Anda di halaman 1dari 5

Jan 06, 2015 by Mason White

https://www.scribd.com/doc/251806464/e-Faktur-Pajak
e FAKTUR PAJAK
PENDAHULUAN
Faktur Pajak merupakan bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang
wajib dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh
pihak Penjual ini akan menjadi bukti bagi pihak Pembeli yang merupakan PKP untuk
mengkreditkan PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak yang diterimanya dari pihak
Penjual ini (disebut sebagai Pajak Masukan) sebagai pengurang dari PPN yang harus
disetorkannya ke kas Negara yang dihitung dalam SPT Masa PPN.
Selama ini ada banyak kasus yang dilakukan oleh oknum pengusaha untuk
memalsukan atau menyalahgunakan Faktur Pajak untuk mendapatkan keuntungan
pribadi dan mengambil uang Negara yang berasal dari PPN. Modus penyalahgunaan
Faktur Pajak ini dapat dilakukan akibat masih lemahnya sistem pengawasan
terhadap penerbitan Faktur Pajak yang dilakukan oleh pihak Direktorat Jenderal
Pajak. Untuk mengatasi penyalahgunaan dan pemalsuan Faktur Pajak ini, pihak
Direktorat Jenderal Pajak senantiasa berupaya dengan menciptakan regulasi dan
sistem baru untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh
pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut. Salah satu inovasi terbaru adalah
dengan menciptakan pengawasan melalui pemberian nomor Faktur Pajak yang
dikendalikan secara sistem oleh Direktorat Jenderal Pajak serta rencana penerapan
sistem penerbitan Faktur Pajak secara elektronik yang diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.011/2013 serta PER-16/PJ/2014.
Sebelumnya kita sudah membiasakan dengan e-SPT PPN yaitu aplikasi
pelaporan SPT Masa PPN, sekarang sudah ada e-Faktur (di luar negeri disebut eInvoice) untuk pelaporan faktur pajak secara elektronik. Ketentuan ini belum
berlaku bagi semua WP PKP, untuk periode Juli 2014-Juni 2015 hanya berlaku untuk
45 WP PKP yang sudah ditunjuk DJP. Namun semua WP PKP akan segera
menerapkannya di tahun-tahun mendatang.

DASAR HUKUM
Dasar Hukum dan peraturan yang mengatur teknis tata pelaksanaannya yaitu
sebagai berikut:
1. Undang-Undang PPN Tahun 2009, Pasal 13 (8)
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.011/2013 tentang Tata Cara
Pembuatan Dan Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian Faktur Pajak.
3. Peraturan Dirjen Pajak, PER-16/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang Tata
Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik.
4. PER-17/PJ/2014 tentang : Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor Per-24/Pj/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian
Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara
Pembetulan Atau Penggantian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak.
5. Peraturan Dirjen Pajak, PER-24/PJ/2014

6. Keputusan Dirjen Pajak, KEP-136/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Juli 2014) tentang

Penetapan PKP yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik.

BENTUK FAKTUR PAJAK

Bentuk Faktur Pajak yang kita kenal selama ini Faktur Pajak yang berbentuk
kertas yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak sebagai pihak yang melakukan
penyerahan Barang/Jasa Kena Pajak dengan bentuk dan tampilan yang minimal
berisi informasi dan keterangan sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 13 ayat (5)
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (UU PPN), yaitu:
a. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak;
b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau
penerima Jasa Kena Pajak;
c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan
harga;
d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;
f. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.
Selama ini, pengadaan Faktur Pajak diserahkan kepada Pengusaha Kena Pajak
dengan bentuk dan ukuran Faktur Pajak yang disesuaikan dengan kepentingan
Pengusaha Kena Pajak. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak ini
dilakukan secara manual dengan menggunakan dokumen kertas (hardcopy).
Sedangkan untuk penomoran Faktur Pajak, sejak 1 April 2013 (yang akhirnya baru
diberlakukan untuk seluruh Pengusaha Kena Pajak mulai 1 Juni 2013), Pengusaha
Kena Pajak harus mengajukan permohonan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
terdaftar untuk memperoleh jatah nomor Faktur Pajak yang dapat digunakannya
untuk menerbitkan Faktur Pajak.
Mulai 1 Januari 2014, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
151/PMK.011/2013 bentuk Faktur Pajak ditetapkan terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu
berbentuk:
- kertas (hardcopy), adalah Faktur Pajak yang dibuat secara manual (tidak
secara elektronik). Bentuk Faktur Pajak kertas ini adalah yang digunakan dan
berlaku selama ini.
- elektronik, adalah Faktur Pajak yang dibuat secara elektronik. Bentuk dan tata
cara pembuatan Faktur Pajak elektronik ini akan ditetapkan melalui Peraturan
Direktur Jenderal Pajak. (PER-16/PJ/2014 dan PER-17/PJ/2014)
Bentuk e-Faktur adalah berupa dokumen elektronik Faktur Pajak, yang
merupakan hasil keluaran (output) dari aplikasi atau sistem elektronik yang
ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (Pasal 10 ayat (1)
PER-16/PJ/2014). e-Faktur tidak diwajibkan untuk dicetak dalam bentuk kertas
(hardcopy). (Pasal 10 ayat (2) PER-16/PJ/2014).

FAKTUR PAJAK ELEKTRONIK


Faktur Pajak yang berbentuk elektronik, yang selanjutnya disebut e-Faktur,
adalah Faktur Pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang

ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.(Pasal 1 ayat (1) PER16/PJ/2014).
Aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan
petunjuk penggunaan (manual user) yang merupakan satu kesatuan dengan
aplikasi atau sistem elektronik tersebut. (Pasal 1 ayat (3) PER-16/PJ/2014)
Faktur Pajak Elektronik atau e-Faktur merupakan bentuk Faktur Pajak yang baru
akan diberlakukan oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak. Faktur Pajak Elektronik ini
diklaim akan mempermudah proses administrasi yang dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Pajak. Selain itu, dengan e-Faktur diharapkan akan lebih mudah bagi
Direktorat Jenderal Pajak dalam melakukan pengawasan terhadap penerbitan Faktur
Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Sehingga apabila ada Faktur Pajak
yang tidak benar, fiktif atau Faktur Pajak yang telah diterbitkan oleh Pengusaha
Kena Pajak namun tidak dilaporkan dan disetorkan PPN yang telah dipungut, akan
dapat dengan segera diidentifikasi oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak.
Untuk menerapkan pembuatan e-Faktur ini, pihak Direktorat Jenderal Pajak
telah menyediakan aplikasi yang dapat diinstall di perangkat komputer Pengusaha
Kena Pajak. e-Faktur ini akan otomatis terhubung ke program e-SPT, sehingga akan
memudahkan Pengusaha Kena Pajak dalam membuat SPT Masa PPN secara
elektronik menggunakan program e-SPT. Rencananya untuk Wajib Pajak Besar, akan
dibuat ketentuan yang mewajibkan Pengusaha Kena Pajak untuk menyediakan
sistem pembuatan e-Faktur yang terhubung ke server di Direktorat Jenderal Pajak.
Salah satu keunggulan dari e-Faktur ini adalah Pengusaha Kena Pajak tidak perlu
lagi mencetak Faktur Pajaknya dalam bentuk hardcopy dan tidak perlu lagi
menandatangani Faktur Pajak secara manual karena nantinya akan diberikan
barcode sebagai pengganti tandatangan manual.
Saat Dimulainya Penerapan Faktur Pajak Elektronik. Soft Launcing dan
Pembukaan Piloting Aplikasi e-Faktur Pajak di auditorium Kantor Pusat Direktorat
Jenderal Pajak (KPDJP) Senin, 10 Februari 2014. Piloting dihadiri oleh perwakilan
pengusaha dan diberikan sosialisasi mengenai aplikasi e-Faktur Pajak. Piloting
bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang mungkin dihadapi sebelum
dilakukan Hard Launching.
Mulai 1 Juli 2014, e-Faktur Pajak untuk tahap pertama uji coba ini akan diterapkan di
kepada Pengusahan Kena Pajak (PKP) tertentu di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak
Besar, Kantor Pelayanan Pajak Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya di
Jakarta. Kemudian mulai 1 Juli 2015 e-Faktur Pajak akan diberlakukan untuk seluruh
PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan Bali. Sedangkan pemberlakukan eFaktur Pajak secara nasional akan secara serentak dimulai pada 1 Juli 2016.
Ada 3 gelombang penerapan e-Faktur bagi WP PKP, yaitu:
1. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2014 ada 45 WP PKP yang ditetapkan melalui
KEP-136/PJ/2014,
2. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2015 adalah WP PKP di Jawa & Bali (diktum
kedua KEP-136/PJ/2014)
3. PKP wajib e-Faktur sejak 1 Juli 2016 adalah WP PKP seluruh Indonesia (diktum
ketiga KEP-136/PJ/2014)

Transaksi yang wajib dibuatkan e-Faktur


PKP wajib membuat e-Faktur untuk setiap: (Pasal 2 ayat (1) PER-16/PJ/2014)
Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a
dan/atau Pasal 16D UU PPN; dan/atau
Penyerahan JKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c UU PPN.
Transaksi yang dikecualikan dari kewajiban pembuatan e-FAKTUR
Kewajiban pembuatan e-Faktur dikecualikan atas penyerahan BKP dan/atau
JKP: (Pasal 2 ayat (2) PER-16/PJ/2014)
Yang dilakukan oleh pedagang eceran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20
PP 1 TAHUN 2012;
Yang dilakukan oleh PKP Toko Retail kepada orang pribadi pemegang paspor
luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16E UU PPN; dan (free duty
shop)
Yang bukti pungutan PPN-nya berupa dokumen tertentu yang kedudukannya
dipersamakan dengan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
ayat (6) UU PPN. Resi telkom, resi PPLN, tiket pesawat

MANFAAT DAN PELUANG e-FAKTUR

Pada kesempatan yang sama, pihak DJP juga menyampaikan manfaat dari
penggunaan e-Faktur Pajak yaitu:
Bagi Wajib Pajak:
a. Pengusaha Kena Pajak tidak perlu lagi mencetak Faktur Pajaknya dalam bentuk
hardcopy. Beban compliance cost berkurang, karena tidak ada lagi biaya
kertas, biaya kirim, nge-print, tenaga kerja verifikasi, pengkodean, dan
mengurangi pegawai yang dipekerjakan untuk menangani PPN
b. Tampilan eFaktur Pajak bisa dilihat dalam format Pdf dan disimpan di komputer.
c. Tanda tangan basah digantikan dengan tanda tangan elektronik, sehingga eFaktur Pajak tidak diwajibkan untuk dicetak dalam lembaran kertas. Nantinya
akan diberikan barcode sebagai pengganti tandatangan manual. Hal ini sangat
membantu PKP yang mengeluarkan banyak faktur pajak dalam sebulan. eFaktur menggunakan QR Code sebagai pengganti tanda tangan. Uniknya
dengan QR Code reader kita bisa mengecek keabsahan faktur pajak asli atau
bodong
d. e-Faktur Pajak memberikan kemudahan, kenyamanan dan keamanan karena
akan semakin yakin bahwa faktur pajak telah sesuai dengan transaksi
sebenarnya sehingga dapat dikreditkan. Mereka juga terhindar dari faktur
pajak fiktif lawan transaksi yang dapat merugikan perusahaannya. Ini akan
memudahkan para pengusaha PKP untuk mengetahui apakah lawan
transaksinya PKP atau bukan
e. Proteksi dari penyalahgunaan pihak yang tidak bertanggungjawab. Adanya
approval dari Direktorat Jenderal Pajak, dan validasi faktur pajak dapat
diketahui oleh pihak pembeli.
Bagi Direktorat Jenderal Pajak:
a. Mempermudah proses administrasi pelayanan yang dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Pajak. Proses klarifikasi faktur pajak saat pemeriksaan pajak lebih

cepat dan tidak berbelit-belit. Mempercepat proses pada waktu pemeriksaan


dan pengembalian restitusi.
b. Lebih mudah bagi Direktorat Jenderal Pajak dalam melakukan pengawasan
terhadap penerbitan Faktur Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
Memperkecil resiko faktur pajak fiktif karena adanya validitasi faktur pajak dari
DJP secara online.
c. Membantu program go green yang dicanangkan pemerintah, karena tak
perlu dicetak (paperless).

TANTANGAN e-FAKTUR
Bagi Wajib Pajak :
a. Bagi wajib pajak yang tidak diwajibkan untuk menjadi PKP namun memohon
untuk dikukuhkan sebagai PKP (biasanya wajib pajak orang pribadi maupun
komanditer yang bertransaksi dengan bendahara pemerintah maupun
perusahaan besar), tidak memiliki sumber daya yang cukup baik SDM maupun
teknologi.
b. Jaringan internet yang belum merata di seluruh Indonesia, terutama bagi wajib
pajak yang berdomisili di daerah terpencil jauh dari jangkauan teknologi. Akses
jaringan merupakan syarat utama agar aplikasi e-Faktur dapat direkam secara
online atau real time.
Bagi Direktorat Jenderal Pajak :
a. Terjadinya Overload Data
Diperlukan pemeliharaan server dan jaringan pada kantor pusat DJP terkait
arus keluar masuk data faktur pajak. Dengan jumlah faktur pajak jutaan setiap
hari dari seluruh Indonesia maka diperlukan server dan jaringan yang stabil
agar data faktur pajak yang masuk tidak rusak maupun hilang. Demikian juga
dengan pengamanan data faktur yang berasal dari wajib pajak.
b. Peraturan ada tetapi sistem belum siap.
Bukan menjadi hal yang baru bahwasanya peraturan yang dikeluarkan oleh
Direktorat Jenderal Pajak tidak dibarengi dengan kesiapan sarana
prasarananya, dalam hal ini adalah aplikasi. Tentunya menjadi momok
tersendiri terutama bagi petugas di lapangan (Kantor Pelayanan Pajak) dimana
suatu peraturan tersebut mulai berlaku namun aplikasi yang diperlukan wajib
pajak belum dapat digunakan. Hal ini pula yang menyebabkan profesionalitas
pegawai DJP sering dipertanyakan oleh wajib pajak.