Anda di halaman 1dari 15

NOONA MAHAR

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

Oleh

Sri Muntiqoh
Desi Ammanda
Riska Ayu Septini
Budi Dharmala Saputra
Rahmat Maulana Yasin

H1E013001
H1E013003
H1E013008
H1E013032
H1E013034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PURWOKERTO
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Makalah
NOONA MAHAR dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kewirausahaan. Tulisan ini membahas tentang jenis usaha jasa pada bidang
mahar pernikahan.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Sri Murni Setyawati, M.M., Ph.D. Selaku Dosen mata kuliah
Kewirausahaan.
2. Rusi Inda Rahmatika, sebagai narasumber.
3. Kedua orang tua dan seluruh kerabat dekat yang selalu memberikan
semangat dan bantuan baik dalam bentuk material maupun nonmaterial.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih kurang dari
sempurna, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikan di masa yang akan datang.

Purwokerto, 15 April 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1.

Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2.

Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3.

Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3


2.1.

Kewirausahaan ......................................................................................... 3

2.2.

Adat Istiadat Pernikahan di Indonesia ...................................................... 4

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 8


3.1.

Hasil Wawancara ...................................................................................... 8

3.2.

Pembahasan .............................................................................................. 8

BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 11


4.1.

Kesimpulan ............................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada dasarnya pernihakan adalah salah satu tujuan yang pastinya dimiliki
oleh setiap manusia yang hidup di dunia. Pernikahan merupakan hubungan cinta,
kasih sayang dan kesenangan. Sarana bagi terciptanya kerukunan dan kebahagiaan.
Tujuan ikatan pernikahan adalah untuk dapat membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal. Maka untuk menegakkan keluarga yang bahagia dan menjadi sendi dasar
dari susunan masyarakat, suami istri memikul suatu tanggung jawab dan kewajiban.
Pernikahan pada hakekatnya merupakan bentuk kerjasama kehidupan antara pria
dan wanita di dalam masyarakat dibawah suatu peraturan khusus atau khas dan hal
ini sangat diperhatikan baik oleh Agama, Negara maupun Adat, artinya bahwa dari
peraturan tersebut bertujuan untuk mengumumkan status baru kepada orang lain
sehingga pasangan ini diterima dan diakui statusnya sebagai pasangan yang sah
menurut hukum, baik agama, negara maupun adat dengan sederatan hak dan
kewajiban untuk dijalankan oleh keduanya sehingga pria itu bertindak sebagai
suami sedangkan wanita bertindak sebagai istri.
Pernikahan khususnya di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya
beragama islam, biasanya di awali dengan adanya suatu pesta pernikahan yang
didalamnya dilaksanakan acara ijab qabul. Setiap pasangan yang akan melakukan
pesta pernikahan tentunya ingin pesta pernikahan mereka menjadi pesat pernikahan
yang sangat istimewa dan akan dikenang selama hidup mreka sampai akhir hayat.
Banyak faktor yang dapat dijadikan komponen untuk membuat pernikahan itu akan
menjadi terasa istimewa. Salah satunya hal kecil namun mempengaruhi
keistimewaan dari pernikahan itu adalah mahar atau mas kawin yang diberikan
pihak mempelai pria kepada mempelai wanita. Mahar adalah hal yang wajib
diberikan pihak mempelai pria kepada wanita.
Pada saat ini banyak berkembang usahha-usaha rumahan yang menawarkan
jasa pembuatan mahar. Usaha ini menyediakan jasa untuk pembuatan suatu mahar
yang unik tentunya untuk sebuah pernikahan. Pada makalah ini kami akan
1

membahas salah satu pengusaha penyedia jasa pembuatan mahar pernikahan yang
berada di Purwokerto. Salah satu seorang pengusaha penyedia jasa pembuatan
mahar penikahan yang akan kita wawancarai adalah salah seorang mahasiswa yang
masih tercatat aktif di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman yang
tentunya mempunyai usaha di bidang tersebut.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana awal mula berkembangnya usaha jasa pembuatan mahar ini ?
2. Kendala apa saja yang pernah dihadapi selama melakukan usaha ini ?
3. Bagaimana solusi yang dilakukan dalam menghadapi setiap kendala?
4. Bagaimana rencana dan prospek kedepannya dari usaha tersebut ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui awal mula berkembangnya usaha tersebut.
2. Mengetahui kendala apa saja yang pernah dihadapi.
3. Mengetahui solusi pengusaha dalam menghdapi setiap masalah.
4. Mengetahui prospek usaha penyedia jasa pembuatan mahar untuk
kedepannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah kemampuan seorang manajer resiko (risk manager)
dalam mengoptimalkan segala sumber daya yang ada, baik itu materil, intelektual,
waktu, dan kemampuan kretivitasnya untuk menghasilkan suatu produk atau usaha
yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Pengertian kewirausahaan secara
umum adalah kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang
baru atau kreatif dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai
lebih. Secara harfiah Kewirausahaan terdiri atas kata dasar wirausaha yang
mendapat awalan ked an akhiran an, sehingga dapat diartikan kewirausahaan adalah
hal-hal yang terkait dengan wirausaha. Sedangkan wira berarti keberanian dan
usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau non-komersial, Sehingga
kewirausahaan dapat pula diartikan sebagai keberanian seseorang untuk
melaksanakan suatu kegiatan bisnis (Hitrich, 1995).
Menurut Drs. Joko Untoro bahwa kewirausahaan adalah suatu keberanian
untuk melakukan upaya upaya memenuhi kebutuhan hidup yang dilakukan oleh
seseorang, atas dasar kemampuan dengan cara manfaatkan segala potensi yang
dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain
Dalam buku Entrepreneurial Finance oleh J.Leach Ronald Melicher bahwa
kewirausahaan adalah sebuah proses dalam merubah ide menjadi kesempatan
komersil dan menciptakan nilai (harga) "Process of changing ideas into commercial
opportunities and creating value". Dalam buku Entrepreneurship: Determinant and
Policy in European-Us Comparison bahwa kewirausahaan adalah proses
mempersepsikan, menciptakan, dan mengejar peluang ekonomi "process of
perceiving, creating, and pursuing economic opportunities". Akan tetapi dikatakan
dalam buku tersebut, bahwa proses dari kewirausahaan itu sendiri sulit untuk
diukur. Dalam melakukan usaha, sebenarnya ada peluang yang berada disekitar
kita,tetapi kebanyakan orang tidak mampu melihat kondisi serta kondisi bahwa ada
peluang atau tidak kah dengan apa yang ada disekitar kita.Hal ini dikarenakan
kurangnya sosialisasi serta kurangnya informasi yang memungkinkan seseorang

mampu mengetahui ada atau tidaknya peluang usaha yang mampu dikembangkan
disekitar kita.
2.2. Adat Istiadat Pernikahan di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi dan budaya tak
terkecuali adat istiadat dan kebudayaan dalam acara pernikahan. Dari sabang
sampai merauke mempunyai caranya tersendiri dalam melakukan pernikahan.
Semua adat-istiadat itu tentunya mempunyai nilai esensi dan memiliki nilai kearifan
lokal yang sangat tinggi yang perlu kita lestarikan. Berikut beberapa contoh adat
pernikahan dari beberapa daerah yang ada di Indonesia,
1. Adat Kebudayaan daerah Yogyakarta
Budaya pernikahan di Yogyakarta memimiliki beberapa alur yang meski
dijalani secara berurutan yaitu
a. Nontomi
Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan
dikawininya. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal
terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan kadang-kadang belum
pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu
dan mengenal atau pernah melihatnyaAgar ada gambaran siapa jodohnya
nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai
pihak pria. Setelah orang tua si perjaka yang akan diperjodohkan telah
mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil
menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau
penyelidikan secara rahasia.Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan
siperjaka sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan
musyawarah di antara orang tua / pinisepuh si perjaka untuk menentukan
tata cara lamaran.
b. Upacara lamaran
Melamar artinya meminang, karena pada zaman dulu di antara pria dan
wanita yang akan menikah kadang-kadang masih belum saling mengenal,
jadi hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan
kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon

suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas
persetujuan bersama.
c. Upacara Tarub
Tarub adalah hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang
dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa
yang hijau). Pemasangan tarub biasanya dipasang saat bersamaan dengan
memandikan calon pengantin (siraman, Jawa) yaitu satu hari sebelum
pernikahan itu dilaksanakan. Untuk perlengkapan tarub selain janur
kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan.
d. Upacara Nyantri
Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga
pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria
ini akan ditempat kan dirumsh saudara atau tetangga dekat. Upacara
nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan,
sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon
pengantin pria sudah siap dit3empat sehingga tidak merepotkan pihak
keluarga pengantin putri.
e. Siraman
Upacara Siraman Siraman dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi.
Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang
mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni.
f. Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari
yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya.
Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam
24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak
boleh tidur.
g. Langkahan
h. Ijab qabul
i. Panggih

2. Adat pernikahan daerah Jawa Barat (Sunda)


Pernikahan adat Sunda saat ini lebih disederhanakan, sebagai akibat
percampuran dengan ketentuan syariat Islam dan nilai-nilai "keparaktisan" dimana
"sang penganten" ingin lebih sederhana dan tidak bertele-tele. Adat yang biasanya
dilakukan meliputi : acara pengajian, siraman (sehari sebelumnya, acara "seren
sumeren" calon pengantin. Kemudian acara sungkeman, "nincak endog (nginjak
telor), "meuleum harupat"( membakar lidi tujuh buah), "meupeuskeun kendi"
(memecahkan kendi, sawer dan "ngaleupaskeun "kanjut kunang (melepaskan
pundi-pundi yang berisi uang logam). Acara "pengajian" yang dikaitkan dan
menjelang pernikahan tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. namun ada beberapa
kalangan yang menyatakan bahwa hal itu suatu kebaikan dengan tujuan
mendapatkan keberkahan dan ridho Allah Swt yaitu melalui penyampaian "do'a".
Siraman, merupakan simbol kesangan orang tua terhadap anaknya sebagaimana
dulu "anaknya ketika kecil" dimandikan kedua orang tuanya. Pada siraman itu,
keduaorang

tua

menyiramkan

air

"berbau

tujuh

macam

kembang"

kepada tubuh anaknya. Konon acara siraman itu dilakukan pula terhadap calon
penganten lelaki di rumahnya masing-masing. Syaerat islam tidak mengajarkan
seperti itu tapi juga tidak ada larangannya. Asalkan pada acara siraman itu, si calong
pengantenperempuan tidak menampakan aurat (sesuai ketentuan agama Islam).
Untuk acara sungkeman yang dilakukan setelah "acara akad nikah" dilakukan oleh
kedua mempelai kepada kedua orang tuanya masing-masing dengan tujuan mohon
do'a restu atas akan memulainya kehidupan "bahtera rumah tangga". Sungkeman
juga dilakukan kepada nenek dan kake atau saudaranya masing-masing.
Acara adat saweran yaitu, dua penganten diberi lantunan wejangan yang isinya
menyangkut bagaimana hidup yang baik dan kewajiban masing-masing
dalam rumahtangga. Setelah diberi lantunan wejangan, kemudian di "sawer"
dengan uang logam, beras kuning, oleh kedua orang tuanya. Nincak endog yaitu
memecahkan telor oleh kaki pengantin priya dengan maksud, bahwa "pada malam"
pertamanya itu, ia bersama isterinya akan "memecahkan" yang pertama kali dalam
hubungan suami isteri. Kemudian acara lainnya yaitu membakar tujung batang lidi
(masing-masing panjangnnya 20 cm) dan setelah dibakar, dimasukan ke air yang

terdapat dalam sebuah kendi. Setelah padam kemudian di potong bagi dua dan lalu
dibuang jauh-jauh. Sedangkan kendinya dipecahkan oleh kedua mempelai secara
bersama-sama. Acara terakhir adat Sunda , yaitu, "Huap Lingklung dan huap
deudeuh ("kasih sayang). Artinya, kedua pengantin disuapi oleh kedua orang tuanya
smasing-masing sebagai tanda kasih sayang orang tua yang terakhir kali. Kemudian
masing-masing mempelai saling "menyuapi" sebagai tanda kasih sayang. Acara
haup lingkun diakhir dengan saling menarik "bakakak" (ayam seutuhnya yang telah
dibakar. yang mendapatkamn bagian terbanyak "konon akan" mendapatkan rezeki
banyak. Setelah acara adat berakhir maka kedua mempelai beserta keluarganya
beristirahat untuk menanti acara resepsi atau walimahan.
3. Mahar Pernikahan
Mahar atau mas kawin adalah harta atau pekerjaan yang diberikan oleh seorang
laki-laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan
menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan ketetapan
dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin sering disebut dengan
istilah mahar, shadaq, faridhah danajr. Mas kawin disebut dengan mahar yang
secara bahasa berarti pandai, mahir, karena dengan menikah dan membayar mas
kawin, pada hakikatnya laki-laki tersebut sudah pandai dan mahir, baik dalam
urusan rumah tangga kelak ataupun dalam membagi waktu, uang dan perhatian.
Mas kawin juga disebut shadaq yang secara bahasa berarti jujur, lantaran dengan
membayar mas kawin mengisyaratkan kejujuran dan kesungguhan si laki-laki untuk
menikahi wanita tersebut. Mas kawin disebut dengan faridhah yang secara bahasa
berarti kewajiban, karena mas kawin merupakan kewajiban seorang laki-laki yang
hendak menikahi seorang wanita. Mas kawin juga disebut dengan ajran yang secara
bahasa berarti upah, lantaran dengan mas kawin sebagai upah atau ongkos untuk
dapat

menggauli

isterinya

secara

halal.

Para

ulama

telah

sepakat

bahwa mahar hukumnya wajib bagi seorang laki-laki yang hendak menikah, baik
mahar tersebut disebutkan atau tidak disebutkan sehingga si suami harus membayar
mahar mitsil. Oleh karena itu, pernikahan yang tidak memakai mahar, maka
pernikahannya tidak sah karena mahar termasuk salah satu syarat sahnya sebuah
pernikahan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Wawancara
Dari wawancara diperoleh :
1. Nama Usaha

: Noona Mahar

2. Jenis Usaha

: Jasa

3. Nama Pemilik

: Rusi Inda Rahmatika

4. Omset tiap bulan : Rp60.000.000,00


5. Laba tiap bulan : Rp20.000.000,00
6. Contoh hasil jasa :

Gambar 1. Contoh hasil jasa noona mahar

3.2. Pembahasan
Dalam wawancara telah diketahui bahwa sejarah narasumber dalam membuka
usahanya tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tentunya semua
berwal dari ketidaksengajaan. Pada awalnya narasumber hanyalah seorang
mahasiswa yang mencoba bekerja sambilan sebagai pengajar les pelajar yang
membutuhkan jasanya, bahkan narasumber sudah sempat membuka suatu tempat
bimbingan belajar sendiri. Dalam memulai bisnisnya pun selain karena
ketidaksengajaan, narasumbe yang kami wawancrai pun memulai usahanya dengan

modal keberanian. Berawal dari kiriman seorang netizen dalam sebuah jejaring
sosial dimana dia sedang membutuhkan suatu mahar untuk pernikahan maka
narasumber pun memberanikan diri untuk menawarkan diri sebagai penyedia maha
pernikahan. Dengan modal keberanian dan jiwa seni yang dia miliki dia berhasil
menyelesaikan pesanan pelanggan pertamanya tersebut. Berawal dari sinilah
narasumber memounyai keberanian lebih untuk memeng benar terjun langsung
dalam usaha jasa penyedia mahar pernikahan ini.
Dalam perjalanannya tentunya usaha ini bukan tanpa kendala , dalam memulai
usahanya narasumber mempunyai modal nol rupiah. Dia hanya mengandalkan uang
muka dari pelanggan pertama untuk menyelesaikan pesanan mahar yang diminta.
Selanjutnya dia pun mencoba cara marketing lain dengan mencoba mencari koneksi
yang seluas-luasnya dengan cara menambah pergaulan pertemannya dari pekerja
serabutan hingga karyawan bank dia mempunyai kenalan disana. Hal ini tentunya
menjadi salah satu kunci dalam mempromosikan usahanya. Selain itu pula kendala
yang biasa dia temui dalam menjalankan bisnis ini adalah ketika permintaan mahar
yang diminta pelanggan tidak sesuai dengan harga yang ada dikarenakan kenaikan
harga bahan baku di lapangan yang sulit siprediksikan. Dalam kasus inilah insting
bisnisnya mulai digunakan. Dia mencoba mencari cara agar dengan dana yang
secukupnya namun bisa memenuhi kebutuhan yang diminta pelanggan. Salah satu
caranya adalah dengan mencari suatu bahan baku pengganti yang lebih murah
namun tidak merubah konsep mahar yang diminta oleh pelanggan. Itu merupakan
salah satu solusi juga yang ia punyai. Dalam hal mempromosikan usaha ini bukan
tanpa masalah juga. Sebelum berkembangnya media sosial seperti sekarang
narasumber sempat terkendala dengan masalah pemasaran, sehingga ia harus
berkeliling dalam mencari pelanggan. Namun di era sekarang ketika media sosial
sudah berkembang pesat media untuk mempromosikan usahanya bukanlah
merupakan kedala yang sulit.
Berbicara tentang masalah pernikahan tentunya tidak setiap saat ada
pernikahan, ada masa dimana ketika pernikahan itu banyak dilaksanakan (musim
nikah) ada masanya ketika yang melakukan pernikahan itu sepi. Narasumber
mencari cara agar bagaimana bisnis ini tetap berjalan dengan keadaan yang

10

demikian yaitu dengan melakukan pre order minimal 4 bulan sebelum pernikahan.
Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pesanan yang menumpuk
mendekati hari dilaksanakan pernikahan tersebut. Seiring berjalannya waktu dan
bertambah dewasanya usaha yang telah dilakukan sekarang bisnisnya pun sudah
berkembang pesat. Dalam penjualan online dirinya sudah mempunyai dua
onlineshop yang dia kelola sendiri. Untuk omset tiap bulannya bisa mencapai
Rp.60.000.000 - Rp.120.000.000.
Untuk kedepannya narasumber akan membuka suatu galeri tersendiri agar
pelanggan dapat dengan mudah datang ke galerinya dan bisa melihat hasil karya
mahar-mahar pernikahan yang pernah diciptakan. Narasumber juga berencana akan
membuka cabang galeri di beberapa tempat yang masih mudah dijangkau dari
Purwokerto agar pengontrolannya pun dapat dilakukan dengan mudah barulah
kedepannya dia mempunyai mimpi untuk membuka galeri mahar di kota-kota
wisata seperti Bali dan Lombok dengan target pasar wisatawan baik dalam negeri
atau mancanegara.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1. Berawal dari kiriman seorang netizen dalam sebuah jejaring sosial dimana
dia sedang membutuhkan suatu mahar untuk pernikahan maka narasumber
pun memberanikan diri untuk menawarkan diri sebagai penyedia maha
pernikahan.
2. Kendala yang pernah dihadapai antara lain:
Modal usaha nol rupiah.
Bahan baku yang naik yang tidak sesuai dengan harga mahar.
Promosi yang sulit sebelum perkembangan media sosial yang pesat.
Pernikahan yang tidak selalu ada setiap saat atau musiman.
3. Solusi dari kendala yang dihadapi antara lain:
Mengandalkan uang pelanggan untuk modal pembuatan mahar.
Mencari bahan baku yang lbih murah tetapi tidak mengubah konsep
mahar.
Saat ini promosi dilakukan melalui media sosial atau onlineshop.
Melakukan pre-order minimal 4 bulan sebelum pernikahan.
4. Kedepannya akan dibuka galeri mahar di beberapa kota sekitar purwokerto
dan selanjutnya di kota-kota wisata untuk target pasar wisatawan dalam
negeri ataupun mancanegara.

11

DAFTAR PUSTAKA
Hitrich, R. &. (1995). Entrepreneurship: Starting, Developing and Managing A
New Enterprises. New York: Mc Graww-Hill.

12