Anda di halaman 1dari 7

NAMA

NIM
Kelas

: Maulidha Prasastining Prima


: 135020301111043
: Teori Akuntansi / CA

CHAPTER 9
Extended systems of accounting : The Incorporation of Social and Environmental Factors
Within External Reporting

Tahap-tahap Pelaporan Berkelanjutan (Sustainability Reporting)


Ada beberapa variasi langkah-langkah/ tahap dalam laporan yang terkait atau
berkelanjutan dengan produksi suatu lingkungan sosial. Dalam pelaporan berkelanjutan tahap
pertama adalah pada saat sebuah perusahaan memutuskan tujuan organisasi secara garis umum
untuk melakukan pelaporan sosial dan lingkungan. Hal ini praktek tanggungjawab sosial dan
lingkungan yang biasa disebut dengan Corporate Social Responsibility/ CSR).
Ketika sebuah organisasi telah menentukan apa tujuan utamanya dalam mempublikasikan
laporan sosial dan lingkungan (CSR) tahap berikutnya yang akan dilakukan dalam proses
pelaporan adalah mengidentifikasikan siapa (stakeholders) yang membutuhkan informasi atas
laporan tersebut. Tahap yang selanjutnya yang harus dilakukan perusahaan dalam pelaporan yang
berkelanjutan adalah memastikan apa saja informasi yang dibutuhkan oleh para stakeholders,
dengan kata lain masalah (isu-isu) apa yang dituju dalam pelaporan sosial dan lingkungan
perusahaan.
Ketika suatu perusahaan telah menentukan tujuan dari proses pelaporan (mengapa
melaporkan), stakeholders yang dituju dengan adanya proses pelaporan ini ( untuk siapa laporan
tersebut dimaksudkan), dan informasi apa saja yang diminta oleh stakeholders ( apa masalah
yang dipertanggungjawabkan oleh para stakeholders entitas, atau apa masalah yang seharusnya
dicover), maka tahap terakhir dalam proses pelaporan sosial dan lingkungan adalah
menghasilkan sebuah laporan (mungkin dalam bentuk lebih dari satu macam) mengenai suatu
isu/ masalah (informasi yang dibutuhkan para stakeholders). Hal ini merupakan langkah umum
yang melibatkan lebih banyak hal-hal yang lebih detail mengenai bagaimana laporan tersebut
akan disusun. Pada tahap ini beberapa elemen dari proses pelaporan sosial dan lingkungan akan
sangat jauh menyimpang dari proses pelaporan keuangan yang diwujudkan dalam kerangka
konseptual akuntansi keuangan, meskipun beberapa masalah (seperti reliability information)
masih dianggap penting pada kedua proses tersebut.
Sejarah Perkembangan Praktek Pelaporan Sosial dan Lingkungan
Praktek pelaporan dampak sosial dan lingkungan operasi perusahaan mulai diungkapkan
pada masyarakat umum secara sukarela oleh perusahaan sejak awal tahun 1990an, pada saat itu
banyak perusahaan membuat kemajuan dalam pertimbangan aspek pelaporan dampak
lingkungan perusahaan. Sekitar pertengahan tahun 1990an pelaporan mengenai aspek dampak
sosial dari operasi perushaaan menjadi praktek yang sangat populer. Perkembangan praktek ini
pada awal hingga pertengahan tahun 1990an cenderung mengambil bentuk pengungkapan dalam
laporan tahunan tentang kebijakan lingkungan (dan kemudian sosial), praktek dan/ atau dampak
dari laporan perusahaan.

Saat ini praktek pelaporan ini semakin meluas, dan pengungkapan sosial dan lingkungan
yang dibuat oleh beberapa perusahaan menjadi semakin luas pula, beberapa perusahaaan terkenal
mulai memisahkan pengungkapan sosial dan lingkungan yang lebih detail dari laporan tahunan
mereka. Sejak akhir tahun 1990an banyak perusahaaan yang mulai menggunakan internet untuk
menyebarluaskan informasi mengenai aspek kebijakan dan kinerja sosial dan lingkungan
mereka.
Tujuan Proses Pelaporan Sosial dan Lingkungan- Tahap Why
Beberapa teori yang dapat diaplikasikan untuk menjelaskan mengapa perusahaan secara
sukarela memilih untuk menyedialan informasi mengenai strategi perusahaan, termasuk kinerja
sosial dan lingkungan mereka diantaranya adalah :
Legitimacy Theory dan ditemukannya gagasan kontrak sosial
Berpendapat bahwa sebuah entitas (organisasi) akan melakukan aktivitas sosial tertentu (dan
menyediakannya) jika pihak manajemen merasa bahwa komunitas dimana mereka beroperasi
mengharapkan perusahaan untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.
Stakeholders Theory
Pihak manajemen perusahaan akan lebih suka untuk fokus pada harapan dari stakeholders
yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengendalikan sumber daya langka dan
penting untuk mencapai tujuan perusahaan (dalam hal ini manager).
Accountability Model (Gray, Owen and Adam, 1996)
Model ini perusahaan mempunyai banyak tanggungjawab, dan dalam setiap tanggungjawab
perusahaan ini ditetapkan hak para stakeholders termasuk hak atas informasi dari
perusahaaan yang menunjukkan pertanggungjawabannya dalam hubungan dengan harapan
para stakeholdersnya.
Institutional Theory
Teori ini mengasumsikan bahwa manajer perusahaaan akan mengembangkan atau
mengadopsi praktek baru (seperti pelaporan tangggungjawab sosial perusahaan - CSR dan/
atau tanggungjawab lingkungan) dikarenakan adanya sebuah tekanan institusional.
Reputation Risk Management
Diasumsikan bahwa motivasi utama pihak manajemen dalam pelaporan secara sukarela
adalah memaksimalkan laba. Dengan manajemen resiko reputasi ini terdapat asumsi bahwa
reputasi sebuah perusahaan memiliki nilai ekonomi, dan manajer akan menggunakan
pelaporan sukarela (seperti pelaporan berkelanjutan) untuk melindungi dan meningkatkan
nilai dan potensi pendapatan secara umum.
Positive Accounting Theory
Diprediksi bahwa semua orang dipicu oleh kepentingan pribadi (self interest), sehingga
diprediksi juga bahwa aktivitas lingkungan sosial tertentu dan hubungan pengungkapan
mereka hanya akan terjadi jika memiliki implikasi kemakmuran positif pada keterlibatan
manajemen.
Tanggungjawab Bisnis
Berdasarkan definisi yang diberikan oleh Gray, Owen dan Adam (1996, hal 38) tanggungjawab
dapat didefinisikan sebagai :
Tugas untuk menyediakan sebuah akun (tidak berarti selalu akun finansial) atau
perhitungan dari tindakan-tindakan untuk pihak yang bertanggungjawab

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ada dua tugas atau tanggungjawab yang
termasuk di dalam akuntabilitas :
1. Tanggungjawab untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu (atau menahan diri dari
melakukan tindakan tertentu)
2. Tanggungjawan untuk menyediakan sebuah akun bagi tindakan-tindakan tersebut.
Dukungan Terhadap Pandangan Sempit Tanggungjawab Bisnis
Dalam bukunya yang telah banyak dikutip, Capitalism and Freedom (1962), Milton Friedman
menolak pandangan bahwa manajer perusahaan mempunyai kewajiban moral lebih dari
keinginan memaksimalkan keuntungannya. Para pendukung Friedman cenderung berpendapat
bahwa tindakan semua individu adalah didorong oleh kepentingan individual (self interest) untuk
memaksimalkan kemakmuran pribadi, kemudian hal ini akan memberikan manfaat bagi
masyarakat (melalui pertumbuhan ekonomi) karena kemakmuran dihasilkan oleh kesuksesan
yang akan menular pada mereka yang kurang sukses (trickel down theory). Memang teori ini
biasanya dianggap pengulangan dari kunci pembenaran moral sistem kapitalis.
Dukungan Terhadap Pandangan Luas Tanggungjawab Bisnis
Kontras dengan pandangan sempit yang menyatakan bahwa tujuan utama manajer perusahaan
adalah memaksimalkan keuntungan, ada beberapa penelitian yang bekerja di wilayah pelaporan
sosial perusahaan (CSR). Bahwa organisasi, privat ataupun publik mendapatkan hak mereka
untuk beroperasi dalam masyarakat. Hak tersebut diberikan oleh masyarakat di mana mereka
berada dan bukan semata-mata oleh pihak-pihak yang berkepentingan langsung secara finansial
ataupun oleh pemerintah. Menurut Donaldson (1982) jika sebuah masyarakat dapat memilih
untuk menciptakan sebuah organisasi mereka juga bisa memilih untuk tidak menciptakan
organisasi atau justru menciptakan entitas yang berbeda. Sebagai akibatnya, perusahaan
memperoleh ijin untuk beroperasi dari masyarakat dan akhirnya harus bertanggungjawab kepada
masyarakat juga mengenai apa dan bagaimana operasinal perusahaan.
Mengembangkan Gagasan Berkelanjutan
Sejak tahun 1970an telah banyak diskusi dalam beberapa forum tentang implikasi dari
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk lingkungan dan berhubungan dengan kebaikan
umat manusia. Keberlanjutan lingkungan bukanlah sesuatu yang dapat dicapai dengan mudah.
Langkah yang signifikan dalam penempatan keberlanjutan (sustainability) dalam agenda
pemerintah dan bisnis sedunia adalah sebuah laporan yang dimulai oleh General Assembly of the
United Nations. Laporan berjudul Our Common Future dipersembahkan oleh World Commission
of Environment and Development pada tahun 1987, dokumen penting ini lebih dikenal sebagai
The Bundtland Report. Laporan ini secara singkat menghasilkan sebuah agenda untuk perubahan
dalam rangka memerangi dan meringankan tekanan yang sedang berlangsung di lingkungan
global. Secara umum perusahaan harus merubah cara mereka berbisnis dan perusahaan juga
harus mempertanyakan tujuan dan prinsip yang ada dalam bisnis tradisional.
Adopsi Bisnis Ide Pembangunan Berkelanjutan
Berkelanjutan tampaknya telah menjadi bagian sentral dari bahasa bisnis sedunia, dan
definisi yang diberikan dalam The Bundtland Report telah memperoleh penerimaan secara luas.
Diantaranya adalah beberapa pernyataan dari CEO Nokia ( 2004), Perusahaan elektonik
multinasional dari Belanda, Philips (2004), Cooperatif Financial Services Group (CFS) dari

Inggris (2003) yang memberikan komitmen perusahaan-perusahaan tersebut dalam


pembangunan berkelanjut. Dillard, Brown dan Marshall (2005, 81) menjelaskan bahwa dalam
praktek pendekatan triple bottom line berkelanjutan ini terdapat hambatan bahwa sistem sosial
ini telah menjadi dominan dan mengeksploitasi sistem alam, dalam ekonomi khususnya,
keuntungan berdasarkan sistem sosial ini dominan.
Bisnis Berkelanjutan dan Prinsip Triple Bottom Line
Banyak perusahaaan yang membayangkan berkelanjutan terdiri atas tiga rangkaian :
ekonomi, sosial dan lingkungan. Model ini sering disebut sebagai pendekatan triple bottom line
an.berkelanjutan, sebuah istilah yang dikembangkan oleh John Elkington (1997). Kinerja
keuangan atau keuntungan dalam bahasa sehari-hari sering disebut sebagai inti utama dari
berbisnis, sehingga fokus semata-mata dalam kinerja ekonomi dapat dianggap sebagai fokus
pada mencari keuntungan finansial (single bottom line).
Mengidentifikasi Stakeholder Tahap Siapa
Untuk organisasi dimana manajer memiliki motivasi untuk memaksimalisasi nilai
pemegang saham keuangan maka laporan sosial dan lingkungan akan digunakan untuk
mendapatkan dukungan yang kuat secara ekonomi dari para stakeholder.
Mengidentifikasi stakeholder yang relevan sesuai dengan cabang manajerial teori stakeholder
Kelompok-kelompok yang tepat dari stakeholder yang mampu menggunakan kekuatan
ekonomi yang lebih atas sebuah organisasi akan bervariasi dari satu organisasi ke organisasi, dan
juga dapat bervariasi dalam satu organisasi dari waktu ke waktu. Jadi dari sudut pandang
stakeholder manajerial, stakeholder yang kuat secara ekonomi dimana pandangan dan
harapannya akan dipertimbangkan dalam menentukan tanggung jawab sosial dan lingkungan
perusahaan, dan tugas akuntabilitas termasuk dalam tanggung jawab ini, akan cenderung
bervariasi dari konsumen (untuk perusahaan yang menjual produk generik di pasar yang
kompetitif) ke regulator pemerintah (untuk pemasok monopoli produk atau jasa) yang penting.
Sebuah identifikasi yang lebih luas dari para stakeholder sesuai dengan cabang etika teori
stakeholder
Adanya tanggungjawab perusahaan dan pelaporan berkelanjutan dalam organisasi
dimotivasi oleh pertimbangan etika yang lebih luas untuk mengurangi dampak negatif
(memaksimalkan dampak positif), dimana setiap orang atau entitas yang kemungkinan terkena
dampak dari operasi organisasi merupakan stakeholder. Organisasi bertanggungjawab kepada
siapa operasi mereka bisa berdampak, baik kepada generasi manusia saat ini dan generasi
mendatang (dengan tidak mempedulikan seberapa jauh asal orang-orang tersebut dari
organisasi), juga pada hewan dan unsur alam yang berpotensi terkena dampak operasi organisasi
tersebut.
Berdasarkan teori ini, organisasi memiliki motivasi secara etis untuk memperhitungkan
pandangan dan kebutuhan semua stakeholder (sekarang dan masa depan) kepada siapa operasi
mereka berpotensi berdampak namun dalam prakteknya, pada kebanyakan organisasi yang
operasinya cenderung memiliki beberapa bentuk dampak pada orang, hewan dan unsur alam
lainnya mencoba untuk memperhitungkan semua potensi dampak dan berusaha untuk
berkomunikasi dengan semua orang yang berpotensi terkena dampak adalah hal yang mustahil.

Mengidentifikasi bagian stakeholder prioritas dalam cabang etika teori stakeholder


Implikasi praktis dari pendekatan teoritis ini kepada stakeholder prioritas ( sesuai dengan
cabang etika teori stakeholder ) adalah bahwa organisasi dimana tanggungjawab sosial
perusahaan dan pelaporan sosial dan lingkungan dimotivasi oleh keinginan untuk meminimalkan
dampak negatif sosial dan lingkungan dari operasinya akan memprioritaskan kebutuhan
stakeholder sesuai dengan sejauh mana operasi organisasi berdampak dalam kehidupan
stakeholder tersebut.
Identifikasi Stakeholder dalam praktek
Sebagai contoh bagaimana beberapa organisasi mendefinisikan pemangku kepentingan
mereka dalam praktek, seperti dalam sustaiable reporting 2003 Co-operative Financial Services
(CFS) dalam kelompok UK (yang meliputi Co-operative Bank), organisasi mendefinisikan
stakeholder utamanya lebih luas yaitu sebagai pemegang saham, pelanggan, staff, pemasok,
masyarakat dan gerakan koperasi, dan menjelaskan bagaimana masing-masing dari kelompok
tersebut didefinisikan.
Mengidentifikasi Kebutuhan Informasi dan Harapan Stakeholder - Tahap untuk apa
Menjawab pertanyaan untuk apa isu sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh
stakeholder yang menginginkan organisasi bertanggungjawab dan akuntabel adalah untuk
mengidentifikasi apakah ada permintaan antara stakeholder terhadap informasi sosial dan
lingkungan. Jika terdapat permintaan dari stakeholder atas informasi sosial dan lingkungan, hal
ini menunjukkan bahwa para stakeholder memegang tanggungjawab dan akuntabilitas
organisasi.
Tuntutan stakeholder untuk, dan reaksi terhadap informasi sosial dan lingkungan
Segala bentuk pelaporan publik agar menjadi berguna perlu ada sebuah permintaan eksternal
untuk, atau reaksi terhadap informasi tertentu yang diungkapkan. Deegan dan Rankin (1997)
menunjukkan kemampuan untuk membentuk persepsi melalui laporan tahunan atau
pengungkapan laporan sosial dan lingkungan hanya mungkin jika anggota masyarakat benarbenar menggunakan informasi yang dilaporkan.
Mengidentifikasi kebutuhan informasi melalui dialog dengan para stakeholder
Bagi banyak organisasi komersial, stakeholder yang kuat akan sering berlokasi di negaranegara maju (atau akan menjadi bagian dari elit kaya di negara-negara berkembang) dan akan
dapat diakses melalui media massa komersial seperti televisi / radio, surat kabar artikel dan
internet. Mereka bahkan mungkin membaca laporan keuangan tahunan melalui media tersebut.
Namun, Unerman dan Bennet (2004) berpendapat, karena akses internet tidak tersedia untuk
semua orang yang berpotensi terkena dampak kegiatan organisasi (khususnya di banyak negara
berkembang) maka harus dilengkapi denga saluran komunikasi lainnya, misalnya pertemuan
tatap muka dengan berbagai stakeholder, survey kuesioner, jajak pendapat, fokus kelompok dan
undangan untuk menulis kepada perusahaan tentang isu-isu tertentu. Menurut Downey (2005)
bahwa saluran komunikasi apapun yang digunakan untuk melibatkan stakeholder dalam dialog,
agar menjadi efektif saluran komunikasi tersebut perlu disesuaikan dengan perbedaan budaya
yang dihadapi antara berbagai kelompok stakeholder.
Mengidentifikasi kebutuhan informasi dan harapan stakeholder dalam praktek

Dalam menangani proses dialog stakeholder, pada akhir tahun 1999 Institute of Social
and Ethical Accountability (ISEA) meluncurkan kerangka akuntabilitas sosial dan lingkungan,
AA1000, yang menempatkan komunikasi antara organisasi dan stakeholder pada inti dari praktek
akuntabilitas sosial dan lingkungan. Pada bagian tengah kerangka ini berisi panduan tentang
proses pemahaman kebutuhan informasi dan harapan stakeholder (dengan kata lain, memahami
isu stakeholder untuk apa organisasi bertanggung jawab dan akuntabel.
Negosiasi konsensus di antara persaingan kebutuhan dan harapan stakeholder
Dalam prakteknya, banyak organisasi dihadapkan dengan berbagai nilai-nilai dan harapan
stakeholder yang berbeda dan sering nilai-nilai dan harapan tidak cocok satu sama lain sehingga
organisasi tidak akan dapat memenuhi semua harapan. Sebaliknya, organisasi harus menemukan
cara untuk memilih nilai-nilai tertentu dan harapan yang menunjukkan tanggung jawab sosial
perusahaan dan pelaporan sosial dan lingkungan.
Unerman dan Bennett (2004) menyarankan bahwa sementara prosedur demokratis ideal untuk
tercapainya pandangan konsensus stakeholder diantara semua organisasi apapun itu mengenai
organisasi sosial, tanggung jawab lingkungan dan ekonomi yang mungkin mustahil untuk
dilaksanakan sepenuhnya dalam praktek, proses dialog dan debat para stakeholder dapat
bergerak menuju cita-cita demokrasi.
Perspektif Teoritis Pada Beberapa Prosedur Pelaporan Sosial dan Lingkungan - Tahap
Bagaimana
Karena ada kurangnya regulasi di bidang pelaporan sosial dan lingkungan, serta tidak
adanya kerangka kerja konseptual yang diterima untuk pelaporan sosial dan lingkungan, ada
begitu banyak variasi bagaimana pelaporan ini dilakukan dalam praktek.
Beberapa kemungkinan keterbatasan akuntansi keuangan tradisional dalam menangkap dan
melaporkan kinerja sosial dan lingkungan
Akuntansi keuangan sering dikritik atas dasar bahwa ia mengabaikan banyak
eksternalitas sosial dan lingkungan yang disebabkan oleh entitas pelapor. Beberapa alasan
mengapa akuntansi keuangan tradisional mungkin tidak dapat efektif dalam mencerminkan
dampak sosial dan lingkungan organisasi meliputi:
a. Akuntansi keuangan berfokus pada kebutuhan informasi dari pihak-pihak terlibat dalam
membuat keputusan alokasi sumber daya.
b. Salah satu pilar akuntansi keuangan adalah gagasan tentang 'materialitas' yang cenderung
menghalangi informasi pelaporan sosial dan lingkungan mengingat kesulitan yang terkait
dengan mengukur biaya sosial dan lingkungan
c. masalah lain yang muncul dalam akuntansi keuangan adalah bahwa entitas pelaporan sering
mengurangi kewajiban, terutama yang tidak akan dilunasi selama bertahun-tahun ke nilai
sekarang. Hal ini cenderung membuat pengeluaran masa depan kurang signifikan pada
periode ini.
d. akuntansi keuangan mengadopsi 'entitas asumsi', yang mengharuskan organisasi untuk
diperlakukan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya, organisasi-organisasi lain, dan
stakeholder lainnya
e. Sebuah wilayah yang terkait di mana sistem akuntansi keuangan tradisional kita
menghasilkan hasil agak aneh yaitu perlakuan izin polusi yang bisa diperdagangkan

f. Dalam akuntansi keuangan dan pelaporan, biaya didefinisikan sedemikian rupa untuk
mengecualikan pengakuan setiap dampak pada sumber daya yang tidak dikendalikan oleh
entitas (seperti lingkungan), kecuali denda atau arus kas lainnya yang timbul.
g. Terdapat isu pengukuran. Untuk item yang akan direkam untuk tujuan akuntansi keuangan
itu harus diukur dengan akurasi yang memadai.
Pelaporan Triple Bottom Line
Perspektif yang diambil adalah bahwa untuk suatu organisasi (atau masyarakat) menjadi
berkelanjutan (perspektif jangka panjang) itu harus aman secara finansial (yang dibuktikan
dengan langkah-langkah seperti profitabilitas); harus meminimalkan (atau idealnya
menghilangkan) dampak negatif lingkungan; dan harus bertindak sesuai dengan harapan
masyarakat.
Inisiatif pelaporan global - kerangka kerja konseptual untuk pelaporan sosial dan
lingkungan?
Sebagai upaya untuk menyusun praktek pelaporan terbaik, beberapa badan telah aktif
dalam mengembangkan pedoman untuk pelaporan sosial dan lingkungan. Pada tingkat
internasional, pedoman utama dalam lingkup pelaporan sosial dan lingkungan adalah Global
Reporting Initiatives Sustainable Reporting Guidelines (Sering disebut sebagai GRI).
Audit Sosial (atau Jaminan)
Hasil dari audit sosial atau pernyataan jaminan, sering menjadi dasar bagi entitas untuk
mempublikasikan perhitungan sosial dan hasil dari audit sosial dapat dianggap sebagai bagian
penting dari dialog yang sedang berlangsung dengan berbagai kelompok stakeholder.
Dalam website The Institute of Social and Ethical Accountability (ISEA, 2005)
menggariskan tiga prinsip utama yang mendasari audit sosial yang ideal harus mencakup:
Materialitas : apakah laporan berkelanjutan menyediakan perhitungan yang mencakup semua
bidang dari kinerja, bahwa stakeholder perlu menilai kinerja berkelanjutan organisasi?
Kelengkapan : apakah informasi lengkap dan cukup akurat untuk menilai dan memahami
kinerja organisasi dalam semua bidang?
Responsiveness : apakah organisasi telah merespon secara koheren dan konsisten untuk
perhatian dan kepentingan stakeholder?