Anda di halaman 1dari 13

TRIAGE

Adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang
tersedia. Terapi berdasarkan pada prioritas ABC (Airway, Braething, Circulation). Triage juga
berlaku untuk pemilahan pendeita di lapangan atau pada keadaan bencana. Triage juga
berguna untuk menentukan rumah sakit rujukan mana yang sesuai dengan kondisi penderita
Tujuan dari triage adalah:
1.

Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera (perawatan di


lapangan)

2.

Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan (lifesaving surgery)

Ada dua jenis keadaan yang mempengaruhi proses triase:


1. Multiple Casualties
Musibah masal dengan junlah penderita dan beratnya perlukaan tidak melampaui
kemampuan petugas dan peralatan. Dalam hal ini penderita dengan masalah yang
mengancam jiwa dan multipel trauna akan dilayani terlebih dahulu
2. Mass Casualties
Musibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya luka melampaui kemampuan
petugas dan peralatan. Dalam keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah
penderita dengan kemungkinan hidup (survival) terbesar. serta membutuhkan waktu,
perlengkapan dan tenaga paling sedikit
Prinsip seleksi korban , berdasarkan:
1. Ancaman jiwa yang dapat mematikan (dalam ukuran menit)
2. Dapat mematikan (dalam ukuran jam)
3. Rudapaksa ringan
4. Sudah meninggal
Pedoman tim penolong:
1. Pemimpin triage hanya melakukan:
- Primary survey
- Menentukan prioritas penanganan dan pemindahan
- Menentukan pertolongan apa yang harus diberikan
2. Tanggung jawab tim triage:
- Mencegah kerusakan berlanjut/bertambah
- Memilah-milah korban
- Melindungi korban

Tag triage
Adalah label berwarna dengan form data pasien yang dipakaikan oleh petugas untuk
mengidentifikasi dan mencatat kondisi dan tindakan medik terhadap korban yang terdiri dari
warna hitam, merah, kuning, hijau, biru, dan putih
Triage dan pengelompokan berdasarkan tagging:
1. Prioritas nol (Hitam)
Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin diresusitasi. Seperti:
- Henti jantung yang kritis
- trauma kepala yang kritis
- Radiasi tinggi
2. Prioritas pertama (Merah)
Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik dan
transport SEGERA untuk tetap hidup. Seperti:
- Sumbatan jalan napas atau distres nafas
- Luka tusuk dada
- Hipotensi/shock
- Perdarahan pembuluh nadi besar
- Problema kejiwaan yang serius
- Tangan/kaki yang terpotong dengan shock
- Combutio Tk II > 25%
- Combutio Tk III > 25%
3. Prioritas kedua (Kuning)
Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera yang kurang berat dan dipastikan
tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien mungkin mengalami
cedera dalam jenis cakupan yang luas. Penanganan dan pemindahan bersifat
JANGAN TERLAMBAT. Seperti:
- Combutio Tk II/Tk III > 25%
- Patah tulang besar
- Trauma thorak/abdomen
- Laserasi luas
- Trauma bola mata
4. Prioritas ketiga (Hijau)
Pasien degan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera, memerlukan
bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian ulang berkala. Penanganan
dan pemindahan bersifat TERAKHIR. Seperti:
- Contusio dan laserasi otot ringan
- Combutio Tk II < 20% (kecuali daerah muka dan tangan)
5. Prioritas keempat (Biru)
Kelompok korban dengan cedera atau penyaki kritis dan berpotensi fatal yang berarti
tidak memerlukan tindakan dan transportasi
6. Prioritas kelima (Putih)
Kelompok yang sudah pasti tewas

Saat

tidak

ada

nasional baku untuk

triase.

Metode

yang

bisa secara METTAG

(Triage
triase

ini

dianjurkan
tagging
Penuntun

(Simple Triage And


1. Triage
Pendekatan

system)
Lapangan

atau

standard
triase
sistim
START

Rapid Transportation).
Sistem METTAG
yang dianjurkan untuk

memprioritaskan tindakan atas korban. Resusitasi di tempat

2. Triage Sistem Penuntun lapangan START


Berupa penilaian pasien 60 detik dengan mengamati ventilasi, perfusi, dan status
mental (RPM : R= status Respirasi ; P = status Perfusi ; M = status Mental) untuk
memastikan kelompok korban (lazimnya juga dengan tagging) yang memerlukan
transport segera atau tidak, atau yang tidak mungkin diselamatkan atau mati. Ini
memungkinkan penolong secara cepat mengidentifikasikan korban yang dengan risiko
besar akan kematian segera atau apakah tidak memerlukan transport segera.
Resusitasi diambulans.

Algoritma triage START

Kombinasi antara sistem METTAG dan START

KONSEP DASAR TRIAGE INSTALASI GAWAT DARURAT


KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
1. Pasien Gawat Darurat
Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya
dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapatkan pertolongan
secepatnya. Bisanya di lambangkan dengan label merah. Misalnya AMI (Acut Miocart Infac).
2. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. Bisanya di
lambangkan dengan label Biru. Misalnya pasien dengan Ca stadium akhir.
3. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota
badannya. Bisanya di lambangkan dengan label kuning. Misalnya : pasien Vulnus Lateratum
tanpa pendarahan.
4. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di lambangkan dengan
label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.
5. Pasien Meninggal
Label hitam ( Pasien sudah meninggal, merupakan prioritas terakhir. Adapun petugas triage
di lakukan oleh dokter atau perawat senior yang berpengalaman dan petugas triage juga
bertanggung jawab dalam operasi,pengawasan penerimaan pasien dan daerah ruang tunggu.
Selain dari penjelasan di atas di butuhkan pemahaman dampak atau psikologis pada saat
keadaan gawat darurat.
6. Aspek Psikologis Pada Situasi Gawat Darurat
Cemas
cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa
ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti
nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang
ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak sama.
Histeris
Dalam penggunaan sehari-hari nya histeria menjelaskan ekses emosi yang tidak terkendali.
Orang yang "histeris" sering kehilangan kontrol diri karena ketakutan yang luar biasa karena
suatu kejadian atau suatu kondisi
Mudah marah
Hal ini terjadi apabila seseorang dalam kondisi gelisah dan tidak tahu apa yang harus di
perbuat
I. Pendekatan Pelayanan keperawatan gawat Darurat
Tepat adalah melakukan tindakan dengan betul dan benar, Cermat adalah melakukan tindakan
dengan penuh minat, perhatian, sabar, tanggap terhadap keadaan pasient, penuh ketelitian dan
berhati-hati dalam bertindak serta hemat sesuai dengan kebutuhan sedangkan Cepat adalah
tindakan segera dalam waktu singkat dapat menerima dan menolong pasien, cekatan, tangkas
serta terampil.
Sementara itu urutan prioritas penanganan kegawatan berdasarkan pada 6-B yaitu :
B -1 = Breath system pernafasan
B -2 = Bleed system peredaran darah ( sirkulasi )
B -3 = Brain system saraf pusat
B -4 = Bladder system urogenitalis

B -5 = Bowl system pencernaan


B -6 = Bone system tulang dan persendian
Kegawatan pada system B-1, B-2, B-3, adalah prioritas utama karena kematian dapat terjadi
sangat cepat, rangkin pertolongan ini disebut Live Saving First Aid yang meliputi :
Membebaskan jalan napas dari sumbatan
Memberikan napas buatan
Pijat jantung jika jantung berhenti
Menghentikan pendarahan dengan menekan titik perdarahan dan menggunakan beban
Posisi koma dengan melakukan triple airway menuver, posisi shock dengan tubuh
horizontal, kedua tungkai dinaikan 200 untuk auto tranfusi
Bersikap tenang tapi cekatan dan berfikir sebelum bertindak, jangan panic
Lakukan pengkajian yang cepat terhadap masalah yang mengancam jiwa
Lakukan pengkajian yang siatematik sebelum melakukan tindakan secra menyeluruh.
Berdasarkan urain diatas dapat disimpulkan segera sesuai dengan standar dan fasilitas yang
tersedia karena faktor waktu dan infornasi terbatas untuk mencegah kematian dan mencegah
kecacatan.
II. PENGERTIAN
A. Pasien Gawat Darurat
Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam
nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan
secepatnya.
B. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat, misalnya
kanker stadium lanjut.
C. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datag tiba-tiba, tetapi tidak mngancam nyawa dan anggota
badannya, misanya luka sayat dangkal.
D. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misalnya pasien dengan ulcus tropiurn, TBC kulit, dan sebagainya.
E. Kecelakaan (Accident)
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai factor yang datangnya mendadak, tidak
dikehendaki sehinga menimbulkan cedera (fisik. mental, sosial)
F. Cedera
Masalah kesehatan yang didapat/dialami sebagai akibat kecelakaan.
G. Bencana
Peristiwa atau rangkaian peritiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang
mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. kerugian harta benda, kerusakan
Iingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap
tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pembangunan nasional yang memerlukan
pertolongar. dan bantuan.
III. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD)
1 Tujuan
a. Mencegah kematian dan cacat (to save life and limb) pada periderita gawat darurat, hingga
dapat hidup dan berfungs kembali dalarn masyarakat sebagaimana mestinya.
b. Merujuk penderita . gawat darurat melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan
yang Iebih memadai.
c. Menanggulangi korban bencana.
2 Prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dan salah satu
sistem/organ di bawah ini yaitu :

1. Susunan saraf pusat


2. Pernapasan
3. Kardiovaskuler
4. Hati
5. Ginjal
6. Pankreas
Kegagalan (kerusakan) sistem/organ tersebut dapat disebabkan oleh:
1. Trauma/cedera
2. lnfeksi
3. Keracunan (poisoning)
4. Degenerasi (failure)
5. Asfiksi
6. Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and
electrolit)
7.Dan lain-lain.
Kegagalan sistem susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernapasan dan hipoglikemia dapat
menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4-6 menit). sedangkan kegagalan sistem/organ
yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama.
Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Pendenta Gawat Darurat (PPGD) dalam
mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh:
1. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat
2. Kecepatan meminta pertolongan
3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan ditempat kejadian, dalam perjalanan
kerumah sakit, dan pertolongan selanjutnya secara mantap di Puskesmas atau rumah sakit.
IV. SISTEM PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT
1. Tujuan
Tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal, terarah dan terpadu bagi setiap
anggota masyarakat yang berada daam keadaan gawat darurat.
Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada dasarnya mencakup suatu
rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu mencegah
kematian atau cacat yang mungkin terjadi.
Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi:
a. Penanggulangan penderita di tempat kejadian
b. Transportasi penderita gawat darurat dan tempat kejadian kesarana kesehatan yang lebih
memadai.
c. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan penanggulangan
penderita gawat darurat.
d. Upaya rujukan ilmu pengetahuan,pasien dan tenaga ahli
e. Upaya penanggulangan penderita gawat darurat di tempat rujukan (Unit Gawat Darurat
dan ICU).
f. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat.
2. Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Gawat Darurat
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas diatur dalam
pasal 51 UU No.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang dokter wajib
melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Selanjutnya, walaupun dalam
UU No.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun
secara tersirat upaya penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenarnya merupakan hak setiap
orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4).Selanjutnya pasal 7
mengatur bahwa Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang mampu.6

Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang diselenggarakan
oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta). Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban
untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu
persyaratan ijin rumah sakit. Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk
meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian pelayanan.Dalam penanggulangan pasien
gawat darurat dikenal pelayanan fase pra-rumah sakit dan fase rumah sakit. Pengaturan
pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam Peraturan Menteri
Kesehatan No.159b/ 1988 tentang Rumah Sakit, di mana dalam pasal 23 telah disebutkan
kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat selama 24 jam per
hari. Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang spesifik. Secara umum
ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah pasal 7 UU No.23/1992 tentang
Kesehatan, yang harus dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik untuk pelayanan gawat
darurat fase pra-rumah sakit. Bentuk peraturan tersebut seyogyanya adalah peraturan
pemerintah karena menyangkut berbagai instansi di luar sector kesehatan.
3. Masalah Lingkup Kewenangan Personil dalam Pelayanan Gawat Darurat
Hal yang perlu dikemukakan adalah pengertian tenaga kesehatan yang berkaitan dengan
lingkup kewenangan dalam penanganan keadaan gawat darurat. Pengertian tenaga kesehatan
diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang Kesehatan sebagai berikut:6 tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Melihat ketentuan
tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan kewenangan
khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil. Pengaturan
tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan dapat dilihat dalam
pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan
berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh
tenagakesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. 6 Ketentuan tersebut
dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan, sehingga akibat yang
dapat merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari, khususnya
tindakan medis yang mengandung risiko. Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam
melakukan tindakan medik diatur dalam pasal 50 UU No.23/ 1992 tentang Kesehatan yang
merumuskan bahwa tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan
kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang
bersangkutan.6 Pengaturan di atas menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah
sakit, di mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai
tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal
pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus
menerapkan standar profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu.6,10 Pelayanan
gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan pertama dilakukan oleh
masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupu yang terlatih di bidang medis. Dalam hal itu
ketentuan perihal kewenangan untukmelakukan tindakan medis dalam undang-undang
kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan, karena masyarakat melakukan hal itu dengan
sukarela dan dengan itikad yang baik. Selain itu mereka tidak dapat disebut sebagai tenaga
kesehatan karena pekerjaan utamanya bukan di bidang kesehatan. Jika tindakan fase prarumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah mendapat pendidikan khusus di
bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang tugasnya di bidang ini (misalnya petugas
118), maka tanggungjawab hukumnya tidak berbeda dengan tenaga kesehatan di rumah sakit.
Penentuan ada tidaknya kelalaian dilakukan dengan membandingkan keterampilan
tindakannya dengan tenaga yang serupa.

4. Masalah Medikolegal pada Penanganan Pasien Gawat Darurat


Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi hubungan
hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan pelayanan gawat darurat. Karena
secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege tertentu bagi tenaga
kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat. Menurut The American Hospital
Association (AHA) pengertian gawat darurat adalah: An emergency is any condition that in
the opinion of the patient, his family, or whoever assumes the responsibility of bringing the
patient to the hospital-require immediate medical attention. This condition continuesuntil a
determination has been made by a health care professional that the patients life or well-being
is not threatened.Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat
darurat walaupun sebenarnya tidak demikian.Sehubungan dengan hal itu perlu dibedakan
antara false emergency dengan true emergency yang pengertiannya adalah: A true emergency
is any condition clinically determined to require immediate medical care. Such conditions
range from those requiring extensive immediate care and admission to the hospital to those
that are diagnostic problems and may or may not require admission after work-up and
observation.Untuk menilai dan menentukan tingkat urgensi masalah kesehatan yang
dihadapi pasien diselenggarakanlah triage. Tenaga yang menangani hal tersebut yang paling
ideal adalah dokter, namun jika tenaga terbatas, di beberapa tempat dikerjakan oleh perawat
melalui standing order yang disusun rumah sakit. Selain itu perlu pula dibedakan antara
penanganan kasus gawat darurat fase pra-rumah sakit dengan fase di rumah sakit.4 Pihak
yang terkait pada kedua fase tersebut dapat berbeda, di mana pada fase pra-rumah sakit selain
tenaga kesehatan akan terlibat pula orang awam, sedangkan pada fase rumah sakit umumnya
yang terlibat adalah tenaga kesehatan, khususnya tenaga medis dan perawat. Kewenangan
dan tanggungjawab tenaga kesehatan dan orang awam tersebut telah dibicarakan di atas.
Kecepatan dan ketepatan tindakan pada fase pra-rumah sakit sangat menentukan
survivabilitas pasien.
5. Hubungan Hukum dalam Pelayanan Gawat Darurat
Di USA dikenal penerapan doktrin Good Samaritan dalam peraturan perundang-undangan
pada hampir seluruh negara bagian. Doktrin tersebut terutama diberlakukan dalam fase prarumah sakit untuk melindungi pihak yang secara sukarela beritikad baik menolong seseorang
dalam keadaan gawat darurat.3,5 Dengan demikian seorang pasien dilarang menggugat
dokter atau tenaga kesehatan lain untuk kecederaan yang dialaminya. Dua syarat utama
doktrin Good Samaritan yang harus dipenuhi adalah :
1. Kesukarelaan pihak penolong. Kesukarelaan dibuktikan dengan tidak ada harapan atau
keinginan pihak penolong untuk memperoleh kompensasi dalam bentuk apapun. Bila pihak
penolong menarik biaya pada akhir pertolongannya, maka doktrin tersebut tidak berlaku.
2. Itikad baik pihak penolong. Itikad baik tersebut dapat dinilai dari tindakan yang dilakukan
penolong. Hal yang bertentangan dengan itikad baik misalnya melakukan trakeostomi yang
tidak perlu untuk menambah keterampilan penolong. Dalam hal pertanggungjawaban hukum,
bila pihak pasien menggugat tenaga kesehatan karena diduga terdapatkekeliruan dalam
penegakan diagnosis atau pemberian terapi maka pihak pasien harus membuktikan bahwa
hanya kekeliruan itulah yang menjadi penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause).5 Bila
tuduhan kelalaian tersebut dilakukan dalam situasi gawat darurat maka perlu
dipertimbangkan faktor kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi.2 Jadi, tepat atau
tidaknya tindakan tenaga kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang
berkualifikasi sama, pada pada situasi dan kondisi yang sama pula. Setiap tindakan medis
harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed consent). Hal itu telah diatur sebagai
hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan pasal 53 ayat 2 dan Peraturan Menteri
Kesehatan No.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. Dalam keadaan gawat darurat
di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak

didampingi pasien, tidak perlu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri
Kesehatan No.585/1989). Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk
tertulis, maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.

Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD)


Instalasi Gawat Darurat (IGD) Merupakan unit Rumah Sakit yang memberikan perawatan
pertama kepada pasien. Unit ini dipimpin oleh seorang dokter jaga dengan tenaga dokter ahli
dan berpengalaman dalam menangani PGD ( Pelayanan Gawat Darurat ), yang kemudian bila
dibutuhkan akan merujuk pasien kepada dokter spesialis tertentu.
Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan mengenai Standar Instalasi Gawat
Darurat (IGD) Rumah Sakit yang tertuang dalam KEPMENKES RI No.
856/MENKES/SK/IX/2009 untuk mengatur standarisasi pelayanan gawat darurat di rumah
sakit. Guna meningkatkan kualitas IGD di Indonesia perlu komitmen Pemerintah Daerah
untuk membantu Pemerintah Pusat dengan ikut memberikan sosialisasi kepada masyarakat
bahwa dalam penanganan kegawatdaruratan dan life saving tidak ditarik uang muka dan
penanganan gawat darurat harus dilakukan 5 (lima) menit setelah pasien sampai di IGD.
Triage
Triage adalah proses pemilahan pasien berdasarkan kondisinya. Pasien yang tidak gawat
darurat diarahkan ke area tidak gawat darurat (garis hijau) atau diarahkan ke poliklinik yang
sesuai. Untuk pasien gawat saja/darurat saja /pasien yang memerlukan tindakan diarahkan ke
area observasi dan area tindakan (garis kuning), sedangkan untuk pasien kondisi gawat
darurat/kondisi yang mengancam jiwa maka diarahkan ke ruang resusitasi (garis merah).
Untuk pasien yang sudah meninggal dunia diarahkan ke garis hitam, yaitu garis yang menuju
ke kamar jenasah. Garis warna hijau,kuning,merah dan hitam tersebut biasa disebut garis
triage (triage line).
Pada saat pasien masuk ke IGD ,maka pasien akan mengalami proses pemilahan oleh seorang
dokter yang bertugas sebagai triage officer (TO). Setelah itu maka pasien akan diarahkan
sesuai kondisinya dan mendapat pelayanan sesuai kondisi penyakitnya.
Alat Medi Sarana & Fasilitas
Alat medis yang ada di IGD cukup lengkap. Alat medis tersebut antara lain : Alat
pemeriksaan rutin, Elektrocardiografi (EKG/alat untuk memeriksa aktifitas elektronik
jantung), ventilator (alat bantu nafas mekanik), defibrillator (alat kejut jantung), radiant
warmer (penghangat bayi),emergency kit, dll. Semua alat tersebut telah memenuhi standard ,
dikalibrasi secara berkala, diadakan perbaikan dan penggantian sesuai standar yang
ditetapkan. Peralatan medis senantiasa diupayakan berkualitas dan digunakan secara tepat
untuk keselamatan pasien (patient safety)
Sarana dan fasilitas yang ada di IGD meliputi ruang triage, ruang pemeriksaan , ruang
observasi, ruang tindakan bedah, ruang kegawatdaruratan bayi,ruang kegawatdaruratan
kebidanan,ruang isolasi dan ruang resusitasi. Selain ruang tersebut, tersedia pula ruang
tunggu untuk pasien dan kamar mandi pasien. Bangunan IGD cukup representative,dengan
dilengkapi AC dan peralatan pendukung yang semua ditujukan untuk kenyamanan pasien.

Alur Pelayanan

Pada saat pasien datan


g ke IGD, pasien akan mengalami proses
triage/pemilahan oleh seorang triage officer. Setelah itu pasien akan mendapatkan pelayanan
sesuai kondisinya (apakah sesuai garis hijau/kuning/merah atau hitam) Pada saat proses triage
atau setelah proses triage , maka keluarga pasien /pengantar secara bersamaan diarahkan
untuk mendaftarkan identitas pasien. Di IGD pasien akan dilayanani oleh dokter jaga dan
perawat. Untuk kepentingan diagnose dan terapi, maka dokter jaga akan melengkapi
pemeriksaan fisik dan penunjang (lab,radiologi). Dokter jaga IGD juga didukung oleh dokter
spesialis yang lengkap dan siap on call 24 jam. Setelah mendapat pelayanan di IGD, pasien
dapat dirawat, pulang atau bahkan ada yang meninggal. Diakhir proses pelayanan ,maka
pasien dan keluarganya akan menyelesaikan administrasi, sedangkan untuk pasien dirawat ,
maka penyelesaian administrasi pada saat pasien pulang dirawat.

SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)


SPGDT adalah sebuah sistem penanggulangan pasien gawat darurat yang terdiri dari unsur,
pelayanan pra Rumah Sakit, pelayanan di Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit. Pelayanan
berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang
melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan
ambulans gawat darurat dan sistem komunikasi.
SPGDT dibagi menjadi :
SPGDT-S
(Sehari-Hari)
SPGDT-S adalah rangkaian upaya pelayanan gawat darurat yang saling terkait yang
dilaksanakan ditingkat Pra Rumah Sakit di Rumah Sakit antar Rumah Sakit dan terjalin
dalam suatu sistem. Bertujuan agar korban/pasien tetap hidup. Meliputi berbagai rangkaian
kegiatan sebagai berikut :
1. Pra Rumah Sakit
1. Diketahui adanya penderita gawat darurat oleh masyarakat
2. Penderita gawat darurat itu dilaporkan ke organisasi pelayanan penderita gawat
darurat untuk mendapatkan pertolongan medik
3. Pertolongan di tempat kejadian oleh anggota masyarakat awam atau awam khusus
(satpam, pramuka, polisi, dan lain-lain)
4. Pengangkutan penderita gawat darurat untuk pertolongan lanjutan dari tempat
kejadian ke rumah sakit (sistim pelayanan ambulan)
2. Dalam Rumah Sakit
1. Pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit
2. Pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan)
3. Pertolongan di ICU/ICCU
3. Antar Rumah Sakit
1. Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan)
2. Organisasi dan komunikasi
SPGDT-B (Bencana)SPGDT-B adalah kerja sama antar unit pelayanan Pra Rumah Sakit dan
Rumah Sakit dalam bentuk pelayananan gawat darurat terpadu sebagai khususnya pada
terjadinya korban massal yg memerlukan peningkatan (eskalasi) kegiatan pelayanan seharihari. Bertujuan umum untuk menyelamatkan korban sebanyak banyaknya.
Tujuan Khusus :

1. Mencegah kematian dan cacat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam
masyarakat sebagaimana mestinya.
2. Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang lebih memadai.
3. Menanggulangi korban bencana.
Prinsip mencegah kematian dan kecacatan :
1. Kecepatan menemukan penderita.
2. Kecepatan meminta pertolongan.
Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :
1. Ditempat kejadian.
2. Dalam perjalanan kepuskesmas atau rumah-sakit.
3. Pertolongan dipuskesmas atau rumah-sakit.
source
:http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/SPGDT_SC_PSC_RHA.html
http://proemergency-library.blogspot.com/2009/07/sistem-penanggulangan-gawatdarurat.html

Anda mungkin juga menyukai