Anda di halaman 1dari 23

Sejarah Tanaman Obat

Penggunaan tanaman sebagai obat-obatan telah berlangsung sejak ribuan


tahun yang lalu. Para ahli kesehatan bangsa Mesir Kuno pada 2500 tahun sebelum
masehi telah menggunakan tanaman obat sebagai bahan-bahan untuk mengatasi
penyakit yang sedang mereka alami saat itu. Besarnya resep penggunaan produk
tanaman untuk pengobatan berbagai penyakit, gejala-gejala penyakit, dan
diagnosisnya tercantum dalam Papyrus Ehers.
Bangsa yunani kuno juga banyak menyimpan catatan mengenai
penggunaan tanaman obat, seperti Hyppocrates (466 tahun sebelum masehi),
Theophrastus (372 tahun sebelum masehi) dan Pedanios Dioscorides (100 tahun
sebelum masehi) yang membuat himpunan keterangan terinci mengenai ribuan
tanaman obat dalam De Materia Medica.
Di Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan juga telah
berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi, penggunaannya belum
terdokumentasi dengan baik. Pada pertengahan abad XVII, seorang botanikus
bernama Jacobus Rontius (1592-1631) mengumumkan khasiat tumbuh-tumbuhan
dalam bukunya De Indiae Untriusquere Naturali et Medica. Meskipun hanya 60
jenis tumbuh-tumbuhan yang diteliti , tetapi buku ini merupakan dasar dari
penelitian tumbuh-tumbuhan obat oleh N.A Van Rheede tot Draakestein (16371691) dalam bukunya Hortus Indicus Malabaricus.
Pada tahun 1888, di Bogor didirikan Chemis Pharmacologisch
Laboratorium sebagai bagian dari Kebun Raya Bogor dengan tujuan menyelidiki
bahan atau zat-zat yang terdapat dalam tumbuhan yang dapat digunakan untuk
obat-obatan. Selanjutnya, penelitian dan publikasi mengenai khasiat tanaman
obat-obatan semakin berkembang.

Simplisia Tanaman Obat


Gunawan dan Mulyani (Penebar Swadaya, 2004) menjelaskan bahwa
simplisia merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut bahan-bahan obat

alam yang masih dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk.
Sementara, menurut Departemen Kesehatan RI, simplisia adalah bahan alami
yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun,
kecuali dinyatakan lain (umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan).
Simplisia dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu simplisia nabati, simplisia
hewani, dan simplisia pelican atau mineral.

1. Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian
tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura
folium dan Piperis nigri Fructus. Sedangkan, eksudat tanaman adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan
dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat anda bahan-bahan nabati
lainnya, yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.

2. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat
berguna, yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni,
misalnya minyak ikan (Oleum iecoris Aselli) dan madu (Mel depuratum).

3. Simplisia Pelikan atau Mineral


Simplesia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah anda telah diolah dengan cara sederhana, namun
belum berubah menjadi bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk
tembaga.

Pemberian Nama Simplisia

Berdasarkan penggolongan simplisia, dapat disimpulkan bahwa simplisia


tanaman obat termasuk dalam golongan simplisia nabati. Secara umum,
pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama
spesies diikuti dengan nama bagian tanaman.
Contoh : merica dengan nama spesies Piperis albi, maka nama simplisianya
disebut Piperis albi Fructus. Fructus menunjukkan bagian tanaman yang artinya
buah.
Untuk lebih lengkapnya, perhatikan tabel pemberian nama atau penyebutan
simplisia
Tabel nama latin dari bagian tanaman yang digunakan dalam tata nama
Nama Latin
Bagian Tanamn
Radix
Akar
Rhizome
Rimpang
Tubera
Umbi
Flos
Bunga
Fructus
Buah
Semen
Biji
Lignum
Kayu
Cortex
Kulit Kayu
Caulis
Batang
Folia
Daun
Herba
Seluruh Tanaman

Cara Pembuatan Simplisia


Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam
yang baik dan memenuhi syarat-syarat mutu yang dikehendaki. Dasar pembuatan
simplisia meliputi beberapa tahapan(Gunawan, 2004: 9).
1. Teknik pengumpulan
Pengumpulan

atau

panen

dapat

dilakukan

dengan

tangan

atau

menggunakan alat (mesin). Apabila pengambilan dilakukan secara langsung


(pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si pemetik, agar diperoleh
tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki, misalnya dikehendaki daun yang
muda, maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman
lainnya. misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk
simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa.
Waktu Pengumpulan Atau Panen

Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen, umur
tanaman, bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya. Pada
umumnya waktu pengumpulan sebagai berikut :
1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak,
contohnya, daun Athropa belladonnamencapai kadar alkaloid tertinggi pada
pucuk tanaman saat mulai berbunga. Tanaman yang berfotosintesis diambil
daunnya saat reaksi fotosintesis sempurna yaitu pukul 09.00-12.00.
2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
3. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah
masak.
4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
5. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus), dikumpulkan
sewaktu proses pertumbuhannya berhenti.
Cara pengambilan bagian tanaman dari pohonnya biasanya menggunakan teknikteknik tertentu diantaranya:
1. Klika batang/klika/korteks
Klika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang
dan lebar tertentu, sebaliknya dengan cara berselang-seling dan sebelum jaringan
kambiumnya, untuk klika yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol
gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam.
2. Batang (caulis)
Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong dengan
panjang dan diameter tertentu.
3. Kayu (Lignum)
Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kuliltnya dan potong-potong kecil.
4. Daun (Folium)
Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara manual.
5. Bunga (Flos)
Tergantung yang dimaksud, dapat berupa kuncup atau bunga mekar atau mahkota
bunga atau daun bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan.
6. Akar (Radix)
Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di bawah permukaan tanah,
dipotong-potong dengan ukuran tertentu.
7. Rimpang (Rhizoma)

Tanaman dicabut, rimpang diambil dan dibersihkan dari akar, dipotong melintang
dengan ketebalan tertentu.
8. Buah (Fructus)
Dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda,
dipetik dengan tangan.
9. Biji (Semen)
Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat, biji
dikumpulkan dan dicuci.
10. Bulbus
Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya.
2. Pencucian dan Sortasi Basah
Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia dari
benda-benda asing dari luar (tanah, batu dan sebagainya), dan memisahkan bagian
tanaman yang tidak dikehendaki. Pencucian dilakukan bagi simplisia utamanya
bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar, rimpang), untuk membersihkan
simplisia dari sisa-sisa tanah yang melekat.
3. Pengeringan
Tujuan pengeringan pada tanaman atau bagian tanaman adalah :
1. Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat digunakan dalam
jangka relatif lama.
2. Mengurangi kadar air, sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh jamur atau
bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam jaringan tumbuhan yang selnya
telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak dapat berlangsung, kadar air yang
dianjurkan adalah kurang dari 10 %.
3. Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.
a. Pengeringan alamiah
Tergantung dari kandungan zat aktif simplisia, pengeringan dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu :
1. Sinar matahari langsung, terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu, kulit
biji, biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relatif stabil oleh panas)
2. Diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, umumnya
untuk simplisia bertekstur lunak (bunga, daun dan lain-lain) dan zat aktif yang
dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri).
b. Pengeringan buatan

Cara pengeringan dengan, menggunakan alat yang dapat diatur suhu, kelembaban,
tekanan atau sirkulasi udaranya.
2.1.4 Pemeriksaan Mutu Simplisia
Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pemeriksaan
mutu simplisia adalah sebagai berikut:
a. Simplisia harus memenuhi persyaratan umum edisi terakhir dari buku-buku resmi
yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI seperti Farmakope Indonesia,
Ekstra Farmsakope Indonesia dan Materia Medika Indonesia. Jika tidak tercantum
maka harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut pada paparannya
(monografinya).
b. Tersedia contoh sebagai simplisia pembanding yang setiap periode tertentu harus
diperbaharui
c. Harus dilakukan pemeriksaan mutu fisis secara tepat yang meliputi:
1) Kurang kering atau mengandung air,
2) Termakan serangga atau hewan lain,
3) Ada-tidaknya pertumbuhan kapang, dan
4) Perubahan warna atau perubahan bau. (Gunawan, 2004: 9)
d. Dilakukan pemeriksaan lengkap yang terdiri atas:
1. Identifikasi meliputi pemeriksaan:
a. Organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan simplisia. Dalam
buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan mengenai bentuk dan rasa
yang dimaksudka untuk dijadikan petunjuk mengenal simplisia nabati sebagai
syarat baku.
Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyarian zat berkhasiat, terhadap hasil
mikrosblimasi atau langsung terhadap irisan atau serbuk simplisia ( Depkes RI,
1979: xiii)
b. Mikroskopik, yaitu membuat uraian mikroskopik paparan mengenai bentuk ukuran,
warna dan bidang patahan atau irisan.
c. Mikroskopoik yaitu membuat paparan anatomi penempang melintang simplisia
fragmen pengenal serbuk simplisia.
d. Tetapan fisika, melipti pemeriksaan indeks bias, bobot jenis, titik lebur, rotasi optik,
mikrosublimasi, dan rekristalisasi.
e. Kimiawai, meliputi reaksi warna, pengendapan, penggaraman, logam, dan
kompleks.

f. Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penetapan angka kuman,


pencemaran, dan percobaan terhadap hewan.
2. Analisis bahan meliputi penetapan jenis konstituen (Zat kandungan), kadar
konstituen (Kadar abu, kadar sari, kadar air, kadar logam), dan standarisasi
simplisia.
3. Kemurnian, meliputi kromatografi: kinerja tinggi, lapis tipis, kolom, kertas, dan gas
untuk menentukan senyawa atau komponene kimia tunggal dalam simplisia hasil
metabolit primer dan sekunder tanaman.

RHIZOMA
1.

Nama latin : BOESENBERGIAE RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
(Roxb) sehleat

: Temu Kunci
: Boesenbergiae pandurata

Keluarga
Zat berkhasiat utama

: Zingiberaceae
: Minyak atsiri, damar, pati

Penggunaan

: Antidiare

Pemerian
pahit

: Bau aromatik, rasa agak

Bagian yang digunakan

Keterangan

: Kepingan akar tinggal

-Waktu panen

: Umur 1 tahun

-Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup

2.

Nama latin : CALAMI RHIZOMA

Nama lain
Calamus, Sweetflag

: Dringo, Jaringau ,

Nama tanaman asal

: Acorus calamus (L)

Keluarga

: Araceae

khasiat utama/isi : Minyak atsiri mengandung egenol. asaron.


asaril aldehid. Zat pahit akorin, zat penyamak,
pati, akoretin, tannin. Kadar minyak atsiri tidak
kurang dari 2,5 % v/b
kegunaan
: Bahan pewangi, karminativa,
insektisida,demam nifas
Pemerian
agak pedas.
Bagian yang digunakan
Keterangan

: Bau khas aromatik, rasa pahit,


: Akar tinggal

Waktu panen : Dikumpulkan pada waktu daun mulai


kering,
dibersihkan dari semua bagian tanaman
lain,tetapi tidak dikupas, biasanya diperoleh dari
tanaman berumur 1 tahun. Bila panenan dilakukan
kurang dari 1 tahun hasilnya berkurang, dan bila
lebih dari 1 tahun hasilnya masih dapat
ditingkatkan.
Penyimpanan

3.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : CURCUMAE RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
(Roxb)
Keluarga

: Temu lawak, Koneng gede


: Curcuma xanthorrhiza
: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi


: Minyak atsiri yang
mengandung felandren dan tumerol, zat warna kurkumin,
pati. Kadar minyak atsiri tidak kurang dari 8,2 % b/v
Penggunaan

: Kolagoga , antispasmodika

Pemerian
: Bau khas aromatik, rasa
tajam dan pahit Bagian yang digunakan
: Kepingan
akar tinggal
Keterangan

Waktu panen : Panenan dilakukan apabila daun dan


bagian diatas yang sudah mengering. Untuk daerah yang
musim kemaraunya jelas penanamannya dilakukan pada
musim kemarau berikutnya . Di daerah yang banyak dan
merata curah hujannya
dan tidak jelas musim
kemaraunya tanaman dapat dipanen pada umur 9 bulan
atau lebih. Cara panen dilakukan dengan membongkar
rimpang menggunakan garpu.
Syarat Temulawak kering untuk ekspor sebagai berikut:
Warna

: Kuning jingga sampai coklat

Aroma

: Khas wangi aromatik

Rasa

: Pahit, agak pedas

Kelembaban

: Maksimum 12 %

Abu

: 3 -7%

Pasir

: 1%

Kadar minyak atsiri : minimal 5 %


- Penyimpanan

4.

Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : CURCUMAE AERUGINOSAE RHIZOMA

Nama lain

: Temu hitam

Nama tanaman asal

: Curcuma aeruginosa (Roxb)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Minyak atsiri, pati, damar,

lemak Persyaratan kadar


%

: Minyak atsiri tidak kurang dari 0,3

Penggunaan
karminativa
Pemerian

: Bagian dari jamu, antirematik,


: Bau aromatik lemah, rasa sangat
pahit, lama lama menimbulkan rasa tebal

Bagian yang digunakan


yangdikeringkan

: Kepingan kepingan akar tinggal

Keterangan
- Penyimpanan

5.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : CURCUMAE DOMESTICAE RHIZOMA

Nama lain

: Kunyit , kunir

Nama tanaman asal

: Curcuma domestica (Val)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi


pati, damar
Penggunaan
skabisida
Pemerian
Bagian yang digunakan

: Minyak atsiri, zat warna kurkumin,


: Karminativa, antidiare, kolagoga,

: Bau khas aromatik, agak pedas,


lama lama menjadi tebal
: Akar tinggal

Keterangan
- Waktu panen

: Dilakukan pada waktu berumur 1


tahun atau lebih dari waktu tanam

- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

6.

Nama latin : CURCUMAE HEYNEANAE RHIZOMA

Nama lain

: Rimpang temu giring

Nama tanaman asal

: Curcuma heyneana (Val)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Minyak atsiri, tanin. kurkumin

Persyaratan kadar

: Minyak atsiri tidak kurang dari 1,5 %

Penggunaan

: Antiseptika kulit

Pemerian
Bagian yang digunakan

: Bau khas, rasa pahit, agak pedas,


lama lama rasa tebal
: Rimpang

Keterangan
- Waktu panen

: Dilakukan pada waktu berumur 1


tahun atau lebih dari waktu tanam

- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

7.

Nama latin : CYPERI RHIZOMA

Nama lain

: Rimpang teki , teki

Nama tanaman asal

: Cyperus rotundus L

Keluarga

: Cyperaceae

Zat berkhasiat utama/isi


flavonoida
Penggunaan
Pemerian

Bagian yang digunakan

: Minyak atsiri, alkaloida, glikosida,


: Diuretika, stomakika
: Bau khas aromatik, rasa agak
pedas kemudian pahit,menimbulkan rasa
tebal di lidah
: Rimpang

Keterangan
- Waktu panen

- Penyimpanan

8.

: Dapat diambil setiap saat , setelah


umbi yang ditanam akan mengeluarkan
umbi baru dalam jangka waktu 3 minggu
untuk kemudian akan tumbuh menjadi + / 146 umbi dalam jangka waktu 3,5 bulan
: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : IMPERATAE RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
Keluarga

: Akar alang- alang


: Imperata cylindrica (Beauv)
: Poaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Asam kersik, damar, logam alkali

Penggunaan

: Diuretika, Antipiretika

Pemerian

: Tidak berbau dan tidak berasa

Bagian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Jenis- jenis

:Dikenal 5 varietas :

Varietas mayor ( Nees


Varietas latifolia ( Hook.f )
Varietas africana ( Anders )
Varietas europea (Anders)
Varietas condensata

- Penyimpanan

9.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : KAEMPFERIAE RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
Keluarga

: Kencur
: Kaempferia galanga (L)
: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Alkaloida, minyak atsiri yang


mengandung sineol dan kamferin, mineral
dan pati

Penggunaan

: Ekspektoransia, diaforetika,
karminativa, stimulansia, roboransia

Pemerian

: Bau khas aromatik, rasa pedas,


hangat, agak pahit,akhirnya menimbulkan
rasa pedas

Bagian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Waktu panen

: Pada umur 1 tahun

- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

10.

Nama latin : LANGUATIS RHIZOMA

Nama lain

: Laos, Lengkuas, Galanga Rhizoma

Nama tanaman asal

: Alpina officinarum (Hance), Alpinia


galanga(L), Languas galanga (L)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Minyak atsiri yang mengandung;


metilsinamat, sineol, kamfer dan galangol

Penggunaan

: Bumbu, karminativa, antifungi

Pemerian

: Bau aromatik, rasa pedas

Bagian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Waktu panen

- Penyimpanan

: Pada umur 2,5 4 bulan , agar


diperoleh rimpang muda yang belum
banyak berserat. Cara panen dilakukan
dengan mencabut tanaman , rimpang
dipisahkan dari batang, kemudian dicuci dan
dikeringkan.
: Dalam wadah tertutup baik

11.

Nama latin : ZINGIBERIS RHIZOMA

Nama lain

: Jahe

Nama tanaman asal

: Zingiber officinale ( Roscoe )

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Pati, damar, oleo resin, gingerin,


minyak atsiri yang mengandung
zingeron,zingiberol, zingiberin,borneol,
kamfer, sineol dan felandren

Penggunaan
diaforetika

: Karminativa, stimulansia,

Pemerian

: Bau aromatik, rasa pedas

Bagian yang digunakan


telah dikupas

: Akar tinggal yang sebagian kulitnya

Keterangan
- Waktu panen

: Panenan dapat dilakukan pada


umur 9 12 bulan setelah tanam . Panenan
pada umur 6 bulan dapat dilakukan untuk
mendapatkan rimpang muda, kurang

berserat, yang umumnya dipakai membuat


manisan dan keperluan bumbu dapur.
Panen pada umur 9 12 bulan dilakukan bila
tanaman mulai mengering seluruhnya
sampai sudah rebah rumpun rumpunnya
- Penyimpanan

12.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : ZINGIBERIS AROMATICAE RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
Keluarga
Zat berkhasiat utama/isi

: Lempuyang wangi
: Zingiber aromatica ( Val )
: Zingiberaceae
: Minyak atsiri yang mengandung
zerumbon bumolen, limonen

Penggunaan

: Karminativa, stomakika

Pemerian

: Bau aromatik, rasa pahit B

agian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Waktu panen

- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

13.

Nama latin : ZINGIBERIS LITTORALIS RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal
Keluarga
Zat berkhasiat utama/isi

: Lempuyang pahit
: Zingiber littorale (Val)
: Zingiberaceae
: Minyak atsiri dengan komponen
utama Seskuiterpenketon

Penggunaan

: Stomakik

Pemerian

: Bau aromatik khas, rasa pahit

Bagian yang digunakan


Keterangan

: Akar tinggal
: Mempunyai ukuran rimpang yang
paling kecil, hampir Menyerupai jahe.

Rimpang muda dapat dimakan sebagai


lalap
- Penyimpanan

14.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : ZINGIBERIS PURPUREI RHIZOMA

Nama lain
Nama tanaman asal

: Cassumunar Rhizoma , Bengle


: Zingiber cassumunar ( Roxb), disebut
juga Zingiber purpureum (Roxb)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi


: Minyak atsiri mengandung sineol ;
Damar lunak yang pahit, albuminoid
Penggunaan

: Karminativa,menghangatkan badan

Pemerian

: Bau aromatik khas, rasa agak pahit


dan agak pedas

Bagian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Waktu panen

: Setelah tanaman berumur 1 tahun

- Penyimpanan

15.

: Dalam wadah tertutup baik

Nama latin : ZINGIBERIS ZERUMBETI RHIZOMA

Nama lain

: Lempuyang gajah

Nama tanaman asal

: Zingiber zerumbet (Sm)

Keluarga

: Zingiberaceae

Zat berkhasiat utama/isi

: Minyak atsiri yang mengandung


zerumbon, Sineol, pinen, kariofilen, kamfer

Penggunaan

: Karminativa, stomakik

Pemerian

: Bau aromatik, rasa pedas mirip


mentol, agak pahit.

Bagian yang digunakan

: Akar tinggal

Keterangan
- Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Anda mungkin juga menyukai