Anda di halaman 1dari 3

Balai benih ikan (BBI) Sawangan adalah unit pelaksanaan teknis dari dinas peternakan dan

perikanan kabupaten Magelang. Memiliki tiga unit lokasi yaitu di desa Sawangan, desa
Krogowangan, dan desa Tlogorejo. Tiap lokasi dilengkapi dengan bangunan dan kolamkolam ikan untuk menunjang kegiatan.
BBI Sawangan memilki beberapa tupoksi, salah satunya adalah pelestarian. Pelestarian yang
dilakukan oleh BBI Sawangan adalah mengenai ikan Beong. Ikan Beong merupakan jenis
ikan yang hidup di sungai. Ikan beong hidup liar di sungai-sungai pada beberapa wilayah di
Indonesia.Ikan Beong yang dibudidayakan di BBI Sawangan adalah ikan yang menjadi ikon
kota Magelang. Ikan Beong ini memiliki habitat asli di sungai Progo sehingga banyak
ditemui di wilayah sepanjang sungai ini. Sayangnya, semakin lama populasi ikan Beong di
sungai Progo mengalami penurunan akibat penangkapan secara liar oleh warga sekitar untuk
dijadikan sebagai kuliner khas kota Magelang. Hal ini diperparah dengan semakin maraknya
bisnis kuliner berbahan ikan khas tersebut yang kemudian menjadi serbuan para wisatawan.
Peningkatan akan jumlah permintaan ikan Beong tidak seimbang denga ketersediaan ikan
Beong di alam karena belum adanya upaya pembudidayaan ikan Beong. Padahal, ikan jenis
ini bisa dibudidayakan di kolam-kolam ikan. Oleh karena kekhawatiran terhadap populasi
ikan Beong yang semakin menyusut, maka BBI Sawangan melakukan upaya budidaya ikan
Beong untuk mendapatkan benih. Upaya yang telah dilakukan oleh BBI Sawangan telah
membuahkan hasil dengan beberapa kali telah melakukan penebaran benih ikan Beong ke
Sungai Progo. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam budidaya ikan Beong terdiri
dari beberapa langkah dari proses pemijahan sampai proses pembesaran.
1. Pemilihan induk
Ikan Beong sekilas menyerupai ikan lele, hanya saja pada ikan beong terdapat
beberapa ciri khas yag membedakannya dari ikan lele. Ikan Beong memiliki ekor
yang bercabang, sementara ekor pada ikan lele tidak bercabang. Ikan Beong juga
memiliki kumis seperti pada ikan lele, hanya saja kumis pada ikan Beong berjumlah 4
pasang yang terdiri dari 2 pasang kumis pendek dan 2 pasang kumis yang memanjang
sampai ke ke sirip perut. Ciri khas lain pada ikan Beong adalah duri atau patil pada
terletak di punggung ada satu buah dan di bagian dada terdapat 2 buah. Duri atau patil
pada ikan Beong ini lebih besar, keras, runcing dan bergerigi jika dibandingkan
dengan patil pada ikan lele. Selain itu, ikan Beong memiliki gigi-gigi kecil yang
berjumlah ratusan terletak pada rahang atas maupun rahag bawah. Ikan Beong
memiliki bentuk tubuh yag bulat dan memipih ke bawah. Untuk membedakan jantan
dan betina dapat didasarkan pada kenampakan bentuk tubuh. Pada yang jantan bentuk
tubuh cenderung lebih ramping sementara pada betina tubuhnya lebih besar. Jika
dilihat dari alat kelaminnya, maka pada yang jantan akan nampak bagian yang
memanjang pada alat kelamin di belakang anus. Sementara pada yang betina, alat
kelaminnya berbentuk bulat. Induk yang digunakan untuk proses pembenihan di BBI
Sawangan, diperoleh dari balai ikan lain. Indukan yang digunakan berusia 3 tahun
dimana pada usia tersebut gonad sudah matang. Induk betina yang sudah siap untuk
proses pemijahan dapat dilihat dari ukuran perut yang tetap besar walaupun tidak
diberi makan selama 2 minggu. Sementara pada yang jantan, untuk mengetahui
matangnya gonad tidak bisa dilakukan dengan cara striping.

2. Pemijahan
Proses kawin pada ikan Beong terjadi pada awal musim hujan. Proses kawin ikan
Beong terjadi pada siang hari dengan kisaran waktu dari jam 07.00 sampai 11.00
sehingga mudah untuk diamati. Hal yang penting dibutuhkan dalam proses pemijahan
ini adalah substrat tempat penempelan telur. Telur ikan Beong sama seperti telur pada
ikan lele dimana telur yang telah dibuahi akan menempel pada substrat. Untuk itu,
pemberian kakaban di dalam kolam pemijahan mutlak diperlukan. Dalam satu kolam
pemijahan, diisi oleh sepasang indukan. Proses kawin pada ikan Beong dimulai
dengan gerakan ikan jantan mendekati betina. Setelah itu, jantan akan meliukkan
tubuhnya, menjepit ikan betina. Ikan betina yang dijepi oleh jantan kemudian akan
mengeluarkan telur. Telur tersebut selanjutnya akan dibuahi oleh jantan. Setelah
kawin, jantan dan betina akan kembali berpisah Jeda waktu dalam satu kali kawin
dengan proses kawin selanjutnya adalah sekitar 15-20 menit. Hal ini bisa berlangsung
sampai 12 kali. Ikan Beong bersifat terestrial sehingga ikan tersebut cenderung
menetap dalam satu tempat. Selama proses kawin, ikan ini juga akan cenderung
menetap dan tidak berpindah. Sehingga apabila dalam satu kolam diletakkan banyak
kakaban, maka kakaban yang akan terisi telur hanya yang terletak di bagian dimana
ikan kawin. Untuk itu, selama jeda kawin dapat dilakukan penggantian kakaban agar
telur tidak menumpuk dalam satu kakaban saja.
3. Penetasan telur
Telur akan menetas setelah 24 jam. Setelah menetas, larva-larva ikan akan berbaris
satu-satu dan menggerombol sampai berumur 3 hari. Pada hari keempat ketika kuning
telur sudah mulai habis, maka ikan akan menyebar dalam rangka mencari makan. Saat
ikan mulai menyebar pada hari keempat ini, maka ikan sudah siap ditebar ke kolam
pembesaran.
4. Pembesaran
Kolam untuk pendederan mulai dipersiapkan pada hari pertama ikan dipijahkan. Pada
saat itu, kolam mulai ditata dan dipersiapkan. Kolam diatur pH nya dan dipupuk
menggunakan pupuk kandang. Untuk dosis pupuk kandang yang diberikan adalah 0,5
kg/m2 jika pupuk dalam keadaan kering atau 1 kg/m2 jika pupuk dalam keadaan basah.
Setelah dipupuk, kolam diisi air 10 cm. Hari kedua, ketiga dan keempat pada
persiapan kolam, air ditambahkan masing-masing setinggi 10 cm sehingga total pada
hari keempat tinggi air dalam kolam mencapai 40 cm. Kemudian pada hari kelima
ikan mulai masuk ke dalam kolam pendederan. Pada hari itu, plankton di dalam
kolam diperkirakan sudah tumbuh. Zooplanton seperti Morina sp dan cacing sutra
sudah tumbuh sebagai sumber makanan bagi ikan. Setelah 4 hari ikan di dalam kolam,
pertumbuhan plankton di kolam akan booming. Ikan yang berumur 8 hari tersebut
sudah tumbuh besar dengan ukuran mulut yang juga lebih besar. Hal ini
memungkinkan ikan untuk memakan plankton dalam jumlah yang lebih banyak
sehingga pada hari ke 6 usia kolam atau umur ikan 10 hari plankton akan habis.
Sehingga umur 2 minggu atau ikan sudah berukuran 3-4 cm mulai dapat diberikan
pakan seperti cincangan daging keong. Setelah berumur sekitar 3 minggu, ikan dapat
diberi pakan pelet dengan memperhatikan proses transisi pemberian pakan dari daging
keong ke pelet. Selain itu, pembesaran ikan Beong bersama ikan nilem mampu

meningktkan pertumbuhan ikan Beong. Dalam hal ini ikan nilem menjadi sumber
pakan daging bagi ikan Beong.
5. Pengendalian hama dan penyakit
Penyakit yang menyerang ikan Beong, sama dengan penyakit pada ikan lain seperti
lele. Untuk penanganan parasit pada ikan, digunakan garam sebanyak 5 kg/1000m 2.
Garam memiliki fungsi untuk merontokkan parasit yang menempel pada tubuh ikan.
Jika tingkat gangguan penyakit sudah tinggi, dapat digunakan malacyt green oksalat
dengan takaran kurang lebih 1 sendok teh/1000 m 2. Pada pemakaian malacyt, ikan
yang terkena parasit hanya dibilas saja dalam larutan tersebut kemudian ikan akan
masuk ke dalam kolam yang baru. Ikan yang mendapat perlakuan malacyt adalah ikan
yang bukan ditujukan untuk konsumsi mengingat bahan kimia tersebut berbahaya dan
dapat terakumulasi dalam tubuh ikan. Oleh karena itu, penggunaan malacyt green
hanya ketika keadaan benar-benar sudah terdesak karena ancaman kematian pada
ikan-ikan yang akan menjadi indukan serta dalam jumlah sedikit.
-

Ikan Beong tidak tahan pada kadar oksigen rendah


Air mengalir
Ikan Beong hidup di air yang keruh
Di air bening, ikan beong saling menyerang dan menggigit
Penyakit: 21 hari ahrus pindah kolam, karena kondisi air sudah jelek, yg muncul
adalah parasit