Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1 Hubungan Konsep Kesehatan Pariwisata dengan Hasil Studi Lapangan
Pariwisata memiliki sifat yang sangat multidimensi, tidak hanya berkaitan dengan
ekonomi, lingkungan maupun dimensi lainnya, tetapi juga berhubungan dengan masalah
kesehatan. Terutama berbagai resiko kesehatan yang potensial muncul akibat kontak antara
pengunjung dengan lingkungan serta masyarakat local (Negara, I Made Kusuma, 2008).
Peranan pariwisata bagi Bali dalam pembangunan tidak perlu dipertanyakan lagi, bahkan
pariwisata telah menjadi sektor andalan dalam pembangunannya. Peranan pariwisata dapat
dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja terutama meningkatnya
kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu, pariwisata telah membentuk citra
Bali sebagai salah satu destinasi internasional dengan indikasi bahwa Bali relatif ramai
dikunjungi wisatawan asing (Negara, I Made Kusuma, 2008).
Hal ini memberikan tantangan seiring dengan tuntutan kebutuhan wisatawan yang sarat
akan kualitas dan kuantitas pelayanan jasa pariwisata. Terlebih lagi dengan citra Bali yang telah
terbentuk selama ini di mata wisatawan, sehingga muncul sebutan Bali The Island of Gods, The
Island of Paradise ataupun The Island of Thousand Temples. Dengan kunjungan wisatawan asing
dan domestik yang rata-rata mencapai 1,5 juta orang per tahunnya, sangat tidak berlebihan kalau
Majalah Time and Travel Leisure menganugerahkan Bali sebagai pulau wisata terbaik di dunia
(Negara, I Made Kusuma, 2008).
Note : ini belum fix dek agak, maunya liat punya ika dulu hasil obsevasi
Bak baca yang di bawah punya guna, kok rasanya aneh nok.. bener kayak gini maksudnya

4.2 Analisis SWOT Kegitan Studi Lapangan Di Bukit Campuhan Dengan Perbandingan
Jurnal
Kesehatan wisata telah menjadi isu utama dalam keselamatan wisata. Dalam konsep
kesehatan wisata dikemukakan bahwa wisatawan yang menikmati liburannya, sekembalinya ke
tempat asalnya, diharapkan dapat merehabilitasi atau membuat dirinya lebih sehat dari
sebelumnya, dan bukan menjadi lebih buruk akibat mendapat penyakit dalam perjalanan
wisatanya (Leggat dalam Laksono, 2001).
Berdasarkan jurnal Travel medicine practice, education and research in brazil current
state and future perspectives yang membahas terkait pendekatan travel medicine dengan focus
pada pendidikan, pelatiham, pengembangan dan standar praktik, mungkin dapat diadopsi di
Brazil yang merupakan katagori Negara berkembang, Indonesia memiliki kesamaan dengan
Brazil yang juga termasuk katagori Negara berkembang, eleman esensial dari pelayanan travel
medicine meliputi; pengkajian risiko kesehatan perjalanan, sarana kesehatan pra-wisata,
informasi spesifik untuk kelompok wosatawan khusus atau perjalanan khusus, pencegahan
malaria, vaksin wisatawan, dukungan dan sarana selama perjalanan, penilaian dari wisatawan
yang kembali dalam keadaan sakit dan penelitian travel medicine dan audit klinik.
Penyedia perawatan kesehatan wisata membutuhkan pengetahuan tentang epidemiologi,
pengakuan dan pencegahan penyakit menular yang berhubungan dengan perjalanan, termasuk
penyakit menular tropis; indikasi, kontraindikasi dan administrasi vaksinasi bagi wisata;
pencegahan dan pengelolaan risiko penyakit non-menular termasuk yang dapat mempengaruhi
wisatawan dengan yang sudah ada sebelumnya kondisi medis; dan identifikasi penyakit pada
wisatawan kembali. Kualitas kesehatan perawatan pra-wisata tergantung pada melakukan
penilaian risiko yang komprehensif dan individual dari jadwal perjalanan yang diusulkan dengan
mempertimbangkan sejarah medis pelancong, obat yang dibutuhkan, alergi dan riwayat
imunisasi. Perawat sebagai tenaga kesehatan dapat menjadikan pedoman travel medicine, dalam
memberikan asuhan keperawatan pada wisatawan (Oliviera F.R. et al., 2015).
1. Bukit Tjampuhan Ubud
Dalam obsevasi lapangan terkait dengan objek wisata bukit Campuhan, apabila di fokuskan
pada pelayanan kesehatan secara nyata tidak terdapat klinik atau pelayanan kesehatan di area

bukit Campuhan dan apabila dilihat dari beberapa aspek lain analisis SWOT dari studi
lapangan di Bukit Campuhan dengan perbandingan jurnal atau teori:
a. Kekuatan (S)
Menurut Suwantoro (2004) Empat kelompok faktor yang mempengaruhi penentuan
pilihan daerah tujuan wisata, seperti: a) Fasilitas: akomodasi, atraksi, jalan, tanda-tanda
penunjuk arah. b) Nilai estatis: pemandangan (panorama), iklim santai/terpencil, cuaca.c)
Waktu/biaya: jarak dari tempat asal (rumah), waktu dan biaya perjalanan, hargaharga/tarif-tarif pelayanan.d) Kualitas hidup (quality of life): keramah-tamahan penduduk,
bebas dari pencemaran, penampilan perkotaan. Berdasarkan hasil observasi di tempat
wisata bukit Tjampuamg beberapa aspek dapat menjadi kekuatan dari Bukit Tjampaung,
diantaranya dari faktor fasilitas terdapat petunjuk arah jalan menyusuri bukit, terdapat
akses

jalan yang mudah dalam menyusuri bukit Campuhan, dari factor estatis

pemandangan di bukit Campuhan sangat indah (hal tersebut juga didukung oleh hasil
wawancara pada 5 wisatawan asing yang mengunjungi bukit), cuaca di bukit Campuhan
sangat cerah, akses dari bukit Campuhan juga tidak terlalu sulit atau tidak terlalu terpencil,
dari factor kalitas hidup bukit Campuhan memiliki lingkunganyang bersih karena tidak
terdapat indikasi pencemaran dari udara ataupun air dari hasil pengamatan.
Terdapat peraturan dalam menjaga kebersihan tempat wisata berupa papan pengumuman
tentang larangan membuang sampah sembarang, dan aturan denda 500ribu rupiah bagi
yang melanggar, di sepanjang bukit Campuhan juga tersedia fasilitas tempat sampah.
Bentuk aturan dan penyediaan fasiltas tersebut dapat berpengaruh terhadap kebersihan
tempat wisata bukit Campuhan
b. Kelemahan (W)
Berdasarkan hasil studi lapangan yang dilakukan di salah satu tempat wisata terkenal di
Ubut yaitu Bukit Campuhan, beberapa analisis kekuarangan yang dapat di observasi
diantaranya:
Tidak tersedianya toilet di tempat wisata bukit Campuhan di sepanjang perjalanan
menyusuri bukit, toilet merupakan salah satu sarana sanitasi yang paling vital.
Perkembangan globalisasi yang sangat pesat juga berdampak pada mobilisasi perorangan
yang sangat tinggi, baik dari segi jarak travel yang semakin beragam, juga dibarengi
dengan frekuensi berpergian yang semakin tinggi. Hal ini menyebabkan meningkatnya
kebutuhan akan sarana umum di luar tempat tinggal, dan toilet termasuk salah satu yang
terpenting (Dwipayanti U.,2008). Jumlah wisatawan yang melakukan kunjungan di bukit

Tjampuan dari hasil observasi cukup banyak, melihat hal tersebut keterbatasan atau tidak
tersedianya sarana toilet merupakan suatu kekurang dalam aspek kesehatan pariwisata.
Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki peraturan yang dengan khusus mengatur
tentang toilet umum dan kewajiban oleh pemerintah setempat untuk pengadaanya.
Penyediaan sarana toilet umum untuk perkantoran telah diatur dalam Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 261/MENKES/SK/II/1998 Tentang: Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kerja. Namum dalam peraturan ini hanya diatur mengenai jumlah sarana dan keharusan
memisahkan toilet berdasarkan gender, lebih dari itu tidak ada ketentuan lain mengenai
toilet, apalagi toilet umum.
Salah satu ketentuan WTO dalam Laksono (2001) bahwa negara tujuan wisata
bertanggungjawab dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan
wisatawan. Pelayanan kesehatan tersebut dapat berupa pelayanan kesehatan milik
pemerintah maupun swasta. Selain itu, negara tujuan wisata memiliki tanggung jawab
untuk memberikan informasi tersebut kepada wisatawan ataupun perwakilan wisata yang
ada di negara tersebut. Berdasarkan konsep tersebut, hasil observasi di objek wisata
Campuhan, tidak menyediakan ada pelayanan kesehatan yang terdekat di area bukit.
Bentuk perjalanan di sepanjang bukit Campuhan cukup curam dengan pinggiran berupa
padang rumput yang memungkinkan terjadinya cedera pada wisatawan yang berkunjung.
c. Kesempatan (O)
Berdasarkan konsep keperawatan pariwiasta yaitu wisatawan yang menikmati liburannya
bukan menjadi lebih buruk akibat mendapat penyakit dalam perjalanan wisatanya (Leggat
dalam Laksono, 2001) dilihat dari kondisi bukit Campuhan yang cukup terjal dan di
sepanjang jalan dari bukit hanya di batasi oleh padang rumput sehingga kemungkinan
cedara menjadi sangat besar, selain itu daerah bukit juga terdapat banyak serangga dan
nyamukn yang dapat menyebabkan maslaha kesehatan bagi para wisatawan, sehinggan
peluang dalam dari bidang keperawatan dalam menunjuang dari citra keperawatan untuk
melakukan peran sebagai educator dalam memberiakan penjelasan pada wistawan terkait
penggunaan sepatu yang nyaman sebelum menyusuri bukit, menggunakan obat nyamuk,
memstikan menggunakan pakaian dengan lengan panjang untuk mencegah gigitan
serangga serta bahan yang mudah menyerap keringat terkait dengan cuaca yang cukup
panas dan perjalanan yang cukup jauh dalam mendaki bukit, selain itu juga penting untuk

menjelaskan pada wisatawan untuk membawa air minum untuk mencegah dehidrasi
karena di sepanjang bukit tidak terdapat penjual minuman.
d. Ancaman (T)
Ubud terutama terkenal di antara para wisatawan mancanegara karena lokasi ini terletak di
antara sawah dan hutan yang terletak di antara jurang-jurang gunung yang membuat alam
sangat indah. Selain itu Ubud dikenal karena seni dan budaya yang berkembang sangat
pesat dan maju. Beberapa bentuk tempat wisata yang terkenal di Ubud berdasarkan situs
pariwisata ubud selain Bukin Campuhan adalah Monkey Forest, Treking Authentik Bali,
bersepeda di persawahan hijau, Museum seni, dan Ayun Rafting. Karena banyaknya
pilihan tempat wisata lain di Ubud kemungkinan dapat menjadi anacaman penurunan
kunjungan wisata ke Bukit Campuhan.
2. Wisata Rafting Ayung Ubud
Menurut konsep travel Medice menjelaskan bahwa tujuan yang diharapkan dengan adanya
travel medicine disetiap tempat wisata ialah pencegahan dan pengelolaan penyakit yang
berhubungan dengan pariwisata.
Analisis SWOT tempat wisata Rafting Ayung Ubud :
a. Kekuatan (S)
Menurut Suwantoro (2004) Empat kelompok faktor yang mempengaruhi penentuan
pilihan daerah tujuan wisata, seperti: a) Fasilitas: akomodasi, atraksi, jalan, tanda-tanda
penunjuk arah. b) Nilai estatis: pemandangan (panorama), iklim santai/terpencil, cuaca.c)
Waktu/biaya: jarak dari tempat asal (rumah), waktu dan biaya perjalanan, hargaharga/tarif-tarif pelayanan.d) Kualitas hidup (quality of life): keramah-tamahan
penduduk, bebas dari pencemaran, penampilan perkotaan. Berdasarkan hasil observasi di
tempat wisata rafting di tukad ayung ubud beberapa aspek dapat menjadi kekuatan dari
wisata rafting tersebut, diantaranya dari fasilitas yang disediakan yaitu toilet yang bersih
dan jumlah yang memadai sehingga menyebabkan wisatawan dapat menggunakan toilet
dengan bebas dan tidak menunggu saat mengganti pakaian. Dimana yang kita ketehaui
rafting merupakan salah satu wisata yang sangat berbahya bahkan dapat mengancam
nyawa. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pegawai di perusahaan Rafting di
tukad ayung menjelaskan bahwa perusahaan rafting di ubud memberikan asuransi
kecelakaan. Hal tersebut dapat menjadi kekuatan dari tempat wisata rafting di Tukad
Ayung Ubud.

Berdasarkan konsep kesehatan pariwisata yang menjelaskan bahwa wisatawan yang


berkunjung ke tempat wisata harus di dijelaskan secara menyeluruh terkait cara
menjalankan wisata tersebut dan hal-hal yang mungkin terjadi saat melakukan wisata.
Menurut hasil observasi yang dilakukan konsep kesehatan pariwisata ini terdapat di
tempat wisata rafting di ubud dimana sebelum melakukan rafting wisatawan diberikan
helm dan pelampung. Selain itu wisatawan juga menjelaskan secara detail hal-hal yang
harus dilakukan oleh wisatawan saat melakukan kegaiatan rafting (apabila terdapat batu
goyangkan badan, apabila terdapat air terjun rebahkan badan, memberikan kode-kode
tertentu).
b. Weakness (W)
Berdasarkan analisis hasil observasi yang dilakukan di tempat wisata Rafting Ayung
Ubud terdapat beberapa kelemahan yang dimiliki anatara lain tempat wisata rafting
tersebut tidak dapat dinikmati oleh semua kalangan umur seperti para lansia tidak dapat
menikmati wisata air (rafting). Dimana menurut konsep menjelaskan bahwa rekreasi
merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas lansia. Tujuan dari rekreasi bagi
lansia ialah dapat membuat para lansia ceria dan bahagia sehingga depresi dan rasa cemas
yang dihadapi oleh lansia dapat berkurang. Hal ini dapat menjadi kelemahan bagi tempat
wisata rafting Ayung ubud dimana tempat wisata rafting Ayung Ubud tidak dapat
berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup para lansia.
c. Kesempatan (O)
Berdasarkan konsep keperawatan pariwiasta yaitu wisatawan yang menikmati liburannya
bukan menjadi lebih buruk akibat mendapat penyakit dalam perjalanan wisatanya (Leggat
dalam Laksono, 2001) dilihat kegiatan rafting yang cukup berbahaya dimana terdapat
batu-batu besar di sungai dan terdapat ranting-ranting pohon yang sudah tua sehingga
kemungkinan wisatawan terjatuh dan cedera menjadi sangat besar, selain itu daerah
sungai ayung juga terdapat banyak serangga dan terkadang terdapat ular yang dapat
menyebabkan masalah kesehatan bagi para wisatawan, sehinggan peluang dalam dari
bidang keperawatan dalam menunjuang dari citra keperawatan untuk melakukan peran
sebagai care giver dalam memberiakan asuhan keperawatan pada wistawan terkait
bantuan segera apabila pasien pinsan dalam rafting, perawatan luka apabila wisatawan
terluka dan penanganan segera apabila wisatawan tergigit ular karena terdapat banyak
masalah tergigit ular yang terjadi di tempat wisata tersebut.
d. Ancaman (T)

Rafting merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki daya tarik tinggi. Ubud
merupakan salah tempat wisata yang menyediakan tempat rafting yaitu tempat wisata
Ayung Rafting Ubud. Namun di Bali masih banyak tempat wisata rafting yang sama
menariknya dengan yang difasilitasi di ubud diataranya Bali River Rafting yang
bertempat di Renon, Alam Rafting Bali yang bertempat di Karangasem, Bali International
Rafting yang bertempat di Padanggalak. Hal tersebut dapat menjadi acaman bagi tempat
wisata Rafting Ayung Ubud yang dapat menyebabkan penurunan kunjungan akibat masih
banyaknya tempat wisata rafring di Bali.
Laksono trisnantoro. (2001). Pelayanan Kesehatan Wisata : Antara Tuntutan Global Dan
Keadaan Di Indonesia. Buku kumpulan makalah one-day course on Travel related
infections, yogyakarta, 12 juli. Perhimpunan kesehatan Wisata indonesia (PKWI) dan
perhimpunan peneliti penyakit tropik dan Infeksi indonesia (PETRI).
Oliviera f.r. et al., (2015). Travel medicine practice, education and research in brazil current
state and future perspectives. Brazilian journal of medicine and human health;3(1):12-18
Dwipayanti U.,(2008). Ketersediaan dan pengelolaan toilet tempat wisata pulau bali. Kesehatan
dalam pariwisata PS IKM UNUD.
Negara, I Made Kusuma. (2008). Peranan Kesehatan Wisata Dalam Mendukung Citra Bali.
Kesehatan dalam pariwisata PS IKM UNUD.
Suwantoro (2004).