Anda di halaman 1dari 3

Analisa Perbedaan Gender Dalam Pengambilan Keputusan

Investasi Berdasarkan Tingkat Resiko Pada Tingkat


Pendidikan Lanjutan
Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal yang tidak
dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Kegiatan
investasi berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan
keuntungan di masa depan. Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat
dengan kaitannya

. Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi

yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi
sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Selain
menambah penghasilan, investasi juga membawa resiko keuangan jika investasi tersebut gagal.
Berinvestasi seperti dua sisi mata uang , ada return dan juga ada risk. Istilah high risk
high return menjadi ungkapan kesadaran bahwa hasil atau return yang tinggi juga memilki
resiko yang tinggi pula. Keberhasilan dalam melakukan investasi yang menguntungkan,
sebenarnya tidak semata-mata dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, melainkan dengan
kejelian membaca situasi dan keberanian dalam mengambil suatu resiko. Perilaku keuangan
individu juga sangat penting. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi.
Masing- masing individu memilki profil investasi dan gambaran yang berbeda dengan
tingkat kenyamanan atau toleransi terhadap resiko yang dapat diterimanya. Pada umumnya profil
investasi dibagi menjadi 3. Pertama , konservatif ; investasi yang dipilih cenderung low risk
seperti deposito atau reksadana pendanaan tetap. Kedua, moderat ; investasi yang dipilih
menghasilkan return lebih tinggi namun masih ragu saat mengambil resiko. Ketiga, agresif ;
bersifat risk taker (siap menghadapi berkurangnya nilai pokok investasi).
Pengambilan keputusan investasi, selain dilihat dari perilaku keuangan individu, juga dapat
dilihat dari perbedaan gender dari para pelakunya. Perbedaan biologis yang telah terjadi secara
alamiah ini tidak dapat di pungkiri menjadi factor psikologis yang mempengaruhi setiap individu
dalam melakukan keputusan berinvestasi.
Perempuan dan laki-laki memilki kondisi-kondisi khusus yang berbeda, baik dari segi fisik
biologis, maupun dari segi psikologisnya. Perbedaan tersebut merupakan sumber dari perbedaan
peran dan fungsi yang diemban oleh perempuan dan laki-laki. Perempuan dan laki-laki memang
setara. Setara baik secara subyek dan obyek. Setara untuk sama-sama dipertimbangkan
kebutuhan spesifiknya, juga setara untuk masuk dan terlibat dalam proses, merasakan hasil
output dan outcomes maupun menerima distribusi resources. Pelibatan laki-laki dan perempuan
secara seimbang , dengan demikian, adalah kebutuhan.

Perempuan di era globalisasi sekarang ini, memilki keterlibatan yang cukup besar di dalam
sektor ekonomi, politik, dan bidang sosial lainnya. Dalam lima tahun terakhir perdagangan
saham sudah didominasi perempuan, bahkan dalam keputusan berinvestasi sudah bisa dilakukan
sendiri. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan perempuan dalam proses pengambilan
keputusan public, termasuk di antaranya adalah pengambilan keputusan berinvestasi.
Perempuan cenderung dinilai lebih selektif dan berhati-hati dalam pengambilan keputusan.
Wajar saja, hal ini disebabkan karena perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan perspektif.
Perbedaan perspektif dalam memandang dan menyingkapi persoalan-persoalan dalam
pengambilan keputusan. Perbedaan ini dilatar belakangi oleh perbedaan peran yang diemban
oleh kaum perempuan. Perempuan memiliki peran ganda dalam kehidupan kesehariannya,
perannya di keluarga, tempat tinggal dan lingkungan kerjanya. Dengan ketiga perannya ini,
perempuan memanfatkan fasilitas yang ada dengan intensitas yang berbeda dengan kaum lakilaki.
Banyak penelitian yang telah mengangkat isu gender dalam perbedaan suatu pengambilan
keputusan. Baik dalam pengambilan keputusan public, khususnya keputusan berinvestasi. Pada
Desember 2011, Citibank melakukan survei Fin-Q (financial quotient : kecerdasan finansial)
kepada 500 perempuan di Indonesia. Hasilnya menunjukan, 74 % perempuan Indoensia belum
memilki rencana pensiun yang matang, sementara hanya 43% responden yang mengatakan
bahwa mereka sudah tahu persis apa yang harus dilakukan terkait investasi.
Dari responden yang tahu persis apa yang harus dilakukan terkait investasi, 53% nya lebih
memilih untuk berinvestasi di deposito. Padahal dalam jangka panjang bunga deposito tidak
dapat mengalahkan laju inflasi. Sementara hanya 9% perempuan di Indonesia yang berinvestasi
di reksa dana surat utang Negara.
Dari survey tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan cenderung tergolong profil
investor konservatif dan sangat berhati-hati. Kaum perempuan juga cenderung mencari pendapat
temannya (peers recommendation) dari pada mencari data dan fakta untuk berinvestasi.
Dalam suatu karya ilmiah,fenomena gender juga menjadi topik menarik untuk di teliti. Salah
satu jurnal ilmiah yang mengangkat isu tersebut adalah suatu jurnal ilmiah pada tahun 2011
yang berjudul Strong Evidence for Gender Differences in Taking Risk. Jurnal ini mengupas
lebih mendalam tentang pengaruh gender dalam pengambilan keputusan investasi. Data yang
dikumpulkan berupa experimen investasi sederhana yang di lakukan pada ribuan koresponden
dari berbagai professional. Hasil empiris dari penelitian tersebut menyatakan bahwa perempuan
terbukti cenderung lebih memilih investasi less risky dibanding laki-laki, sehingga kesimpulan
yang dapat di tarik adalah, perempuan terbukti lebih risk averse di banding laki-laki.
Tidak hanya ber-asaskan perbedaan gender saja, terdapat juga variable-variabel yang perlu di
perhatikan dalam penelitian ini, antara lain:
1. Aspek pendidikan.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penghasilan.
Umur.
Status pernikahan.
Banyaknya anak (di bawah 18 tahun).
Ras.
Unsecured debt level.

Selain fenomena perbedaan gender, para peneliti juga menemukan variable lain yang
berpengaruh secara signifikan tehadap alokasi keputusan berinvestasi. Variabel tersebut adalah
tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan di nilai menjadi tolak ukur seorang individu dalam
berinvestasi. Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa terdapat korelasi positif antara
financial education terhadap pilihan investasi yang bersifat risky.
Sebuah penelitian telah membuktikan bahwa, seorang investor dengan jenjang pendidikan
tinggi (S1), lebih memilih untuk berinvestasi di bidang saham (Riley & Chow, 1992; Haliassos &
Bertaut, 1995; Bertaut, 1998; Joo & Grable, 2005;Guiso & Jappelli, 2005). Joo & Grable (2005),
melakukan penelitian terhadap factor yang mempengaruhi individu dalam berinvestasi di masa
tua. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa, tingginya tingkat edukasi berpengaruh positif
pada rencana investasi di masa tua dengan variable gender tidak berpengaruh di dalamnya.
Calvet, Campbell, and Sodini (2009a, 2009b), dalam penelitiannya menemukan bahwa rumah
tangga dengan tingkat pendidikan yang baik cenderung lebih berani untuk berinventasi pada
jenis investasi yang high risk. Watson dan McNaughton (2007) dengan penelitiannya pada
tabungan dana pension di sector Australia University, menemukan bahwa perempuan merupakan
profil investor yang bersifat konservatif dibandingkan laki-laki, dengan variable umur,
penghasilan dan pendidikan yang di setarakan.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, menjadikan dasar
rumusan masalah dari fenomena ekonomi yang akan saya teliti.
1. Apakah perbedaan gender mempengaruhi keputusan individu pada jenis investasi
langsung?.
2. Apakah perbedaan gender dengan tingkat pendidikan lanjutan ikut mempengaruhi
individu dalam keputusan investasi dengan tingkat resiko yang tinggi?.
Dengan penelitian- penelitian dan fenomena yang telah di jelaskan diatas, menjadikan latar
belakang bagi saya utuk meneliti Perbedaan Gender Dalam Pengambilan Keputusan Investasi
Berdasarkan Tingkat Resiko Pada Tingkat Pendidikan Lanjutan. Di harapkan penelitian ini
bermanfaat bagi masyarakat, baik laki-laki dan perempuan, dalam pengambilan keputusan
berinvestasi, khususnya pada jenis investasi tinggi resiko.