Anda di halaman 1dari 57

PELAYANAN KESEHATAN PRIMER / PRIMARY HEALTH CARE ( PHC )

A. DEFINISI
Pelayanan Kesehatan Primer / PHC adalah strategi yang dapat dipakai untuk menjamin tingkat
minimal dari pelayanan kesehatan untuk semua penduduk. PHC menekankan pada
perkembangan yang bisa diterima, terjangkau, pelayanan kesehatan yang diberikan adalah
essensial bisa diraih, yang essensial dan mengutamakan pada peningkatan serta kelestarian yang
disertai percaya pada diri sendiri disertai partisipasi masyakarat dalam menentukan sesuatu
tentang kesehatan.
Adalah Pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metoda dan tehnologi praktis,
ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam
masyarakat, melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta deengan biaya yang dapat terjangkau
oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam
semanggat untuk hidup mandiri ( Self reliance ) dan menntukan nasib sendiri ( self
Determination )
B. TINJAUAN SEJARAH
Gerakan PHC dimulai resmi pada tahun 1977, ketika sidang kesehatan WHO ke 30. Pada
konferensi international 1978 di Alma Alta ( Uni Soviet) pada tanggal 12 September 1978,
ditentukan bahwa tujuan agar menemukan titik temu dengan PHC. Resolusi dikenal dengan
Health For All by the Year 2000 ( HFA 2000) atau sehat untuk semua di tahun 2000 adalah
merupakan target resmi dari bangsa-bangsa yang tergabung dalam WHO.
Pada tahun 1981 setelah diidentifikasi tujuan kesehatan untuk semua dan startegi PHC untuk
merealisasikan tujuan, WHO membuat indikator global untuk pemantauan dan evaluasi yang
dicapai tentang sehat untuk semua pada tahun 1986. Indikator tersebut adalah :
1. Perkembangan sosial dan ekonomi
2. Penyediaan pelayanan kesehatan status kesehatan
3. Kesehatan sebagai objeck atau bagain dari perkembangan sosial ekonomi.
Pemimpin perawat yang menjadi kunci dalam mencetuskan usaha perawatan PHC adalah Dr.
Amelia Mengny Maglacas pada tahun 1986.

C. KONSEP PELAYANAN KESEHATAN PRIMER


Pelayanan kesehatan primer merupakan pelayanan kesehatan essensial yang dibuat dan bisa
terjangkau secara universal oleh individu dan keluarga di dalam masyarakat. Fokus dari
pelayanan kesehatan primer luas jangkauannya dan merangkum berbagai aspek masyarakat dan
kebutuhan kesehatan. PHC merupakan pola penyajian pelayanan kesehatan dimana konsumen
pelayanan kesehatan menjadi mitra dengan profesi dan ikut serta mencapai tujuan umum
kesehatan yang lebih baik.

D. TUJUAN PHC
1. TUJUAN UMUM
Mencoba menemukan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang diselenggarakan sehingga
akan dicapai tingkat kepuasan pada masyarakat yang menerima pelayanan.
2. TUJUAN KHUSUS
a. Pelayanan harus mencapai keseluruhan pendudukan yang dilayani
b. Pelayanan harus dapat diterima oleh penduduk yang dilayani
c. Pelayanan harus berdasarkan kebutuhan medis dari populasi yang dilayani
d. Pelayanan harus secara maksimum menggunakan tenaga dan sumber sumber daya lain
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
E. FUNGSI PHC
1. Pemeliharaan kesehatan
2. pencegahan penyakit
3. diagnosis dan pengobatan
4. pelayanan tindaj lanjut
5. pemberian sertifikat

F. TIGA UNSUR UTAMA PHC


1. Mencakup upaya-upaya dasar kesehatan
2. melibatkan peran serta masyarakat
3. melibatkan kerjasama lintas sektoral
G. LIMA PRINSIP DASAR PHC
1. Pemerataan upaya kesehatan
2. Penekanan pada upaya preventif
3. Menggunakan tehnologi tepat guna
4. melibatkan peran serta masyarakat
5. Melibatkan kerjasama lintas sektoral
H. DELAPAN ELEMENT PHC
1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta pengendaliannya
2. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi
3. Penyediaan air bersih dan sanitasi dasar
4. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
5. Immuniasi terhadap penyakit-penyakit infeksi utama
6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat
7. Pengobatan penyakit umum dan ruda paksa
8. Penyediaan obat-obat essensial

I. CIRI CIRI PHC


1. Pelayanan yang utama dan intim dengan masyarakat
2. Pelayanan yang menyeluruh
3. Pelayanan yang terorganisasi
4. Pelayanan yang mementingkan kesehatan individu maupun masyarakat
5. Pelayanan yang berkesinambungan
6. Pelayanan yang progresif
7. Pelayanan yang berorientasi kepada keluarga
8. Pelayanan yang tidak berpandangan kepada salah wsatu aspek saja

J. TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM PHC


1. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan implementasi pelayanan
kesehatan dan program pendidikan kesehatan
2. Kerjasama dengan masyarakat, keluaraga dan individu
3. Mengajarkan konsep kesehatan dasar dan tehnik asuhan diri sendiri pada masyarakat
4. Memberikan bimbingan dan dukungan kepada petugas pelayanan kesehatan dan kepada
masyarakat.
5. Koordinasi kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat.

K. KESIMPULAN
1. PHC merupakan startegi untuk menyajikan pelayanan kesehatan essensial kepada masyarakat
2. Para petugas pada sistem PHC merupakan mitra dalam berbagai kegiatan bersama-sama
dengan anggota masyarakat
3. PHC menandaskan pelayanan kesehatan yang terbayar, bisa dijangkau, tersedia dan bisa
diterima
4. Pengkajian masyarakat, menentukan prioritas kesehatan. Implementasi aktifitas melaksanakan
evaluasi merupakan aspek-aspek perawatan kesehatan masyarakat yang dipakai PHC
5. Menghimbau masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri, menyiapkan diri untuk
mendapatkan kesempatan mekasanakan perawatan sendiri dalam mengatasi masalah-masalah
kesehatan dan sosial.
6. Memberikan penyuluhan kepada penduduk mengenai perkembangan kesehatan dan sosial
untuk membantu diri mereka meraih perawatan mandiri, mengambil keputusan sewndiri dan
mempercayai diri sendiri.
7. Target dari PHC adalah seluruh masyarakat dan bukan individu.
8. PHC Berbeda dengan pelayanan primer. Pelayanan primer merupakan komponen dari PHC
9. Para petugas kesehatan masyarakat berpartisipasi dalam implementasi PHC
10. TIM PHC terdiri dari perawat, dokter, gigi, apoteker, penyuluhan kesehatan, ahli sanitasi dan
ahli diet.
11. Perawat yang efektif dari sistem PHC bekerja dekat dengan penduduk, masyarakat dengan
sumber-sumebr dan dengan profesional-profesinal lain di masyarakat yang bersangkutan
12. Perawat di tim PHC membutuhkan kepemimpinan yang disertai ketrampilan manajemen.

C. RUANG LINGKUP PHC


1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit
serta pengendaliannya.
2. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi
3. Penyediaan air bersih dan sanitasi dasar.
4. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
5. Immuniasi terhadap penyakit-penyakit infeksi utama
6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemik setempat
7. Pengobatan penyakit umum dan ruda paksa.
8. Penyediaan obat-obat essensial.

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah bentuk dan cara penyelenggaraan


pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia dalam satu derap
langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan kesehatan dalam kerangka
mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945.
Sistem Kesehatan Nasional perlu dilaksanakan dalam konteks Pembangunan Kesehatan
secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial, seperti: kondisi kehidupan
sehari-hari, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, distribusi kewenangan, keamanan, sumber
daya, kesadaran masyarakat, dan kemampuan tenaga kesehatan mengatasi masalah tersebut.
Sistem Kesehatan Nasional disusun dengan memperhatikan pendekatan revitalisasi
pelayanan kesehatan dasar yang meliputi:
1.

Cakupan pelayanan kesehatan yang adil dan merata,

2.

Pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat,

3.

Kebijakan pembangunan kesehatan, dan

4.

Kepemimpinan. SKN juga disusun dengan memperhatikan inovasi/terobosan dalam


penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas, termasuk penguatan sistem rujukan.
Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya apabila terjadi
Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Sinergisme (KISS), baik antar pelaku, antar subsistem
SKN, maupun dengan sistem serta subsistem lain di luar SKN. Dengan tatanan ini, maka sistem
atau seluruh sektor terkait, seperti pembangunan prasarana, keuangan dan pendidikan perlu
berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional.

Tujuan Sistem Kesehatan Nasional adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh


semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah secara sinergis, berhasil
guna dan berdaya guna, hingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Landasan Sistem Kesehatan Nasional meliputi:
1.

Landasan Idiil, yaitu Pancasila.

2.

Landasan Konstitusional, yaitu UUD 1945, khususnya: Pasal 28 A, 28 H ayat (1) dan ayat (3),
serta Pasal 34 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28 B ayat (2), Pasal 28 C ayat (1),

3.

Landasan Operasional meliputi seluruh ketentuan peraturan perundangan yang berkaitan


dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan.

KONSEP DASAR PENGORGANISASIAN


MASYARAKAT
Konsep:

Sistem sosial/masyarakat

Partisipasi masyarakat

Perubahan sosial/masyarakat

Sistem sosial:
Komunitas sebagai sistem:

Menyeluruh

Batas

Organisasi

Terbuka

Feedback

Partisipasi masyarakat:
Ada 2 pendekatan:

Pendekatan Partisipasi:
o

Komunitas dilibatkan dalam perencanaan, penyelesaian masalah

Proses berubah lambat

Kelompok/masyarakat merasa memiliki komitmen u/ berubah dalam


jangka panjang

Pendekatan langsung:
o

Proses berubah ditentukan oleh kekuatan luar

Proses berubah berjalan lebih cepat

Masyarakat merasa tidak memiliki peran dalam perubahan dalam


jangka pendek.

Perubahan sosial:
Teori berubah Kurt Lewin (1990), ada 3 tahap perubahan sosial:
1. Unfreezing
Perubahan nilai dan tradisi
2. Changing
Identifikasi mengenal nilai baru dalam masyarakat dan tradisi
3. Refreezing
Integrasi nilai baru dalam masyarakat dan tradisi
Dalam komunitas, ada 2 kekuatan yang mempengaruhi proses perubahan:
1. faktor pendorong
2. faktor penghambat
Pengertian Pengorganisasian Masyarakat:
Proses memberi dukungan terus-menerus dalam hal:
mendidik untuk tahu dan sadar secara kritis situasi yang ada
bekerja sama mengumpulkan data dan mengidentifikasi masalah
menggerakkan dan mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah.
Partnership (Kemitraan)
Peran serta/keterlibatan masyarakat sangat penting untuk mengembangkan
tanggung jawab masyarakat terhadap kesehatan sendiri.

PHC, Self reliance


Ada 3 hal yang perlu diperhatikan:

1. informed : tahu persepsi, hak dan tanggungjawabnya dengan anggota lain


2. fleksibel : mengakui keunikan dan kesamaan dari peserta
3. negociated : kontribusi bervariasi dari peserta dan situsi perlu negosiasi
kekuatan dari semua peserta.

Model Pengorganisasian Masyarakat


Social Planning
Keputusan komunitas didasarkan pada:
o Fakta/data yang dikumpulkan
o Keputusan secara rasional.
Penekanan penyelesaian masalah bukan proses

harus cepat

tujuan/hasil
Pendekatan langsung perintah untuk mengubah masyarakat dengan
penekanan pada perencanaan.
Peran :
o Fasilitator
o Pengumpul data/fakta
o Analisa
o Program implementation mengimplementasikan program dari
pemerintah.
Contoh: JPS, KB, Imunisasi, Bidan Desa.

Note: Program dari pusat, penyelesaian masalah sebagai fokus (bukan proses)
tanpa melibatkan masyarakat secara langsung.
Social Action:
Merubah komunitas:
o Polarisasi/pemusatan
o Issue yang ada dikomunikasikan dengan konflik/konfrontasi antara
penduduk dan pengambil keputusan/kebijakan
Fokus: transfer kekuatan pada tingkat kelompok
Social action
o Revolusioner
o Evolusioner
Peran :
o Aktivis
o Penggerak
o Negosiator
Contoh:
Waduk Kedung Ombo konflik tidak terselesikan karena masyarakat tidak tahu
fungsi/manfaat, kepentingannya terganggu/dirugikan dsb.
TPA Sampah Keputih konflik kebijakan dalam masyarakat.
Locality Development:
Prinsip: keterlibatan langsung, melayani sendiri, membantu diri sendiri
penyelesaian masalah secara swadaya.
Prinsip praktek yang baik pada masyarakat rendah negara berkembang (tidak
pada negara maju, masyarakatnya lebih menyukai hal-hal yang sifatnya praktis)

Peran :
o Pendukung
o Fasilitator
o Pendidik
Keuntungan:
o Biaya murah
o Masyarakat lebih dapat diajak menyelesaikan masalah melayani diri
sendiri.
Jadi 3 model tersebut pada prinsipnya sebagai berikut:
1. Locality development peran serta seluruh masyarakat untuk mandiri
2. Social planning rencana para ahli dalam sistem birokrasi
3. Social action fokus pada korban.
Tahap-tahap Pengorganisasian Masyarakat:
(Fleksibel, Kreatif dan Inovatif)
Fase persiapan
Fase pengorganisasian
Fase edukasi dan latihan
Fase formasi kepemimpinan
Fase koordinasi lintas sektoral
Fase akhir
(1) Fase persiapan
membina rasa percaya

Memilih area
Memilih cara kontrak
Mempelajari masyarakat
Integrasi dengan masyarakat:
o Kunjungan
o Partisipasi dalam kegiatan sosial
o Sesuai dengan gaya hidup masyarakat
o Tinggal di masyarakat
(2) Fase pengorganisasian
Sosialisasi tercapai saling percaya
Pembentukan pokja kes
o Rapat/musyawarah desa (RT/RW, Lurah, aparat ormas, tokoh masy,
kader, Puskesmas)
o Pemilihan kelompok inti (partisipatif, pengendalian oleh masyarakat,
struktur sederhana)
Pengakuan/pengesahan kelompok kerja kesehatan oleh Lurah (Penguasa Wilayah)
penting untuk legalitas
(3) Fase edukasi dan latihan
Pertemuan teratur
Definisi masalah
Kajian dan analisa
Menetapkan tujuan
Rencana tindakan dan pengkajian sumber pendukung

Edukasi dan latihan pelayanan


Marketing (pemasaran)
Evaluasi
(4) Fase formasi kepemimpinan
Kembangkan kemampuan:
Kepemimpinan
Pengorganisasian masyarakat
Pendanaan masyarakat
(5) Fase koordinasi lintas sektoral
Kerjasam lintas sektor-lintas program
Menetapkan jalur kerjasama
(6) Fase akhir
Rencana perubahan bertahap
o Aksi massal (gebrakan)
o Pembinaan membina sehingga mendapat bekal u/ melanjutkan
program setelah ditinggalkan
o Pengembangan mengembangkan kemampuan individu dan keluarga
Pengendalian dan pengontrolan perlu dibentuk Badan Konsultasi Keperawatan
Komunitas.

Kelompok dan Tim adalah dua konsep berbeda. Kelompok atau group
didefinisikan sebagai dua atau lebih individu yang saling bergantung dan
bekerjasama, yang secara bersama berupaya mencapai tujuan. Kelompok
kerja (work group) adalah kelompok yang para anggotanya saling
berinteraksi terutama untuk saling berbagi informasi untuk membuat

keputusan guna membantu satu sama lain dalam wilayah kewenangannya


masing-masing.[1]
Kelompok kerja tidak memiliki kebutuhan ataupun kesempatan untuk terlibat
di dalam kerja kolektif yang memerlukan upaya gabungan dari seluruh
anggota tim. Akibatnya, kinerja mereka sekadar kumpulan kontribusi parsial
dari seluruh individu anggota kelompok. Tidak ada sinergi positif yang
menciptakan tingkat kinerja keseluruhan yang lebih besar ketimbang
totalitas input yang mereka berikan. Sementara itu, Tim Kerja
mengembangkan sinergi positif melalui upaya yang terkoordinasi. Upaya
individual mereka menghasilkan suatu tingkat kinerja yang lebih besar
ketimbang totalitas input para individunya.

Konsep Dasar Kelompok


NILAI DAN NORMA Kelompok mengembangkan pola hubungan sosialnya
sendiri, termasuk kode dan praktek (norma) yang patut ditunjukkan lewat
perilaku kelompok tersebut. Norma yang ada dalam kelompok yang bersifat
informal misalnya:

Tidak menghasilkan output yang terlalu besar dibandingkan para


anggota lain atau melebihi batasan produksi yang ditetapkan
kelompok;

Tidak menghasilkan produksi atau output yang lebih rendah ketimbang


yang diberlakukan kelompok;

Tidak mengatakan sesuatu pada supervisor atau manajemen yang bisa


membahayakan anggota kelompok lainnya; dan

Orang dengan otoritas atas anggota kelompok lain, semisal inspektur,


seharusnya tidak mengambil keuntungan dari senioritasnya tersebut
atau menjaga jarak sosial dengan kelompok.

Kelompok punya sistem sanksinya sendiri, termasuk tindakan kasar, merusak


hasil pekerjaan, menyembunyikan peralatan kerja, mengelabui inspektur,
dan menghambat pekerjaan para anggota yang dianggap tidak sesuai
dengan norma-norma kelompok. Ancaman kekerasan fisik juga kerap terjadi,

dan kelompok telah mengembangkan sistem penghukuman terhadap para


pelanggar bahkan dengan meninju tangan si pelanggar. Metode seperti ini
telah dikenal sebagai pengendalian konflik di dalam kelompok.
Suatu penelitian yang dilakukan Economic & Social Research Council
memberi perhatian pada pentingnya norma-norma sosial di antara para
pekerja. Mereka menyelidiki apakah pekerja selain diarahkan oleh insentif
uang juga dirahkan oleh tekanan yang dilancarakan rekan kerja mereka?
PERAN Kelompok yang satu memiliki kebutuhan akan peran yang berbeda
bagi para anggotanya ketika diperbandingkan kelompok lain. Seseroang
akan mudah memahami perilaku seseorang di dalam suatu situasi khusus
jika orang tersebut mengetahui peran seperti apa yang orang tersebut
tengah mainkan. Sehubungan dengan peran ini, sejumlah penelitian
menyatakan kesimpulan berikut : (1) Orang punya beragam peran; (2) Orang
belajar peran dari rangsangan di sekitar mereka yang muncul dari teman,
buku, film, dan televisi; (3) Orang punya kemampuan berganti peran secara
cepat tatkala mereka mengenali suatu situasi yang secara menuntut
perubahan peran; (4) Orang kerap mengalami konflik peran tatkala peran di
satu situasi bertabrakan dengan peran di situasi lainnya.
KOHESIVITAS Kelompok-kelompok saling berbeda sehubungan dengan
masalah kohesivitas. Kohesivitas adalah derajat mana anggota tertarik pada
anggota lainnya dan termotivasi untuk tetap bertahan di dalam kelompok.
Contohnya, suatu kelompok memiliki kohesivitas tatkala para anggotanya
sering meluangkan sejumlah besar waktu luang, baik dalam pekerjaan
maupun di luar pekerjaan, secara bersama.
UKURAN Ukuran menentukan perilaku keseluruhan dari suatu kelompok.
Kelompok berukuran kecil lebih cepat menyelesaikan tugas ketimbang
kelompok yang besar. Jika suatu kelompok terlibat dalam penyelesaian
masalah, maka kelompok yang lebih besar secara konsisten cenderung
menyelesaikannya secara lebih ketimbang kelompok yang lebih kecil. Dalam
hal penyelesaian ini, kelompok yang lebih besar memperoleh masukanmasukan berbeda dan variatif yang lebih banyak. Jadi jika sasaran kelompok
adalah menemukan fakta, maka kelompok besar akan lebih efektif. Di sisi
lain, kelompok kecil lebih baik dalam melakukan hal-hal yang produktif
karena faktor inputnya. Kelompok yang terdiri atas 7 anggota cenderung
lebih efektif dalam melakukan tindakan ketimbang kelompok yang terdiri
atas 100 orang.

KOMPOSISI Hampir sebagian kegiatan kelompok butuh variasi keahlian dan


pengetahuan. Dengan demikian masuk akal guna menyimpulkan kelompok
heterogen lebih mungkin punya kemampuan dan informasi yang variatif dan
sebab itu lebih efektif dalam menyelesaikan suatu persoalan ketimbang
kelompok yang homogen.
STATUS Status adalah tingkat prestise, posisi, atau peringkat di dalam
kelompok. Status bisa ditentukan secara formal oleh kelompok. Namun,
pembicaraan mengenai status ini kerap ditujukan dalam membahas status
dalam konteks kelompok informal. Status yang bersifat informal dapat
diperoleh berdasarkan pendidikan, usia, jenis kelamin, keahlian, ataupun
pengalaman. Segala atribut bisa memiliki nilai status jika orang lain di dalam
kelompok memandang status tersebut berharga. Harus dipahami bahwa
status informal sama pentingnya dengan status informal.
Kelompok Formal dan Informal
Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau
sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur
organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui
proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat
interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika
interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri,
kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian,
terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.
KELOMPOK FORMAL Kelompok ini dibangun selaku akibat dari pola struktur
organisasi dan pembagian kerja. Contohnya, pengelompokan kegiatankegiatan pekerjaan yang relatif serupa ke dalam satu kelompok. Kelompok ini
merupakan hasil dari sifat teknologi yang diterapkan perusahaan dan
berhubungan dengan cara bagaimana suatu pekerjaan dilakukan. Kelompok
juga terjadi tatkala sejumlah orang pada tingkat atau status yang sama
dalam organisasi memandang diri mereka sebagai satu kelompok. Contoh,
kepala-kepala departemen suatu perusahaan industri baja, atau kepalakepala dinas suatu kabupaten, atau guru-guru.
Kelompok formal tercipta untuk mencapai tujuan organisasi. Kelompok ini
sangat memperhatikan aspek kegiatan kerja yang terkoordinasi. Orang-orang
disatukan bersama berdasar peran yang telah ditentukan di dalam struktur
organisasi. Sifat pekerjaan adalah aspek dominan dari kelompok formal.
Sasaran pekerjaan kelompok tersebut diidentifikasi oleh manajemen. Setelah

sasaran ini dibentuk, segera menyusul pembentuk aturan-aturan, hubungan,


dan norma perilaku di kelompok tersebut.
Kelompok formal cenderung permanen, kendati terdapat perubahan
keanggotaan aktualnya. Kendati demikian, kelompok formal temporer ini
juga diciptakan oleh manajemen, misalnya pembentukan tim-tim
berorientasi proyek dalam organisasi yang bercorak matriks. Kelompok kerja
formal dapat dibedakan lewat sejumlah cara, semisal berdasar keanggotaan,
tugas yang dilakukan, sifat teknologi, atau posisi di dalam struktur
organisasi.
KELOMPOK INFORMAL Di dalam struktur organisasi formal, selalu terdapat
struktur informal. Setiap struktur organisasi formal, khususnya seputar
sistem hubungan peran, peraturan, dan prosedur di antara para anggotanya,
akan ditanggapi oleh penafsiran dan pengembangan para pekerja di tingkat
informal.
Kelompok informal pembentukannya lebih didasarkan pada hubungan dan
persetujuan informal di antara para anggota kelompok ketimbang hubungan
peran yang telah ditentukan manajemen. Hubungan informal tersebut
dibentuk untuk memuaskan kebutuhan sosial dan psikologis para anggota
kelompok, sehingga tidak mesti berhubungan dengan tugas-tugas organisasi
yang harus mereka laksanakan. Kelompok mungkin saja menggunakan
aneka cara demi memuaskan afiliasi anggota dan motivasi sosial lainnya
yang dianggap kurang tersedia di dalam situasi kerja organisatoris.
Kelompok informal ini utamanya banyak terentuk dalam organisasi industri.
Keanggotaan dalam kelompok informal dapat bersifat lintas struktur formal.
Mereka terdiri atas individu yang berasal bagian organisasi yang berbeda
ataupun tingkatan yang berbeda pula, baik vertikal, diagonal, maupun
horisontal.
Kelompok informal dapat bercorak serupa dengan kelompok formal, ataupun
bisa pula terdiri atas sebagian kelompok formal. Anggota kelompok informal
mengangkat pemimpin informalnya sendiri yang nantinya menjalankan
otoritas dengan persetujuan dari para anggota. Pemimpin informal biasanya
dipilih berdasarkan kriteria kemampuan seseorang dalam mewakili nilai dan
sikap para anggota, membantu menyelesaikan konflik, memimpin kelompok
untuk memuaskan kebutuhannya, atau bernegosiasi dengan manajemen
atau orang lain di luar kelompoknya, seperti tampak pada skema-skema
berikut:[2]

Gambar 18 Kelompok Informal Lintasi Struktur Formal Organisasi versi


Robbins
Contoh yang paling kiri mewakili garis vertikal, yang tengah mewakili garis
diagonal, dan yang paling kanan mewakili garis horisontal.
Fungsi Kelompok Informal
Menurut Robbins, kelompok informal punya beberapa fungsi berikut :

Pelestarian budaya kelompok informal. Budaya dalam konteks ini


berarti seperangkat nilai, norma, dan keyakinan yang menciptakan
pedoman penerimaan dan perilaku kelompok. Seseorang hanya bisa
menjadi anggota suatu kelompok infomal hanya jika mau menerima
budaya ini. Jika tidak mau menerima budaya, maka seseorang akan
dianggap orang luar atau diisolasi.

Pemeliharaan sistem komunikasi. Kelompok menginginkan seluruh


informasi yang berdampak pada kesejahteraan mereka, baik positif
ataupun negatif. Jika kelompok menentang suatu kebijakan atau motif
di belakang suatu tindakan manajemen, maka mereka akan mencari
gantungan lewat saluran komunikasi formal dan menyebarkan
informasi tersebut ke tiap-tiap anggota organisasi.

Pelaksanaan kontrol sosial. Konformitas atas suatu budaya kelompok


informal dikuatkan melalui pemberlakkuan teknik-teknik kendali sosial
dari yang bersifat halus seperti teguran atau isolasi sementara
ataupun yang konyol seperti penjegalan ataupun tindak kekerasan.

Provisi minat dan kesenangan di dalam kehidupan kerja. Banyak


pekerjaan sifatnya monoton sehingga gagal meraih atensi dari para
pekerja. Pekerjaan juga dianggap sedikit menawarkan prospek masa

depan yang baik. Atas kondisi ini, para pekerja mencoba melakukan
kompensasi lewat hubungan interpersonal yang disediakan oleh
kelompok dan di dalam aktivitas tersebut, waktu luang digunakan
untuk gosip, canda, dugem dan bahkan hal yang negatif seperti
berjudi, mencari keributan atau mabuk-mabukan.

Asuhan Keperawatan Komunitas


A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Komunitas

Perawatan kesehatan masyarakat merupakan bidang khusus dalam ilmu keperawatan yang
merupakan gabungan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan social (WHO, 1959).
Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan
masyarakat dengan dukungan peran serta masyarakat (Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan
Masyarakat, 1989). Dengan demikian ada 3 teori yang menjadi dasar ilmu perawatan kesehatan
masyarakat yaitu : Ilmu Keperawatan, Ilmu kesehatan masyarakat dan Ilmu social (peran serta
masyarakat).
Dalam melakasanakan asuhan keperawatan komunitas pada dasarnya menggunakan
pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah : pengkajian data, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang
dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan sistematis
terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan yang dihadapi oleh
masyarakat baik individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut permasalahan pada
fisiologis, psikologis, social ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan. Dalam tahap

pengkajian ini terdapat lima kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisis data,
perumusan atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masyarakat.
Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subyektif dan objektif. Data subyektif
adalah data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan oleh individu, keluarga,
kelompok dan komunitas yang diungkapkan secara langsung melalui lisan sedangkan data
objektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan pengukuran.
Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang
dikumpulkan oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa atau perawat kesehatan masyarakat dari
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan hasil pemeriksaan dan komunitas.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya :
kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical record (Wahit, 2005).
Cara pengumpulan data terdiri dari tiga cara yaitu dengan wawancara atau anamnase,
pengamatan dan pemeriksaan fisik.
a.

Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai masalah kesehatan
pada masyarakat sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi
masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, social ekonomi dan spiritual serta
factor lingkungan yang mempengaruhinya. Oleh karena itu data tersebut harus akurat dan dapat
dilakukan analisa untuk pemecahan masalah. Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam
pengumpulan data meliputi :

1) Data inti
a) Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas

Data dikaji melalui wawancara kepada tokoh formal dan informal di komunitas dan studi
dokumentasi sejarah komunitas tersebut. Uraikan termasuk data umum mengenai lokasi daerah
binaan (yang dijadikan praktek keperawatan komunitas), luas wilayah, iklim, type komunitas
(masyarakat rusal atau urban), keadaan demografi, struktur politik, distribusi kekuatan komunitas
dan pola perubahan komunitas.
b) Data demografi
Kajilah jumlah komunitas berdasarkan : usia, jenis kelamin, status perkawinan, ras atau suku,
bahasa, tingkat pendapatan, pendidikan, pekerjaan, agam dan komposisi keluarga.

c) Vital statistic
Jabarkan atau uraikan data tentang : angka kematian kasar atau CDR, penyebab kematian, angka
pertambahan anggota, angka kelahiran.
d) Status kesehatan komunitas
Status kesehatan komunitas dapat dilihat dari biostatistik dan vital statistic antara lain : dari
angka mortalitas, morbiditas, IMR. MMR, cakupan imunisasi. Selanjutnya status kesehatan
komunitas kelompokkan berdasarkan kelompok umur : bayi, balita, usia sekolah, remaja dan
lansia. Pada kelompok khusus di masyarakat : ibu hamil, pekerja industri, kelompok penyakit
kronis, penyakit menular. Adapun pengkajian selanjutnya dijabarkan sebagaimana dibawah ini :

Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas

Tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, respirasi, suhu tubuh

Kejadian penyakit (dalam 1 tahun terakhir) :

ISPA

Penyakit asthma

TBC paru

Penyakit kulit

Penyakit mata

Penyakit rheumatic

Penyakit jantung

Penyakit gangguan jiwa

Kelumpuhan

Penyakit menahun lainnya

Riwayat penyakit keluarga

Pola pemenuhan sehari-hari :

Pola pemenuhan nutrisi

Pola pemenuhan cairan dan elektrolit

Pola istirahat dan tidur

Pola eliminasi

Pola aktivitas gerak

Pola pemenuhan kebersihan diri

Status psikososial :

Komunikasi dengan sumber-sumber kesehatan

Hubungan dengan orang lain

Peran di masyarakat

Kesedihan yang dirasakan

Stabilitas emosi

Penelantaran anak atau lansia

Perlakuan yang salah dalam kelompok dalam hal ini perilaku tindakan kekerasan

Status pertumbuhan dan perkembangan

Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan

Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan

Pola perilaku tidak sehat seperti : kebiasaan merokok, minum kopi yang berlebihan,
mengkonsumsi alcohol, penggunaan obat tanpa resep, penyalahgunaan obat terlarang, pola
konsumsi tinggi garam, lemak dan purin.

2) Data lingkungan fisik


a) Pemukiman

Luas bangunan

Bentuk bangunan

Jenis bangunan

Atap rumah

Dinding

Lantai

Ventilasi

Pencahayaan

Penerangan

Kebersihan

Pengaturan ruangan dan perabot

Kelengkapan alat rumah tangga

b) Sanitasi

Penyediaan air bersih (MCK)

Penyediaan air minum

Pengelolaan jamban : bagaimana jenisnya, berapa jumlahnya dan bagaimana jarak dengan
sumber air

Sarana pembuangan air limbah (SPAL)

Pengelolaan sampah : apakah ada sarana pembuangan sampah, bagaimana cara pengolahannya :
dibakar, ditimbun, atau cara lainnya, sebutkan.

Polusi udara, air, tanah atau suara/kebisingan

Sumber polusi : pabrik, rumah tangga, industri lainnya, sebutkan.

c) Fasilitas

Peternakan, pertanian, perikanan dan lain-lain

Pekarangan

Sarana olahraga

Taman, lapangan

Ruang pertemuan

Sarana hiburan

Sarana ibadah

d) Batas-batas wilayah
Sebelah utara, barat, timur, dan selatan
e) Sarana ibadah

3) Pelayanan kesehatan dan social


a) Pelayanan kesehatan

Lokasi sarana kesehatan

Sumber daya yang dimiliki (tenaga kesehatan dan kader)

Jumlah kunjungan

System rujukan

b) Fasilitas social (pasar, took ,swayalan)

Lokasi

Kepemilikan

Kecukupan

4) Ekonomi
a) Jenis Pekerjaan
b) Jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan
c) Jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan
d) Jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga dan lansia
5) Keamanan dan transportasi
a) Keamanan

Sistem keamanan lingkungan

Penanggulangan kebakaran

Penanggulangan bencana

Penanggulangan polusi, udara, air dan tanah

b) Transportasi

Kondisi jalan

Jenis transportasi yang dimiliki

Sarana transportasi yang ada

6) Politik dan pemerintahan


a) Sistem pengorganisasian
b) Struktur organisasi
c) Kelompok organisasi dalam komunitas
d) Peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan
7) Sistem komunikasi
a) Sarana umum komunikasi
b) Jenis alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas
c) Cara penyebaran informasi
8) Pendidikan
a) Tingkat pendidikan komunitas
b) Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal atau non formal)

Jenis pendidikan yang diadakan di komunitas

Sumber daya manusia, tenaga yang tersedia

c) Jenis bahasa yang digunakan


9) Rekreasi
a) Kebiasaan rekreasi
b) Fasilitas tempat rekreasi
c)

Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data dengan cara sebagai
berikut :

1) Klasifikasi data atau kategori data


Cara mengkategori data :

Karakteristik demografi

Karakteristik geografi

Karakteristik social ekonomi

Sumber dan pelayanan kesehatan


(Anderson & Mc Farlane, 1981. Community as Client)

2) Perhitungan presentase cakupan dengan menggunakan telly


3) Tabulasi data
4) Interpretasi data
b. Analisa data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan data dengan
kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah
yang dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau masalah keperawatan. Tujuan
analisa data adalah :

Menetapkan kebutuhan komunity

Menetapkan kekuatan

Mengidentifikasi pola respon komunity

Mengidentifikasi pola kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan

c.

Perumusan atau penentuan masalah kesehatan


Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh
masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian

masalah yang telah dirumuskan tidak mungkin dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu perlu
diprioritaskan masalah.
d. Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan perlu
mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria, diantaranya adalah :

Perhatian masyarakat

Prevalensi kejadian

Berat ringannya masalah

Kemungkinan masalah untuk diatasi

Tersedianya sumber daya masyarakat

Aspek politis
Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Abraham H.
Maslow yaitu :

Keadaan yang mengancam kehidupan

Keadaan yang mengancam kesehatan

Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan baik yang aktual maupun
potensial. Masalah actual adalah masalah yang diperoleh pada saat pengkajian sedangkan
masalah potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian (American Nurses of
Association (ANA).
Diagnosa keperawatan mengandung komponen utama yaitu :

1) Problem (Masalah)
2) Etiologi (Penyebab)
3) Sign or Symptom (Tanda atau Gejala)
Perumusan daignosa keperawatan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1) Dengan rumus PES
DK : P (Problem/masalah) + E (Etiologi/penyebab) + S (Symptom/gejala)
2) Dengan rumus PE
DK : P (Problem/masalah) + E (Etiologi/penyebab)
Jadi menegakkan diagnosa keperawatan minimal harus mengandung 2 komponen tersebut diatas,
disamping mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
2) Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
3) Partisipasi dan peran serta masyarakat
Sedangkan diagnosa keperawatan menurut Mueke, 1984 terdiri dari :
1) Masalah . Sehat . Sakit
2) Karakteristik populasi
3) Karakteristik lingkungan (Epidemiologi triagle)
Logan & Dawkins, 1986. Dalam bukunya : Family Centered Nursing in the Community :
Diagnosa resiko
Diantara

: (masalah)
: .... (komunity)

Sehubungan dengan

: ( Karakteristik komunity dan lingkungan)

Yang dimanifestasikan/
didemonstrasikan oleh

: ... ( Indikator kesehatan/analisa data)

3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
mengatasi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan
terpenuhinya kebutuhan pasien. Rencana keperawatan harus mencakup : Perumusan tujuan,
Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan, kriteria hasil untuk menilai pencapaian
tujuan.
a.

Perumusan tujuan
Dalam merumuskan tujuan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1) Berfokus pada masyarakat


2) Jelas dan singkat
3) Dapat diukur dan diobservasi
4) Realistik
5) Ada target waktu
6) Melibatkan peran serta masyarakat
Formulasi kriteria tujuan : T = S + P + K.1 + K.2
S: Subjek

K.1 : Kondisi

P: Predikat

K.2 : Kriteria

Selain itu dalam perumusan tujuan :


1) Dibuat berdasarkan goal : sasaran dibagi hasil akhir yang diharapkan
2) Perilaku yang diharapkan berubah
3) Specific
4) Measurable atau dapat diukur
5) Attainable atau dapat dicapai

6) Relevant/realistic atau sesuai


7) Time-Bound atau waktu tertentu
8) Sustainable atau berkelanjutan
b. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
Langkah-langkah dalam perencanaan perawatan kesehatan melalui kegiatan :
1) Identifikasi alternatif tindakan keperawatan
2) Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan
3) Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun perncanaan melalui kegiatan : musyawarah
masyarakat desa atau lokakarya mini
4) Pertimbangkan sumber daya masyarakat dan fasilitas yang tersedia
5)

Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi kebutuhan yang sangat dirasakan
masyarakat

6) Mengarah pada tujuan yang akan dicapai


7) Tindakan harus bersifat realistic
8) Disusun secara berurutan
c.

Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan


Penentuan kriteria dalam perencanaan keperawatan komunitas adalah sebagai berikut

1) Menggunakan kata kerja yang tepat


2) Dapat dimodifikasi
3) Bersifat spesifik :
Siapa yang melakukan ?
Apa yang dilakukan ?
Dimana dilakukan ?

Kapan dilakukan ?
Bagaimana melakukan ?
Frekuensi melakukan ?
4.

Pelaksanaan
Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi pada keperawatan
komunitas adalah : I2 RMU.

1. Inovatif
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan mampu menyesuaikan diri
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berdasar pada iman dan takwa
2. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama dengan sesame profesi, tim kesehatan
lain, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan asas kemitraan
3. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan
pengetahuan secara rasional demi tercapainya rencana program yang telah disusun.
4. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam
melaksanakan asuhan keperawatan serta komponen.
5. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas kemampuannya dan bertindak
dengan sikap optimis bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan :

Keterpaduan antara : Biaya, tenaga, waktu, lokasi, sarana, dan prasarana dengan pelayanan
kesehatan maupun sector lainnya
Keterlibatan petugas kesehatan lain, kader dan tokoh masyarakat dalam rangka alih peran.
Tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat dan didokumentasikan.
Adanya penyelenggaraan system rujukan baik medis maupu rujukan kesehatan.
5. Evaluasi
a.

Fokus evaluasi

1) Relevansi
Apakah program yang diperlukan ?
Yang ada atau yang terbaru
2) Perkembangan kemajuan
Apakah dilaksanakan sesuai dengan rencana ?
Bagaimana staf, fasilitas dan jumlah peserta ?
3) Cost efficiency (efisiensi biaya)
Bagaimana biaya ?
Apa keuntungan program ?
4) Efektifitas
Apakah tujuan tercapai ?
Apakah klien puas ?
Apakah focus pada formulatif dan hasil jangka pendek ?
5) Impact
Apakah dampak jangka panjang ?
Apa perubahan perilaku dalam 6 bulan atau 1 tahun ?

Apakah status kesehatan meningkat ?


b. Kegunaan evaluasi
1) Menentukan perkembangan keperawatan kesehatan masyarakat yang diberikan.
2) Menilai hasil guna, daya guna dan produktivitas asuhan keperawatan yang diberikan.
3)

Menilai asuhan keperawatan dan sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun
rencana dalam proses keperawatan.

c.

Hasil evaluasi
Terdapat tiga kemungkinan dalam hasil evaluasi, yaitu :

1) Tujuan tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok dan masyarakat telah menunjukkan kemajuan sesuai
denga kriteria yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu dicari penyebab dan cara
memperbaiki atau mengatasinya.
3) Tujuan tidak tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tidak menunjukkan perubahan kemajuan
sama sekali bahkan timbul masalah baru. Dalam hal ini perlu dikaji secara mendalam apakah
terdapat problem dalam data, analisis, diagnosis, tindakan dan faktor-faktor yang lain tidak
sesuai sehingga menjadi penyebab tidak tercpainya tujuan.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


A. Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga

: Tn. A

2. Umur Kepala Keluarga

: 37 tahun

3. Alamat Kepala Keluarga

: Jln. Baji minasa, Kel.tamarunang, Kec.Mariso

4. Pekerjaan Kepala Keluarga

: Pedagang

5. Pendidikan Kepala Keluarga : SLTP


6. Komposisi Keluarga
N

Nama

Angg

Hub.D

Um

g.

ur

ota

Kep.

(th

keluar

Keluar

n)

ga

Pend.
terak
hir

BC
G

ga

Ny.K

ISTRI

35

SMP

An.M

Anak

12

SMP

An.N

SD

Anak
2

Genogram :

STATUS IMUNISASI
HEPATI
POLIO
DPT
1 2 3 4 1 2 3 1

CAMP
AK

TIS

Keterangan :
=
keluarga

laki-laki

garis

hub.

= meninggal

= perempuan

= tinggal satu rumah

= klien

6. Tipe Keluarga :
Keluarga Tn. A termasuk keluarga kecil yang terdiri dari Kepala Keluarga,
istri, 2 orang anak
7. Suku Bangsa :
Seluruh Anggota Keluarga berasal dari suku Makassar, Indonesia
8. Agama :
Semua anggota keluarga menganut agama Islam dan mereka taat beribadah
dan menjalankan perintah Allah SWT
9. Status Sosial Ekonomi keluarga :
Kepala Keluarga

: 500.000,-/bln

Istri (ibu K)

: 250.000,-/bln

Anak ke-1

:-

Anak ke-2

:-

Untuk pendapatan KK dengan Istri, dijadikan satu sehingga menjadi


Rp.750.000,-/bln dengan rata-rata pengeluaran Rp.600.000,-/bln. Dilihat dari
penghasilan anggota keluarga dan harta benda yang dimiliki dalam keluarga,
keluarga tersebut mempunyai status social ekonomi rendah

10. Aktivitas rekreasi keluarga :


Setiap hari KK dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan akan rekreasi dan
hiburan biasanya menonton TV, berkumpul dengan keluarga dan melepas
lelah diruang keluarga, untuk anak ke-1 dan ke-2 sering keluar bermain
dengan teman-temannya disore hari.
B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
11. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Keluarga Tn.A mempunyai 2 orang anak, anak pertama perempuan dengan
umur 14 thn, anak kedua laki-laki dengan umur 12 thn, maka keluarga Tn.A
berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah.
12. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi
Adanya masalah kesehatan yang dihadapi oleh Ny.K menderita

gastritis, dan adanya

stress/trauma keluarga yang mengganggu anak-anaknya.


13. Riwayat Keluarga Inti
Dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit menular, menahun, dan
menurun. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga adalah
sebagai berikut :

Kepala Keluarga

: Klien pernah sakit apendisitis sehingga harus operasi

dan rawat inap selama 8 hari di Rumah Sakit dan sekarang sudah sembuh.

Istri

: Klien memiliki penyakit magh/gastritis, namun jika penyakitnya

kambuh tidak mengharuskan klien berobat dan rawat inap di RS akan tetapi
cukup membeli obat diapotek

Anak ke-1

: tidak ada riwayat sakit yang mengharuskan klien untuk

berobat dan rawat inap di RS

Anak ke-2

: klien pernah mengalami cedera di kepala dan pergelangan

tangan dislokasi akibat jatuh pada saat bermain, tapi tidak dibawa ke RS
untuk berobat akan tetapi hanya diberi obat gosok dan diurut saja
pergelangan tangannya dan kepala yang cedera hanya diberikan antiseptic
yang dibeli sendiri dari apotek. Namun klien masih terkadang mengeluhkan
tangannya terasa nyeri apabila banyak digerakkan saat bermain. Biasanya

saat kambuh, klien cukup diberi minyak gosok pada daerah yang terasa sakit
yang

kemudian

digunakan

untuk

istirahat

sampai

sembuh

dengan

sendirinya.
14. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Dari keluarga Tn.A tepatnya anak ke-2 (kakak KK) pernah mengidap sakit
DBD, sedangkan dari keluarga Ny.K tepatnya anak ke-2 (adik Ny.K) mengidap
penyakit diare.
C. Pengkajian Lingkungan
15. karakteristik rumah
Luas tanah

: 5 x 6 m2

Luas Rumah : 4 x 5 m2

Tipe Rumah : Rumah panggung/rumah kayu dengan jumlah ruang 1 kamar


tidur, 1 ruang tamu sekaligus ruang keluarga, 1 dapur, kamar mandi diluar
rumah, dan WC umum. Jumlah jendela 3, setiap ruangan dimanfaatkan
sebagaimana fungsinya secara optimal. Peletakan perabot rumah tangga
tidak tertata dengan rapi. Tidak ada septic tank, pembuangan langsung ke
selokan besar, jarak antara wc dengan sumber air kurang lebih 10 meter,
sumber air minum PAM.
Denah Rumah :

Keterangan :
1. Rg. Tamu & rg. Keluarga
1

2. Kamar tidur
3. Dapur

4. Kamar mandi
5. Wc umum

10m

16. Karakteristik Tetangga Dan Komunitas RW


Tetangga klien yang ada di sekitar rumah ramah-ramah. Klien tinggal di
wilayah perkotaan sehingga jarak rumah satu dengan yang lain cukup dekat.
Penduduk setempat juga mempunyai kesepakatan apabila ada warga baru

dan ada tamu yang menginap harap lapor pada RT/RW. Saat terjadi wabah
DBD, malaria, atau pun diare diadakan kerja bakti.
17. Mobilitas Geografis Keluarga
Sejak Tn.A menikah dengan Ny.K, keluarga Tn.A sudah 2 kali pindah pertama
di Panampu dan yang kedua di kecamatan Mariso dan tidak pernah pindah
lagi.
18. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat
Setiap hari, pada saat sore dan malam hari klien dan keluarganya selalu
meluangkan waktu untuk berkumpul. Keluarga klien juga berinteraksi baik
dengan masyarakat disekitar.
19. Sistem Pendukung Keluarga
Semua anggota keluarga dalam kondisi sehat. Antara anggota keluarga
saling menyayangi satu sama lain keluarga klien memiliki fasilitas kesehatan
MCK, tempat tidur, sumber air bersih, dan sepeda sebagai sara transportasi,
sedangkan fasilitas sosialnya berupa mengikuti penyuluhan kesehatan
diposyandu misalnya : penyuluhan tentang DBD,diadakannya imunisasi,
sedangkan dukungan psikologi dan spiritual keluarga terpenuhi dengan baik.
D. Struktur keluarga
20. Pola Komunikasi Keluarga
Bahasa komunikasi yang digunakan dalam keluarga dan dengan masyarakat
adalah bahasa makassar dan Indonesia. Komunikasi antara keluarga lebih
sering mulai sore hari karena hampi semua anggota keluarga pulang kerja
disore hari.
21. Struktur Kekuatan Keluarga
Klien memberi nasehat kepada anak-anaknya bagaimana cara berperilaku
yang baik , sopan santun, tata karma, cara menjaga hubungan baik dengan
orang lain. Untuk kekuatan keluarga masih tetap berada pada Tn.A jika ada
masalah diselesaikan dengan baik oleh Tn.A dan istrinya beserta kedua
anaknya.
22. Struktur Peran

Tn.A :

peran informal : hanya sebagai anggota masyarakat

peran formal : menjadi kepala keluarga, suami, ayah

Ny.K :

peran informal : hanya sebagai anggota masyarakat dan perkumpulan ibuibu dilingkungan tempat tinggal

peran formal : sebagai ibu rumah tangga, istri. ibu

Anak ke-1 :

peran informal : sebagai anggota masyarakat dan pelajar

peran formal : sebagai anak

Anak ke-2 :

peran informal : sebagai anggota masyarakat dan pelajar

peran formal : sebagai anak


23. Nilai dan Norma keluarga
Keluarga

kurang

membiasakan

menyadari

cuci

tangan

pentingnya
sebelum

menjaga

makan,

akan

kesehatan,
tetapi

mereka

kebersihan

lingkungan disekitarnya tidak dijaga dengan baik, kecukupan gizi dalam


keluarga

juga

kurang

terpenuhi

dilihat

dari

makanan

yang

sering

dikonsusmsi tiap harinya dikarenakan ekonomi rendah (tidak memenuhi 4


sehat 5 sempurna).
E. Fungsi Keluarga
24. Fungsi Afektif
Keluarga klien saling memberikan perhatian dan kasih saying. Klien selalu
mendukung apa yang dilakukannya selama dalam batas kewajaran dan tidak
melangga

etika

dan

sopan

santun.

mengatasi permasalahan keluarga.

Diterapkannya

demokrasi

dalam

25. Fungsi Sosial


Interaksi antara anggota keluarga terjalin baik, masing-masing anggota
keluarga masih memperhatikan dan menerapkan etika sopan santun dalam
berperilaku.
26. Fungsi Perawatan Kesehatan
a.

kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan


keluarga cukup mengetahui mengenai penyakit, namun pengetahuan
mengenai penanganan jika mengalami kekambuhan penyakit kurang.
Terbukti saat Ny.K kambuh penyakitnya dia hanya membeli obat di apotek
tanpa berobat ke dokter dulu, dan juga ketika anaknya mengalami cedera
hanya diberi minyak gosok di area yang sakit, lalu digunakan untuk istirahat
sampai terasa baik.

b. Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat


-

anggota kelurga mengerti potensi yang ada pada setiap anggota kelurga
dan mengerti tentang sumber-sumber kelurga yang dimiliki

keluarga kurang menyadari bahwa dengan menciptakan lingkungan yang


bersih dapat mencegah penyebaran berbagai jenis penyakit. Terbukti dari
lingkungan sekitar banyak terdapat tumpukan sampah, tidak terdapat juga
empat sampah.

Keluarga kurang mengerti dan menyadari tentang pentingnnya hygien


sanitasi untuk menciptakan rumah yang sehat. Terbukti jendela rumah
jarang dibuka.

Keluarga secara keseluruhan kurang mampu mempertahankan kondisi


kesehatan mereka. Terbukti pemenuhan gizi seimbang kurang, tidur tidak
teratur, mengatur waktu antara bekerja dan berkumpul dengan keluarga
kurang baik, terbukti keluarga mengutamakan pekerjaan.

c.

Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

pegetahuan keluarga mengenai penyakit terbatas, keluarga sedikit mengerti


mengenai hal-hal yang dapat menyebabkan kekambuhan dan yang perlu
dilakukan untuk mencegah kekambuhan

jika anggota keluarga ada yang sakit dan sekiranya perlu penanganan
tenaga kesehatan, maka keluarga akan mempercayakan perawatan dan
penyembuhan pada tenaga kesehatan. Namun bila sakitnya masih tergolong
ringan, keluarga cukup menganjurkan istirahat, pemenuhan kebutuhan dan
konsumsi obat antiseptic, generic, dll dari apotek atau warung kepada
anggota keluarga yang sakit.

Untuk berjaga-jaga, keluarga hanya menyediakan obat-obatan yang sering


dikonsumsi dan cocok bagi masing-masing anggota keluarga. Apabila
penyakit yang diderita dirasa parah, keluarga langsung membawa ke tenaga
kesehatan.

Keluarga memberikan perhatian, kasih saying dan support agar dapat


membantu proses penyembuhan.

d. Kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan


yang tepat :
-

keluarga cukup mengerti tentang kesehatan pada anggota keluarganya


anggota keluarga cukup peka terhadap anggota keluarga yang sakit.
Namun, terkadang maslah kesehatan tersebut dianggap sepele atau tidak
begitu diperhatikan secara lebih lanjut.

Keluarga tetap berusaha agar penyakit yang diderita tidak kambuh dan
selalu mencari solusi jika keluarga sakit.

Keluarga sangat cemas dengan kemungkinan penyakit yang menyerang


anggota keluarga yang lain.

Keluarga selalu menanggapi setiap masalah kesehatan secara positif

Keluarga kurang mendapat informasi yang tepat mengenai tindakan yang


dilakukan jika maslah kesehatan muncul dalam keluarga, sehingga tidak
dapat mengambil keputusan.
27. fungsi reproduksi

a.

jumlah anak yang dimiliki Tn.A ada 2 orang yaitu 1 perempuan dan 1 lakilaki

b.

keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga dengan menjaga jarak


kelahiran anak yang satu dengan yang lainnya.

c.

Tn.A dan Ny.K menggunakan metode program KB alami


28. fungsi ekonomi

keluarga mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan dari


pendapatan yang diterima per bulan, namun keluarga kurang mampu
menyisihkan pendapatannya untuk keperluan yang tidak terduga

keluarga kurang mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada,


seperti posyandu, puskesmas dll.

F. Stress dan Koping Keluarga


29. stressor jangka pendek dan jangka panjang
-

stressor jangka pendek : kerusakan rumah akibat banjir dan trauma adanya
banjir susulan

stressor jangka panjang : kekambuhan penyakit magh/gastritis pada Ny.K


30. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
Untuk stress jangka pendek, keluarga mengaku sedikit cemas karena tidak
dapat tenang

dan nyaman beristirahat dirumahnya.meskipun demikian

keluarga telah berusaha memperbaiki rumahnya sehingga layak untuk dihuni


dan tetap waspada dengan adanya banjir susulan yang bisa datang lagi.
Untuk stressor jangka panjang keluarga (terutama Ny.K) berusaha mencegah
kekambuhan penyakitnya. Namun terkadang Ny.K tetap mengkonsumsi
makanan yang menjadi pantangannya misalnya makanan pedas dan asam.
31. strategi koping yang digunakan
Bila

ada

permasalahan

dalam

keluarga,

sering

diselesaikan

dengan

musyawarah.
32. strategi adaptasi disfungsional
Keluarga tidak pernah melakukan kekerasan, perlakuan kejam terhadap
anak,

mengkambinghitamkan

menyelesaikan masalah.

G. Pemeriksaan Fisik
1. Tn.A (kepala keluarga)

anak,

memberikan

ancaman

dalam

TD

: 120/70 mmHg

: 24 x/menit

: 80 x/menit

: 36 0C

KEPALA
-

Rambut dan kulit kepala


Inspeksi : rambut lurus, kulit sawo matang

Mata
Inspeksi : kedua mata simetris, konjungtiva tidak pucat

Hidung
Inspeksi : hidung simetris, tidak ada pembesaran polip

Mulut dan faring

Telinga
Inspeksi : kedua telinga simetris

LEHER
Inspeksi : tidak ada nodul
DADA
Pergerakan dada terlihat saat inspirasi, Suara jantung S1 dan S2 tunggal, tidak terdapat palpitasi,
suara mur mur tidak ada ronchi (-), wheezing (-), nafas cuping hidung (-).
ABDOMEN
Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran hepar, pergerakan peristaltik
usus baik.
EKSTREMITAS
Inspeksi : anggota gerak lengkap, tidak ada luka, bekas jahitan, tidak ada
kelainan pada jari tangan dan kaki.
2. Ny.K (Istri)
TD

: 120/80 mmHg

: 26 x/menit

: 80 x/menit

: 36 0C

KEPALA

Rambut dan kulit kepala


Inspeksi : rambut lurus, kulit putih bersih

Mata
Inspeksi : kedua mata simetris, konjungtiva tidak pucat

Hidung
Inspeksi : hidung simetris, tidak ada pembesaran polip

Mulut dan faring

Telinga
Inspeksi : kedua telinga simetris

LEHER
Inspeksi : tidak ada nodul
DADA
Pergerakan dada terlihat saat inspirasi, Suara jantung S1 dan S2 tunggal, tidak terdapat palpitasi,
suara mur mur tidak ada ronchi (-), wheezing (-), nafas cuping hidung (-).
ABDOMEN
Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran hepar, pergerakan peristaltik
usus baik.
EKSTREMITAS
Inspeksi : anggota gerak lengkap, tidak ada luka, bekas jahitan, tidak ada
kelainan pada jari tangan dan kaki.
H. Harapan Keluarga Terhadap Petugas Kesehatan
Keluarga berharap agar mampu memberikan pelayanan yang baik dan tepat
pada siapa saja yang membutuhkan tidak hanya pasien yang di RS tetapi
juga warga masyarakat yang membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan.
Jangan membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan antara masyarakat
miskin dengan kaya.
I. Pengkajian Fokus
-

Hubungan anak terhadap orang tua baik, walau pun sibuk bekerja ibu dan
ayah selalu meluangkan waktu disela- sela pekerjaan untuk pulang kerumah
memberi makan dan melihat keadaan anaknya

Hubungan anak dengan adiknya sangat baik, selalu bermain bersama meski
orang tua pergi bekerja (saling menjaga satu sama lain)

Orang tua membentuk jaringan dengan anak dengan cara tiap hari selalu
meluangkan waktu disela-sela pekerjaan menjenguk anaknya dirumah, tetap
memberikan kasih sayang, perhatian kepada seluruh keluarga dan tetap
menjaga komunikasi dengan baik.

Pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga tetap terjaga dengan baik kedua
orang tua memiliki tugas sebagai kepala keluarga, isri, ayah dan juga ibu.

J. Analisa Data
SIMPTOM

ETIOLOGI

PROBLE

M
DO: bila lelah dan Ketidak mampuan keluarga untuk Nyeri
makannya
teratur
nampak

tidak mengenal

mengenai

Ny.K kesehatan

yang

menahan pengertian,

nyeri

factor

DS:

meliputi (Ny.K)
dan

gejala,

penyebab

yang

pasien mempengaruhinya serta persepsi

mengatakan
lelah

tanda

masalah Akut

dan

tidak

bila keluarga terhadap masalah


makan
teratur

perutnya

terasa

nyeri.

Lalu

biasanya

cukup

minum obat magh


(antasida),
pernah

ke

tidak
dokter

periksa
Skala nyeri : 4 (1-5)
DO:
keluarga Ketidak

mampuan

keluarga Sindrom

tampak

sering dalam

tiduran

mengambil

keputusan pasca

dan mengenai tindakan yang tepat trauma

berkumpul diruang atas


tamu.

kecemasan

atau

trauma

yang dirasakan.

DS:

keluarga

mengaku

masih

sedikit cemas dan


keluarga

tidak

dapat

berada

didalam

rumah

dengan

nyaman

dan

tenang.

Keluarga

tetap

waspada

dengan

adanya

banjir

susulan

akibat

cuaca

yang

tidak

menentu dan tidak


disangka-sangka.

K. Skoring
1.

Nyeri akut pada Ny.K pada keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidak
mampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan anggota keluarga.
N
o
1

Kriteria
Sifat

Penghitung

Skor

Pembenaran

an
3/3x1 = 3/3

3/3=1

Masalah sudah terjadi

masalah:
2

aktual
Kemungkina

1/2x2 = 1

Kebiasaan klien yang

n masalah

dapat

dapat

kekambuhan

diubah:

terulang kembali saat

sebagian

klien

Potensial

dalam keadaan sehat


Sumber-sumber dan

2/3x1 = 2/3

2/3

mendorong
akan

merasakan

masalah

tindakan yang

untuk

mencegah

dicegah :

kekambuhan dapat

cukup
Menonjolnya

0/2x1 = 0

dijangkau oleh klien


Kebiasaan
dalam

masalah:

mengatasi

masalah

yang

tidak

menyebabkan

dirasakan

masalah

masalah

sedederhana
tidak

dianggap serius oleh


klien dan keluarga
:2
2.

Sindrom

pasca

trauma

pada

2/3

keluarga

Tn.A

berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan


yang tepat atas kecemasan atau trauma yang dirasakan.
N
o.
1

Kriteria
Sifat

Penghitun

Skor

gan
3/3x1 = 1

Pembenaran
Masalah actual

masalah:

karena mekanisme

aktual

koping keluarga
kurang adekuat dan

stressor sangat
2

Kemungkinan

1/2x2 = 1

dirasakan keluarga
Semakin lama,

masalah

stressor makin

dapat diubah:

sedikit sehingga

sebagian

trauma dapat diatasi

Potensial

2/3x1 = 1

2/3

sebagian.
Penerimaan dan

masalah

keikhlasan terhadap

untuk

suatu peristiwa dapat

dicegah:

mengurangi trauma

cukup
Menonjolnya

2/2x1 = 1

Trauma merupakan

masalah:

salah satu tanda

masalah

keadaan psikologis

berat,

perlu

yang terganggu

penanganan
serius
:32/3
L. Prioritas Masalah
1.

Sindrom

pasca

trauma

pada

keluarga

Tn.A

berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan


yang tepat atas kecemasan atau trauma yang dirasakan
2.

Nyeri

akut

pada

Ny.K

pada

keluarga

Tn.A

berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan anggota


keluarga.

M. PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.A


N

Hari/

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Tangga

Umum

1.

l
Rabu/

Sindrom pasca

Setelah

22/12/1

trauma pada

dilakukan

mampu

untuk

men

keluarga Tn.A

tindakan

mengenal

mengungkapkan

yang

berhubungan

selama 2

masalah

kecemasannya

pera

dengan

hari

trauma dalam

ketidakmampu diharapkan

Khusus
1. Keluarga

keluarga

1. Anjurkan keluarga 1. Den

men
2. Anjurkan keluarga

yang

untuk mengurangi

2. Den

an keluarga

keluarga

2. Keluarga

dalam

mampu

mampu

stressor yang

men

mengambil

mengatasi

memutuskan

menyebabkan

men

keputusan

sindrom

tindakan yang

kecemasan seperti

yang

mengenai

pasca

tepat untuk

anjurkan keluarga

dan

tindakan yang

trauma

mengatasi

untuk tidak berfokus

kelu

tepat atas

kecemasan

terhadap kejadian

men

kecemasan

dan trauma

banjir yang paling

3. Keluarga

berkesan dan

yang

mampu

merusak harta

dirasakan

melakukan

benda.

atau trauma

tindakan

3. Anjurkan keluarga 3. Mek

keperawatan

untuk tetap

kelu

mencegah

mempertahankan

dapa

trauma yang

mekanisme koping

trau

berlebih

keluarga dalam

4. Keluarga
mampu
memelihara

menghadapi
masalah
4. Anjurkan keluarga

4. Kea
dan

lingkungan

untuk menjaga

kelu

fisik, psikis,

hubungan social

mem

dan social

dengan tetangga

kese

untuk

yang memiliki

mempertahan

kesamaan senasib

kan derajat

dan

kesehatan

sepenanggungan,

5. Keluarga

menjaga keadaan

mampu

psikis dengan

memanfaatka

mampu menerima

n sumberdaya

dengan ikhlas

yang ada

keadaan yang

mer

dimasyarakat

menimpanya.

bent

5. Pela

5. Anjurkan keluarga

yang

puskesma,

untuk meminta

dima

posyandu

bantuan dari tega

untuk

kesehatan dalam

memperoleh

upaya mengurangi

pelayanan

masalah kesehatan

seperti

kesehatan.

2.

Rabu/

Nyeri akut

Setelah

22/12/1

pada Ny.K

dilakukan

pada keluarga tindakan


Tn.A

selama 2

1. Keluarga

1. Jelaskan tentang

1. Klie

mampu

penyakit gastritis,

mem

mengenal

meliputi: pengertian, gast

penyakit

tanda dan gejala,

peng

berhubungan

hari

gastritis.

dengan

diharapkan 2. Keluarga

penyebab,

geja

penanganan dan

pena

ketidakmampu Ny.K

mampu

pencegahan serta

penc

an keluarga

mampu

memutuskan

akibat bila

akib

untuk

mengatasi

tindakan yang

penanganan tidak

pena

mengenal

nyeri

tepat untuk

tepat atau tdk

tepa

masalah

mengatasi

segera ditangani

ditan

kesehatan

kekambuhan

dengan bahasa yang

anggota

Ny.K

mudah dipahami.

keluarga.

3. Keluarga

2. Jelaskan kepada

mampu

keluarga mengenai

melakukan

hal-hal yang dapat 2. Kelu

tindakan

dilakukan saat

mem

keperawatan

penyakit Ny.K

yang

pencegahan

kambuh

penyakit Ny.K 3. Anjurkan kepada


4. Keluarga

keluarga untuk

3. Keik

mampu

membantu klien

kelu

memelihara

dalam menghindari

optim

lingkungan

dan

mem

fisik, psikis,

meminimalisasikan

mem

dan social

segala bentuk

kese

sehingga

makanan dan

dapat

minuman yang

menunjang

dapat menyebabkan

peningkatan

penyakit Ny.K

kesehatan

kambuh

Ny.K

4. Anjurkan kepada

mampu

keluarga untuk tidak4. Dor


moti
membiarkan Ny.K

memanfaatka

kecapean dan

5. Keluarga

dapa

n sumberdaya
yang ada

banyak pikiran.

men

5. Anjurkan kepada

kese

dimasyarakat

keluarga untuk

5. Pem

seperti

memeriksakan Ny.K

tera

puskesmas,

kepelayanan

men

psyandu,

kesehatan terdekat

peny

kartu sehat

baik saat kambuh

bera

untuk

maupun tidak untuk

men

memperoleh

mengetahui

kese

pelayanan

perkembangan

kesehatan

penyakit Ny.K

bagi Ny.K
N. IMPLEMENTASI
Hari/tgl
Kamis/
23/12/2010

No. Dx
IMPELEMENTASI
1 1. Menganjurkan keluarga untuk mengungkapkan kecemasanny
Hasil : keluarga mengungkapakan kecemasannya
2. Menganjurkan keluarga untuk mengurangi stressor yang

menyebabkan kecemasan seperti anjurkan keluarga untuk tid

berfokus terhadap kejadian banjir yang paling berkesan dan m


harta benda.

Hasil ; keluarga mendengarkan dengan baik apa yang disrank

ingin mencoba melaksanakan apa yang telah dingajurkan per

3. Menganjurkan keluarga untuk tetap mempertahankan mekan


koping keluarga dalam menghadapi masalah

Hasil : keluarga mendengarkan dengan seksama anjuran yang

diberikan perawat dan ingin memperbaiki koping keluarganya

4. Menganjurkan keluarga untuk menjaga hubungan social deng

tetangga yang memiliki kesamaan senasib dan sepenanggung

menjaga keadaan psikis dengan mampu menerima dengan ik


keadaan yang menimpanya.

Hasil : kelurga menjaga hubungan social dengan tetangga yan

memiliki kesamaan senasib dan sepenanggungan, menjaga k

psikis dengan mampu menerima dengan ikhlas keadaan yang

menimpanya, meskipun jarang berkumpul dan berkomunikasi


mereka.
5. Menganjurkan keluarga untuk meminta bantuan dari tenaga
kesehatan dalam upaya mengurangi masalah kesehatan.

Hasil : keluarga menerima saran untuk meminta bantuan kepa


Kamis/
23/12/2010

tenaga kesehatan dan keluarga mengatakan akan melaksana


1. Menjelaskan tentang penyakit gastritis, meliputi: pengertian,

dan gejala, penyebab, penanganan dan pencegahan serta aki

penanganan tidak tepat atau tdk segera ditangani dengan ba


yang mudah dipahami.

Hasil : klien tampak mendengarkan dan dengan seksama dan


mengatakan agak mengerti dengan penjelasan yang diberika

2. Menjelaskan kepada keluarga mengenai hal-hal yang dapat d


saat penyakit ny.x kambuh.

Hasil : klien tampak mengerti dengan penjelasan yang diberik

perawat, dan klien mengatakan akan melaksanakan apa yang


disarankan.

3. Menganjurkan kepada keluarga untuk membantu klien dalam


menghindari dan meminimalisasikan segala bentuk makanan
minuman yang dapat menyebabkan penyakit Ny.K kambuh

Hasil : keluarga tampak mengerti dan bersedia membantu klie

4. Menganjurkan kepada keluarga untuk tidak membiarkan ny.x


kecapean dan banyak pikiran.
Hasil ; keluarga mengatakan akan selalu mengingatkan klien

menjaga kebiasaan dan aktivitas yang menyebabkan kekamb


penyakit klien.
5. Menganjurkan kepada keluarga untuk memeriksakan Ny.K

kepelayanan kesehatan terdekat baik saat kambuh maupun ti

untuk mengetahui perkembangan penyakit Ny.K

Hasil : keluarga mendengarkan dengan baik dan menerima sa


yang diberikan dan akan mengaplikasikannya.
O. EVALUASI
No.
1

Hari/tgl

DIAGNOSA

EVALUASI

sabtu /

Sindrom pasca trauma

S : keluarga mengatakan kini sudah

25/12/2010

pada keluarga Tn.A

hari-hari kemarin karena rumah yan

berhubungan dengan

diperbaiki, danada info bahwa akan

ketidakmampuan keluarga

selokan dan pembuangan air bah ol

dalam mengambil

setempat secepatnya.

keputusan mengenai

O : keluarga tampak lebih tenang

tindakan yang tepat atas

A : masalah teratasi sebagian (inter

kecemasan atau trauma

berhasil/ intervensi 2, 3, 2 = belum

sabtu /

yang dirasakan
Nyeri akut pada Ny.K pada

P: lanjutkan intervensi : 2, 3,dan 4


S : Ny.x mengatakan kini telah mem

25/12/2010

keluarga Tn.A

penyakitnya dan apa saja yang perl

berhubungan dengan

mencegah kekambuhan dan yang p

ketidakmampuan keluarga

saat kambuh

untuk mengenal masalah

O : - klien tampak mengangguk sa

kesehatan anggota

penjelasan

keluarga.

- klien mengatakan mengerti dengan


perawat
A : masalah teratasi
P : pertahankan intervens