Anda di halaman 1dari 23

Tugas Makalah Filsafat Pendidikan

IMPLEMENTASI FILSAFAT
PENDIDIKAN PADA
KURIKULUM 2013

Oleh :

Iwan Sunarya Panjaitan


NIM. 8136132065
Program Studi Administrasi Pendidikan
Konsentrasi Kepengawasan

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2013

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha
Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas Analisis Filsafat Pendidikan yang
diterapkan Pada Kurikulum 2013.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman akan beberapa aliran
filsafat pendidikan yang akan menentukan sistem pendidikan terkhususnya terkait
dengan kurikulum yang diterapkan suatu bangsa dan sekaligus melakukan apa yang
menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan
Dalam proses pendalaman materi Filsafat Pendidikan ini, tentunya kami
mendapatkan bimbingan, arahan, dan pengetahuan, untuk itu rasa terima kasih yang
dalam-dalamnya kami sampaikan kepada:

Bapak Dr. Irsan Rangkuti, M.Pd, M.si, selaku dosen mata kuliah Filsafat Ilmu
Pendidikan

Rekan-rekan

mahasiwa

yang

telah

banyak

memberikan

masukan

untuk makalah ini.

Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat,

Medan, 31 Oktober 2013


Penyusun

Iwan Sunarya Panjaitan

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar

Daftar Isi

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Batasan Masalah

D. Tujuan

E. Manfaat Makalah

BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A. Defenisi Kurikulum

B. Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum

1. Filsafat dan Tujuan Pendidikan

2. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan

C. Pola Pengembangan Kurikulum 2013

10

1.

Latar Belakang Lahirnya Kurikulum 2013

10

2.

Konsep dan Struktur Kurikulum 2013

11

D. Analisis Filsafat Pendidikan sebagai Landasan Filosofis

14

Kurikulum 2013
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan

19

B. Saran

19

DAFTAR PUSTAKA

20

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pendidikan dalam kegiatan pembelajaran atau dalam kelas, akan bisa
berjalan dengan lancar, kondusif, dan interaktif apabila dilandasi oleh dasar kurikulum
yang baik dan benar. Pendidikan bisa dijalankan dengan baik ketika kurikulum menjadi
penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Kurikulum mengandung sekian
banyak unsur konstruktif supaya pembelajaran terlaksana dengan optimal. Baik
buruknya hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulumnya, apakah mampu membangun
kesadaran kritis terhadap peserta didik ataukah tidak.
Kurikulum merupakan program dan isi dari suatu sistem pendidikan yang berupaya
melaksanakan proses akumulasi pengetahuan antar

generasi dalam masyarakat.

Kurikulum berkaitan erat dengan proses pembelajaran sebagai ruang beraktivitas belajar
peserta didik supaya mereka mendapat bekal pengetahuan yang baik dan mampu
membangun kekuatan kecerdasan baik kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk itu
kurikulum harus dibangun dengan sedemikian cerdas, mencakup segala kebutuhan
peserta didik, dan meliputi segenap alat penggali dan pengembangan potensi sekaligus
bakat peserta didik sehingga mampu melakukan pertunjukan diri terhadap bakat dan
potensi yang dimiliki. Proses pendidikan yang menerapkan kurikulum yang cerdas ini
akan melahirkan generasi yang berkualitas, berdaya saing tinggi, dan bisa berkompetisi
secara elegan.
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting,
sehingga kurikulum sering diibaratkan dengan sebuah fondasi rumah atau gedung.
Gedung yang tidak memiliki landasan atau fondasi yang kuat, maka ketika diterpa angin
atau terjadi goncangan, bangunan tersebut akan mudah roboh. Demikian pula halnya
dengan kurikulum, apabila tidak memiliki dasar pijakan yang kuat, maka kurikulum
tersebut akan mudah terombang-ambing dan yang akan dipertaruhkan adalah peserta
didik. Yamin (2012 :17) mengemukakan bahwa landasan pengembangan kurikulum
dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran
atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.

Salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah landasan filosofis, yaitu


filsafat-filsafat pendidikan yang sangat dibutuhkan dalam menentukan arah dan tujuan
pendidikan. Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa.
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena
tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa,
maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan
hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu, terdapat hubungan yang erat
antara kurikulum pendidikan si suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.
Tujuan pendidikan Nasional Indonesia yang tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu : Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, adalah untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka untuk
mencapai tujuan pendidikan Nasional Indonesia diterapkanlah kurikulum bagi sekolah
penyelenggara pendidikan Indonesia.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia Tercatat sudah ada 9 kurikulum yang pernah
diterapkan; kurikulum pertama tahun 1947, kurikulum tahun 1964, kurikulum 1976,
kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum edisi revisi 1999 dan yang terbaru
Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, yang dilanjut dengan lahirnya Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, dan yang terakhir Kurikulum 2013. Masingmasing kurikulum memiliki warna dan ciri khas tersendiri. Warna dan ciri khas tiap
kurikulum menunjukkan kurikulum berusaha menghadirkan sosok peserta didik yang
paling sesuai dengan jamannya.
Adapun orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi
yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara
pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Perubahan yang paling berdasar
adalah nantinya pendidikan akan berbasis science dan tidak berbasis hafalan lagi.

Dengan adanya deskripsi diatas, penulis mencoba untuk menganalisa kurikulum


2013 tersebut dengan pendekatan beberapa teori dan Mazhab-mazhab filsafat
pendidikan seperti; Idealisme, Realisme, Materialisme, Pragmatisme, Eksistensialisme,
Progresivisme, Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionalisme.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan
akan dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana aliran-aliran filsafat pendidikan akan mempengaruhi kurikulum
pendidikan?
2. Bagaimana implementasi filsafat pendidikan pada pengembangan kurikulum
2013?
C. Batasan Masalah
Mengingat ada beberapa landasan pokok dalam pengembangan kurikulum di
Indonesia, dan keterbatasan waktu dalam membuat makalah ini, maka makalah ini
hanya membahas analisis pengembangan kurikulum 2013 dan landasan filosofisnya.
D. Tujuan Makalah
Bertitik tolak dari masalah yang akan dibahas secara umum, makalah ini bertujuan
sebagai berikut :
1.

Untuk

mengetahui

bagaimana

aliran-aliran

filsafat

pendidikan

akan

mempengaruhi kurikulum?.
2.

Untuk mengetahui bagaimana implementasi filsafat pendidikan pada


pengembangan kurikulum 2013.

E. Manfaat Makalah
Dengan tercapainya tujuan makalah ini, makalah ini mempunyai manfaat
praktis, yaitu makalah ini akan dapat menambah wawasan tentang filsafat pendidikan
yang menjadi landasan filosofis kurikulum 2013, dan dapat memberikan gambaran
mengenai kurikulum 2013 dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
6

BAB II
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

A. Defenisi Kurikulum
Istilah kurikulum (curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat
berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum
diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai
finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut
diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang
harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk
memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller (dalam Yamin, 2012: 23) berpendapat bahwa
kurikulum mencakup metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan semua
program, perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan
administrasi, dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah ruangan serta
memungkinkan memilih mata pelajaran. Pendapat senada dikemukan oleh Alice Mikel
(dalam Yamin, 2012: 23) yang menyatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung,
suasana sekolah keinginan, keyakinan, pengetahuan, dan sikap orang-orang yang
melayani dan dilayani sekolah, yakni peserta didik, masyarakat, para pendidik dan
personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi, dan orang lain yang
memiliki hubungan dengan murid). Oleh karenanya, kurikulum meliputi segala
pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang di dapat anak di sekolah.
Nasution (2009: 5) memandang bahwa kurikulum adalah suatu rencana yang
disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah bimbingan dan tanggung
jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Pendapat senada dan
menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander dan Lewis yang
menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa supaya
belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah.
Di sistem pendidikan Indonesia ditegaskan defenisi kurikulum sebagaimana dalam
UU SPN No 20 Tahun 2003 pada bab I pasal 1 ayat 19, yaitu seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan


tertentu. Jadi kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan
melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, selain
kegiatan kurikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal yang terakhir ini sering
disebut ekstrakurikuler.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan perangkat perencanaan dan
pengaturan tentang tujuan, kompetensi dasar, materi dasar, hasil belajar, serta penerapan
pedoman pelaksanaan aktivitas belajar guna meraih kompetensi dasar dan tujuan
pendidikan.

B. Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum


1. Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan, terutama
dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan arah dan
tujuan pendidikan. Filsafat akan menentukan arah kemana peserta didik akan dibawa.
Untuk itu harus ada kejelasan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan
eksistensinya.
Filsafat atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok
masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat memengaruhi
tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Sedangkan tujuan pendidikan sendiri pada
dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif mengenai apa yang seharusnya
terjadi. Nasution (2009: 15) berpendapat bahwa filsafat suatu negara tidak bisa
dipungkiri akan memengaruhi tujuan pendidikan di negara tersebut. Oleh karena itu,
tujuan pendidikan disuatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara
lainnya, sebagai implikasi dari adanya perpedaan filsafat pendidikan yang dianutnya.
Tujuan pendidikan Nasional Indonesia bersumber pada

pandangan hidup

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila. Ini berarti bahwa pendidikan
di Indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang ber-Pancasila.
Nilai-nilai filsafat Pancasila yang dianut bangsa Indonesia dicerminkan dalam rumusan
tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya segenap potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU RI nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional).
2. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan
Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup suatu
bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau
pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu, Sukirman dan Asra
(dalam Tim Pengembang MKDP 2012: 21) mengatakan terdapat hubungan yang sangat
erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya.
Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan, pemilihan dan
penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan
pendidik/peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia,
yaitu Pancasila.
Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya dalam pengembangan kurikulum di
Indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan tetapi hendaknya dipertimbangkan dan
dikaji kesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hidup bangsa Indonesia, karena tidak
semua konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan
kita. Pandangan tentang apa yang baik, demikian pula tentang berbagai aspek filsafat
lainnya berbeda-beda secara esensial menurut alirannya. Dibawah ini akan diberikan
uraian singkat mengenai enam aliran utama dalam filsafat, yakni (1) pragmatisme, (2)
eksistensialisme, (3) Progresivisme, (4) Humanisme, (5) Perelianisme, dan (6)
Rekontruksionisme. Dalam garis besarnya pendirian tiap aliran itu dirangkum dalam
tabel berikut. Sekaligus untuk membandingkan pendirian keenam aliran itu mengenai
pandangan tentang kurikulum.

EKSISTENSIALISME

PRAGMATISME

Tujuan Pendidikan
Memampukan anak
didik hidup
dimasyarakat;
membentuk
pengetahuan
menjawab
kebutuhan sosial

Anak Didik
Murid belajar hal
yang dibutuhkan dan
diminatinya

Guru
Guru berperan
sebagai rekan dialog
peserta didik
menghadapi
kenyataan hidup.

Kurikulum

Metode

Ikuti perubahan
Metode dan kompetensi
sosial; tekankan
pemecahan masalah dan
proses bukan isi.
partisipatif diutamakan.
Keberhasilan
pendidikan dilihat
Suasana belajar
dari penilaian
menyenangkan;
sosial
demokratis; karyawisata.

Pendidikan bertujuan Pembelajaran sangat Tugas dan peran Kurikulum selalu Pengajaran pengetahuan
membebaskan
individual; unik bagi
guru
sebgai
berubah dan harus
dasar dan humaniora
manusia
dari
setiap orang. Anak
pembantu
menjawab
ditekankan.
tekanan
dan
didik
mengambil
menemukan makna;
kebutuhan anak
keterikatan
sosial
keputusan apa yang
fasilitator
didik
dan
menemukan
ingin dipelajarinya
realisasi diri secara
optimal
Pendidikan
membantu
anak
didik
menyadari
dirinya
sebagai
pribadi
yang
memilih, bebas dan
bertanggung jawab

10

PROGRESIVISME
HUMANISME

Tujuan Pendidikan

Anak Didik

Membentuk anak
didik mampu hidup
dalam masyarakat
Pendidikan bertolak
dari anak didik (yang
belajar)

Pribadi mandiri: aktif,


dan penuh minat;
bukan pasif
Anak didik bukan
pribadi yang harus
senantiasa
bergantung paa
orang lain.

Membentuk peserta
didik menjadi dirinya
sendiri (menemukan
kemampuan/potensi
dan makna dirinya)

Pribadi yang
mempunyai potensi
dan kreativitas untuk
dikembangkan dalam
sepanjang hayatnya
Pribadi yang
mempunyai
kebebasan belajar.

Guru

Kurikulum

Metode

Guru
berperan Hal yang dipelajari Kegiatan dikelas sarat
sebagai penasihat,
anak bersesuaian
dengan pemecahan
pembimbing, rekan
dengan masalah
masalah (problem
perjalanan
anak
dan kebutuhan
solving); bukan
didik, bukan sebagai
masyarakat.
menguasai informasi
pribadi yang otoriter
yang diajarkan guru atau
dan pengatur.
yang ditulis dalam buku
Guru tidak boleh
sumber.
mengharuskan anak
Suasana belajar
didik
menerima
kooperatif (kerjasama)
gagasan
yang
dan demokratis (politik
dianggap
guru
pembelajaran).
absolut.
Guru berperan
Hal yang dipelajari Kelas terbuka; sekolah
sebagai
apa yang dirasakan
bebas; dan anak tidak
pembimbing,
anak bagi dirinya.
boleh gagal dalam
motivator, serta
kegiatan belajarnya.
pendamping anak
didik.
Suasana terbuka,
penggunaan imajinasi
Membangun
rasa
dan kreativitas
percaya diri untuk
ditekankan.
berhasil

11

REKONTRUKSIONISME

PERELIANISME

Tujuan Pendidikan
Membentuk dan
menyiapkan anak
didik menjadi cerdas,
elit, berpengetahuan,
berdisiplin tinggi,
agar mampu
menunaikan tugas
hidupnya.
Menentang konsep
progresivisme
Pendidikan bersifat
aristokratik
Pendidikan bertujuan
menyiapkan anak
didik berperan aktif
memperbaharui
tatanan kehidupan
sosialnya yang
dilanda berbagai
ragam krisis dan
masalah.

Anak Didik

Guru

Kurikulum

Metode

Anak didik dianggap


Memiliki
Bahan-bahan
Fokuis pembelajaran
Hewan
pengetahuan yang
pelajaran dasar
kepada penguasaan
rasional/berpikir.
luas yang berisi
yang berisi hakiki
bahan pelajaran melalui
Sebagai manusia,
kebenaran
hakiki
harus diajarkan
olah pikiran.
semua anak didik
harus diajar.
Bahan pemikiran
Metode disiplin dan
sama hakekatnya, jadi Menguasai
ilmumasa lalu harus
latihan perlu
membutuhkan
ilmu
dan
terus dilestarikan
dikembangkan agar
pendidikan yang
pengetahuan masa
dan diajarkan
anak mampu menguasai
serupa.
lalu yang teruji dan
kepada anak didik.
pengetahuan.
diajarkan
kepada
anak didik.
Anak didik bagian dari
masyarakatnya dan
harus aktif.
Anak didik sebagai
agen pembaharuan
sosial, bukan hanya
penerima
pengetahuan.

Guru berperan
sebagai pemrakarsa
gagasan untuk
pembaruan sosial.

Hal yang dipelajari Pendekatan belajar di


adalah masalahkelas menekankan
masalah sosial,
prinsip demokratis;
keluarga,
berpikir cerdas dan kritis
masyarakat-isu
dalam rangka
kemiskinan,
pemecahan masalah
Guru
berperan
korupsi,
sosial
sebagai
ketidakadilan,
pembimbing,
penderitaan, HAM.
fasilitator,
Proyek, aksi, dan refleksi
motivator,
dan
ditekankan.
transformator.

12

C. Pola Pengembangan Kurikulum 2013


1. Latar Belakang Lahirnya Kurikulum 2013
Dalam sejarah pendidikan Indonesia Tercatat sudah ada 9 kurikulum yang pernah
diterapkan; kurikulum pertama tahun 1947, kurikulum tahun 1964, kurikulum 1976,
kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum edisi revisi 1999 dan yang terbaru
Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, yang dilanjut dengan lahirnya Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, dan yang terakhir Kurikulum 2013. Masingmasing kurikulum memiliki warna dan ciri khas tersendiri. Warna dan ciri khas tiap
kurikulum menunjukkan kurikulum berusaha menghadirkan sosok peserta didik yang
paling sesuai dengan jamannya.
Mulai tahun ajaran 2013/2014 kurikulum 2013 telah dilaksanakan secara bertahap,
menggantikan kurikulum sebelumnya. Berkaitan dengan pentingnya penerapan
kurikulum 2013, berbagai latar belakang yang dikemukakan oleh pemerintah. Menurut
Mendikbud Muhamad Nuh, Penerapan kurikulum 2013 penting dan genting terkait
bonus demografi pada 2010-2035 - jumlah penduduk yang meledak harus bisa terserap
pasar. Artinya pendidikan hanya menciptakan buruh-buruh pabrik pasar tenaga kerja
sistem kapitalisme. Alasan lain adalah akhlak generasi muda yang semakin brutal: tidak
jujur, tidak disiplin, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan
kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Disamping isu moral, juga
dikemukakan isu ekonomi, yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan
ketahanan pangan (kompas.com).
Alasan lain yang dikatakan Muhammad Nuh adalah hasil pembandingan antara
materi TIMSS (Trends in International Mathematichs and Science Study) 2011 dan
materi kurikulum 2006, untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, menunjukkan
kurang dari 70 persen materi TIMSS yang telah diajarkan sampai dengan kelas VIII
SMP. Hasil studi TIMSS menunjukkan siswa Indonesia berada pada ranking amat
rendah dalam kemampuan (1) memahami informasi yang komplek, (2) teori, analisis
dan pemecahan masalah, (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan (4)
melakukan investigasi.

13

Belum lagi rumusan kompetensi pada kurikulum yang lama belum sesuai dengan
tuntutan UU dan praktik terbaik di dunia, ketidaksesuaian materi mata pelajaran dan
tumpang tindih yang tidak diperlukan pada beberapa materi mata pelajaran, kecepatan
pembelajaran yang tidak selaras antarmata pelajaran, dangkalnya materi, proses, dan
penilaian pembelajaran, sehingga peserta didik kurang dilatih bernalar dan berfikir.
Generasi muda Indonesia perlu disiapkan dalam kompetensi sikap, keterampilan,
dan pengetahuan. Muhammad Nuh juga menegaskan bahwa Dalam memenuhi
kebutuhan kompetensi Abad 21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas,
bahwa tujuan pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum
berbasis kompetensi. Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga
kompetensi, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan
adalah manusia seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu
dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap,
pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus
dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab.
2. Konsep dan Struktur Kurikulum 2013
Konsep kurikulum 2013 berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan
praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang
dianutnya. Yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep
kurikulum. Hidayat dalam artikelnya tentang konsepsi kurikulum menjelaskan ada tiga
konsep tentang kurikulum 2013 yaitu : kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem,
dan sebagai bidang studi.
Konsep Pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Kurikulum dipandang
sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu
perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada
suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajarmengajar, jadwal, dan evaluasi. Konsep ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan
konsep kurikulum sebelumnya, namun dalam kurikulum 2013 ini lebih bertumpu
kepada kualitas guru sebagai implementator di lapangan.

14

Konsep Kedua, adalah kurikulum 2013 sebagai suatu sistem, yaitu sistem
kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem
pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur
personalia,

dan

prosedur

kerja

bagaimana cara

menyusun

suatu

kurikulum,

melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya.


Konsep Ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi
kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan
pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu
tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum,
mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan
berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang
dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.
Berubahnya kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 ini merupakan salah satu upaya
untuk memperbaharui setelah dilakukannya penelitian untuk pengembangan kurikulum
sesuai dengan kebutuhan anak bangsa dan atau generasi muda. Inti dari Kurikulum
2013 ada pada upaya penyederhanaan dan sifatnya yang tematik-integratif. Kurikulum
2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi tantangan
masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa
depan. Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau siswa
memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan :
1. Observasi,
2. Bertanya (wawancara),
3. Bernalar, dan
4. Mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau
mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Adapun obyek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah : fenomena alam, sosial,
seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi
sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif,
inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi
berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
Pelaksanaan

penyusunan

kurikulum

2013

15

adalah

bagian

dari

melanjutkan

pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun
2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara
terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai
dengan standar nasional yang telah disepakati.
Konsep kurikulum 2013 menekankan pada aspek kognitif, afektif, psikomotorik
melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi. Kurikulum baru
tersebut akan diterapkan untuk seluruh lapisan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar
hingga Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan. Siswa untuk mata pelajaran
kurikulum 2013 sudah tidak lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum
berbasis sains. Orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi
yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara
pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan.
Struktur kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran, beban belajar, dan kalender
pendidikan. Mata pelajaran terdiri atas:
-

Mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan
pada setiap satuan atau jenjang pendidikan

Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik sesuai dengan pilihan
mereka.

Struktur Kurikulum 2013 untuk SD/MI. Kelompok A (Wajib) : Pendidikan Agama


dan Budi Pekerti, Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan; Bahasa Indonesia;
Matematika; Ilmu Pengetahuan Alam; Ilmu Pengetahuan Sosial. Kelompok B (Wajib) :
Seni Budaya dan Prakarya; Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Salah satu
ciri kurikulum 2013, khususnya untuk SD, adalah bersifat tematik integratif. Dalam
pendekatan ini mata pelajaran IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua
pelajaran, yaitu dua mata pelajaran itu akan diintegrasikan kedalam semua mata
pelajaran
Struktur Kurikulum 2013 untuk SMP/MTs. Kelompok A (Wajib): Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan; Bahasa

16

Indonesia; Matematika; Ilmu Pengetahuan Alam; Ilmu Pengetahuan Sosial; Bahasa


Inggris. Kelompok B(Wajib): Seni Budaya; Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan; Prakarya.
Struktur Kurikulum 2013 untuk SMA/MA. Kelompok A (Wajib): Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan; Bahasa
Indonesia; Matematika; Ilmu Pengetahuan Alam; Ilmu Pengetahuan Sosial; Bahasa
Inggris; Sejarah Indonesia. Kelompok B(Wajib): Seni Budaya; Pendidikan Jasmani,
Olahraga dan Kesehatan; Prakarya dan Kewirausahaan. Kelompok C (Peminatan)
Matematika dan Sains: Matematika, Biologi, Fisika,Kimia. Peminatan Sosial Geografi,
Sejarah, Sosiologi dan Ekonomi. Sedangkan Peminatan Bahasa: Bahasa dan Sastra
Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa dan Sastra Asing lainnya; Antropologi.
D. Analisis Filsafat Pendidikan sebagai Landasan Filosofis Kurikulum 2013
Bangsa Indonesia baru memiliki filsafat umum atau filsafat negara ialah Pancasila.
Sebagai filsafat negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi
semangat dalam berkarya pada segala bidang, dan mewarnai segala segi kehidupan dari
hari ke hari. Tetapi pada kenyataannya Pidarta (2007: 95) berpendapat bahwa belum ada
upaya mengoperasionalkan dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, termasuk dalam dunia
pendidikan. Pendapat ini didukung oleh Simanjuntak (2013: 61) yang menyatakan
filsafat pendidikan di Indonesia sekarang dapat dikatakan sudah tidak jelas karena
selama ini dalam setiap jenjang studi yang ada selalu belajar filsafat dari barat sebagai
referensi untuk mengkritisi pendidikan.
Dunia pendidikan di Indonesia belum punya konsep atau teori-teori sendiri yang
cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesia tentang pengertian pendidikan
dan cara-cara mencapai tujuan pendidikan. Sebagian besar konsep atau teori pendidikan
diimpor dari luar negeri sehingga belum tentu valid untuk diterapkan di Indonesia.
Teori-teori bisa didapat dengan cara belajar di luar negeri, atau dengan cara melakukan
studi banding. Dan yang paling banyak dilakukan adalah dengan mendatangkan buku
atau membeli buku dari negara lain itu. Inilah sumber-sumber konsep pendidikan di
Indonesia. Dengan demikian dapat diibaratkan manusia Indonesia yang dicita-citakan
seperti menempa patung dengan cetakan luar negeri (Pidarta, 2007: 95). Hasilnya tentu

17

tidak persis seperti manusia yang dicita-citakan, karena cetakan itu sendiri belum ada di
Indonesia. Berangkat dari anggapan inilah, kita mencoba membangun filsafat
pendidikan sendiri, yaitu filsafat Pancasila sebagai landasan pendidikan bangsa.
Oleh sebab itu, perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan,
pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus
dilakukan pendidikan/ peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup
bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya dalam
pengembangan kurikulum di Indonesia dapat digunakan sebagai acuan, akan tetapi
hendaknya dipertimbangkan dan dikaji kesesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hidup
bangsa Indonesia, karena tidak semua konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan
diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia.
Pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan
berpikir. Sukirman dan Asra (dalam Tim Pengembang MKDP 2012: 22) menjelaskan
kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya menjawab permasalahanpermasalahan sekitar:
(1) bagaimana seharusnya tujuan pendidikan itu dirumuskan,
(2) isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang seharusnya disajikan kepada
siswa,
(3) metode pendidikan apa yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan, dan
(4) bagaimana peranan yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik.
Jawaban atas permasalahan tersebut akan sangat bergantung pada landasan filsafat
mana yang digunakan sebagai asumsi atau sebagai titik tolak pengembangan kurikulum.
Kurikulum 2013 adalah nama baru dari berbagai nama atau istilah yang
disandangkan pada kurikulum sebelum-sebelumnya, istilah baru ini tentunya merupakan
upaya pemerhati ahli terhadap kurikulum untuk kemajuan dan kebutuhan dimasa
mendatang. Sebagai alasan mengapa kurikulum harus berubah adalah, untuk
mempersiapkan generasi sekarang agar mampu menjawab tantangan masa depan
Indonesia. Untuk mengetahui filsafat mana yang digunakan sebagai asumsi atau titik
tolak pengembangan kurikulum 2013, maka diberikan jawaban atas pertanyaan
permasalahan seperti yang dikemukakan di atas.

18

(1) Bagaimana tujuan pendidikan dirumuskan dalam kurikulum 2013?


Penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah kurikulum 2013, sebagaimana
yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 bertujuan
membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, dan berkepribadian luhur; berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; sehat,
mandiri, dan percaya diri; dan toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung
jawab.
Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa
kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013
dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan
untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi
kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik
untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini
mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk
mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas
mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum.
Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik,
Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar

yang memberikan

kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan
bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap
mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang
yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
(2) isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang disajikan kepada siswa pada
kurikulum 2013?
Adapun obyek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah : fenomena alam, sosial,
seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki
kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih
kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam
menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan
yang lebih baik. Perubahan Standar Isi dari kurikulum sebelumnya yang

19

mengembangkan kompetensi dari mata pelajaran menjadi fokus pada kompetensi


yang dikembangkan menjadi mata pelajaran melalui pendekatan tematik-integratif
(Standar Proses).
Pendidikan

ditujukan

untuk

mengembangkan

kecerdasan

intelektual

dan

kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan


bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran
disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama
matapelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik.
(3) metode pendidikan apa yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan pada
Kurikulum 2013?
Perubahan pada Standar Proses berarti perubahan strategi pembelajaran. Guru wajib
merancang dan mengelola proses pembelajaran aktif yang menyenangkan. Peserta
didik

difasilitasi

untuk

mengamati,

menanya,

mengolah,

menyajikan,

menyimpulkan, dan mencipta. Pembelajaran menggunakan metode scientific.


Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan
filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah
sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik.
Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berpikir rasional
dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang
dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang
ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis
serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berpikir
rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan
keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga,
diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial
di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.

20

(4) bagaimana peranan yang dilakukan pendidik dan peserta didik pada kurikulum
2013?
Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. Pendidik bekerjs
sama dengan alam dalam proses pengembangan kemampuan ilmiah. Tugas utama
pendidik menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar
secara efektif dan efisien.
Pengembangan kurikulum yang mempunyai posisi yang jelas tentang pertanyaanpertanyaan di atas telah memiliki dasar yang memungkinkannya mengambil keputusan
yang sehat dan konsisten. Nasution (2009: 15) mengemukakan bahwa boleh dikatakan
tidak ada kurikulum yang menganut satu aliran sepenuhnya. Suatu kurikulum mungkin
mempunyai gabungan dari beberapa aliran filsafat pendidikan yang mendasarinya.
Berdasarkan uraian diatas, terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar
pengaruhnya dalam landasan filosofis kurikulum 2013 yaitu : Perenialisme,
Humanisme, Idealisme dan Progresivisme.

21

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan :
1.

Terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara
dengan filsafat negara yang dianutnya. Kurikulum pada hakikatnya adalah alat
untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi
oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa, maka kurikulum yang
dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang
dianut oleh bangsa tersebut.

2.

Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan, pemilihan dan


penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan
pendidik/peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa
Indonesia, yaitu Pancasila.

3.

Terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam
landasan filosofis kurikulum 2013 yaitu : Perenialisme, Humanisme, Idealisme dan
Progresivisme. Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang
memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang
diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu
bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya
bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa
kini.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan yang dikemukakan sebelumnya,
maka disarankan agar mencari sumber informasi yang lebih banyak, dan membahas
filsafat pendidikan yang lebih banyak juga dan membandingkan dengan kurikulum
yang lama.

22

DAFTAR PUSTAKA

Jayagiri, Hidayat. 2012. Kurikulum 2013 : Latar Belakang, Perubahan Konsep


Belajar, dan Jam Belajar. [online] http://www.hidayatjayagiri.net/2012/12/kurikulum2013-latar-belakang-perubahan.html [diakses 01 November 2013]
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Dokumen Kurikulum 2013.
Muhammad Nuh. 2013. Kurikulum 2013. Harian Kompas Kamis, 07 Maret 2013
Nasution, S. 2009. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta : Bumi Aksara
Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan-Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta
Rosidi, Sakban. 2013.Kurikulum 2013, menghina Filsafat Pendidikan?. [online].
http://filsafat.kompasiana.com/2013/06/23/kurikulum-2013-menghina-filsafat-pendidikan567702.html [diakses 01 November 2013]

Sadulloh, Uyoh. 2008. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : Alfabeta


Simanjuntak, Junihot. 2013. Filsafat Pendidikan dan Pendidikan Kristen. Jogjakarta :
Andi
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2012. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yamin, Mohammad. 2013. Panduan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan.
Jogjakarta : Diva Press

23