Anda di halaman 1dari 5

Intinya adalah apabila kita sebagai penulis ingin mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia, maka lebih

dianjurkan untuk menggunakan istilah yang telah disepakati oleh Pusat Bahasa.
Contoh:
Apartemen : rumah pangsa
Cash flow : arus kas
branch office : kantor cabang
boarding pass : pas naik
power steering : kemudi daya
developer : pengembang
food court : pusat jajan
Untuk lebih jelasnya kita bisa mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang ada beberapa
istilah yang akan terlihat aneh dan janggal karena masih dalam masa sosialisasi. Saya berpendapat
apabila tetap ingin menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia, maka di awal atau di akhir buku
dibuat semacam daftar istilah yang baru tersebut. Dapat pula anda tuliskan keterangan menggunakan
catatan kaki, akan lebih efektif menurut saya yaitu menggunakan kedua metode tersebut. Untuk kasus
ini sepenuhnya bergantung kepada penulis ingin menggunakan metode yang mana, tidak ada aturan
yang baku.
Akan tetapi apabila kata tersebut memang belum lazim dan disinyalir akan menimbulkan kerancuan
atau bahkan belum ada istilah yang baku dalam bahasa Indonesia, maka bisa menggunakan kata
aslinya. Untuk penulisan kata dalam bahasa aslinya harus italic / cetak miring pada setiap kali
penulisannya, bukan hanya pada awal-awal kalimat saja. Karena tidak ada aturan bahwa pembaca harus
membaca memulai dari awal buku dan itu mutlak dalam aturan kaidah bahasa Indonesia.
Jadi saya pikir hal ini sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi karena memang aturannya sudah
ada dan kita tinggal mengikuti saja. Apabila dirasa aneh atau janggal, itu hanya karena belum terbiasa
saja. Kita tinggal mengikuti saja ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Pusat Bahasa. Tentunya dalam
hal ini kita harus open minded (berpikiran terbuka) dalam menerima suatu hal yang baru.
Demikian paparan dan pendapat dari saya mengenai penulisan kata serapan. Mungkin ada yang ingin
menanggapi atau ingin berbagi pendapat silakan.
Kata pungut (juga kata serapan atau kata pinjam) adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang
sudah diintegrasikan ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum.

[sunting] Kata serapan dalam bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia menyerap banyak kata dari bahasa-bahasa lain, terutama yang pernah berhubungan
langsung dengan Nusantara, baik melalui perdagangan (Sanskerta, Tionghoa, Arab), melalui
penjajahan (Portugis, Belanda, Jepang), maupun karena perkembangan ilmu pengetahuan (Inggris).
Contoh kata pungut dalam bahasa Indonesia adalah:

tetapi (dari bahasa Sansekerta tathpi: namun itulah)


mungkin (dari bahasa Arab mumkinun: ?)
kongko (dari bahasa Hokkien kongko: bercakap)
meski (dari bahasa Portugis mas que: walau)
bengkel (dari bahasa Belanda winkel: pojok atau toko)

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa luar negeri) yang
kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan untuk memperkaya kosa kata. Setiap masyarakat
bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk

menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata
yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, namun
manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep,
atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata
baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu--yang sering dianggap lebih mudah--adalah mengambil
kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.
Kata serapan antar bahasa adalah hal yang lumrah. jika terjadi kontak bahasa lewat pemakai pasti akan
terjadi serap menyerap kata. Dengan adanya proses penyerapan akan menimbulkan saling meminjam
dan saling pengaruh unsur asing. Peminjaman ataupun penyerapan dari suatu bahasa itu sendiri pasti di
latar belakangi oleh berbagai macam faktor. Yang biasanya mengalami perubahan atas proses
penyerapan adalah bunyi bahasa dan kosa kata.
Bahasa Indonesia sendiri selama pertumbuhannya banyak mengalami serapan dari bahasa-bahasa asing
seperti bahasa Sansekerta, bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Masukkan unsur bahasa
asing tersebut sejalan dengan histori bangsa Indonesia tentunya.
Berawal dari bahasa sansekerta yang datang bersamaan dengan ajaran hindu budha di Indonesia,
kemudian bahasa Belanda yang sejalan dengan proses penjajahan bangsa Belanda. Setelah penjajahan
bangsa Belanda usai adalah masa perdagangan antara bangsa timur tingah dengan bangsa Indonesia
dan proses keagamaan yang menyebabakan terajdinya penyerapan bahasa Arab.Yang terakhir adalah
bahasa Inggris dan itu terjadi hingga sekarang, faktor yang begitu dominan tentunya karena pertukaran
ilmu pengetahuan dan teknologi antara bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa pengguna bahasa
Inggris. Selain bahasa-bahasa tersebut menurut wikipedia.com ada beberapa bahasa seperti cina,
portugis, tamil, parsi, hindi yang ikut terserap oleh bahasa Indonesia namun memiliki persentasi yang
tidak sebesar empat bahasa yang saya jelaskan sebelumnya diatas.
Contoh kata serapan antara lain:
edukasi berasal dari education (Inggris)
hikmah berasala dari kata hikmat (Arab)
besuk berasal dari kata bezoek (Belanda)
aniaya berasal dari kata anyaya (Sansekerta)

Penulisan Kata Asli dan Kata Serapan


Berikut ini adalah penulisan kata asli dan kata serapan yang sesuai dengan Pedoman Ejaan yang
Disempurnakan.
nasihat (bukan nasehat)
praktik (bukan praktek)
teknik (bukan tehnik)
analisis (bukan analisa)
frase (bukan frasa)
moral (bukan moril)
spiritual (bukan spirituil)
konseptual (bukan konseptuil)
karier (karir)
bus (bukan bis)
truk (bukan trek)
rezeki (bukan rizki)
putra (bukan putera)

sastra (bukan sastera)


target (bukan tarjet)
orisinal (bukan orisinil)
aktif (bukan aktiv)
aktivitas (bukan aktifitas)
Februari (bukan Pebruari)
jadwal (bukan jadual)
kualitas (bukan kwalitas)
kuantitas (bukan kwantitas)
Jumat (bukan Jumat)
Senin (bukan Senen)
tim (bukan team)
Al Quran (bukan Al Quran)
kwitansi (bukan kuitansi)
kreatif (bukan kreativ)
kreativitas (bukan kreatifitas)
terampil (trampil)
ekspor (bukan eksport)
impor (bukan import)
jenazah (bukan jenasah)
disahkan (bukan disyahkan)
anggota (bukan anggauta)
stempel (bukan setempel)
makhluk (bukan mahluk)
konkret (bukan kongkret)
ilmuwan (bukan ilmiawan)
provinsi (bukan propinsi)
hierarki (bukan hirarki)
objek (bukan obyek)
subjek (bukan subyek)
khawatir (bukan kuatir)
apotek (bukan apotik)
apoteker (bukan apotiker)
biaya (bukan beaya)
investasi (bukan infestasi)
taksi (bukan taxi)
miliar (bukan miliard atau milyar)
kriteria (bukan kreteria)
ekstrem (bukan ekstrim)
revisi (bukan rivisi)
standar (bukan standard)
teknologi (bukan tehnologi)
proyek (bukan projek)
metode (bukan metoda)
rekruitmen (bukan rekrutmen)
negatif (bukan negatip)
positif (bukan positip)
magnet (bukan magnit atau mahnit)
persen (bukan prosen)

persentase (bukan prosentase)


kriminal (bukan kriminil)
notulen (bukan notula)
hakikat (bukan hakekat)
November (bukan Nopember)
paragraf (bukan paragrap)
alinea (bukan alinia)
zaman (bukan jaman)
izin (bukan ijin)
kompleks (bukan komplek)
sekretaris (bukan sekertaris)
restoran (bukan restauran)
samudra (bukan samudera)
sandera (bukan sandra)
ahli (bukan akhli)
interogasi (bukan introgasi)
kubik (bukan kibik)
karisma (bukan kharisma)
sakarin (bukan sakharin)
kredit (bukan kridit)
idealis (bukan idialis)
sistem (bukan sistim)
akhlak (bukan ahlak) grup (bukan group)
saus (bukan saos)
manajemen (bukan managemen atau menejemen)
pikir (bukan fikir)
atlet (bukan atlit)
takwa (bukan taqwa)
kyai (bukan kiai)
kuil (bukan kuwil)
klub (bukan kleb)
plat (bukan pelat)
perbankan (bukan perbangan)
konvensional (bukan konfensional)
survei (bukan survey atau surfei)
modern (bukan moderen)
ekspresi (bukan expresi)
foto (bukan poto atau photo)
fotokopi (bukan photocopy)
telepon (bukan tilpun atau telefon)
komputer (bukan computer)
eksemplar (bukan exemplar)
laptop (bukan leptop)
wasalam (bukan wassalam)
fotografer (bukan fotographer)
helm (bukan helem)
sutera (bukan sutra)
pensil (bukan pencil)
pulpen (bukan bulpen)

esai (bukan esei)


manajer (bukan manager atau menejer)
ilustrasi (bukan ilusterasi)
supervisi (bukan superfisi)
pikir (bukan fikir)
katalog (bukan katalok)
vakum (bukan fakum)
putri (puteri)
rapor (bukan raport)
negeri (bukan negri)
kritik (bukan keritik)
keriting (bukan kriting)
relatif (bukan relativ)
PENULISAN KATA SERAPAN
Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau dari bahasa daerah. Dilihat dari taraf
penyerapannya ada tiga macam kata serapan, yaitu:
1. Kata asing yang sudah diserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, misalnya kab, sisrsak, perlu,
hadir, badan, waktu, kamar, botol, sekolah dan ember.
2. Kata asing yang dipertahankan karena sifat keinternasionalan-nya, penulisan dan pengucapan masih
mengikuti cara asing. Misalnya shuttle cock, knock out, time out, chek in, built up, complete knock
down, dan lain-lain.
3. Kata asing yang berfungsi untuk memperkaya peristilahan, ditulis sesuai dengan EYD. Misalnya
komputer (computer), matematika (mathematic), karakter (character), dan lain-lain.