Anda di halaman 1dari 55

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: drg. Dewi Kristiana, M. Kes

Ketua

: Kholisa

(141610101054)

Scriber Meja

: Aulia Maghfira K.W

(141610101049)

Scriber Papan

: Arimbi Gupitasari

(141610101069)

Anggota

1. Ismi Inayatur Yusha

(141610101030)

2. Arina Nur Rahmah

(141610101032)

3. Kanwangwang Dwi N.A

(141610101036)

4. Fadylla Nuansa C.B

(141610101046)

5. Meirsa Sawitri H

(141610101050)

6. Citrayuli Nurkhasanah

(141610101065)

7. Maqdisi Firdaus A

(141610101071)

8. Nadiya Amalia A.I

(141610101072)

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 1

Silvitania Putri

(141610101083)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan ini. Laporan ini disusun untuk
memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok VI pada skenario pertama klinik
Prostodonsia.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. drg. Dewi Kristiana, M. Kes. selaku tutor yang telah membimbing jalannya
diskusi tutorial kelompok 6 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan
yang telah memberi masukan yang membantu, bagi pengembangan ilmu yang
telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan demi
perbaikanperbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 23 Maret 2016

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 2

DAFTAR ISI

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK..............................................................1


DAFTAR ISI............................................................................................. 3
BAB I...................................................................................................... 4
PENDAHULUAN...................................................................................... 4
SKENARIO........................................................................................... 4
STEP 1.................................................................................................. 4
STEP 2.................................................................................................. 5
STEP 3.................................................................................................. 5
STEP 4.................................................................................................. 7
STEP 5.................................................................................................. 7
BAB II..................................................................................................... 8
PEMBAHASAN........................................................................................ 8
STEP 7.................................................................................................. 8
LO 1.................................................................................................. 8
LO 2................................................................................................ 12
LO 3................................................................................................ 17
LO 4................................................................................................ 35
BAB III.................................................................................................. 49
KESIMPULAN....................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 50

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 3

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO 1
PROSTODONSIA
Pak Sarif, 60 tahun, pensiunan PNS, datang ke RSGM UJ, ingin dibuatkan
gigi tiruan. Pasien merasa tidak nyaman untuk makan karena susah saat
mengunyah dan malu saat berbicara. Pencabutan terakhir gigi belakang kiri
rahang bawah sekitar 1 tahun yang lalu. Pasien sebelumnya tidk pernah memakain
gigi tiruan lepasan. Tipe penderita indifferent. Kesehatan umum : sakit hipertensi.
Pemeriksaan intra oral gigi hilang 11, 12, 16, 17, 18, 21, 23, 25, 26, 27, 28,
31, 32, 33, 36, 38, 43, 44, 46, 47, 48. Sisa akar 15, 14, 13, 37, 35, 34, 41, 42.
Karies profunda 24 (gigi-gigi tersebut indikasi pecabutan). Ekstruded dan goyang
0

3 : 22. Resesi gingiva 43. Gigi yang ada terdapat kalkulus.


Kemudian dokter gigi melakukan pemeriksaan anatomical landmark,

menentukan diagnosis dan rencana perawatan untuk pasien tersebut.

STEP 1
1. Anatomical landmark
Tanda-tanda anatomi pemandu dalam bentuk titik, garis, dan sudut yang
digunakan dalam pengukuran analisis dento-facial, seperti fossa, ridge,
tranversal, oblique dan anatomi rongga mulut seperti gigi, tulang alveolar,
vestibulum, retromolar dll.
2. Tipe penderita indifferent

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 4

Merupakan tipe penderita yang tidak memperdulikan penampilan dan


makanan yang dikonsumsi, bersikap apatis, tidak tertarik, dan memiliki
motivasi yang rendah. Bagi pasien tipe ini, pemakaian gigi tiruan dirasa
tidak perlu, sehingga memerlukan dorongan dari orang lain untuk menjaga
kesehatan gigi dan mulut serta untuk pergi ke dokter gigi.
3. Gigi tiruan lepasan
Gigi tiruan yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang pada
rahang atas atau rahang bawah dan dapat dibuka pasang oleh pasien.

STEP 2
1. Apakah ada hubungan riwayat pemakaian gigi tiruan antara gigi tiruan
yang pernah dipakai sebelumnya dengan pemakaian gigi tiruan yag baru?
2. Bagaimana hubungan antara hipertesi dengan pencabutan gigi ?
3. Apakah ada hubungan pencabutan terakhir gigi belakang kiri rahang
bawah sekitar 1 tahu yang lalu denga rencana perawatan ?
4. Apakah resesi gingiva mempengaruhi pemasangan GTL?
5. Apakah rencana perawatan yang cocok untuk penderita indifferent ?
6. Bagaimana pengaruh tipe pasien indifferent terhadap pemasangan GTL ?

STEP 3
1. Terdapat hubungan antara pemakaian gigi tiruan antara gigi tiruan yang
pernah dipakai sebelumnya dengan pemakaian gigi tiruan yag baru. Gigi
tiruan yang baru akan mengbuah adaptasi pasien dari pemakaian gigi
tiruan yang lama. Selain itu gigi tiruan yang lama dipergunakan oleh
dokter gigi sebagai acuan untuk memperbaiki kekurangan yang terdapat
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 5

pada gigi tiruan yang lama, sehingga gigi tiruan baru akan lebih nyaman
dan mampu menutupi kekurangan pada gigi tiruann yang lama.
2.

Pada penderita hipertensi, aliran darah mengalir lebih deras dari aliran
darah normal, sehingga apabila tindakan dokter gigi mengakibatkan
perdarahan (seperti mencabut gigi, tindakan scallling) maka akan sulit
dihentikan. Selain itu, pada penderita hipertensi juga digunakan sebagai
acuan pemberian obat dan anastesi. Pada penderita hipertensi tidak boleh
diberi

anastesi

yang

bersifat

vasokonstriktor,

karena

pemberian

vasokonstriktor pada penderita hipertensi dapat menyebabakan pecahnya


pembuluh darah.
3. Terdapat hubungan antara pencabutan terakhir gigi belakang kiri rahang
bawah sekitar 1 tahu yang lalu dengan rencana perawatan. Lama waktu
terakhir pencabutan gigi berpengaruh terhadap pembetukan jaringan baru.
Jaringan kembali normal setelah 4-5 bulan pencabutan gigi.
4. Ya. Resesi gingiva yang parah akan mengakibatkan gigi goyang, sehingga
retensi dan stabilisasi gigi tiruan menjadi terganggu.
5. Rencana perawatan bagi tipe pasien indifferent lebih menekankan
komunikasi dokter gigi dengan pasien, meningkatkan kesadaran akan
kesehatan gigi dan mulut, pemberian edukasi akibat buruk yang
ditimbulkan apabila tidak memakai gigi tiruan, pentingnya mengganti gigi
yang hilang dengan gigi tiruan, serta edukasi terhadap orang yang
berpegaruh terhadap pasien, missal istri/ suaminya.
6. Tipe pasien indifferent adalah tipe pasien dimana memiliki sikap apatis,
tidak peduli penampilan dan kesehatan di rongga mulutnya. Pada tipe
pasien seperti ini juga memiliki sikap malas dalam membersihkan gigi
tiruan lepasan, sehingga banyak plak yang menempel sehingga dapat
menimbulkan candida.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 6

STEP 4

STEP 5
1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami definisi, macam GTL
2. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami macam tipe pasien dan
pengaruhnya terhadap pemakaian GTL
3. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami pemeriksaan anatomical
landmark,pemeriksaan

ekstraoral,

pemeriksaan

intraoral,

serta

pemeriksaan penunjang.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami diagnosis dari scenario,
rencana perawatan serta prognosis dari scenario.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 7

BAB II
PEMBAHASAN

STEP 7
LO 1
Defenisi
Gigi Tiruan Lengkap adalah gigi tiruan yang menggantikan
kehilangan seluruh gigi pada rahang atas dan bawah (edontolus) serta
jaringan

pendukung

atau

mukosa

serta

memperbaiki

system

stomatogonatik.
Gigitiruan lengkap merupakan pengganti gigitiruan asli yang sudah
hilang dan hilangnya jaringan lunak dan tulang, yang dibuat untuk
merestorasi fungsi yang tidak seimbang dan hilang serta untuk
penampilan. Pembuatan gigitiruan penuh mencakup prosedur klinis dan
labor, dimana penghitungan cermat merupakan hal sangat penting untuk
mencapai keberhasilan pada pembuangan gigitiruan. Keberhasilan juga
sangat dipengaruhi oleh profil psikososial pasien.
GTL perlu digunakan untuk mencegah pengkerutan tulang
alveolar, berkurangnya vetikal dimensi disebabkan turunnya otot-otot pipi
karena tidak adanya penyangga, dan hilangnya oklusi sentrik. Pada orang
yang kehilangan seluruh giginya, vertikal dimensi oklusi alami akan hilang
dan mulut cendurung overclosure. Hal ini akan menyebabkan pipi berkerut
dan masuk ke dalam serta membentuk commisure.Selain itu, lidah sebagai
kumpulan otot yang sangat dinamis karena hilangnya gigi akan mengisi
ruang selebar mungkin sehingga lidah akan membesar dan nantinya dapat
menyulitkan proses pembuatan gigi tiruan lengkap.Selama berfungsi

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 8

rahang bawah berusaha berkontak dengan rahang atas sehingga dengan


tidak adanya gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah akan menyebabkan
hilangnya oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protrusi dan hal ini
menyebabkan malposisi temporo-mandibular joint.

Gigi tiruan pada rahang atas dan rahang bawah


GTL perlu digunakan untuk mencegah pengkerutan tulang
alveolar, berkurangnya vetikal dimensi disebabkan turunnya otot-otot pipi
karena tidak adanya penyangga, dan hilangnya oklusi sentrik. Pada orang
yang kehilangan seluruh giginya, vertikal dimensi oklusi alami akan hilang
dan mulut cendurung overclosure. Hal ini akan menyebabkan pipi berkerut
dan masuk ke dalam serta membentuk commisure.Selain itu, lidah sebagai
kumpulan otot yang sangat dinamis karena hilangnya gigi akan mengisi
ruang selebar mungkin sehingga lidah akan membesar dan nantinya dapat
menyulitkan proses pembuatan gigi tiruan lengkap.Selama berfungsi
rahang bawah berusaha berkontak dengan rahang atas sehingga dengan
tidak adanya gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah akan menyebabkan
hilangnya oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protrusi dan hal ini
menyebabkan malposisi temporo-mandibular joint.

Fungsi Gigi Tiruan Penuh


1. Memperbaiki fungsi bicara
2. Memperbaiki fungsi pengunyahan
3. Memperbaiki estetis
4. Memperbaiki fungsi stomatognatik

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 9

5. Mempertahankan jaringan pendukung

Indikasi pembuatan GTL


1. Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut.
2. Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena
kerusakan gigi yang masih ada tidakmungkin diperbaiki.
3. Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu
keberhasilannya.
4. Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat.
5. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosis yang akan
diperoleh.

Kontra indikasi pembuatan GTL


1. Tidak ada perawatan alternatif
2. Pasien belum siap secara fisik dan mental,
3. Pasien alergi terhadap material gigi tiruan penuh
4. Pasien tidak tertarik mengganti gigi yang hilang

Keberhasilan Perawatan GTL


Keberhasilan gigi tiruan lengkap dipengaruhi faktor antara lain,

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 10

pengetahuan serta kemahiran operator untuk tahap klinis maupun


laboratorium pada setiap kunjungan serta kerja sama antara pasien dan
laboratorium. Keberhasilan pembuatan GTL tergantung dari retensi yang
dapat menimbulkan efek pada dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat
mempertahankan keadaan jaringan normal. Hal ini mencakup :
a. Kondisi edentulous (tidak begigi) berupa : processus alveolaris, saliva,
batas mukosa bergerak dan tidakbergerak, kompesibilitas jaringan
mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, bentuk dan gerakan lidah.
b. Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok
c. Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut
d. Penetapan atau pengaturan gigi yang benar, meliputi :
e. Posisi dan bentuk lengkung deretan gigi
f. Posisi individual gigi
g. Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi rahang atas dan
rahang

bawah.

Faktor yang mempengaruhi Keberhasilan GTL


Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam
keberhasilan gigi tiruan lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi
GTL:
a. Faktor fisis: Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat
mempengaruhi efek retensi dari tekananatmosfer. Posisi terbaik
peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 11

permukaan bukal gigitiruan atas, pada permukaan bukal gigi tiruan


bawah.Peripherial seal bersambung dengan Postdam padarahang atas
menjadi sirkular seal. Sirkular seal ini berfungsi membendung agar
udara dari luar tidak dapatmasuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting
surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer di dalamnya
tetapterjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran (seal tidak
utuh/terputus) maka protesa akan mudahlepas. Hal inilah yang harus
dihindari dan menjadi penyebab utama terjadinya kegagalan dalam
pembuatanprotesa gigi tiruan lengkap.Postdam, diletakkan tepat
disebelah anterior garis getar dari palatum molle dekatfovea palatina.
b. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan
kontak antara basis gigi tiruan denganmukosa mulut, tergantung dari
efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama
dikenalsebagai adhesi selektif.
c. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting
surface). Retensi gigi tiruan berbandinglangsung dengan luas daerah
yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.
d. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai
sebagai pegangan terutama pada rahangatas.
e. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang di bawahnya untuk
menghindari rasa sakit dan terlepasnyagigi tiruan saat berfungsi
f. Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior
(depan) karena harus mengingat estetis (ukuran,bentuk, warna)
walaupun tidak kalah pentingnya untuk pemasangan gigi posterior
(belakang) yang tidak harus samaukurannya dengan gigi asli, tetapi
lebih kecil, untuk mengurangi permukaan pengunyahan supaya tekanan
padawaktu penguyahan tidak memberatkan jaringan pendukung.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 12

Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality


expression, umur, jenis kelamin yang mananantinya akan berpengaruh
dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur gigi. Disamping itu juga
perlu diperhatikan keberadaan over bite, over jet, curve von spee, curve
monson, agardiperoleh suatu keadaan yang diharapkan pada pembuatan
gigi tiruan l

LO 2

SIKAP MENTAL PASIEN


Komunikasi yang baik antara dokter gigi dengan pasien sangatlah
dibutuhkan dalam mencapai keberhasilan perawatan, baik perawatan
prostodonsia maupun perawatan gigi lainnya. Motivasi pasien dalam
memakai gigi tiruan dapat tumbuh melalui komunikasi yang baik tersebut.
Hal ini dapat dicapai oleh dokter gigi dengan memilih pendekatan yang tepat
kepada pasien. Oleh karena itu, dokter gigi perlu mengetahui macam-macam
sikap mental pasien prostodonsia terhadap perawatan maupun pemakaian
gigi tiruan. Sikap mental pasien telah diklasifikasikan oleh House (1937)
berdasarkan pandangan terhadap perawatan dan pemakaian gigi tiruan, yaitu:
philosophical, exacting, indifferent, dan hysterical.
1. Exacting Patient
Pasien dengan sikap mental exacting mungkin memiliki semua
sikap baik yang ada di pasien philosophical. Namun, pasien
memerlukan perhatian, usaha, dan kesabaran yang lebih dari dokter
gigi. Pasien ini metodikal, teliti, akurat, dan tiba-tiba dapat
mengajukan permintaan atau keluhan yang parah. Pasien sukar
menerima pendapat atau nasehat, bahkan ingin turut mengatur
perawatan. Mereka suka setiap langkah dari prosedur dijelaskan
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 13

secara detail. Jika pasien ini memiliki intelegensi dan pemahaman


yang baik, maka mereka dapat menjadi tipe terbaik, namun jika
sebaliknya, akan menghabiskan waktu yang lebih lama, karena
edukasi pasien sampai pemahaman tercapai adalah hal terbaik yang
dapat dilakukan untuk kesuksesan perawatan.
Sikap mental exacting biasanya dimiliki oleh 2 tipe pasien. Tipe
yang pertama adalah pasien yang sangat khawatir penampilannya
akan berubah setelah memakai gigi tiruan. Pasien ini mengharapkan
gigi tiruan yang persis seperti gigi aslinya. Tipe kedua yang memiliki
sikap mental exacting adalah pasien yang sudah pernah memakai gigi
tiruan namun tidak pernah puas, baik dalam penampilan maupun
pemakaiannya. Pasien tidak mudah percaya kepada dokter gigi.
Terkadang pasien menginginkan jaminan tertulis yang apabila gigi
tiruan yang diharapkan pasien tidak terpenuhi, maka akan diminta
ongkos ganti rugi.
Cara menangani pasien exacting:
a. Menjelaskan tujuan dan prosedur perawatan kepada
pasien secara jelas. Bila perlu memberikan ilustrasi,
gambaran, atau foto kepada pasien untuk memudahkan
pemahaman karena pasien tipe exacting sangat ingin tahu
dan banyak bertanya.
b. Sebelum memulai perawatan,

dokter

gigi

perlu

menjelaskan kerugian, efek samping, ketidaknyamanan,


dan masalah yang mungkin muncul dari setiap jenis
perawatan karena pasien tipe exacting memiliki ekspektasi
yang tinggi.
c. Jangan menjanjikan

pasien

bahwa

perawatan

dan

pemakaian gigi tiruan akan berjalan mulus tanpa masalah


karena pasien memiiki ekspektasi tinggi dan senantiasa
menagih dokter gigi untuk merealisasikan janjinya.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 14

d. Sebaiknya dokter gigi menjadwalkan waktu kunjungan


extra karena pasien ini cenderung meminta perhatian yang
tidak terbagi, usaha, dan kesabaran.

2. Indifferent Patient
Sikap mental indifferent biasanya dimiliki oleh pasien yang
tidak peduli akan penampilannya dan tidak peduli dengan makanan
yang dikonsumsinya. Menurut pasien, pemasangan gigi tiruan adalah
suatu hal yang tidak perlu. Pasien biasanya datang atas dorongan dari
orang lain, sehingga dapat bersikap apatis, tidak tertarik, dan
motivasinya kurang. Pasien juga tidak memperhatikan instruksi, tidak
kooperatif, dan cenderung menyalahkan dokter gigi untuk kesehatan
gigi dan mulut yang buruk. Dokter gigi harus hati-hati dalam
mengambil langkah, karena prognosis perawatan pada pasien ini
kurang baik, sehingga motivasi harus terus ditumbuhkan sejak awal
perawatan. Prognosis dapat menjadi baik apabila ada penerimaan dari
pasien dan instruksi kepadanya berhasil.
Program edukasi mengenai kondisi gigi dan mulut, pentingnya
menjaga oral hygiene dan mengganti giginya yang hilang serta
perawatan dental merupakan rencana perawatan yang dianjurkan
sebelum pembuatan gigi tiruan. Edukasi dapat berupa memberikan
contoh akibat buruk yang konkret jika tidak melakukan perawatan
gigi tiruan, dapat dengan disertai foto untuk meyakinkan pasien. Jika
ketertarikannya tidak dapat distimulasi, hal terbaik yang dapat
dilakukan

adalah

menolak

pasien

ini,

dengan

harapan,

ketertarikannya dapat distimulasi oleh orang lain. Pada banyak


contoh, minimnya ketertarikan ini menjadi alasan mengapa pasien
tersebut edentolous.
Karakteristik pasien dengan sikap mental indifferent adalah:

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 15

.
.
.
.

Tidak peduli dengan penampilannya sendiri


Tidak merasakan pentingnya masalah komunikasi
Tidak ulet
Tidak mau merepotkan dirinya sendiri dalam pemakaian

.
.

protesa
Kurang menghargai upaya dokter gigi yang merawatnya
Diet buruk

3. Hysterical Patient
Pasien dengan sikap mental hysterical merupakan tipe pasien
yang emosional, tidak stabil, sensitif, sangat kuatir, gugup, dan
hipersensitivitas. Prognosisnya sering tidak baik, dan pertolongan
profesional tambahan, seperti psikiater, diperlukan selama perawatan.
Pasien dengan sikap mental ini harus dibuat sadar akan masalah gigi
dan mulutnya.
Sikap mental hysterical biasanya dimiliki oleh 2 tipe pasien.
Tipe yang pertama adalah pasien yang kesehatan umum maupun
mulutnya buruk. Pasien takut akan perawatan gigi dan yakin bahwa
pemakaian gigi tiruan akan gagal. Tipe kedua yang memiliki sikap
mental hysterical adalah pasien yang sudah pernah mencoba
memakai gigi tiruan namun selalu tidak puas karena dihantui oleh
perasaan bahwa penampilannya telah berubah. Pasien selalu ingin
menuntut jaminan bahwa gigi tiruan yang dibuat harus sama dengan
gigi aslinya.
Cara menangani pasien dengan sikap mental hysterical:
1. Preoperatif
Pendekatan perilaku : komunikasi yang efektif,
penjelasan prosedur, buat pasien rileks, konsultasi
dengan psikiatris
Pendekatan farmakologis : sedasi oral
2. Operatif

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 16

Pendekatan perilaku : menjawab pertanyaan pasien


dengan tenang, meyakinkan pasien.
Pendekatan farmakologis : anastesi lokal yang
efektif, sedasi oral.
3. Postoperatif
Pendekatan perilaku : memberikan instruksi yang
jelas pada pasien, penjelasan komplikasi dan cara
penanggulangannya.
Pendekatan farmakologis : analgesik, medikasi
tambahan

Menurut Blum 1960, tipe pasien dibagi menjadi :


a

Pasien yang berfikir sehat.

Pasien tipe ini lebih percaya terhadap dokter gigi karena yakin
terhadap perawatan yang akan diterima

Lebih tenang dalam menghadapi segala sesuatu

Pasien yang berfikir tidak sehat

Psikotik diamana pasien tidak terlalu banyak berharap dan tidak


mudah menerima gigi tiruan.

Paranoid dimana pasien merasa bahwa semua orang melawan dia


dan mudah marah

Manik depresi dimana sikap yang tidak tetap,lebih baik pada


persetujuan yang tertulis.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 17

LO 3
Anatomical Landmarks
Rahang Atas :
1. Frenulum

labii

superior
2. Ruggae palatina
3. Frenulum buccalis
4. Tuberositas maxillae
5. Hamular notch
6. Vibrating line
7. Processus alveolaris
8. Incisivus papilae
9. Fornix
10. Vovea palatine

Rahang bawah :
1. Frenulum

labii

inferior
2. Frenulum buccalis

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 18

3. Vestibulum buccalis
4. Retromolar pad
5. Frenulum lingualis
6. Processus alveolaris
7. Mylohyoid line

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 19

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 20

Pemeriksaan Subjektif
A. Covert Examination
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memperhatikan bagaimana
karakter pasien untuk menentukan tipe seperti apa pasien tersebut.
Sejak pasien masuk ke dalam ruangan, dari ekspresinya, suaranya,
penampilannya, dan cara berjabat tangan, seorang operator harus
memperhatikan pasien dengan seksama. Karena dari ekspresi dan
suara, kita dapat mengetahui tingkat kepercayaan diri pasien, apakah
pasien merasa yakin untuk melakukan perawatan gigi tiruan atau
pasien terlihat malas dan tidak bersemangat. Penampilan pasien yang
rapi dan berantakan juga dapat mengindikasikan bagaimana keadaan
rongga mulutnya atau tingkat kebersihan rongga mulutnya. Hal ini
tentu

mempengarungi

keberhasilan

perawatan

yang

sangat

memerlukan kondisi rongga mulut yang bersih dan baik. Selain itu
adanya bau rokok yang tercium dari pasien juga mengindikasikan
kebiasaan buruk yang berakibat buruk terhadap pemakaian gigi tiruan.
Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah keadaan pasien ketika
sedang berkonsultasi. Pasien yang gelisah, menggigit kuku, dan
terlihat stres bisa saja memiliki ambang batas terhadap rasa tidak
nyaman yang rendah. Hal ini tentu berpengaruh terhadap adapatasi
pasien terhadap pemakaian gigi tiruan yang merupakan benda asing.
Dari covert examination ini diharapkan seorang operator mampu
mengetahui tipe pasien, dan faktor-faktor psikologi yang mungkin
dapat dijadikan pertimbangan dalam membuat rencana perawatan.
B. History Examination
a. Personal History
Anamnesis berasal dari bahasa Yunani, anamneses yang artinya
mengingat kembali. Anamnesis merupakan pengambilan data yang

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 21

dilakukan oleh seorang dokter maupun perawat dengan cara


melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien
atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien. Berbeda dengan
wawancara biasa, anamnesis dilakukan dengan cara yang khas,
berdasarkan

pengetahuan

tentang

penyakit

dan

dasar-dasar

pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak


dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien. Jenis pertanyaan yang akan
diajukan kepada pasien dalam anamnesis sangat beragam dan
bergantung pada beberapa faktor. Adapun tujuan dari anamnesis yakni
sebagai berikut :
a. Memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang
sedang dialami atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis
dilakukan dengan cermat maka informasi yang didapatkan akan
sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak jarang
hanya dari anamnesis saja seorang dokter sudah dapat
menegakkan

diagnosis.

Secara

umum

sekitar

60-70%

kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan


hanya dengan anamnesis yang benar.
b. Membangun hubungan yang baik antara seorang dokter,
perawat, dan pasiennya. Umumnya seorang pasien yang baru
pertama kalinya bertemu dengan dokter maupun perawatnya
akan merasa canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga
cederung tertutup. Tugas seorang dokterlah untuk mencairkan
hubungan tersebut. Pemeriksaan anamnesis adalah pintu
pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan dokter,
perawat, dan pasiennya sehingga dapat mengembangkan
keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk tahap-tahap
pemeriksaan selanjutnya.
Ditinjau dari cara penyampaian, anamnesis dikenal ada 2 macam:

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 22

a. Auto Anamnesis:
disampaikan

cerita mengenai

keadaan

penyakit

sendiri oleh pasien

b. Allo Anamnesis:

cerita mengenai

keadaan pasien

tidak

disampaikan oleh pasien melainkan melalui bantuan orang lain


Dari segi inisiatif penyampaian:
a. Anamnesis

pasif:

pasien

sendiri

yang

menceritakan

perlu

dibantu

keadaannya kepada pemeriksa


b. Anamnesis

aktif:

penderita

pertanyaan-

pertanyaan dalam menyampaikan ceritanya.


Hal-hal yang akan ditanyakan pada saat melakukan anamnesis
yaitu sebagai berikut :
a. Nama Penderita: Hal ini perlu diketahui untuk membedakan
seorang penderita dari yang lainnya,di samping mengetahui asal
suku atau rasanya.Hal terakhir ini penting,karena ras antara lain
berhubungan dengan penyusunan gigi dpan.Contohnya,orang
Eropa (ras Kaukasus) mempunyai profil yang lurus,sedangkan
orang Asia (Mongoloid) cembung.
b. Alamat:

Dengan mengetahui alamatnya,penderita dapat

dihubungi

segera

bila

terjadi

sesuatu

yang

tak

diharapkan,umpamanya kekeliruan pemberian obat,juga untuk


memudahkan pemanggilan kembali

pasien dan

informasi

mengenai latar belakang lingkungan hidup pasien sehingga


dapat diketahui status sosialnya.
c.

Pekerjaan: modifikasi jenis perawatan mungkin diperlukan


karena factor jenis pekerjaan,seperti seorang pembuat roti /
kue,yang secara rutin harus mencicipi makanan yang sudah
terbakar,pada hal insidensi kariesnya tinggi.

d. Jenis kelamin: Secara jelas sebetulnya tidak terdapat


karakteristik
wanita.Namun

konkrit

yang

demikian

berlaku

hal-hal

untuk

berikut

ini

pria

dan

sebaiknya

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 23

diperhatikan .Wanita cenderung lebih memperhatikan faktor


estetik disbanding pria. Sebaliknya pria membutuhkan protesa
yang lebih kuat,sebab mereka menunjukkan kekuatan mastikasi
yang

lebih

besar.Pria

juga

lebih

mementingkan

rasa

nyaman,disamping factor fungional geligi tiruan yang dipakai.


e. Usia:

proses menua mempengaruhi

toleransi

jaringan

kesehatan mulut, koordiasi otot, mengalirnya saliva, ukuran


pulpa gigi,

panjang mahkota klinis. Usia juga menentukan

bentuk, warna serta ukuran gigi seseorang.


f. Pencabutan

terakhir

gigi : lama jangka waktu anatara

pencabutan terakhir dengan saat dimulainya pembuatan geligi


tiruan akan mempengaruhi hasil perawatan.
g. Pengalaman memakai gigi

tiruan: Adaptasi akan lebih

mudah dan cepat pada orang yang sudah pernah memakai gigi
tiruan.
h. Tujuan pembuatan gigi tiruan: penderita perlu ditanyai
mengenai apakah ia lebih memntingkan pemenuhan

factor

estetik atau fungsional.Biasanya konstruksi disesuaikan degan


kebutuhan penderita.
i. Keterangan

lain:

Penderita ditanya apakah mempunyai

kebiasaan buruk, dsb.


b. Medical History
a. Diabetes Mellitus
Pada penderita diabetes mellitus,suatu kombinasi infeksi dan
penyakit

pembuluh

darah

menyebabkan

berkembangnya

komplikasi-komplikasi di dalam mulut, seperti jaringan mukosa


yang meradang, cepat berkembangnya penyakit periodontal yang
sudah ada dengan hilangnya tulang alveolar secara menyolok dan
mudah terjadi abses periapikal. Infeksi monilial,berkurangnya
saliva,bertambahnya pembentukan kalkulus merupakan hal yang

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 24

khas dari penyakit diabetes yang tak terkontrol. Hal pertama yang
harus dilakukan adalah menyehatkan kembali rongga mulut.
Dalam lingkungan mulut yang sehat kembali. pembuatan
protesa dapat dilakukan dengan saran-saran tambahan sebagai
berikut :

Hindari tindakan pembedahan yang besar selama hal itu


mungkin dilakukan

Gunakan bahan cetak yang dpat mengalir bebas dan buat


desain rangka geligi tiruan yang terbuka dan mudah
dibersihkan,serta distribusikan beban fungsional pada
semua bagian yang dapat memberikan dukungan

Lalu susunlah oklusi yang harmonis

Bila dibutuhkan,rangsanglah pengaliran saliva dengan


obat hisap yang bebas karbohidrat

Tekankan pada pasien mengenai pentingnya pemeliharaan


kesehatan mulut

Tentukan kunjungan ulang penderita setiap 6 bulan sekali


untuk mempertahankan kesehatan mulut

b. Penyakit Kardiovaskuler
Hal ini perlu diperhatikan pada waktu pencabutan
gigi.Hindari

pemakaian

anastetikum

yang

mengandung

vasokonstriktor seperti adrenalin,oelh karena bahan ini dapat


mempengaruhi tekanan darah.
c. Tuberkulosis
Terjadinya gangguan metabolism pada penderita dan dapat
menyebabkan resopsi berlebihan pada tulang alveolar.
d. Anemia

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 25

Penderita anemia biasanya menunjukkan resopsi tulang


alveolar yang cepat.Untuk kasus ini sebaiknya gunakan elemen
gigi tiruan yang tidak ada tonjolannya (cusp).

e. Depresi Mental
Penderita biasanya diberi pengobatan dengan obat yang
mempunyai efek mengeringkan mukosa mulut. Hal ini dapat
mengakibatkan

berkurangnya

retensi

geligi

tiruan.

Maka

perawatan dalam bidang prostodontik sebaiknya ditunda dahulu


sampai perawatan terhadap depresi mentalnya dapat diatasi.
f. Alkoholisme
Sebagai pemakai geligi tiruan sebagian lepasan, pecandu
alcohol biasanya mengecewakan. Tanda-tanda penderita semacam
ini antara lain napasnya berbau alcohol, tremor,mata dan kulit
pada bagian tengah wajah memerah,gugup dan kurus.
Dalam upaya menutupi rasa rendah dirinya, penderita
alkoholik menuntut factor estetik yang tinggi untuk protesa yang
akan dibuat. Keyakinan dirinya serta kerjasama dengan penderita
ini dapat dikembangkan, bila hal tadi dapat kita penuhi.
Sebaliknya,bila hal ini gagal,bisa membawa akibat buruk.
Perawatan gigi untuk alkoholik umunya dihindari hingga
kebutuhan ini sudah sangat mendesak, supaya pembuatan protesa
dapat berhasil dalam jangka waktu yang panjang.
g. Hipertensi
Obat-obatan antihipertensi mempunyai dampak pada
sekresi saliva yang dihasilkan. Penderita dapat mengalami
xerostomia sehingga mengurangi perlekatan geligi tiruan denagn
rongga mulut pasien.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 26

h. Asma
Penyakit asma sendiri memiliki 2 tipe yang berbeda
(bronkiale dan kardiale) yang memiliki obat yang berbeda
pula.Obat untuk penderita asma dapat mempunyai pengaruh
vasokonstriktor maupun vasodilasator tergantung pada jenis asma
yang diderita,sehingga akan mempunya dampak pada anastesi
yang akan diberikan .

Pemeriksaan Objektif

1. Ekstra Oral
a) Muka : lonjong/persegi/segitiga/kombinasi
b) Profil : lurus/cembung/cekung
Bentuk dan profil muka perlu diperiksa untuk
pemilihan bentuk dan susunan elemen gigi, dan juga
digunakan sebagai pedoman untuk penetapan
hubungan rahang.
c) Pupil : sama tinggi/tidak sama tinggi
d) Tragus : sama tinggi/tidak sama tinggi
e) Hidung : simetris/asimetris; pernafasan melalui hidung:
lancar/tidak
Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan garis
interpupil dan garis camper (garis yang ditarik dari
tragus ke basis hidung) pada kehilangan banyak
gigi. Garis interpupil ditentukan untuk kesejajaran
dengan bidang insisal galengan gigit anterior,
sedangkan

garis

camper

ditentukan

untuk

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 27

kesejajaran dengan bidang oklusal galengan gigit


posterior.
Pemeriksaan cara bernafas pasien dilakukan dengan
menggunakan kaca mulut yang ditempelkan pada
lubang hidung pasien, kemudian pasien diminta
untuk bernafas melalui hidung dengan mulut dalam
keadaan tertutup. Bila kaca mulut terlihat berembun,
berarti pernafasan melalui hidung lancar. Bila
pernafasan

tidak

lancar,

akan

menimbulkan

kesulitan pada waktu dilakukan pencetakan karena


pasien sulit bernafas yang mengakibatkan rasa ingin
muntah.
f) Rima oris : sempit/normal/besar; panjang/normal/pendek
Rima oris yang sempit akan menghalangi penempatan
sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, maka
pemilihan ukuran bahan cetak harus lebih diperhatikan.
g) Bibir atas dan bibir bawah : hipotonus/normal/hipertonus;
tebal/tipis; simetris /asimetris
Tonus dan tebal tipisnya bibir berhubungan dengan
inklinasi labio-lingual gigi anterior. Sedangkan panjang
pendeknya bibir menetukan letak bidang insisial dan
garis tertawa.
h) Sendi rahang :
Kanan dan kiri : bunyi/tidak; sejak....
Buka mulut

: ada deviasi ke kanan atau kek kiri /tidak

ada deviasi
Trismus

: ada trismus (tuliskan mm nya)/tidak

Cara pemeriksaan dengan meletakkan jari pada eye-earline (garis yang ditarik dari tragus ke sudut mata), kirakira 11-12 mm dari tragus. Kemudian pasien diminta
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 28

untuk membuka dan menutup mulutnya berkali-kali


secara perlahan dan dengarkan apakah ada bunyi klik
pada waktu membuka dan menutup mulut.
Perhatikan juga apakah ada penyimpangan gerak
(deviasi), dan apakah pasien mengalami kesulitan pada
waktu membuka mulutnya (trismus).
i) Kelainan lain yang ada di rongga mulut
Contoh : pembengkakan/celah bibir/celah langit-langit/ tic
doloreux / angular cheilitis / pasca bedah maksilektomi/
mandibulektomi/ THT/..........

2. Pemeriksaan Intraoral
a) Saliva
Kualitas dan kuantitas saliva mempengaruhi retensi terutama pada
gigi tiruan lengkap.
a. Kuantitas : sedikit/normal/banyak
b. Kualitas

: encer/normal/kental

b) Lidah
a. Ukuran: kecil/ normal/besar
Lidah yang terlalu besar akan menyulitkan pada waktu
pencetakan dan pemasangan gigi tiruan. Pasien akan
merasa ruang lidahnya

sempit, sehingga

terjadi

gangguan bicara dan kestabilan protesa


b. Posisi wright: Kelas I/II/III
Posisi kelas I

: Posisi ujung lidah terletak di atas

gigi anterior bawah


Posisi kelas II

: Posisi lidah lebih tertarik ke

belakang

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 29

Posisi kelas III

:Lidah menggulung ke belakang

sehingga terlihat frenulum lingualis


Posisi lidah yang menguntungkan adalah kelas I
c. Mobilitas: normal/aktif
Lidah

yang

mobilitasnya

tinggi

(aktif)

akan

mengganggu retensi dan stabilisasi gigi tiruan


c) Refleks Muntah : tinggi/ rendah
Refleks

muntah

pasien

mempengaruhi

proses

pencetakan. Bila reflex muntah tinggi, perlu diupayakan


dengan misalnya penyemprotan anestetikum ke bagian
palatum pasien. Cara lain adalah dengan mengalihkan
perhatian pasien pada hal-hal lain, mengajak pasien
mengobrol, dst.
d) Gigitan : ada/tidak ada
Bila ada

: stabil/ tidak stabil

Tumpang gigit (overbite) anterior

: mm, posterior:

mm
Jarak gigit (overjet) anterior

: mm, posterior:

Gigitan terbuka

: ada/ tidak ada; regio

Gigitas silang

: ada/ tidak ada; regio

Hubungan rahang

: ortognati/ retrognati/ prognati

Gigitan dikatakan ada dan stabil bila model rahang atas


dan bawah dapat dikatupkan dengan baik di luar mulut
dan terlihat 3 titik bertemu yaitu 1 di bagian anterior
dna 2 di bagian posterior. Bila terlihat banyak gigi yang
aus dan kontak antara rahang atas dan bawah kurang
meyakinkan, maka dikatakan gigitan ada namun tidak
stabil.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 30

Nilai overjet dan overbite normal berkisar 2-4mm. bila


lebih, harus diwaspadai adanya perubahan dalam relasi
maksilo-mandibula. Dengan demikian, oklusi yang
lama tidak bisa dipakai pedoman penentuan gigit.
Bila ada gigitan terbuka atau gigitan silang, harus
dituliskan pada region berapa. Hal ini penting
diperhatikan, terutama pada pembuatan gigi tiruan cekat
yang mempunyai antagonis dengan region tersebut.
Hubungan rahang ditentukan dengan meletakkan jari
telunjuk pada dasar vestibulum anterior RA dan ibu jari
pada dasar vestibulum RB.
Ortognati

bila ujung kedua jari terletak segaris

vertical
Retrognati

bila ujung ibu jari lebih ke arah pasien

Prognati

bila ujung jari telunjuk lebih ke arah

pasien
e) Artikulasi
Diperiksa pada sisi kanan dan kiri, dapat berupa:
a. Cuspid protected
b. Grup function
c. Balanced occlusion (artikulasi seimbang)
Pemeriksaan ada tidaknya kontak premature dan blocking.
Jika terdapat kontak premature setelah peletakan kertas
artikulasi di permukaan oklusal gigi pasien, perlu
dilakukam occlusal adjustment.
Selanjutnya diperiksa gerak rahang ke lateral kiri dan
kanan, ada atau tidak hambatan. Hambatan pada gigi
caninus jangan terburu-buru diasah, karena bisa jadi hal
tersebut merupakan cuspid protected occlusion yang perlu
dipertahankan.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 31

f) Daya kunyah : normal/ besar


Bila terlihat banyak gigi yang mengalami atrisi dengan
faset yang tidak tajam dan permukaan yang mengkilat,
kemungkinan tekanan kunyah pasien besar. Pada keadaan
ini, bila ridge sudah rendah hindari pemakaian elemen gigi
porselen terutama untuk gigi posterior. Bidang oklusal gigi
geligi juga jangan dibuat terlalu besar
g) Kebiasan buruk
a. Bruxism / clenching
b. Menggigit bibir / benda keras
c. Mendorong lidah
d. Mengunyah satu sisi kanan atau kiri
e. Hipermobilitas rahang dll
Melalui anamnesis, pasien ditanyai mengenai kebiasaan
buruk yang dimiliki. Bruxism atau clenching juga dapat
dilihat dari adanya faset tajam pada gigi. Kebiasaan ini
akan membuat gigi tiruan yang dibuat menjadi cepat aus,
tidak stabil, dan dapat menjadi etiologi kelainan sendi
rahang.
Kebiasaan mengigigit bibir atau benda keras berkaitan
dengan pembuatan GTC pada gigi anterior, yaitu dalam
penentuan bahan yang akan dipakai.
Kebiasaan mendorong lidah dan mengunyah satu sisi
biasanya menyebabkan stabiltas gigi tiruan berkurang,
selain itu mengunyah satu sisi juga dapat menimbulkan
kelainan sendi rahang.
Pada hipermobilitas rahang, kesulitan yang akan timbul
adalah kesulitan penentuan relasi sentrik
Pemeriksaan Gigi Geligi Dan Tulang Alveolar
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 32

1. Bentuk umum gigi/ besar gigi : Besar/normal/kecil


2. Fraktur gigi :

pada gigi apa (tulis elemennya)


arah fraktur : (horizontal/diagonal/vertical)
arah garis fraktur (<1/3, 1/3, , 2/3, serviko insisal/serviko
oklusal/ mesio distal)

diagnosis gigi fraktur tersebut


3. Perbandingan mahkota akar : ....... pada gigi : .....
4. Lain-lain : gigi kerucut/ mesiodens/ diastema/ impaksi/ miring/
berjejal/ labio version/ linguo version/ hipoplasia, dst
5. Ketinggian tulang alveolar (sesuai dengan foto panoramic)

Pemeriksaan Lain
1. Vestibulum
Rahang Atas
Rahang Bawah

Posterior Kanan
dalam/sedang/ dangkal
dalam/sedang/ dangkal

Posterior Kiri
dalam/sedang/ dangkal
dalam/sedang/ dangkal

Anterior
dalam/sedang/ dangkal
dalam/sedang/ dangkal

Vestibulum : ruang yang terdapat di antara mukosa labial/bukal


prosesus alveolaris dan bibir/pipi. Kedalaman diperiksa dengan
kaca mulut nomer 3.
-

Bila gigi masih ada : pengukuran dilakukan dari servikal gigi


sampai dasar vestibulum

Bila gigi telah hilang : pengukuran dilakukan pada regio tak


bergigi dari puncak prosesus alveolaris hingga dasar vestibulum

Vestibulum dikatakan dalam apabila kaca mulut terbenam. Vestibulum


yang dalam menguntungkan pada pembuatan gigi tiruan karena sayap
gigi tiruan dapat dibuat lebih panjang sehingga menambah retensi.
2. Prosesus alveolaris/ residual ridge regio
Yang harus diperhatikan:

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 33

a. Bentuk : segi empat/oval/segitiga


Bentuk prosesus alveolar berpengaruh terhadap retensi dan
stabilisasi gigi tiruan lepas serta pemilihan desain pontik pada
gigi tiruan cekat
b. Ketinggian : tinggi/sedang/rendah
Ketinggian prosesus alveolar menunjukkan resorpsi tulang yan
terjadi. Prosesus menjadi rendah bila resorbsi besar. Cara
memeriksanya

dengan

membandingkan

dengan

gigi

di

sebelahnya. Bila pasien sudah tidak bergigi samasekali tinggi


prosesus alveolar diperiksa dengan menggunakan kaca mulut
nomer 3.
c. Tahanan jaringan: flabby/tinggi/rendah
Tahanan jaringan berpengaruh terhadap cara pencetakan.
Tahanan jaringan diperiksa dengan menggunakan burnisher
pada mukosa atau prosesus alveolar
-

Burnisher tidak terlalu terbenam dan mukosa terlihat pucat


mukosa keras; tahanan jaringannya rendah

Burnisher bisa ditekan lebih dalam mukosa lunak; tahanan


jaringan tinggi

Mukosa bergerak pada arah bukolingual saat ditekan


menggunakan burnisher flabby

d. Bentuk permukaan : rata/tidak rata


3. Frenulum
Frenulum adalah tempat perlekatan otot bibir/pipi/lidah terhadap
prosesus alveolaris. Frenulum dikatakan tinggi bila perlekatan ototototnya mendekati puncak prosesus alveolar, dikatakan rendah ketika
menjauhi, dan sedang bila berada di tengah antara puncak prosesus
alveolar dengan dasar vestibulum. Frenulum yang tinggi dapat
mengurangi retensi gigi tiruan lepas karena mengganggu sayap gigi
tiruan.
Frenulum : (tinggi/sedang/rendah)
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 34

Labialis superior

Labialis inferior

Bukalis rahang atas kanan

Bukalis rahang atas kiri

Bukalis rahang bawah kanan

Bukalis rahang bawah kiri

Lingualis

4. Palatum
a. Bentuk palatum : persegi/oval/segitiga
Bentuk dan kedalaman palatum berkaitand engan retensi dan
stabilisasi gigi tiruan lepas
b. Kedalaman palatum
c. Torus palatines
Torus yang besar akan mengganggu stabilisasi gigi tiruan. Pada
torus yang besar, agar tidak terjadi fulcrum, dilakukan relief pada
saat pencetakan fisiologis
d. Palatum mole
Merupakan jaringan lunak yang terletak di bagian posterior
palatum durum. Daerah ini memiliki jaringan yang sangat kuat
yang disebut aponeuresis, sebagai tempat posterior palatal seal
(postdam). House membagi palatum mole menjadi 3:
a. Kelas I: gerakan palatum durum yang kecil, dapat dibuat
postdam bentuk kupu-kupu
b. Kelas II: gerakan palatum durum membentuk sudut >30derajat,
postdam dibuat bentuk kupu-kupu dengan ukuran yang lebih
kecil
c. Kelas III: gerakan palatum durum membentuk sudut >60
derajat, postdam dibentuk dengan cekungan berbentuk V atau
U (berbentuk parit)
5. Tuber maksila
Kanan : besar/kecil

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 35

Kiri : besar/kecil
Daerah ini ditutup oleh jaringan fibrosa dengan ketebalan
yang berbeda-beda. Disebut kecil bila ukuran tuber lebih
kecil dari prosesus alveolar dan besar bila tuber melebar
atau menonjol ke arah oklusal atau lateral. Tuber yang besar
dapat mengganggu retensi gigi tiruan.
6. Undercut
Undercut bisanya mengganggu perluasan basis protesa. Hal
ini dapat mempengaruhi retensi dan stabilisasi gigi tiruan
serta dapat menghalangi pemasukan dan pengeluaran gigi
tiruan. Perlu dilakukan alveolotomi ataupun alveolektomi
sebelum pencetakan pembuatan model kerja bila undercut
tersebut diperkirakan akan mengganggu.
7. Ruang retromilohioid
Merupakan ruangan yang berada di antara prosesus alveolar
rahang bawah dan lidah. Cara pemeriksaannya dengan
menggunakan kaca mulut nomor 3. Ruang retromilohioid
yang dalam memungkinkan sayap lingual GTP dibuat lebih
panjang untuk menambah retensi dan stabilitasnya.
8. Bentuk lengkung rahang
Meliputi bentuk rahang atas dan rahang bawah. Bentuk-bentuk rahang
antara lain:
a. Persegi
b. Oval
c. Segitiga
Bentuk rahang segitiga adalah yang paling menyulitkan terutama saat
penyusunan elemen GTP yang tidak mengganggu artikulasi dan
stabilisasi.
9. Ruang gigi tiruan

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 36

Ruang gigi tiruan adalah jarak vertical antara prosesus


alveolar rahang atas dan rahang bawah. Ruang gigi tiruan
yang besar menguntungkan dalam hal pemasangan gigi dan
penentuan tinggi bidang oklusal.
10. Perlekatan dasar mulut
Diperlukan untuk menentukan panjang sayap lingual gigi
tiruan rahang bawah yang akan mempengaruhi stabilitas
gigi tiruan.
11. Lain-lain
a. Eksostosis
b. Torus mandibularis
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang radiografi berfungsi untuk mengetahui
1. Kualitas jaringan penyangga, terutama bagi gigi abutment
2. Adanya gigi terbenam atau sisa akar
3. Kelainan periapikal
4. Adanya kista
5. Adanya resorpsi tulang terutama pada gigi penyangga serta pola
resorpsi pada edentoulus ridge
6. Adanya penyakit sistemik seperti sklerosis

LO 4
Diagnosis
o Edentulous pada gigi 11, 12, 16, 17, 18, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 31,
32, 33, 36, 38, 43, 44, 46, 47, 48
o Periodontitis pada gigi 43
o Nekrosis pulpa pada gigi 15, 14, 13, 37, 35, 34, 41, 42
o Pulpitis irreversible pada gigi 24

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 37

Rencana perawatan
o Semua gigi diindikasikan pencabutan
o Dibuatkan gigi tiruan full denture
Desain gigi tiruan

Pencetakan
Defenisi
Mencetak adalah suatu tindakan membuat suatu bentuk
negatife dari gigi atau jaringan lain dari rongga mulut
menggunakan bahan plastis yang relative menjadi keras atau
mengeras pada saat berkontak dengan jaringan tersebut,yang
berfungsi

sebagai

pendukung

gigi

tiruan

yang

akan

dibuat.Kemudian gips putih atau gips keras dituangkan ke dalam


cetakan guna mendapatkan model atau bentuk positif dari jaringan
pendukung gigi tiruan.
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 38

Cetakan GTL adalah cetakan negatife dari seluruh jaringan


pendukung dan daerah tepi rahang atas dan rahang bawah pasien
yang telah kehilangan semua gigi geligi , yang nantinya akan
menjadi

pendukung

bagi

gigi

tiruan

lengkap.Apabila

diinginkanmodel dengan kecermatan maksimal ,perlu dilakuakan


suatu prosedur pencetakan dua tahap.Mula-mula dibuat cetakan
pendahuluan dengan menggunakan sendok cetak siap pakai;dan
kedua ,cetakan kerja yang lebih akurat menggunakan sendok cetak
khusus yang dibauat dengan ukuran masing-masing pasein,pada
model yang didapatkan dari cetakan pendahuluan.
Tujuan pembuatan cetakan rahang atas dan rahang bawah
adalah untuk mencatat semua permukaan yang mempunyai potensi
untuk mendukung gigi tiruan. Dan dukungan bagi gigitiruan dan
cetakan juga berperan sebagai dasar untuk meningkatkan estetis
bibir dan mempertahankan kesehatan jaringan mulut. Tujuan
mencetak juga untuk memperoleh retensi,stabilisasi. Teknik
mencetak harus dipilih berdasarkan faktor biologis. Faktoe biologis
dari kesehatan jaringan mulut harus diikuti sebelum cetakan akhir
dibuat antara lain adalah :
Cetakan meluas meliputi seluruh daerah pendukung dalam
batas kesehatan dan fungsi jaringan pendukung dan jaringan
pembatasnya

Tepi tepinya sesuai dengan batas-batas anatomis dan


fisiologis jaringan mulut .

Fisiologis dari peosedur pembentukan tepi dilakukan oleh


dikter gigi dengan pasien

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 39

Sediakan ruangan yang cukup anatara sendok cetak dengan


bahan cetak yang akan digunakan.

Teknik tekanan digunakan pada daerah pendukung waktu


cerakan akhir.

Cetakan dapat dilepas dari dalam mulut tanpa melukai


membran mukosa sisa alveolar

Sendok cetak dan cetakan akhir dibuat dari bahan dengan


dimensi yang stabil

Bentuk luar dari cetakan akhir sama dengan bentuk luar


dari gigitiruan yang telah selesai.

Keberhasilan Pencetakan
Keberhasilan mencetak dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain :
a. Memelihara linggir alveolaris
Memelihara sisa ridge adalah tujuan utama pembuatan gigi tiruan
,dusamping mengembalikan sistim stomatognatik.secara fisiologis
dapat diterima bahwa dengan hilangnya stimulasi gigi asli,prosesus
alveolaris mengalami resorbsi.Proses ini bervariasi untuk masing
masing individu. Teknik dan bahan cetak dapat berpengaruh pada
bentuk dan kecekatan basis gigitiruan, hal ini dapat berpengaruh pada
kelanjutan kesehatan jaringan lunak dan keras rahang.

b. Memberi dukungan

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 40

Merupakan

ketahanan

jaringan

oebdukung

terhadap

gaya

mastikasi.Makin luas jaringan pendukung gigitiruan ,maka makin luas


daerah yang menerima gaya mastikasi,sehingga beban yang diterima
oleh jaringan pendukung perunit area menjadi makin kecil.Keadaan ini
akan membantu kestabilan dan retensi gigitiruan,yang sekaligus juga
membantu pemeliharaan kesehatan jaringan pendukung.

c. Memberikan penampilan wajah


Penampilan yang alami dapat diperoleh mulai dari saat mencetak.
Ketebalan tepi gigitiruan yang dapat mengembalikan dukungan bai
otot-otot bibir dan pipi,ketebalanya bervariasi tergantung pada
hilamgnya sisa alveolar. Ketebalan optimal dapat diperoleh waktu
melakukan border moulding / muscle trimming.Forniks vestibulum
harus tercetak penuh tercetak penuh untuk memperbaiki bentuk
wajah,dan dapat diperoleh waktu melakukan cetakan terakhir.

Stabilisasi dan Retensi


Cetakan yang cermat sesuai dengan permukaan mukosa jaringan
pendukung, penting sekali untuk stabilisasi terutama untuk melawan
tekanan dalam arah horizontal. Stabilisasi atau tekanan terhadap gerakan
horizontal dan berkurang dengan kurangnya tinggi prossesus alveolaris atau
bertambahnya

jaringan

flabby.Kehilangan

mukosa

stabilisasi

yang

menyebabkan

mudah
gigitiruan

bergerak
bergerak

atau
bila

menerima tekanan horizontal. Hal demikian secara vertahap akan


menyababkan kerusakn jaringan lunak dan perubahan tulang dibawahnya.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 41

Retensi Adalah,kekuatan yang menahan gigitiruan terhadap gaya yang


arahnya berlawanan dengan arah pemasangan. Retensi sangat dibutuhkan
oleh hubungan antara basis gigitiruan dengan jaringan pendukung
dibawahnya. Kontak yang rata dan baik antara basis gigitiruan dan mukosa
sangat diperlukan untuk retensi yang optimal.

Batas-Batas Anatomis
a. Rahang atas

Frenulum Labialis
Terlihat sebagai lipatan dari membrane mukosa meluas dari lapisan
mukosa bibir kearah puncak sisa ridge permukaan labial.frenulum ini
dapat sempit atau lebar,pada hasil cetakan terliahat sebagai cekungan
berbentuk V.

Vestibulum labialis
Terletak disebelah kiri dan kanan dari frenulum labialis.Disebelah
distal dibatasi oleh frenulum bukalis.Daerah ini harus terisi dengan
sempurna untuk mendapatkan retensi tetapi tidak boleh berlebihan
sehingga mengubah penampilan pada hasil cetakan akan terlihat
sebagai suatu penonjolan yang memanjang.

Frenulum bukalis

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 42

Terletak disebelah bukal prossesus alvolaris,di sebalah anterior


vestibulum bukalis dan disebelah posterior vestibulum labialis
frenulum ini akan bergerak kearah anterior dan posterior otot otot
anguli oris,buksinator dan obricularis oris.Cekungan yang terbentuk
pada hasil cetakan akan memberikan kebebasan gerak otot-otot wajah
untik mencegah lepasnya gigitiruan.

Vestibulum bukalis
Terletak disebelah distal dari frenulum bukalis dan mesial dari
hamular notch.

Proccecus alveolaris
Resobsi alveolaris setelah pencabutan gigi dapat merubah bentuk sisa
alveolar,terjadinya resorbsi secara progresif pada sisa elveolar menjadi
terjadi lebih sempit dan lebih pendek sedangkan sisa alveolar yang
ideal mempunyai yang lebar dan lereng yang sejajar.Menyempitnya
sisa alveolar puncak menjadi lebih tajam akibatnya tidak mampu
menahan tekanan kunyah.jika tulang alveolar sempit sebaiknya
gunakan teknik mencetak dengan sedikit tekanan .

Tuber maxilaris
Suatu penonjolan pada bagian posterior rahang atas yang terletak
pada regio M1,M2 dan M3 yang berfungsi sebagai retensi pada rahang
Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 43

atas. Pemeriksaan juga mengggunkan kaca mulut untuk

melihat

sedang dan dangkal.

Alveolar tuberkel
Terletak disebelah disebelah distal dari sisa ridge.di sayap bukal
didaerah disto bukal dari tuberkel,kadang terletak perlekatan otot yang
kecil.di dapat bila pasien membuka mulut dan menggerakan rahang ke
lateral, akan terbentuk sayap disto bukal oleh tepi anterior dari
prossesus

koronoideus.dihasil

cetakan

terlihat

sebagai

suatu

peninjolan yang halus sesuai dengan besar/lebar vestinulum

Fossa pterygo-maxillaris /hamular notch


Terletak disebelah distal alv.tuberkel.suatu cekungan yang sempit
terdiri dari jaringan ikat kendor.Dihasil cetakan akan terliahat sebagai
suatu tonjolan disebelah distal dari alveolar tuberkel.Hamular notch
berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan retensi pada pasien
.pemeriksaan dapat menggunakan kaca mulut dengan menekan
palatum lunak.

Posterior palatal seal


Batas posterior viting survace adalah vibrating line(AH Linekan garis
khayal yang menandai batas akhir permukaan palatum. Vibrating line
ada 2 regio

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 44

Vibrating line anterior(VLH)


Garis khayal terletak pada batas palatum durum dan palatum molle.

Vibrating line posterior(VLP)


Merupakan batas atau garis khayal antara bagian palatum molle yang
gerakanya sedikit(kecil dan terbatas ) dengan bagian palatum molle
yang jelas waktu gerakan fungsional(aktif)

b. Rahang bawah

Frenulum labialis
Terlihat sebagai lipatan dari membrana mukosa.dihasil cetakan berupa
suatu cekungan sisa ridge dihasil cetakan terlihat sebagai cekungan.

Frenulum bukalis
Merupakan lipatan membrane mukosa yang meluas dari refleksi
membrana mukosa sebelah bukal ke lereng atau puncak sisa ridge di
daerah sebelah distal tonjolan kaninus.

Retromolar pad

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 45

Daerah berbentuk buah per kecil,hasil cetakanya terlihat sebagai


cekungan berbentuk per disebelah distal alveolar groove.

Ruang retromylohioid
Terdapat pada bagian distal dari sulkus lingualis. Ruangan ini menjadi
satu di bagian mesial dengan bagian anterior pilar tonsilar,dibagian
posterior oleh retromilohyoid yang dibentuk dibagian posterior oleh
konstriktor superior, bagian lateral oleh mandibula dan raphe
mandibulla,dianterior oleh tuberositas lingualis,disebelah inferior oleh
oto t mylohioyd. Di hasil cetakan ruangan retromilohyoid terlihat
sebagai suatu eminentia atau tonjolan.

Frenulum lingualis
Bila ujung lidah diangkat,dapat terlihat lipatan membran mukosa yang
terletak diatas otot glenioiglosus dan origo nya dibagian atas dari
spina genial mandibula. Dihasil cetakan terlihat sebagai cekungan.

Cetak Anatomis

Bahan mencetak

Sendok mencetak : Stock tray yang berlubang dan tanpa sudut

Teknik mencetak : Mukostatis

: Hydrokoloid irreversible/alginate

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 46

Tujuan mencetak

Untuk

mendapatkan

model studi dan mendapatkan sendok cetak


fisiologis

Prosedur mencetak
-

Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan

Instruksi pada pasien

Persiapan pasien sperti preparasi dan profilaksis, control saliva, dan


control pasien hipersensitif

Posisi pasien dan operator untuk rahang atas operator berada di


belakang kanan pasien, kepala pasien setinggi dada operator, mulut
pasien setinggi siku operator, dan kalau rahang bawah operator
berada sebelah kanan depan pasien, mulut pasien setinggi antara
bahu dan siku operator

Try in sendok cetak ke mulut pasien

Aduk bahan cetak dengan perbandingan 1 : 2 hingga homogen


(halus dan mengkilat)

Masukkan bahan ke sendok cetak

Masukkan sendok cetak ke dalam mulut pasien

Mengisi daerah undercut

Sentering

Mengangkat bibir atas atau menurunkan bibir bawah

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 47

Menekan sendok cetak, ditekan bagian tengah palatum supaya


bahan mengalir secara merata kemudian baru tekan bagian
posterior dan anterior

Melepas sendok cetak dari rahang

Mengeluarkan sendok cetak dari dalam mulut

Evaluasi hasil cetakan anatomis:

Hasil cetakan tidak boleh poreus, robek atau terlipat

Hasil cetakan harus mencakup batas anatomis

Tepi cetakan harus bulat

Tepi sendok cetak tidak boleh terlihat

Semua bagian ridge dan daerah jaringan lunak sampai batas


mukosa bergerak dan tidak bergerak tercetak dengan baik

Pengecoran dengan dental stone (gips tipe III)

Cetak fisiologis

Tahap Mencetak Fisiologis


-

Membuat Sendok cetak

Try in sendok cetak


Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 48

Border Molding

Mencetak

Membuat sendok cetak buatan


Alat dan bahan: self curing akrilik, api spiritus, scalpel/lecron, bur,
malam merah

Gambarl 2 batas pada model studi dengan pensil yiatu batas untuk
muscle triming tepat difornik pada model dan batas untuk untuk
sendok cetak buatan yaitu 2 mm dari fornik.

Selapis lembar malam merah diatas permukaan jaringan sebagai


wax spacer untuk bahan cetak

Buat lobang pada malam di daerah molar dan caninus kiri atau
kanan untuk stop vertical

Aduk resin akrilik dan letakkan adonan merata di atas malam dan
lubang stop vertical serta meliputi garis tepi

Buat tangkai dari resin, untuk rahang atas cukup satu ditengah
bagian anterior dengan posisi tangkai kearah bawah supaya tidak
mengganggu pada saat muscle trimming

Setelah resing mengeras lepaskan sendok cetak perotangan dari


model

Sempurnakan tepi sendok cetak

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 49

3
6
4

Mencoba sendok cetak perorangan dalam mulut pasien dan periksa


apakah sendok cetak perlu disempurnakan sebelum dilakukan
border molding/muscle trimming

Border molding/muscle trimming


a. Teknik Border molding/ Muscle triming
Teknin yang digunakan adalah teknik kombinasi yang
merupakan gabungan dari beberapa teknik muscle triming

dari cara heartwell, cara mac


1 Greagor dan cara Ellier.
b. Rahang atas

Muscle Triming Rahang Atas


-

Letakkan green stick compound yang telah dipaskan


pada tepi sendok cetak, dari ujung distal atau hamular
notch ke frenulum bukalis.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 50

Panaskan lagi diatas api spiritus kemudian celupkan


kedalam air hangat/tampering. Sendok cetak dengan
GSC yang hangat tadi dimasukkan kedalam mulut
pasien yang dibuka lebar, gerakkan rahang bawah ke
kanan, kiri dan protrusive.

Daerah frenulum bukalis secara unilateral, tarik pipi


keluar ke bawah kemudian kedepan, ke belakang,
ulangi pada posisi berlawanan.

Lunakkan lagi compound pada frenulum bukalis secara


unilateral.

Sayap labial secara unilateral, lunakka compound, tarik


bibir keluar dan kebawah atau pasien diminta
melakukan gerakan menghisap. Lunakkan compound
pada frenulum labialis serta tarik bibir atas ke depan.

c. Rahang bawah

5
1

6
4

3
Muscle Triming Rahang Bawah

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 51

Sayap disto lingual dan area buccal self

Daerah disto lingual dan post mylohyoid secara


bilateral

Lunakkan compound, masukkan ke mulut dan lidah,


ditekan di distal palatum, kemudian ke vestibulum
bukalis kanan dan kiri

Membuat lubang pada sendok cetak


Tujuan pembiatan lubang adalah untuk mengurangi tekanan waktu
mencetak dan sebagai retensi bahan cetak terhadap sendok cetak serta
mengalirkan sisa bahan cetak.lubang dibuat setelah sendok cetak siap
untuk dicetak,karna jika dibuat kubang dulu,daerah yang nenerima
tekanan berlebihan tidak dapat dikontrol (tekanan hidrolok terbebas),
Teknik pembuatannya:

Setelah sendok cetak dudukan tepat dan tepi sempurna, maka


buatlah lubang pada: di atas puncak ridge molar atas dan bawah,
daerah palatum keras sekitar garis tengah, daerah mukosa rahang
yang mudah bergerak (flabby) untuk mencegah distorsi jaringan
tersebut

Lubang dibuat dengan bur bulat no.8

Berjarak tiap lubang 5mm

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 52

Boxing dan Beading


Tujuanya adalah : untuk mempertahankan bentuk tepi hasil yang
tercatat pada model kerja.bentuk tepi dari hasil cetakan akan
direproduksi menjadi bentuk tepi gigitiruan. Teknik pembuatannya :
-

siapkan gulungan lilin atau beading wax setebal lebih 3-5 mm


kemudian dicetakan dibawah ditepi seluruh hasi ceakan.

untuk rahang atas penempelan beading wax berakhir dibelakang


prossesus alveolarbagian posterior sebelah kiri kanan.untuk rahang
bawah meliputi seluruh tepi hasil cetakan bagian labial,bukal dan
lingual.

untuk bagian lingual ,tempat lidah ditutupi dengan selembar wax


yang digabung dengan beading wax yang

sudahdicetakan.

ibaguan luar beading wax diletakan untuk memebntuk basis dari


model.
-

kemudian hasil cetakan yang dilakukan boxing dicor dengan gips


stone untuk mendapatkan model kerja ( model). beading dan
boxing juga menggunakan wax sebelum diisi dengan gips dan
metode ini yang lebih sering digunakan.bahan gips pada sendok
cetak menggunakam algianat untuk menstabilkan posisi sendok
cetak

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 53

BAB III
KESIMPULAN

Gigi tiruan lengkap (GTL) adalah gigi tiruan yang dibuat untuk
menggantikan semua gigi asli beserta bagian jaringan gusi yang hilang, karena
apabila seseorang telah hilang semua gigi geliginya, maka dapat menghambat
fungsi pengunyahan, fungsi fonetik, fungsi estetik dan dapat mempengaruhi
keadaan psikis, dalam hal membuat gigi tiruan dibutuhkan retensi dan stabilisasi
yang baik agar meningkatkan kenyamanan bagi pemakai gigi tiruan, retensi dan
stabilisasi yang baik akan tercapai jika operator melakukan pemeriksaan yang
lengkap, diagnosa yang tepat dan perawatan yang akurat, hingga retensi dan
stabilisasi dicapai dengan baik, tak luput pula dalam hal pencetakan karena
dengan mencetak batas-batas anatomis gigi akan didapatkan sebagai retensi dan
stabilisasi.

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 54

DAFTAR PUSTAKA
1. Phoenix

RD,

Cagna

DR.

Stewarts

Clinical

Remivable

Partial

Prosthodontics. 3rd Edition. Chicago : Quintessence. 2003.


2. Carr AB, McGivney GP. McCrackens Removable Padtial Prostodontics. 12th
Ed. St. Louis : Elsevier Mosby. 2005.
3. Departemen Prosthodonsia. Panduan Pengisian Rekam Medik Prosthodonsia.
Jakarta : FKG UI. 2012.
4. Watt, David M. 1992. Membuat Desain Gigi Tiruan Lengkap (Desaigning
Complete Denture). Alih bahasa : Soelistijani. Ed 2. Jakarta: Hipokrates

Laporan Tutorial Kelompok VI Prostodonsia 55