Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PSIKOLOGI SOSIAL

PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

Di susun Oleh :
1.

ANDI YULIANTO

2014006

2.

APRILIA BUDI WAHYUNI

2014007

3.

AVINDA AYU FAUZIAH

2014008

4.

AYU DEWI KARTIKA SARI

2014009

5.

AYU LESTARI

2014010

AKADEMI PEREKAM MEDIS DAN INFORMATIKA KESEHATAN


CITRA MEDIKA SURAKARTA
2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam Prasangka dan
diskriminasi.
Harapan kami semoga makalah ini membantu, menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman
yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 23 Juli 2015


Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

B.

Rumusan Masalah

C.

Tujuan 2

BAB II PEMBAHASAN
A.

Prasangka

B.

Diskriminasi 8

BAB III PENUTUP


A.

Kesimpulan

15

DAFTAR PUSTAKA

iii

iv

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri
atas berbagai suku bangsa, adat istiadat yang berbeda. Badan Pusat Statistik
(BPS) telah melakukan survei mengenai jumlah suku bangsa, dapat diketahui
bahwa Indonesia terdiri dari 1. 128 suku bangsa. Keanekaragaman tersebut
terdapat di berbagai wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan hidup yang berbeda
beda.

Kebiasaan hidup itu menjadi budaya serta ciri khas suku bangsa

tertentu. Keragaman tersebut di satu sisi, kita mengakuinya sebagai khazanah


budaya yang bernilai tinggi. Akan tetapi di sisi lain, ketika dua karakter sosial
dan budaya bertemu, primordialisme seakan menjadi satu sekat yang membuat
mereka benar-benar menjadi dua suku berbeda, seperti air dan minyak, hal ini
merupakan pencerminan dari stereotip itu sendiri.
Banyak pihak yang menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini
merupakan masyarakat yang suka berprasangka. Penilaian itu tentu bukan
tanpa dasar. Saat ini masyarakat Indonesia memiliki kecurigaan yang akut
terhadap segala sesuatu yang berbeda atau dikenal dengan istilah
heterophobia. Segala sesuatu yang baru dan berbeda dari umumnya orang
akan ditanggapi dengan penuh kecurigaan termasuk antar suku atau etnis.
Kehadiran anggota kelompok yang berbeda apalagi berlawanan akan dicurigai
membawa misi yang mengancam.
b. Rumusan Masalah
Untuk mengkaji dan mengulas tentang Prasangka Dan Diskriminasi,
maka diperlukan subpokok bahasan yang saling berhubungan, sehingga
penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Mengetahui secara menyeluruh arti dari prasangka.
2. Mengetahui sumber prasangka

3. Mengetahui proses terbentuknya prasangka


4. Mengetahui maksud dari diskriminasi.
5. Mengetahui strategi untuk mengurangi prasangka
c. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :


Arti atau pengertian dari prasangka.
Sumber prasangka.
Proses terbentuknya prasangka
Maksud dari diskriminasi.
Strategi untuk mengurangi prasangka

BAB II
PEMBAHASAN
A. Prasangka
Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota
kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka
dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991).

Misalnya karena pelaku

pengeboman di Bali adalah orang Islam yang berjeggot lebat, maka seluruh
orang Islam, terutama yang berjenggot lebat, dicurigai memiliki itikad buruk
untuk meneror. Sementara itu, Daft (1999) memberikan definisi prasangka
lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang
memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik,
atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam
Kamus Sosiologi menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikapsikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu.
Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas
masyarakat lain yang ada didalam masyarakat.

Sudah jamak kelas atas

berprasangka terhadap kelas bawah, dan sebaliknya kelas bawah berprasangka


terhadap kelas atas. Sebagai contoh, jika kelas atas akan bergaul dengan kelas
bawah maka kelas atas oleh kelas bawah dicurigai akan memanfaatkan
mereka.
Perasaan yang umumnya terkandung dalam prasangka adalah
perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci.
Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk
melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing,
dan berbagai tindakan negatif lainnya.

Sedangkan pengetahuan mengenai

objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak


berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai. Misalnya bila
latar belakang kelompoknya adalah etnik A, maka seseorang yang
berprasangka terhadapnya mesti memiliki pengetahuan yang diyakini benar
mengenai etnik A, terlepas pengetahuan itu benar atau tidak.

Prasangka merupakan salah satu penghambat terbesar dalam


membangun hubungan antar individu yang baik (Myers, 1999).

Bisa

dibayangkan bagaimana hubungan interpersonal yang terjadi jika satu sama


lain saling memiliki prasangka, tentu yang terjadi adalah ketegangan terus
menerus.

Padahal sebuah hubungan antar pribadi yang baik hanya bisa

dibangun dengan adanya kepercayaan, dan dengan adanya prasangka tidak


mungkin timbul kepercayaan. Sehingga adalah muskil suatu hubungan
interpersonal yang baik bisa terbangun. Dalam konteks lebih luas, kegagalan
membangun hubungan antar individu yang baik sama artinya dengan
kegagalan membangun masyarakat yang damai.
Menurut Poortinga (1990) prasangka memiliki tiga faktor utama yakni :
a. Stereotip
b. Jarak Sosial
c. Sikap Diskriminasi
Ketiga faktor itu tidak terpisahkan dalam prasangka. Stereotip
memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan
setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi.
Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) menggolongkan prasangka,
stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok,
yaitu suatu bentuk oposan terhadap kelompok lain.

Stereotip adalah

komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok.


Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak
suka. Dan, diskriminasi adalah komponen perilaku.
Masalah sosial akibat prasangka :
a.

Antikolisis : berupa gosip yang dimaksudkan untuk mengejek

b.

atau menyindir orang-orangm menadi obek prasangka


Diskriminasi: Individu yang berprasangka membuat perbedaan yang
tegas dalam memperlakukan orang-orang yang
disukainya dan yang tidak disukainya ke dalam

c.

komunitas tertentu.
Serangan fisik : dalam kondisi emosi yang sangat tinggi orang orang yang memiliki prasangka bisa melakukan

serangan atau kekerasan isik baik langsung


d.

maupun tidak langsung


Pembantaian : jika prasangka sudah mencapai tingkat yang paling
tinggi maka munculah dorongan untuk melakukan
pembantaian terhadap anggota outgroup.

1. Sumber prasangka
Sumber Prasangka terdiri dari :
a. Konflik langsung antar kelompok : Kompetisi sebagai sumber prasangka
Menurut pandangan ini prasangka berakar dari kompetisi antar
kelompok

sosial,

untuk

memperoleh

komoditas

berharga

atau

kesempatan. Ketika kelompok-kelompok bersaing satu sama lain untuk


memperoleh sumber daya yang berharga (pekerjaan, perumahan,
kesempatan, pendidikan), mereka dapat memandang satu sama lain
dengan pandangan negative yang terus meningkat. Hasilnya dapat
berupa perkembangan prasangka etnis atau rasial berskala penuh.
b. Pengalaman awal : Peran pembelajaran sosial
Berdasarkan pandangan proses belajar sosial, anak memperoleh
sikap negative melalui berbagai kelompok sosial karena mereka
mendengar pandangan tersebut diekspresikan oleh orang tau, teman,
guru, dan orang lain, dan arena mereka secara langsung diberikan
rewards untuk mengadopsi pandangan-pandangan ini. Selain itu dengan
mengobservasi orang lain, norma sosial yang berupa peraturan dalam
sebuah kelompok yang menyatakan tindakan atau sikap apa yang pantas
juga penting.

c. Kategori sosial : efek in -group, out-group, dan kesalahan atribusi utama


Pada umumnya orang membagi dunia sosial dalam dua kategori
yang berbeda, yaitu kita (in-group) dan mereka (out-group) yaitu
merujuk pada kategori sosial.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh

banyak dimensi, beberapa diantaranya adalah ras, agama, jenis kelamin,


usia, latar belakang etnis, pekerjaan, dan pendapatan. namun sayangnya,
pembagian tersebut tidak berhenti sampai disitu saja. Perbedaan
perasaan dan keyakinan yang tajam biasanya melekat pada anggota
kelompok in-group dan out-group. Orang yang termasuk dalam kategori
kita dipandang lebih baik, sementara anggota dalam kategori
mereka dipersepsika lebih negative. Perbedaan in-group dengan outgroup juga mempengaruhi atribusi (bagaimana membuat keputusan
tentang seseorang). Kita cenderung mengatribusikan tingkah laku yang
disukai pada anggota kelompok in-group sebagai sesuatu yang menetap,
tetapi jika tingkah laku tersebut muncul pada out-group

kita akan

mengatribusikan tingkah laku tersebut sebagai factor yang disebabkan


oleh factor eksternal atau factor sementara. Kecenderungan untuk
memberi atribusi yang lebih baik kepada anggota kelompok sendiri
daripada anggota kelompok lain terkadang dideskripsikan sebagai
kesalahan atribusi utama.
2. Terbentuknya prasangka
Prasangka terbentuk karena secara individu, mereka memiliki
prasangka karena dengan melakukannya mereka meningkatkan citra diri
mereka sendiri. Ketika individu yang berprasangka memandang rendah
sebuah kelompok yang dipandangnya negative, hal ini membuat mereka
yakin akan harga diri mereka sendiri, untuk merasa superior dengan
berbagai cara. Dengan kata lain, pada beberapa orang, prasangka dapat
memainkan sebuah peran penting untuk melindungi atau meningkatkan
konsep diri mereka. Alasan kedua untuk memiliki pandangan prasangka

adalah karena dengan melakukan hal tersebut kita dapat menghemat usaha
kognitif.

Stereotip secara khusus, tampaknya melakukan fungsi ini.

Ketika stereotip terbentuk, kita tidak perlu melakukan proses berfikir yang
hati-hati dan sistematis.
3. Strategi mengurangi prasangka
Strategi pertama adalah strategi yang konsisten dengan teori belajar
sosial, yaitu strategi pengubahan praktik praktik pengasuhan anak.
Strategi ini menjelaskan masyarakat perlu

mengubah praktik-praktik

pengasuhan anak menuju praktik pengasuhan yang lebih kondusif yang


menghargai kelompok lain dalam sudut pandang yang bersifat objektif.
Strategi kedua adalah meningkatkan kontak antar kelompok secara
langsung, manfaatnya :
a. Dapat memberikan kesadaran pada individu individu anggota
kelompok yang berbeda bahwa sesungguhnya mereka lebih memilikin
banyak kesamaan disbanding keyakinan tentang perbedaan yang
sebelumnya dimiliki
b. Melalui pemahaman timbal balik terhadap individu-individu yang
berasal daro kelompok lain, maka masing-masing dapat saling
mengenal satu dengan yang lain secara lebih baik.
c. Peningkatan kontak antar individu dapat membantu mengubah ilusi
keseragaman kelompok luar.
Strategi ketiga untuk menghilangkan atau mengurangi prasangka
adalah melalui strategi kategorisasi, strategi ini meliputi rekategorisasi dan
dekategorisasi.

Rekategorisasi

dapat

dilakukan

dengan

cara

mengembangkan suatu identitas bersama dalam kelompok ke kita an


daripada memecah suatu kelompok besar menjadi beberapa bagian yang
menghasilkan perasaan in-group dan out-group, sedangkan dekat egorisasi
adalah upaya-upaya yang menonjolkan eliminasi kategorisasi kelompok.
Dalam strategi ini terdapat penekanan pada pemahaman bahwa
setiap kelompok ada didalam individu-individu yang memiliki keunikan
masing masing.

B. Diskriminasi
Diskriminasi adalah perilaku negatif terhadap orang lain yang menjadi
target prasangka. Merasa tidak nyaman jika duduk di samping target
prasangka menunjukkan bahwa seseorang memiliki prasangka, namun
memutuskan untuk pindah tempat duduk untuk menjauhi target prasangka
adalah sebuah diskriminasi.
Dasar dari munculnya prasangka dan diskriminasi adalah stereotip.
Walaupun dikatakan bahwa stereotip adalah dasar dari prasangka dan
diskriminasi, namun tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki stereotip
negatif mengenai sebuah kelompok tertentu pasti akan menampilkan
prasangka dan diskriminasi.
Tujuan dari diskriminasi yaitu :
a. Seksisme
Prasangka dan diskriminasi yang paling banyak terjadi adalah
dalam membedakan antara pria dan wanita. Contoh paling nyata di
Indonesia adalah pada jaman Raden Ajeng Kartini. Dalam praktek
seksisme di tempat lain, sering terjadi apa yang disebut selective
infanticide, yaitu pembunuhan bayi perempuan (fetus). Biasanya hal
ini terjadi pada budaya yang lebih menilai tinggi kaum pria
ketimbang kaum hawanya. Praktek ini terdapat di beberapa
tempat,misalnya di RRC, Taiwan, Korea, dan India. Sedangkan
praktek seleksi jenis kelamin yang mengutamakan kaum perempuan
tidak ditemukan.
Dalam

praktik

kerja,

terjadi

praktik

prasangka

dan

diskriminasi yang dikenal dengan istilah glass ceiling effect, yaitu


adanya batas yang menghambat seseorang (dalam hal ini wanita)
untuk mengembangkan karirnya dengan leluasa seperti rekan kerja
prianya. Prasangka dan diskriminasi ini menghambat para manager
wanita yang handal sulit menduduki posisi top di organisasinya.

b. Rasisme
Diskriminasi terhadap ras dan etnis tampaknya merupakan
diskriminasi yang paling banyak menimbulkan perbuatan brutal di
muka bumi ini. Banyak penelitian psikologi sosial yang berfokus
pada sikap terhadap anti-kulit hitam di Amerika Serikat. Mereka
cenderung melihat bahwa kulit hitam merefleksikan persepsi umum
mengenai orang desa, budak, dan pekerja kasar. Penelitian tentang
sikap anti-kulit hitam di Amerika Serikat menunjukkan adanya
penurunan yang tajam sejak tahun 1930-an, namun demikianbukan
berarti bahwa prasangka rasial ini hilang di muka bumi ini. Adanya
sanksi yang jelas membuat tampilan diskriminasi yang jelas dan
eksplisit sulit lagi untuk ditemui. Namun demikian, bentuk
diskriminasi yang tersamar dan halus ternyata ditemukan. Bentuk
baru dari rasisme ini disebut aversive racism, modern racism
symbolic racism, regressive racism, atau ambivalent racism.
c. Ageism
Dalam sebuah komunitas, lansia biasanya diperlakukan
dengan penuh hormat. Masyarakat melihat bahwa kaum tua ini
berpengalaman, bijak, dan memiliki intuisi tajam yang biasanya
tidak dimiliki oleh kaum yang lebih muda. Namun, di masyarakat
lain kaum tua diperlakukan sebagai pihak yang kurang berharga dan
kurang memiliki kekuasaaan. Masyarakat yang seperti ini biasanya
sangat menghargai kaum mudannya dan memiliki stereo negatif
terhadap kaum tuanya. Biasanya mereka hidup alam keluarga inti.
Negara-negara yang masyarakatnya hidup dalam keluarga inti
adalah Amerika Serikat, Australia,Selandia Baru, Kanada dan
Inggris. Hasil penelitian dari Noels, Giles, dan La Poire (2003
dalam Vaughan dan Hogg, 2005) menunjukkan bahwa dewasa muda
cenderung menilai individu di atas 65 tahun sebagai orang yang

10

mudah tersinggung, tidak sehat, tidak menarik, pelit, tidak efektif,


kurang terampil secara sosial, lemah, terlalu mengontrol, terlalu
membuka diri, egosentris, tidak kompeten, kasar, dan ringkih.
d. Diskriminasi terhadap Kelompok Homoseksual
Ada pro-kontra dalam memandang homoseksual. Ada yang
melihatnya sebagai pilihan atas hak hidup dan ada juga yang
melihatnya sebagai perilakuu abnormal. Sikap negatif terhadap
kaum

homo

seksual

melahirkan

aturan-aturan

yang

dapat

menghukum orang yang mepraktikkan homoseksualitas.


Prasangka terhadap homoseksualitas ini makin menyebar.
Contoh, sebuah survei di AS oleh levitt dan Klasen tahun 1974
menunjukkan bahwa mayoritas orang memiliki belief bahwa
homoseksualitas adalah penyakit dan perlu dilarang secara legal.
Bahkan dalam penelitian Henry (1994 dalam Vaughan dan Hogg,
2005) ditemukan hanya 39% orang yang mau mengunjungi praktik
dokter seorang homoseksual.
Sebenarnya secara umum, pada tahun 1960 ada liberalisasi
progresif terhadap sikap untuk homoseksual. Walaupun demikian,
epidemik HIV yang mulai sejak tahun 1980-an menimbulkan
histeria

terhadap

homoseksualitas,

hingga

berkembang

jadi

homofobia.
e. Diskriminasi Berdasarkan Keterbatasan Fisik
Prasangka dan diskriminasi karena keterbatasan fisik sudah
berlangsung sejak lama, bahkan orang dengan keterbatasan seperti
ini dipandang sebagai menjijikkan dan kurang bermatabat. Saat ini
diskriminasi atas orang yang memiliki keterbatasan fisik dianggap
ilegal dan tidak diterima secara sosial, bahkan masyarakat di
Australia dan Selandia Baru sangat sensitif dengan kebutuhan

11

orang-orang yang berkebutuhan khusus ini. Mereka menyediakan


fasilitas umum yang mempertimbangkan kepentingan kaum yang
mengalami keterbatasan fisik ini, misalnya toilet khusus, jalur
khusus untuk kursi roda di area publik, atau adanya penyediaan
bahasa gerak di televisi. Sering kali masih ada ketidak nyamanan
yang dirasakan oleh beberapa orang jika di lingkungannya terdapat
orang dengan keterbatasan fisik. Selain itu, sering juga muncul
ketidakpastian karena tidak tahu bagaimana cara memperlakukan
mereka.
1. Bentuk Diskriminasi
a. Menolak untuk Menolong
Menolak untuk menolong orang lain (reluctance to help) yang
berasal dari kelompok tertentu sering kali dimaksudkan untuk
membuat kelompok lain tersebut tetap berada dalam posisinya yang
kurang beruntung. Selain itu,menolak untuk menolong adalah ciri-ciri
dari diskriminasi rasial yang nyata. Penelitian eksperimen dari
Gaertner dan Dovidio (1977 dalam Vaughan dan Hogg,2005)
menunjukkan bahwa orang kulit putih lebih menolak untuk menolong
confederate kulit hitam daripada confederate kulit putih dalam situasi
darurat.
b. Tokenisme
Tokenisme adalah minimnya perilaku positif kepada pihak
minoritas. Perilaku ini nanti digunakan sebagai pembelaan dan
justifikasi bahwa ia sudah melakukan hal baik yang tidak melanggar
diskriminasi,

misalnya

saya

sudah

memberikan

cukupkan?

Tokenisme dapat dipraktikkan oleh organisasi atau oleh masyarakat


luas. Di Amerika Serikat, ada kritik pada beberapa organisasi karena
adanya tokenisme untuk kelompok minoritas disana, yaitu kulit hitam,
perempuan dan orang Spanyol, yang dilakukan oleh oraganisasi kerja.

12

Organisasi ini hanya memperkerjakan kelompok minoritas sebagai


strategi untuk terhindar dari tuduhan melakukan diskriminasi.
Tokenisme pada level ini dapat menghancurkan harga diri orang yang
dikenai token ini.
c. Reserve Dicrimination
Bentuk token yang lebih ekstrem adalah reserve discrimination,
yaitu praktik melakukan diskriminasi yang menguntungkan pihak yang
biasanya menjadi target prasangka dan diskriminasi dengan maksut
agar mendapatkan justifikasi dan terbebas dari tuduhan telah
melakukan

prasangka dan diskriminasi.

Oleh karena

reserve

discrimination memberikan keuntungan kepada kelompok minoritas,


maka efek jangka pendeknya dapat dirasakan langsung. Namun dengan
berjalannya waktu ada konsekuensi negatif yang bisa ditanggung oleh
kelompok minoritas tersebut.
Menjadi penting bagi para peneliti untuk melihat apakah perilaku
positif yang ditampilkan kepada kelompok minoritas adalah benarbenar ungkapan untuk membantu orang yang kurang beruntung atau
justru sebuah reserve discrimination.
2. Mengendalikan Tingkat Diskriminasi
a. Belajar untuk Tidak Membenci
Ada pandangan yang mengatakan bahwa prasangka dibawa
seseorang sejak lahir. Sedangkan pandangan lain menegaskan bahwa
sikap negatif tersebut diciptakan, bukan dibawa dari lahir. Anak-anak
memiliki prasangka dengan mempelajari dari orang tuanya serta juga
dari media massa. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi
prasangka adalah dengan melarang orang tua atau orang dewasa lain
untuk menurunkan sikap negatifnya tersebut terhadap anak-anaknya.
Namundalam

prakteknya,

hal

ini

tidaklah

sesederhana

yang

dibicarakan. Langkah pertama adalah dengan membantu orang tua atau

13

orang dewasa untuk menyadari prasangka yang dimilikinya, kemudian


dapat memotivasinya lebih jauh untuk tidak menularkannya pada anakanaknya. Prasangka yang dimiliki membuat seseorang hidup tidak
cukup tenang karena selalu ada perasaan was-was jika ia berjumpa
dengan outgrup yang menjadi target prasangkanya.
b. Direct Intergroup Contact
Pettigrew (1981, 1997 dalam Baron dalam Byrne, 2003)
menyatakan bahwa prasangka yang terjadi antarkelompok dapat
dikurangi dengan cara meningkatkan intensitas kontak antara
kelompok yang berprasangka tersebut. Apa yang dijelaskannya ini
terkenal sebagai teori contact hypothesis. Dasar argumentasinya adalah
bahwa:

pertama,

meningkatnya

kontak

memungkinkan

terjadi

pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesamaan yang mungkin


mereka

miliki.

Kedua,walaupun

stereotip

resisten

terhadap

perubahan,namun stereotip dapat berubah jika ada sejumlah informasi


yang tidak konsisten atau bisa juga karena menemukan adanya
sejumlah pengecualian dalam stereotip yang dimilikinya. Ketiga,
adalah bahwa meningkatnya kontak dapat menjadi counter terhadap
munculnya illusion of outgrup homogeneity.
c. Rekategorisasi
Rekategorisasi adalah melakukan perubahan batas antara ingrup
dan outgrupnya. Sebagai akibatnya, bisa saja seseorang yang
sebelumnya dipandang sebagai outgrupnya, tetapi kemudian menjadi
ingrupnya. Rekategorisasi ini berpotensi untuk mengurangi prasangka
yg sebelumnya ada. Seperti yang diungkapkan Gaertner dan koleganya
(1989, 1993 dalam Baron dan Byrne, 2003) dalam teorinya mengenai
Common in-grup identity model. Teori ini menjelaskan bahwa jika
individu dalam kelompok yang berbeda melihat diri mereka sebagai
anggota dari entitas sosial yang tunggal, maka kontak positif akan
meningkat dan intergrupbias akan berkurang.

14

d. Intervesi Kognitif
Kecenderungan untuk melihat keanggotaan orang lain dalam
berbagai kelompok sering menjadi kunci penyebab munculnya
prasangka. Oleh karena itu,ada sejumlah intervensi untuk mengurangi
dampak

stereotip

yang

pada

akhirnya

dapat

mengurangi

kecenderungan prasangka dan diskriminasi. Pertama, dampak dari


stereotip dapat dikurangi dengan memotivasi individu untuk tidak
berprasangka. Kedua, melakukan sebuah intervensi untuk mengurangi
kecenderungan orang untuk berfikir stereotip.
e. Social Influence sebagai Cara Mengurangi Prasangka
Kenyataan bahwa sikap terhadap kelompok ras atau kelompok
etnis tertentu bisa dipengaruhi oleh lingkungan sosial, maka
pengubahan sikap tersebut juga bisa dengan memanfaatkan pengaruh
sosial yang ada. Teori ini dapat memberikan arahan kepada kita
mengenai pendekatan intervensi yang dapat dikembangkan untuk
mengubah sikap terhadap kelompok/ras tertentu.
f. Coping Terhadap Prasangka
Sejumlah studi menemukan banyaknya efek negatif yang
ditemukan pada individu yang menjadi target diskriminasi. Individual
yang tergolong minoritas sering mendapatkan pengalaman yang
disebutnya sebagai stereotype threat yaitu kesadaran orang-orang
minoritas bahwa ia akan dievaluasi berdasarkan status minoritasnya.
Kondisi semacam ini tentu saja dapat mengganggu berkembangnya
rasa percaya diri dalam berbagai setting sosial yang ada.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Prasangka

merupakan

kecenderungan

dari

seseorang

atau

sekelompok orang untuk menampilkan gambaran atau gagasan yang keliru


(fals idea) tentang sekelompok orang lainnya). Gambaran yang keliru
tersebut merupakan gambaran yang tidak valid, bersifat menghina atau
merendahkan, baik dalam segi fisik meupun dalam sifat atau tingkah laku.
Stereotipe merupakan faktor yang secara otomatis dapat membentuk
prasangka. Informasi yang tidak konsisten dengan stereotip diabaikan dan
mudah dilupakan. Stereotip menentukan bagaimana informasi ditafsirkan,
sehingga bahkan ketika orang terkena data yang bertentangan dengan
stereotip mereka, mereka dapat menafsirkan informasi dengan cara yang
mendukung prasangka mereka.
Diskriminasi merupakan perilaku negatif terhadap orang lain yang
menjadi target prasangka. Target-terget dari diskriminasi adalah seksisme,
rasisme, ageism, diskriminasi terhadap kelompok homoseksual, dan
diskriminasi berdasarkan keterbatasan fisik.

Bentuk-bentuk diskriminasi

ada berbagai macam, yaitu menolak untuk menolong, tokenisme, dan


reverse discrimination. Beberapa teknik untuk mengendalikan diskriminasi
adalah

belajar

untuk

tidak

membenci,

direct

intergrup

contact,

rekategorisasi, intervensi kognitif, social influence sebagai cara mengurangi


prasangka dan coping terhadap prasangka.

15

DAFTAR PUSTAKA

Barron, A Robert. Byrne, Donn. 2003. Psikologi Sosial edisi kesepuluh. Jakarta:
Erlangga
Hanurrawan, Fattah. 2010. Psikologi Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://smartpsikologi. blogspot. com/2007/08/mendefinisikan-prasangka. html
Psikologi Sosial Penyunting Sarlito W. Sarwono dan Eko A. Meinarno Penerbit
salemba Humanika