Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

Thypoid Fever (Demam Tifoid)

Disusun oleh :
Nama : ILYATI SYARFA
NIM : 41151095000015

Program Pofesi Ners


Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2016

A. Pengertian Thypoid Fever (Demam Tifoid)


Demam tifoid (typhoid fever, typhus abdominalis, enteric fever) merupakan suatu
penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang menyerang saluran pencernaan tepatnya
usus halus yang disebabkan oleh Salmonella Enterica, Serotype Typhi (Salmonella
Typhi) dan Salmonella ParaTyphi. Penyakit ini masih merupakan penyakit endemik di
Indonesia. Demam tifoid ditandai dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Penyakit ini
masih sering dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang terutama yang terletak
di daerah tropis dan subtropik.

Terjadi banyak kematian dan sejumlah KLB tifoid di New York di awal tahun
1900-an. Ketika akhirnya diidentifikasi sebagai sumber epidemi tifoid, hasil
pemeriksaan bakteriologis pada tinjanya menunjukkan bahwa terdapat karier
tifoid kronis.
Demam tifoid merupakan salah satu dari sekian banyak infeksi Salmonella dan
Salmonella menjadi patogenik akibat endotoksin yang dihasilkannya. Sumber
infeksi biasanya berasal dari tinja karier asimptomatik. Sekitar 2% sampai 5%
pasien akan menjadi karier kronis.

Gambar 1. Salmonella Thyposa


B. Etiologi Thypoid Fever (Demam Tifoid)
Penyakit tifus disebabkan oleh infeksi Salmonella Enterica, Serotype Typhi
(Salmonella Typhi) dan Salmonella ParaTyphi. Bakteri ini merupakan bakteri
yang berbentuk basil gram negatif, berflagel (bergerak dengan bulu getar),
anaerob, dan tidak menghasilkan spora. Bakteri tersebut memasuki tubuh
manusia melalui saluran pencernaan dan manusia merupakan sumber utama
infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat sedang sakit
atau dalam pemulihan. Kuman ini dapat hidup dengan baik sekali pada tubuh

manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit, namun mati pada suhu
70C maupun oleh antiseptik. Ada dua sumber penularan Salmonella Typhi yaitu
pasien dengan demam tifoid dan pasien dengan karier. Carier adalah orang yang
sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekresi Salmonella Typhi dalam
tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
Salmonella Typhosa memiliki tiga macam antigen, yaitu :
1. Antigen O (Ohne Hauch), merupakan polisakarida yang sifatnya spesifik
untuk grup Salmonella dan berada pada permukaan organisme dan juga
merupakan somatik antigen yang tidak menyebar.
2.

Antigen H, terdapat pada flagella dan bersifat termolabil.

3. Antigen Vi, merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi
antigen O terhadap fagositosis.

C. Tanda dan Gejala Thypoid Fever (Demam Tifoid)


Masuknya kuman ke dalam intestinal terjadi pada minggu pertama dengan tanda
dan gejala suhu tubuh naik turun. Demam yang terjadi pada masa ini disebut
demam intermitten (suhu yang tinggi, naik turun, dan turunnya mencapai
normal). Disamping peningkatan suhu tubuh, juga akan terjadi obstipasi sebagai
akibat penurunan motilitas suhu, namun hal ini tidak selalu terjadi dan dapat pula
terjadi sebaliknya. Setelah kuman melewati fase intestinal, kemudian masuk ke
sirkulasi sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh yang sangat tinggi dan
tanda-tanda infeksi pada RES seperti nyeri perut kanan atas, splenomegali, dan
hepatomegali. (Chatterjee, 2009).
Pada minggu selanjutnya, dimana infeksi fokal intestinal terjadi dengan tandatanda suhu tubuh masih tetap tinggi, tetapi nilainya lebih rendah dari fase
bakterimia dan berlangsung terus menerus (demam kontinu), lidah kotor, tepi
lidah hiperemis, penurunan peristaltik, gangguan digesti dan absorpsi sehingga
akan terjadi distensi, diare dan pasien merasa tidak nyaman. Pada masa ini terjadi
perdarahan usus, perforasi, dan peritonitis dengan tanda distensi abdomen berat,

peritaltik menurun bahkan menghilang, melena, syok, dan penurunan kesadaran.


(Parry, 2002).
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari. Setelah masa inkubasi
maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri
kepala, pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat suhu
tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi
pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam
keadaan demam. Dalam minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun
dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Ganguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden), lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan
tepinya kemerahan, jarang disertai tremor, mual, muntah, dan kembung. Pada
abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati
membesar (hepatomegali) dan limpa membesar (splenomegali) disertai nyeri
pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin pula
normal bahkan dapat terjadi diare.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu
apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.
Berbagai tanda dan gejala yang bisa timbul:
1. Demam tinggi dari 39 sampai 40 C (103 sampai 104 F) yang meningkat
secara perlahan
2. Tubuh menggigil
3. Denyut jantung lemah (bradycardia)
4. Badan lemah (weakness)
5. Sakit kepala
6. Nyeri otot myalgia
7. Kehilangan nafsu makan
8. Konstipasi
9. Sakit perut
10. Pada kasus tertentu muncul penyebaran flek merah muda (rose spots)

D. Faktor Resiko Thypoid Fever (Demam Tifoid)


1 Sanitasi lingkungan yang buruk
Sanitasi lingkungan yang buruk meliputi sumber air bersih yang tercemar,
kondisi lingkungan sekitar rumah maupun di dalam rumah yang kotor (sampah

bertebaran di mana-mana), kotoran hewan di jalan umum yang tidak


dibersihkan (dibiarkan begitu saja), dan sebagainya.
Personal hygiene yang buruk
Personal hygiene yang buruk ini dapat berupa perilaku tidak bersih dan tidak
sehat oleh anggota masyarakat, seperti tidak mencuci tangan sebelum maupun
sesudah makan, menggunakan peralatan makan yang sudah dipakai
sebelumnya (belum dicuci langsung dipakai kembali, atau kalaupun dicuci
tetapi tidak bersih), tidak menggunakan jamban atau toilet untuk buang air

besar maupun buang air kecil.


Menjadikan sungai sebagai sapiteng rumah tangga
Hal ini dapat mencemari sungai sehingga bakteri S. Typhi dapat menyebar di
dalam sungai. Jika sungai tersebut dimanfaatkan sebagai tempat untuk mandi,

cuci, kakus maka bakteri S. Typhi akan sangat mudah menginfeksi manusia.
Mengkonsumsi makanan (khususnya sayuran) dalam kondisi mentah dan
minum air yang tidak direbus.
Makanan atau minuman yang tidak dimasak hingga matang atau mendidih
(untuk air) akan menyebabkan bakteri yang berada pada sayur dan yang
berada di dalam air tidak mati sehingga akan dengan mudah termakan dan

masuk ke dalam tubuh.


Pasteurisasi susu yang tidak baik
Pasteurisasi susu yang menggunakan suhu yang tidak sesuai maka dapat
memicu berkembangnya bakteri-bakteri termasuk bakteri S. Typhi, apabila
terminum oleh manusia maka akan masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi

manusia tersebut.
Cara pengolahan dan penyajian makanan dan minuman yang tidak baik
Cara pengolahan dan penyajian makanan dan minuman yang tidak sesuai
standar kebersihan, seperti tidak mencuci tangan sebelum mengolah makanan
dan minuman, menggunakan wadah yang tidak bersih, makanan atau
minuman dibiarkan terbuka begitu saja, dan sebagainya. Hal tersebut dapat
menyebabkan bakteri mudah berpindah ke dalam makanan dan minuman
kemudian termakan dan menginfeksi manusia.

E. Patofisiologi Thypoid Fever (Demam Tifoid)

Demam tifoid (typhoid fever, typhus abdominalis, enteric fever) merupakan


suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang menyerang saluran
pencernaan tepatnya usus halus yang disebabkan oleh Salmonella Enterica,
Serotype Typhi (Salmonella Typhi) dan Salmonella ParaTyphi.
Kuman Salmonella Typhi masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan
atau minuman yang terkontaminasi. Jumlah Salmonella Typhi yang masuk ke
dalam tubuh sangat menentukan apakah seseorang dapat terinfeksi demam tipus
atau tidak. Banyaknya kuman yang masuk yang dapat menginfeksi tubuh
berkisar antara 105-109.
Ketika makanan atau minuman masuk kedalam saluran pencernaan, selanjutnya
akan masuk ke dalam lambung. Didalam lambung ini, akan terjadi mekanisme
pertahanan tubuh yang dilakukan oleh asam lambung. Karena jumlahnya yang
sangat banyak, maka tidak semua bakteri mampu dilumpuhkan oleh asam
lambung. Bakteri yang selamat tersebut akan melanjutkan perjalanannya ke
dalam usus halus. Bakteri akan masuk ke lumen ileum melalui mikrovili. Dari
mikrovili ini masuk ke bercak peyer. Dari bercak peyer, bakteri masuk ke
pembuluh darah dan bisa terjadi bakteremia. Karena adanya bakteri di dalam
darah, maka terjadi mekanisme imunitas yang akan menghasilkan pirogen
endogen. Pirogen endogen ini akan merangsang peningkatan set point suhu yang
ada di hipotalamus dan akhirnya bisa terjadi demam. Peningkatan suhu ini
sebenarnya bisa mampu meningkatkan kerja fogositosis oleh sistem imun.
Selain bisa masuk ke dalam pembuluh darah, dari bercak peyer bakteri bisa
masuk ke sistem retikuloendotelial melalui sistem limfe. Di dalam sistem
retikuloendotelial ini akan terjadi fagositosis oleh makrofag, namun mekanisme
tersebut tidak efektif. Karena ketidakefektifan tersebut, maka akan ditemukan
bakteri S. Typhi di dalam fagosit mononuklear di jaringan limfe. Hal inilah yang
menyebabkan sering terjadi relaps pada demam tifoid. Ketika infeksi oleh bakteri
Salmonella Typhi berlanjut, maka bisa menyebabkan hepatomegali dan
splenomegali.
Pada seseorang yang terkena infeksi Salmonella Typhi, tanda dan gejala awal
adalah terjadinya diare. Diare terjadi karna mikrovili yang rusak akan
menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa usus. Ketika infeksi tidak

tertangani dengan baik, maka akan terjadi kerusakan berlanjut pada mikrovili
usus. Kerusakan yang berlanjut dan semakin parah pada usus halus ini akan
menyebabkan penurunan motilitas usus dan bisa menyebabkan konstipasi. Hal
inilah yang menyebabkan kenapa pada infeksi berlanjut pada demam tifoid
seringkali terjadi konstipasi pada pasien.
Komplikasi yang juga bisa terjadi ketika demam tifoid sudah benar-benar tidak
tertangani dengan baik, maka bisa terjadi perdarahan di usus. Karena perdarahan
yang tidak tertangani dengan baik, maka bisa terjadi lesi pada usus. Lesi ini bisa
menembus lapisan muskulus dan serosa dari usus yang akhirnya bisa
menyebabkan perforasi usus. Perforasi usus inilah yang sering menyebabkan
kematian pada pasien demam tifoid.

Salmonella typhi
>> 105-109
Perforasi usus
Mengkontaminasi
makanan/minum
an

Masuk saluran
pencernaan

Bisa menembus
lapisan mukosa dan
serosa

Konstipasi

motilitas
usus

Mekanisme
pertahanan oleh
asam lambung
Melalui sistem limfe

Lesi pada
usus

Kerusakan
berlanjut

Fagositosis
oleh
masuk ke Jaringan
Merusak
Sebagian
masih
Hepatomegali
Menginvasi
ke
Masuk ke
makrofag
tidak
Retikuloendotelial
mikrovili
hidup
Relaps
Splenomegali
lumen
ileum bercak
Peyer
efektif

Perdarahan

Peningkatan
Merangsang
Mengaktifkan
Mengeluarkan
permeabilitas
Masuk ke set
peningkatan
Bakteremia
sistem
imun
membran
mukosa
pirogen
endogen

pembuluh darah
point di hipotalamus

Diare

Meningkatkan
kerja
fagositosis

Demam

Gambar 2. Skema Patofisiologi Thypoid Fever (Demam Tifoid)


F. Komplikasi Thypoid Fever (Demam Tifoid)
Salah satu komplikasi demam tifoid yang dapat terjadi pada pasien yang tidak
mendapatkan pengobatan secara adekuat adalah perforasi dan perdarahan usus
halus. Komplikasi ini sering terjadi pada minggu ketiga yang ditandai dengan
suhu tubuh yang turun mendadak, adanya tanda-tanda syok dan perforasi
intestinal seperti nyeri abdomen, defance muscular, redup hepar menghilang.
Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah pneumonia, miokarditis, hingga
meningitis.

Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :


1. Perdarahan
Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang
tidak membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga
penderita mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah
ditegakkan bila terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam.
2. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada
minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita
demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di
daerah kuadran kanan bawah yang kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda
perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan bahkan sampai
syok.
Berikut adalah komplikasi-komplikasi ekstraintestinal yang mungkin terjadi
pada penderita Thypoid Fever (Demam Tifoid):
1. Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis),
miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
2. Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia, koagulasi intravaskuler
3.
4.
5.
6.
7.

diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.


Komplikasi paru: pneumonia, empisema, dan pleuritis
Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis
Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningismus, meningitis, polineuritis

perifer, psikosis, dan sindrom katatonia.


G. Pemeriksaan Penunjang Thypoid Fever (Demam Tifoid)
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan adanya penurunan kadar
hemoglobin,

trombositopenia,

kenaikan

LED,

aneosinofilia,

limfopenia,

leukopenia, leukosit normal, hingga leukositosis. Pemeriksaan diagnostik


penyakit tifoid, yaitu:
1. Kultur
Salmonella Thypi dapat diisolasi dari darah, sumsum tulang belakang,
empedu, dan cairan cerebrospinal. Nilai median bakteri pada darah anak-anak
lebih tinggi daripada pada orang dewasa dan menurun sesuai dengan lamanya
penyakit. Biakan darah positif pada 40% - 60% penderita ditemukan pada
awal perjalanan penyakit sementara tinja dan biakan urin menjadi positif
setelah minggu pertama. Biakan tinja juga kadang menjadi positif pada masa

inkubasi. Biakan sumsum tulang sering positif selama stadium akhir penyakit
dan merupakan metode diagnosis yang paling sensitif (85% - 90%) dan kurang
dipengaruhi oleh pemberian antimikroba. Biakan tinja dan urin positif pada
pengidap kronis. Pada kasus yang dicurigai dengan biakan tinja negatif, biakan
aspirasi cairan duodenum atau kapsul bertali duodenum dapat membantu
dalam mengkonfirmasi infeksi.
2. Pemeriksaan Widal
Berguna untuk mendeteksi adanya antibodi yang spesifik terhadap antigen
Salmonella Thypi yaitu antigen O dan H dari Salmonella Thypi. Masalahnya,
tidak hanya Salmonella Thypi yang memiliki antigen O dan H ini, tetapi
Salmonella serotype lain juga memilikinya. Selain itu antigen O dan H pada
Salmonella Thypi juga bereaksi silang dengan antigen Enterobacteriaceae.
Pasien dengan demam tifoid juga tidak selalu menimbulkan kadar antibodi
yang dapat terdeteksi ataupun menunjukkan kenaikan titer antibodi. Jika
diagnosa demam tifoid ditegakkan hanya berdasarkan tes widal ini, maka tidak
jarang terjadi over diagnosis. Pemeriksaan widal dapat memberikan hasil
negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil
tes widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi. Oleh
karenanya, pemeriksaan tunggal penyakit tifus dengan tes widal kurang baik.
3. Tes Anti- Salmonella Thypi IgM
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi Salmonella Tyhpi IgM terhadap
antigen O9 LPS Salmonella Thypi dengan menggunakan metode IMBI
(Inhibition Magnetic Binding Immunoassay) dengan keterangan hasil tes
sebagai berikut:
1. Skala 2: Negatif, tidak menunjukkan infeksi demam tifoid.
2. Skala 3: Boderline, ulangi pemeriksaan 3 - 5 hari kemudian.
3. Skala 4 - 5: Positif lemah, indikasi infeksi demam tifoid.
4. Skala 6 -10: Positif kuat, indikasi kuat infeksi demam tifoid.
4. Pada pemeriksaan darah rutin
Kadar hemoglobin, kadar leukosit dan trombosit bisa dalam nilai normal atau
sedikit menurun namun pada kadar leukosit tidak mencapai angka kurang dari
2500 sel/mm3, dan pada anak-anak kadar leukosit bisa meningkat sampai
20.000-25.000/mm3. Kadar trombosit yang rendah mungkin berhubungan
dengan derajat keparahan penyakit.
H. Penatalaksanaan Thypoid Fever (Demam Tifoid)

a) Penatalaksanaan Medis
Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu :
Istirahat dan perawatan, diet dan terapi penunjang (simptomatik dan
suportif), dan pemberian medikamentosa. Istirahat yang berupa tirah
baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah komplikasi.
Sedangkan diet dan terapi penunjang merupakan hal yang cukup penting
dalam proses penyembuhan penyakit demam tifoid, karena makanan yang
kurang akan menurunkan

keadaan umum dan gizi penderita akan

semakin turun dan proses penyembuhan akan menjadi lama.


Pengobatan yang biasanya diberikan pada pasien demam tifoid, yaitu obat
anti diare dan antibiotik. Pengobatan yang sering dilakukan adalah
dengan

memberikan

antibiotik

seperti

ampisilin,

ciprofloxacin,

kloramfenikol, dan trimethoprim-sulfamethoxazole. Untuk pengobatan


pertama biasanya akan diberikan ciprofloxacin. Dahulu, pengobatan
pertama yang dilakukan adalah dengan memberikan kloramfenikol,
namun pemakaian obat ini sudah dilarang sekarang, karena dapat
menimbulkan efek samping yang berbahaya dan dapat memberikan
resistensi

(ketahanan)

bakteri

Salmonella

Thypi.

Penggunaan ampisilin dan trimetroprim sulfametoksazol untuk kasuskasus yang tidak dapat diatasi dengan menggunakan ciprofloxacin.
Kloramfenikol merupakan obat pilihan utama untuk mengobati demam
tifoid. Kloramfenikol mempunyai ketersediaan biologik 80% pada
pemberian IV. Waktu paruh plasmanya 3 jam pada bayi baru lahir, dan
bila terjadi sirosis hepatis diperpanjang sampai dengan 6 jam. Dosis yang
diberikan secara per oral pada dewasa adalah 20-30 (40) mg/kg/hari. Pada
anak berumur 6-12 tahun membutuhkan dosis 40-50 mg/kg/hari. Pada
anak berumur 1-3 tahun membutuhkan dosis 50-100 mg/kg/hari. Pada
pemberian secara intravena membutuhkan 40-80 mg/kg/hari untuk
dewasa, 50-80 mg/kg/hari untuk anak berumur 7-12 tahun, dan 50-100
mg/kg/hari untuk anak berumur 2-6 tahun. Bentuk yang tersedia di
masyarakat berupa kapsul 250 mg, 500 mg, suspensi 125 mg/5 ml, sirup
125 ml/5 ml, serbuk injeksi 1 g/vail. Penyuntikan intramuskular tidak

dianjurkan oleh karena hirolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan
tempat suntikan terasa nyeri. Dari pengalaman obat ini dapat menurunkan
demam ratarata 7,2 hari. Untuk menghindari reaksi Jarisch-Herxheimer
pada pengobatan demam tifoid dengan kloramfenikol, dosisnya adalah
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

hari ke 1: 1 g,
hari ke 2: 2 g,
hari ke 3: 3 g,
hari kemudian diteruskan 3 g sampai dengan suhu badan normal.

Beberapa efek samping yang mungkin timbul pada pemberian


kloramfenikol adalah mual, muntah, mencret, mulut kering, stomatitis,
pruritusani, penghambatan eritropoiesis, Gray-Syndrom pada bayi baru
lahir, anemia hemolitik, exanthema, urtikaria, demam, gatal-gatal,
anafilaksis, dan terkadang Syndrom Stevens-Johnson. Reaksi interaksi
kloramfenikol dengan parasetamol akan memperpanjang waktu paruh
plasma dari kloramfenikol. Interaksinya dengan obat sitostatika akan
meningkatkan

resiko

suatu

kerusakan

sumsum

tulang.

2,22,23

Tiamfenikol memiliki dosis dan keefektifan yang hampir sama dengan


kloramfenikol, akan tetapi komplikasi hematologi seperti kemungkinan
terjadinya

anemia

aplastik

lebih

rendah

dibandingkan

dengan

kloramfenikol. Dosis tiamfenikol untuk orang dewasa adalah 500 mg tiap


8 jam, dan untuk anak 30-50 mg/kg/hari yang dibagi menjadi 4 kali
pemberian sehari. Bentuk yang tersedia di masyarakat berupa kapsul 500
mg. Beberapa efek samping yang mungkin timbul pada pemberian
kloramfenikol adalah mual, muntah, diare, depresi sumsum tulang yang
bersifat reversibel, neuritis optis dan perifer, serta dapat menyebabkan
Gray baby sindrom. Interaksi tiamfenikol dengan rifampisin dan
fenobarbiton akan mempercepat metabolisme tiamfenikol. Dengan
tiamfenikol demam pada demam tifoid dapat turun setelah 5-6 hari.
Kotrimoksazol adalah kombinasi dua obat antibiotik, yaitu trimetroprim
dan sulfametoksazol. Kombinasi obat ini juga dikenal sebagai
TMP/SMX, dan beredar di masyarakat dengan beberapa nama merk
dagang misalnya Bactrim. Obat ini mempunyai ketersediaan biologik

100%. Waktu paruh plasmanya 11 jam. Dosis untuk pemberian per oral
pada orang dewasa dan anak adalah trimetroprim 320 mg/hari,
sufametoksazol 1600 mg/hari. Pada anak umur 6 tahun trimetroprim 160
mg/hari, sufametoksazol 800 mg/hari. Pada pemberian intravena paling
baik diberikan secara infus singkat dalam pemberian 8-12 jam. Beberapa
efek samping yang mungkin timbul adalah sakit, thromboplebitis, mual,
muntah, sakit perut, mencret, ulserasi esofagus, leukopenia, trombopenia,
anemia megaloblastik, peninggian kreatinin serum, eksantema, urtikaria,
gatal,

demam,

dan

reaksi

hipersensitifitas

akibat

kandungan

Natriumdisulfit dalam cairan infus. Interaksi kotrimoksazol degan


antasida menurunkan resorbsi sulfonamid. Pada pemberiaan yang
bersamaan

dengan

diuretika

tiazid

akan

meningkatkan

insiden

thrombopenia, terutama pada pasien usia tua.


Ampisilin dan amoksisilin memiliki kemampuan untuk menurunkan
demam lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol. Obat ini
mempunyai ketersediaan biologik: 60%. Waktu paruh plasmanya 1.5 jam
(bayi baru lahir: 3,5 jam). Dosis untuk pemberian per oral dalam lambung
yang kosong dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam sekitar 1/2 jam
sebelum makan. Untuk orang dewasa 2-8 g/hari, sedangkan pada anak
100-200 mg/kg/hari. Pada pemberiaan secara intravena paling baik
diberikan dengan infus singkat yang dibagi dalam pemberiaan setiap 6-8
jam. Untuk dewasa 2-8 g/hari, sedangkan pada anak 100- 200 mg/kg/hari.
Bentuk yang tersedia di masyarakat berupa kapsul 250 mg, 500 mg;
Kaptab 250 mg, 500 mg; Serbuk Inj. 250 mg/vial, 500 mg/vial, 1 g/vial, 2
g/vial; Sirup 125 mg/5 ml, 250 mg/5 ml; Tablet 250 mg, 500 mg.
Beberapa

efek

samping

yang

mungkin

muncul

adalah

sakit,

thrombophlebitis, mencret, mual, muntah, lambung terasa terbakar, sakit


epigastrium, iritasi neuromuskular, halusinasi, neutropenia toksik, anemia
hemolitik,

eksantema

makula,

dan

beberapa

manifestasi

alergi.

Interaksinya dengan allopurinol dapat memudahkan munculnya reaksi


alergi pada kulit. Eliminasi ampisilin diperlambat pada pemberian yang
bersamaan dengan urikosuria (misal: probenezid), diuretik, dan obat
dengan asam lemah.

Sefalosporin generasi ketiga (Sefuroksin, Moksalaktan, Sefotaksim, dan


Seftizoksim) yang hingga saat ini masih terbukti efektif untuk demam
tifoid adalah seftriakson. Antibiotik ini sebaiknya hanya digunakan untuk
pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan
antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Hal ini
disebabkan karena selain harganya mahal juga memiliki potensi
antibakteri yang tinggi. Dosis yang dianjurkan adalah antara 3-4 gram
dalam dekstrosa 100 cc diberikan selama 1/2 jam perinfus sekali sehari,
diberikan selama 3 hingga 5 hari.
b) Penatalaksanaan Non Medis
Menejemen atau penatalaksanaan secara umum, asuhan keperawatan
yang baik serta acupan gizi yang baik merupakan aspek penting dalam
pengobatan demam tifoid selain pemberian antibiotik. Sampai saat ini
masih dianut trilogi penatalksanaan demam tifoid, yaitu:

1. Istirahat dan Perawatan


Tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah
komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat
tidur, seperti makan, minum, mandi, buang air kecil dan buang air
besar akan membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dalam
perawatan perlu sekali dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan
perlengkapan yang dipakai. Pasien demam tifoid perlu dirawat di
rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah
baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih
selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya
komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus. Mobilisasi pasien
harus dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien.
Asuhan keperawatan pada demam tifoid didasarkan pada gangguan
akibat proses patofisiologi, yaitu :

1. Mempertahankan suhu dalam batas normal


Yaitu dapat dilakukan:
1. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermi
2. Observasi suhu, nadi, tekanan darah, pernafasn
3. Beri minum yang cukup
4. Berikan kompres air hangat
5. Pakaian yang tipis dan menyerap keringat
6. Pemberian obat antipireksia
7. Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat
2. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan
Yaitu dapat dilakukan:
1. Menilai status nutrisi pasien
2. Ijinkan pasien untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi
pasien, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat
selera makan meningkat
3. Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk
meningkatkan kualitas intake nutrisi
4. Mempertahankan kebersihan mulut
5. Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk
penyembuhan penyakit
6. Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika
pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan
gizi anak.
3. Mencegah berkurangnya volume cairan
Yaitu dapat dilakukan:
1. Mengobservasi tanda-tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
2. Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor
tidak elastis, ubun-ubun cekung, produksi urin menurun,
membran mukosa kering, bibir pecah-pecah
3. Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang
sama dan dengan skala yang sama
4. Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
5. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible
Water loss/ IWL) dengan memberikan kompres dingin
6. Memberikan antibiotik sesuai program
4. Discharge Planning
Yaitu dapat dilakukan:
1. Penderita harus dapat diyakinkan cuci tangan dengan sabun
setelah defekasi
2. Mereka yang diketahui

sebagai karier dihindari untuk

mengelola makanan
3. Lalat perlu dicegah menghinggapi makanan dan minuman
4. Penderita memerlukan istirahat

5. Diet lunak yang tidak merangsang dan rendah serat


6. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas
sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
7. Jelaskan terapi yang diberikan: dosis, dan efek samping
8. Menjelaskan gejala-gejala kekambuhan penyakit dan hal yang
harus dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut
9. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang
ditentukan
2. Menejemen Nutrisi
Penderita penyakit demam tifoid selama perawatan haruslah mengikuti
petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk dikonsumsi, antara
lain:
1. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin, dan protein
2. Tidak mengandung banyak serat
3. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas
4. Makanan lunak diberikan selama istirahat
Makanan dengan rendah serat bertujuan untuk memeberikan makanan
sesuai kebutuhan

gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa

sehingga dapat membatasi volume feses, dan tidak merangsang saluran


cerna. Pemberian bubur saring, juga ditujukan untuk menghindari
terjadinya komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.
Syarat-syarat diet rendah serat adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Energi cukup sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan aktivitas


Protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total
Lemak sedang, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total
Karbohidrat cukup, yaitu sisa kebutuhan energi total
Menghindari makanan berserat tinggi dan sedang sehingga asupan

serat maksimal 8 g/hari.


6. Menghindari susu, produk susu, daging berserat kasar (liat) sesuai
dengan toleransi perorangan
7. Menghindari makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis, terlalu
asam dan berbumbu tajam
8. Makanan dimasak hingga lunak dan dihidangkan pada suhu tidak
terlalu panas dan dingin
9. Makanan sering diberikan dalam porsi kecil
10. Bila diberikan untuk jangka waktu lama atau dalam keadaan
khusus, diet perlu disertai suplemen vitamin dan mineral, makanan
formula, atau makanan parenteral.

I. Konsep Asuhan Keperawatan Thypoid Fever (Demam Tifoid)


Tabel 1. Diagnosa ke 1
Diagnosa: Hipertemia b/d proses infeksi Salmonella thyposa
Definisi: Suhu tubuh naik di atas rentang normal
Tujuan: Menurunkan suhu sampai batas normal
NIC:

NOC:

Fever

treatment Termoregulation

1. Memonitor suhu sesering mungkin

1. Suhu, nadi, dan pernapasan dalam

2. Memonitor IWL

batas normal
2. Kaji skala hipertermi
Skala 1: severe
Skala 2: substansial
Skala 3: moderate
Skala 4: mild
Skala 5: none

3. Memonitor intake dan output


4. Kolaborasi pemberian antipieretik
5. Kolaborasikan dengan dokter mengenai
pemberian

cairan

intravena

sesuai

program
6. Kompres pasien pada lipatan paha dan
aksila
Temperatur regulation
1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2. Monitor sianosis perifer
3. Identifikasi penyebab dari perubahan
tanda vital

Tabel 2. Diagnosa ke 2
Diagnosa: Resiko defisit volume cairan b/d pemasukan yang kurang, mual,
muntah/pengeluaran yang berlebihan, diare, panas tubuh
Definisi : Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraselular. Ini mengarah
ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium

Tujuan : Kekurangan volume cairan teratasi


NIC:

NOC:

Fluid management

Fluid balance

1. Pertahankan catatan intake dan output Hydration


yang adekuat
1. Kaji fluid intake
2. Monitor status hidrasi (kelembaban
Skala 1: severely compromised
membran mukosa) jika diperlukan
Skala 2: substansially compromised
3. Monitor tanda-tanda vital
4. Monitor masukan makanan atau cairan
Skala 3: moderately compromised
dan hitung intake kalori harian
Skala 4: mildly comprimised
Lakukan terapi intravena
Skala 5: not compromised
Berikan cairan
Dorong masukan oral
2. Diare
Dorong keluarga untuk membantu
Skala 1: severe
pasien makan
Skala 2: substansial
9. Tawarkan snack (jus buah, buah segar)
10. Kolaborasi dengan dokter jika tanda
Skala 3: moderate
5.
6.
7.
8.

cairan berlebih

Skala 4: mild
Skala 5: none
Nutritional status : fluid intake
Skala 1: not adequate
Skala 2: slightly adequate
Skala 3: moderately adequate
Skala 4: substantially adequate
Skala 5: totally adequate
Memiliki asupan cairan oral dan atau
intravena yang adekuat

Tabel 3. Diagnosa ke 3
Diagnosa: Nutrisi, ketidakseimbangan: kurang dari kebutuhan tubuh b.d nyeri abdomen,
mual muntah
Definisi: Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Tujuan: Asupan nutrisi memenuhi kebutuhan metabolik


NIC:

NOC:

Nutrition management

Nutritional status: food intake

1. Ketahui makanan kesukaan pasien


2. Tentukan kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
3. Lakukan kolaborasi bersama ahli gizi
4. Suapi pasien jika perlu
5. Berikan pasien minuman dan
kudapan bergizi, tinggi protein, tinggi
kalori yang siap dikonsumsi, bila
memungkinkan
6. Identifikasi faktor pencetus mual dan
muntah
7. Identifikasi faktor pencetus mual dan
muntah
8. Catat warna, jumlah, dan frekuensi
muntah
9. Intruksikan

pasien

agar

menarik

napas dalam, perlahan, dan menelan


secara sadar untuk mengurangi mual
dan muntah
10. Berikan obat antiemetik dan atau
analgesik sebelum makan atau sesuai
dengan jadwal yang dianjurkan
11. Minimalkan faktor yang dapat
menimbulkan

mual

dan

muntah.

Sebutkan faktornya
12. Tawarkan hygiene mulut sebelum
makan
Nutrition therapy
1. Tentukan motivasi

pasien

untuk

mengubah kebiasaan makan


2. Ajarkan pasien atau keluarga tentang
makanan yang bergizi dan tidak
mahal
3. Diskusikan dengan dokter kebutuhan
stimulasi

nafsu

akan,

makanan

1. Makanan oral, pemberian makanan


lewat selang, atau nutrisi parenteral
total
2. Mengungkapkan

tekad

untuk

mematuhi diet
3. Mempertahankan massa tubuh dan
berat badan dalam batas normal

pelengkap,

pemberian

makanan

melalui selang, atau nutrisi parenteral


total agar asupan kalori yang adekuat
dapat dipertahankan
4. Buat perencanaan makan dengan
pasien yang masuk dalam jadwal
makan, lingkungan makan, kesukaan
dan ketidaksukaan pasien, serta suhu
makanan
5. Dukung anggota

keluarga

untuk

membawa makanan kesukaan pasien


dari rumah

Daftar Pustaka

Bulechek, Gloria M., dkk. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC). USA: Elsevier
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Markum. 1990. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu kesehatan anak FKUI
Moorhead, Sue., dkk. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: Elsevier
Nasir, Abdul., Abdul Muhith. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Potter, dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Price, dan Wilson. 2003. Patofisiologi. Jakarta: EGC
Rudolph, Hoffman, dan Rudolph. 2006. Buku Ajar Pediatrik Rudolph. Jakarta: EGC
Stern, Robert C. 2007. Pathophysiologic Basic for Symptomatic Treatment of Fever.
Amerika: American Academic of Pediatric
Sumarmo, S. Poorwo. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia
Susan J. Garrison. 2004. Dasar-Dasar Terapi dan Latihan Fisik. Jakarata: Hypocrates
Zulkarnain, I. 2000. Buku Panduan dan Diskusi Demam Tifoid. Jakarta: Pusat Informasi dan
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI