Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kita mengenal alat untuk mengukur kecepatan putaran motor secara


mekanik yaitu Tachometer. Bila alat ini dipergunakan mengukur besaran putaran
motor atau mobil dipandang sudah cukup teliti, namun untuk keperluan lain
misalnya di dalam laboratorium yang memerlukan ketelitian yang lebih tinggi
maka alat tersebut belum memiliki ketelitian yang lebih dikarenakan pada alat ini
masih dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya medan magnit, goncangan,
gesekan dan posisi motor terhadap pengaruh grafitasi bumi pada saat pengukuran.
Untuk memperkecil faktor di atas (pengaruh) adalah dengan menggunakan
prinsip Opto Elektronic. Sebab dengan menggunakan prinsip ini pengaruh magnit
dan lainnya dapat ditiadakan. Dimana pada dasarnya prinsip ini di bagi atas dua
dasar kerja, yaitu optik dan elektronic. Bahan optik digunakan untuk
memfokuskan cahaya (sinar), sedangkan untuk mengubah cahaya menjadi sinyal
listrik dan selanjutnya menjadi pulsa sampai pada hasil pengukuran digunakan
prinsip elektronika. Dengan demikian teori yang mendasari pembahasan
tachometer dalam penulisan ini adalah teori elektronika dan sistem pengukuran.

II.1 Tachometer
Tachometer adalah sebuah instrumen atau alat yang mampu untuk
mengukur kecepatan putaran dari poros engkol atau piringan, seperti yang
terdapat pada sebuah motor atau mesin lainnya. Alat ini biasanya menampilkan
revolutions per minute (RPM) pada sebuah pengukur skala analog maupun digital.

Universitas Sumatera Utara

Putaran yang dimaksud adalah suatu gerak putar yang dihasilkan oleh
benda atau alat berupa gerakan mekanik yang akan diukur kecepatannya, seperti
putaran roda sepeda motor atau putaran roda gila mesin, motor listrik. Bagi
tachometer putaran ini menjadi masukan untuk diukur.
Jika putaran atau masukan berupa analog (misalnya gerak putar poros)
yang dikopel langsung dengan tachometer, maka tachometer dikenal dengan input
analog. Namun putaran poros dapat dirubah menjadi bentuk digital dengan
memanfaatkan sistem elektronika yang input tidak dikopel langsung, tachometer
ini dikenal dengan input digital.
Dilihat dari hasil pengukuran Tachometer terbagi atas 2 yakni, digital dan
manual (analog). Digital dimana output dari pengukuran tersebut berupa angka
yang di tampilkan dengan menggunakan display atau seven segmen, sedangkan
Manual (analog) output dari hasil pengukuran tersebut berupa penunjukan dengan
jarum alat pengukur yang dapat kita baca pada skala

INPUT

PROSES

OUTPUT

Gambar 2.1. Diagram Blok Tachometer Digital


Input
Putaran yang diubah menjadi sinyal digital, misalnya motor yang akan
diukur kecepatannya beroprasi maka pada sensor menghasilkan tegangan,
kemudian dikirim ke bagian penguat. Dibagian penguat tegangan (sinyal)
dikuatkan dan diubah menjadi sinyal persegi, meskipun sinyal tersebut berbentuk
sinus atau lain, tetapi masih secara periodik.

Universitas Sumatera Utara

Proses
Proses perubahan input menuju output, dimana proses ini merupakan
proses utama dalam pengukuran karena hasil pengukuran yang berbentuk digital
atau pulsa persegi dilakukan suatu pengaturan secara elektronik yang teratur dan
terencana sehingga hasil pengukuran dapat dilihat pada output misalnya pada
seven segment.
Output
Berupa hasil proses yang memiliki nilai dari suatu pengukuran dalam
bentuk perubahan digital sebesar 5 volt yang diindikasi menjadi bernilai 1 (high)
dan lebih kecil dari 1 volt yang diindikasi menjadi bernilai 0 (low), dan ini
dirubah menjadi analog dengan tampilan seven segmen, melalui shift register.

II.2 Teori Elektronika


Elektronika merupakan suatu bidang ilmu dimana di bagi atas elektronika
analog dan digital, sebagai salah satu contoh elektronika digital. Dimana digital
merupakan wahana dari pengembangan kalkulator, komputer, rangkaian terpadu,
dan bilangan biner 0 dan 1. Hal ini merupakan suatu bidang yang menarik di
dalam elektronika karena penggunaan rangkaian digital yang berkembang dengan
pesat. Satu rangkaian terpadu yang kecil melaksanakan fungsi ribuan transistor,
dioda dan resistor.
Pada tahun 1854 George Boole menciptakan logika simbolik yang
sekarang dikenal dengan aljabar boole. Setiap peubah (variabel) dalam aljabar
boole hanya memiliki dua keadaan atau dua harga, yaitu keadaan benar yang
dinyatakan dengan 1 atau keadaan salah yang dinyatakan dengan 0. Aljabar Boole

Universitas Sumatera Utara

yang memiliki dua keadaan ini semula dimaksudkan untuk menyelesaikan


persoalan-persoalan logika.
Aljabar Boole diwujudkan berupa sebuah piranti atau sistem yang disebut
dengan Gerbang Logika. Gerbang Logika adalah blok bangunan dasar untuk
membentuk rangkaian elektronika digital, sebuah gerbang logika memiliki
beberapa masukan tetapi hanya memiliki satu keluaran. Keluaran akan HIGH (1)
atau LOW (0) tergantung level digital pada terminal masukan. Dengan
menggunakan gerbang-gerbang logika, kita dapat merancang dan mendesain suatu
sistem digital yang akan dikendalikan level masukan digital dan menghasilkan
sebuah tanggapan keluaran tertentu berdasarkan rancangan rangkaian logika itu
sendiri.
Beberapa gerbang logika dasar yang akan dibahas adalah gerbang logika
OR, gerbang logika AND, dan gerbang logika NOT (INVERTER). Sedangkan
gerbang-gerbang logika kombinasional adalah gerbang logika NOT OR (atau
NOR), gerbang logika NOT AND (atau NAND), gerbang logika EXCLUSIVE
OR (atau EXOR), gerbang logika EXCLUSIVE NOT OR (atau EXNOR), dimana
pembahasan tidak mencakup gerbang-gerbang kombinasional tersebut.
Gerbang logika hanya beroperasi pada sistem bilangan biner, oleh karena
itu disebut Gerbang Logika Biner yaitu logika 1 dan logika 0, atau biasa disebut
HIGH dan LOW. Logika 1 (H) menyatakan level tegangan tinggi dan logika 0 (L)
menyatakan tegangan rendah.
Berikut akan dibahas gerbang-gerbang logika yang dipakai dalam teknik
digital, antara lain gerbang logika AND, gerbang logika OR dan gerbang logika
NOT.

Universitas Sumatera Utara

II.2.1. GERBANG AND (gerbang pengali)


Dimana sifatnya salah satu masukan bernilai 1 maka keluaran tetap 0 dan
jika kedua masukkan juga bernilai 0 maka keluaran juga 0 akan tetapi jika kedua
masukan bernilai 1 maka keluaran bernilai 1 atau HIGH.
Sifat lain dari AND adalah mempunyai lebih dari satu masukkan atau
input, tetapi outputnya hanya satu. Hubungan antara input dan output dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut :
A . B = Y.1)
Hubungan-hubungan gerbang AND juga dapat dilihat dari bagian-bagian
di bawah ini berupa gambar, tabel kebenaran dan bentuk gelombang dari gerbang
tersebut.
Tabel 2.1. TABEL KEBENARAN

A
B

Y
INPUT

Gambar 2.2. Simbol Gerbang


AND

OUTPUT

1
A

0
1

0
1

Y
0

t1

t2

t3

t4

t5

t6

t7

t8

Gambar 2.3. Bentuk Gelombang

Universitas Sumatera Utara

II.2.2. GERBANG OR (gerbang penjumlah)


Gerbang OR biasa juga disebut dengan istilah setiap atau semua. Artinya
bila salah satu atau semua input bernilai 1 atau high maka output bernilai 1 atau
high dan jika kedua input bernilai 0 atau low maka outputnya bernilai 0 atau low.
Simbol gerbang OR dapat dilihat pada gambar di bawah beserta tabel
kebenarannya.
Tabel 2.2. TABEL KEBENARAN
INPUT
A
B

OUTPUT

Gambar 2.4. Simbol Gerbang OR

1
A

0
1

0
1

Y
0

t1

t2

t3

t4

t5

t6

t7

t8

Gambar 2.5. Bentuk Gelombang


Hubungan antara input dan output ini dapat dinyatakan dengan persamaan
berikut :
A + B = Y ................. 2)

Universitas Sumatera Utara

II.2.3. GERBANG NOT (gerbang pembalik)


Gerbang Not biasa juga disebut inverter atau pembalik, yaitu bila input 1
atau high maka output bernilai 0 atau low serta kebalikannya, atau bila inputnya A
maka outputnya A.
Gerbang Not adalah gerbang yang mempunyai satu input dan satu output,
jadi hanya berfungsi sebagai pembalik pulsa yang masuk padanya. Simbol
gerbang not dapat dilihat pada gambar di bawah beserta tabel kebenarannya.
Tabel 2.3. TABEL KEBENARAN
A

Gambar 2.6. Simbol Gerbang


NOT

INPUT

OUTPUT

A = Input

X = Y Output

Gambar 2.7 Bentuk Gelombang pada Gerbang Not

Dari gambar maupun tabel kebenaran, kita melihat sifat dari gerbang NOT
adalah input dan outputnya selalu berlawanan/berbalikan. Hubungan ini dapat
dinyatakan dengan pernyataan sebagai berikut :
A X .............3)

Universitas Sumatera Utara

II.2.4. Level ( harga ) Tegangan


Dalam sistem digital digunakan dua harga tegangan, yaitu harga (level)
high dan level low biasa ditulis H dan L. Untuk harga tinggi biasa disebut logika 1
dan untuk harga rendah disebut logika 0.
Untuk menentukan harga tegangan ini tergantung dari pabrik yang
memproduksi komponen (Integrated Circuit). Jenis yang digunakan dalam
pembahasan ini adalah IC TTL (transistor transistor logic) mempunyai harga
standart sebagai berikut :
Untuk harga tegangan high (H) atau logic 1, mempunyai harga tegangan
dari 2,0 V sampai 5,0 V akan diterjemahkan menjadi sebuah tegangan TINGGI
atau dinyatakan dengan logika 1 dan untuk tegangan low (L) atau logika 0,
mempunyai harga tegangan dari 0 V sampai 0,8 V. Gambar di bawah
memperlihatkan harga tegangan dari IC jenis TTL.
VOLT
5,0
2,0
0,8

Logika 1
Tak tentu
Logika 0

Gambar 2.8. Harga tegangan IC jenis TTL


Selanjutnya harga tegangan dalam operasi sistem digital 1 dan 0 atau
logikanya misalnya 2,05,0 volt dan 00,8 volt perlu disesuaikan dari satu
komponen kepada komponen lain dan biasanya disebut dengan interfice device
dari satu rangkaian ke rangkaian lainya, alatnya disebut juga dengan Operational
Amplifier (Op-Amp).

Universitas Sumatera Utara

II.2.5. Operational Amplifier ( Op-Amp )


Istilah penguat operasional (operational amplifier) secara umum menggambarkan tentang sebuah rangkaian penguat penting yang membentuk dasar dari
rangkaian-rangkaian penguat audio dan video, penyaring atau tapis, buffer,
penggerak-penggerak saluran, penguat instrumentasi, komparator atau pembanding, osilator dan berbagai macam rangkaian analog lainnya.
Penguat Operasional dikenal juga secara umum dengan nama singkat OpAmp. Meskipun rangkaian penguat operasional dapat dirancang dari komponenkomponen diskrit, namun demikian hampir seluruhnya selalu digunakan dalam
bentuk rangkaian terintegrasi (integrated circuit, IC).
Op-amp pada dasarnya merupakan sebuah blok komponen yang
sederhana. Sebuah op-amp akan memiliki dua buah terminal masukan dimana
salah satu masukan disebut sebagai masukan pembalik (diberi tanda -) sementara
satu masukan lainnya disebut dengan masukan non-pembalik (diberi tanda +).
Pada umumnya op-amp memiliki sebuah keluaran atau keluaran tunggal.
Akan tetapi beberapa jenis op-amp khusus yang umumnya digunakan pada
rangkaian-rangkaian frekuensi radio dapat memiliki dua buah terminal keluaran.
Tetapi dalam bahasan ini, hanya op-amp keluaran tunggal yang akan dibahas.
Simbol op-amp di tunjukkan oleh gambar di bawah.

Gambar 2.9 Simbol Op-Amp

Universitas Sumatera Utara

Input op-amp bisa berupa tegangan searah maupun tegangan bolak-balik.


Sedangkan output op-amp tergantung input yang diberikan. Jika input op-amp
diberi tegangan searah dengan input Non Inverting (+) lebih besar dari pada input
inverting (-), maka pada output op-amp akan positip (+). Sebaliknya jika input
Non Inverting (+) lebih kecil dari pada input inverting (-), maka output op-amp
akan negatip ( - ).
Jika input op-amp diberi tegangan bolak-balik dengan input Non
Inverting (+), maka pada output op-amp akan sephasa dengan inputnya tersebut.
Sebaliknya jika input Inverting (-) diberi sinyal/tegangan bolak-balik sinus, maka
pada output op-amp akan berbalik phasa terhadap inputnya.
Dalam kondisi terbuka ( open ) besarnya tegangan output ( Uo ) adalah
Uo = AoL ( Ui1 Ui2 ) ( 1 1 )

...................4 )

dimana :
Uo

= Tegangan output

AoL

= Penguatan open loop

Ui1

= Tegangan input Non Inverting

Ui2

= Tegangan input Inverting

II.2.6. Rangkaian Flip-Flop


Rangkaian flip-flop adalah suatu elemen logika bi-stabil yang mempunyai
satu atau lebih input dan mempunyai dua output yang saling berlawanan
(complementary), juga rangkaian ini biasa disebut rangkaian Multivibrator Bistabil.
Rangkaian flip-flop juga berfungsi untuk merubah keadaan dari satu posisi
ke posisi lain, yaitu dari satu keadaan stabil pertama ke keadaan stabil kedua.

Universitas Sumatera Utara

Bilamana flip-flop ini diberi sinyal dari luar atau biasa disebut sinyal trigger, ini
membuat flip-flop berubah keadaannya.
Dalam pemakaiannya rangkaian flip-flop ini digunakan dalam komputer
atau counter yang digunakan sebagai penyimpan data, penghitung biner dan
memindah data (shift register). Dengan demikian flip-flop merupakan dasar dari
pada rangkaian digital. Flip Flop yang merupakan penggabungan rangkaian logika
terdiri dari gerbang AND, OR dan NOT, dapat berupa :
a. Flip-Flop RS
b. Flip-Flop RS yang Berdetak
c. Flip-Flop D
d. Flip-Flop JK

II.2.6.1. Flip-Flop RS (RESET SET FLIP-FLOP)


Flip-flop RS disebut juga Penahan Transparan (Transparent Latches),
karena keluaran flip-flop langsung menyebabkan terjadinya perubahan terhadap
masukannya. Perubahan yang cepat disebabkan karena flip-flop SR langsung
menanggapi perubahan sinyal pada bagian masukan sehingga keluaran Q akan
langsung berubah sejalan dengan perubahan masukan. Keadaan sinyal masukan
akan diingat dengan cara menahan sinyal masukkannya ke dalam rangkaian
logikanya.
Flip-Flop RS mempunyai dua buah input yang diberi nama atau lebel SET
(S) dan RESET (R) dan dua buah output yang diberi nama Q dan Q.
Pada gambar di bawah memperlihatkan simbol Flip-Flop RS yang
memiliki dua buah output yang saling berlawanan, tidak seperti gerbang logika
yang mempunyai satu output. Output Q dinamakan output normal dan yang

Universitas Sumatera Utara

satunya merupakan kebalikannya dan ditulis Q yang berarti complement


/berbalikan dengan output normal. Jika Q = 1 maka Q = 0 dan sebaliknya jika Q =
0 maka Q = 1.
Sebuah flip-flop RS yang terbuat dari gerbang logika NAND (NOT AND)
sering disebut sebagai penahan NAND (NAND Lacth. Penahan NAND prinsip
kerjanya sama dengan penahan NOR. Perbedaannya terletak pada keadaan level
atau tingkat logikanya. Masukan-masukan SET dan RESET dari penahan NOR
bekerja dari keadaan 0 (rendah) menjadi 1 (tinggi), sewaktu mengubah keadaan,
sedangkan penahan NAND sebaliknya. Masukan-masukan SET dan RESET dari
penahan NAND bekerja dari keadaan 1 (tinggi) menjadi 0 (rendah), sewaktu
mengubah keadaan. Tetapi sekali lagi, prinsip kerja keduanya sama.

R
Input

Output

Gambar 2.11. Flip-flop RS menggunakan


gerbang NAND

Gambar 2.10. Simbol Flip-flop RS

Tabel 2.4. Tabel Kebenaran Flip-Flop RS


Input

Keadaan

Output

(komentar)

Pacu (terlarang)

FF Set

FF Reset

Tak berubah
(tak digunakan)

Universitas Sumatera Utara

II.2.6.2. Flip-Flop RS Terdetak


Flip-flop RS yang telah kita pelajari tersebut mempunyai penerapan yang
terbatas, karena hanya mempunyai dua masukan yang harus dikendalikan secara
silih berganti. Sebagai contoh penahan NOR, untuk mengaktifkan penahan NOR
masukan SET harus diberi sinyal 1, kemudian Q akan 1. Untuk memadamkan
keluaran Q dari penahan NOR masukan RESET harus diberi sinyal 1, maka
keluaran Q akan 0. Masukan SET dan RESET harus silih berganti. Tidak
diperkenankan bekerja secara sepihak terus-menerus dan juga tidak dapat bekerja
secara bersama-sama atau berada dalam keadaan terlarang atau pacu. Maka
pengoperasian Flip-Flop RS tanpa sinyal pendetak disebut tak serempak atau
asinkron.
Flip-Flop RS tanpa pendetak kemudian dikembangkan menjadi flip-flop
RS dengan ditambah masukan untuk sinyal pendetak (clock), maka disebut FlipFlop RS terdetak (Clock SR Flip-Flop). Flip-flop RS terdetak bekerja dengan
menggunakan sinyal pendetak. Pada hakekatnya prinsip kerja keduanya sama.
Perbedaannya terletak pada operasi pengendalian masukan dan keluarannya.
Flip-flop RS terdetak ini harus menyesuaikan diri dengan sinyal pendetak
atau menyinkronkan diri dengan sinyal pendetak. Apabila sinyal pendetak
masukan pada logika 0, maka data yang masuk pada S dan R tidak akan
ditanggapi atau diproses oleh flip-flop, sehingga keluaran Q tetap tidak berubah.
Jika sinyal pendetak berubah dari logika 0 menjadi 1, seketika itu juga
masukan Set atau Reset akan ditanggapi, sehingga keluaran Q berubah.
Pengoperasian Flip-Flop RS terdetak disebut secara serempak atau sinkron
(karena bekerjanya menyesuaikan dengan irama waktu sinyal pendetak).

Universitas Sumatera Utara

Input

S
Clk

R
Q

Output

Clk

Q
R

Gambar 2.13. Rangkaian Flip-flop RS


Gambar 2.12. Simbol logic
Terdetak dan ekivalennya
clocked RS Flip Flop
Tabel 2.5. Tabel Kebenaran Flip-Flop RS terdetak
Pendetak

Set

Reset

nc

nc

nc

nc

nc

Keterangan : nc : (not condition : tak ada perubahan)


*

: pacu (keadaan terlarang)

II.2.6.3. Flip-Flop D (Data Flip-Flop atau Delayed Flip-Flop)


Penahan D yang paling sederhana dapat dibangun dengan menggunakan
gerbang logika yang membentuk ekivalen penahan NAND (lihat Flip-flop RS
pada pembahasan sebelumnya).
Sedangkan prinsip kerja penahan D jenis ini juga tak kalah sederhana.
Isyarat-isyarat digital yang masuk pada D akan dibagi menjadi dua jalur. Jalur

Universitas Sumatera Utara

pertama (1) melewati gerbang Inverter kemudian melewati gerbang NAND (atau
OR dengan kedua masukan dibalik) yang berada dibagian atas, yaitu RESET.
Sedangkan jalur yang kedua (2) langsung menuju kegerbang NAND (atau
ekivalen OR dengan kedua masukan dibalik) yang dibagian bawah, yaitu SET.
Jika masukan D adalah 0 (atau low atau rendah) maka gerbang NAND
yang di atas (atau RESET) akan 0 dan gerbang logika NAND yang di bawah (atau
SET) akan 1, maka keluaran Q akan 0. Flip-Flop dalam keadaan RESET.
Tetapi jika masukan 1 (high = tinggi) maka gerbang logika NAND yang
atas (RESET) akan 1 dan gerbang logika yang bawah (SET) akan 0, maka
keluaran Q akan 1. Flip-Flop dalam keadaan SET.
Dalam penahan D tersebut tidak mungkin ada lagi keadaann yang terpacu.
Gerbang logika tersebut berfungsi untuk menjamin supaya masukan S dan
masukan R berada pada keadaan yanng berlawanan, sehingga dipastikan tidak
akan terjadi keadaan pacu.
Penahan D ini sama seakali tidak menggunakan sinyal kendali apapun atau
sinyal detak (clock) sekalipun. Rangkaian akan berada pada keadaan SET atau
RESET dengan sendirinya sejalan dengan sinyal yang masuk pada D, yaitu 0 atau
1. jadi jika sinyal masukan 0 maka keluaran Q akan 0 dan sebaliknya jika sinyal
masukan 1 maka keluaran Q juga 1.sehingga penggunaan Flip-Flop ini sendiri
jarang sekali dipakai, baik dalam pemakaian yang umum maupun pada sistem
digital atau komputer praktis.
D
D
En

R
Q

Gambar 2.14. Diagram Blok


Flip-Flop D

Gambar 2.15. Rangkaian D Flip Flop


secara blok

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.6. Tabel Kebenaran Flip-Flop D


D

Keadaan

Reset

Set

II.2.6.4. Flip-Flop JK
Dari semua Flip Flop yang dipelajari, masing-masing memiliki sifat dan
kegunaan tertentu, yang kesemuanya memiliki sifat yang sama yakni sebagai
penyimpan data. Disini kita akan menerangkan sedikit tentang Flip-Flop yang
paling penting diantara yang pernah kita bahas sebelumnya, yaitu Flip-Flop JK.
Dari semua Flip-Flop yang ada Flip-Flop JK adalah yang paling ideal digunakan
sebagai piranti penyimpanan (memori).
Flip-Flop JK sangat luas penggunaannya, flip-flop ini dipakai pada setiap
komputer digital maupun piranti-piranti digital lainnya. Dalam pemakaian bidang
elektronika juga sangat banyak manfaatnya, misalnya sebagai Pencacah Frekuensi
(Frequency Counter), pembagi frekuensi (Frequency Divider), pembangkit ragamgelombang kotak simetri (Symetry Square Wave-form generator) dan lain-lain.
Flip-Flop JK terbagi atas dua jenis, yaitu Flip-Flop JK Pemicuan Tepi dan FlipFlop JK MS (Master-Slave) atau disebut juga Flip-Flop JK MajikanBudak.
Dalam hal ini kita tidak menerangkan secara detail jenis tersebut tetapi kita
akan menjelaskan secara garis besar dari kedua jenis Flip-Flop JK tersebut, antara
lain :
1. Flip-Flop JK Pemicuan Tepi
2. Flip-Flop JK Master-Slave (Majikan-Budak)

Universitas Sumatera Utara

II.2.7. Komponen-Komponen Pendukung


II.2.7.1. Resistor (tahanan)
Resistor komponen pasif elektronika yang berfungsi untuk membatasi arus
listrik yang mengalir. Berdasarkan kelasnya resistor dibagi menjadi 2 yaitu: Fixed
Resistor dan Variable Resistor dan umumnya terbuat dari carbon film atau metal
film, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dibuat dari material yang lain.
Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat resistif namun beberapa bahan
tembaga, perak, emas, dan bahan metal umumnya memiliki resistansi yang sangat
kecil. Bahanbahan tersebut menghantar arus listrik dengan baik, sehingga
dinamakan konduktor.
a. Fixed Resistor
Resistor merupakan komponen elektronika yang digunakan untuk
membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Yang disesuai
dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon.
Tipe resistor pada umum berbentuk tabung porselen kecil dengan dua kaki
tembaga. Dimana pada badannya memiliki kode warna, yang mana warna tersebut
merupakan besaran dari resistor tersebut. Nilai besaran komponen ini di ukur
dengan satuan Ohm

Gambar 2.16. Resistor Karbon

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.7 Kode Warna Resistor


GELANG KE
WARNA
1 DAN 2

Hitam

x 1

1%

Coklat

x 10

2%

Merah

x 100

2%

Jingga

x 1000

Kuning

x 10000

Hijau

x 100000

Biru

x 1000000

Ungu

x 10000000

Abu-abu

x 100000000

Putih

x 1000000000

Emas

x 0.1

5%

Perak

x 0.01

10%

Tidak bewarna

20%

Untuk mengetahui besaran atau nilai dari komponen tersebut, kita dapat
melihat tabel di atas, dimana gelang 1 dan 2 merupakan harga pokok atau tetapan,
sedangkan gelang 3 merupakan faktor pengali dan gelang ke 4 merupakan faktor
toleransi.
Dimana untuk mencari gelang pertama dapat dilihat pada gelang yang
lebih ke pinggir dari komponen tersebut atau kita juga bisa berpedoman dengan
warna yang ada di sisi pinggir dari ke 4 gelang tersebut. Jika warna tersebut tidak

Universitas Sumatera Utara

memiliki nilai pada gelang 1 dan 2 maka gelang tersebut merupakan gelang ke 4
(gelang faktor toleransi).
b. Variable Resistor
Dimana pada resistor ini memiliki 2 tipe, Pertama dinamakan Variable
Resistor, nilai dari komponen ini dapat diubah-ubah sesuai dengan yang kita
inginkan. Contoh penggunaan, yakni pada pengaturan volume, bass, balance, dll.
Dan kedua adalah Semi-Fixed Resistor, nilai dari resistor ini biasanya hanya
diubah pada kondisi tertentu saja..
Contoh variable resistor, yang sering digunakan dengan cara memutar
sampai 300 derajat putaran, atau lebih di kenal dengan nama Potensiometer.
seperti pada gambar di bawah

.
Gambar 2.17. Potentiometers atau Trimmer Potentiometers
Dengan masing-masing bentuk memiliki fungsi, bentuk 1 sebagai
dpotensiometer, bentuk 2 disebut semi fixed resistor dan biasanya terdapat pada
PCB (Printed Circuit Board) dan bentuk 3 digunakan sebagai volume kontrol.
Ketiga tipe tersebut memiliki perubahan nilai pengaturannya, seperti pada gambar.

Gambar 2.18 Perubahan Nilai pada Potensiometer

Universitas Sumatera Utara

Pada saat tipe A diputar searah jarum jam, awalnya perubahan nilai
resistansi lambat tetapi ketika putarannya mencapai setengah atau lebih nilai
perubahannya menjadi sangat cepat. Tipe ini sangat cocok dengan karakteristik
telinga manusia. Karena telinga sangat peka ketika membedakan suara dengan
volume yang lemah, tetapi tidak terlalu sensitif untuk membedakan perubahan
suara yang keras. Biasanya tipe A ini juga disebut sebagai Audio Taper
potensiometer. Untuk tipe B perubahan resistansinya adalah linier, cocok
digunakan untuk Aplikasi Balance Control, resistance value adjustment in circuit,
dll. Sedangkan untuk tipe C perubahan resistansinya kebalikan dari tipe A.

II.2.7.2. Kapasitor (Condensator)


Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan
listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan
oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya
udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi
tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu
kaki elektroda metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir
menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke
ujung kutup positif karena terpisah oleh bahan elektrik yang non-konduktif.
Muatan elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduktif pada ujung-ujung
kakinya.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.19. Skema Kapasitor


Kapasitor merupakan komponen pasif elektronika yang sering dipakai
didalam merancang suatu sistem yang berfungsi untuk mengeblok arus DC, Filter,
dan penyimpan energi listrik. Yang membedakan tiap-tiap kapasitor adalah
dielektriknya. Berikut ini adalah jenis jenis kapasitor.

II.2.7.2.1. Electrolytic Capacitor (ELCO)

Gambar 2.20. Electrolytic Capacitor (ELCO)


Elektroda dari kapasitor ini terbuat dari alumunium yang menggunakan
membrane oksidasi yang tipis. Karakteristik utama dari Electrolytic Capacitor
adalah perbedaan polaritas pada kedua kakinya. Dari karakteristik tersebut kita
harus berhati-hati di dalam pemasangannya pada rangkaian, jangan sampai
terbalik. Bila polaritasnya terbalik maka akan menjadi rusak bahkan meledak,
Biasanya jenis kapasitor ini digunakan pada rangkaian power supply.

Universitas Sumatera Utara

II.2.7.2.2. Ceramic Capacitor (Kapasitor Keramik)


Kapasitor

ini menggunakan

bahan titanium acid barium untuk

dielektriknya. Karena tidak dikonstruksi seperti coil maka komponen ini dapat
digunakan pada rangkaian frekuensi tinggi. Biasanya digunakan untuk
melewatkan sinyal frekuensi tinggi menuju ke ground. Kapasitor ini tidak baik
digunakan untuk rangkaian analog, karena dapat mengubah bentuk sinyal.
Jenis ini tidak mempunyai polaritas dan hanya tersedia dengan nilai
kapasitor yang sangat kecil dibandingkan kapasitor diatas.

Gambar 2.21. Kapasitor jenis ini biasanya terbuat dari bahan kertas, mica,
keramik dll.
Nilai Kapasitor
Untuk mencari nilai dari kapasitor biasanya dilakukan dengan melihat
angka/kode yang tertera pada badan kapasitor tersebut. Untuk kapasitor jenis
elektrolit memang mudah, karena nilai kapasitansinya telah tertera dengan jelas
pada tubuhnya. Sedangkan untuk kapasitor keramik dan beberapa jenis yang lain
nilainya dikodekan. Biasanya kode tersebut terdiri dari 4 digit, dimana 3 digit
pertama merupakan angka dan digit terakhir berupa huruf yang menyatakan
toleransinya. Untuk 3 digit pertama angka yang terakhir berfungsi untuk
menentukan 10n, nilai n dapat dilihat pada tabel dibawah.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.8. Nilai Kapasitor

Misalnya suatu kapasitor pada badannya tertulis kode 474J, berarti nilai
kapasitansinya adalah 47 + 104 = 470.000 pF = 0.47F sedangkan toleransinya
5%. Yang harus diingat didalam mencari nilai kapasitor adalah satuannya dalam
pF (Pico Farad).

II.2.7.3. Transistor
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat,
sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan,
modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam
kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya
(FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya

.
Gambar 2.22. Transistor through-hole
Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang
dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2

Universitas Sumatera Utara

terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia
elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier
(penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan
penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan
sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponenkomponen lainnya.
Jenis-jenis Transistor

BJT

PNP

P-channel

NPN

N-channel

JFET

Gambar 2.23. Simbol Transistor dari Berbagai Tipe


Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak
kategori:

Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide

Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface


Mount, IC, dan lain-lain

Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET,


VMOSFET, MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor
yaitu IC (Integrated Circuit) dan lain-lain.

Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel

Universitas Sumatera Utara

Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power

Maximum frekwensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF


transistor, Microwave, dan lain-lain

Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan Tinggi,


dan lain-lain

BJT
BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis
transistor. Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua dioda yang terminal
positif atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal
tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis (B).

FET
FET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan Insulated
Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal Oxide Silicon (atau
Semiconductor) FET (MOSFET). Berbeda dengan IGFET, terminal gate dalam
JFET membentuk sebuah dioda dengan kanal (materi semikonduktor antara
Source dan Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi
sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk sebuah dioda
antara grid dan katode. Dan juga, keduanya (JFET dan tabung vakum) bekerja di
depletion mode, keduanya memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya
menghantarkan arus listrik dibawah kontrol tegangan input.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Transistor)

Universitas Sumatera Utara

II.2.7.4. Seven Segment


Seven segment (7-segmen) adalah sebuah komponen untuk menampil-kan
bilangan 0 sampai 9 yang banyak digunakan pada aplikasi yang memerlukan
tampilan angka. 7-segments pada dasarnya adalah LED (Light Emitting Diode),
yaitu diode yang dapat mengeluarkan cahaya bila diberi tegangan pada pin-nya.
Gambar 7.1 di bawah ini memperlihatkan gambaran tentang 7-segment yang
masing-masing segment diberi notasi mulai dari a, b, c, d, e, f, dan g.
LED tersebut terdiri dari 7 buah yang dihubungkan satu dengan lainnya.
Cara menghubungkan pin pada seven segments ada 2 (dua) mode, yaitu Common
Anode dan Common Katode. Common Anode adalah LED pada 7 segment semua
pin anode-nya dihubungkan menjadi satu, sedangkan pin katoda dihubungkan ke
port-port pada mikrokontroller atau input dari sistem yang ingin di tampilkan.
Common anode digunakan untuk rangkaian yang memerlukan aktif rendah (active
low). Sedangkan Common katode adalah semua pin katoda pada 7 segments
disatukan, sedangkan pin anoda dihubungkan ke port-port pada mikokontroller
atau input dari sistem yang ingin di tampilkan. Common katoda digunakan pada
rangkaian yang memerlukan aktif tinggi (active high)

Gambar 2.24. Konfigurasi seven segment pada masing-masing common


Seven Segmen ini juga ditambah 1 segmen yang berfungsi sebagai desimal
point, dapat di lihat pada gambar di bawah :

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.25. Susunan Seven Segmen


dimana Segmen yang paling atas disebut segmen a, segmen sebelah kanan atas
disebut segmen b, dan seterusnya sesuai gambar di atas, dp merupakan singkatan
dari desimal point.
Pada seven segment tipe common anoda di atas, untuk menyalakan salah
satu segmen, maka katodanya harus diberi tegangan 0 volt atau logika low.
Misalnya jika segmen a akan dinyalakan, maka katoda pada segmen a harus diberi
tegangan 0 volt atau logika low, dengan demikian maka segmen a akan menyala,
begitu juga untuk segmen lainnya.
Sedangkan tipe common katoda, katoda dari setiap LED dihubungkan
menjadi satu kemudian dihubungkan ke ground dan anoda dari masing-masing
LED berfungsi sebagai input dari seven segmen, seperti ditunjukkan pada gambar
di atas.
Sesuai dengan gambar di atas, maka untuk menyalakan salah satu segmen,
maka anodanya harus diberi tegangan minimal 5 volt atau logika high. Misalnya
jika segmen a akan dinyalakan, maka anoda pada segmen a harus diberi tegangan
minimal 5 volt atau logika high, dimana arus yang akan mengalir dalam LED
kira-kira 20 mA (berlaku hampir untuk semua jenis LED), juga dihubungkan seri
terhadap tahanan sehingga tidak merusak LED pada saat bekerja, dengan
demikian maka segmen a akan menyala, demikian juga untuk segmen lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.26. Display Seven Segment

II.3. Sistem Pengukuran


Sistem pengukuran merupakan bagian pertama dalam suatu sistem
pengendalian, jika input sistem pengendalian salah, maka output salah dan jika
hasil pengukuran (input sistem pengendalian) salah, maka hasil pengendalian pasti
salah, walaupun sebenarnya sistem pengendalian sangat baik.
Dilihat dari karakteristiknya instrument pengukuran di bagi atas 2 bagian,
yakni Karakteristik Statis dan Dinamis. Dimana Karakteristik Statis adalah
karakter yang menggambarkan parameter instrument dalam keadaan steady
(Akurasi, Presisi, Toleransi, Range (span), Linieritas, Hysterisis),

sedangkan

Karakteristik Dinamis, karakter yang menggambarkan respon (tanggapan)


dinamik (fungsi waktu), dimana hubungan input (nilai sesungguhnya) dan output
(nilai yang ditunjukkan alat ukur) sebagai fungsi waktu dapat dinyatakan dengan
persamaan :

dny
d n 1 y
dy
a n n + a n 1 n 1 + ... + a1
+ a 0 y = bf (t )
dt
dt
dt
. 5)
dimana : y variabel output deviasi
f variabel input deviasi

Universitas Sumatera Utara

Variabel deviasi = selisih nilai sesungguhnya dengan nilai keadaan steady


Dengan demikian Prinsif Dasar Pengukuran dapat di lihat pada gambar di
bawah :
Signal

Signal

Kuantitas
Transducer
yang diukur

Signal
Conditioner

Display /
Recorder

Gambar 2.27. Prinsif Dasar Pengukuran


dimana,
Transducer atau elemen pendeteksi
Yaitu elemen sistem pengukuran yang berfungsi mengubah satu bentuk informasi
(signal) menjadi bentuk informasi lain. Perubahan bentuk informasi ini
dimaksudkan untuk mendapatkan bentuk informasi yang dapat diukur

Signal Conditioner
Yaitu elemen sistem pengukuran yang berfungsi mengkonversi informasi dari
transducer menjadi bentuk informasi yang dapat ditampilkan (didisplay). Elemen
ini bertugas memperbesar informasi dari transducer agar dapat terbaca pada
display alat pengukuran.

Display
Yaitu elemen sistem pengukuran yang berfungsi mengkonversi signal instrumen
dari satu bentuk menjadi bentuk lain yang didesain untuk memberikan persepsi
bagi pengamat (orang yang melakukan pengukuran).
http://adrian_nur.staff.uns.ac.id/files/2009/10/03-sistem-pengukuran.pdf

Universitas Sumatera Utara

Dalam sistem transmitter receiver yang umum adalah sebagai berikut


dalam bentuk blok diagram.

Udara Atmosfir

Back Ground

Sistem Optik
Detektor

Sumber

Proses
Signal
&
Display

IR

Gambar 2.28. Blok diagram Sistem Pengukuran Infra Red


Unsur-unsur yang ada dalam sistem pengukuran infra red (IRED) adalah :
1. Back Ground (latar belakang)
2. Udara atau lingkungan sekitar
3. Sumber cahaya
4. Sistem optik
5. Detektor
6. Proses sinyal dan penunjukan (display)
Dalam tujuan khusus, komponen-komponen dipilih dan direncanakan
sesuai dengan tujuan pengukuran atau penelitian, dalam daerah panjang
gelombang khusus dan jarak maksimum yang dapat dideteksi.
Pada umumnya sistem pengukuran dengan menggunakan IRED, semua
didasarkan dari bentuk umum, yaitu :
1.

Sistem Pengukuran pasif,

2.

Sistem pengukuran Aktif.

Universitas Sumatera Utara

II.3.1. Sistem Pengukuran IRED Pasif


Sistem pengukuran pasif, yaitu sistem yang hanya mendeteksi radiasi
(pancaran) secara alami, yang dikirimkan oleh sumber, untuk pembahasan ini
rasanya kurang efektif karena putaran yang akan diukur belum tentu berada
dialam terbuka.
Sistem Optik

Back Ground

Detektor
Sumber

Proses
Signal
&
Display

IR

Gambar 2.29. Blok diagram sistem pengukuran IRED passip

II.3.2. Sistem Pengukuran IRED Aktif


Sistem pengukuran aktif, digunakan dengan menggunakan sumber-sumber
buatan, untuk menyinari sasaran yang kemudian dipantulkan kembali ke sistem
detektor, seperti diagram berikut.
Filter
Sumber I R

Udara /
atmosfer

Sistem Optik
Detektor
Proses
Signal
&
Display

Sasaran yang
diterangi / diukur

Gambar 2.30. Pengukuran Infra Red sistem Aktif

Universitas Sumatera Utara

BAB III
TACHOMETER DIGITAL

Tachometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur suatu


putaran, sehingga di ketahui nilai dari putaran tersebut. Dalam hal ini tachometer
yang dibahas berupa Tachometer Digital, dimana output dari hasil pengukuran
tersebut berupa angka yang dapat langsung dipahami oleh si pembaca.
Bab ini akan membahas fungsi rangkaian serta komponen yang digunakan
pada masing-masing rangkaian, untuk memudahkan kita memahami cara kerja
rangkaian pada masing-masing blok rangkaian. Dibagi atas 5 (lima) rangkaian
yakni, rangkaian input, rangkaian pintu utama, rangkaian clock/time base,
rangkaian kontrol dan rangkaian penghitung (counter).
3.1. Rangkaian Input
Rangkaian ini merupakan rangkaian awal dari proses pengukuran terhadap
suatu putaran sehingga menghasilkan output yang dapat digunakan oleh rangkaian
lainnya, rangkaian ini terdiri dari beberapa komponen elektronik, seperti pada
gambar di bawah.
VCC +5 VOLT
+

VCC +5 VOLT

TIL 81
PIRINGAN
C

5K2

100

B
E
C

10 f

E
2

15
TIL 31

POROS

LM 386
3
4

1 2 4

SN 7413

5
6

14

10 K
+

PS
9 VOLT

RANGKAIAN INPUT

Ke IC SN 7400

Gambar 3.1. Rangkaian Input

Universitas Sumatera Utara

Rangkaian input terdiri dari :


1. Sensor (transmitter, receiver dan tahanan).
2. Penguat (Amplifier)
3. Schmitt Trigger
Dalam bentuk blok bagian dapat kita gambar seperti di bawah ini :

Sensor

Amplifier

Schmitt Trigger

Gambar 3.2. Rangkaian Input secara blok


untuk lebih jelasnya akan di bahas pada bab selanjutnya satu per satu rangkaian
tachometer digital.

3.2. Rangkaian Pintu Utama (Main Gate)


Rangkaian pintu utama terdiri dari IC SN7400, fungsi pintu utama
adalah melewatkan dan menahan pulsa yang masuk kepadanya. Bagian dalam IC
SN7400 adalah Nand gate, ini berarti bila salah satu input nol (0) maka outputnya
akan satu (1). Membuka dan menutupnya Nand Gate diatur oleh time base, yang
mana besarnya diatur sesuai dengan kebutuhan. Output dari pintu utama akan
merupakan input bagi counter yang akan menghitung besarnya pulsa tersebut.

Pulsa yang akan diukur

IC SN7400

Time Base

Gambar 3.3. Rangkaian Pintu Utama

Universitas Sumatera Utara

3.3. Rangkaian Clock (Rangkaian Pulsa)


Rangkaian ini terdiri dari beberapa IC, Oscilator dan komponen passip,
fungsinya untuk membangkitkan frekuensi 1 MHz stabil. Ini dihasilkan dari IC
SN7400, oscilator, tahanan dan kondensator. IC yang lain yaitu SN7490 berfungsi
sebagai pembagi 10 dan 2, sehingga dihasilkan frekuensi yang diinginkan.
Output dari rangkaian clock ini merupakan salah satu input bagi rangkaian
pintu utama yaitu time base (gating time), selain itu berfungsi sebagai output
rangkaian input bagi rangkaian kontrol.

VCC +5 VOLT
Ke IC 7490, PIN 14
14 13 12 11 10 9 8
IC 7400
1 2 3 4 5 6 7

1K

220 nF
2K2

XTAL
1K
1M

14 2 3 6 7 10 11 14

Dari
IC 7400

7490

12

7490
1

100 K Hz

11 14

7490

11 14

7490

11

14

1
12
12
1
12
5
1
5
5
50 K Hz 10 K Hz 5 K Hz 1 K Hz 500 Hz 100 Hz

11 14

7490
12

50 Hz

10 Hz

12
5 Hz

2 3 6 7 10

11 14

7490
5

7490
1

1 Hz

12

11

5
0,1 Hz

0,5 Hz

500 K Hz

VCC
+ 5 VOLT

Gambar 3.4. Rangkaian Clock

Universitas Sumatera Utara

3.4. Rangkaian Kontrol


Rangkaian terdiri dari 2 (dua) buah IC 74121, tahanan dan kondensator
yang berfungsi untuk memberikan pulsa set dan reset (latch dan strobe) ke
rangkaian counter bagian memori yaitu IC 7475, tujuan dari pada pemberian pulsa
ini agar memori dapat menyimpan sejenak pulsa dan kemudian melepasnya
kembali untuk dihitung besarannya. Dan bersamaan dengan itu IC 7475 siap
kembali menerima pulsa yang baru akan diukur besarnya, pada saat itu juga
display siap memperlihatkan hasil pengukuran.

VCC +5 VOLT

R Ext

14

13

12

VCC +5 VOLT

C Ext

11

10

R Ext

SN 74121

13

14

12

C Ext

11

10

SN 74121

NC

NC
KE DECODER COUNTER
DARI TIME BASE

KE MEMORY STOBE
DARI TIME BASE

Gambar 3.5. Rangkaian Kontrol

Universitas Sumatera Utara

3.5. Rangkaian Penghitung (Counter)


Rangkaian penghitung (counter) ini merupakan tempat memproses pulsa
yang akan diukur dan sekaligus memperlihatkan hasil pengukuran pada display,
dalam bentuk desimal yang dapat dibaca langsung. Rangkaian ini terdiri dari
beberapa IC yaitu: IC SN7490, SN7475, SN7447 dan seven segmen.

220

1x7

220

1x7

220

1x7

220

1x7
Vcc

16

7447

8
7

15

10

16

Clock dari
Pintu Utama

12

11

14

7447

8
7

15

10

16

12

11

14

6 7 10 4

16

7447

8
7

15

10

16

6 7 10 4

12

11

14

7447

7490
2 3

+5V

16

8
7

15

10

16

13

12

11

12
5

7475
13

7490
2 3

12
5

7475
13

7490
2 3

12
5

7475
13

16

7475

14

6 7 10 4

Clock dari
12 IC 74121 Reset
5

7490
2 3

6 7 10 4

Vcc
+5V

Set

Gambar 3.6. Rangkaian Penghitung (Counter)

Universitas Sumatera Utara