Anda di halaman 1dari 5

NASKAH DRAMA SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN DEMAK

Kerajaan Majapahit berada di ambang kehancuran. Keadaan pemerintahan kacau balau.


Para pejabat kerajaan saling berebut kekuasaan dan kekayaan. Rakyat kecil terbengkalai.
Sebagai kerajaan yang pernah berjaya, Majapahit berada pada titik kebobrokan.
Saat itulah fajar merekah dari alas Glagahwangi. Tampillah sang pemuda yang
menyampaikan risalah Nabi. Menyebarkan agama dengan kitab suci. Luhur dan mulia
dalam budi pekerti. Pemuda itu tak lain ialah salah seorang putra raja Majapahit Brawijaya
Kertabumi yang bernama Raden Fatah.
Raden Fatah adalah seorang putra raja dari selir yang tinggal di Palembang. Saat
dewasa, ia melakukan perjalanan ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.
Bersama saudara tirinya, yaitu Raden Husein, mereka berguru kepada Sunan Ngampel.

BABAK 1
ILIR-ILIR DI NGAMPEL DENTA
Raden Patah dan Raden Husein menjadi santri di pesantren yang diasuh oleh Sunan
Ngampel. Setelah beberapa lama menjadi santri, kedua pemuda itu tumbuh menjadi
pemuda yang pemberani, berakhlak mulia, dan bercita-cita tinggi.
(Di pendhapa masjid pesantren, Sunan Ngampel berkumpul bersama para santri. Mereka
menyenandungkan lelagon Ilir-ilir bersama-sama.)
Sunan Ngampel:
Anakmas Fatah, Anakmas Husein.
Raden Fatah:
Kula, Kanjeng Sunan.
Raden Husein:
Kula, Kanjeng Sunan.
Sunan Ngampel:
Kalian berdua adalah keturunan Penguasa Palembang. Jauh-jauh dari seberang sana
kalian ke sini untuk menuntut ilmu. Sudah lama kalian menimba ilmu di sini. Saat ini kalian
sudah cukup bekal untuk melanjutkan perjalanan menggapai cita-cita kalian.
Raden Fatah:
Beribu terima kasih kami ucapkan kepada Kanjeng Sunan atas bimbingan selama ini.
Saya sendiri ingin selalu menyertai Kanjeng Sunan, untuk ngabekti, untuk belajar agama
kepada Kanjeng Sunan dan membantu sebisa saya.
1

Sunan Ngampel:
Hmmm... Niatmu sungguh mulia, Anakmas Fatah. Saya senang mendengarnya. Tapi, apa
yang menjadi cita-citamu sendiri, Anakmas?
Raden Fatah:
Saya bercita-cita menyebarkan agama Islam ke seluruh Pulau Jawa. Pulau Jawa ini
hendaknya menjadi pusat penyebaran ajaran Islam. Hingga nanti wilayah-wilayah di
seberang lautan juga ikut menikmati indahnya ajaran Islam, Kanjeng Sunan.
Sunan Ngampel:
Masya Allah. Sungguh teramat tinggi cita-citamu. Saya sangat mendukungmu, Anakmas
Fatah. Anakmas Husein, bagaimana denganmu?
Raden Husein:
Saya senang tinggal di sini, Kanjeng Sunan. Saya ikut dengan Kakangmas Fatah.
Sunan Ngampel:
Bagus. Tapi, saya mendengar kamu ingin nyuwita, ingin sowan kepada Raja Kertabumi,
penguasa Majapahit.
Raden Husein:
Inggih, Kanjeng Sunan. Bagaimanapun juga, di dalam darah saya mengalir darah
Majapahit, Kanjeng Sunan.
Sunan Ngampel:
Baiklah. Kalian sudah waktunya untuk melangkah. Anakmas Fatah, kamu saya tugaskan
untuk membuka pesantren baru agar cita-citamu untuk menyebarkan ajaran Islam di
seluruh Pulau Jawa tercapai. Tapi, sebelum itu kamu harus sowan kepada rama-mu,
Prabu Kertabumi.
Raden Fatah:
Samina wa athona, Kanjeng Sunan.
Sunan Ngampel:
Anakmas Husein, kamu berbakat dalam tata keprajuritan dan tatanegara. Kamu sowanlah kepada Prabu Kertabumi. Sampaikanlah ajaran Islam kepada segenap rakyat
Majapahit.
Raden Husein:
Samina wa athona, Kanjeng Sunan.

BABAK 2
PERSIAPAN PEPERANGAN MELAWAN GIRINDRAWARDHANA
Raden Fatah dan Raden Husein menghadap Prabu Kertabumi. Raden Husein diangkat
menjadi Adipati Terung. Raden Fatah yang memang berniat mendirikan pesantren diberi
wilayah di alas Glagahwangi. Bersama pengikutnya, Raden Fatah melakukan babat alas
Glagahwangi. Di sana didirikanlah pesantren yang dipimpin langsung oleh Raden Fatah.
Dari jumlah penduduknya yang hanya puluhan hingga akhirnya mencapai ratusan hingga
ribuan.
Tahun 1478 M, Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) menyerang Majapahit. Kondisi
Majapahit yang memang sedang lemah, dengan mudah ditaklukkan oleh
Girindrawardhana. Prabu Kertabumi tewas dalam penyerbuan tersebut. Majapahit
dikuasai oleh Girindrawardhana.
Jatuhnya Majapahit menggerakkan hati Raden Fatah. Sekaranglah saatnya. Sekaranglah
saat untuk mengambil kepemimpinan di tanah Jawa. Dengan restu para Sunan, Raden
Fatah memberangkatkan pasukan Islam untuk menyerang Girindrawardhana.
(Raden Fatah berdiri di hadapan penduduk Glagahwangi. Di antara mereka ada para
prajurit, petani, pedagang, juga ibu-ibu. Semangat mereka terbakar oleh seruan pemimpin
mereka, Raden Fatah.)
Raden Fatah:
Wahai segenap penduduk Glagahwangi. Majapahit telah jatuh di tangan
Girindrawardhana. Ayahanda, Prabu Kertabumi telah mangkat. Kita sudah sekian lama
membentuk diri menjadi sebuah kelompok, sebuah pedukuhan, sebuah jamaah yang
memikul beban risalah Islam. Sudah saatnya kita menunjukkan kekuatan. Bukan kekuatan
fisik, bukan kekuatan senjata, tetapi kekuatan iman kita.
Prajurit 1:
Segenap prajurit siap berdiri di garis depan, Kanjeng Gusti.
Raden Fatah:
Bagus sekali. Akan tetapi, ketahuilah, kita membutuhkan segenap kekuatan yang ada.
Diharapkan semua penduduk Glagahwangi, prajurit, petani, pedagang, yang tidak
mempunyai udzur, untuk berangkat menyerang Girindrawardhana.
Petani 1:
Kula siap mangkat, Kanjeng Gusti.
Petani 2:
Weh, aku yo melu no! Ngko tak gawakne pohong karo telo nggo sangu.
3

Pedagang 1:
Kula juga ikut, Kanjeng Gusti. Saya akan menyiapkan kuda-kuda yang terbaik.
Raden Fatah:
Siap berangkat? Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar...
(Pariyem dan Poniyem bersama ibu-ibu yang lain berjalan di belakang. Mereka ikut
rombongan perang)
Pariyem:
Eh, Mbak Yem, kamu ikut perang kenapa?
Poniyem:
Lha, iya. Kita harus ikut juga. Lha siapa nanti yang menyediakan makan untuk mereka
siapa? Kalau tidak ada yang menyiapkan makan, ketika perang mereka mulai lapar
bagaimana, hayo?
Pariyem:
Iyo, yo. Aku juga tahu sedikit obat-obatan. Nanti bisa mengobati yang terluka.
Poniyem:
Lagipula bojoku juga ikut perang. Aku wegah ditinggal di rumah.
Pariyem:
Cie...cie...
Poniyem:
Yo uwis, ayo cepet-cepet, ndak ditinggal.

BABAK 3
PEPERANGAN MELAWAN GIRINDRAWARDHANA
Pasukan Islam di bawah pimpinan Raden Fatah menyerang Girindrawardhana.
Peperangan berjalan sengit. Segenap rakyat tanah Jawa yang sudah memeluk agama
Islam bergabung bersama pasukan Raden Fatah. Peperangan dimenangkan oleh Raden
Fatah.
(Prajurit Girindrawardhana berperang melawan prajurit Raden Fatah. Pedang melawan
cangkul, tombak melawan sabit. Keris melawan kenthongan.)

BABAK 4
PELANTIKAN RADEN FATAH MENJADI SULTAN DEMAK
(Raden Fatah duduk di kursi. Para Sunan duduk mengelilingi Raden Fatah. Para kawula
duduk di depan. Sunan Ngampel membawa mahkota sultan.)
Sunan Ngampel:
Wahai, rakyat sekalian. Perhatikanlah. Hari ini, atas musyawarah dan kesepakatan waliyul
amri, dewan para wali yang terdiri dari beberapa Sunan, kami mendirikan kasultanan
untuk menjamin kelangsungan penyebaran ajaran Islam dan menjamin kesejahteraan
rakyat. Kasultanan ini bernama Kasultanan Demak dengan ibukota di Bintoro.
Rakyat:
Allahu akbar ...
Sunan Ngampel:
Raden Fatah, atas berkah Allah Ingkang Maha Agung, apa yang dahulu Raden citacitakan akhirnya tercapai. Raden Fatah, jadilah panatagama lan panatapraja. Ahli agama
dan juga pemimpin. Laksankanlah amanah kepemimpinan ini dengan baik.
Raden Fatah:
Inggih, Kanjeng Sunan. Kula nyuwun bimbingan dari Kanjeng Sunan dan para Sunan
yang lain.
Sunan Ngampel:
Dengan ini, secara resmi kami lantik Raden Fatah menjadi Sultan Demak dengan gelar
Sultan Alam Akbar Al-Fattah.
Rakyat:
Allahu akbar ...

Anda mungkin juga menyukai