Anda di halaman 1dari 9

Nama : Ari Filologus Sugiarto

Nim : 11 2013 204

PERTANYAAN
Tetanus dan terapinya
Penyebab kejang
Asma dan penanganannya
Pasien 15 tahun dengan asma. Sebutkan terapi? Dosis aminofilin? Dosis adrenalin?
Dosis nebu?
5. Bayi 1 tahun 6kg, berapa kalori dan protein
6. RHD
7. Pembagian anemia
1.
2.
3.
4.

Jawaban
1. Tetanus
adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan
spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani (gram positif, obligat anaerob), tanpa gangguan
kesadaran. Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang
disebabkan tetanospasmin
Dapat terjadi akibat:
1. Luka tusuk (paku, serpihan kaca, injeksi tidak steril, injeksi obat, tindik), patah
tulang komplikasi kecelakaan, gigitan binatang, luka bakar yang luas
2. Luka operasi (benang terkontaminasi), luka yang tak dibersihkan (debridement)
dengan baik (goresan-goresan upacara, sirkumsisi wanita).
3. Otitis media, karies gigi, abses gigi, luka kronik (ulkus kronik), gangren
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril, pembubuhan punting tali pusat dengan
kotoran binatang, bubuk kopi, bubuk ramuan dan daun-daunan merupakan penyebab
utama masuknya spora pada punting tali pusat yang menyebabkan terjadinya kasus
tetanus neonatorum.

Gejala khas
Trismus
Adalah kekakuan otot maseter sehingga sukar membuka mulut. Pada neonates
kekakuan ini menyebabkan mulut mencucu seperti mulut ikan sehingga bayi tidak
dapat menetek. Secara klinis untuk menilai kemajuan kesembuhan, lebar bukaan
mulut diukur setiap hari.
Risus sardonikus
Akibat spasme otot muka, sehingga tampak dahi mengkerut, alis tertarik ke atas, mata
agak tertutup, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
Opistotonus
Adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti otot punggung, otot leher (kaku
kuduk), otot badan, dan trunk muscles. Kekakuan yang sangat berat dapat
menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.

Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi
dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan
intramusculus karena kontraksi yang kuat.
Ketegangan otot dinding perut sehingga dinding perut seperti papan.
Kejang umum
Bila kekakuan semakin berat, akan timbul kejang umum yang awalnya hanya terjadi
setelah dirangsang (karena toksin terdapat di kornu anterior), misalnya dicubit,
digerakkan dengan kasar, atau terkena sinar yang kuat. Lambat laun masa istirahat
kejang semakin pendek sehingga anak jatuh dalam status konvulsivus.
Asfiksia dan sianosis
Terjadi akibat kejang yang terus menerus atau serangan pada otot pernapasan dan
laring (spasme laring). Retensi urin dapat terjadi karena spasme otot sfingter uretra.
Fraktur tulang panjang dan kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi
otot yang sangat kuat.
Gangguan saraf autonom
Pengaruh toksin terhadap saraf autonom menyebabkan gangguan irama jantung atau
kelainan pembuluh darah, suhu tubuh yang tinggi (febris) atau keringat banyak.
Penatalaksanaan
1. Pemberian cairan intravena, Bebaskan jalan nafas + O2 sungkup
2. Antibiotic : metronidazole iv/oral dosis awal loading dose 15mg/kgBB. Lini
kedua diberikan penisilin prokain 50.000-100.000/kgBB selama 7-10 hari. Jika
hipersensitif penisilin dapat diberi tetrasiklin 50mg/kgBB (anak>8tahun)
3. Anti serum : dosis ATS yang dianjurkan 100.000IU ( 50.000 IU IM dan 50.000 IU
IV)
4. Imunisasi aktif DT setelah anak pulang
5. Jika tersedia dapat diberi HTIG (Human Tetanus Immune Globulin) 3.000-6000
IU IM.
2. Penyebab kejang
Penyebab kejang:
Ketidakseimbangan elektrolit antara natrium dan kalium
Trauma Capitis
SOL
Peningkatan tekanan intracranial
Infeksi
3. Asma

Derajat asma

Gejala

Gejala malam

Faal paru

I. Intermiten
Bulanan

APE 80 %

2 kali sebulan
Gejala < 1 x / minggu
Tanpa gejala diluar
serangan
Serangan singkat

II. Persisten
ringan
Mingguan

APE > 80 %

Gejala > 1 x / > 2 kali sebulan


minggu,tetapi < 1 x /
hari
Serangan
dapat
mengganggu
aktiviti
dan tidur

II. Persisten Harian


> 1 x
sedang
seminggu
Gejala setiap hari
Serangan mengganggu
aktiviti dan tidur
Membutuhkan
bronkodilator setiap hari
III. Persisten Kontinyu
Berat
sering
Gejala terus menerus
Sering kambuh
Aktiviti fisik terbatas

VEP 80 % nilai prediksi


APE 80 % nilai terbaik
Variabiliti APE < 20 %

VEP1 80 % nilai prediksi


APE 80 % nilai terbaik
Variabiliti APE 20-30 %

/ APE 60 - 80 %
VEP1 60-80 % nilai prediksi
APE 60-80 % nilai terbaik
Variabiliti APE >30 %

APE 80 %
VEP1 60 % nilai prediksi
APE 60 % nilai terbaik
Variabiliti APE >30 %

4. Aminofilin 1 ampul = 240 mg/10ml


1 ml = 24 mg
Dosis aminofilin 2-4 mg/kgbb
Berat Badan pasien 40 kg, dosis yang dibutuhkan = 40 x 2 mg = 80 mg
Banyaknya aminofilin yang dibutuhkan = 80/24 = 3,333 ml = 3 3,5 ml
Cara pemberian Nebulizernya:
Masukkan aminofilin 3-3,5 ml dalam sungkup nebulizer, lalu diencerkan dengan
cairan NaCl 1 ml, lalu jika pasien batuk bisa diberi tambahan obat seperti
dextrometorphan. Lalu nebulizer siap digunakan.
Pada pasien asma juga dapat diberikan adrenalin (epinefrin) dosis : 0.01 mg/kg atau
0.3 mg/m2 SC
6. Bayi 1 tahun berat ideal 10 kg
Bayi 0-12 bulan memerlukan jenis makanan ASI , susu formula dan makanan
padat.
Kebutuhan kalori bayi antara 100-200kkal/kgBB

Pada 6 bulan pertama lebih baik bayi mendapat ASI


Kebutuhan kalori anak 1 tahun 100-120 kkal/kgBB/hari
Kebutuhan protein anak 1 tahun 2.5gr/kgBB/hari

7. RHEUMATOID HEART DESEASE


Rheumatic Heart Disease (RHD) atau Penyakit jantung reumatik (PJR) merupakan kelainan
katup jantung yang menetap akibat demam reumatik akut sebelumnya, terutama mengenai
katup mitral (75%), aorta (25%), jarang mengenai katup trikuspid, dan katup pulmonal.
Penyakit jantung reumatik dapat menimbulkan stenosis atau insufisiensi atau keduanya
Penyebab ;
Katup-katup jantung rusak karena proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi
tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Group A -hemolytic streptococcus (GABHS)
(contoh: Streptococcus pyogenes), bakteri yang bisa menyebabkan demam rematik
Kritria jones untuk menegakkan diagnosis

Gejala Mayor

Karditis

Poliartritis

Khorea Sydenham

Eritema marginatum

Nodul subkutan

Temuan klinis :

Gejala Minor

Riwayat demam rematik atau penyakit jantung


rematik

Poliarthralgia

Demam

Temuan laboratorium:

Bukti
yang
mendukung adanya
infeksi Group A -

Peningkatan reaktan fase akut ( laju pengendapan


eritrosit, protein C-reaktif, leukositosis)

Pemanjangan interval PR (elektrokardiogram)

Peningkatan titer antistreptolisin O (ASTO) atau titer


antibodi streptococcus lainnya

hemolytic
streptococcus
(GABHS)

Kultur tenggorok Group A beta-hemolytic


streptococci atau pemeriksaan antigen streptokokus
hasilnya (+)

Rapid direct Group A strep carbohydrate antigen test


(+)

Riwayat Scarlet fever baru-baru ini.

MEDIKA MENTOSA
1. Antibiotik
Penisilin V oral dalah obat pilihan untuk terapi infeksi GABHS faringitis. Dengan dosis:
250mg tablet 2 kali sehari untuk anak-anak. 500mg tablet 2 kali sehari untuk dewasa.
Pengobatan selama 10 hari. Bila penisilin oral tidak ada, dosis tunggal intramuskular
benzathine penisilin G atau benzathine/prokain penisilin kombinasi adalah terapinya. 8
Dengan dosis: 1,200,000 U jika berat badan lebih 20kg atau 600,000 U jika berat badan
kurang 20kg Pada pasien yang alergi dengan penisilin, pemberian eritromisin atau
serfalopsporin generasi pertama, pilihan lainnya meliputi claritromisin selama 10 hari,
azitromisin selama 5 hari, atau spektrum sempit (generasi pertama) sefalosporin selama 10
hari. Untuk grup rekurren GABHS faringitis, 10 hari kedua dengan antibiotik yang sama
dapat diulang. Obat pilihan lainnya meliputi sefalosporin spektrum sempit, amoksisilinklavulanat, dicloxacillin, eritromisin, dan makrolid lainnya

Antibiotik

Dosis

Penicillin V

250 mg by peroral 2 to 3 kali sehari (27 kg) 10 hari


atau 500 mg peroral 2 to 3 kali sehari (>27
kg)

Benzathine penicillin G

600,000 units intramuscular (27 kg) atau 1x


1,200,000 units intramuscular (>27 kg)

Amoxicillin

50 mg/kg peroral setiap hari

Cephalosporina
generation)

(first Drug-dependent

Durasi

10 hari
10 hari

Clindamycina

20 mg/kg/hari terbagi 3 dosis peroral

10 hari

Clarithromycina

15 mg/kg/hari terbagi 2 dosis peroral

10 hari

Azithromycina

12 mg/kg peroral setiap hari

5 hari

2. Anti-Inflamasi untuk Arthritis, Athralgia dan Karditis


Agen anti-inflamasi yang digunakan adalah dari golongan salisilat iaitu Aspirin. Untuk
karditis ringan hingga sedang, penggunaan aspirin saja sebagai anti inflamasi
direkomendasikan dengan dosis 4-8g/hari yang dibagi dalam 4 sampai 6 dosis.Untuk arthritis,
terapi aspirin selama 2 minggu dan dikurangi secara bertahap selama lebih dari 2 sampai 3
minggu. Adanya perbaikan gejala sendi dengan pemberian aspirin merupakan bukti yang
mendukung arthritis pada demam rematik akut. Setelah perbaikan, terapi dikurangi secara
bertahap selama 4-6 minggu selagi monitor reaktan fase akut. Pemberian prednisone
diindikasikan hanya pada kasus karditis berat.
3. Sydenham Chorea
Penanganan khorea Sydenham dilakukan dengan mengurangi stres fisik dan emosional
karena chorea adalah self-limiting. Jika chorea dengan gejala yang parah chorea dapat
diberikan antikonvulsi, seperti asam valproik atau carbamazepine.7,8
4. Demam
Demam tidak memerlukan tertentu rawatan khusus. Demam biasanya akan bertindak balas
dengan baik terhadap terapi aspirin. 8
5. Carditis
Pasien dengan demam rematik akut dan gagal jatung mendapat terapi meliputi digoxin,
diuretik, reduksi afterload, suplemen oksigen, tirah baring dan retriski cairan dan natirum.
Glucocorticoids
Bila terdapat karditis sedang hingga berat di indikasikan adanya kardiomegali, gagal jantung
kongestif, blok jatung derajat III, ganti salisilat dengan prednison per oral. Pemberian
prednison selama 2-6 minggu bergantung tingkat keparahan karditis dan tapering prednisone
selama minggu terakhir. Prednison diberikan dengan dosis 1-2mg/kg/hari maksimal
80mg/hari dalam pemberian tunggal atau dalam dosis terbagi. Diberikan selama 2-3 minggu
kemudia diturunkan 20-25% setiap minggunya.
Digoxin: Digoxin peroral atau IV dengan dosis 125-250mcg/hari.

Diuretics: Furosemid peroral atau IV dengan dosis 20-40mg/jam selama 12-24 jam jika
terdapat indikasi. 7

8. Anemia
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell
mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah
yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara praktis anemia
ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell
count)
Kriteria Anemia menurut WHO

Laki-laki dewasa Hb < 13 gr/dL


Wanita dewasa tidak hamil Hb < 12 gr/dL
Wanita hamil Hb < 11 gr/dL

Klasifikasi Anemia menurut etiopatogenesis


A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia defisiensi asam folat
c. Anemia defisiensi vitamin B12
2. Gangguan penggunaan besi
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang
a. Anemia aplastik
b. Anemia mieloptisik
c. Anemia pada keganasan hematologi
d. Anemia diseritropoietik
e. Anemia pada sindrom mielodisplastik
B. Anemia akibat perdarahan

1. Anemia pasca perdarahan akut


2. Anemia akibat perdarahan kronik
C. Anemia hemolitik
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
b. Gangguan enzim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi G6PD
c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
- Thalasemia
- Hemoglobinopati struktural : HbS, HbE, dll
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskuler
a. Anemia hemolitik autoimun
b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
c. Lain-lain

D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis yang kompleks
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi
I. Anemia hipokromik mikrositer
a. Anemia defisiensi besi
b. Thalasemia major
c. Anemia akibat penyakit kronik
d. Anemia sideroblastik

II. Anemia normokromik normositer


a. Anemia pasca perdarahan akut
b. Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat

d. Anemia akibat penyakit kronik


e. Anemia pada gagal ginjal kronik
f. Anemia pada sindrom mielodisplastik
g. Anemia pada keganasan hematologic

III. Anemia makrositer


a. Bentuk megaloblastik
1. Anemia defisiensi asam folat
2. Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b. Bentuk non-megaloblastik
1. Anemia pada penyakit hati kronik
2. Anemia pada hipotiroidisme
3. Anemia pada sindrom mielodisplastik