Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN STRUMA

DI OK 11 (ONKOLOGI)
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh :
INTAN RIZKI ANDINI
NIM. 1501410024

PELATIHAN INSTRUMENTATOR KAMAR OPERASI


RUMAH SAKIT DR. SAIFUL ANWAR MALANG
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
STRUMA
DI OK 11 (ONKOLOGI)
RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh :
INTAN RIZKI ANDINI
NIM. 1501410024

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
2016

I. KONSEP DASAR MEDIS


1. DEFINISI
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan
kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga
menimbulkan keluhan seperti berdebar-debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret,
berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves disease)
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba
nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini, 1987). Kelainan
glandula tyroid dapat berupa gangguan fungsi seperti tiritosikosis atau perubahan susunan
kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit tyroid noduler. Berdasarkan patologinya,
pembesaran tyroid umumnya disebut struma (De Jong & Syamsuhidayat, 1998).
Struma Diffusa toxica adalah salah satu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi
hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu
hipertrofi dan hyperplasi dari parenkhym kelenjar. Struma endemik adalah pembesaran
kelenjar tyroid yang disebabkan oleh asupan mineral yodium yang kurang dalam waktu yang
lama.
2. ETIOLOGI
Adanya struma atau pembesaran kelenjar tiroid dapat oleh karena ukuran sel-selnya
bertambah besar atau oleh karena volume jaringan kelenjar dan sekitarnya yang bertambah
dengan pembentukan struktur morfologi baru. Yang mendasari proses itu ada 4 hal utama.
a. Gangguan perkembangan, seperti terbentuknya kista (kantongan berisi cairan) atau
jaringan tiroid yang tumbuh di dasar lidah (misalnya pada kista tiroglosus atau tiroid
lingual).
b. Proses radang atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves dan penyakit tiroiditis
Hashimoto.
c. Gangguan metabolik (misal, defisiensi iodium) serta hyperplasia, misalnya pada struma
koloid dan struma endemik.
d. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasia meliputi adenoma sejenis
tumor jinak dan adenokarsinoma, suatu tumor ganas.
e. Defisiensi iodium
f. Konsumsi goitrogenik glikosida agent secara berlebihan (memakan sekresi hormon
tiroid).
g. Mengkonsumsi obat-obatan anti tiroid jangka panjang
h. Anomali
i. Peradangan atau tumor/neoplasma
3. KLASIFIKASI STRUMA
a. Secara morfologi ( konsistensi / bentuk )
bentuk kista : struma kistika
tidak pernah toksik ( kista jinak )
tidak ada tanda tanda keganasan pada tubuh
berbatas tegas, permukaan licin, konsistensi kistik
bentuk noduler : struma
ganas, mungkin toksik
bentuk jelas, konsistensi kenyal, keras, keras seperti batu ( ganas )
bentuk difusa : Struma difus
tidak pernah ganas tapi toksik
batas tidak jelas,konsistensi kenyal tapi sering lembek
bentuk vaskuler ; struma vaskulosa
toksik dan sifatnya difusa
Mengandung banyak pembuluh darah

b. Secara klinis
Toksik
Non toksik
4. PATOFISIOLOGI
Gangguan pada jalur TRH-TSH hormon tiroid ini menyebabkan perubahan dalam
struktur dan fungsi kelenjar tiroid gondok. Rangsangan TSH reseptor tiroid oleh TSH, TSHResepor Antibodi atau TSH reseptor agonis, seperti chorionic gonadotropin, akan
menyebabkan struma diffusa. Jika suatu kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel
maligna metastase ke kelenjar tiroid, akan menyebabkan struma nodusa (Mulinda, 2005)
Defesiensi dalam sintesis atau uptake hormon tiroid akan menyebabkan peningkatan produksi
TSH. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan jumlah dan hiperplasi sel kelenjar tyroid
untuk menormalisir level hormon tiroid. Jika proses ini terus menerus, akan terbentuk struma.
Penyebab defisiensi hormon tiroid termasuk inborn error sintesis hormon tiroid, defisiensi
iodida dan goitrogen (Mulinda, 2005)
Struma mungkin bisa diakibatkan oleh sejumlah reseptor agonis TSH. Yang termasuk
stimulator reseptor TSH adalah reseptor antibodi TSH, kelenjar hipofise yang resisten terhadap
hormon tiroid, adenoma di hipotalamus atau di kelenjar hipofise, dan tumor yang
memproduksi human chorionic gonadotropin (Mulinda, 2005)
5. MANIFESTASI KLINIK
a. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di
bagian depan leher tepat di bawah Adams apple.
b. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.
c. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi batang tenggorokan).
d. Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus).
e. Suara serak.
f. Distensi vena leher.
g. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala
h. Kelainan fisik (asimetris leher)
Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya :
a. Tingkat peningkatan denyut nadi
b. Detak jantung cepat
c. Diare, mual, muntah
d. Berkeringat tanpa latihan
e. Goncangan
f. Agitasi
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Dilakukan foto thorak posterior anterior
b. Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig
c. Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.
d. Laboratorium darah
e. Pemeriksaan sidik tiroid
f. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
g. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration/FNA)
h. Termografi
i. Petanda Tumor
7. KOMPLIKASI
a. Suara menjadi serak/parau
Struma dapat mengarah kedalam sehingga mendorong pita suara, sehingga terdapat
penekanan pada pita suara yang menyebabkan suara menjadi serak atau parau.

b. Perubahan bentuk leher


Jika terjadi pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
simetris atau tidak.
c. Disfagia
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong eshopagus sehingga terjadi disfagia yang akan berdampak pada gangguan
pemenuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit.
d. Sulit bernapas
Dibagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trachea dan eshopagus, jika struma
mendorong trachea sehingga terjadi kesulitan bernapas yang akan berdampak pada
gangguan pemenuhan oksigen.
e. Penyakit jantung hipertiroid
Gangguan pada jantung terjadi akibat dari perangsangan berlebihan pada jantung oleh
hormon tiroid dan menyebabkan kontratilitas jantung meningkat dan terjadi takikardi
sampai dengan fibrilasi atrium jika menghebat. Pada pasien yang berumur di atas 50
tahun, akan lebih cenderung mendapat komplikasi payah jantung.
f. Oftalmopati Graves
Oftalmopati Graves seperti eksoftalmus, penonjolan mata dengan diplopia, aliran air
mata yang berlebihan, dan peningkatan fotofobia dapat mengganggu kualitas hidup
pasien sehinggakan aktivitas rutin pasien terganggu.
g. Dermopati Graves
Dermopati tiroid terdiri dari penebalan kulit terutama kulit di bagian atas tibia bagian
bawah (miksedema pretibia), yang disebabkan penumpukan glikosaminoglikans. Kulit
sangat menebal dan tidak dapat dicubit.
8. PENATALAKSAAN MEDIS
a. Obat antitiroid:
Inon tiosianat mengurangi penjeratan iodide
Propiltiourasil (PTU) menurunkan pembentukan hormon tiroid
Iodida pada konsentrasi tinggi menurunkan aktivitas tiroid dan ukuran kelenjar
tiroid.
b. Tindakan Bedah:
Tiroidektomi subtotal yaitu mengangkat sebgaian kelenjar tiroid. Lobus kiri atau
kanan yang mengalami perbesaran diangkat dan diharapkan kelenjar yang
masihtersisa masih dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan hormon-hormon tiroid
sehingga tidak diperlukan terapi penggantian hormon.
Tiroidektomi total yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Klien yang menjalani
tindakan ini harus mendapat terapi hormon pengganti yang besar dosisnya beragam
pada setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan dan aktivitas.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Nama Pasien
:
Ruang Rawat
:
Tindakan
:
Dokter Operator
:
Perawat Instrument
:
Dokter Anestesi
:
Tanggal Operasi
:
Jam Mulai Operasi
:
Pengkajian Pre Operasi
:

Umur
Diagnosa Medis
No Register
Asisten Operasi
Perawat Sirkuler
Asisten Anestesi
Pasien datang di OK
Jam Selesai Operasi
Pengkajian Intra Operasi

:
:
:
:
:
:
:
:
:

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operatif
Intra operatif
1. Resiko terjadi injuri
1. Potensial nyeri bd. tindakan
berhubungan dengan transfer lumbal Anestesi , penurunan obat
dan transport (perpindahan
anestesi
dan pengangkutan)
Intervensi :
Intervensi :
( ) Jelaskan kepada pasien tentang
( ) Bantu pasien untuk
prosedur tindakan
berpindah dari Branchart /
( ) Pilih penbuluh darah yang
kursi roda dari ruangan ke
sesuai dengan macam operasi.
Branchart OK
( ) Lakukan pemasangan infuse
( ) Dorong pasien ke ruang
sesuai prosedur.
tindakan ( R.OK ) dengan
( ) Kolaborasi dengan medis
hati-hati dan pastikan
pemasangan lumbal anestesi
pengaman brancart pasien
( ) Tambah obat analgetik
sudah terpasang
( ) Pindahkan pasien dari
Branchart ke meja operasi
minimal dengan 3 orang.

Post operatif
Diagnose keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak
efektif b.d akumulasi skret
skunder terhadap efek anestesi
Intervensi :
( ) Pantau frekuensi
pernapasan, kedalaman dan
kerja otot bantu
( ) Kaji adanya dispneu, ronchi
dan cyanosis
( ) Lakukan suction skret pada
mulut dan trachea
( ) Berikan KIE tentang batuk
efektifif

2. Cemas berhubungan
dengan kurang pengetahuan
dan stress pembedahan
Intervensi :
( ) Beri penjelasan tentang
prosedur operasi yang akan
dilakukan
( ) Perkenalkan semua
anggota tim operasi kepada
pasien
( ) Jelaskan bahwa operasi
ini sudah sering dilakukan
dan ditangani secara
professional

2. Potensial Kekurangan cairan


bd. perdarahan
Intervensi :
( ) Monitor tanda vital.
( ) Observasi kelancaran infuse
( ) Transfusi darah sesuai
kebutuhan.
( ) Monitor produksi urine ( 0.5 cc
/ kg BB / jam)

2. Resiko injuri ( jatuh


terlepasnya alat infuse ) b.d
kesadaran yang menurun ,
gelisah dan berontak.
Intervensi :
( ) Jaga pasien dari jatuh dan
bila perlu lakukan strain
( ) Observasi TTV dan tetesan
infuse
( ) Pasang pelindung pada
tempat tidur supaya pasien tidak
jatuh

Evaluasi Hasil :
( ) Pasien tidak terjadi Injuri
saat perpindahan dan
pengangkutan.
( ) Pasien mengatakan cemas
berkurang dan memahami
prosedur yang akan dilakukan

3. Potensial Injury ( ketinggalan


instrumen , kasa dan injury kulit )
bd tindakan operasi,
pemasangan pedal / arde yang
tidak adekuat.
Intervensi :
( ) Atur posisi pasien sesuai
dengan jenis operasinya.
( ) Pasang arde dan ikat bila perlu
( ) Hitung instrumen dan kasa
sebelum dan sesudah operasi

3. Gangguan rasa nyaman nyeri


b.d diskontinuitas kulit dan
masa kerja obat bius habis
Intervensi :
( ) Kaji tingkat nyeri dan
kharakteristik
( ) Ajarkan melakukan distraksi
dan relaksasi
( ) Kolaborasi pemberian obat
analgetik

4. Resiko pola nafas tidak efektif


(Apnea ) bd tertariknya
,penekanan endotracheal tube
atau secret yang banyak
Intervensi :
( ) Monitor TTV
( ) Monitor saturasi O2
( ) Monitor EKG
( ) Monitor tetesan infus
Evaluasi
( ) Rasa nyeri tidak terjadi
( ) Tidak terjadi dehidrasi, cairan
masuk sesuai dengan program
yang diberikan
( ) Tidak terjadi injuri pada pasien
( ) Tidak terjadi gangguan pola
napas

Evaluasi
( ) Napas lancar, tidak ada
sesak dan tidak ada ronchi
( ) Pasien aman dan tidak jatuh
( ) Rasa nyeri berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, volume 2. Jakarta: EGC
Hartini. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, jilid I. Jakarta: FKUI.
Long, Barbara C. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Price, Sylvia A, (1998). Patofisiologi, jilid 2, Jakarta: EGC