Anda di halaman 1dari 21

Sausan Rasmiyyah

110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

SKENARIO 3 : PEMBIAYAAN KESEHATAN


1. BADAN PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL (BPJS)
Definisi
: Berdasarkan UU no. 24 tahun 2011 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang
selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
jaminan sosial. BPJS sendiri adalah peleburan dari 4 (empat) perusahaan penjamin kesehatan nasional,
yaitu PT ASKES, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT JAMSOSTEK. Dengan visi Cakupan Semesta per 1
Januari 2019.
Fungsi : Terbagi dua, berdasarkan jenisnya. Secara garis besar, BPJS terbagi atas BPJS Kesehatan
menyelenggarakan program jaminan kesehatan. Jaminan Kesehatan menurut UU SJSN
diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, dengan
tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. BPJS Ketenagkerjaan menyelenggarakan 4 program, yaitu
program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian.
Tugas :
a. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
b. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
c. Menerima bantuan iuran dari Pemerintah;
d. Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta;
e. Mmengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;
f. Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan
program jaminan sosial; dan
g. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada peserta dan
masyarakat.
http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/268
Peserta
:
Peserta BPJS Kesehatan adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6
(enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran, meliputi :
1. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI) : fakir miskin dan orang tidak mampu, dengan
penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.
2. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari :
Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
a)
Pegawai Negeri Sipil
b)
Anggota TNI
c)Anggota Polri
d)
Pejabat Negara
e)
Pegawai Pemerintah non Pegawai Negeri
f) Pegawai Swasta; dan
g)
Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd f yang menerima Upah. Termasuk WNA yang
bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan.
Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya
a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri; dan
b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah. Termasuk WNA yang
bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan.
Bukan pekerja dan anggota keluarganya
a) Investor;
b) Pemberi Kerja;
c) Penerima Pensiun, terdiri dari :
Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;
Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun;
Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;
Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun yang mendapat hak pensiun;
Penerima pensiun lain; dan

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun lain yang mendapat hak
pensiun.
Veteran;
Perintis Kemerdekaan;
Janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan; dan
Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sd e yang mampu membayar iuran.

d)
e)
f)
g)

Anggota Keluarga yang di Tanggung :


1. Pekerja Penerima Upah :
Keluarga inti meliputi istri/suami dan anak yang sah (anak kandung, anak tiri dan/atau anak
angkat), sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang.
Anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang sah, dengan kriteria:
a. Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri;
b. Belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (dua puluh lima) tahun yang
masih melanjutkan pendidikan formal.
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja : Peserta dapat mengikutsertakan anggota
keluarga yang diinginkan (tidak terbatas).
3.
Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan, yang meliputi anak ke-4 dan
seterusnya, ayah, ibu dan mertua.
4. Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan, yang meliputi kerabat lain seperti
Saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll.
Iuran :
1. Bagi peserta Penerima Bantun Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan iuran dibayar oleh Pemerintah.
2. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja pada Lembaga Pemerintahan terdiri dari
Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri, pejabat negara, dan pegawai pemerintah non
pegawai negeri sebesar 5% (lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 3% (tiga
persen) dibayar oleh pemberi kerja dan 2% (dua persen) dibayar oleh peserta.
3. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD dan Swasta sebesar 4,5%
(empat koma lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 4% (empat persen)
dibayar oleh Pemberi Kerja dan 0,5% (nol koma lima persen) dibayar oleh Peserta.
4. Iuran untuk keluarga tambahan Pekerja Penerima Upah yang terdiri dari anak ke 4 dan seterusnya,
ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar sebesar 1% (satu persen) dari dari gaji atau upah per
orang per bulan, dibayar oleh pekerja penerima upah.
5. Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti saudara kandung/ipar, asisten rumah
tangga, dll); peserta pekerja bukan penerima upah serta iuran peserta bukan pekerja adalah
sebesar:
a. Sebesar Rp.25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang per bulan dengan manfaat
pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
b. Sebesar Rp.42.500 (empat puluh dua ribu lima ratus rupiah) per orang per bulan dengan manfaat
pelayanan di ruang perawatan Kelas II.
c. Sebesar Rp.59.500,- (lima puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) per orang per bulan dengan
manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I.
6. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan, dan janda, duda, atau anak yatim
piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan, iurannya ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari
45% (empat puluh lima persen) gaji pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III/a dengan masa
kerja 14 (empat belas) tahun per bulan, dibayar oleh Pemerintah.
7. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan
Denda Keterlambatan Pembayaran Iuran :
1.
Keterlambatan pembayaran Iuran untuk Pekerja Penerima Upah dikenakan denda administratif
sebesar 2% (dua persen) per bulan dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 3
(tiga) bulan, yang dibayarkan bersamaan dengan total iuran yang tertunggak oleh Pemberi Kerja.

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

2.

Keterlambatan pembayaran Iuran untuk Peserta Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja
dikenakan denda keterlambatan sebesar 2% (dua persen) per bulan dari total iuran yang
tertunggak paling banyak untuk waktu 6 (enam) bulan yang dibayarkan bersamaan dengan total
iuran yang tertunggak.

Mekanisme Pendaftaran
:
A. Pendaftaran Bagi Penerima Bantuan Iuran / PBI
Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak mampu yang menjadi peserta PBI dilakukan oleh
lembaga yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang statistik (Badan Pusat
Statistik) yang diverifikasi dan divalidasi oleh Kementerian Sosial.
Selain peserta PBI yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, juga terdapat penduduk yang
didaftarkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan SK Gubernur/Bupati/Walikota bagi Pemda yang
mengintegrasikan program Jamkesda ke program JKN.
B. Pendafataran Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah / PPU
1. Perusahaan / Badan usaha mendaftarkan seluruh karyawan beserta anggota keluarganya ke
Kantor BPJS Kesehatan dengan melampirkan :
a. Formulir Registrasi Badan Usaha / Badan Hukum Lainnya
b. Data Migrasi karyawan dan anggota keluarganya sesuai format yang ditentukan oleh BPJS
Kesehatan.
2. Perusahaan / Badan Usaha menerima nomor Virtual Account (VA) untuk dilakukan pembayaran
ke Bank yang telah bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI)
3. Bukti Pembayaran iuran diserahkan ke Kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu JKN atau
mencetak e-ID secara mandiri oleh Perusahaan / Badan Usaha.
C. Pendaftaran Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah / PBPU dan Bukan Pekerja

Pendaftaran PBPU dan Bukan Pekerja


1. Calon peserta mendaftar secara perorangan di Kantor BPJS Kesehatan
2. Mendaftarkan seluruh anggota keluarga yang ada di Kartu Keluarga
3. Mengisi formulir Daftar Isian Peserta (DIP) dengan melampirkan :
-Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
- Fotokopi KTP/Paspor, masing-masing 1 lembar
- Fotokopi Buku Tabungan salah satu peserta yang ada didalam Kartu Keluarga
- Pasfoto 3 x 4, masing-masing sebanyak 1 lembar.
4. Setelah mendaftar, calon peserta memperoleh Nomor Virtual Account (VA)
5. Melakukan pembayaran iuran ke Bank yang bekerja sama (BRI/Mandiri/BNI)
6. Bukti pembayaran iuran diserahkan ke kantor BPJS Kesehatan untuk dicetakkan kartu JKN.
Pendaftaran selain di Kantor BPJS Kesehatan, dapat melalui Website BPJS Kesehatan

Pendaftaran Bukan Pekerja Melalui Entitas Berbadan Hukum (Pensiunan BUMN/BUMD)


Proses pendaftaran pensiunan yang dana pensiunnya dikelola oleh entitas berbadan hukum dapat
didaftarkan secara kolektif melalui entitas berbadan hukum yaitu dengan mengisi formulir
registrasi dan formulir migrasi data peserta.
Fasilitas Kesehatan (Per Desember 2014)
Puskesmas
:
9.783
Klinik TNI
:
754
Klinik POLRI
:
569
Klinik Pratama
:
2.116
Dokter Praktek Perorangan
:
3.823
Peserta SJSN
: 132. 371.959
http://bpjs-kesehatan.go.id
2. SISTEM RUJUKAN PADA KLINIK KEDOKTERAN KELUARGA
Definisi

Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional terkait penangan suatu kasus penyakit
yang sedang ditangani oleh seorang dokter, kepada dokter lain yang lebih ahli di bidangnya.
Namun kewenangan penanganan masih berada pada dokter keluarga yang bersangkutan.

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai.

Konsultasi dapat dilakukan mendahului rujukan, namun tidak jarang langsung melakukan
rujukan. Meskipun demikian, ada kalanya keduanya dipergunakan bersama-sama.

Rujukan dalam pelayanan kedokteran ini umumnya kepada pelayan yang lebih tinggi ilmu,
peralatan dan strata yang lebih tinggi dalam rangka mengatasi kasus atau problem tersebut.
Karakteristik
1. Ruang lingkup kegiatan : konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ke tiga.
Rujukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang
sedang dihadapi kepada pihak ketiga.
2. Kemampuan dokter : konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli atau yang lebih
berpengalaman. Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
3. Wewenang dan tanggung jawab : konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap pada dokter
yang meminta konsultasi. Pada rujukan sebaliknya.
Macam-macam Rujukan :

Rujukan medis:
Rujukan pasien (transfer of patient)
Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)
Rujukan bahan (transfer of specimens)

Rujukan kesehatan:
Rujukan tenaga
Rujukan sarana
Rujukan operasional
Manfaat Konsultasi dan Rujukan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (bila sistemnya berjalan sesuai dengan yang
seharusnya)
2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi (terbentuk team work)
Masalah Konsultasi dan Rujukan
1. Rasa kurang percaya pasien terhadap dokter (bila rujukan/konsultasi inisiatif dokter)
2. Rasa kurang senang pada diri dokter (bila rujukan/ konsultasi atas permintaan pasien)
3. Bila tidak ada jawaban dari konsultasi
4. Bila tidak sependapat dengan saran/tindakan dokter konsultan
5. Bila ada pembatas (sikap/ perilaku,biaya, transportasi)
6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan dan ataupun dirujuk.
Tata Laksana Konsultasi dan Rujukan
Dasarnya adalah kepatuhan terhadap kode etik profesi yg telah disepakati bersama, dan
sistem kesehatan terutama sub sistem pembiayaan kesehatan yang berlaku.
Konsultasi (McWhinney, 1981):
a. Penjelasan lengkap kepada pasien alasan untuk konsultasi
b. Berkomunikasi secara langsung dengan dokter konsultan (surat, formulir khusus, catatan di
rekam medis, formal/ informal lewat telefon)
c. Keterangan lengkap tentang pasien
d. Konsultan bersedia memberikan konsultasi
Tata Cara Rujukan
Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan rujukan.
Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka, seperti dokter ahli
tertentu.
Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan dokter yang
dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang memuat informasi secara

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan yang dilakukan oleh dokter
keluarga.
Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap mungkin.
Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan diagnosis,
menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat pengobatan atau yang
lainnya.
Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib memberikan
bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya, harus menasihatkan
agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian Wewenang dan Tanggung Jawab


1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab penderita sepenuhnya kepada
dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter tsb
tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita hanya
untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya
kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya
kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang dan
tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.

Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seoranglulusan
fakultas kedokteran pada umumnya. Kompetensi khusus inilah yang perlu dilatihkanmelalui program
perlatihan ini. Yang dicantumkan disini hanyalah kompetensi yang harusdimiliki oleh setiap Dokter
Keluarga secara garis besar. Rincian memgenai kompetensi ini, yangdijabarkan dalam bentuk tujuan
pelatihan, akan tercantum dibawah judul setiap modul pelatihanyang terpisah dalam berkas tersendiri
karena akan lebih sering disesuaikan denganperkembangan ilmu dan teknologi kedokteran.
A. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga
B. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanankedokteran
keluarga,
C. Menguasai ketrampilan berkomunikasi, menyelenggarakan hubungan profesional dokter- pasien
untuk :
Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan
perhatiankhusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga,
Secara
efektif
memanfaatkan
kemampuan
keluarga
untuk
berkerjasana
menyelesaikanmasalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan penyembuhan
penyakit, sertapengawasan dan pemantauan risiko kesehatan keluarga
Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraanpelayanan kedokteran/kesehatan

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

D. Memiliki keterampilan manajemen pelayanan kliniks.


Dapat memanfaatkan sumber pelayanan primer dengan memperhitungkan potensi
yangdimiliki pengguna jasa pelayanan untuk menyelesaikan. masalahnya,
Menyelenggarakanpelayan kedokteran keluarga yang bermutu sesuai dengan standar yang
ditetapkan.B. Memberikan pelayanan kedokteran berdasarkan etika moral dan spritual.
Memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang pengelolaan pelayanan kesehatan termasuk
sistem pembiayaan (Asuransi Kesehatan/JPKM).
3. MANAJEMEN PENGELOLAAN KLINIK DOKTER KELUARGA
A. Manajemen Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Berdasarkan Fakta (Evidence Based)
dalam Penyelesaian Masalah Kesehatan Individu Sebagai Komponen Keluarganya
Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambunagn, sistematis dan objektif
dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggrakan dibandingkan dengan standar yang
telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk memeperbaiki mutu pelayanan.
(Maltos and Keller, 1989). Karakteristik program menjaga mutu ada empat macam :
1) Program menjaga mutu harus dilakukan secara berkesinambungan. Artinya pelaksanaan program
menjaga mutu tidak hanya satu kali, tetapi harus terus menerus. Dalam kaitan perlunya memenuhi
sifat berkesinambungan, program menjaga mutu sering pula disebut dengan nama program
meningkatkan mutu berkelanjutan (continous quality improvement program).
2) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara simpatis. Artinya pelaksanaan program menjaga
mutu harus mengikuti alur kegiatan serta sasaran yang baku. Alur kegiatan yang dimaksud dimulai
dengan menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu, dilanjutkan dengan menetapkan dan
melaksanakan upaya penyelesaian masalah, untuk kemudian diakhiri dengan melakukan penilaian
serta menyusun saran-saran untuk tindak lanjut. Sedangkan sasaran yang dimaksud adalah semua
unsur pelayanan yakni lingkungan, masukan proses serta keluaran pelayanan.
3) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara objektif. Artinya pelaksanaan program menjaga
mutu, terutama pada waktu menetapkan masalah penyebab masalah dan penilaian, tidak
dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan lain. Kecuali atas dasar data yang ditemukan. Untuk
menjamin objektifitas, dipergunakanlah berbagai standar dan indikator.
4) Program menjaga mutu harus dilakukan secara terpadu. Artinya pelaksanaan program menjaga
mutu harus terpadu dengan pelayanan yang diselengarakan, bukanlah program menjaga mutu
yang baik. Karena adanya sifat terpadu ini. Program menjaga mutu disebut pula sebagai
manajamen mutu terpadu (total quality management).
Unsur program menjaga mutu banyak macamnya. Unsur-unsur yang dimaksud :
1) Mutu pelayanan. Mutu pelayanan yang dimaksud adalah menunjuk kepada tingkat kesempurnaan
pelayanan kesehatan yang diselenggrakan, yang di satu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada
setiap pasien sesuai dengan tinkat kepuasan rata-rata penduduk, serta di pihak lain tata cara
penyelengaraannya sesuai dengan kode etik dari standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
2) Sasaran program menjaga mutu. Untuk melaksanakan hal ini diperkukan empat hal :
a.Unsur masukan. Yang dimaksud adalah semua hal yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Yang termasuk dalam hal ini adalah tenaga pelaksana,
sarana dan dana.
b.Unsur lingkungan. Yang dimakud lingkungan adalah keadaan sekitar yang mempengaruhi
pelayanana kesehatan. Untuk satu saran pelayanan kesehatan yang terpenting adalah kebijakan
(policy), struktur organisasi (organization) serta sistem manajemen (management) yang
diterapkan.
c. Unsur proses. Yang dimaksud dengan unsur proses di sini adalah semua tindakan yang dilakukan
pada pelayanan kesehatan. Tindakan ini secara umum dapat dibedakan atas dua macam.
Pertama, tindakan medis (medical procedure) mulai dari anamesis sampai dengan pengobatan.
Kedua, tindakan non medis (non medical procedure) seperti tata cara rekam medis, persetujuan
tindakan medis, penerimaan dan perawatan pasien dan lain selanjutnya yang seperti ini.

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

d.Unsur keluaran. Yang dimaksud dengan unsur keluaran adalah yang menunjukan pada
penampilan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Penampilan pelyanan tersebut
dibedakan atas dua macam :
a) Penampilan aspek media (medical performance) seperti misalnya kesembuhan penyakit,
kecacatan dan atau kematian.
b) Penampilan aspek non medis (non mediacal performance) seperti misalnya kepuasan dan
keluhan pasien.
Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada buktibukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam
praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini
yang paling dapat dipercaya. (Sackett et al. 1996). Evidence based medicine (EBM) adalah proses yang
digunakan secara sistematik untuk menemukan, menelaah/me-rewew, dan memanfaatkan hasil-hasil
studi sebagai dasar dari pengambilan keputusan klinik. Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan
antara:
1.Best research evidence. Di sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah tersebut harus berasal
dari studi-studi yang dilakukan dengan metodologi yang sangat terpercaya (khususnya
randomized controlled trial), yang dilakukan secara benar. Studi yang dimaksud juga harus
menggunakan variabel-variabel penelitian yang dapat diukur dan dinilai secara obyektif (misalnya
tekanan darah, kadar Hb, dan kadar kolesterol), di samping memanfaatkan metode-meiode
pengukuran yang dapat menghindari risiko bias dari penulis atau peneliti.
2.Clinical expertise. Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu kemampuan klinik (clinical skills) yang
memadai. Di sini termasuk kemampuan untuk secara cepat mengidentifikasi kondisi pasien dan
memperkirakan diagnosis secara cepat dan tepat, termasuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko
yang menyertai serta memperkirakan kemungkinan manfaat dan risiko (risk and benefit) dari
bentuk intervensi yang akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai dengan
pengenalan secara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta harapan-harapan yang
tersirat dari pasien.
3.Patient values. Setiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama apapun tentu mempunyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan penyakitnya. Pasien juga tentu
mempunyai harapan-harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yang diterimanya. Hal ini
harus dipahami benar oleh seorang klinisi atau praktisi medik, agar setiap upaya pelayanan
kesehatan yang dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah juga
mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimiliki oleh pasien.
Mengingat bahwa EBM merupakan suatu cara pendekatan ilmiah yang digunakan untuk
pengambilan keputusan terapi, maka dasar-dasar ilmiah dari suatu penelitian juga perlu diuji
kebenarannya untuk mendapatkan hasil penelitian yang selain update, juga dapat digunakan sebagai
dasar untuk pengambilan keputusan. Syarat SDM dalam klinik dokter keluarga:
Dokter: 2
Bidan: 1
Asisten analis: 1 (honor)
Asisten apoteker: 1
Staf administrasi dan keuangan: 1
OB: 1

o
o
o

o
o
o

Peningkatan Kemampuan & Pengembangan Staf


Bentuk: Kursus, pelatihan, pendidikan formal,dll
Bentuk Lain: Selia Bestari (peer review) di antara sesama staf (medis dan non-medis)
Pengaturan: Bisa dibuat perjanjian tersendiri
Proses: berdasarkan permintaan karyawan atau kebutuhan KDK
Untuk tenaga medis
PKB (pendidikan kedokteran berkelanjutan) Seminar, Simposium, Lokakarya.
Peer Review: Pembahasan kasus secara EBM
Kursus singkat untuk satu ketrampilan tertentu (ATLS, ACLS, EKG, Kepemimpinan, dll)

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

o
o
o
o
o
o

o
o
o
o

Pendidikan formal (S2 Aktuaria, S2 Kesehatan Kerja, dll)


Untuk paramedis
Kursus keperawatan
Peer Review: Diskusi kelompok
membahas satu masalah (rutin)
Kursus Manajemen pengelolaan
keperawatan di klinik (asuhan keperawatan,dll)
Pendidikan formal seperti Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, dll
Untuk tenaga non-medis
Kursus penggunaan alat tertentu
Kursus Manajemen laboratorium,
Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Pendidikan Formal seperti Akademi Penata Rontgen, AKK, Kursus perpajakan

B. Manajemen klinik
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan oleh klinik dokter keluarga (family clinic). Pada bentuk
ini sarana yang menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga adalah suatu klinik yang didirikan
secara khusus yang disebut dengan nama klinik dokter keluarga (family clinic/center). Pada dasarnya
klinik dokter keluarga ini ada dua macam. Pertama, klinik keluarga mandiri (free-standing family clinic).
Kedua, merupakan bagian dari rumah sakit tetapi didirikan diluar komplek rumah sakit (satelite family
clinic). Di luar negeri klinik dokter keluarga satelit ini mulai banyak didirikan. Salah satu tujuannya
adalah untuk menopang pelayanan dan juga penghasilan rumah sakit.
Terlepas apakah klinik dokter keluarga tersebut adalah suatu klinik mandiri atau hanya
merupakan klinik satelit dari rumah sakit, lazimnya klinik dokter keluarga tersebut menjalin hubungan
kerja sama yang erat dengan rumah sakit. Pasien yang memerlukan pelayanan rawat inap akan
dirawat sendiri atau dirujuk ke rumah sakit kerja sama tersebut. Klinik dokter keluarga ini dapat
diselenggarakan secara sendiri (solo practice) atau bersama-sama dalam satu kelompok (group
practice). Dari dua bentuk klinik dokter keluarga ini, yang paling dianjurkan adalah klinik dokter
keluarga yang dikelola secara berkelompok. Biasanya merupakan gabungan dari 2 sampai 3 orang
dokter keluarga.
Pada klinik dokter keluarga berkelompok ini diterapkan suatu sistem manajernen yang sama.
Dalam arti para dokter yang tergabung dalam klinik dokter keluarga tersebut secara bersama-sama
membeli dan memakai alat-alat praktek yang sama. Untuk kemudian menyelenggarakan pelayanan
dokter keluarga yang dikelola oleh satu sistem manajemen keuangan, manajemen personalia serta
manajemen sistem informasi yang sama pula. Jika bentuk praktek berkelompok ini yang dipilih, akan
diperoleh beberapa keuntungan sebagai berikut (Clark, 1971) :
a. Pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih bermutu Penyebab utamanya adalah
karena pada klinik dokter keluarga yang dikelola secara kelompok, para dokter keluarga yang terlibat
akan dapat saling tukar menukar pengalaman, pengetahuan dan keterampilan. Di samping itu,
karena waktu praktek dapat diatur, para dokter mempunyai cukup waktu pula untuk menambah
pengetahuan dan keterampilan. Kesemuannya ini, ditambah dengan adanya kerjasama tim (team
work) disatu pihak, serta lancarnya hubungan dokter-pasien di pihak lain, menyebabkan pelayanan
dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih bermutu.
b. Pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan akan lebih terjangkau Penyebab utamanya adalah
karena pada klinik dokter keluarga yang dikelola secara berkelompok, pembelian serta pemakaian
pelbagai peralatan medis dan non medis dapat dilakukan bersama-sama (cost sharing). Lebih dari
pada itu, karena pendapatan dikelola bersama, menyebabkan penghasilan dokter akan lebih
terjamin. Keadaan yang seperti ini akan mengurangi kecenderungan penyelenggara pelayanan yang
berlebihan. Kesemuanya ini apabila berhasil dilaksanakan, pada gilirannya akan menghasilkan
pelayanan dokter keluarga yang lebih terjangkau.
1. Ruang tunggu :
Bersih
Terang

Ventilasi baik
Lantai tidak licin
Tidak berbau

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

Tidak bising
Suhu nyaman
Terpisah dari pasien infeksius
1.Kerahasiaan dan privasi
Ruang konsultai terpisah dari ruang tunggu
Sistem yang menjamin kerahasiaan medik
Menjamin
kerahasiaan
pasien
setelah
pelayanan
2.Bangunan dan interior
Merupakan bangunan permanen atau semi
permanen yang dirancang sesuai pelayanan
medis strata pertama yang aman dan
terjangkau
Memiliki ruang :
o Ruang administrasi
o Ruang tunggu
o Ruang pemeriksaan
o Kamar kecil
o Dapat melindungi dari panas dan hujan
o Relatif mudah diberishkan
o Mempunyai ventilasi cukup atau ber ac
o Mempunyai sinar yang cukup
3.Alat komunikasi
Memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan
masyarakat sekitar
4.Papan nama
Poisis papan nama mudah dibaca
Tidak ada hiasan maupun lampu warna
Ukuran
minimal
40x60cm
maksimal
60x90cm
Warna dasar putih dengan huruf balok warna
hitam
Memuat nama dokter,sip,alamat praktek
,dan jadwal praktek.
5.Peralatan klinik
Memiliki alat alat pemeriksaan fisik sebagai
berikut :
o Alat tes sensasi kulit
o Auriskop
o Lampu senter dan kepala
o Palu refleks
o Peak flow meter
o Ophtalmoscop
o Penekan lidah
o Pengukur tinggi badan
o Snellen chart
o Spekulum vagina
o Stetoskop

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Tensimeter
Termometer
Timbangan badan
Memiliki alat laboratorium
Alat monitoring gula darah
Alat pengukur kadar hemoglobin
Alat pemulas sediaan gram
Alat pemulas sediaan basah
Gelas obyek dan penutup
Mikroskop

o
o
o
o
o
o
o
o
o

Memiliki alat tidanakan sebagai berikut


Bak instrumen mental
Benang otot dan sutra
Forsep hemostatik
Gunting perban
Jarum kulit
Jarum suntik
Kapas,perban,plester
Minor set
Peralatan resusitasi

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Tas dokter untuk perawatan rumah


Alat penekan lidah forsep hemostat
Jarum suntik
Kapas dan alkohol
Lampu senter
Obat2an
Pali refleks
Spuit
Stetoskop
Tensimeter
Termometer
Peralatan luka
Kasa
Antiseptik
Larutan irigasi
Perangkat intravena
Kateter

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Persediaan obat
Adrenalin
Kortokosteroid
Antihistamin
Analgetik
Anti asma
Anti konvulsan
Cairan infus
Parasetamol
Nsaid
Obat luka
Anti konvulsan

Sausan Rasmiyyah
110.2011.255
Blok Kedokteran Keluarga // FK YARSI 2011

o Spasmolitik
o Anestesi lokal

o Metode kontrasepsi

10

C. Manajemen keuangan
Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan bersifat
transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan praupaya maupun sistem
pembiayaan fee for service.

4. PROSEDUR PEMERIKSAAN STANDAR DALAM KEDOKTERAN KELUARGA


1. Standar Pelayanan Paripurna (standard of comprehensive of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata pertama untuk
semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus (preventive and
spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan kecacatan (disability limitation)
dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai
dengan mediko legal etika kedokteran.
a. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan kedokteran keluarga
yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan diselenggarakan oleh dokter yang sesuai
dengan standar profesi dokter keluarga serta memiliki surat ijin pelayanan dokter keluarga dan
surat persetujuan tempat praktik.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan kesehatan dan
peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
c. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan dalam
menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan keluarganya.
d. Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala kesempatan dalam
melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan penatalaksanaan yang tepat untuk itu.
e. Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan kesehatan dan
pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama, termasuk kegawatdaruratan
medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan / atau dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan
dengan strata yang lebih tinggi.
f. Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala kesempatan rehabilitasi
pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami masalah kesehatan atau kematian baik
dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
g. Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial pasien dan
keluarganya.
h. Etik medikolegal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal dan etik kedokteran.
2. Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan medis yang melaksanakan
pelayanan kedokteran secara lege artis.
a. Anamnesis

Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien (patientcentered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien, kekhawatiran dan harapan
pasien mengenai keluhannya tersebut, serta memperoleh keterangan untuk dapat menegakkan
diagnosis
b. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau menyingkirkan
diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik secara holistik; dan bila perlu
menganjurkan pemeriksaan penunjang secara rasional, efektif dan efisien demi kepentingan
pasien semata.
c. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa diagnosis
banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.
d. Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis pasien berdasarkan
jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini (evidence based).
e. Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik penatalaksanaan untuk
dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan kepedulian terhadap perasaan dan
persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di saat itu.
f. Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain yang dianggap
lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan kepada dokter keluarga lain,
dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau dinas kesehatan, demi kepentingan pasien
semata.
g. Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain yang dianggap
lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan kepada dokter keluarga lain,
dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah sakit atau dinas kesehatan, demi kepentingan
pasien semata.
h. Tindak lanjut
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat dilaksanakan tindak
lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di tempat pasien.
i. Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang rasional pada
pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama, dan demi kepentingan
pasien.
j. Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan rasional, berdasarkan
tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi kepentingan pasien.
k. Pembinaan keluarga
Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik, bila adanya
partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan keluarga, termasuk konseling
keluarga.
3. Standar Pelayanan Menyeluruh (standard of holistic of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli bahwa pasien
adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan spiritual, serta
berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
a. Pasien adalah manusia seutuhnya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai manusia yang
seutuhnya.
b. Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memandang pasien sebagai bagian dari keluarga
pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi kesehatan pasien.
1) Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar kehidupan pasien untuk
meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan keluarganya.
4. Standar Pelayanan Terpadu (standard of integration of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan antara
dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas

program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan kedokteran, baik dari formal maupun
informal.
a. Koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam penatalaksanaan pasien yang
diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasien-keluarga, maupun bersama antar
dokter pasien - dokter spesialis / rumah sakit.
b. Mitra dokter pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan pasien pada saat
proses penatalaksanaan medis.
c. Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan dengan berbagai
sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.
d. Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga mempedulikan dan memperhatikan kebutuhan dan perilaku pasien dan
keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan berbagai pelayanan kesehatan nonformal di
sekitarnya.
5. Standar Pelayanan Bersinambung (standard of continuum care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus menerus demi
kesehatan pasien.
a. Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
b. Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang, digunakan untuk
memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai untuk pasien yang bersangkutan.
c. Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif dan efisien bagi pasien,
menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
d. Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan / atau rujukan, pelayanan dokter keluarga menawarkan
kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi kepentingan pasien.
5. PERAN DOKTER DENGAN MITRA KERJA DAN PELAYANAN KESEHATAN
Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)
Pada dasarnya sistem perlayanan dokter keluarga (selanjutnya digunakan SPDK), haruslah
menerapkan ketiga tahapan pelayanan medis sesempurna mungkin. Komponen sistem, yang sekarang
biasa disebut sebagai pemegang saham (stakeholders), paling tidak terdiri atas:
1. DPU/DK (Sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Primer)
2. DSp (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Sekunder)
3. DSpK (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Tersier)
4. Dokter gigi
5. Pihak pendana (Asuransi Kesehatan, Pemerintah, dsb.)
6. Regulasi (perundangan, Sistem Kesehatan Nasional, dsb.)
7. Pasien (dengan keluarga dan masyarakatnya)
8. Farmasi (profesional dan pengusaha)
9. Staf klinik selain dokter (Bidan, perawat, dsb)
10. Karyawan non-medis
11. Dsb.
Mereka harus bekerjasama secara mutualistis mewujudkan pelayanan kesehatan yang
bermutu. Semua pemegang saham mempunyai andil, hak dan kewajiban yang sama dalam
mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan yang
bermutu adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi pasien, tidak melanggar aturan atau
perundangan maupun etika profesi, dan menjamin kesejahteraan bagi penyelenggaranya. Jika salah
satu komponen sistem merusak tatanan, menyalahi aturan main agar memperoleh keuntungan bagi
dirinya, maka akibat negatifnya akan dirasakan oleh seluruh komponen sistem termasuk, pada
akhirnya, yang menyalahi aturan itu. Oleh karena itu diperlukan kerjasama profesional yang
mutualistis di antara anggota sistem.
Dengan kata lain, dalam sistem pelayanan dokter keluarga pelayanan diselenggarakan oleh
tim kesehatan yang bahu-membahu mewujudkan pelayanan yang berumutu. Setiap komponen
sistem mempunyai tugas masing-masng dan harus dikerjakan sungguh-sungguh sesuai dengan

tatanan yang berlaku. Bidan dan perawat membantu dokter di klinik misalnya, memberikan obat
kepada pasien d ibawah tanggung-jawab dokter. Jadi bidan dan perawat tidak memberikan obat tanpa
persetujuan dokter. Sebaliknya dokter harus memberikan perintah tertulis di dalam rekam medis untuk
setiap pemberian obat. Bidan dan perawat dibenarkan mengingatkan dokter jika perintah pemberian
obat itu tidak jelas atau belum dicantumkan. Demikian pula dokter keluiarga yang sebenarnya dokter
praktik umum dibenarkan mengingatkan dan diharuskan bertanya langsung kepada dokter spesialis
yang dikonsuli atau dirujuki jika ada hal yang kurang jelas atau berbeda pendapat. Demikianpula
komponen system yang lain termasuk masyarakat pasien dibenarkan dan bahkan diharuskan saling
kontrol saling mengingatkan agat tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman sejawatnya di
lakukan dalam berbagai hal seperti :
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas pelayanan, dokter
yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman sejawat lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, ras, usia,
kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi yang dapat merugikan hubungan
profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti serta
mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif dengan dokter pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan kedokteran harus mematuhi
tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan spesialis, mahasiswa
kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang merawat, harus disesuaikan
dengan kompetensi dalam melaksanakan prosedur dan terapi yang sesuai dengan peraturan baru.
Komunikasi Dokter-Profesi Lain
1. Kolaborasi
Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung jawab paling besar
untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang respektif mereka.
Elemen-elemen Kolaborasi
1. Struktur
2. Proses
3. Hasil Akhir
Model Kolaboratif Tipe I
1. Menekankan Komunikasi Dua Arah
2. Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3. Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien
Model Kolaboratif Tipe II
1. Lebih berpusat pada Pasien
2. Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3. Ada kerja sama dengan Pasien
4. Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup lama dikenal
ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perspektif yang berbeda dalam memandang pasien,
dalam prakteknya menyebabkan munculnya hambatan-hambatan teknik dalam melakukan proses
kolaborasi. Kendala psikologis keilmuan dan individual, factor sosial, serta budaya menempatkan
kedua profesi ini memunculkan kebutuhan akan upaya kolaborasi yang dapat menjadikan
keduanya lebih solid dengan semangat kepentingan pasien.
Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat profesional dan
institusional. Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi sumber utama ketidaksesuaian yang
membatasi pendirian profesional dalam aplikasi kolaborasi. Dokter cenderung pria, dari tingkat
ekonomi lebih tinggi dan biasanya fisik lebih besar dibanding perawat, sehingga iklim dan kondisi
sosial masih medukung dominasi dokter. Inti sesungguhnya dari konflik perawat dan dokter

terletak pada perbedaan sikap profesional mereka terhadap pasien dan cara berkomunikasi
diantara keduanya.
Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat klinik bekerja dengan
dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek profesional keperawatan,
dengan pengawasan dan supervisi sebagai pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau
mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu negara dimana pelayanan diberikan. Perawat
dan dokter merencanakan dan mempraktekan bersama sebagai kolega, bekerja saling
ketergantungan dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagi nilai-nilai dan pengetahuan
serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap perawatan individu, keluarga dan
masyarakat.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan untuk mencapai
tujuan kolaborasi team :
a) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian unik
profesional.
b) Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
c) Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
d) Meningkatnya kohesifitas antar profesional
e) Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
f) Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang lain
Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh faktor-faktor
a) Faktor interaksi ( interactional determinants), yaitu hubungan interpersonal diantara anggota
tim yang terdiri dari kemauan untuk berkolaborasi, percaya, saling menghargai dan
berkomunikasi .
b) Faktor Organisasi ( organizational determinants) yaitu kondisi di dalam organisasi tersebut yang
terdiri dari:
1. Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih berhasil daripada struktur
hierarkis);
2. Organizations philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran, kebebasan berekspresi, saling
ketergantungan, integritas dan sikap saling percaya;
3. administrative support ( kepemimpinan);
4. team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan berinteraksi, membagi lingkup praktek
dengan profesional lain, bekerja dalam suatu unit yang kecil) ;
5. coordination mechanism ( pertemuan formal untuk diskusi, standarisasi prosedur dalam
bekerja ).
c) Faktor lingkungan organisasi( organizations environment/ systemic determinants) yaitu elemen
diluar organisasi, seperti sistem sosial, budaya, pendidikan dan profesional.
2. Pendekatan Praktik Hirarkis
Menekankan Komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
Dokter merupakan Tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD
Sebelum ada model Kolaborasi, hubungan yang ada adalah Model
PRAKTIK HIRARKIS.
Praktik Hirarkis merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan sebelum
profesi perawat semakin berkembang.
Selanjutnya dikenal ada 2 (dua) model Kolaborasi yang lain (Model 1 dan
Pendekatan Praktik Hirarkis
menekankan komunikasi satu arah.
kontak dokter dengan pasien terbatas.
dokter merupakan tokoh yang dominan.
cocok untuk ditetapkan di keadaan tertentu , seperti: IGD
pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktek dokter di Indonesia
Komunikasi Dokter-Apoteker
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dokter perlu mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab
profesi apoteker dalam pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dapat dilakukan di berbagai tempat
seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Apotek, dll. Adanya pemahaman masing-masing pada
profesi mitra kerjanya akan memudahkan terjadinya komunikasi yang baik antar profesi
Empat unsur Pelayanan Farmasi
Pelayanan Farmasi yang baik.

Pelayanan profesi apoteker dalam penggunaan obat.


Praktik dispensing yang baik.
Pelayanan profesional apoteker yg proaktif dalam berbagai kegiatan yg bertujuan untuk meningkatkan
mutu pelayanan kepada pasien.
6. HUKUM ASURANSI DALAM ISLAM
Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus
suun(pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik muslim
maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara wajib di tanggung
oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta) dalam pembiayaan kesehatan
bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw Bersabda :
Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya ( HR al-Bukhari).
Tidak terpenuhinya atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan mendatangkan dharar bagi
masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan layanan kesehatan menjadi tanggung jawab dan
kewajiban negara (Khilafah). Khilafah wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium
medis, apotik , pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran , apoteker, perawat,
bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana
kesehatan dan pengobatan lainnya.
Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah.
Juga harus memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan yaitu wajib memenuhi 3 (tiga) prinsip
baku yang berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem Islam: pertama,
sederhana dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam pelayanan. Ketiga, profesional
dalam pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten dan amanah
Sejarah Asuransi Syariah
Pada jaman Nabi Muhammad SAW, konsep asuransi syariah sudah dikenal dengan sebutan AlAqila. Saat itu suku arab terdiri atas berbagai suku besar dan suku kecil. Sebagaimana kita ketahui,
Rasulullah adalah keturunan suku Qurais, salah satu suku yang terbesar. Menurut dictionary of
islam, yang ditulis Thomas Patrick, jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh oleh anggota
suku lainnya, sebagai kompensasi, keluarga terdekat dari si pembunuh akan membayar sejumlah
uang, darah atau diyat kepada pewaris Qurban.
Alaql adalah denda, sedangkan makna alaqil adalah orang yang menbayar denda. Beberapa
ketentuan system Aqilah yang merupakan bagian dari asuransi social ditungkan oleh Nabi
Muhammad SAW dalam piagam madina yang merupakan konstitusi pertama setelah Nabi hijrah ke
madina. Dalam pasal 3 Konstitusi madina, Rasullulah membuat ketentuan mengenai penyelamatan
jiwa para tawanan. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa jika tawanan tertahan oleh musuh
karena perang, pihak tawanan harus membayar tebusan pada musuh untuk membebaskannya
Konsep dasar asuransi syariah adalah tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (al
birri wat taqwa). Konsep tersebut sebagai landasan yang diterapkan dalam setiap perjanjian
transaksi bisnis dalam wujud tolong menolong (akad takafuli) yang menjadikan semua peserta
sebagai keluarga besar yang saling menanggung satu sama lain di dalam menghadapi resiko, yang
kita kenal sebagai sharing of risk, sebagaimana firman Allah SWT yang memerintahkan kepada kita
untuk taawun (tolong menolong) yang berbentuk al birri wat taqwa (kebaikan dan ketakwaan) dan
melarang taawun dalam bentuk al itsmi wal udwan (dosa dan permusuhan).
Asuransi Syariah (Takaful)
1) Arti Kata Takaful
Secara bahasa, takaful ( ) berasal dari akar kata ( ) yang artinya menolong,
memberi nafkah dan mengambil alih perkara seseorang. Dalam Al-Qur'an tidak dijumpai kata
takaful, namun ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti dalam :
QS. Thoha/ 20 : 40

"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun):
'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?"
QS. Annisa/ 04 : 85 :

"Dan barangsiapa yang memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian
(dosa) daripadanya.."

Asuransi Syariah (Ta'min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan
tolong menolong diantara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan /
atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui
akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan),
maysir (perjudian), riba, dzulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.
2) Cikal Bakal Asuransi Syariah
a. Al-Aqila ( )
Yaitu saling memikul atau bertanggung jawab untuk keluarganya. Jika salah satu anggota
suku terbunuh oleh anggota suku yang lain, pewaris korban akan dibayar dengan uang
darah (diyat) sebagai konpensasi saudara terdekat dari terbunuh. Saudara terdekat dari
pembunuh disebut aqilah. Lalu mereka mengumpulkan dana (al-kanzu) yang diperuntukkan
membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak sengaja.
b. Al-Muwalah ( )
Yaitu perjanjian jaminan. Penjamin menjamin seseroang yang tidak memiliki waris dan tidak
diketahui ahli warisnya. Penjamin setuju untuk menanggung bayaran dia, jika orang yang
dijamin tersebut melakukan jinayah. Apabila orang yang dijamin meninggal, maka penjamin
boleh mewarisi hartanya sepanjang tidak ada ahli warisnya.
Penyelenggaraan kesehatan dalam pandangan Islam termasuk pengertian riayatus
suun(pelayanan umum) yang wajib dilakukan oleh negara atas seluruh rakyatnya, baik muslim
maupun non muslim, kaya ataupun miskin. Seluruh biaya yang diperlukan secara wajib di tanggung
oleh Baitul Mal (kas negara). Adapun peran non-pemerintah (swasta) dalam pembiayaan kesehatan
bukanlah hal yang utama.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw Bersabda:
Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya ( HR al-Bukhari).

Dalam asuransi konvensional, asuransi merupakan transfer of risk yaitu pemindahan risiko dari
peserta/tertanggung ke perusahaan/penanggung sehingga terjadi pula transfer of fund yaitu
pemindahan dana dari tertanggung kepada penanggung. Sebagai konsekwensi maka kepemilikan
dana pun berpindah, dana peserta menjadi milik perusahaan ausransi.
Beberapa perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, di antaranya adalah
sebagai berikut:

Akad (Perjanjian)
Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya harus jelas
secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya kegiatan bisnis tersebut
saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah menjadi dasar yang
menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara syariah. Hal tersebut
menjadi sangat menentukan di dalam praktek asuransi syariah. Akad antara perusahaan
dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli) atau tolong menolong
(takaful).
Akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual beli.
Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli, harga,
dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang diterapkan
dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya penjual, pembeli dan
barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak dapat dijelaskan secara
kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta asuransi utnuk
mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Karena hanya Allah yang tahu kapan kita
meninggal. Perusahaan akan membayarkan uang pertanggunggan sesuai dengan
perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan disetorkan oleh peserta tidak jelas
tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia maka perusahaan akan untung namun
apabila peserta baru sekali membayar ditakdirkan meninggal maka perusahaan akan rugi.
Dengan demikian menurut pandangan syariah terjadi cacat karena ketidakjelasan (gharar)
dalam hal berapa besar yang akan dibayarkan oleh pemegang polis (pada produk saving)
atau berapa besar yang akan diterima pemegang polis (pada produk non-saving).

Gharar (Ketidakjelasan)
Definisi gharar menurut Madzhab Syafii adalah apa-apa yang akibatnya tersembunyi

dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti.


Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak adanya
batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung, sementara kita
sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika baru sekali seorang
tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan akan rugi sementara
pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung dipanjangkan usianya,
perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara financial. Dengan kata lain
kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama masing-masing pihak menjalankan
transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu pembayaran dan jumlah pembayaran
mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun akad, yang kita kenal sebagai gharar. Para
ulama berpendapat bahwa perjanjian jual beli/akad tadabuli tersebut cacat secara hukum.
Pada asuransi syariah akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat tolongmenolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah. Mekanisme
ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari larangan Allah
dalam praktik muamalah yang gharar.
Pada akad asuransi konvensional dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi
(transfer of fund). Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul adalah milik
peserta (shahibul mal) dan perusahaan asuransi syariah (mudharib) tidak bisa mengklaim
menjadi milik perusahaan.
Tabarru dan Tabungan
Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya sumbangan atau
derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan). Niat bertabbaru
bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling membantu satu
sama lain sesama peserta asuransi syariah, ketika di antaranya ada yang mendapat
musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening khusus. Apabila ada yang
tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening tabarru yang sudah
diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.
Menyisihkan harta untuk tujuan membantu orang yang terkena musibah sangat dianjurkan
dalam agama Islam, dan akan mendapat balasan yang sangat besar di hadapan Allah,
sebagaimana digambarkan dalam hadist Nabi SAW,"Barang siapa memenuhi hajat
saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya."(HR Bukhari Muslim dan Abu Daud).
Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang
dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula unsur
dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan. Sementara
investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru karena tidak ada
unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta sesuai dengan akad awal.
Jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan beserta hasilnya akan dikembalikan
kepada peserta secara penuh.
Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam asuransi konvensional terdapat unsur
gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama dengan al
maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam asuransi konvensional
karena adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa. Apabila pemegang polis
asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis asuransinya dan telah
membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima sejumlah uang tertentu.
Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana cara perusahaan asuransi
konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang karena
keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil risiko oleh perusahaan
yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan, tetapi apabila pemegang polis
mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang boleh disebut judi jika perusahaan
asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim yang dibayar. Sebab keuntungan
perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh banyak /sedikitnya klaim yang
dibayarkannya.

Riba
Dalam hal riba, semua asuransi konvensional menginvestasikan dananya dengan bunga,
yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat
perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi asuransi konvensional mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi wajib
dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki likuiditas
yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan Keputusan

Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi


dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur dalam peraturan
pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.
Asuransi syariah menyimpan dananya di bnak yang berdasarkan syariat Islam dengan
sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas petunjuk
Dewan Pengawas Syariah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imron ayat 130,"Hai orangorang yang beriman janganlah kamu memakan riba yang memang riba itu bersifat berlipat
ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan." Hadist,
"Rasulullah mengutuk pemakaian riba, pemberi makan riba, penulisnya dan saksinya
seraya bersabda kepada mereka semua sama."(HR Muslim)

Dana Hangus
Ketidakadilan yang terjadi pada asuransi konvensional ketika seorang peserta karena suatu
sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period. Sementara ia
telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah uang premi. Karena
kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut menjadi hangus. Demikian
juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika habis masa kontrak dan tidak
terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus dan menjadi milik perusahaan.
Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh asuransi konvensional akan menimbulkan
ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka yang tidak mampu
melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana untuk melanjutkan,
sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan hangus. Kondisi ini
mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang kita saling menzalimi, laa
dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan dirugikan).
Asuransi syariah dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai tunai telah
diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru masuk karena satu dan lain
hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya dimasukkan dapat diambil kembali kecuali
sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai dana tabarru (dana kebajikan). Hal yang sama berlaku pula
pada asuransi kerugian. Jika selama dan selesai masa kontrak tidak terjadi klaim, maka asuransi
syariah akan membagikan sebagian dana/premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30
sesuai kesepakatan si awal perjanjian (akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal tahun masih
dapat dikembalikan sebagian ke peserta (tidak hangus). Jumlahnya sangat tergantung dari hasil
investasinya.
7. ADAB DAN TATA CARA DOKTER MUSLIM DALAM MEMERIKSA PASIEN
A. Konsep Dokter Muslim
Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri, sehingga teladan yang paling
utama adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apapun profesi dan jabatan seorang muslim.
Akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab Rasulullah
shalallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagai teladan yang sempurna dan akhlak Beliau disarikan dari
Al-Quran itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang muslim.
Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai tujuan hidup: Hasanah fiddunya dan hasanah fil-akhirah. Ia semata-mata mengabdi kepada Allah (QS. Al-Anam: 112) dengan
menjauhi segala larangan (QS. Al Imran: 110) dan mematuhi semua perintah Allah, rasul-Nya dan
Ulil Amri. Seorang dokter muslim juga harus mampu mengobati penyakit jasmani, rohani, sosial
serta gangguan pada iman dan Islam pasiennya
Etika/adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-Sibai dan
Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih
Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan
profesi, menjernihkan nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah
dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan mawas diri.
Seorang dokter muslim harus mampu mengadakan pendekatan kepada masyarakat. Pasien
yang sakit adalah mahluk sosial yang merupakan bagian dari suatu komunitas yang sakit. Oleh
karenanya, seorang dokter muslim tidak boleh hanya melihat seseorang penderita secara mikro
(individual), melainkan juga harus melihatnya dalam skala makro (ingat konsep biopsikososiokultural
dan relegius)
Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa mengobati orang sakit
karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi nilainya. Dengan demikian, ia telah melaksanakan
dakwah Islam, bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya.

Dokter hanya dapat mengenali jenis penyakit dan menuliskan resep, namun hanya Allah jualah yang
menyembuhkan. Seorang dokter muslim menghilangkan anggapan bahwa dialah yang men
yembuhkan pasiennya.
Dengan demikian, seorang dokter muslim harus menyadari bahwa ia adalah khalifah Allah
dalam pengobatan yang senantiasa berlaku sopan kepada semua pasiennya dan selalu mendoakan
agar Allah memberikan kesembuhan kepada pasien yang ditanganinya.
Meskipun sudah banyak penulis, alim maupun pakar kedokteran muslim menyampaikan
karakteristik atau ciri dokter muslim, namun sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai
rumusan tertulis dokter muslim yang disetujui oleh segenap persatuan dokter muslim baik ditingkat
nasional, regional maupun internasional. Menurut Majid Ramadhan (2004) dalam bukunya
Karakteristik Dokter Muslim, ciri dokter yang diharapkan dapat menanggung amanat juga
kekahalifahan adalah :
1 Aqidahnya benar
2 Ikhlas dan tekun dalam kerjanya
3 Maksimal dalam spesialisasi profesinya
4 Jujur dalam perkataan dan perbuatan
5 Punya komitment untuk selalu dapat bermanfaat bagi manusia
6 Pemalu, jujur dan menjaga rahasia
7 Peka dan penyanyang
8 Ikut merasakan rasa sakit pasien (empati) dan membangun optimisme pada pasien
9 Rendah hati, tidak sombong dan ramah
10 Tidak melebih-lebihkan ongkos dan meringankan yang kesulitan
11 Berpenampilan indah
12 Menasehati pasiennya, dengan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Sifat-sifat atau karakter dokter muslim seperti tersebut di atas juga banyak ditulis oleh ahli lain,
antara lain seperti yang dinyatakan oleh Zuhair Ahmad Assi Bai dalam buku Dokter-dokter,
Bagaimana Ahlakmu (Gema Insani Press) atau juga oleh Sahid Athar dalama buku Islam dan Etika
Kedokteran (PSKI UMY).

B. Kepentingan Adab dalam Menjalankan Profesi Dokter


Adab amat penting dalam kehidupan manusia. Islam amat menuntut umatnya agar sentiasa
mempunyai adab-adab yang baik. Islam sebagai agama yang lengkap menggariskan berbagai adab
dalam pelbagai kegiatan harian. Dalam perkembangan berkaitan, Dr. Haji Abdullah Siddik (1980)
telah mengaitkan adab sebagai satu dasar Ahkam al-Syariati yaitu salah satu garis panduan yang
sangat penting dalam kehidupan manusia. Menurut beliau Ahkam al-Syariati ialah tata tertib yang
mesti dilakukan oleh umat manusia selama hidup di dunia, satu undang-undang Allah untuk umat
manusia, yang sempurna, yang praktis, yang dapat dipakai untuk segala zaman dan yang dapat
dilakukan oleh manusia sesuai dengan kemampuan dan keperluannya dalam masalah hidup.
Pada dasarnya, manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah ibarat kain putih yang belum
dipolakan. Adab-adab yang telah digariskan dengan dengan terperinci oleh Islam akan menjadi
panduan kepada ibu bapa, guru, pemimpin, masyarakat dan individu itu sendiri, termasuk seorang

dokter dalam mempolakan warna hidup seseorang insan. Adab memainkan peranan penting dalam
menilai buruk dan baik budi seseorang. Sebagai seorang muslim, kita dituntut supaya menuruti
adab-adab yang mulia yang telah dianjurkan oleh ajaran Islam. Semua ini adalah bertujuan agar kita
menjadi insan yang akan mendapat ganjaran baik di dunia dan di akhirat.
Adab-adab yang digariskan oleh Islam termasuklah yang meliputi kehidupan harian, seperti
adab berpakaian, adab ke masjid, adab ketika makan, dan sebagainya, maupun adab dalam
menjalankan pekerjaan/profesinya, misal adab dokter terhadap pasien dan lingkungannya.
Pendek kata adab-adab yang digariskan adalah lengkap dan meliputi keseluruhan aktivitis dan
kegiatan harian seseorang individu muslim. Dalam hal ini, dari segi konsepnya termasuklah adabadab yang bersangkutan dengan kegiatan profesi seorang dokter (dan) muslim. Dokter muslim yang
diinginkan Islam adalah dokter yang mampu memberikan keteladanan, unik dan berbeda dari yang
lain, tercermin di dalamnya moral, akhlak maupun adab yang Islami. Dokter yang mampu mencapai
pada tingkatan tinggi dari ahlak yang mulia dan mampu menterjemahkan ke dalam kehidupan riil
dalam bentuk adab dokter adalah merupakan prestasi peradaban yang terbesar.