Anda di halaman 1dari 16

KISTA DUKTUS

TIROGLOSUS

Oleh : Ica Shyntia Pelensina

Pembimbing : dr Amir, Sp. B

BAB I PENDAHULUAN
Kista duktus tiroglosus merupakan massa leher
kongenital yang paling umum ditemukan yaitu
sekitar 70% dari seluruh kelainan kongenital di leher
. Kista ini terbentuk akibat kegagalan involusi dari
duktus tiroglossus.

Biasanya kemunculannya diasosiasikan


dengan infeksi saluran pernapasan. Kista ini
juga dapat terinfeksi dan menimbulkan
abses dan reaksi radang.

A. DEFINISI

Kista duktus tiroglosus


merupakan kista yang terbentuk
dari duktus tiroglosus yang
menetap sepanjang alur
penurunan kelenjar tiroid, yaitu
dari foramen sekum sampai
kelenjar tiroid bagian superior di
depan trakea.

B. EPIDEMIOLOGI
Kista duktus tiroglosus merupakan kasus terbanyak
dari massa non neoplastik di leher, hampir 70% dari
seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak,
walaupun dapat ditemukan di semua usia. Predileksi
umur terbanyak antara umur 0-20 tahun yaitu 52%
umur sampai 5 tahun terdapat 38%.

Anatomi dan embriologi

Anatomi dan embriologi


Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terbentuk paling awal
diantara seluruh kelenjar tubuh manusia yaitu sekitar umur
kehamilan 24 hari dan pertama kali dapat diidentifikasikan
pada usia kehamilan 4 minggu.
Kelenjar tiroid berasal dari foramen sekum yaitu
lekukan faring antara branchial pouch pertama
dan kedua
.Pada bagian tersebut terjadi penebalan di daerah
garis median kemudian terbentuk divertikulum tiroid
yang kemudian membesar, tumbuh dan mengalami
migrasi ke inferior leher pada usia kehamilan 7
minggu

Dalam perpindahannya, tiroid


primordium ini terhubungkan
dengan lidah melalui sebuah
struktur berbentuk tabung yang
disebut sebagai duktus tiroglosus.
Duktus ini secara normal akan
menghilang pada usia kehamilan
antara minggu ke-8 sampai ke-10.

Kista terbentuk akibat kegagalan


involusi dari duktus tiroglossus
Infeksi tenggorok berulang
merangsang sisa epitel traktus,
mengalami degenerasi
kistikSumbatan duktus tiroglosus
akan mengakibatkan terjadinya
penumpukan kista

F. GEJALA KLINIS

benjolan di garis tengah leher dapat di atas atau di


bawah tulang hioid.
Konsistensi massa teraba kistik, berbatas tegas, bulat,
mudah digerakkan, tidak nyeri, warna sama dengan
kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau
menjulurkan lidah.
Diameter kista berkisar antara 2-4 cm, kadangkadang lebih besar

G. DIAGNOSIS

Diagnosis biasanya dapat dibuat dari anamnesis


dan pemeriksaan fisik dan leher secara
menyeluruh
Pemeriksaan penunjang yang
umumnya dilakukan untuk menunjang
diagnosis antara lain pemeriksaan
ultrasonografi, CT-Scan, dan
histopatologis.

Pemeriksaan USG

Gambaran anekoik
disertai peningkatan
akustik posterior

Gambaran pseudosolid

Pemeriksaan Histopatologi

berupa lapisan epitel skuamosa, kolomnar bersilia


atau transisional yang dikelilingi oleh jaringan ikat
dan dapat diinfiltrasi oleh sel-sel inflamasi. Kista
berisi material mukoid atau mukopurulen.

I. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dari kista duktus tiroglosus
adalah tindakan pembedahan karena apabila
dibiarkan kista tersebut akan mengalami
komplikasi berupa infeksi. Tindakan yang
dilakukan dapat berupa eksisi sederhana atau
prosedur Sistrunk.
Sistrunk kista beserta duktusnya, korpus
hioid, traktus yang menghubungkan kista
dengan foramen sekum serta otot lidah
sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat

Prosedur Sistrunk

Komplikasi
Inflamasi yang berulang dan
infeksi , membesar dapat
menjadi abses
tiroid ectopia
Keganasan

Diagnosis Banding
kista dermoid
kista timus
Lipoma
kista brakial.

Daftar Pustaka

Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa:
Staf Pengajar Bag. THT FKUI. Jakarta: Bina Rupa Aksara, 2006; 295-6, 381-2. 2.
Cohen JI. Massa Jinak Leher. Dalam Boies. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6, Alih Bahasa: Wijaya C.
Jakarta : EGC, 2008; 415-21.
Rowe LD. Chapter 46. Congenital Anomalies of the Head and Neck. In: Snow Jr JB, Ballenger JJ.
Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 16th edition. BC Decker Inc, 2003. p.
1076-1077
Snell, Richard S. Anatomi Klinik ed. 6. EGC : Jakarta. 2006.
T.W. Sadler. Embriologi Kedokteran Langman Edisi ke-10. EGC. Jakarta. 2006
Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta : EGC
Lal G, Clark OH. Chapter 38. Thyroid, Parathyroid, and Adrenal. In: Brunicardi FC, Andersen DK,
Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB, Pollock RE, eds. Schwartz's Principles of Surgery. 9th
ed. New York: McGraw-Hill; 2010.
Moorthy SN, Arcot R. Thyroglossal Duct Cyst More Than Just an Embryological Remnant. Indian J
Surg 2011;73(1):28-31
Ahuja AT, Wong KT, King AD, Yuen EH. Imaging for thyroglossal duct cyst: the bare essentials. Clin
Radiol 2005;60(2):141-148
Goldsztein H, Khan A, Pereira KD. Thyroglossal Duct Excision The Sistrunk Procedure. Oper Tech
Otolaryngol 2009; 20(4):256-9
Wagner Gisela, et al. Excision of thyroglossal duct cyst : the Sistrunk procedure. Operative
Techniques in Otolaryngology 2004.15, 220-223