Anda di halaman 1dari 24

TUGAS 1 TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR (TPPA)

AIR INDUSTRI DAN BAKU MUTU AIR LIMBAH

Disusun oleh :
Cyrilla Oktaviananda
14/376450/PTK/10153

MAGISTER TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016

1. AIR INDUSTRI
Air yang ada di sekitar kita sangat bermanfaat untuk kehidupan. Didunia industri pun
sebagian besar bahan yang dibutuhkan adalah air. Air sangat vital dibutuhkan karena sifat dan
karakteristik dari air yang sangat menunjang untuk proses kimia.
Berbagai jenis operasi di industri membutuhkan air yang disebut air industri. Air industri
ini meliputi: air proses, air umpan boiler, air pendingin (cooling water), air sanitasi dan air
limbah. Kelima jenis air ini memerlukan tingkat pengolahan yang berbeda dan secara umum
tingkat pengolahan air industri, akan tergantung pada sumber air darimana air baku diambil dan
juga maksud penggunaan terhadap air hasil olahan tersebut. Pada prinsipnya, pengolahan air
bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi zat yang terkandung dalam air yang berada
dalam bentuk terlarut (ion), bentuk tersuspensi ataupun bentuk koloid hingga dicapai kualitas air
yang memenuhi dengan persyaratan sesuai dengan maksud penggunaannya.
A. Air Proses
Air dari utilitas yang sudah di treatment bebas mineral pengotor dan pH netral sehingga
bisa digunakan untuk melarutkan atau mengencerkan zat dalam proses reaksi kimia. Pada
umumnya air untuk proses dari kegiatan industri diperuntukan sebagai pelarut, pencampur,
pengencer, media pembawa pencuci dan lainnya. Dengan kualitas air proses yang berbeda
tergantung fungsinya dan sangat ditentukan oleh jenis industri lainnya. Parameter - parameter
yang dianggap penting sangat berbeda pada kegiatan industri yang berbeda, demikian pula
jumlah air yang diperlukan untuk setiap produk yang dihasilkan sangat berbeda. Sebagai contoh:
pada industri kertas memerlukan air proses sekitar 70-90% dari total kebutuhan air untuk
kegiatan industrinya. Demikian juga untuk industri tekstil kebutuhan air untuk industri proses
mencapai persentasi yang sama untuk industri kertas. Sedang pada industri sabun kebutuhan air

prosesnya tidak sebesar industri kertas dan tekstil yaitu sekitar 30-50% dari total kebutuhan
airnya dan untuk industri ban kebutuhan air proses sangat rendah sekitar 5-10% dari kebutuhan
air.
Besi dan mangan merupakan parameter penting pada industri tekstil karena kehadiran
industri besi dan mangan akan mengganggu dalam proses pewarnaan dan memberikan flek atau
noda pada lembar kertas/ tekstil. Demikian pula kesadahan merupakan parameter penting untuk
industri tekstil disamping parameter- parameter lain seperti alkalinitas, silika, padatan terlarut
dan lainnya.
B. Air Umpan Boiler (Boiler feed water)
Secara umum air yang akan digunakan sebagai air umpan boiler adalah air yang tidak
mengandung unsur yang dapat menyebabkan terjadinya endapan yang dapat membentuk kerak
pada boiler, air yang tidak mengandung unsur yang dapat menyebabkan korosi terhadap boiler
dan sistem penunjangnya dan juga tidak mengandung unsur yang dapat menyebabkan terjadinya
pembusaan terhadap air boiler. Oleh karena itu untuk dapat digunakan sebagai air umpan boiler
maka air baku dari sumber air harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu yang bertujuan untuk
menghilangkan unsur-unsur atau padatan yang terkandung didalam air baik dalam bentuk
tersuspensi, terlarut, ataupun koloid yang dapat menyebabkan terjadinya kerak, korosi dan
pembusaan dalam boiler. Disamping itu senyawa organik dapat menyebabkan berbagai masalah
dalam operasi boiler.
Kualitas air umpan boiler juga dipengaruhi oleh kondisi operasi boiler, dimana semakin
tinggi tekanan dan temperature operasi maka semakin murni kualitas air umpan yang diperlukan.
Batasan terhadap nilai parameter-parameter penting untuk air umpan boiler, sering ditentukan

oleh pihak pembuat alat, atau dapat mengacu pada criteria dari badan-badan International seperti
ASME dan ABMA.
Boiler adalah tungku dalam berbagai bentuk dan ukuran yang digunakan untuk
menghasilkan uap dengan cara penguapan air untuk dipakai pada pembangkit tenaga listrik lewat
turbin, proses kimia, dan pemanasan dalam produksi, dll. Dalam istilah lain biasa disebut ketel
uap yaitu alat untuk menghasilkan uap, yang terdiri dari dua bagian utama yaitu sisi api sebagai
penyedia panas dan sisi air sebagai bagian untuk proses penguapan air menjadi uap. Uap
kemudian keluar dari boiler untuk digunakan dalam berbagai aplikasi seperti pemanas, turbin,
dll. Boiler feed water merupakan campuran dari Air Make-up (Air baku yg telah di olah) dengan
Air kondensat yang merupakan hasil kondensasi upa yang telah dipakai. Air make-up adalah air
baku yang telah diolah melalui suatu proses.
Kondensat adalah hasil kondensasi uap (steam) yang telah dipakai dan kulaitas kondensat
relatif murni. Boiler feed water yang merupakan sampuran dari air make-up dan kondensat
komposisi ion-ion nya bervariasi tergantung pada ratio perbandingan air make-up / kondensat
yang dipergunakan. Pada proses penguapan dalam ketel uap, air menjadi uap. Uap yang
dihasilkan adalah air murni dalam fasa uap (H2O) dimana ion-ion yang terkandung dalam air
boilernya tidak turut menguap. Sebagai akibatnya, konsentrasi ion-ion yang berada dalam fasa
cairnya (air boiler) semakin lama akan semakin tinggi dimana apabila hal ini tidak dikendalikan
kenaikan konsentrasi ion-ion tersebut akan menuju bilangan tak terhingga,sehingga
konsekwensinya pengerakan pada pipa pipa boiler tidak akan bisa dihindarkan. Pengendalian
ion-ion dalam air boiler tersebut pada sistem boiler dilakukan dengan membuang sebagian dari
air boiler secara kontinyu dan disebut sebagai blow-down; Tujuan blow-down adalah untuk

menjaga agar ion-ion yang ada dalam air boiler tidak melebihi batasan batasan yang telah di
tentukan.
Batasan batasan air boiler (disebut sebagai parameter air boiler) dapat dilihat pada table
dibawah ini:
Tabel 1.1 Parameter air boiler
Parameter
pH
Conductivity
TDS
P Alkalinity
M Alkalinity
O Alkalinity
T. Hardness
Silica
Besi
Phosphat residual
Sulfite residual
pH condensate

Satuan
Unit
mhos/cm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
ppm
Unit

Pengendalian Batas
10.5 11.5
5000, max
3500, max
800, max
2.5 x SiO2, min
150, max
2, max
20 50
20 50
8.0 9.0

(Sumber: http://vionaadistie.blogspot.com/2011/01/air-industri-air-boiler.html)

Ketidaksesuaian kriteria air umpan boiler menurut baku mutu diatas akan mempengaruhi
berbagai hal, misalnya :
1. Korosi
Korosi adalah peristiwa elektrokimia, dimana logam berubah menjadi bentuk asalnya akibat
dari oksidasi yang disebabkan berikatannya oksigen dengan logam, atau kerugian logam
disebabkan oleh akibat beberapa kimia.

Beberapa penyebab korosi pada Boiller antara lain:


a. Adanya kadar Oksigen Terlarut yang melebihi batas pada Boiler feed water (korosi pada
pipa economizer)

b. pH/Alkalinity yang melebihi batasan (Korosi pH tinggi pada Boiler tekanan tinggi)
c. Karbon dioksida (korosi asam karbonat pada jalur kondensat)
d. Korosi khelate (EDTA sebagai pengolahan pencegah kerak)
e. Akibat dari peristiwa korosi adalah penipisan dinding pada permukaan boiler sehingga
dapat menyebabkan pipa pecah atau bocor.
2.

Kerak ( Scale)
Pengerakan pada sistem boiler disebabkan antara lain oleh:
a. Pengendapan hardness dan mineral-mineral lainnya apabila batasan konsentrasinya
terlampaui.
b. Kerak lazim terdapat pada boiler antara lain : CaCO 3, Ca3(PO4)2, Mg(OH)2, MgSiO3,
SiO2, Fe2(CO3)3, FePO4. Kerak adalah senyawa berstruktur kristal dan tidak tembus air,
sehingga keberadaanya akan berfungsi seperti isolator dan menurunkan effisiensi
perpindahan panas sehingga effisiensi boiler akan menjadi rendah dan akan lebih banyak
mengkonsumsi bahan baker; Konsekwensi lain dari adanya kerak adalah terjadinya hot
spot yaitu panas yang berlebih pada tempat kerak berada dan hal ini bisa mengakibatkan
pipa boiler menggelembung dan pecah.

3. Endapan (Foculant)
Endapan (foculant) adalah hasil pengendapan dari partikel tersuspensi (suspended solid);
Endapan berstruktur porous dan tembus air, sehingga akibat yang ditimbulkan dari
adanya endapan berbeda dengan akibat dari adanya Kerak; Endapan menyebabkan
terjadinya korosi yang sangat destruktif di bawah endapan tersebut dan akan menyebabkan
kebocoran pipa dalam waktu relatif singkat.
Beberapa contoh endapan yang umum terdapat pada boiler adalah:
a. Besi Hydroxide (Fe(OH)3) dimana ion Fe nya berasal dari hasil korosi.

b. Partikel padat tersuspensi dari feedwater (Lumpur & kotoran lain) yang terbawa dalam
feedwater.
c. Dari peristiwa- peristiwa ini mengakibatkan terbentuknya endapan pada pipa boiler,
menyebabkan terjadinya korosi dibawah endapan dan kebocoran pada pipa.

C. Air Pendingin (Cooling Water)


Sistem pendinginan adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya over heating (panas
yang berlebihan) pada mesin agar mesin bisa bekerja secara stabil. Air pendingin adalah air
limbah yang berasal dari aliran air yang digunakan untuk penghilangan panas dan tidak
berkontak langsung dengan bahan baku, produk antara dan produk akhir (KEP49/MENLH/11/2010).Sistem air pendingin merupakan bagian yang terintegrasi dari proses
operasi pada industri. Untuk produktifitas pabrik yang kontinu, sistem tersebut memerlukan
pengolahan kimia yang tepat, tindakan pencegahan, dan perawatan yang baik. Kebanyakan
proses produksi pada industri memerlukan air pendingin untuk efisiensi dan operasi yang baik.
Air pendingin sistem mengontrol suhu dan tekanan dengan cara memindahkan panas dari fluida
proses ke air pendingin yang kemudian akan membawa panasnya. Total nilai dari proses
produksi akan menjadi berarti jika sistem pendingin ini dapat menjaga suhu dan tekanan proses
dengan baik. Memonitor & mengatur korosi, deposisi, pertumbuhan mikroba, dan sistem operasi
sangat penting untuk mencapai Total Cost of Operation (TCO) yang optimal.
Air pendingin mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap efisiensi total engine serta
umur engine. Apabila temperatur air pendingin masuk engine terlalu tinggi, maka efisiensi
mekanis engineakan menurun dan dikhawatirkan dapat terjadi over - heatingi pada engine.
Sedang bila temperatur air terlalu rendah, maka efisiensi termal akan menurun (Handoyo, 1999).

Proses pendinginan melibatkan pemindahan panas dari satu substansi ke substansi yang lain.
Substansi yang kehilangan panas disebut cooled, dan yang menerima panas disebut coolant.
Beberapa faktor yang membuat air menjadi coolant yang baik adalah :
1. Sangar berlimpah dan tidak mahal.
2. Dapat ditangani dengan mudah dan aman digunakan.
3. Dapat membawa panas per unit volume dalam jumlah yang besar.
4. Tidak mengembang ataupun menyusut (volumenya) pada perubahan suhu dalam range
normal.
5. Tidak terdekomposisi.
Beberapa parameter penting dalam sistem air pendingin :
1.

Konduktivitas mengindikasikan jumlah dissolved mineral dalam air.

2.

pH, menunjukkan indikasi dari tingkat keasaman atau kebasaan dari air.

3.

Alkalinitas, berupa ion carbonate (CO3-2) dan ion bicarbonate (HCO3-).

4.

Hardness / kesadahan, menunjukkan jumlah ion calcium dan magnesium yang ada dalam
air.

Pada umumnya air digunakan sebagai media pendingin karena faktor-faktor sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Air merupakan malcri yang dapat diperoleh dalam jumlah besar.


Mudah dalam pcngaturan dan pengolahan.
Menyerap panas yang relatif tinggi persatuan volume.
Tidak mudah menyusut secara berarti dalam batasan dengan adanya perubahan temperatur

pendingin.
5. Tidak terdekomposisi.
Adapun syarat-syarat air yang digunakan sebagai media pendingin:

1.

Jernih, maksudnya air harus bersih, tidak terdapat partikel-parlikel kasar yaitu batu, krikil atau

2.
3.

partikel-partikel halus seperti pasir, tanah dan lumut yang dapat menyebabkan air kotor.
Tidak menyebabkan korosi.
Tidak menyebabkan fouling, fouling disebabkan oleh kotoran yang terikut saat air masuk unit
pengolahan airseperti pasir, mikroba dan zat-zat organik.
D. Air Sanitasi
Air bersih (sanitasi) adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan
biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka
sehari-hari dan memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan
untuk treatmen air sanitasi. Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia, fisika
dan biologis.
Pengertian Air Bersih:
1. Secara Umum: Air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.
2. Secara Fisik : Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
3. Secara Kimia:
a.PH netral (bukan asam/basa)
b.Tidak mengandung racun dan logam berat berbahaya
Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah
tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari
sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar
oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh
dengan memasak air hingga 100C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat
dihilangkan dengan cara ini, dibunuh dengan memasak air hingga 100C, banyak zat berbahaya,
terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.

E. Air Limbah
Air limbah industri tahu adalah salah satu jenis industri yang membuang hasil pengolahan
limbah cair dan padat nya baik secara langsung maupun tidak langsung ke badan air, dimana
didalam proses produksi tahu banyak sekali membutuhkan air untuk proses produksinya.
Sehingga diperlukan pengolahan air limbah, salah satunya yaitu dengan menggunakan teknologi
plasma. Plasma dibuat dengan pemanfaatan tegangan listrik, yaitu dengan menghadapkan dua
elektroda. Dengan memberikan tegangan listrik searah

yang cukup tinggi, yaitu < 10 kV.

Teknologi plasma dalam limbah cair merupakan loncatan-loncatan ion, loncatan ini membentuk
spesies aktif (OH, O, H, H2O2) yang memiliki sifat radikal dimana mudah bereaksi dengan
senyawa organik tanpa terkecuali.

Tabel 1. Jenis-jenis Zat Pengotor dan Karakteristiknya


Komponen/sen
yawa
Turbiditas

Rumus Kimia

Warna

Kesadahan

Alkalinitas

Asam mineral
bebas

Efek

Cara Pengolahan
Koagulasi
Pengendapan
Filtrasi
Demineralisasi

1. Air menjadi keruh


2. Membentuk deposit pada pipa, alat, dan ketel

1.
2.
3.
4.

1. Timbul buih dalam ketel


2. Menghambat proses pengendapan pada
penghilangan besi

1. Koagulasi

Ca dan Mg sebagai
CaCO3

1. Membentuk kerak pada sistem penukar panas,


ketel, dan pipa
2. Menghambat daya cuci sabun

H2CO3
CO3
OH

1. Timbul buih dan carry over,


padatan ke dalam uap panas mengakibatkan karat
2. Bikarbonat dan karbonat menghasilkan CO2

sebagai CaCO3

dalam uap panas (korosif)

H2SO4
HCl

Korosif

2. Filtrasi
3. Klorinasi
4. Adsorpsi dengan karbon
aktif

1. Pelunakan
2. Distilasi
3. Pengolahan internal
1. Pelunakan dengan
kapur soda
2. Demineralisasi
3. Penambahan asam
4. Dealkilasi dengan
penukar ion
5. Distilasi

Netralisasi dengan alkali

Komponen/sen
yawa
Karbon dioksida

Rumus Kimia
CO2

Efek
Korosif terhadap perpipaan

Cara Pengolahan
1. Aerasi
2. Deaerasi
3. Netralisasi dengan
alkali

pH

H+

Perubahan pH dipengaruhi oleh keasaman atau


kebasaan air

Penambahan asam atau


basa

sulfat

SO4 2-

1. Menaikkan kandungan padatan dalam air


2. Bereaksi dengan Ca membentuk CaSO4

1. Demineralisasi
2. Distilasi

klorida

Cl-

1. Menaikkan kandungan padatan dalam air dan


bersifat korosif

mangan

Mn

membentuk deposit

1. Aerasi
2. Pelunakan kapur

minyak

sebagai oil atau


chloroform
extraticible matter

membentuk kerak, lumpur, dan buih dalam ketel

1. Baffle separator
2. Stainers
3. Koagulasi dan filtrasi
dengan
diatomaseous earth

1. Demineralisasi
2. Distilasi

oksigen

O2

padatan terlarut

Komponen/sen
yawa
padatan total

Rumus Kimia

Korosi

1.
2.
3.
4.

menyebabkan deposit

1. Pengendapan
2. Koagulasi dan filtrasi

Efek
(padatan terlarut plus padatan tersuspensi

Cara Pengolahan
1. Pengendapan
2. Koagulasi dan filtrasi
1. Aerasi
2. Klorinasi
3. Penukar ion

hidrogen sulfida

H2S

1. Bau telur busuk


2. Korosi

Amoniak

NH3

Korosi pada tembaga dan seng

Konduktivitas

Semakin tinggi konduktivitas, semakin korosif

Deaerasi
Sodium sulfit
Hydrazine
Zat anti korosi

1. Penukar ion dengan


zeolit hidrogen
2. Klorinasi
3. Deaerasi
1. Demineralisasi
2. Pelunakan kapur

2. BAKU MUTU AIR LIMBAH


Baku mutu limbah cair (atau baku mutu air limbah) merupakan nilai batas konsentrasi
(atau jumlah) unsur pencemar yang masih diperbolehkan ada dalam limbah cair yang akan
dilepas ke suatu badan air. Baku mutu limbah cair sering juga disebut sebagai baku mutu atau
standar efluen.
Baku mutu limbah cair digunakan sebagai tolok ukur:
1. bagi penghasil limbah cair untuk menentukan sasaran dari upaya pengelolaan limbah cairnya,
2. bagi penegak hukum untuk menentukan apakah seseorang telah melakukan pelanggaran yang
dapat menimbulkan terjadinya pencemaran air.
Baku mutu limbah nasional diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik
Indonesia No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Baku mutu air limbah menurut
peraturan menteri tersebut adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah
unsure pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau
dilepas ke dalam media air dari suatu usaha dan/atau kegiatan. Pada pasal 3 ayat 1 disebutkan
bahwa usaha dan/atau kegiatan yang baku mutu air limbahnya diatur dalam Peraturan Menteri
tersebut adalah terdiri dari industri-industri berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Industri pelapisan logam dan galvanis;


Industri penyamakan kulit;
Industri minyak sawit;
Industri karet;
Industri tapioka;
Industri monosodium glutamate dan inosin monofosfat;
Industri kayu lapis;
Industri pengolahan susu;
Industri minuman ringan;

10. Industri sabun, deterjen dan produk-produk minyak nabati;


11. Industri bir;
12. Industri baterai timbale asam;
13. Industri pengolahan buah-buahan dan/atau sayuran;
14. Industri pengolahan hasil perikanan;
15. Industri pengolahan kelapa;
16. Industri pengolahan daging;
17. Industri pengolahan kedelai;
18. Industri pengolahan obat tradisional atau jamu;
19. Industri peternakan sapi dan babi;
20. Industri minyak goring dengan proses basah dan/atau kering
21. Industri gula;
22. Industri rokok dan/atau cerutu;
23. Industri elektronika
24. Industri pengolahan kopi;
25. Industri gula rafinasi;
26. Industri petrokimia hulu;
27. Industri rayon;
28. Industri keramik;
29. Industri asam tereftalat;
30. Industri polyrthylene tereftalat;
31. Industri petrokimia hulu;
32. Industri oleokimia dasar
33. Industri soda kostik/khlor;
34. Industri pulp dan kertas;
35. Industri ethanol;
36. Industri baterai kering;
37. Industri cat;
38. Industri farmasi;
39. Industri pestisida;
40. Industri pupuk;
41. Industri tekstil;
42. Perhotelan;
43. Fasilitas pelayanan kesehatan;
44. Rumah pemotongan hewan; dan
45. Domestik.
Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1
tercantum dalam Lampiran I sampai dengan Lampiran XLVI yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari peraturan menteri tersebut.

A. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri pelapisan logam dan galvanis

B. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri pengolahan susu

C. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri keramik

D. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri petrokimia hulu

E. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri soda khostik/khlor

F. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri ethanol

G. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri cat

H. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri farmasi

I. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri elektronika

J. Baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan industri gula rafi