Palestina, dimana kebebasannya diusik
oleh zionis Israel laknatullah.
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang
memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur
akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink,
naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, seks, berkuasa dan
rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak
terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya
tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya
yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berjinah, membunuh, mencuri,
minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi).
Agar hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai
dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu
melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah
terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan
dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya

adalah mampu mengendalikan diri (self control) dari pemuasan hawa nafsu
yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
I.2

Rumusan Masalah
Perumusan masalah dari penulisan makalah ini mengenai:
1. Apa itu agama?
2. Bagaimana hubungan manusia dengan agama?
3. Bagaimana konsepsi beragama bagi manusia?

I.3

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui penjelasan mengenai agama.
2. Untuk mengetahui hubungan manusia dengan agama.
3. Untuk mengetahui konsepsi beragama bagi manusia.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1

Pengertian Agama
Menurut buku akidah islam karangan zaky mubarok, 2001 hal: 45,
Pengertian agama ada bermacam-macam yaitu:
1.
Agama berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari a berarti tidak,
dan gama berarti kacau. Jadi, arti dari agama berarti Tidak Kacau
atau teratur. Dengan demikian, agama adalah aturan yang mengatur
2.

manusia agar kehidupannya menjadi teratur dan tidak kacau.


Dalam bahasa inggris, agama disebut religion: dalam bahasa
belanda disebut religie yang asal katanya berasal dari bahasa latin
yaitu relegere

berarti: mengikat, mengatur, atau menghubungkan.

Jadi, religion atau religie dapat diartikan sebagai aturan hidup yang
mengikat yang mengikat manusia dengan tuhan.
Dari kutipan diatas jelas bahwasanya agama tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia. Agama telah menjadi bagian dan seharusnya dimiliki
setiap manusia. Untuk menemukan hubungan antara agama dengan makna
hidup manusia, perlu diketahui terlebih dahulu tentang agama dan manusia.
Agama diturunkan sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia.
Meski pada kenyataannya setiap orang mampu menjalani kehidupannya, tapi
pada dasarnya tidak semua orang mendapatkan petunjuk sebagai mana yang
diajarkan oleh agama. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-quran surah ali
imran: 20

Artinya: ...Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah


mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu
hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan
hamba-hamba-Nya. (Q.S. Ali Imran: 20)

Dari potongan ayat diatas telah jelas bahwa jika manusia masuk
kedalam agama khususnya agama islam, maka ia telah mendapatkan huda
(petunjuk).
II.1.1

Agama Samawi dan Wadi


Agama-agama tauhid adalah agama-agama samawi yang hakiki

dengan tiga prinsip universal mereka, yaitu pertama: iman kepada Allah Yang
Esa. Kedua, iman kepada kehidupan abadi setiap manusia di akhirat kelak
untuk menerima pembalasan amal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya
di dunia. Ketiga, iman kepada para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah
untuk memberi hidayah dan bimbingan kepada seluruh umat manusia demi
mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan dunia serta akhirat.
Pada dasarnya, tiga prinsip ini merupakan jawaban yang paling tegas
atas persoalan-persoalan fundamental manusia yang berakal. Yaitu, siapakah
pencipta alam semesta ini? Bagaimanakah akhir kehidupan ini? Dan apakah
cara untuk mengetahui sistem kehidupan yang terbaik? Sistem kehidupan
yang dibangun atas dasar wahyu pada hakikatnya adalah ideologi yang
bersumber dari pandangan dunia Ilahi.
Prinsip-prinsip akidah itu mempunyai berbagai konsekuensi dan
rincian yang semuanya membentuk sebuah sistem akidah agama. Adanya
perbedaan di antara berbagai keyakinan merupakan sebab munculnya
berbagai agama dan madzhab. Kita perhatikan bagaimana perbedaan tentang
status kenabian sebagian nabi-nabi Ilahi dan tentang penentuan kitab yang
orisinil dan utuh menjadi sebab utama perselisihan di antara agama Yahudi,
Nasrani dan Islam. Atau perbedaan-perbedaan lainnya seputar masalah akidah
dan ibadah, sehingga sebagian dari agama itu sudah tidak sesuai lagi dengan
ajarannya yang murni. Contohnya, keyakinan orang-orang Nasrani terhadap
Trinitas yang jelas tidak sesuai dengan prinsip Tauhid, walaupun mereka telah
berusaha untuk menafsirkan dan menakwilnya sebegitu rupa agar dapat

diterima. Demikian pula perselisihan mengenai kepemimpinan dan penentuan


khalifah setelah wafatnya Rasul saw; apakah penentuan khalifah itu urusan
Allah ataukah urusan manusia. Persoalan ini merupakan sebab utama
terjadinya ikhtilaf antara mazhab Ahli Sunnah dan mazhab Syiah di dalam
Islam.
Firman Allah dalam al quran tentang agama samawi:

Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka


sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
Sedangkan agama wadI Ialah Agama Duniawi yang tidak bersumber
pada wahyu Ilahi, melainkan hasil ciptaan akal pikiran dan perilaku manusia.
Yang mana kerohanian khas suatu bangsa, tumbuh dan berkembang pada
suku bangsa itu sendiri.
Konsep ketuhanannya tidak jelas atau cendrung kepada polyteisme
(banyak tuhan ) ajaran-ajarannya tidak disampaikan oleh rasul. Kitab sucinya
tidak berdasarkan wahyu Allah, Dapat terpengaruh oleh perubahan
masyarakat penganutnya. Kebenaran ajaran pada dasarnya tidak tahan kritik
secara rasional. Sistem berfikirnya sama dengan system berfikir masyarakat
penganutnya.
II.2

Hubungan Manusia dengan Agama


Kondisi umat islam dewasa ini semakin diperparah dengan
merebaknya fenomena kehidupan yang dapat menumbuhkembangkan sikap

dan

prilaku

yang

amoral

atau

degradasi

nilai-nilai

keimanannya.

Fenomena yang cukup berpengaruh itu adalah :


1.

Tayangan media televisi tentang cerita yang bersifat tahayul atau


kemusrikan, dan film-film yang berbau porno.

2.

Majalah atau tabloid yang covernya menampilkan para model yang


mengubar aurat.

3.

Krisis ketauladanan dari para pemimpin, karena tidak sedikit dari


mereka itu justru berprilaku yang menyimpang dari nilai-nilai agama.

4.

Krisis silaturahmi antara umat islam, mereka masih cenderung


mengedepankan kepentingan kelompoknya (partai atau organisasi)
masing-masing.
Sosok pribadi orang islam seperti di atas sudah barang tentu tidak

menguntungkan bagi umat itu sendiri, terutama bagi kemulaian agama islam
sebagai agama yang mulia dan tidak ada yang lebih mulia di atasnya. Kondisi
umat islam seperti inilah yang akan menghambat kenajuan umat islam dan
bahkan dapat memporakporandakan ikatan ukuwah umat islam itu sendiri.
Agar umat islam bisa bangkit menjadi umat yang mampu
menwujudkan misi Rahmatan lilalamin maka seyogyanya mereka
memiliki pemahaman secara utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat
islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa)
tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan
mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan makna
esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan seharihari, seperti: pengendalian diri, sabar, amanah, jujur, sikap altruis, sikap
toleran dan saling menghormatai tidak suka menyakiti atau menghujat orang
lain. Dapat juga dikatakan bahwa umat islam harus mampu menyatu padukan
antara mila-nilai ibadah mahdlah (hablumminalaah) dengan ibadag ghair
mahdlah (hamlumminanas) dalam rangka membangun Baldatun thaibatun

warabun ghafur Negara yang subur makmur dan penuh pengampunan Allah
SWT.
II.2.1

Beragama sebagai Fitrah Manusia


Kata fitrah berarti suci. Hal ini mempunyai hubungan dengan

kata fitrah dalam istilah zakat fitrah dah hari raya fitrah. Fitrah sama artinya
dengan naluri, yakni pembawaan dasar manusia, atau watak asli dan hakiki
dari setiap manusia. (Zaki Mubarok, 2001, hlm:51)
Manusia berasal dari setetes air (mani dan sel telur) kemudian berubah
menjdi segumpal darah, lalu daging, kerangka tulang, lalu tulang itu
dibungkus dengan daging, yang akhirnya menjadi janin, tumbuh menjadi
dewasa dan akhirnya kembali k asal semula yaitu tanah. Firman Allah dalam
Al- Quran surah Al Muminun; 12-14:

Artinya : 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia


dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati
itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. ( Q.S. Al Muminun: 12-14)
Meskipun demikian, dari sekian banyak jumlah populasi manusia di
permukaan bumi ini, amat sangat jarang sekali ada yang yang menyerupai
wujud/wajah yang sama. Allah manciptakan manusia dari setetes air mani dan
bentuk rupa wajah cptaannya berbeda-beda. Ada yang hitam, putah, berambut
keriting, pesek, mancung dll. Subhanallah maha suci Allah. Walaupun
demikian , banyak manusia ciptaan allah yang tidak mau mensyukuri nikmat
yang allah berikan.
Hasil penelitian wilhem schemidt merupakan bukti ilmiah yang
memperkuat kebenaran akidah islam. Islam sebagai agama yang di ajarkan
oleh sejak 15 abad yang lalu, dasarnya adalah mengesakan Allah. Akidah
yang mengesakan Allah (tauhidillah) itulah yang menjadi fitrah manusia.
Menurut islam, kepercayaan asli umat manusia adalah monotheisme
(tauhid). Ajaran fitrah itulah yang menjadi fitrah manusia sejak manusia
pertama (nabi adam as) sampai manusia akhir zaman kelak.
Allah SWT. befirman dalam Al Quran bahwa sesungguhnya
manusia iu fitrahnya bertauhid sejak dalam ruh. Berikut firman Allah dalam
surah Al Araf: 172.

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan


anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka

menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. Al Araf: 172)
Untuk membuktikan syariat Allah sesuai dengan Fitrah manusia, lihat
beberapa contoh :
1.

Manusia ini sifatnya suka menghambakan diri kepada tuannya


yang menolong, melindung dan mengambil berat tentangnya. Atau
dengan kata lain manusia rela untuk mengabdikan dirinya kepada
sesiapa yang dicintainya. Kalau kecintaannya kepada perempuan,
maka jadi hambalah ia kepada perempuan itu. Kalau cintanya kepada
kereta, maka jadi hambalah kepada kereta itu. Kalaulah cinta atau
pautan hatinya kepada nafsu yakni menurut kata nafsu, maka jadilah
dia hamba nafsu. Tetapi yang anehnya manusia sangat marah apabila
digelar hamba perempuan, hamba kereta atau hamba nafsu. Fitrah
menolak sekalipun sikapnya memanglah betu begitu. Mengapa? Sebab
sememangnya fitrah manusia itu ingin menjadi hamba Allah. Coba
katakan kepada sesiapa sahaja samada Islam atau kafir " Kamu ini
hamba Allahlah", nescaya ia akan mengiyakan dengan senang hati.
Hal ini adalah kerana fitrah manusia itu memang Allah jadikan untuk
menyembahNya.
Firman Allah :

Artinya :"Tidak Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk


menyembah Aku" (Q.S. Az Zariat: 56)

Sememangnya manusia itu diciptakan untuk menyembah Tuhan Yang


Esa. Tetapi kenapa setelah di beri peringatan, manusia semakin lupa dan
lalai? Ini adalah kerana hasutan nafsu dan syaitan yang sentiasa menyesatkan
manusia. Mereka lupa Allah dan meninggalkan segala perintah Allah. Namun
hati kecil tetap rasa bersalah dan ingin sekali mentaati Allah dan ianya akan
bertambah ketara apabila manusia itu berdepan dengan kesusahan hidup dan
memerlukan pembelaan daripada sesuatu kuasa. Manusia Ateis yang
kononnya tidak percaya Tuhan itu, sebenarnya cuba membuang rasa bertuhan
dari hatinya. Tetapi rasa itu tetap tidak akan hilang terutama berdepan dengan
saat yang memerlukan pertolongan yang manusia tidak dapat memberikannya
dan ketika bersendirian. Mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri.
Mereka yang sebegini tidak akan bahagian walaupun hidup di dalam istana,
ada kuasa, tahta, wanita dan harta.
Mereka yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak kenal tuhan juga
ramai. Banyak persoalan yang tidak selesai di dalam fikirannya seperti
"Mengapa Tuhan itu tiga dan telah mati sebahagiannya?.". "Mengapa aku
mengambil patung atau tokong ini sebagai perantaraan aku dengan tuhan
sednagkan tanpa tokong ini juga dapat merasa akan adanya Tuhan." Dan
sebagainya. Mereka yang tidak kenal tuhan ini akan mengalami kerunsingan
yang tidak dapat ditenteramkan. Dan hasilnya hilanglah bahagia hidup di
dunia ini. Bagi orang Islam yang tidak mengikut perintah Allah, juga akan
dibebani kegelisahan dan kebuntuan, kerana nafsu yang diikuti itu tidak akan
memberikan kepuasan dan ketenangan hidup. Akhirnya hidup serupa orang
kafir.
1.

Manusia ingin menambah ilmu. Ingin mencari pengalaman dan


ingin pandai. Maka Islam datang menggalakkan dan mengajar
bagaimana manusia boleh mnegisi fitrah tersebut.

Allah berfirman dalam surah Al Anam:11

Artinya: "Berjalanlah kamu di atas muka bumi, kemudian lihatlah


bagaimana kesudahan orang yang mendustakan itu." (Q.S. Al An'am: 11)
2.

Manusia ingin kepada kekayaan. Islam datang dengan membawa


panduan bagaimana untuk mencari kekayaan.
Firman Allah dalam surah Al Jumuah : 10

Artinya: "Apabila telah ditunaikan sembahyang hendaklah kamu


bertebaran di muka bumi dan hendaklah kamu mencari kurniaan Allah, dan
ingatlah Allah banyak-banyak moga-moga kamu mendapat kemenangan."
(Q.S. Al Jumaah: 10)
II.3

Konsepsi Agama
Dalam Al-Quran Surat Al-Bakoroh 208, Allah berfirman :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam


islam secara utuh, keseluruhan (jangan sebagian-sebagaian) dan jangan

kamu mengikuti langkah setan, sesunggungnya setan itu musuh yang nyata
bagimu. (Q.S. Al Baqarah: 208)
Kekaffahan beragama itu telah di contohkan oleh Rosulullah sebagai
uswah hasanah bagi umat islam dalam berbagai aktifitas kehidupannya, dari
mulai masalah-masalah sederhana (seperti adab masuk WC) samapi kepada
masalah-masalah komplek (mengurus Negara). Beliu telah menampilkan
wujud islam itu dalam sikap dan prilakunya dimanapun dan kapanpun beliu
adalah orang yang paling utama dan sempurna dalam mengamalkan ibadah
mahdlah (habluminallah) dan ghair mahdlah (hablumminanas).
Meskipun beliau sudah mendapat jaminan maghfiroh (ampunan dari
dosa-dosa) dan masuk surga, tetapi justru beliau semakin meningkatkan amal
ibadahnya yang wajib dan sunah seperti shalat tahajud, dzikir, dan beristigfar.
Begitupun dalam berinteraksi sosial dengan sesama manusia beliu
menampilkan sosok pribadi yang sangat agung dan mulia.
Kita sebagai umat islam belum semuanya beruswah kepada Rasulullah
secara sungguh-sungguh, karena mungkin kekurang pahaman kita akan nilainilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai, pendapat, atau
idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam itu sendiri yang di
contohkan oleh Rasulullah SAW.
Diantara umat islam masih banyak yang menampilkan sikap dan
prilakunya yang tidak selaras, sesuai dengan nila-nilai islam sebagai agama
yang dianutnya. Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan kejadian atau
peristiwa baik yang kita lihat sendiri atau melalui media masa mengenai
contoh-contoh ketidak konsistenan (tidak istiqomah) orang islam dalam
mempedomani islam sebagai agamanya.
II.3.1

Faedah Beragama bagi Manusia

Walaupun adanya sinisme terhadap agama, kemudian diikuti dengan


anti agama dan Tuhan, namun masih ada (banyak) manusia beragama. Suatu
realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia masa lalu, kini, dan
akan datang; bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat, ajaran-ajaran, dan lain
sebagainya, muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap ada; agama tidak
pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk penyembahan manusia
kepada Ilahi tetap ada dan terus menerus mengalami perkembangan.
Organisasi keagamaan bisa bubar; umat beragama bisa habis, namun agama,
walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama tetap atau tidak pernah
lenyap, maka ajaran tentang Tuhan yang diajarkan dalam dan oleh Agamaagama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun Tuhan tetap dan
terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya agama.
Agama muncul karena adanya manusia; atau karena adanya manusia
maka maka tercipta agama. Agama untuk manusia? Atau manusia untuk
agama? Atau haruskah manusia beragama? Keduanya (manusia dan agama)
ternyata tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Agama hanya bisa terlihat
sebagai agama (dalam arti, berdampak pada perubahan manusia secara utuh)
jika ada manusia yang menjadi penganut atau umatnya. Agama tak berarti
apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi sekedar kumpulan
orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak dijalankan oleh
penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya
menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam
hidup dan kehidupan setiap hari.
Adapun faedah agama antara lain:
1.

Dapat menjadi pedoman dan petunjuk dalam hidup. Agama


memberikan bimbingan dalam hiup kea rah hidup lebih baik dan

2.

diridhoi oleh Allah swt.


Menjadi penolong dalam mengatasi berbagai persoalan atau
kesukaran hidup.

3.
4.
II.3.2

Memberikan

ketentraman

batin

bagi

mereka

yang

dapat

menghayati dan mengamalkan agama dengan sebaik-baikyna.


Membentuk kepribadian yang utuh, atau membaangun manusia
seutuhnya.
Agama sebagai Petunjuk Tata Sosial
Rosulullah SAW bersabda : Innamaa buitstu liutammima akhlaaq

yang artinya Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.


Yang bertanggung jawab terhadap pendidikan akhlak adalah orang tua, guru,
ustad, kiai, dan para pemimpin masyarakat. Pendidikan akhlak ini sangat
penting karena menyangkut sikap dan prilaku yang musti di tampilkan oleh
seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari baik personal maupun sosial
(keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat yang lebih luas). Akhlak yang
terpuji sangat penting dimiliki oleh setiap muslim (masyarakat sebab maju
mumdurnya suatu bangsa atau negara sangat tergantung kepada akhlak
tersebut.
Untuk mencapai maksud tersebut maka perlu adanya kerja sama yang
sinerji dari berbagai pihak dalam menumbuhkembangkan akhlak mulya dan
menghancur leburkan faktor-faktor penyebab maraknya akhlak yang buruk.

BAB III
PENUTUP
III.1
1.

Kesimpulan
Agama diturunkan sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan di
dunia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat serta
ketenangan dalam hidup. Karena dengan adanya agama kehidupan
di dunia menjadi terarah, tidak kacau.

2.

Dalam

menwujudkan

misi

Rahmatan

lilalamin

maka

seyogyanya manusia (umat islam) memiliki pemahaman secara


utuh (Khafah) tentang islam itu sendiri umat islam tidak hanya
memiliki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan takwa) tetapi
juga dalam bidang iptek (ilmu dan teknologi). Mereka diharapkan
mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual dengan
makna esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
3.

Manusia (umat islam) seharusnya beruswah kepada Rasulullah


secara sungguh-sungguh, jangan biarkan kekurang pahaman kita
akan nilai-nilai islam atau karena sudah terkontaminasi oleh nilai,
pendapat, atau idiologi lain yang bersebrangan dengan nilai-nilai
islam itu sendiri yang di contohkan oleh Rasulullah SAW.