Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KAJIAN KEISLAMAN

TENTANG HUKUM MENGADZANI BAYI YANG BARU LAHIR

Disusun Oleh:
Leny Oktaviani

(A01301781)

Linda Ayu Ana M

(A01301782)

Linda Ristianingsih

(A01301783)

Ludi Nur K

(A01301784)

Nina Wanda K

(A01301791)

Nur Khoiriyah S

(A01301796)

Nurbaiti Indah L

(A01301798)

PROGRAM STUDI DII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tanggal 3 april 2016 telah lahir anak laki-laki dari seorang ibu
bernama Ny.T lahir jam 22.20 dengan berat 3400 gr panjang 48 cm lahir
dengan spontan, saat kelahiran klien hanya di tunggui oleh ibu nya
sedangkan suami klien sedang berada di luar negeri sedang bekerja. Saat
bayi sudah lahir Ibu klien mengatakan kepada ibu bidan yang sedang jaga di
ruang bersalin untuk mencarikan seorang laki-laki untuk mengadzani
cucunya yang baru saja lahir, kebetulan di situ sedang ada mahasiswa yang
sedang praktek dan ibu bidan tersebut menyuruh mahasisiwa tersebut untuk
mengadzani bayi tersebut, timbul pertanyaan apakah hukum memberikan
adzan pada bayi yang baru lahir dalam islam dan apakah boleh memberikan
adzan orang yang bukan anggota keluarganya.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk memenuhi tugas kajian keislaman praktek stase maternitas dan
anak Prodi DIII keperawatan STIKes Muhammadiyah Gombong tahun
2016.
2. Untuk membahas kasus yang biasa orang hadapi dikala sedang
mempunyai anggota keluarga baru yaitu bayi baru lahir.
3. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang hukum
memberikan adzan pada bayi yang baru lahir

BAB II
PEMBAHASASAN

A. Dasar Hukum
Kasus tentang seorang artis yang tidak mengadzani anaknya yang baru
lahir Kasihan sekali saya pada seorang artis yang tidak mengazankan
bayinya yang baru lahir. Tidak ada haditsnya, katanya. Seolah2 setelah
meneliti 1 juta hadits dia tidak menemukan 1 hadits pun tentang itu.
Ternyata haditsnya ada banyak.. Dalam Azan ada berbagai kalimat suci
seperti Takbir Allahu Akbar, Syahadah Asyhadu an La ilaaha illallahu,
Asyhadu anna Muhammadar Rosulullahu dan zikir terbaik: La ilaaha
illallahu. Baguskan jika kalimat2 terbaik tsb diperdengarkan pada anak
kita yang baru lahir?. Itu jauh lebih baik ketimbang kata2 lain yang bisa
jadi tidak karuan. Cuma ya sekarang lagi ngetrend orang mengucapkan:
Ini tidak ada haditsnya meski Sahih Bukhari, Muslim, dan Bulughul
Marom mereka belum khatam.
Pendapat tentang mengadzani menurut beberapa hadist
1. Abu Rafi meriwayatkan : Aku melihat Rasulullah SAW mengadzani
telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. (HR. Abu Daud, AtTirmizy dan Al-Hakim)
2. Secara status hadits, Al-Imam At-Tirmizy menegaskan bahwa yang
beliau riwayatkan itu adalah hadits hasan shahih. Demikian juga AlImam Al-Hakim menyebutkan keshahihan hadits ini juga.
3. Orang yang mendapatkan kelahiran bayi, lalu dia mengadzankan di
telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, tidak akan celaka oleh Ummu
Shibyan. (HR. Abu Yala Al-Mushili)
4. Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW melantunkan
adzan di telinga Al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan, dan melantunkan
iqamah di telinga kirinya. (HR. Al-Baihaqi)

5. Umumnya para ulama di dalam mazhab Asy-Syafiiyah dan AlHanabilah menyunnahkan adzan untuk bayi yang baru lahir, yaitu pada
telinga kanan dan iqamat dikumandangkan pada telinga kirinya.
Apakah Mengadzankan Bayi Bidah dan Tidak Ada Dasarnya?
Kalau kita mau tahu siapakah ulama hadits yang paling tinggi derajat
keilmuannya, ternyata bukan Bukhari atau Muslim. melainkan para ulama
empat mazhab, yaitu Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam
Asy-Syafii dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Kenapa
mereka lebih tinggi derajat keilmuannya dari Bukhari dan Muslim?.
Jawabnya karena ilmu yang mereka milik bukan sebatas mengetahui
apakah suatu hadits itu shahih atau tidak. Tetapi lebih jauh dari itu, mereka
juga menyusun kaidah dan ketentuan, kapan suatu hadits bisa diterapkan
untuk satu kasus dan kapan tidak bisa diterapkan. Dan tolok ukurnya
bukan semata keshahihan, tetapi ada lusinan pertimbangan lainnya.
1. Pendapat Syeikh Abdullah bin Baz
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang
mengadzani bayi pada telinga kanan dan mengiqamati pada telinga kiri,
beliau menjawab sebagaimana tertuang dalam situsnya. Ini perbuatan
masyru (disyariatkan) menurut pendapat semua ahli ilmu dan memang ada
dasar haditsnya, meskipun dalam sanadnya ada perdebatan. Tetapi bila
seorang mukmin melakukannya maka hal itu baik, karena merupakan
bagian dari pintu sunnah dan pintu tathawwuat. Disadur dari halaman
https://kabarislamia.com/2015/06/16/mengadzani-bayi-yang-baru-lahirtidak-ada-haditsnya/ Ahmad Sarwat, Lc., MA

B. Hukum Mengadzani Menurut Muhammadiyah


Bayi yang dilahirkan Diistiadzahi bukan Diadzani dan Diqamati.
1. Hingga saat ini ummat telah terbiasa dengan tuntunan adzan dan iqamat
untuk bayi yang dilahirkan. diadzani di telinga kanan dan diiqamat di
telinga kiri. Tidak banyak yang mengetahui bahwa hadis yang menjadi

landasan tuntunan itu adalah hadis dhaif bahkan hadis lainnya diduga kuat
hadis mawdlu (palsu).
2. Belum lagi adzan dan iqamat itu dipersoalkan fungsinya jika itu digunakan
untuk menyambut kelahiran bayi? Hadis Hadis shahih menyebutkan
bahwa adzan dan iqamat berfungsi sebagai pemberitahuan masuk waktu
shalat.
3. Al-Quran mengisyaratkan bahwa tuntunan untuk menyambut bayi yang
dilahirkan itu adalah membacakan kalimat istiadzah. Ini disebutkan Allah
dalam Surah Ali Imran (3) ayat 36 berikut:






Artinya : (Ingatlah), ketika isteri Imran berkata: Ya Rabbku,
sesungguhnya

aku

menadzarkan

kepada-Mu

anak

yang

dalam

kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul


Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 3:35) Maka tatkala
isteri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: Ya Rabb-ku,
sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah
lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah
seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam
dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya
kepada (pemeliharaan) Engkau dari syaitan yang terkutuk. (QS. 3:36)
4. Ayat di atas dipertegas dengan dua hadis Nabi. pertama dari Ibnu Abbas
riwayat Bukhari Muslim, yang kedua hadis Bukhari dari Abu Hurairah.
Hadis tersebut adalah:
1. Bukhari-Muslim:
} {


Setelah itu Abu Hurairah ra. berkata: Jika kalian menghendaki, bacalah:
wa innii u-iidzuHaa bika wa dzurriyyataHaa minasy-syaithaanir rajiim
[Dan aku memohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya
kepada (pemeliharaan)-Mu dari syaitan yang terkutuk.] (HR. Al-Bukhari
dan Muslim, dari hadits Abdurrazzaq).
5. Pada dasarnya bacaan azan iqamat dan bacaan istiadzah berisi kalimatkalimat Allah yang ketika itu dibacakan kepada bayi menjadi awalan yang
baik untuk mengetuk kesadaran komunikasinya.
6. Perbedaannya tuntunan istiadzah didukung oleh ayat Al-Quran dan hadis
yang shahih sedangka tuntunan adzan iqamat itu problematik.

Demikian semoga bermanfaat.


Ketua Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga, Majelis Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah, Wawan Gunawan A. Wahid, Lc. M.Ag.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas bahwa terjadi beberapa pendapat yang
memperbolehkan dan ada yang tidak menganjurkan karena dasar hadist
yang kurang kuat.
Para ulama di dalam mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Hanabilah
menyunnahkan adzan untuk bayi yang baru lahir, yaitu pada telinga kanan
dan iqamat dikumandangkan pada telinga kirinya.
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang
mengadzani bayi pada telinga kanan dan mengiqamati pada telinga kiri,
beliau menjawab sebagaimana tertuang dalam situsnya. Ini perbuatan
masyru (disyariatkan) menurut pendapat semua ahli ilmu dan memang ada
dasar haditsnya, meskipun dalam sanadnya ada perdebatan. Tetapi bila
seorang mukmin melakukannya maka hal itu baik, karena merupakan
bagian dari pintu sunnah dan pintu tathawwuat.
Pada dasarnya bacaan azan iqamat dan bacaan istiadzah berisi kalimatkalimat Allah yang ketika itu dibacakan kepada bayi menjadi awalan yang
baik untuk mengetuk kesadaran komunikasinya.
Perbedaannya tuntunan istiadzah didukung oleh ayat Al-Quran dan
hadis yang shahih sedangka tuntunan adzan iqamat itu problematik.
B. Saran
Dari pembahasan diatas untuk para pembaca untuk kembali kepada
keyakinan mana yang di percaya dan menjadi pedoman dan untuk
menjadikan hal ini sebagai bahan pertimbangan dan penentuan arah
kedepan.
Untuk penulis diharapkan untuk menambah sumber refrensi agar
pembaca dapat menyimpulkan dan mendapat sumber yang lebih banyak.
Sebagai tenaga kesehatan sebaiknya mengayomi pasien yang mau
mengazani bayi yang baru lahir dan tidak menimbulkan perkara pada oarang
yang tidak mau mengazani bayi yang baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA
https://alquranmulia.wordpress.com/2015/03/02/tafsir-ibnu-katsir-surah-aliimraan-ayat-35-36/, diakses pada tanggal 18 April 2016 jam 08.00 wib
http://sangpencerah.com/2015/02/bayi-yang-dilahirkan-diistiadzahibukan.html, diakses pada tanggal 18 April 2016 jam 08.00 wib
https://kabarislamia.com/2015/06/16/mengadzani-bayi-yang-baru-lahirtidak-ada-haditsnya/ diakses pada tanggal 18 April 2016 jam 08.00
wib