Anda di halaman 1dari 33

1

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
(PTS)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MEMBUAT


POWERPOINT UNTUK MEDIA PEMBELAJARAN MELALUI
INHOUSE TRAINING DI SMK TEKNIK INDUSTRI
PURWAKARTA

Oleh : HELDY ERISTON, S.Pd


Nip: 19700210 199512 1 001
Jabatan: Kepala Sekolah

YAYASAN ELSAGARA SAKTI

SMK TEKNIK INDUSTRI

Jl. Veteran Gg KNPI No. 1 Tlp. (0264) 202534


PURWAKARTA
TAHUN 2011

ABSTRAK

Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah sangat tergantung dari beberapa


faktor. Faktor yang sangat penting antara lain adalah foktor kemampuan guru
dalam membuat media pembelajaran yang kreatif, inovatif, efektif, dan
menyenangkan.

Fasilitas

Powerpoint

dapat

menjadi

salah

satu

media

pembelajaran yang kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan itu.


Untuk meningkatkan kemampuan para guru membuat power point untuk media
pendidikan dapat diupayakan melalui bermacam-macam cara. Dalam Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS) ini, dicobakan tindakan dengan cara In House Training
untuk para guru di SMK Teknik Industri Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini
dilaksanakan dalam dua siklus. Dari hasil penelitian dan analisa data, ternyata
pada siklus kedua, kemampuan guru membuat powerpoint untuk media
pembelajaran meningkat secara signifikan dan memenuhi indikator yang telah
ditetapkan sebesar 75%.
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan
kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran dapat
dilakukan dengan cara pemberian In House Training kepada guru.

Kata Kunci : Kemampuan Guru, Powerpoint, Media Pembelajaran, In House


Training

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas Rahmat dan
Hidayahnya sehingga peneliti dapat menyelesaikan kegiatan penyusunan laporan
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini.
Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
sangat dipengaruhi oleh kesiapan administrasi, media pembelajaran, dan
penguasaan kompetensi secara memadai, untuk itu dipandang penting
mempersiapkan kompetensi guru sebagai pendidik dan pengajar antar lain dapat
ditempuh melalui peningkatan kemampuan guru dalam membuat media
pembelajaran dengan media powerpoint.
Pelaksanakan PTS ini selain untuk mendapatkan umpan balik guna
menyusun program kerja selanjutnya juga untuk membantu guru meningkatkan
kompetensi terutama dalam pembuatan media pembelajan
Dalam melaksanakan kegiatan Penelitian Tindakan Sekolah sudah pasti
adanya masalah-masalah yang dihadapi dan sangat perlu untuk ditindaklanjuti
secara menyeluruh baik mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi
maupun evaluasi dan refleksi. Peneliti menyadari PTS yang dilaksanakan masih
jauh dari kata kesempurnaan namun peneliti berharap kiranya dapat bermanfaat
bagi pembaca yang berkesempatan membaca laporan PTS ini.

Dalam kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan terima


kasihkepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian
PTS ini, antara lain kepada:
1. Bapak H. Deddy Effendi, S.Pd. M.M. selaku Kepala Dinas Pendidikan Pemuda
dan Olah Raga Kabupaten Purwakarta;
2. Bapak Drs. Syarif Hidayat, M.Pd. selaku Pengawas Pembina SMK Teknik
Industri Purwakarta;
3. Bapak dan Ibu Guru SMK Teknik Industri Purwakarta yang telah berperan
aktif dalam kegiatan penelitian ini;
4. Siswa-siswi SMK Teknik Industri Purwakarta yang telah membantu
memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian tindakan sekolah ini;
5. Berbagai pihak yang telah memberikan bantuan serta kerjasama dari awal
sampai akhir dalam kegiatan penelitian maupun penyusunan laporan PTS ini.
Semoga apa yang telah kita lakukan mendapat ridho Allah SWT dan
bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia ini maupun di kehidupan akhirat nanti.

Peneliti,

Heldy Eriston, S.Pd.

DAFTAR ISI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR ...........

ii

DAFTAR ISI ..

iv

BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN .

A.

Latar Belakang .......

B.

Identifikasi Masalah

C.

Rumusan Masalah ..

D.

Tujuan Penelitian

E.

Manfaat Penelitian ..

KAJIAN PUSTAKA

A.

Kajian Teori .

B.

Penyelesaian Masalah .

11

METODE PENELITIAN

13

A.

Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian .

13

B.

Prosedur Penelitian ..

13

C.

Teknik Pengumpulan Data

15

D.

Teknik Analisis Data .

15

Bab IV

Bab V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

16

A.

Kondisi Awal .

16

B.

Siklus 1

16

C.

Siklus 2

19

D.

Pembahasan .

21

SIMPULAN DAN SARAN

24

A.

Simpulan .

24

B.

Saran

24

DAFTAR PUSTAKA

vi

LAMPIRAN-LAMPIRAN

viii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah
komponen mutu guru. Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat
dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas, guruguru yang layak mengajar ternyata masih rendah yaitu untuk tingkat SD baik
negeri maupun swasta hanya 28,94%, sedangkan guru SMP negeri 54,12%
dan guru SMP swasta 60,99%. Hanya 65,29% guru SMA negeri yang layak
mengajar dan guru SMA swasta 64,73%. Demikian pula dengan guru SMK
negeri 55,91 % dan swasta 58,26 %. Salah satu faktor penentu kelayakan guru
mengajar adalah kemampuan guru mengembangkan media pembelajaran
yang efektif dan menarik sesuai dengan materi pembelajaran yang
diampunya. Untuk meningkatkan kemampuan guru membuat media
pembelajaran merupakan salah satu tugas pembinaan kepala sekolah.
Pembinaan guru harus berlangsung secara berkesinambungan, karena
prinsip mendasar adalah guru harus merupakan a learning person, belajar
sepanjang hayat masih dikandung badan. Sebagai guru profesional dan telah
menyandang

sertifikat

pendidik,

guru

berkewajiban

untuk

terus

mempertahankan profisionalitasnya sebagai guru.


Pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous profesional
development) untuk meningkatkan kemampuan guru dapat dilakukan dengan

berbagai cara antara lain: menggunakan wadah guru yang sudah ada, yaitu
kelompok kerja guru (KKG) untuk tingkat SD dan musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP) untuk tingkat sekolah menengah, dengan cara supervisi
akademis, atau dilakukan dengan cara in house training guru mata pelajaran
yang dilakukan oleh kepala sekolah di sekolah masing-masing.
Untuk melaksanakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (PAIKEM), seorang guru dituntut untuk mampu membuat
media pembelajaran yang inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
sehingga dapat menciptakan pembelajaran siswa aktif. Salah satu media yang
perlu dikembangkan yaitu media yang memanfaatkan teknologi informasi
salah satunya yaitu powerpoint.
Dengan

in

house

training

pembuatan

media

pendidikan

yang

menggunakan powerpoint diharapkan dapat membantu guru di SMK Teknik


Industri Purwakarta meningkatkan kemampuannya dalam membuat media
pendidikan yang menarik, efektif, inofatif dan kreatif, karena powerpoint
merupakan sarana presentasi yang lengkap, mudah, menarik, efektif dan
menyenangkan.

B. Identifikasi Masalah
Setelah memperhatikan dan mengamati penjelasan dalam latar
belakang tersebut, maka dapat melangkah untuk mengidentifikasikan
masalah-masalah dalam pembelajaran disekolah sebagai berikut:

1. Kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran di


SMK Teknik Industri Purwakarta rendah.
2. Media pembelajaran yang sudah ada di SMK Teknik Industri tidak
menarik.
3. Guru di SMK Teknik Industri tidak bisa membuat powerpoint untuk
media pembelajaran yang menarik.

C. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang dan identifikasi masalah di atas,
diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah langkah-langkah in house training dalam meningkatkan
kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran di
SMK Teknik Industri Purwakarta?
2. Apakah in house training dapat meningkatkan kemampuan guru
membuat powerpoint untuk media pembelajaran di SMK Teknik
Industri Purwakarta?

D. Tujuan Penelitian
Pelaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui langkah-langkah

in house training dalam

meningkatkan kemampuan guru membuat powerpoint untuk media


pembelajaran di SMK Teknik Industri Purwakarta.

2. Untuk meningkatkan kemampuan guru membuat powerpoint untuk


media pembelajaran di SMK Teknik Industri Purwakarta.

E. Manfaat Penelitian
Penyelenggaraan

Penelitian

Tindakan

Sekolah

(PTS)

ini

diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:


1. Manfaat penelitian bagi Kepala Sekolah adalah sebagai umpan balik
atau feedback untuk membuat program sekolah yang menunjang
pemanfaatan teknologi informasi sebagai media pembelajaran.
2. Manfaat penelitian bagi guru yaitu meningkatkan kemampuan guru
membuat powerpoint sebagai media pembelajaran.
3. Manfaat bagi siswa yaitu siswa dapat belajar dengan media
pembelajaran yang menarik.

10

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Pengertian Kemampuan Guru
Yang dimaksud kemampuan guru di sini adalah kompetensi guru.
Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu? Louise Moqvist (2003)
mengemukakan bahwa competency has been defined in the light of actual
circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari
Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992)
menyebutkan bahwa : A competence is a description of something which
a person who works in a given occupational area should be able to do. It
is a description of an action, behaviour or outcome which a person should
be able to demonstrate.

Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah


bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang
seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu
pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat
ditampilkan atau ditunjukkan.

Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya,


tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk

11

pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang


sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung


jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga
menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan
penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus harus lebih dinamis
dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Jika guru
tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang
demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi,
ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun
masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru
perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus
melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara
terus menerus. Sementara itu, dalam praktik pembelajaran pun tampaknya
masih terjadi keragaman (Prayitno, 2005).

2. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat
didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari
pengirim menuju penerima (Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim
et.al., 2001). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu
sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Criticos,

12

1996). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses


pembelajaran merupakan proses komunikasi. Proses pembelajaran
mengandung lima komponen komunikasi, guru (komunikator), bahan
pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan
pembelajaran.
Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan
belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan
berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati
posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem
pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses
pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung
secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem
pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa
informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode
adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah
informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.
Yang termasuk perangkat media adalah: material, equipment,
hardware, dan software. Istilah material berkaitan erat dengan istilah
equipment dan istilah hardware berhubungan dengan istilah software.

13

Material (bahan media) adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk


menyimpan pesan yang akan disampaikan kepada auidien dengan
menggunakan peralatan tertentu atau wujud bendanya sendiri, seperti
transparansi untuk perangkat overhead, film, filmstrip, dan film slide,
gambar, grafik, dan bahan cetak. Sedangkan equipment (peralatan) ialah
sesuatu yang dipakai untuk memindahkan atau menyampaikan sesuatu
yang disimpan oleh material kepada audien, misalnya proyektor film slide,
video tape recorder, papan tempel, papan flanel, dan sebagainya.

3. Pengertian Powerpoint

Microsoft PowerPoint atau Microsoft Office PowerPoint adalah


sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh
Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka, Microsoft Office,
selain Microsoft Word, Excel, Access dan beberapa program lainnya.
PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi
Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem
operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di
atas sistem operasi Xenix. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi
oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, siswa, dan trainer.
Dimulai pada versi Microsoft Office System 2003, Microsoft mengganti
nama dari sebelumnya Microsoft PowerPoint saja menjadi Microsoft
Office PowerPoint. Versi terbaru dari PowerPoint adalah versi 12

14

(Microsoft Office PowerPoint 2007), yang tergabung ke dalam paket


Microsoft Office System 2007.

Powerpoint juga merupakan sebuah alat presentasi yang menarik


yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Penggunaan program
ini pun memiliki kelebihan sebagai berikut:
a. Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi,
baik animasi teks maupun animasi gambar atau foto.
b. Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentang
bahan ajar yang tersaji.
c. Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik.
d. Tenaga pendidik tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang
sedang disajikan.
e. Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulangulang.
f. Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik. (CD / Disket /
Flashdisk), sehingga paraktis untuk di bawa ke mana-mana.

4. Pengertian Inhouse Training

a. Definisi In House Training

In House Training adalah program pelatihan / training yang


diselenggarakan oleh suatu perusahaan atau organisasi dengan
menggunakan tempat pelatihan sendiri, peralatan sendiri, menentukan
15

peserta dan dengan mendatangkan Trainer sendiri. Jadi, anda


menyiapkan tempat (baik itu di kantor, di hotel, dll) kemudian
menyediakan peralatan dan mendatangkan Trainer yang sesuai dengan
topik tertentu yang Anda butuhkan.

Pelatihan sangat diperlukan untuk diberikan kepada karyawan


sebagai bagian dari persyaratan legislatif untuk kinerja industri dan
standar keselamatan atau persyaratan pendidikan berkelanjutan. Hal
ini pun sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas SDM untuk
memaksimalkan potensi yang mereka miliki dan relevan dengan yang
mereka hadapi dalam bekerja.

b. Tujuan Dan Manfaat In House Training

In house training biasanya diselenggarakan dengan berbagai tujuan


dan target tertentu. Tujuan In-House Training diantaranya:

1. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja


atau didayagunakan oleh instansi terkait. Hal ini diharapkan dapat
mendukung target organisasi dalam upaya mencapai sasaran yang
telah ditetapkan. Bekerja sesuai Misi dan Visi organisasi.
2. Menciptakan interaksi antara peserta. Jika organsisasi, instansi atau
perusahaan yang memiliki banyak cabang di berbagai daerah yang
tersebar di Indonesia maka besar kemungkinan mereka memiliki
cara kerja yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan kualitas

16

yang berbeda. Dengan In House Training peserta dapat bertukar


informasi sehingga bukan tidak mungkin ini cara yang paling
efektif untuk menciptakan standarisasi kinerja yang paling efektif.
Mana yang paling bagus, mana yang paling efektif dan mana yang
terbaik bisa dibuat standar kerja di semua cabang sehingga semua
cabang bisa berkembang secara merata dengan kualitas terdahsyat.
Masuk akal, kan?
3. Mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan antara karyawan.
Karena mereka bekerja untuk satu naungan yang sama, bukan tidak
mungkin mereka tidak lagi kaku untuk sharing, bersahabat dan
lebih kompak. Dengan ini keuntungan untuk perusahaan jadi sangat
besar, bukan?
4. Meningkatkan

motivasi

dan

budaya

belajar

yang

berkesinambungan. Hal ini bisa mengeksplorasi permasalahanpermasalahan yang dihadapi di lapangan yang berkaitan dengan
peningkatan efektifitas kerja, sehingga dapat mencari solusi secara
bersama-sama dengan kemungkinan solusi terbaik.

B. Penyelesaian Masalah

Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahanperubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu
anggapan bahwa kedudukan guru akan diganti oleh alat elektronik dan
teknologi informasi komunikasi. Dengan keberadaan teknologi informasi dan

17

elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru


dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu
masalah pendidikan yaitu, 1) dengan membebaskan guru dari kegiatan rutin
yang banyak, 2) melengkapi guru-guru dengan teknik-teknik keterampilan
kualitas yang paling tinggi, 3) Pengembangan penyajian kelas dengan tekanan
pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata
pelajaran, 4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada
kemampuan individu siswa.

Dari penjelasan di atas tentang peran baru

guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas


pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan
menggantikan beberapa fungsi instruksional guru ( Sulaeman, 1988:24:2425). Dengan pendekatan in house training diharapkan kemampuan guru
dalam membuat powerpoint media pembelajaran dapat meningkat.

18

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian


Pada PTS ini subjek adalah guru-guru di SMK Teknik Industri Purwakarta
dan dilaksanakan pada Juni s.d. September 2011.

B. Prosedur Penelitian
Kondisi awal sebelum penelitian diduga bahwa guru di SMK Teknik
Industri Purwakarta belum mampu membuat powerpoint sebagai media
pembelajaran . Diduga pula bahwa tidak ada media pembelajaran yang menarik
di SMK Teknik Industri Purwakarta.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan suatu prosedur penelitian yang
diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Panitia Pelaksana Pendidikan
dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat, 2009 : 73). Penelitian tindakan
sekolah merupakan (1) penelitian partisipatoris yang menekankan pada
tindakan dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk
melakukan perbaikan terhadap suatu kondisi nyata; (2) memperdalam
pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan; dan (3) memperbaiki situasi
dan kondisi sekolah / pembelajaran secara praktis (Depdiknas, 2008 : 11-12).
Secara singkat, PTS bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata

19

yang terjadi di sekolah-sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana


masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan.
Dalam penelitian tindakan ini permasalahan rendahnya kemampuan guru
membuat powerpoint untuk media pembelajaran akan ditingkatkan melalui in
house training yang dilakukan oleh kepala sekolah, kegiatan tersebut diamati
kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali
pada siklus-siklus berikutnya.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan model Stephen Kemmis dan
Mc.Taggart (1998) yang diadopsi oleh Suranto (2000; 49) yang kemudian
diadaptasikan dalam penelitian ini. Model ini menggunakan sistem spiral
refleksi diri yang dimulai dari rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan
perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang
pemecahan masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Mills (200;17) Stephen
Kemmis has created a well known representation of the action research spiral
. Peneliti menggunakan model ini karena dianggap paling praktis dan
aktual.
Kegiatan penelitian tindakan sekolah ini terdiri atas beberapa tahap yaitu :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Pengamatan
4. Refleksi
Prosedur pada penelitian tindakan sekolah ini menggunakan minimal dua
siklus sampai tercapainya tujuan penelitian dengan indikator berhasilan

20

tindakan yang ditetapkan yaitu minimal 75% guru sudah dapat membuat
powerpoint untuk media pembelajaran.

C. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada PTS ini yaitu;
1) Observasi dan Pengamatan langsung
2) Wawancara
3) Survey dengan instrument pengumpulan data.

D. Teknik Analisa Data


Teknik analisa data pada PTS ini yaitu menggunakan analisis
deskriptif tentang perubahan kemampuan guru membuat powerpoint untuk
media pendidikan pada kondisi awal sebelum atau pada awal penelitian
dilakukan dengan kondisi akhir setelah penelitian dilakukan.
Indikator keberhasilan tindakan yaitu apabila 75% guru sudah dapat
membuat powerpoint untuk media pembelajaran.

21

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
(SIKLUS TINDAKAN)

A. Kondisi Awal
Pada

awal

sebelum

pelaksanaan

tindakan

meningkatkan

kemampuan guru SMK Teknik Industri dalam membuat powerpoint untuk


media pembelajaran sangat rendah. Hal ini tergambar dari data awal yang
dikumpulkan melalui metoda observasi dan kuesioner yang dilakukan
terhadap guru, yaitu 59 % guru belum bisa membuat powerpoint, 32% guru
bisa membuat powerpoint tingkat dasar dan 9 % guru sudah bisa membuat
powerpoint tingkat mahir.

B. Siklus 1
Siklus 1 dilaksanakan pada bulan Agustus minggu kedua dengan kegiatan
sebagai berikut:
1. Perencanaan
-

Mencari

kondisi

awal

kemampuan

guru dalam membuat

powerpoint untuk media pembelajaran dan ketersediaan media


pembelajaran

yang

sudah

ada

pengetahuan dan kemampuan guru.

22

melalui

kuesioner

tentang

Menghubungi/mengundang guru untuk menjadi subjek penelitian


dan memberi pengarahan tentang pelaksanaan in house training.

Menghubungi guru Teknik Informatika untuk menjadi pembimbing


pada pelaksanaan in house training.

Membuat instrumen wawancara, pengamatan dan observasi.

Membuat jadwal pelaksanaan in house training .

2. Pelaksanaan
Pelaksanaan In House training dilakukan pada tanggal 29 Juli 2011
pukul 08.00 s.d. 11.00 WIB. Dengan kegiatan sebagai berikut:
-

Melaksanakan In house training bagi guru untuk meningkatkan


kemampuan membuat powerpoint untuk media pembelajaran.

Mengamati pelaksanaan In house training.

Mengobservasi apakah ada perubahan kemampuan guru dalam


membuat powerpoint untuk media pembelajaran.

3. Hasil Pengamatan
-

Mengamati pelaksanaan In house training.

Mengobservasi apakah ada perubahan kemampuan guru dalam


membuat powerpoint untuk media pembelajaran.

Melakukan refleksi kegiatan dengan guru dan pembimbing.

23

Dari hasil pengamatan dan observasi serta rekap kuesioner


tingkat kemampuan guru dalam membuat powerpoint untuk media
pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL REKAPITULASI TINGKAT KEMAMPUAN GURU


DALAM MEMBUAT POWERPOINT PADA SIKLUS 1
TINGKAT

KONDISI

KEMAMPUAN

AWAL

Tidak Bisa

59%

9%

Dasar

32%

50%

Mahir

41%

NO.

HASIL IHT

Dari data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat


kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran
pada proses kegiatan IHT sebanyak 41% guru sudah mencapai
tingkat mahir. Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan bahwa
keberhasilan tindakan adalah 75%, atau bila 75% guru telah
mencapai tingkat mahir, jadi peneliti berkesimpulan harus
diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau
siklus kedua.

24

4. Evaluasi dan Refleksi


Setelah selesai siklus 1 maka diadakan refleksi mengenai
kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus
pertama. Refleksi dilaksanakan bersama-sama fasilitator/pembimbing
dan guru untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Dari hasil refleksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa harus ada
penambahan waktu kegiatan IHT dari semula 3 jam pada siklus pertama
menjadi 6 jam pada siklus selanjutnya, harus juga melengkapi sarana
prasarana seperti perangkat komputer atau laptop dan penambahan
pembimbing untuk membimbing guru peserta IHT.

C. Siklus 2
1. Perencanaan
Pada siklus 2 tahapan dan prosedur pelaksanaan in house training
sama dengan siklus 1 dengan kondisi awal hasil pelaksanaan in house
training siklus 1 dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sesuai hasil
evaluasi pelaksanaan pada siklus 1.

Dari

hasil

refleksi

pada siklus 1 perlu dilakukan perencanaan yang lebih baik untuk kegiatan
IHT pada siklus 2, penambahan sarana berupa pemberian kredit laptop
kepada 11 orang guru. Pada siklus 2 ini juga dilibatkan siswa jurusan RPL
yang mempunyai prestasi dikelasnya untuk menjadi pendamping guru
peserta IHT. Waktu pelaksanaan juga direncanakan bertambah.

25

2. Pelaksanaan
Pelaksanaan In House training dilakukan pada tanggal

September 2011 pukul 09.00 s.d. 16.00 WIB.


3. Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan dan observasi serta rekap kuesioner
tingkat kemampuan guru dalam membuat powerpoint untuk media
pembelajaran pada siklus 2dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL REKAPITULASI TINGKAT KEMAMPUAN GURU


DALAM MEMBUAT POWERPOINT PADA SIKLUS 2
TINGKAT

KONDISI

NO.

HASIL IHT
KEMAMPUAN

AWAL

Tidak Bisa

9%

0%

Dasar

50%

14%

Mahir

41

86%

Dari data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat


kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran
pada proses kegiatan IHT sebanyak 86% guru sudah mencapai
tingkat mahir. Berdasarkan indikator yang telah ditetapkan bahwa
keberhasilan tindakan adalah 75%, atau bila 75% guru telah
mencapai tingkat mahir, jadi peneliti berkesimpulan adanya

26

peningkatan kemampuan guru membuat powerpoint untuk media


pembelajaran melebihi indicator yang telah ditetapkan.

4. Evaluasi dan Refleksi


Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka
diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari
pelaksanaan tindakan pada siklus kedua tersebut. Dari hasil observasi
dan data yang diperoleh, peneliti mengambil kesimpulan bahwa
tindakan yang dilaksanakan pada siklus kedua dinyatakan berhasil,
karena terdapat 86% guru yang

telah mempunyai kemampuan

membuat powerpoint untuk media pembelajaran tingkat mahir, atau


melebihi target yang telah ditentukan sebesar 75%.

D. Pembahasan
Teknik pengumpulan data pada PTS ini yaitu;
4) Observasi dan Pengamatan langsung
5) Wawancara
6) Survey dengan instrument pengumpulan data kuesioner.

Teknik analisa data pada PTS ini yaitu menggunakan analisis


deskriptif tentang perubahan kemampuan guru membuat powerpoint untuk
media pendidikan pada kondisi awal sebelum atau pada awal penelitian
dilakukan dengan kondisi akhir setelah penelitian dilakukan.

27

Indikator keberhasilan tindakan yaitu apabila 75% guru sudah dapat


membuat powerpoint untuk media pembelajaran pada tingkat mahir.
Pada saat kondisi awal sebelum tindakan diketahui bahwa terdapat 13
orang guru atau 59% guru yang tidak bisa membuat powerpoint, 7 orang
guru atau 32% guru yang bisa membuat powerpoint sederhana atau tingkat
dasar, dan 2 orang guru atau 9% yang sudah mahir membuat powerpoint.
Setelah

tindakan

siklus

dilaksanakan

terjadi

peningkatan

kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran sebagai


berikut:
- Hanya terdapat 2 orang guru atau 9% guru yang belum bisa membuat
powerpoint dari semula 13 orang atau 59%. Terjadi penurunan yaitu
sebesar 50%. Ini berarti 91% guru sudah mampu membuat powerpoint
untuk media pembelajaran dengan perincian 50 % tingkat dasar dan 41
% tingkat mahir.
-

Terdapat 11 orang guru atau 50 % yang bisa secara sederhana membuat


powerpoint dari semula 7 orang atau 32 %. Terjadi peningkatan sebesar
18 %.

- 41% guru atau 9 orang guru dari semula 2 orang atau 9% sudah
mencapai tingkat mahir dalam membuat power point untuk media
pembelajaran. Berarti terdapat peningkatan sebesar 32%.

28

Namun demikian hasil tindakan pada siklus 1 belum mencapai


target sesuai indikator yang telah ditentukan yaitu 75% pada tingkat mahir,
sehingga dilaksanakan tindakan siklus 2 dengan hasil sebagai berikut:
-

Terdapat 0% guru yang tidak bisa membuat powerpoint. Berarti


semua (100%) guru sudah dapat membuat powerpoint.

Terdapat 3 orang guru atau 14% guru dapat membuat powerpoint


tingkat dasaratau sederhana.

Terdapat 19 orang guru atau 86% guru sudah mahir membuat


powerpoint untuk media pembelajaran.
Dari data ini berarti indikator keberhasilan tindakan sudah

terpenuhi bahkan terlampai, sehingga dapat disimpulkan bahwa tindakan


yang dilaksanakan pada siklus 2 dinyatakan berhasil.
Dari hasil observasi dan penyebaran kuesioner didapati pula data
bahwa 100% guru berkeinginan menggunakan powerpoint untuk media
pembelajaran setelah In House Training dilaksanakan dan 100% guru
menyatakan bahwa In House Training bermanfaat untuk meningkatkan
kemampuan guru membuat powerpoint untuk media pembelajaran.
Tindakan yang telah mencapai hasil 86% melampaui indikator
yang telah ditetapkan yaitu 75% menunjukkan bahwa in house training
dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan guru membuat
powerpoint untuk media pembelajaran.

29

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan analisis data dan hasil tindakan disimpulkan bahwa
pelaksanaan in house training signifikan dapat meningkatkan kemampuan
guru SMK Teknik Industri Purwakarta membuat power point untuk media
pembelajaran.
Data yang diperoleh menunjukan bahwa setelah diadakan penerapan
tindakan berupa In House Training guru yang mampu membuat powerpoint
secara sederhana sebanyak 3 orang atau 14% dan guru yang mampu membuat
powerpoint pada tingkat mahir sebanyak 19 orang atau 86%. Ini berarti pula
bahwa 100% guru atau semua guru SMK Teknik Industri Purwakarta dapat
membuat powerpoint untuk media pembelajaran. Pelaksanaan In House
Training dapat meningkat kemampuan guru membuat powerpoint untuk
media pembelajaran di SMK Teknik Industri Purwakarta.

B. Saran
Karena adanya pengaruh positif dan signifikan dari Pelaksanaan In House
Training terhadap kemampuan guru membuat media pembelajaran maka
penulis menyampaikan beberapa saran yaitu:

30

1. Kepada semua Kepala Sekolah disarankan melakukan in house training untuk


meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran dengan
powerpoint sehingga guru dapat menyampaikan media pembelajaran dengan
powerpoint yang atraktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan serta
sesuai dengan kebutuhan serta kondisi sekolah masing-masing.
2. Kepada semua guru dapat kiranya menggunakan media powerpoint sebagai
media pembelajaran yang dibuat secara mandiri dalam melaksanakan
pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang PAIKEM.

31

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta
Tarko, A. J. (1995). Creativity in the Classroom School of Curious Delight. New
York : Longman Publishers USA.
Syamsul Hadi, (2009). Kepemimpinan Pembelajaran, Makalah Disampaikan
pada Sosialisasi Akuntabilitas Kinerja Kepala Sekolah Dalam Inovasi
Pembelajaran. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Tenaga
Kependidikan
Amstrong. Michael, (1991). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:Ghalia
Indonesia
Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Alfabeta
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:Depdiknas
Subagio. (2010) Kompetensi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran [On
Line].Tersedia
:
http://subagiosubagio.blogspot.com/2010/03/kompetensi-guru-dalam meningkatkanmutu.html
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, kualitatif,
dan R&D. Bandung : Alfabeta
Slameto, (2003). Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta :
Rineka Cipta.
Munthe, Bermawi. 2009. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Pustka Insan Mandiri

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan;Dalam Upaya Meningkatkan


Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.
32

Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta : Kencana

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Pengertian
in
house
training
http//tikettraining.com/pengertian
in
manfaatnya.html

manfaat
house

dan
tujuannya;
training-tujuan
dan

Microsoft powerpoint-wikepedia bahasa Indonesia. ensiklopedia;


org /wiki/micrososft-PowerPoint.
Pengertian
powerpoint;
powerpoint.html.

id.wikipedia.

tasik-blog.blogspot.com/2009/01/pengertian-

33