Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara historis zaman terus berkembang melalui hierarkis perkembangan


yang terus dibarengi pula dengan perubahan-perubahan sosial, dimana dua hal
ini selalu berjalan beriringan. Keberadaan manusia yang dasar pertamanya
bebas, menjadi hal yang problematik ketika ia hidup dalam komunitas sosial.
Kemerdekaan dirinya mengalami benturan dengan kemerdekaan individu-
individu lain atau bahkan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia terus terikat
dengan tata kosmik, bahwa bagaimana ia harus berhubungan dengan orang
lain, dengan alam, dengan dirinya sendiri maupun dengan Tuhannya. Maka
muncullah tata aturan, norma atau nilai-nilai yang menjadi kesepakatan
universal yang harus ditaati. Semacam hal tersebut di ataslah peradaban
manusia dimulai, dimana manusia harus selalu menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan. la harus memegangi nilai-nilai aturan yang berlaku mengatur
hidup manusia.1

Filsafat atau disebut juga ilmu filsafat, mempunyai beberapa cabang ilmu
utama . Cabang Ilmu utama dari filsafat adalah ontologi, epistimologi, tentang
nilai (aksiologi), dan moral (etika). Ontologi (metafisika) membahas tentang
hakikat mendasar atas keberadaan sesuatu. Epistimologi membahas
pengetahuan yang diperoleh manusia, misalnya mengenai asalnya (sumber)
dari mana sajakah pengetahuan itu diperoleh manusia, apakah ukuran
kebenaran pengetahuan yang telah diperaleh manusia itu dan bagaimanakah
susunan pengetahuan yang sudah diperaleh manusia. I1mu tentang nilai atau
aksiologi adalah bagian dari filsafat yang khusus membahas mengenai hakikat
nilai berkaitan dengan sesuatu. Sedangkan filsafat moral membahas nilai

1
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 1.

1
berkaitan dengan tingkah laku manusia dimana nilai disini meneakup baik dan
buruk serta benar dan salah.2

Kemajuan yang terjadi di dunia Islam, temyata memiliki daya tarik


tersendiri bagi mereka orang-orang Barat. Maka pada masa seperti inilah
banyak orang-orang Barat yang datang ke dunia Islam untuk mempelajari
filsafat dan ilmu pengetahuan. Kemudian hal ini menjadi jembatan informasi
antara Barat dan Islam. Dari pemikiran-pemikiran ilmiah, rasional dan
filosofis, atau bahkan sains Islam mulai ditransfer ke daratan Eropa. Kontak
antara dunia Barat dan Islam pada lima abad berikutnya temyata mampu
mengantarkan Eropa pada masa kebangkitannya kembali (renaisance) pada
bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Selanjutnya berkembang pada era baru
yaitu era modern.3
Pada zaman ini Empirisrne yang menekankan perlunya basis ernpiris
bagi semua pengertian berkernbang menjadi Positivisme yang menggunakan
metode pengolahan ilmiah. Dasar dari aliran ini digagas oleh August Cornte (
1789- I857), seorang filsuf Perancis, yang menyatakan bahwa sejarah
kebudayaan manusia dibagi dalarn tiga tahap: tahap pertama adalah tahap
teologis yaitu tahap dimana orang mencari kebenaran dalam agama, tahap
kedua adalah tahap metafisis yaitu tahap dimana orang mencari kebenaran
melalaui filsafat. Tahap ketiga adalah tahap positif yaitu tahap dimana
kebenaran dicari melaui ilmuilmu pengetahuan. Menurut Comte yang terakhir
inilah yang merupakan icon dari zaman modem (Comte, 1874: 2).4
Dipermulaan abad ke 19 berkembang “positivism”. Aliran ini mejalar
kesemua cabang ilmu sosial termasuk ilmu hukum. Kaum positivis
menganggap bahwa yang sebenarnya dinamakan hukum hanyalah norma
norma yang telah ditetapkan oleh negara.5 Bagi filsafat hukum, hukum di abad
pertengahan amat dipengaruhi oleh pertirnbangan-pertimbangan teologis.

2
Ibid. Hal. 2.
3
Ibid. Hal. 19.
4
Ibid. Hal. 24.
5
Erman Rajagukguk, Kaum Positivis, http://www.findtoyou.com/ebook/. 25-12-2009.
Hal. 1.

2
Sedangkan rentang waktu dari renaissance hingga kira-kira pertengahan abad
ke-19 termasuk dalam tahap metafisis. Ajaran hukum alam klasik maupun
filsafat-filsafat hukum revolusioner yang didukung oleh Savigny, Hegel dan
Marx diwarnai oleh unsur-unsur metafisis tertentu. Teori-teori ini mencoba
menjelaskan sifat hukum dengan menunjuk kepada ide-ide tertentu atau
prinsip-prinsip tertinggi. Pada pertengahan abad ke-19 sebuah gerakan mulai
menentang tendensi-tendensi metafisika yang ada pada abad-abad sebelumnya.
Gerakan ini mungkin dijelaskan sebagai positivisme, yaitu sebuah sikap
ilrniah, menolak spekulasi-spekulasi apriori dan membatasi dirinya pada data
pengalaman (Muslehuddin, ]991: 27-28).6
Positivisme dalam pengertian modem adalah suatu sistem filsafat yang
mengakui hanya fakta-fakta positif dan fenomena-fenomena yang bisa
diobservasi. Dengan hubungan objektif fakta-fakta ini dan hukurn-hukum yang
menentukannya, meninggalkan semua penyelidikan menjadi sebab-sebab atau
asal-asul tertinggi (Muslehuddin, 1991: 27). Dengan kata lain, positivisme
merupakan sebuah sikap ilmiah, menolak spekulasi-spekulasi apriori dan
berusaha membangun dirinya pada data pengalaman. Teori ini dikembangkan
oleh August Comte, seorang sarjana Perancis yang hidup pada tahun 1798
hingga 1857.7
Dalam positivisme terdapat berbagai cabang pemahaman yang berlainan
pendapat satu sama lain. Namun demikian, pada prinsipnya mempunyai
kesamaan dasar fundamental yakni: (1) A positive law is binding even if it is
supremely immoral; (2) No principile of morality is legally binding until it has
been enacted into moral law; (3) That a statute is legally binding does not
settle the moral question of whether we ought (morally speaking) to obey or
disobey the law.8

6
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 24.
7
Ibid. Hal. 92.
8
Ade Maman Suherman, Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Civil Law, Common
Law, Hukum Islam, Cet. 2, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006. Hal. 39.

3
Pemahaman terhadap positivisme sangat dipengaruhi oleh dua ahli
hukum terkemuka, salah satunya adalah Hans Kelsen dengan teori konvensi
sosial (teori hukum murni). Hans Kelsen, pembela positivism mengakui bahwa
akhirnya hukum yang ditetapkan oleh alat alat kekuasaan negara saja tidak
cukup.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, pokok masalah yang akan diangkat


dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pokok-pokok pemikiran teori hukum menurut Hans Kelsen?

2. Bagaimana kritikan terhadap pokok-pokok pemikiran teori hukum Hans


Kelsen?

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Positivisme

Positivisme hukum ada 2 bentuk, yaitu positivisme yuridis dan


positivisme sosiologis:

1. Positivisme yuridis

Dalam perspektif positivisme yuridis, hukum dipandang sebagai suatu


gejala tersendiri yang perlu diolah secara ilmiah. Tujuan postivisme yuridis
adalah pembentukan struktur-struktur rasional system-sistem yuridis yang
berlaku. Dalam praksisnya konsep ini menurunkan suatu teori bahwa
pembentukan hukum bersifat professional yaitu hukum merupakan ciptaan
para ahli hukum.

Prinsip-prinsip positivisme yuridis adalah:


a. Hukum adalah sama dengan undang-undang
Hal ini didasarkan pemikiran bahwa hukum muncul berkaitan dengan
Negara, sehingga hukum yang benar adalah hukum yang berlaku dalam
suatu Negara.
b. Tidak ada hubungan mutlak' antara hukum dan moral
Hukum adalah ciptaan para ahli hukum belaka.
c. Hukum adalah suatu closed logical system
Untuk menafsirkan hukum tidak perlu bimbingan norma sosial, politik
dan moral melainkan cukup disimpulkan dari undang-undang. Tokohnya
adalah: R. von Jhering dan John Austin (analytical jurisprudence).

2. Positivisme sosiologis

Dalam perspektif positivisme sosiologis, hukum dipandang sebagai


bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan demikian hukum bersifat
terbuka bagi kehidupan masyarakat. Keterbukaan tersebut menurut

5
positivisme sosiologis harus diselidiki melalui metode ilmiah. Tokohnya
adalah Auguste Comte (1789-1857) yang menciptakan ilmu pengetahuan
baru, sosiologi.9

Adanya berbagai jenis hukum diterangkan oleh tokoh positivisme John


Austin (1970-1859). Menurut dia hukum dibedakan menjadi dua:

1. Hukum Allah, merupakan suatu moral hidup daripada hukum dalam arti
sejati.

2. Hukum manusia, yakni segala peraturan yang dibuat oleh manusia sendiri.
Hukum manusia dibedakan lagi menjadi:

a. Hukum yang sungguh-sungguh (properly so called).

Hukum ini adalah undang-undang yang berasal dari suatu kekuasaan


politik, atau peraturan-peraturan pribadi-pribadi swasta yang menurut
undang-undang yang berlaku.

b. Hukum yang sebenamya bukan hukum (improperly so called).

Seperti peraturan-peraturan yang berlaku bagi suatu klub olahraga,


pabrik, dan sebagainya. Peraturan-peraturan ini bukan hukum dalam arti
yang sesungguhnya, sebab tidak berkaitan dengan pemerintah sebagai
pembentuk hukum.10

Menurut Comte, kehidupan manusia itu sebagaimana peristiwa-peristiwa


yang berlangsung “seperti apa adanya” di kancah alam benda-benda anorganik
pun terjadi di bawah imperativa hukum sebab-akibat yang berlaku universal.
Dikatakan bahwa kehidupan manusia itu yang individual maupun (lebih-lebih
lagi) yang kolektif adalah selalu terlepas dari kehendak dan/atau rencana
sesiapapun yang subjektif. Imperativa hukum sebab-akibat yang berlaku
universal dan yang tak akan mungkin terbantah ini benar-benar telah

9
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 92 - 93.
10
Ibid. Hal. 95

6
dikonsepkan oleh Comte (dan penerusnya yang berpaham positivisme) sebagai
paradigma rule of law. Adapun law yang dimaksud di sini adalah law yang
berdayalaku universal serta berkedudukan tertinggi (having supremacy state of
law), lepas dari kehendak sesiapapun yang subjektif.11

B. Teori Hukum Hans Kelsen

Pembahasan utama Kelsen dalam teori hukum murni adalah


membebaskan ilmu hukum itu dari unsur ideologis; keadilan, misalnya oleh
Kelsen dipandang sebagai konsep ideologis. Kelsen melihat dalam keadilan
sebuah ide yang tidak rasional, dan teori hukum murni, ia mempertahankan,
tidak bisa menjawab pertanyaan tentang apa yang membentuk keadilan karena
pertanyaan ini sama sekali tidak bisa dijawab secara ilmiah. Jika keadilan harus
diidentikkan dengan legalitas. Dalam arti tempat keadilan berarti memelihara
sebuah tatanan (hukum) positif melalui aplikasi kesadaran atasnya.12

Teori hukum murni menenurut Kelsen adalah sebuah teori hukum positif.
Teori ini berusaha menjawab pertanyaan "apa hukum itu?" tetapi bukan
pertanyaan "apa hukum itu seharusnya?". Teori ini mengkonsentrasikan diri
pada hukum semata-mata dan berusaha melepaskan ilmu pengetahuan hukum
dari campur tangan ilrnu pengetahuan asing seperti psikologi dan etika. Kelsen
memisahkan pengertian hukum dari segala unsur yang berperan dalam
pembentukan hukum seperti unsur-unsur psikologi , sosiologi, sejarah, politik,
dan bahkan juga etika. Semua unsur ini termasuk 'ide hukum' atau ' isi hukum' .
Isi hukum tidak pernah lepas dari unsur politik, psikis, sosial budaya, dan lain-
lain. Bukan demikian halnya dengan pengertian hukum. Pengertian hukum
menyatakan hukum dalam arti formalnya, yaitu sebagai peraturan yang berIaku

11
Soetandyo Wignjosoebroto, Teori-Teori Sosial Untuk Kajian Hukum,
http://www.findtoyou.com/ebook/. 25-12-2009. Hal. 2.
12
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 98.

7
secara yuridis. Inilah hukum dalam arti yang benar, hukum yang murni (das
reine Recht).13

Positive jurisprudence – yang,di tangan Hans Kelsen diklaim sebagai


eine reine Rechtslehre, atau setepatnya (seperti yang harus dikatakan
berkenaan dengan mechanistic jurisprudence tersebut di muka) harus disebut
legalisme atau legisme*) – telah benar-benar mereduksi eksistensi manusia di
dalam seluruh proses kehidupan yang dikuasai oleh keniscayaan hukum
kausalitas. Bertolak dari paham seperti ini, manusia tidak terpikir untuk
dikonsepkan sebagai subjek-subjek yang mempunyai kehendak bebas.
Meminjam kata-kata Rousseau, positivisme sepertuinya hendak menyatakan
bahwa manusia-manusia itu memang dilahirkan sebagai makhluk bebas, akan
tetapi di dalam kehidupan yang nyata di masyarakat ini mereka itu akan
menemukan dirinya terikat di mana-mana. Kehidupan manusia dikuasai dan
dikontrol oleh seperangkat hukum positif yang “lengkap dan tuntas” serta
bersanksi, demikian rupa sehingga diyakinilah bahwa law is society. Hukum
dipositifkan dengan statusnya yang tertinggi di antara berbagai norma (the
supreme state of law), terdiri dari suatu rangkaian panjang pernyataan-
pernyataan tentang berbagai perbuatan yang didefinisikan sebagai „fakta
hukum‟ dengan konsekuensinya yang disebut „akibat hukum‟.14

13
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 98 - 99.
14
Soetandyo Wignjosoebroto, Teori-Teori Sosial Untuk Kajian Hukum,
http://www.findtoyou.com/ebook/. 25-12-2009. Hal. 4.

8
BAB III

PEMBAHASAN

A. Pokok-Pokok Pemikiran Teori Hukum Hans Kelsen

Jika dilihat karya-karya yang dibuat oleh Hans Kelsen, pemikiran yang
dikemukakan meliputi tiga masalah utama, yaitu tentang teori hukum, negara,
dan hukum internasional. Ketiga masalah tersebut sesungguhnya tidak dapat
dipisahkan satu dengan lainnya karena saling terkait dan dikembangkan secara
konsisten berdasarkan logika hukum secara formal. Logika formal ini telah
lama dikembangkan dan menjadi karakteristik utama filsafat Neo-Kantian yang
kemudian berkembang menjadi aliran strukturalisme. Teori umum tentang
hukum yang dikembangkan oleh Kelsen meliputi dua aspek penting, yaitu
aspek statis (nomostatics) yang melihat perbuatan yang diatur oleh hukum, dan
aspek dinamis (nomodinamic) yang melihat hukum yang mengatur perbuatan
tertentu.

Friedmann mengungkapkan dasar-dasar esensial dari pemikiran Kelsen


sebagai berikut:

1. Tujuan teori hukum, seperti tiap ilmu pengetahuan, adalah untuk


mengurangi kekacauan dan kemajemukan menjadi kesatuan.

2. Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku,


bukan mengenai hukum yang seharusnya.

3. Hukum adalah ilmu pengetahuan normatif, bukan ilmu alam.

4. Teori hukum sebagai teori tentang norma-norma, tidak ada hubungannya


dengan daya kerja norma-norma hukum.

5. Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara menata, mengubah isi
dengan cara yang khusus. Hubungan antara teori hukum dan sistem yang
khas dari hukum positif ialah hubungan apa yang mungkin dengan hukum
yang nyata.

9
Pendekatan yang dilakukan oleh Kelsen disebut The Pure Theory of Law,
mendapatkan tempat tersendiri karena berbeda dengan dua kutub pendekatan
yang berbeda antara mahzab hukum alam dengan positivisme empiris.
Beberapa ahli menyebut pemikiran Kelsen sebagai “jalan tengah” dari dua
aliran hukum yang telah ada sebelumnya.

Empirisme hukum melihat hukum dapat direduksi sebagai fakta sosial.


Sedangkan Kelsen berpendapat bahwa interpretasi hukum berhubungan dengan
norma yang non empiris. Norma tersebut memiliki struktur yang membatasi
interpretasi hukum. Di sisi lain, berbeda dengan mahzab hukum alam, Kelsen
berpendapat bahwa hukum tidak dibatasi oleh pertimbangan moral. Tesis yang
dikembangkan oleh kaum empiris disebut dengan the reductive thesis, dan
antitesisnya yang dikembangkan oleh mahzab hukum alam disebut dengan
normativity thesis.

Teori tertentu yang dikembangkan oleh Kelsen dihasilkan dari analisis


perbandingan sistem hukum positif yang berbeda-beda, membentuk konsep
dasar yang dapat menggambarkan suatu komunitas hukum. Masalah utama
(subject matter) dalam teori umum adalah norma hukum (legal norm),
elemenelemennya, hubungannya, tata hukum sebagai suatu kesatuan,
strukturnya, hubungan antara tata hukum yang berbeda, dan akhirnya, kesatuan
hukum di dalam tata hukum positif yang plural. The pure theory of law
menekankan pada pembedaan yang jelas antara hukum empiris dan keadilan
transcendental dengan mengeluarkannya dari lingkup kajian hukum. Hukum
bukan merupakan manifestasi dari otoritas super-human, tetapi merupakan
suatu teknik sosial yang spesifik berdasarkan pengalaman manusia.

The pure theory of law menolak menjadi kajian metafisis tentang hukum.
Teori ini mencari dasar-dasar hukum sebagai landasan validitas, tidak pada
prinsip-prinsip meta-juridis, tetapi melalui suatu hipotesis yuridis, yaitu suatu
norma dasar, yang dibangun dengan analisis logis berdasarkan cara berpikir
yuristik aktual. The pure theory of law berbeda dengan analytical

10
jurisprudence dalam hal the pure theory of law lebih konsisten menggunakan
metodenya terkait dengan masalah konsep-konsep dasar, norma hukum, hak
hukum, kewajiban hukum, dan hubungan antara negara dan hukum.15

Mengapa kewajiban yang terletak dalam kaidah hukum adalah suatu


kewajiban yuridis? Menurut penganut positivisme, hal ini tersangkut dengan
suatu keharusan ekstem, yaitu karena ada paksaan/ancaman dari pihak luar jika
tidak menaati. Dasarnya adalah bahwa asal mula segala hukum adalah undang-
undang dasar negara. Dalam relasi negara ada penguasa dan ada rakyat, ada
yang memberi perintah dan ada yang harus menaati perintah.

Pandangan kedua menyatakan bahwa hal ini tersangkut dengan suatu


kewajiban intern, yaitu karena dorongan dari batin untuk menerimanya sebagai
suatu kewajiban yang harus ditaati. Kewajiban yuridis dianggap sebagai suatu
dorongan batin yang tidak dapat dielakkan. Lalu bagaimana hukum dapat
mewajibkan secara batin? Menurut Hans Kelsen (1881-1973) adalah karena
adanya kewajiban yuridis, sebab memang beginilah pengertian kita tentang
hukum. suatu peraturan yang a-normatiftidak masuk akal , dan tidak
merupakan hukum. Meminjam istilah Immanuel Kant, Kelsen menyatakan
bahwa kewajiban hukum tennasuk dalam pengertian transedental-logis, yaitu
"mewajibkan" harus diterima sebagi syarat yang tidak dapat dielakkan untuk
mengerti hukum sebagai hukum. Jika menurut Kant ada norma dasar
(grundnorm) bagi moral (yang berbunyi: berlakulah sesuai dengan suara
hatimu), maka menurut Hans Kelsen dalam hukum juga terdapat suatu norma
dasar yang harus dianggap sebagai sumber keharusan dibidang hukum. Norma
dasar (grundnorm) tersebut berbunyi: orang-orang harus menyesuaikan diriya
dengan apa yang telah ditentukan.16

15
Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa‟at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Jakarta:
Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI Jakarta, 2006. Hal. 8 – 12.
16
Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006. Hal. 99 - 100.

11
B. Kritikan Terhadap Pokok-Pokok Pemikiran Teori Hukum Hans Kelsen

Seperti halnya teori pada umumnya, teori hukum Hans Kelsen juga tidak
terlepas dari berbagai keberatan maupun kritik baik yang berasal dari aliran
hukum sebelumnya (khususnya hukum alam dan positivisme empiris), maupun
dari aliran hukum yang berkembang belakangan. Kritik terhadap teori hukum
yang dikemukakan Kelsen pada umumnya antara lain terkait dengan metode
formal yang digunakan dalam Pure Theory of Law, konsep hukum sebagai
perintah yang memaksa namun tidak secara psikologis, postulasi validitas
norma dasar, hubungan hukum dan negara, dan masalah konsep hukum
internasional sebagai suatu sistem.17

Kritik-kritik dikemukakan oleh banyak ahli hukum sesuai dengan pokok


masalah yang menjadi pusat perhatian, dan masing-masing menggunakan
perspektif tertentu yang berbeda-beda, salah satunya adalah Hari Chand dalam
buku Modern Jurisprudence.18

Hari Chand membahas secara khusus Pure Theory of Law dalam bab
kelima buku Modern Jurisprudence. Setelah menguraikan pokok-pokok
pikiran dari teori tersebut, Chand memberikan kritik terhadap teori yang
dikemukakan oleh Kelsen tersebut sebagai berikut.19

1. Tentang Norma Dasar

Menurut Chand, konsep norma dasar yang dikemukakan oleh Kelsen


tidak jelas. Yang disebut dengan norma dasar tersebut bukan merupakan
hukum positif tetapi suatu presuposisi pengetahuan yuridis, atau sesuatu
yang meta-legal tetapi memiliki suatu fungsi hukum. Sulit untuk melihat
konstribusi Pure Theory of Law terhadap suatu sistem dengan

17
Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa‟at, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, Jakarta:
Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI Jakarta, 2006. Hal. 8 – 12.
18
Ibid. Hal. 155
19
Ibid. Hal. 164

12
mengasumsikan hukum berasal dari norma dasar yang tidak dapat
ditemukan.20

Norma dasar yang dikemukakan oleh Kelsen tidak lebih dari suatu
presuposisi moral yang memerintahkan kepatuhan. Julius Stone menduga
bahwa norma dasar tersebut hanya merupakan norma puncak (apex norm)
dan digunakan untuk tujuan seperti konstitusi menggantikan supremasi
parlemen. Penekanan bahwa kita harus mematuhi konstitusi harus didukung
oleh landasan fakta sosial, moralitas dan etika umum masyarakat. Tidak ada
realitas makna lain yang dapat diterapkan. Validitas suatu norma dasar pada
akhirnya adalah suatu prinsip moral atau tidak bermakna sama sekali.21

2. Metodologi

Suatu sistem hukum bukan merupakan koleksi abstrak dari kategori


yang mati, tetapi suatu susunan hidup yang bergerak secara konstan dan
terdapat bahaya yang besar jika hanya melihat potongan-potongan dan
menganalisis masingmasing bagian. Tidak akan didapatkan gambaran
menyeluruh yang menunjukkan bagaimana sistem tersebut beroperasi.
Pendekatan Kelsen hanya pada satu sisi ketertarikan, yaitu pada bentuk
hukum sembari meletakkan isinya sebagai hal yang sekunder.22

3. Kemurnian

Kelsen sangat menekankan pada analisis kemurnian sehingga


pendekatan lain terhadap penyelidikan yuridis diabaikan. Metodenya
menjadi tidak murni sepanjang mengenai norma dasar karena dia gagal
menjelaskan bagaimana norma tersebut dan eksis. Untuk menjelaskan
hakekat norma dasar membutuhkan pengetahuan lain dari bidang lain
seperti sejarah, ilmu politik, ekonomi, dan lain-lain yang ditolak oleh
Kelsen. Pendekatan tidak murni juga digunakan dalam pure theory. Pada

20
Ibid. Hal. 164
21
Ibid. Hal. 164
22
Ibid. Hal. 165

13
level norma subordinat, dalam menentukan fakta di mana norma harus
diterapkan, fakta harus ditentukan, pembuktian dan penghakiman
mengambil peran. Penemuan hukum ada bersama penemuan fakta.23

Teori Kelsen mengasumsikan bahwa norma puncak adalah suatu data


yang kadang-kadang dapat ditemukan. Namun jelas bahwa norma puncak
ditentukan dan dipastikan dengan metode yang tidak murni. Penentuan
tingkatan norma sebagai bentuk kehendak hukum yang berbeda dengan
sendirinya mengimplikasikan adanya valuasi sosial tertentu.24

4. Keadilan

Salah satu dalil Pure Theory of Law adalah bahwa hukum tidak dapat
menjawab pertanyaan apakah suatu hukum itu adil atau tidak adil, atau
apakah keadilan itu. Keadilan adalah sesuatu yang di luar rasio. Keadilan
ditolak menjadi jiwa dari hukum atas nama kemurnian hukum. Apakah
dengan begitu Kelsen tidak kehilangan pusat dari permasalahan yang
dibahas? Zaman ini menangis karena masalah keadilan, baik sosial maupun
politik, namun Kelsen menolak dan menyatakannya sebagai sesuatu ide
yang irasional. Teori Kelsen tidak berbicara apapun tentang ketidakadilan
berupa penindasan kulit putih minoritas terhadap kulit hitam di Afrika
Selatan atau penindasan terhadan etnis asia di Inggris, demikian pula dengan
ketidakadilan ekonomi dan politik dalam hubungan internasional. Apa
artinya suatu studi jika substansinya diabaikan? Teori Kelsen hanyalah kulit
dari sistem hukum, meninggalkan kehidupan dan aktivitasnya pada sosiolog
dan ilmuwan sosial lain. Teorinya adalah bentuk lain dari kekaburan dan
penghindaran.25

23
Ibid. Hal. 165
24
Ibid. Hal. 165 - 166
25
Ibid. Hal. 166

14
5. Keberlakuan

Kelsen tidak memberikan sesuatu yang dapat digunakan untuk


membedakan keberlakuan suatu norma tunggal dan keberlakuan sistem
hukum secara keseluruhan. Apa yang dimaksud dengan keberlakuan
minimum? Bagaimana hal itu dapat dibuktikan selain dengan suatu
penyelidikan terhadap fakta-fakta sosial dan politik? Jika Kelsen menerima
efektifitas sebagai suatu faktor validitas, mengapa tidak juga menerima
faktor yang lain seperti mralitas, ekonomi, dan politik.26

Menurut kelsen, keberlakuan adalah suatu kondisi bagi validitas.


Pertanyaan krusialnya adalah bagaimana menentukan keberlakuan tersebut?
Misalnya penguasa militer mengambil alih kekuasaan dan menahan perdana
menteri dan presiden negara tersebut dan kemudian mengumumkan bahwa
dialah kepala negara saat itu. Dia mengesampingkan konstitusi dan
menetapkan suatu keputusan yang ditandatanginya. Bagaimanakah dapat
menentukan eksistensi suatu norma dasar dalam kondisi seperti ini? Dengan
dasar apa suatu penilaian tentang keberlakuan atau ketidakberlakuan suatu
sistem hukum?27

6. Hirarki Norma

Terdapat sumber hukum seperti kebiasaan, undang-undang, dan


preseden, yang salah satunya tidak dapat dikatakan lebih tinggi dari yang
lain. Di samping norma, dalam sistem hukum juga terdapat standar, prinsip-
prinsip, kebijakan, asas (maxim), yang sama pentingnya dengan norma,
namun tidak diperhatikan oleh Kelsen. 167

26
Ibid 166 -167
27
Ibid 167

15
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Friedmann mengungkapkan dasar-dasar esensial dari pemikiran Kelsen


sebagai berikut: (1) Tujuan teori hukum, seperti tiap ilmu pengetahuan,
adalah untuk mengurangi kekacauan dan kemajemukan menjadi kesatuan;
(2) Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku,
bukan mengenai hukum yang seharusnya; (3) Hukum adalah ilmu
pengetahuan normatif, bukan ilmu alam; (4) Teori hukum sebagai teori
tentang norma-norma, tidak ada hubungannya dengan daya kerja norma-
norma hukum; (5) Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara
menata, mengubah isi dengan cara yang khusus. Hubungan antara teori
hukum dan sistem yang khas dari hukum positif ialah hubungan apa yang
mungkin dengan hukum yang nyata.

2. Seperti halnya teori pada umumnya, teori hukum Hans Kelsen juga tidak
terlepas dari berbagai keberatan maupun kritik baik yang berasal dari aliran
hukum sebelumnya (khususnya hukum alam dan positivisme empiris),
maupun dari aliran hukum yang berkembang belakangan. Kritik terhadap
teori hukum yang dikemukakan Kelsen pada umumnya antara lain terkait
dengan metode formal yang digunakan dalam Pure Theory of Law, konsep
hukum sebagai perintah yang memaksa namun tidak secara psikologis,
postulasi validitas norma dasar, hubungan hukum dan negara, dan masalah
konsep hukum internasional sebagai suatu sistem. Salah satunya adalah Hari
Chand dalam buku Modern Jurisprudence. Hari Chand memberikan kritik
terhadap teori yang dikemukakan oleh Kelsen tersebut dari segi (1) Tentang
Norma Dasar; (2) Metodologi; (3) kemurnian; (4) keadilan; dan (5)
keberlakuan serta (6) hirarki norma.

16
B. Saran

1. Dalam menggunakan suatu teori hukum sebagai landasan dalam membuat


suatu hukum diperlukan suatu kejelasan yang sejelas-jelasnya terhadap teori
tersebut dengan harapan bahwa teori hukum tersebut tetap relevan untuk
beberapa tahun kedepan sehingga suatu teori hukum benar-benar sesuai
dengan makudnya yakni untuk mengetahui perbuatan-perbuatan hukum dan
untuk menilai perbuatan-perbuatan tersebut.

2. Suatu teori hukum tidaklah selalu sempurna dalam hal relevansinya


terhadap perkembangan zaman. Namun demikian, bukan berarti teori
tersebut tidak dapat lagi digunakan sesuai dengan maksud dari teori tersebut
karena walau bagaimanapun suatu teori yang dianggap tidak relevan lagi
dengan perkembangan zaman tetap dapat dipakai sebagai landasan untuk
membuat teori tersebut lebih sempurna.

17
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghofur Ansori. 2006. Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Ade Maman Suherman. 2006. Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Civil Law,
Common Law, Hukum Islam. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Erman Rajagukguk, Kaum Positivis, http://www.findtoyou.com/ebook/. 25-12-


2009.

Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa‟at. 2006. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum.
Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI,
Jakarta.

Soetandyo Wignjosoebroto. Teori-Teori Sosial Untuk Kajian Hukum,


http://www.findtoyou.com/ebook/. 25-12-2009.

18
19