Anda di halaman 1dari 49

Laporan Praktikum Chondrichthyes

A.

Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat


mengetahui jenis ikan yang tergolong Chondrichthyes dan mengetahui susunan
morfologi dan anatominya.
B.

Dasar Teori

Ikan hiu dan ikan pari terbesar adalah para pemakan-suspensi yang memangsa
plankton. Namun demikian sebagian besar hiu adalah karnivora yang menelan
mangsanya secara utuh atau menggunakan rahang dan geliginya yang sangat
tajam untuk menyobek daging dari hewan yang terlalu besar untuk ditelan
sekaligus. Geligi hiu kemungkinan berkembang dari sisik yang bergerigi yang
menutupi kulit kasarnya (Campbell, 1999).
Vertebrata kelas Chondrichthyes, hiu dan kerabatnya disebut ikan bertulang rawan
karena mereka memiliki endoskeleton yang relatif lentur yang terbuat dari tulang
rawan bukan tulang keras. Rahang dan sirip berpasangan berkembang dengan baik
pada ikan bertulang rawan. Subkelas yang paling besar dan paling beraneka ragam
terdiri dari hiu dan ikan pari. Subkelas kedua terdiri atas beberapa lusin spesies ikan
tidak umum yang disebut chimaera atau ratfish. Chondrichthyes memiliki kerangka
bertulang rawan dan kerangka bertulang rawan yang merupakan karakteristik kelas
itu berkembang setelahnya (Campbell, 1999).
Chondrichthyes menunjukkan suatu perkembangan kemajuan bila dibandingkan
dengan cyclostomata dalam hal, adanya sisik yang meliputi tubuh, terdapat
sepasang pida lateralis, adanya geraham yang dapat digerakkan bersendi pada
tulang cranium, memiliki gigi yang dilapisi email pada rahang, terdapat tiga bagian
saluran setengah lingkaran pada alat , sepasang alat reproduksi dan saluransalurannya (Maskoeri, 1999).
Gigi ikan hiu berkembang baik yang membuatnya ditakuti organisme lain. Insang
merupakan ciri sistem pernafasan pada ikan. Secara embriologis, celah insang
tumbuh sebagai hasil dari serentetan evaginasi faring yang tumbuh keluar dan
bertemu dengan invaginasi dari luar. Terdapat variasi perlengkapan insang pada
berbagai ikan. Ikan hiu memiliki 5-7 pasang celah insang ditambah pasangan celah
anterior non respirasi yang disebut spirakel. Hemibrankhia dipisahkan satu dengan
lain oleh septum interbrankia yang tersusun dari lengkung kartilago. Masing-masing
septa brankhialis ini menutup bagian yang terbuka dari insang berikutnya kearah
posterior (Rudiyanto, 2011).
Ikan hiu ataupun ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur
yang mirip paru-paru. Sistem ekskresi ikan seperti juga vertebrata lain yang

mempunyai banyak fungsi antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga
keseimbangan garam dan mengeliminasi sisa nitrogen hasil dari metabolism
protein. Untuk itu berkembang tiga tipe ginjal yaitu pronefros, mesonefros dan
metanefros. Pada ikan hiu fungsi duktus gonad dan ginjal telah berkembang
dilengkapi dengan duktus urinaria. Ginjal ikan harus berperan besar untuk menjaga
keseimbangan garam tubuh (Rudiyanto, 2011).
Beberapa ikan hiu, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat
beracun. Sebahagian besar racun itu sendiri adalah toksin berasaskan protein yang
menyebabkan kesakitan pada mamalia dan biasa juga mengubah kadar degupan
jantung dan pernafasan. Ada beberapa ikan hiu yang mempunyai organ luminesen.
Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari
berbagai substrat dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya disebut lusiferin
dan enzim yang sangat sensitive sebagai katalisator oksidasi disebut lusiferase.
Organ luminesen (organ yang mampu menghasilkan sinar) ditemukan pada
beberapa ikan hiu, ikan pari berlistrik (Benthobatis moresbyi) dan beberapa ikan
tulang keras khususnya yang tinggal di laut dalam (Rudiyanto, 2011).

C.

Metode Praktikum

Adapun alat dan bahan dalam praktikum ini adalah:


1.

Alat dan Bahan

a.

Alat

Adapun alat yang digunakan adalah: papan seksi, pisau kater, jarum pentul, lup.
b.

Bahan

Adapun bahan yang digunakan adalah: ikan hiu (Carcharias menissorah), ikan pari
(Trygon sephen), tissue.
2.

Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah:


Hari/tanggal : Rabu/ 09 Januari 2013
Waktu

: 13.00-15.00 WITA

Tempat

: Laboraturium Zoologi lantai II


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Samata-Gowa

3.
a.
1.

Langkah Kerja
Pengamatan bentuk luar (Morfologi)
Meletakkan ikan yang telah mati pada papan seksi.

2.
Mengamati bentuk luar/ morfologi ikan yang meliputi: celah mulut, insang,
sirip dada, sirip perut, sirip punggung, sirip anus, bentuk sisik, gurat sisi serta
bagian ekor.
3.

Membuat gambar struktur morfologi ikan beserta penjelasan.

b.

Pengamatan organ bagian dalam (Anatomi)

1.
Membuat torehan di bagian sebelah belakang anus ke arah punggung dengan
scalpel sampai menyentuh tulang belakang.
2.
Memotong dengan menggunakan gunting mulai dari anus ke arah kepala
sampai ke dekat insang.
3.
Melanjutkan pemotongan kearah punggung lewat pangkal sirip dada sampai
tertumbuk pada tulang belakang.
4.
Membuka dinding badan dengan menggunakan pinset, kemudian
menahannya dengan menggunakan jarum.
5.
Membuka rongga perut. Melakukan pengamatan anatomi dari organ-organ
beserta letaknya. Serta membuat gambar pengamatan.
D.

Hasil Pengamatan

1.

Morfologi Hiu

(Carcharias menissorah)

Keterangan:
1.

cavum oris

6. pinna caudalis

2.

celah insang

7. pinna analis

3.

pinna dorsalis I

4.

vertebrae

5.

pinna dorsalis II

8. pinna ventralis
9. pinna lateral
10. pinna lateralis

2.

Anatomi

Keterangan:
1.

jantung

2.

kantung empedu

3.

lambung

4.

usus

5.

testis

3.

Morfologi Ikan Pari

(Trygon sephen)

keterangan:
1.

mata

2.

sirip punggung

3.

pinna pelvicus

4.

pinna caudalis

5.

clasper

6.

spiracle

4.

Anatomi

keterangan:
1.

hati

2.

limpa

3.

usus

4.

anus

5.

gelembung renang

6.

lambung

7.

jantung

E.
1.
a.

Pembahasan
Ikan Hiu (Carcharias menissorah)
Morfologi

Ikan hiu kecil (+ 1 m), memiliki banyak silindris, ujung lancip, kepala pipih. Ada sirip
median dorsal. Sirip kaudal heteroserkal. Yang berpasangan adalah sirip pektoral
dan sirip pelvik. Pada yang jantan, sirip kaudal itu berubah menjadi klasper (organ
untuk memeluk ikan hiu betina ketika perkawinan). Mulut ventral. Lubang hidung
dua buah, di sebelah ventral kepala. Mata di sebelah lateral. Celah insang 5 buah, di
belakang mata. Disebelah dorsal depan mata ada spirakulum, yaitu peninggalan
celah insang 5 buah, di belakang mata. Di sebelah dorsal depan mata ada
spirakulum, yaitu peninggalan celah insang. Lubang kloaka di antara sirip pelvik.
Tubuh tertutup dengan sisik-sisik plakoid yang asalnya homolog dengan gigi
(mesodermal dan ektodermal). Seperti pada gigi, sisik placoid itu berisi dentin
(mesodermal) dan dilapisi dengan email (ektodermal).
b.

Anatomi

Pada pengamatan anatomi ikan hiu ditemukan adanya jantung yang termasuk
sistem sirkulasi, ginjal yang termasuk sistem ekskresi, kantung empedu, hati,
lambung, pankreas, dan anus yang termasuk sistem pencernaan ikan hiu.
c.

Sistem respirasi

Dengan membuka dan menutup mulut ikan hiu menghalau air ke dalam mulut dan
menekan keluar dengan kekuatan (mulut menutup) melalui celah insang dan
spiracle. Insang tersusun atas filamen (lembaran-lembaran) yang banyak
mengandung pembuluh darah kapiler. Darah dari ventral aorta akan melalui kapiler
tersebut melepaskan CO2 dan mengikat oksigen yang larut dalam air.
d.

Sistem pencernaan

Alat pencernaan terdiri atas cavum oris, pharynx, oesophagus, ventriculus, cloaca,
dan anus. Di dalam cavum oris terdapat gigi pada rahang dan menghadap ke arah
belakang guna menahan mangsa yang akan di telan, lidah yang pipih pada dasar
cavum oris. Lambung berbentuk U dan pada bagian posterior terdapat otot daging
sphincter. Di dalam intestinum terdapat klep spiral yang membantu penyerapan
makanan. Hepar terdiri atas dua bagian menempati rongga sebelah anterior dan
padanya terdapat vesica felea (kantung empedu) ke dalam intestinum.
e.

Sistem Sirkulasi

Jantung hanya mempunyai satu atrium dorsal (aurikel) yang menerima darah dari
sinus venosus, dan satu ventrikel ventral yang memompa darah ke konus
arteriosus. Dari konus itu darah selanjutnya menuju aorta ventral yang lalu
bercabang-cabang menjadi 5 buah arteri brankial aferen, terus masuk ke dalam
insang.
f.

Sistem reproduksi

Fertilisasi internal. Ikan hiu jantan mempunyai alat kopulasi yang disebut klasper
(penjepit). Yang betina mempunyai 2 ovarium di dekat ujung anterior kavum
abdominal. Telur yang masak melepaskan diri, menembus selaput ovarium, dan
masuk kedalam selom. Telur itu lalu ditarik masuk ke dalam ostium yang
membentuk corong, terus masuk oviduk. Ujung posterior oviduk itu masing-masing
membesar menjadi uterus. Dalam uterus embrio berkembang sampai menjadi ikan
hiu yang dapat berenang. Hiu jantan mempunyai 2 testes. Spermatozoa mencapai
saluran Wolff melalui vas eferen yang banyak jumlahnya. Saluran Wolff itu berfungsi
sebagai vas deferens.
g.

Habitat

Ikan hiu (Carcharias menissorah) hidup di selurh perairan laut dan samudra di
dunia. Hewan ini biasanya melakukan migrasi kebeberapa tempat dengan

melakukan perjalanan jauh, hal ini dilakukan untuk mencari mangsa dan
perkembangbiakannya.
h.

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Chondrichthyes

Ordo

: Selachi

Famili

: Carchariadae

Genus

: Carcharias

Spesies

: Carcharias menissorah

2.
a.

Ikan Pari (Trygon sephen)


Morfologi

Bentuk umum ikan pari adalah pipih dengan ekor yang panjang, pada bagian
dorsalnya terdapat mata yang berdekatan dengan spiracle sebagai alat indera,
pinna pectoralis pada kedua sisi paling sudut dari tubuhnya, pinna pelvic yang
berdekatan dengan ekor, dan clasper yang berfungsi untuk memeluk ikan betina
saat proses perkawinan.
b.

Anatomi

Bagian anatomi yang nampak pada saat pembedahan ikan pari tersebut adalah
mulut, hati, empedu, pankreas, lambung, usus, dan anus yang termasuk ke dalam
alat sistem pencernaan, adapun jantung berperan sebagai sistem sirkulasi ikan pari.
c.

Sistem respirasi

Ikan pari melakukan respirasi dengan membuka dan menghalau air ke dalam mulut
dan menekan keluar dengan kekuatan menutup mulut melalui celah insang dan
spiracle, insangnya terdiri atas filamen yang banyak mengandung pembuluh darah,
meliputi Archus branchia, Filamen branchia, Gill rakers.
d.

Sistem pencernaan

Alat pencernaannya terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, usus, kloaka, dan
anus. Pada mulut terdapat rahang yang bergigi. Faring terbuka dan berhubungan
dengan 5 celah insang. Hepar terdiri dari 2 bagian menempati rongga sebelah
anterior dan ada kelenjar pankreas.

e.

Sistem sirkulasi

Cor terdiri atas sinus venosus yang berdinding agak tebal dilanjutkan oleh
auriculum dan ventriculum yang berdinding tebal. Kemudian bersambung dengan
conus arteriosus terus ke ventral aorta yang bercabang 5 pasang arteri afferent
branchialis mengambil O2 yang terdapat dalam gelembung udara yang ada di
dalam air. Kemudian melalui 4 pasang afferent branchialis darah masuk aorta
dorsalis yang menjulur memanjang sepasang pertengahan dorsalis dari rongga
coelom.
f.

Sistem reproduksi

Seks terpisah, alat kelamin jantan berupa sepasang testis dan beberapa vasa
eferensia yang menuju vasa deferensia. Saluran itu terbentang di bawah ginjal dan
berakhir pada papilae urogenitalia. Alat kelamin betina terdiri dari sebuah ovarium
yang menggantung di sebelah dorsal dengan satu membran dan dua buah oviduk
yang menjulur disepanjang tubuh.
g.

Habitat

Ikan pari (Trygon sephen) dapat ditemukan di laut. Ikan ini pada umumnya
berenang disekitar dasar laut dengan mulut terbuka untuk mencari makanan
disekitarnya.
h.

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Chondrichthyes

Ordo

: Rajida

Famili

: Myliobatidae

Genus

: Trygon

Spesies

: Trygon sephen

F.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah ikan hiu memiliki bentuk torpedo
dengan mulut yang terletak di sebelah ventral dari kepala, kulit tegar dan diliputi
sisik placoid, bertulang rawan, terdapat pinna pectoralis, pinna pelvic, pina caudal,
dan pina dorsalis. Adapun anatominya terdiri atas esofagus, jantung, lambung,
hati, usus, pankreas, testis dan anus. Sedangkan ikan pari memiliki bentuk yang
pipih dengan ekor yang panjang. Terdapat mata, sirip punggung, pina pelvicus,sirip

ekor, clasper, spiracle. Adapun anatominya terdiri atas jantung, hati, pankreas,
lambung, usus, ginjal, dan empedu.
G.

Daftar Pustaka

Campbell.Neil A. 1999. Biologi edisi kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga


Jasin Maskoeri. 1999. Zoologi Dasar, Jakarta: Sinar Wijaya
Rudiyanto, Chondrichthyes. http://rudiyantoblog.blogspot.com/2011/11/
chondrichthyes-dan-ikan-hiu-carcharias.html (14 januari 2013)

laporan zoologi vertebrata (Chondrichthyes)


LEMBAR PENGESAHAN
Laporan lengkap praktikum Zoologi Vertebrata Unit I dengan judul Chondrichthyes
disusun oleh:

Nama
NIM

: Eka Zulasmi Yuliani


: 081404012

Kelas
Kelompok

:B
: VIII

Telah diperiksa oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka dinyatakan


diterima.
Makassar,

Maret

2010
Koordinator Asisten,

Erwin, S.Pd

Asisten,

A. Zulhamdi H.
NIM: 061 404 029

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab,

Hartati, S. Si, M. Si
NIP: 196 502 011 988 031 003

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan-ikan yang banyak dilihat dan dimakan orang termasuk Teleostei. Tubuh ikan
terdiri atas caput, truncus, dan cauda. Pada ikan bertulang rawan (chondrichthyes)
kulitnya tegar dan diliputi oleh sisik placoid dengan banyak kelenjar mukosa, mulut
terlatak sebelah ventral dari kepala. Juga merupakan vertebrata rendah yang
memiliki columna vertebralis sempurna yang terpisah satu sama lain sehingga
mudah membengkokkan tubuhnya. Kecuali itu telah memiliki tulang rahang dan
beberapa pasang appendage berupa pina (sirip). Hampir semuanya predacious,
hidup di laut. Nenek moyangnya dikenal dari fosil-fosil yang berupa sisa-sisa tulang
gigi, tulang jari sirip dan sisik.
Ikan itu vertebrata aquatis dan bernafas dengan insang (beberapa jenis ikan
bernafas dengan alat tambahan berupa modifikasi gelembung renang/ gelembung
udara). Mempunyai otak yang terbagi menjadi regio-regio. Otak itu dibungkus
dalam kranium (tulang keras) yang berupa kartilago (tulang rawan) atau tulang
menulang.
Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan sebuah kegiatan praktikum untuk
mengamati secara langsung spesies dari Chondrichthyes agar kita tidak hanya
mengetahui dari teori tetapi juga dengan pengamatan langsung.

B. Tujuan Praktukum
1.
Untuk mengamati struktur morfologi dan anatomi ikan hiu (Squalus achantias)
serta mengklasifikasikannya.
2.
Untuk mengamati struktur morfologi dan anatomi ikan pari (Dasyatus sabina)
sertra mengklasifikasikannya.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat setelah melakukan pengamatan ini adalah mahasiswa dapat
mengetahui struktur morfologi dan anatomi ikan hiu dan ikan pari melalui
pengamatan langsung. Serta dapat dijadikan bahan referensi dalam penyusunan
skripsi ataupun kepentingan lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Chondrichthyes atau ikan bertulang rawan adalah ikan berahang, mempunyai sirip
berpasangan, lubang hidung berpasangan, sisik, jantung beruang dua, dan rangka
yang terdiri atas tulang rawan bukan tulang sejati. Mereka dibagi menjadi dua
subkelas: Elasmobranchii (hiu, pari dan skate) and Holocephali (kimera, kadangkadang disebut hiu hantu, dan kadang dipisahkan menjadi kelas tersendiri).
Rangkanya bertulang rawan. Notokorda, yang ada pada yang muda, lambat laun
digantikan oleh tulang rawan. Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika
mereka keluar dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan organ
dalam mereka sendiri lama sebelum mereka lemas (Anonim1, 2010).
Pada sebagian besar ikan, semua darah yang masuk ke jantung melalui vena
mempunyai kadar oksigen yang rendah dan karbondioksida yang tinggi, yaitu yang
disebut darah vena. Jantung terdiri atas sebuah sinus venosus, sebuah atrium,
sebuah ventrikel dan sebuah konus anteriosus yang tersusun dalam urutan linear.
Kontraksi otot jantung meningkatkan tekanan darah yang di dalam vena sangat
rendah, dan mengeluarkan darah dalam suatu arteri, aorta ventral, kelima atau
keenam pasang aorta yang menjulur secara dorsal melalui kapiler di dalam insang
ke aorta dorsal. Pada waktu darah melalui insang, karbondioksida dilepaskan dan
oksigen diambil, hal ini mengubah darah menjadi darah arteri. Aorta dorsal
membagi darah ini menjadi cabang-cabangnya ke seluruh bagian tubuh (Ville,
1988).
Menurut Radiopoetro (1991), ciri-ciri ikan bertulang rawan (chondrichthyes) antara
lain:
1. Endoskeleton seluruhnya terdiri atas cartilago dengan sedikit calcifikasi, tetapi
tulang sebenarnya tidak ada.
2. Eksoskeleton terdiri atas suatu lamina basalis yang berbentuk belah ketupat
dan diatasnya terdapat suatu gigi yang berbentuk kerucut.
3.
a.

Tractus digestivus
Rima oris terdapat disebelah ventral dari rostrum

b.

Ada gigi-gigi yang sebenarnya ialah sisik placoid

c.

Pada dinding intestinum terdapat plica spiralis

d.

Bagian terakhir dari intestinum ialah rectum, bermuara ke dalam kloaka

e.

Tidak ada pneumafosit

Ikan-ikan yang tergolong kelas Chondrichthyes memiliki mulut ventral, serta


disokong oleh rahang. Skeleton dari tulang rawan, kulit tertutup dengan sisik
placoid (yang berasal dari kombinasi mesoderm dan ektoderm). Ada dua pasang
sirip, dan sirip caudal kebanyakan heterocercal (lobus dorsal lebih besar). Ruang
hidup berpasangan. Faring dengan 5-7 celah insang (pada chimera faring masih
tertutup oleh operculum tunggal). Sebagian notocorda diganti dengan vertebrata
yang lengkap. Otak terbagi menjadi 5 bagian, dengan 10 saraf kranial. Pada ikan
dewasa terdapat mesonefros. Pada ginjal terdapat sistem porta. Dalam usus
terdapat katup-katup spiral. Kelamin terpisah, fertilisasi eksternal atau internal.
Secara praktis semua hidup di laut, contoh: ikan hiu (Squalus sp.), ikan pari (Raja
sp.), dan chimera (Chimaera sp.) (Brotowidjoyo, 1989).
Menurut Jasin (1992), Chondrichthyes menunjukkan suatu perkembangan dengan
Cyclostomata dalam hal:
a.

Adanya sisik yang meliputi tubuh

b.

Adanya sepasang pina lateralis

c.

Geraham yang dapat digerakkan bersendi pada tulang kranium

d. Gigi yang dilapisi email pada rahang


e.

Tiga bagian saluran setengah lingkaran pada alat pendengaran

f.

Sepasang alat reproduksi dan saluran-salurannya

Ketika ikan bertulang rawan pertama kali kembali ke laut, mereka telah mengganti
lingkungan hipotonik (air tawar) dengan lingkungan hipertonik (air laut). Mereka
tidak lagi mengalami masalah pengeluaran air yang berlebihan, tetapi harus
mengembangkan cara menghemat air tubuh melalui efek dehidrasi air laut. Mereka
melakukan ini dengan mengubah limbah nitrogen menjadi urea dan membiarkan
konsentrasi urea tersebut meningkat dalam darah sampai darah itu isotonik
terhadap air laut (Kimball, 1999).
Kulit ikan hiu atau ikan karang terasa seperti amplas (amril) karena banyak sisiksisik kecil yang tertanam pada kulit. Sisik ini dikenal sebagai sisik bertipe placoid
dan strukturnya sama dengan struktur gigi. Setiap sisik tersusun dari lempengan
tulang di bagian basal, menuju ke atas menembus kulit kemudian mengarah ke
belakang membentuk tonjolan seperti duri yang tersusun dari dentin, seperti pada
gigi, disana ada lubang pusat (pulpa), dimana terdapat banyak saluran darah
(Sukiya, 2001).
Hiu umumnya lambat mencapai kedewasaan seksualnya dan menghasilkan sedikit
sekali keturunan dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya yang dipanen. Ini telah
menimbulkan keprihatinan di antara para biologiwan karena meningkatnya usaha
yang dilakukan untuk menangkapi ikan hiu selama ini, dan banyak spesies yang kini

dianggap terancam punah.Beberapa organisasi, seperti misalnya Shark Trust,


melakukan kampanye untuk membatasi penangkapan hiu (Anonim2, 2010).
Menurut Anonim3 (2010), ciri khas lainnya pada Chonrichthyes adalah :
1.

mulut yang berahang kuat terletak di bagian bawah tubuh

2. celah insang berjumlah lima, meskipun ada yang berjumlah tiga, enam, atau
tujuh celah insang
3.

kulit ulet dan kasar bergigi karena adanya sisik gelakoid

4. adanya sepasang pendekep (klasper) pada hewan jantan yang berfungsi untuk
menyalurkan sperma ke kloaka betina
5. usus pendek dan lebar berisi membran ulir untuk menyerap makanan lebih
lama
6.

hati berukuran sangat besar untuk membantu pencernaan makanan

7.

fertilisasi terjadi secara internal

8. bersifat ovipar, yaitu mengeluarkan telur hasil fertilisasi, atau ovovivipar yaitu
membawa telur

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2010. Ikan bertulang rawan. http://richocean.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 27 maret 2010.

Anonim2. 2010. Hiu. http://wapedia.mobi. Diakses pada tanggal 27 maret 2010.

Anonim3. 2010. Mengenal Vertebrata. http://gurungeblog.wordpress.com. Diakses


pada tanggal 27 maret 2010.

Brotowidjoyo, M. D. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta.

Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Erlangga. Jakarta.

Kimball, J. W. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Radiopoetro. 1991. Zoologi. Erlangga. Jakarta.

Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. Jurusan Biologi FMIPA UNY Yogyakarta.

Villee, C. A; W. F Walker dan R. D Burner. 1988. Zoologi Umum. Erlangga. Jakarta.

B. Pembahasan
1.

Squalus acanthias (ikan hiu)

a.

Morfologi

Ikan hiu ( 1 m), silindris, ujung lancip, kepala pipih. Ada sirip median dorsal. Sirip
caudal heterocercal. Yang berpasangan adalah sirip pectoral dan sirip pelvic. Pada
yang jantan, sirip caudal itu berubah menjadi clasper (organ untuk melihat hiu
betina ketika perkawinan). Mulut ventral. Lubang hidung dua buah, disebelah
ventral kepala. Mata disebelah lateral. Celah insang lima buah, dibelakang mata.
Disebelah dorsal depan mata ada spirakulum, yaitu peninggalan celah insang.
Lubang kloaka diantara sirip pelvic. Tubuh tertutup dengan sisik plakoid yang
asalnya homolog dengan gigi (mesodermal dan ektodermal). Seperti pada gigi, sisik
plakoid itu berisi dentin (mesodermal) dan dilapisi dengan email.
b.
1.

Anatomi
Sistem pencernaan

Rahang tertutup dengan gigi (berasal homolog dengan sisik). Faring terbuka lateral
ke dalam 5 pasang celah insang. Esofagus, disebelah posterior faring, terus bersatu
dengan bagian kardial lambung, terus ke bagian pilorik lambung, lalu berkelok ke
depan membentuk huruf U. Terus ke duodenum, lalu usus yang berkatup spiral,
akhirnya ke rektum dan kloaka.

2.

Sistem pernapasan

Celah insang yang terakhir mengandung semibranch (setelah insang) pada dinding
anterior. Celah-celah insang lainnya baik dinding anterior maupun posterior
mempunyai setengah insang. Jadi pada tiap sisi faring ada 9 buah insang.
Disamping itu ada sisa insang (insang vestigial) yang disebut pseudobranch pada
tiap spirakulum. Air masuk melalui mulut, melewati faring, lalu keluar melewati
celah-celah insang.
3.

Sistem sirkulasi

Jantung hanya mempunyai satu atrium dorsal (aurikel) yang menerima darah dari
sinus venosus, dan satu ventrikel ventral yang memompa darah ke konus
arteriosus. Dari konus itu darah selanjutnya menuju aorta ventral yang lalu
bercabang-cabang menjadi 5 buah arteri brankial aferen, terus masuk ke dalam
insang. Dalam insang terdapat kapiler. Darah dalam kapiler-kapiler itu ditapis oleh
arteri brankial eferen. Kapiler-kepiler lalu bersatu membentuk aorta dorsalis, dan
dari sini darah masuk ke seluruh tubuh.
4.

Sistem reproduksi

Fertilisasi internal, ikan hiu jantan mempunyai alat kopulasi yang disebut klasper/
penjepit. Yang betina mempunyai dua ovarium di dekat ujung anterior kavum
abdominal. Telur yang masak melepaskan diri, menembus selaput ovarium dan
masuk ke dalam selom. Telur itu lalu ditarik masuk ke dalam ostium yang berbentuk
corong, terus masuk oviduct (ada dua). Ujung posterior oviduct itu masing-masing
membesar menjadi uterus. Dalam uterus embrio berkembang sampai menjadi ikan
hiu yang dapat berenang. Hiu jantan mempunyai dua testis. Spermatozoa mencapai
saluran Wolff melalui vas eferen yang banyak jumlahnya. Saluran Wolff ini berfungsi
sebagai vas deferens.
5.

Sistem ekskresi

Ginjal 2 buah, panjang, sempit, mesonefros, yang mengeluarkan sekret ke kloaka


melalui saluran Wolff (saluran mesonefros). Ginjal itu ada di dorsal selom,
menempel pada kolumna vertebrae.
c.

Habitat

Ikan hiu dapat ditemukan pada daerah terumbu karang.


d. Klasifikasi
Kingdom

Animalia

Phylum

Chordata

Sub phylum :

Vertebrata

Super classis :

Pisces

Ordo

Squalida

Familia

Genus

Squalus

Species

Squalus acanthias

(Jasin, 1992)

2.

Dasyatus sabina

a.

Morfologi

Tubuhnya berbentuk pipih bulat dorsalis-ventralis tidak memiliki pinna dorsalis,


memiliki sepasang pinna pectoralis dan terdapat suatu alat tambahan pada dekat
anus yaitu clasper (alat kelamin jantan) yang berguna pada waktu
musim perkawinan tiba. Sedangkan pada betina tidak terdapat clasper, jadi ovum
berada tepat pada lubang anus (kloaka). Pada bagian ventral terdapat celah insang
sebanyak 5 pasang. Mulut terletak di sebelah anterior ventralis kepala. Anus di
bagian posterior. Tubuh dibungkus oleh sisik placoid.
b.
1.

Anatomi
Sistem pencernaan

Rahang tertutup oleh gigi. Alat pencernaan terdiri atas cavum oris, pharinks,
oesophagus, ventriculus, intestinum, kloaka, dan anus. Lambung berbentuk U dan
bagian posterior terdapat otot daging spinchter. Hati dan pankreas dengan saluran
empedu yang terbuka dalam duodenum.
2.

Sistem pernapasan

Memeiliki 5 pasang insang langsung bermuara keluar. Darah dari ventral aorta akan
melalui kapiler pada insang, melepaskan CO2 dan mengikat O2.

3.

Sistem peredaran darah

Jantung mempunyai satu atrium dorsal yang menerima darah dari sinus venosus
dan satu ventrikel yang menerima darah dan memompa darah ke konus arteriosus.
Dari konus, selanjutnya darah menuju aorta ventral yang bercabang-cabang. Kapiler
yang ada pada insang bersatu membentuk aorta dorsalis, selanjutnya darah masuk
keseluruh tubuh dan darah vena kembali melalui dua buah saluran cauvier dan
masuk ke dalam sinus venosus.
4.

Sistem reproduksi

Fertilisasi internal. Ikan pari jantan memiliki alat kopulasi yang disebut clasper,
sedangkan betina memiliki sepasang ovarium di dekat ujung anterior cavum
abdominal. Telur yang masak melepaskan diri menembus selaput ovarium dan
masuk ke dalam ostium yang berbentuk corong, terus masuk ke dalam oviduct.
Ujung oviduct pada bagian posterior merupakan tempat embrio berkembang
sampai berenang.
c.

Habitat

Ikan pari hidup di laut, terutama di daerah sekitar terumbu karang.


d.

Klasifikasi

Kingdom

Animalia

Phylum

Chordata

Sub phylum

Super classis:

Pisces

Classis

Chondrichthyes

Vertebrata

Super ordo :

Hypotrematika

Ordo

Rajida

Familia

Genus

Dasyatus

Spesies

Dasyatus sabina

(Jasin, 1992)

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pada Squalus acanthias, tubuhnya berbentuk seperti torpedo yang
mempunyai dua pina dorsalis. Pencernaannya terdiri dari cavum oris, pharynx,
oesophagus, ventriculus, intestinum, kloaka, dan anus serta lambung yang
berbentuk U.
2.
Dasyatus sabina memiliki bentuk tubuh pipih bulat dorsoventralis.
Pencernaannya memiliki kelenjar pankreas dan kelenjar rectal. Sistem respirasi,
dimana air masuk melalui mulut, melewati faring, lalu keluar melewati celah-celah
insang.
B. Saran
1. Diharapkan semua praktikan agar lebih teliti dan sabar dalam melakukan
pengamatan sehingga hasil yang diperoleh lebih maksimal.
2. Diharapkan kepada asisten agar mendampingi praktikan selama praktikum
berlangsung agar pemahaman yang diperoleh lebih maksimal.
3. Diharapkan kepada laboran agar melengkapi bahan-bahan yang digunakan
demi kelancaran praktikum.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1.
a.

Squalus acanthias
Struktur morfologi

Keterangan :
1.

Mouth

2.

Nostril

3.

Mata

4.

Spirakel

5.

Sirip dorsal I

6.

Sirip dorsal II

7.

Caudal

8.

Upper lobe

9.

Lower lobe

10.

Sirip anal

11.

Sirip pelvis

12.

Sirip pectoral

13.

Insang

b.

Struktur anatomi

Keterangan :
1.

Skull

14. Stomach

2.

Encephalon

15. Liver

3.

Parietal muscles

16. Pectoral fin

4.

Vertebrata neural arch

17. Heart

5.

Vertebrata body

18. Ventral aorta

6.

Anterior intestine

19. Inner spiracle openings

7.

Dorsal fin

20. Pharynx

8.

Spinal cord

21. Mouth

9.

Cord

10.

Caudal fin

11.

Cloaca

12.

Pelvic fin

13.

Posterior intestine

2.
a.

Dasyatus sabina
Struktur morfologi
Keterangan :

1.

Nares eksterna

2.

Oris

3.

Pina pectoralis

4.

Anus

5.

Kloaka

6.

Celah insang

Keterangan :
1.

Orbita

2.

Spiracle

3.

Pina pectoralis

4.

Pina pelvicus

5.

Clasper

6.

Pina caudalis

b.

Struktur anatomi

Keterangan :
1.

Cor

2.

Hepar

3.

Testis

4.

Ventriculus

5.

Anus

6.

Pankreas

7.

Usus besar

Laporan Praktikum Chondrichthyes

LAPORAN PRAKTIKUM ZOOLOGI INVETEBRATA


CHONDRICHTHYES

Di Susun Oleh :
Nama
Nim
Kelompok
Jurusan

: Muhammad Aqsha
: 60300110031
: I ( satu )
: Biologi (B1)
LABORATORIUM BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEREGI ALAUDDIN
MAKASSAR 2O11

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama akhir masa silur dan awal masa Devon, vertebrata dengan rahang, anggota (super
klas Gnathostomata (mulut berahang) menggantikan sebagian besar hewan agnatha. Kelas
ikan yang masih hidup (Chondrchthyes dan Oesteichthyes) pertama kali muncul pada masa ini,
bersamabesama dengan suatu kelompok yang diberi nama plakoderma (placoderma) berkulit
lempeng) yang tidak memiliki keturunan yang hidup. Vertebrata berahang juga memiliki dua
pasang anggota badan berpasangan, sementara hewan agnatha tidak memiliki anggota badan
yang berpasangan atau hanya memiliki sepasang.[1]
Ikan ikan dengan mulut ventral, disokong oleh rahang . Skeleton dari tulang rawan.
Kulit tertutup dengan sisik sisik plakoid. Ada dua pasang sirip, dan sirip kaudal kebanyakan
heteroserkal (lobus lebihh besar). Ruang hidung berpasangan. Faring dengan 5-7 celah insang.
Sebagian notokorda diganti oleh vertebrata yang lengkap. Otak terbagi 5 dengan 10 saraf cranial.
Pada ikan dewasa terdapat katup-katup spiral. Kelamin terpisah, fertilisasi eksternal atau
internal. [2]

B. Tujuan
1. Mengamati struktur morfologi dan anatomi ikan hiu (Carcharias menissorah )
2. Mengamati struktur morfologi dan anatomi ikan Pari (Trygon sephen ).

[1] Kimball, Biologi vol.3 ed.5. (Jakarta: Erlangga, 1999). h. 3.


[2] Djarubito, Zoologi Dasar, (Jakarta: Erlangga, 1989). h. 185.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ikan ikan yang paling awal adalah hiu yang tidak jauh berbeda dengan hiu masa kini
memperoleh namanya dari fakta bahwa kerangkanya terdiri atas tulang rawan bukan tulang
keras. Seperti halnya plakodermi, ikan hiu mempunyai rahang. Tulang rahang berkembang
dari kedua pasang pertama lengkung insang. Patut dicatat bahwa dalam hal ini, sepasang celah

insang tidak dperlukan lagi Akan tetapi, lupang ini masih terdapat pada beberapa ikan masa kini
dan disebut spirakel. Di samping itu, ikan pari dan belut listrik merupakan anggota kelas ini.[1]
Rahang vertebrata berkembang melalui modifikasi batang rangka yang sebelumnya
menyokong celah faring (insang) anterior. Celah insang yang tersisa, yang tidak lagi diperlukan
untuk memakan suspensi, tetap merupakan utama pertukaran gas dengan lingkungan eksternal.
Asal mula rahang vertebrata dari bagian kerangka ini menggambarkan ciri umum perubahan
evolusioner. Adaptasi baru umumnya berkembang melalui modifikasi struktur yang telah ada.
Sebagai suatu mekanisme adaptasi, evolusi dibatasi oleh bahan mentah yang harus diolah. [2]

Vertebrata kelas Chondrichthyes, hiu dan kerabatnya disebut ikan bertulang rawan karena
mereka memiliki endoskeleton yang relatif lentur yang terbuat dari tulang rawan bukan tulang
keras. Rahang dan sirip berpasangan berkembang dengan baik pada ikan bertulang rawan.
Subkelas yang paling besar dan paling beraneka ragam terdiri dari hiu dan ikan pari. Subkelas
kedua

terdiri

atas

beberapa

lusin

spesies

ikan

tidak

umum

yang

disebut chimaera atau ratfish. Chondrichthyes memiliki kerangka bertulang rawan dan kerangka
bertulang rawan yang merupakan karakteristik kelas itu berkembang setelahnya[3]
Ikan hiu dan ikan pari terbesar adalah para pemakan-suspensi yang memangsa plankton.
Namun demikian sebagian besar hiu adalah karnivora yang menelan mangsanya secara utuh atau
menggunakan rahang dan geliginya yang sangat tajam untuk menyobek daging dari hewan yang
terlalu besar untuk ditelan sekaligus. Geligi hiu kemungkinan berkembang dari sisik yang
bergerigi yang menutupi kulit kasarnya. [4]
Otak dan organorgan sensori dibungkus dan dilindungi oleh kondrokranium. Di
bawahnya ada skeleton visceral yang terdiri dari rahang bawah dan lengkung-lengkung insang.
Otot-otot diseluruh tubuh secara terartur bersegmen (metamerik) disebut mioto. Otot-otot itu
bermodifikasi di kepala dan apendiks. Rahang tertutup dengan gigi. Faring terbuka lateral ke
dalam 5 pasang celah insang. Esophagus, di sebelah posterior faring, terus bersatu dengan bagian
karial lambung, terus ke bagian pilorik lambung, lalu berkelok ke depan membentuk huruf U.
terus ke duedonium, lalu usus yang berkatup spiral, akhirnya ke rectum dan kloaka. Celah insang
yang terkhir mengandungsemibranch pada dinding anterior. Celah-celah insang lainnya baik

dinding anterior maupun posterior mempunyai setengah insang. Di samping itu ada sisa
insang yang disebut pseudobranch pada tiap spirakulum. Pseudobranch adalah sepasang celah
insang pertama dari 6 pasang insang pada waktu embrio. Air masuk melalui mulut, melewati
faring, lalu keluar melewati celah-celah insang.[5]
Pada sistem sirkulasi jantung hanya mempunyai satu atrium dorsal (aurikel) yang
menerima darah dari sinus venosus, dan satu ventrikel ventral yang memompa darah kekonus
arteriosus. Dari konus itu darah selanjutnya menuju aorta ventral yang lalu bercabang-cabang
menjadi 5 buah arteri branchial efferent. Kapiler-kapiler lalu bersatu membentuk aorta dorsalis,
dari sini darah masuk ke dalam seluruh tubuh. Darah vena lalu kembali melalui 2 buah saluran
cuvier dan masuk ke dalalm sinus venosus. Saluran cuvier itu bermuara dalam sinus
venosus melalui vena cardinal anterior dan vena cardinal posterior. Fertilisasi internal ikan hiu
jantan mempunyai alat kopulasi yang disebut clasper. Yang betina mempunyai 2 ovarium di
dekat ujung anterior kavum abdominal. Telur yang masak melepaskan diri, menembus selaput
ovarium, dan masuk ke dalam selom. Telur itu lalu ditarik masuk ke dalam ostium, terus ke
oviduk

menjadi

uterus,

hiu

jantan

memepunyai

testis

spermarozoa

mencapai

saluran wolf melalui vas eferen yang banyak jumlahnya.[6]


Rangkanya bertulang rawan. Notokorda, yang ada pada yang muda, lambat laun
digantikan oleh tulang rawan. Chondrichthyes juga tidak punya rusuk, maka jika mereka keluar
dari air, berat tubuh dari spesies besar dapat menghancurkan organ dalam mereka sendiri lama
sebelum mereka lemas.Karena tidak memiliki sumsum tulang, sel darah merah diproduksi
di limpa dan jaringan khusus di kelaminnya. mereka juga menghasilkan organ yang disebut
Organ Leydig yang hanya ditemukan pada ikan bertulang rawan, meski beberapa tidak
memilikinya. Organ unik lain adalah organ epigonal yang mungkin berperan dalam sistem
kekebalan. Subkelas Holocephali, grup yang sangat terspesialisasi, tidak mempunyai kedua
organ ini.Chondrichthyes terdiri dari Fosil hidup Seperti hiu.[7]
Chondrichthyes menunjukkan suatu perkembangan kemajuan bila dibandingkan dengan
cyclostomata dalam hal, adanya sisik yang meliputi tubuh, terdapat sepasang pida lateralis,
adanya geraham yang dapat digerakkan bersendi pada tulang cranium, memiliki gigi yang

dilapisi email pada rahang, terdapat tiga bagian saluran setengah lingkaran pada alat , sepasang
alat reproduksi dan saluran-salurannya.[8]

Sisik adalah bagian tubuh luar dan merupakan ciri sangat penting baik untuk ikan
tulang keras maupun ikan tulang rawan. Sisik umumnya sebagai pelindung dan penutup
tubuh. Berdasarkan asal, struktur dan fungsi sedemikian bervariasi sehingga sisik
merupakan hal yang penting dalam klasifikasi. Kulit ikan hiu atau ikan karang terasa seperti
amplas (amril) karena banyak sisik-sisik kecil yang tertanam pada kulit. Sisik ini dikenal
sebagai sisik bertipeplakoid dan strukturnya sama dengan struktur gigi. Setiap sisik
tersusun dari lempengan tulang di bagian basal, menuju ke atas menembus kulit kemudian
mengarah ke belakang membentuk tonjolan seperti duri yang tersusun dari dentin. Seperti
pada gigi, disana ada lubang pusat (pulpa), dimana terdapat banyak saluran darah.spina
ditutupi oleh lapisan yang lebih keras, dipercayai terbuat dari bahan sama dengan. [9]
Jenis jari-jari sirip dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu jari-jari keras dan
lemah. Jari-jari tidak beruas-ruas, pejal (tidak berlubang) dan tidak dapat dibengkokkan.
Biasanya jari-jari keras ini berupa duri ayau patil dan merupakan alat untuk
mempertahankan diri bagi ikan. Jumlah jari-jari keras dinotasikan huruf romawi (I,II,II,).
Jari-jari lemas biasanya bening, seperti tulang rawan, mudah dibengkokkan dan beruaruas. Bentuknya berbeda-beda tergantung pada jenis ikan, jari-jari lemah ini mungkin
sebagian mengeras, salah satu bergerigi, bercabang atau satu sama lain berhimpitan.
Jumlah jari-jari lemah dinotasikan dengan angka biasa (1,2,3,). [10]

Allah SWT berfirman (QS. Al Baqarah /2 : 164).




(14)

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,
[1] Kimball, Biologi vol.3 ed.5. (Jakarta: Erlangga, 1999). h. 927.
[2] Campbell, Biologi vol. 2ed.5. (Jakarta: Erlangga, 1999). h, 254.
[3] Ibid. h. 255.
[4] Ibid.
[5] Djarubito, Zoologi Dasar, (Jakarta: Erlangga, 1989).h. 185.
[6] Ibid. h. 186.
[7] Chondrichthyes Special FundraiserLanding, http:// Wikimedia.org. h. 1 ( Diakses

tanggal 27 Oktober 2011 ).


[8] Jasin, Zoologi Dasar, (Jakarta: Sinar Wijaya, 1999).h. 42.
[9] Chondrichthyes Makalahchondrichthyes, http:// file://kelaschonrichtyes.htm. h. 4
( Diakses tanggal 27 Oktober 2011 ).
[10] Tim Dosen. Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. ( Makassar : UIN Press ). h, 1.

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat seksi, jarum pentul,
loupe, dan papan seksi.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sepasang ikan hiu
(Charcarias menissorah), ikan pari (Trygon sephen), dan kapas.
B. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut :
Waktu

: Pukul 13.00 15.00 WITA

Tempat

: Laboratorium Zoologi lantai II

Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Kampus 2 Samata-Gowa

C. Prosedur Kerja
1.

Letakkan ikan yang sudah mati di atas papan seksi

2.

Amati bentuk luarnya , yang terdiri dari :

a. Bagian kepala; disini terdapat :


1.

Mulut

2.

Celah insang

3.

Cekung hidung

4.

Mata

5.

Spirakel

b. Bagian badan; disini terdapat :


1. Macam-macam sirip
a.

Sirip dada (pectoral)

b. Sirip perut (pelvic)


c.

Sirip punggung

d. Sirip ekor
2. Sisik, cabut dengan pinset dan amati dengan luope
3. Kulit epidermis
4. Anus dan clasper
3.

Pembedahan untuk melihat alat-alat dalam tubuh

a.

Buat torehan disebelah belakang anus kea rah punggung dengan scalpel sampai menyentuh
menyentuh tulang belakang.

b. Gunakan gunting untuk melakukan pemotongan mulai dari anus kea rah kepala sampai kedekat
celah insang.

c.

Lanjutkan pemotongan kearah punggung lewat pangkal sirip dada sampai tertumbuk pada tulang
belakang.

d. Tahanlah dengan jarum, dan satu batas badan dan ekor, satu lagi dibatas kepala dan badan.
e.

Buka dinding badan dengan menggunakan pinset. Dinding badan sebelah bawah ditahan dengan
jarum

f.

Bila saat mengangkat dinding badan setelah atas, jika ada alat-alat tumbuh yang melekat,
lepaskan dengan spatula.

g. Buka rongga perut


h. Cari dan amati bentuk dan letak dari alat-alat berikut :
1. Ginjal
2. Hati
3. Usus
4. Pankreas
5. Jantung
i.

Buat gambar alat-alat tersebut secara skematis sesuai dengan letaknya, kemudian lanjutkan
pengamatan sistem demi sistem.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Morfologi
Ikan Hiu (Carcharias menissorah)

Keterangan gambar :
1. Vesus

7. Pina analis

2. Pina dorsalis I

8. Pina pelvicus

3. Pina lateralis

9. Pina pectoralis

4. Pina dorsalis II

10. Gill silt

5. Pina caudalis

11. Cavum oris

Ikan Pari (Trygon Sephen)

Keterangan gambar :
1. Vesus
2. Spiracle
3. Pina Pectoralis
4. Pina Pelvic
5. Clasper
6. Pina caudalis

2. Anatomi

Keterangan gambar :
1. Ren
2. Ureter
3. Cloaka

Keterangan gambar :
1. Aorta
2. Arteri
3. Attrium
4. Ventrikel
5. Vena

Keterangan gambar :
1. Vilamen insang

2. Insang
3. Efferent branchialis
4. Cill rakers

Keterangan gambar :
1. Testis
2. Vas efferensia
3. Vas Defferens
4. Anus

Ikan Pari (Trygon Sephen)


Keterangan gambar :
1. Cor
2. Hepar
3. Pankreas
4. Ventriculum
5. Intestinum
6. Pectum
7. Vesica felea

Keterangan gambar :
1. Rima oris

2. Pharink
3. esopagus
4. Hepar
5. Vesica felea
6. Pankreas
7. Intestinum
8. Rectum

B. Pembahasan
1. Pengamatan morfologi
a.

Morfologi ikan hiu (Charcarias menissorah)


Bentuk tubuh ikan hiu berbentuk torpedo yang mempunyai dua pina dorsalis, yang
masing-masing sebelah posteriornya mempunyai duri, pada ventral terdapat sepasang pina
pectoralis. Pada Ikan hiu otak dan organorgan sensori dibungkus dan dilindungi oleh
kondrokranium. Di bawahnya ada skeleton visceral yang terdiri dari rahang bawah dan
lengkung-lengkung insang. Otot-otot diseluruh tubuh secara terartur bersegmen (metamerik)
disebut mioto. Otot-otot itu bermodifikasi di kepala dan apendiks. Rahang tertutup dengan gigi.
Pada jantan sirip kaudal itu berubah menjadi klasper. Mulut ventral, lubang hidung dua buah ,
disebelah ventral kepala. Mata disebelah lateral. Celah insang 5 buah, di belakang mata. Di
sebelah dorsal depan mata ada spirakulum, yaitu peninggalan celah insang. Lubang kloakadi
antara sirip pelvic. Tubuh tertutup dengan sisik-sisik plakoid yang asalnya homolog dengan gigi.
[1]

b. Morfologi ikan pari (Trygon sephen)


Begitu pula dengan ikan pari dibagian bawahnya terdapat spiracle, pina pectoralis, pina
caudalis, Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii. Ikan ini
dikenal sebagai ikan batoid, yaitu sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor
seperti cambuk. Ikan pari memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala. Sirip dada
ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian

tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti
cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal.
Kelompok ikan sejenis pari, sirip pektoralnya sangat membesar dan menempel sepanjang
tubuh mulai dari bagian belakang kepala sampai didepan sirip pelvik. Bahkan pada ikan elektrik
sirip tersebut menyatu pada ujungnya sebagai alat untuk memancarkan cahaya. Ikan pari
umumnya memiliki dua sirip median dorsal yang letaknya jauh dari ekor, tetapi tidak ada pada
ikan pari berduri (sting ray). Sirip anal jelas tidak ada. Meski sirip ekor tidak ditemukan pada
kebanyakan ikan pari, tetapi berkembang sangat baik pada ikan pari elektrik. Bagian dalam dari
sirip.[2]
2. Anatomi
Ikan hiu ataupun ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang
mirip paru-paru. Sistem ekskresi ikan seperti juga vertebrata lain yang mempunyai banyak fungsi
antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan mengeliminasi sisa
nitrogen hasil dari metabolism protein. Untuk itu berkembang tiga tipe ginjal yaitu pronefros,
mesonefros dan metanefros. Pada ikan hiu fungsi duktus gonad dan ginjal telah berkembang
dilengkapi dengan duktus urinaria. Ginjal ikan harus berperan besar untuk menjaga
keseimbangan garam tubuh. Tidak ada perbedaan prinsip antara mata ikan dan vertebrata lain,
kecuali hanya ada cara akomodasi atau adaptasi spesial akibat cara hidup. Akomodasi atau
kemampuan mata untuk mengatur dengan sendirinya atau mengatur secara otomatis untuk
melihat dekat atau jauh, pada ikan dilengkapi dengan gerakan lensa mata ke samping atau ke
muka belakang sehingga dapat merubah jarak retina yang paling sensitif.ikan hiu yang
merupakan predator, selalu memiliki jarak pandang dan selalu menggerakkan lensa matanya ke
depan atau menjauhi retina untuk melihat obyek agar tampak lebih besar.[3]
Beberapa ikan hiu dan ikan pari, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang
sangat beracun. Sebahagian besar racun itu sendiri adalah toksin berasaskan protein yang
menyebabkan kesakitan pada mamalia dan bias juga mengubah kadar degupan jantung dan
pernafasan. Ada beberapa ikan hiu dan ikan pari yang mempunyai organ luminesen.
Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari berbagai substrat
dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya disebut lusiferin dan enzim yang sangat

sensitive sebagai katalisator oksidasi disebut lusiferase. Organ luminesen (organ yang mampu
menghasilkan sinar) ditemukan pada beberapa ikan hiu, ikan pari berlistrik (Benthobatis
moresbyi) dan beberapa ikan tulang keras khususnya yang tinggal di laut dalam. Adanya organ
yang memproduksi sinar ini dapat digunakan untuk menaksir kedalaman laut, dimana ikan
tersebut tinggal.[4]
3. Sistem Reproduksi
Seks terpisah, alat kelamin jantan terdiri atas sepasang testis terdapat beberapa vasa
efferensia yang menuju vasa differensia. Saluran itu terbentang sebelah bawah ginjal dan
berakhir pada papil urogenitalis. Pada perkawinan sperma tertuang pada kloaka hewan beina
dengan bantuan klasper, alat kelamin betina terdiri atas sebuah ovarium yang menggantung
sebelah dorsal dengan satu merman. Dua buah oviduk akan menjulur sepanjang tubuh, yang
masing-masing pada anterior mempunyai saluran besar di mana sel-sel telur masuk ke dalamnya.
Pada bagian anterior masing-masing saluran melebar sebagai glandulae shell. Pada jenis yang
ovovivipar pada bagian posterior itu mengalami perluasan menjadi uterus yang akan berisi
hewan yang masih muda sekali. Saluran oviduk akan terbuka secara terpisah ke dalam kloaka.[5]
4. Sistem skeleton
Otak dan organorgan sensori dibungkus dan dilindungi oleh kondrokranium. Di
bawahnya ada skeleton visceral yang terdiri dari rahang bawah dan lengkung-lengkung insang.
Vertebrae 2 macam : batang dan ekor, masing-masing dengan lengkung-lengkung neural. Hanya
vertebra kaudal yang berisi lengkung-lengkung neural. Sirip-sirip disokong oleh tulang rawan,
dan bagian distal diperkuat dengan jari-jari keratin. Ada sabuk-sabuk pectoral dan pelvic yang
berturut-turut menyokong sirip-sirip pectoral dan pelvik.[6]
5. Sistem Otot
Otot-otot diseluruh tubuh secara terartur bersegmen (metamerik) disebutmioto. Otot-otot
itu bermodifikasi di kepala dan apendiks. Bentuk tubuh akan bermacam ada yang berbentuk
torpedo, ada juga yang berbentuk pipih bulat, dorso-ventralis, yang berbentuk torpedo
mempunyai dua pina dorsalis yang masing-masing sebelah posteriornya mempunyai duri, pada
ventral terdapat sepasang pina pectorailis.[7]
6. Sistem Pencernaan

Alat pencernaan (tractus digestivus) terdiri atas cavum oris. Phariynx, oesophagus,
ventriculus, intestinum, cloaca, dan anus. Di dalam cavum oris terdapat gigi pada rahang dan
menghadap kea rah belakang guna menahan mangsa yang akan ditelan, lidah (lingua) yang pipih
pada dasar cavum oris. Disebelah menyebal pharyinx terdapat celah-celah insang yang masingmasing terpisah dan lubang pertama disebut spiracle. Lambung berbentuk U dan pada bagian
posterior terdapat otot daging sphincter yang terkenal sebagai sphincter phlorus. Di dalam
intestinum terdapat klep spiral yang berfungsi membantu dalam efesiensi penyerapan zat-zat
makanan. Dalam hal ini menghambat jalannya bahan makanan yang lewat anus. Hepar yang
terdiri atas dua bagian menempati rongga sebelah anterior dan padanya terdapat vesica felea
(kantong empedu) ke dalam intestinum. Kecuali itu terdapat juga glandula pacreaticus dan
kelenjar rectal yang belum diketahui dengan pasti fungsinya.[8]
7. Sistem respirasi
Celah-celah insang lainnya baik dinding anterior maupun posterior mempunyai setengah
insang. Di samping itu ada sisa insang yang disebut pseudobranch pada tiap spirakulum.
Pseudobranch adalah sepasang celah insang pertama dari 6 pasang insang pada waktu embrio.
Air masuk melalui mulut, melewati faring, lalu keluar melewati celah-celah insang. Dengan
membuka menutup mulut ikan hiu menghalau air ke dalam mulut dan menekan ke luar dengan
kekuatan (mulut menutup) melalui celah insang dan spiracle. Insang tersusun atas filament
(lembaran-lembaran) yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Darah dari ventral aorta
akan melalui kapiler tersebut, melepaskan karbon dioksida dan mengikat oksigen yang larut
dalam air, setrusnya melanjutkan ke dorsal aorta mengikuti peredaran yang telah dijelaskan.[9]
8. Sistem Sirkulasi
Pada sistem sirkulasi jantung hanya mempunyai satu atrium dorsal (aurikel) yang
menerima darah dari sinus venosus, dan satu ventrikel ventral yang memompa darah ke konus
arteriosus. Dari konus itu darah selanjutnya menujuaorta ventral yang lalu bercabang-cabang
menjadi 5 buah arteri branchial efferent. Kapiler-kapiler lalu bersatu membentuk aorta dorsalis,
dari sini darah masuk ke dalam seluruh tubuh. Darah vena lalu kembali melalui 2 buah saluran
cuvier dan masuk ke dalalm sinus venosus. Saluran cuvier itu bermuara dalamsinus
venosus melalui vena cardinal anterior dan vena cardinal posterior. Fertilisasi internal ikan hiu

jantan mempunyai alat kopulasi yang disebut clasper. Yang betina mempunyai 2 ovarium di
dekat ujung anterior kavum abdominal. Telur yang masak melepaskan diri, menembus selaput
ovarium, dan masuk ke dalam selom. Telur itu lalu ditarik masuk ke dalam ostium, terus ke
oviduk

menjadi

uterus,

hiu

jantan

memepunyai

testis

spermarozoa

saluran wolfmelalui vas eferen yang banyak jumlahnya.[10]

9. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Ikan hiu (Charcarias menissorah) adalah sebagai berikut :
Kingdom

Animalia

Filum

Chordata

Ordo

Squaliformes

Famili

Charcaridae

Class

Chondrichthyes

Genus

Charcarias

Spesies

Charcarias menissorah.

Adapun klasifikasi dari Ikan pari (Trygon sephen) adalah sebagai berikut :
Kingdom

Animalia

Filum

Chordata

Ordo

Rajiformes

Famili

Tryonidae

Class

Chondrichthyes

Genus

Trygon

mencapai

Spesies

Trygon sephen.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut
1. Struktur morfologi ikan hiu, terdiri skeleton visceral yang terdiri dari rahang bawah dan
lengkung-lengkung insang. Otot-otot diseluruh tubuh secara terartur bersegmen (metamerik)
disebut mioto. Otot-otot itu bermodifikasi di kepala dan apendiks. Rahang tertutup dengan gigi.
Pada jantan sirip kaudal itu berubah menjadi klasper. Mulut ventral, lubang hidung dua buah ,
disebelah ventral kepala. Mata disebelah lateral. Celah insang 5 buah, di belakang mata. Di
sebelah dorsal depan mata adaspirakulum, yaitu peninggalan celah insang. Lubang kloakadi
antara sirip pelvic. Tubuh tertutup dengan sisik-sisik plakoid Pada bagian anatomi terdapat
system pernapasan, system sirkulasi, system pencernaan, system otot, system reproduksi.
2. Struktur morfologi ikan pari memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala. Sirip dada
dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih, bentuk ekor
seperti cambuk, di bagian ventral dan dorsal. Kelompok ikan sejenis pari, sirip pektoralnya
sangat membesar dan menempel sepanjang tubuh mulai dari bagian belakang kepala sampai
didepan sirip pelvik

Bagian anatomi ikan pari tidak jauh beda dengan ikan hiu, terdpat system Beberapa ikan
hiu dan ikan pari, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat beracun.
Sebahagian besar racun itu sendiri adalah toksin berasaskan protein yang menyebabkan

kesakitan pada mamalia dan bias juga mengubah kadar degupan jantung dan system pernapasan,
system sirkulasi, system pencernaan, system otot, system reproduksi
B. Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah agar
praktikan lebih memahami teori-teori sebelum praktikum agar bagian yang diamati lebih mudah
dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell.Neil A. Biologi edisi kelim