Anda di halaman 1dari 2

Edisi 09 05 Agustus 2014

Mati Lampu Bikin Bertaruh Nyawa


Oleh: Roffi, Staf Rayon Ketapang, Area Pamekasan, PLN Distribusi Jawa Timur

Ini adalah kisah nyata setahun lalu dari dua teman pelayanan teknik (Yantek), Andhika (25) dan
Joko (30) yang sedang berjaga di Rayon Ketapang mengisi malam dengan menyaksikan
pertandingan sepak bola di salah satu stasiun televisi. Hingga kemudian terdengar di radio
komunikasi panggilan dari Posko Rayon Bangkalan.
Ketapang kosong, Bangkalan kosong?, tanya petugas Bangkalan.
Okey, silahkan masuk. Ketapang kosong terima?, jawab petugas operator Ketapang.
Recloser Patemon kerja yaa, mohon dilacak untuk penyulang Tanah Merah yang masuk ke
Rayon Ketapang.
Ok mbak, segera meluncur, jawab petugas optel Ketapang.
Petugas optel langsung memerintahkan Andhika dan Joko untuk segera meluncur ke arah
Banyuning melepas Load Break Switch (LBS). Dengan sigap, malam itu mereka berangkat naik
mobil gangguan meluncur ke Banyuning. Perjalanan dilakukan meski dalam hati masih terasa
berat karena pertandingan bola baru setengah jalan. Sementara perjalanan Ketapang ke
Banyuning membutuhkan waktu satu setengah jam. Alamat nggak bisa nonton Barca lagi nih,
kata Joko. Ya mau bagaimana lagi. Namanya tugas. Jangan lupa megger dan stang LBS. Juga
senter, jawab Andhika.
Andhika dan Joko lalu meluncur ke arah penyulang Tanah Merah, memasuki Desa Dupok. Secara
mengejutkan mobil dicegat dua laki-laki berkendaraan sepeda motor. Berhenti, teriak salah
seorang dari mereka.
Joko yang memegang kemudi tak menghiraukan. Dia tetap melajukan mobil. Pencegat bereaksi.
Motor di-gas mengejar mobil. Tepat di depan mobil, motor berhenti. Hei kalian turun. Mana
tanggung jawab PLN. Kenapa listrik di sini sering padam. Sekali padam, nyalanya lama sekali.
Jangan dibuat mainan ya, kata pria tadi yang belakangan diketahui sebagai Kholik, putra Haji
Daki, tokoh masyarakat Dupok.
Ya, ini ada gangguan pak. Kami dari PLN sedang melacak penyebabnya, jawab Andhika.
Alasan saja. Di sini sudah terlalu sering mati lampu. Kalau kita nunggak saja, tidak ada ampun.
PLN langsung main putus. Kalau tidak bisa kerja tidak usah jadi petugas PLN, seru Kholik dengan
nada tinggi.
Entah apa yang ada di pikirannya, sambil terus berteriak marah Kholik mencabut kunci mobil.
Dibawanya kunci itu dengan maksud menyandera mobil. Andhika turun dari mobil dan mengejar

Page 1

Kholik yang ternyata langsung masuk ke rumah. Tak berselang lama Kholik keluar. Kali ini
membawa senjata tajam semacam keris yang diacungkan ke arah Andhika dan Joko. Keributan
itu memancing para tetangga keluar. Bukannya mendinginkan suasana, mereka malah berkata,
Tusuk saja, tusuk Lik.
Andhika langsung mengambil keputusan. Dia bilang tak apa kunci mobil tidak dikembalikan.
Silahkan kuncinya sampeyan pegang, mobilnya juga biar di sini. Silahkan cari sendiri
gangguannya, nyalakan sendiri lampunya kalau sampeyan merasa bisa, kata Andhika mengajak
Joko meninggalkan lokasi itu.
Andhika dan Joko kemudian berjalan kaki menuju ke Kantor Polsek Dupok yang tidak begitu jauh
dari tempat kejadian. Mereka melaporkan insiden itu kepada Wakapolsek Dupok, Darsono.
Tindakan cepat diambil. Wakapolsek bersama seorang anak buahnya mendatangi rumah Kholik.
Setelah dijelaskan secara pelan-pelan dan dilakukan pendekatan persuasif, kunci mobil tersebut
dikembalikan, disertai permintaan maaf dari pihak keluarga Kholik. Tapi mereka mengajukan
syarat supaya lampu cepat dinyalakan dan segera dilakukan sosialisasi kepada warga Dupok
perihal seringnya daerah tersebut mengalami pemadaman. Kunci di tangan, Andhika dan Joko
lalu meneruskan tugas. Sungguh malam menegangkan.
Sekedar diketahui Dupok memang sering padam. Dan jika sudah padam sampai beberapa jam
baru nyala. Itu karena Dupok merupakan section terakhir penyulang Tanah Merah. Untuk
menyiasati agar pemadaman tak lagi terlalu lama keesokannya dipasang disconnecting switch
(DS) di Pasar Dupok. Sejak itu hampir tak ada lagi keluhan dari masyarakat terkait masalah
pemadaman. Malah sekarang jika ada petugas PLN yang datang, mereka menyambut dengan
hangat. Semoga cerita ini bisa menjadi penyemangat dalam bekerja memenangkan Perang
Padam Jawa Bali (PPJB) jilid III. (*)

2013

Page 2