Anda di halaman 1dari 11

OSCE ANAK

Oleh Dwi Notosusanto FKUI 2005


Menghitung kebutuhan nutrisi anak
Kebutuhan kalori harian = RDA x BB menurut usia tinggi badan
0.1th RDA 110-120kcal/kgBB
1-3 RDA 100 kcal/kgBB
4-6 RDA 90 kcal/kgBB
7-9 RDA 80 kcal/kgBB
10-12 RDA 70 kcal/kgBB
13-15 RDA laki 60-70 kcal/kgBB; RDA perempuan 50-60 kcal/kgBB
16-18 RDA laki 50-60 kcal/kgBB; RDA perempuan 40-50 kcal/kgBB
Untuk usia di atas 1 tahun pola makan seperti orang dewasa yaitu 3 x makan
besar diselingi snack/buah.

REHIDRASI DIARE

Diare akut tanpa dehidrasi: tiap muntah berikan pedialyte 5 cc/kgBB, tiap
mencret berikan pedialyte 10 cc/kgBB

Diare akut dehidrasi ringan-sedang: jika anak masih mau minum berikan
pedialyte 75 cc/kgBB untuk 3 jam pertama; jika anak tidak bisa minum berikan
cairan infus RL/RA/NaCl 9% 70 cc/kgBB (selama 5 jam jika usia 0-1 thn; selama
2,5 jam jika usia 1-5 thn). Alternatif bisa juga diberikan infus 175 cc/kgBB dalam
24 jam (hasil perhitungan turorial diare).

Diare akut dengan dehidrasi berat: 30 cc/kgBB dalam 1 jam lalu 70 cc/kgBB
dalam 5 jam (usia 0-1 thn); 30cc/kgBB dalam ½ jam lalu 70 cc/kg dalam 2 ½
jam (usia 1-5 thn).

Tidak boleh menggunakan Dekstrose 5% untuk cairan resusitasi.

Jika pasien syok ,loading 20 cc/kgBB secepatnya (dalam 20 menit) evaluasi


ulang. Bisa diulang 2 x lagi.

Untuk maintenance gunakan rumus Darrow dengan cairan KaEN: untuk 10 kg


pertama x 100, untuk 10 kg kedua x 50, untuk kg berikutnya x 20, jumlahkan
totalnyahasil dalam ...cc/24 jam.

RESUSITASI NEONATUS

Saat baru lahir nilai: Cukup bulan? Warna ketuban? Menangis? Tonus otot? Klo
baik langsung keringkan wajah dan badan, rangsang taktil (menggosok
punggung, menepuk telapak kaki). Klo terganggu maka lakukan pembersihan
jalan nafas (mulut dahulu kemudian hidung), bawa ke tempat resusitasi yang
datar dan hangat, nilai frekuensi nadi karotis, frekuensi nafas, sianosis sentral (di
bibir dan lidah) dalam 30 detik. Jika hanya akrosianosis dan keadaan bayi bugar
hangatkan bayi saja. Jika bayi hanya sianosis sentral berikan aliran oksigen
bebas 2 s/d 4L/menit. Lakukan masase jantung (tekan sedalam 1/3 diameter AP)
jika HR<60 x/menit. Lakukan VTP dengan sungkup (ventilasi tekanan positif)

1
sianosis sentral yang menetap setelah pemberian oksigen bebas atau apneu
(henti nafas >20 detik) atau HR< 100x/menit dengan posisi bayi sniffing dan
sungkup menutup hidung, mulut dan dagu. Yakinkan pergerakan dada simetris.
Dalam 1 siklus selama 30 detik terdapat 20 VTP dan 60 masase jantung.
Perbandingan masase jantung: VTP ialah 3:1 agar fisiologis. Lakukan penilaian
ulang tiap 1 siklus. Berikan epinefrin (bila setelah 1 siklus tidak ada perbaikan)
1:10000 (dari epinefrin 1:1000 yg diambil o,1 cc diencerkan dengan 0,9 cc Nacl
0,9%) lalu bolus ke vena umbilicus dengan dosis 0,1-0,3 cc/KgBB. Jika bayi
pucat/kehilangan darah/ tidak memberikan respon memuaskan terhadap
resusitasi boleh berikan infus RL/NS IV umbilikus dosis 10ml/kgBB dalam 5-10
menit. Jika resusitasi berhasil, lanjutkan perawatan post resusitasi. Resusitasi
bisa dihentikan setelah 10 menit tidak ada perbaikan. Berikan informed consent
kepada orang tua bayi.

TES TUBERKULIN
Kontraindikasi lokal
Infeksi kulit lokal pada kulit yang akan disuntik
Alat yang dibutuhkan
• Semprit tuberkulin dengan ujung berpengunci Luer
• Jarum suntik no.26 atau 27
• PPD
Dilakukan intrakutan, caranya dengan menggunakan spuit 1 cc ambil PPD
intermediate strength (PPD RT23 2TU yg diproduksi PT Biofarma Bandung)
dengan lubang jarum mengarah ke atas, jarum hampir sejajar kulit, regangkan
kulit lalu insersikan mulut jarum menghadap ke atas hingga tidak tampak di 1/3
proksimal lengan bawah sisi volar lengan bawah sebanyak 0,1 cc hingga
terbentuk gelembung kecil. Tandai dengan melingkari tempat suntikan. Lakukan
penilaian setelah 2 sampai 3 hari penyuntikan. Gunakan pulpen dari lateral
hingga menyentuh tepi indurasi kiri dan kanan. Lalu ukur secara tranversal
diameter indurasi. Bila > 15 mm hasil positif, bila hasil 10 sd 15 mm hasil positif
meragukan, bila hasil >5 mm pikirkan apakah terdapat keadaan depresi sistem
imun (bisa dianggap positif). Hasil positif bisa terjadi setelah 2 minggu hingga
12 minggu (biasanya 6 sd 8 minggu) dilakukan vaksin BCG atau terinfeksi BCG.
Hasil negatif bila diameter indurasi < 5 mm. Hasil negatif bisa terjadi pada
kondisi belum pernah terpapar infeksi TB, fase inkubasi TB, atau anergi.
Penyebab kegagalan suntikan
• Kulit kurang teregang
• Jarum tidak terkunci dengan baik pada sempritnya
• Tidak seluruhnya mulut jarum masuk ke kulit
• Jarum menembus jaringan subkutan
• Jarum tumpul
• Pasien tidak kooperatif/gelisah
• Adanya gelembung udara dalam semprit

SUNTIKAN INTRAVENA/PEMATANGAN CAIRAN INTRAVENA


Indikasi

2
Pemberian obat-obatan dan cairan intravena/tranfusi darah
Kontraindikasi lokal
Infeksi lokal pada tempat yang akan disuntik
Alat yang dibutuhkan
• Semprit ukuran 2,5; 3 ml; 5 ml (sesuai kebutuhan)
• Jarum suntik
o Bayi : No. 23-25
o Anak : No. 19-22 atau jarum bersayap
• Obat atau cairan infus yang diperlukan
• Torniquet, manset tensimeter, atau karet gelang
• NaCl 0,9%
Tempat suntikan
Suntikan dapat dilakukan di setiap vena superfisial, misalnya di punggung
tangan, punggung kaki, bagian medial pergelangan tangan, fosa kubiti, kepala,
bagian medial tungkai, atau leher.
Cara
• A dan anti sepsis daerah yang akan disuntik
• Perawat diminta untuk memegang anak dengan baik agar anak tenang
• Aliran vena proksimal dibendung dengan turniquet, manset dan karet
gelang
• Kulit ditusuk beberapa mm sebelah distal dari bagian vena yang disuntik;
jarum suntik diarahkan 25-45 derajat dengan mulut jarum ke atas
• Bila vena ditusuk, darah akan keluar perlahan; semprit diganti dengan
semprit yang berisi obat
• Obat dimasukkan sambil dilepaskan dengan bendungan vena
• Untuk pemasangan cairan intravena dipakai jarum bersayap yang
dihubungkan dengan selang infus; tetesan diatur sesuai dengan
keperluan.

SUNTIKAN INTRAMUSKULAR
Gunakan semprit ukuran 2,5 atau 3 cc, jarum suntik No.19-22
Suntikan pada vastus lateralis
• Kulit daerah suntikan dibersihkan dengan cairan antiseptik
• Jarum ditusukkan tegak lurus pada otot paha di sisi lateral pada ½
sampai 1/3 proksimal sedalam 2 cm
• Aspirasi semprit, apabila tidak keluar darah barulah obat atau vaksin
dimasukkan perlahan-lahan sesuai dosis

Menilai APGAR

Tanda 0 1 2
3
Warna Seluruh tubuh Tubuh kemerahan Seluruh tubuh
(appearance) pucat/biru merah
Laju jantung Tidak ada <100x/menit > 100
(pulse) x/menit
Refleks (grimace) Tidak bereaksi Gerakan sedikit Reaksi melawan
Tonus otot Lumpuh Ekstremitas fleksi Gerakan aktif
(activity) sedikit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat Menangis kuat
(respiratory)
Penilaian terhadap adaptasi neonatus dilakukan dengan cara menghitung nilai
Apgar. Penilaian ini dilakukan pada menit pertama setelah lahir yang
memberikan petunjuk adaptasi neonatal. Neonatus yang beradaptasi dengan
baik mempunyai nilai Apgar 7 sampai 10. Nilai 4 sampai 6 menunjukkan keadaan
asfiksia ringan sampai sedang, sedangkan nilai 0-3 menunjukkan derajat asfiksia
yang berat.
Penilaian Apgar ini perlu diulangi setelah 5 menit untuk mengevaluasi apakah
tindakan resusitasi kita sudah adekuat. Bila belum, perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang lain. Nilai Apgar 5 menit mempunyai nilai prognostik karena terkait
morbiditas neonatal.

Pungsi Ascites
Dilakukan jika ascites refrakter (tidak dapat dikembalikan dengan terapi
medikamentosa yang intensif. Pada umumnya pungsi ascites aman apabila
disertai dengan infus albumin sebanyak 6-8 g untuk setiap liter cairan ascites.
Selain albumin dapat pula digunakan dextran 70%. Pada anak untuk
menghindari komplikasi dilakukan dengan guiding USG.

Jadwal Vaksin Wajib PPI


Hepatitis B :12 jam pasca lahir, usia 1 bulan, usia antara 2 dan 6 bulan.
Polio :Saat lahir akan pulang, usia 2 bulan, usia 4 bulan, usia 6 bulan
BCG :Usia antara 1 dan 3 bulan
DTP :Usia 2 bulan, usia 4 bulan, usia 6 bulan
Campak : usia 9 bulan
Jadwal Vaksin Ulangan
Hepatitis B : Umur antara 10 dan 12 tahun, jika kadar anti HBs <10µg/ml
Polio : Usia 18 bulan, usia 5 tahun
DTP : Usia antar 15 dan 18 bulan, usia 5 tahun (sebaiknya berikan
DTaP), usia 12 tahun (berikan DT saja).
Campak : Usia antara 5 dan 6 tahun

Dosis Vaksin
Hepatitis B : HbsAg 0,5 cc IM Vastus Lateralis
Polio : OPV 2 tetes (=0,1 cc) oral
BCG : 0,05 cc (usia <1 th), 0,1 cc (usia >1 th) Intrakutan di proksimal
volar lengan bawah
DTP : DTwP 0,5 cc IM vastus Lateralis

4
Campak : 0,5 cc subkutan dalam pada vastus lateralis (usia<1tahun) atau
deltoid (>1 tahun) atau IM
Kontraindikasi Vaksin
Hepatitis B : Sakit berat
Polio : Penyakit akut/demam>38,50C, diare berat, defisiensi imun, hamil,
bersama vaksin tifoid
BCG : Immunokompromais, reaksi tuberkulin > 5 mm, demam tinggi,
infeksi kulit luas
DTP : usia > 7 tahun( tidak boleh P), demam (>380C), sakit berat, KIPI
setelah DTP.
Campak : Infeksi akut dengan demam > 380C, defisiensi imun, alergi
protein telur, alergi kanamisin dan eritromisin, hamil
Efek Samping Vaksin
Hepatitis B : Syok anafilaktik 4 jam pasca suntikan
Polio : Vaccine-Associated Poliomielitis Paralitik (1:2,5 juta OPV), diare
ringan , nyeri otot, pusing
BCG : ulkus lokal superfisial, cold absess, limfadenitis supuratif, BCG-itis
diseminata
DTP : Reaksi lokal nyeri kemerahan, demam tinggi, rewel(inconsolable
crying 3 jam) , hipotonik-hiporesponsif 48 jam, kejang demam (0,06%), syok
anafilaktik, ensefalopati akut
Campak : Demam >39,50C hari 5-7, kejang demam, ruam hari 7-10,
ensefalitis & ensefalopati (1: 1 miliyar)
Yang Perlu Diperhatikan Selama Langkah Pemberian Imunisasi
• Siapkan semua perlengkapan imunisasi
• Pastikan vaksin tidak kadarluarsa (lihat warna cairan , VVM/vaccine vial
monitor warna segi empat lebih muda, tidak pernah terendam air)
• Tanyakan identitas bayi/anak apakah sesuai dengan KMS
• Tanyakan kondisi bayi/anak terkait riwayat imunisasi, kontraindikasi
• Berikan penjelasan mengenai vaksin yang akan diberikan
• Lakukan PF mencari kontraindikasi
• Sebelum membuka bungkus semprit/jarum pastikan untuh
• Jangan menyentuh jarum
• Baca nama vaksin dan ambil pelarut khusus untuk vaksin, kocok hingga
homogen
• Ambil 1 dosis vaksin untuk 1 kali penyuntikan
• Jarum yang digunakan untuk melarutkan tidak boleh digunakan untuk
menyuntik
• Posisikan bayi/anak yang akan diimunisasi agar tidak mudah bergerak
ketika disuntik, terutama lengan/paha yang akan disuntik
• Bersihkan bagian yang akan disuntik dengan antiseptik, tunggu hingga
mengering
• Otot harus dalam keadaan lemas dengan mengatur posisi lengan sedikit
fleksi pada siku, tungkai sedikit rotasi interna. Kulit diregangkan ke
samping

5
• Penyuntikan sesuai sudut: intradermal (15 derajat), intramuskular (60-90
derajat)
• Buang jarum & semprit ke safety box
• Luka bekas suntikan ditekan agak kuat dengan kapas, sebaiknya ditutup
dengan plester
• Catat vaksin yang telah disuntikkan dan tanggal penyuntikan dalam KMS
• Setelah penyuntikan sebaiknya tunggu 20-30 menit untuk melihat KIPI
segera/reaksi anafilaktik tipe cepat
• Sisa vaksin yang masih dipakai namun belum kadarluarsa disimpan dalam
suhu 2-80C
Sisa vaksin yang masih bisa dipakai
1. BCG setelah dilarutkan dapat dipakai dalam 3 jam
2. Campak setelah dilarutkan dapat dipakai dalam 8 jam
3. Polio bisa dipakai dalam 2 minggu
4. DPT, hepatitis B bisa dipakai dalam 4 minggu

Penanganan Syok Anafilaktik


Adrenalin 1: 1000 dengan dosis 0,01 cc/kgBBmaksimal o,3 IM vastus
lateralis jika dibutuhkan, berikan dosis kedua setelah 15-20 menit, kemudian
tiap 4 jam.
Difenhidramin oral/IM dosis 1-2 mg/kgBB, maksimum dosis 50 mg tiap 6
jambekali untuk 3 hari.
Prednison oral 1-2 mg/kgBB bagi dalam 3 dosis dengan dosis pagi hari paling
besar untuk 3 hari

6
3
A LGOR IT ME PE NA N GAN A N KE JA N G A K U T & STAT US K ON VU LSIF
Diazepam 5-
P rehospital 10mg /rekt max 2x 0-10 m nt
jarak 5 m enit

Hospital/E D Diaz ep am 0, 25-0,5m g/kg/ iv/ io Monitor


Airway 10-20 m nt
(kec 2m g/ mnt, max dosis 20m g) Tanda vi tal
Breathing, O2
at au E KG
Circulation
Midaz olam 0,2m g/kg/ iv bol us Gula darah
at au Elekt rolit s erum
NO T E : JI KA DIAZ RECT AL 1X PRE
HO SPI TAL BOL EH RECT AL 1X Loraz epam 0, 05-0,1m g/kg/ iv (Na, K, Ca, Mg, Cl)
(rate <2m g/m nt) Anali sa Gas Darah
KEJA NG (-) K oreks i k ela i nan
5 – 7 m g/kg
12 jam kem udian Fenitoin Pulse oxymetri
20m g/kg/ iv
20-30 mnt Kadar obat darah
ICU/E D Note : A ditional (20m nt / 50ml NS )
5-10m g/kg/ iv Max 1000m g

KE JA NG (-) Phenob arb ito ne


4 – 5 m g/kg 30-60 mnt
20mg /kg/i v
12 jam kemudi an
(rate >5-10min; max 1g)

ICU Refrakter

Mid az olam 0, 2m g/ kg /iv bo lus Pentotal - Tio pental Propofol 3-5m g/kg/ infusion
Dilanjut infus 0, 02-0,4 m g/ kg /jam 5 – 8 mg/ kg/i v

Cara pemberian obat:


• Diazepam rektal 5 mg/10 mg, maksimal 2 kali interval 5-10 menit.
• Diazepam IV maks sekali pemberian 10 mg dengan kecep 2 mg/menit,
dapat diberikan 2-3 kali dengan interval 5 menit.
• Fenitoin IV dosis inisial maksimum adalah 1000 mg (30 mg/kgBB). Sediaan
IV diencerkan dengan 1 ml NaCL 0,9% per 10 mg Kecepatan pemberian IV
maksimum 50 mg/menit.
• Fenobarbital IV dosis inisial maksimum 600 mg (30 mg/kgBB). Kecepatan
pemberian maksium 30 mg/menit.
• Midazolam IV bolus 0,2 mg/kgBB (perlahan), kemudian drip 0,02-0,4
mg/kg/jam. Rumatan fenitoin dan fenobarbital tetap diberikan.
• Pada pasien yang mengalami kejang > 15 menit rentan terjadi
hipoksia, perhatikan kebiruan akral dan bibir. Berikan oksigen 0,5-
2L/menit.

PUCAT pada Anak


Pikirkan terjadi anemia. Gali kemungkinan 3 mekanisme terjadinya anemia,
yaitu: karena menurunnya produksi eritrosit, meningkatnya penghancuran
eritrosit atau ada perdarahan.

7
OSCE IPD

Menghitung kebutuhan kalori pasien DM dengan rumus Brocca


• Menentukan Berat badan ideal
o Jika pria <170 cm atau wanita <150, BBI = (TB aktual-100cm)x 1kg
o Jika pria>170 cm atau wanita>150 cm, BBI=90%x(TB aktual-100
cm)x 1kg
• Menentukan status gizi (hitung BB aktual/BBI)
o Gemuk bila >120%
o Lebih bila 110-120%
o Normal bila 90-110%
o Kurang bila dibawah 90%
• Penentuan kebutuhan kalori per hari
1. Kebutuhan basal
a. Pria : BBI x 30 kalori
b. Wanita : BBI x 25 hari
2. Koreksi atau penyesuaian
a. Umur di atas 40 : -5%
b. Aktivitas ringan : +10%
c. Aktivitas sedang : +20%
d. Aktivitas berat :+30%
e. Berat badan gemuk :-20%
f. Berat badan lebih :-10%
g. Berat badan kurus :+20%
3. Stress Metabolik :+10 s/d 30%
4. Kehamilan trimester I s/d II : +300 kalori
5. Kehamilan trimester III:+500 kalori
Makanan tersebut dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), makan
siang (30%), makan malam (25%), serta 2-3 porsi ringan (10-15%) di antara
makan besar.
Distribusi makanan: Karbohidrat (60%), protein (20%), lemak (20%).
Kebutuhan serat 25 gram/hari.
EKG
Langkah menginterpretasi hasil EKG
1. Layak baca
a. Kalibrasi : tinggi voltase 2 kotak sedang (atau 10 kotak kecil)
b. Gelombang P terbalik pada sadapan aVR, gelombang P tidak
terbalik pada sadapan II
c. Garis Isoelektris
2. Irama
a. Teratur bila: P selalu diikuti oleh QRS (sinus), menentukan HR
dengan rumus: 300/jumlah kotak sedang antara 2 puncak R
b. Tidak teratur: tidak sinus (misal pada atrial fibrilasi, SVT bila QRS
sempit), menentukan HR dengan rumus: banyaknya puncak R
dalam 30 kotak sedang x 10.
c. Takikardi jika > 100x/menit, bradikardi jika <60x/menit

8
3. Menentukan aksis
a. Hitung R-S di sadapan I dan aVF
b. Jika hasilnya (-) pada I kemungkinan terjadi RAD (pada hipertrofi
atrium kanan atau ventrikel kanan), jika hasilnya (-) pada aVF
kemungkinan terjadi LAD
c. Tentukan sudut dengan menilai arc tan (R-S) di I/(R-S) di aVF
4. Nilai gelombang P di sadapan II
a. Durasi normal 3 kotak kecil (0,12 sekon) dengan amplitudo <2,5
mm
b. Jika sisi kanan P lebih tinggi curiga P pulmonal, jika sisi kiri P lebih
tinggi atau durasi P memanjang curiga P mitral
5. Nilai PR interval (awal P sampai awal R)
a. Normal 0,12-0,2 sekon
b. Jika <0,12 s bsa menunjukkan WPW (cari gelombang delta nya di
antara Q dan R)
6. Nilai gelombang QRS
a. Normalnya 0,12 sekon
b. R dari V1 ke V6 makin tinggi sedangkan S dari V1 ke V6 makin
rendah
7. Nilai hipertrofi ventrikel
a. Hipertrofi ventrikel kiri jika S di V1+R di V5 >35 mm atau
aVL>13mm atau R di sadapan I + S di sadapan III > 25 mm
b. Hipertrofi ventrikel kanan jika di V1 R>S atau di V6 S>R
8. Nilai QT interval
a. Normalnya ¼ jarak R ke R (0,36 s-0,44s)
b. Bisa memanjang pada pemakaian obat Quinidin atau hipokalsemia
c. Bisa memendek pada hiperkalsemia
9. Nilai ST changes
a. Patokan: selisih J point dengan garis isoelektris
b. Terjadi pada 2 lead berdekatan
c. Elevasi: 2mm pada sadapan prekordial atau 1 mm pada sadapan
ekstremitas
d. 0,5 mm ½ depresi
10.Nilai T changes
a. Hiperakut T (tinggi dan cenderung lancip) terjadi pada keadaan
iskemia miokard
b. T -tall pada keadaan hiperkalemia
c. T rata pada keadaan hipokalemia
11.Nilai Infark
a. Terdapat Qs (gel Q dalam tanda old miokard infark), dalamnya
gelombang Q > 1/3 gelombang R, durasi gelombang Q >0,04
b. Poor R progression
c. ST elevasi (bisa juga terjadi pada angina Prinzmetal), ST depresi
menetap > 48 jam (karena depresi ST bisa juga terjadi pada
hipokalemia)
d. Tentukan area yang terlibat: V1 sd V4 Anterior; V5-V6, I, aVL Lateral
kiri; I, II, aVF inferior.
9
12.Nilai Blok AV
a. Derajat I (semua denyut dihantarkan ke ventrikel): PR interval >0,2
sekon
b. Derajat II (sedikit denyut dihantarkan ke ventrikel): tipe I jika PR
makin lama makin panjang; tipe II jika muncul 2 atau lebih P diikuti
QRS
c. Derajat III(tidak ada denyut yang dihantarkan ke ventrikel) jika
kemunculan gelombang P dan QRS tidak berhubungan sama sekali
13.Nilai RBBB
a. Ada RSR’ di V1 dan V2
b. Aksis deviasi ke kanan
c. Durasi QRS > 0,12 s (komplit)
14.Nilai LBBB
a. Ada RSR’ di V5, V6, I, aVL
b. Aksis deviasi ke kiri
c. Durasi QRS > 0,12 s (komplit)

OSCE IKK
Bising
SNHL (tuli sensori neural) yang irreversible bisa terjadi pada NIHL (noise induce
hearing loss) akibat bising pada lingkungan kerja. Bising ialah campuran bunyi
nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising yang intensitasnya >85 dB dapat
menimbulkan NIHL. Biasanya pada pekerja yang masa kerja > 5 tahun. Gejala
ringan berupa tinitus, hingga gejala berat berupa fenomena rekruitmen(peka
terhadap peningkatan intensitas bunyi tiap 1 dB), cocktail party deafness, lebih
mudah komunikasi di tempat sepi.
Maksimum durasi kerja pada 85 dB ialah 8 jam. Tiap naik 3 dB durasi menjadi
setengah kali semula, sedangkan tiap turun 3 dB durasi menjadi 2 kali semula.
Untuk pencegahan ketulian pada bising tersebut, dapat digunakan beberapa
cara yaitu meredam bunyi ruangan, menggunakan sumbat telingan (ear plug),
tutup telinga (ear muff), pelindung kepala (helmet), membatasi jumlah jam kerja
per hari. Alat pelindung dengan (APD) ini perlu dibersihkan dan diganti apabila
sudah longgar. SNHL dapat ditangani dengan pemakaian ADB (alat bantu
dengar).
Dioanjurkan menjalani pemeriksaan audiometri rutin tiap tahun.

10
OSCE IKK
Breaking The Bad News
1. Menyapa pasien dan suami
2. Menjelaskan tujuan pertemuan
3. Menilai apakah yang telah diketahui oleh pasien tentang masalah yang
akan disampaikan, dan perasaan pasien
4. Memperlihatkan perilaku verbal dan non-verbal kepada pasien yang
mengindikasikan bahwa informasi yang akan disampaikan selanjutnya
adalah informasi yang penting
5. Memperlihatkan respon pasien sebelum melanjutkan ke proses berikutnya
6. Berusaha mengetahui informasi tambahan yang dibutuhkan oleh pasien
7. Memberikan penjelasan yang terorganisir
8. Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, tidak
menggunakan jargon medik dan kalimat yang membingungkan
9. Mengenali dan menanggapi tanda-tanda non-verbal yang ditunjukkan oleh
pasien
10.Memberikan waktu pada pasien untuk bereaksi (dengan cara hening atau
berdiam diri sejenak)
11.Mendorong pasien untuk memberikan tanggapan, keprihatinan dan
perasaannya
12.Mencermati perasaan, keprihatinan dan nilai-nilai yang dianut pasien
13.Menggunakan empati untuk mengkomunikasikan apresiasi terhadap
perasaan dan kesusahan yang dialami pasien
14.Menggunakan perilaku non-verbal yang baik (kontak mata, posisi dan
postur tubuh yang sesuai, gerakan tubuh, ekspresi wajah, suara-termasuk
kecepatan dan volume)
15.Menyatakan dukungan kepada pasien (contohnya mengekspresi
keprihatinan, pengertian dan keinginan untuk menolong)

11