Anda di halaman 1dari 2

Bab I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengertian investasi dalam berbagai literature menjelaskan bahwa investasi merupakan suatu
bentuk komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak pasti di
masa depan (Sharpe, 2006). Dengan demkian, ada dua aspek yang melekat dalam suatu investasi,
yaitu tingkat pengembalian return yang diharapkan dan risiko tidak tercapainya return yang
diharapkan. Risiko

berhubungan dengan kondisi ekonomi makro, seperti resesi ekonomi,

gejolak politik, dan lain sebaginya serta industry dan karakteristik perusahaan. Sehingga
investasi merupakan rangkaian proses kegiatan untuk menganalisis berbagai factor risiko dan
estimasi imbal hasil yang diharapkan memberikan manfaat terbaik dimasa depan yang berujung
pada sebuah keputusan investasi dengan melibatkan komitmen dan pengorbanan yang dapat
ditoleransi di masa sekarang (Bodi, Kane dan Marcus, 2006).
Keputusan investasi bagi setiap individu merupakan suatu keputusan strategis yang sangat
penting. Analisis mendalam harus dilakukan mengingat karakteristik investasi sangat rentan
terhadap resiko dari ketidakpastian masa yang akan datang. Keberhasilan atau kegagalan
keputusan yang dibuat akan mempengaruhi kelangsungan hidup individu tersendiri.
Berinvestasi seperti dua sisi mata uang , ada return dan juga ada risk. Istilah high risk
high return menjadi ungkapan kesadaran bahwa hasil atau return yang tinggi juga memilki
resiko yang tinggi pula. Keberhasilan dalam melakukan investasi yang menguntungkan,
sebenarnya tidak semata-mata dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, melainkan dengan
kejelian membaca situasi dan keberanian dalam mengambil suatu resiko. Perilaku keuangan
individu juga sangat penting. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi.
Masing- masing individu memilki profil investasi dan gambaran yang berbeda

dengan

tingkat kenyamanan atau toleransi terhadap resiko yang dapat diterimanya. Pada umumnya profil

investasi dibagi menjadi 3. Pertama , konservatif ; investasi yang dipilih cenderung low risk
seperti deposito atau reksadana pendanaan tetap. Kedua, moderat ; investasi yang dipilih
menghasilkan return lebih tinggi namun masih ragu saat mengambil resiko. Ketiga, agresif ;
bersifat risk taker (siap menghadapi berkurangnya nilai pokok investasi).
Menurut konsep Homo Economicus, individu yang berperan dalam pengambilan keputusan
adalah : (1) memiliki informasi lengkap terkait dengan berbagai pilihan investasi dan possible
outcomes dari pilihan investasi tersebut, (2) bersifat sensitif terhadap berbagai perbedaan di
antara pilihan investasi dan (3) sepenuhnya rasional terhadap pilihan investasi yang diambil
(Edwards, 1998).
Dalam artikel A Behavioral Model of Rational Choice karya Herbert Simon tahun 1995,
menyatakan bahwa sikap rasional seutuhnya dijelaskan dalam konsep homo economicus, yang
mengatakan seorang pembuat keputusan adalah individu yang diharapkan menjadi actor yang
terampil dalam membaca situasi sesuai dengan intuisi diri sendiri.

Dalam memnetukan proyek suatu investasi yang layak dan tepat untuk dipilihnya,
ada beberapa cara penilaian investasi, diantaranya penganggaran modal, yaitu
suatu proses pengidentifikasian, penilaian dan pemilihan investasi pada aktiva yang
memiliki jangka waktu yang panjang, atau aktiva yang memiliki nilai manfaat lebih
dari satu tahun (Fabozzi et. al , 2002).

Dalam era globalisasi pada saat ini Negara-negara dituntut untuk dapat memiliki
sumber daya manusia yang berkualitas, baik pria maupun wanita. Kini persamaan
hak antara wanita dan pria semakin
diperlebar dengan kian majunya
pembangunan terutama di Negara-negara maju. Namun di negara-negara
berkembang masih terdapat perbedaan antara pria dan wanita atau yang disebut
dengan disparitas gender (sen, 2011).

1.2