Anda di halaman 1dari 19

KONSEP DASAR DESINFEKTAN

PENGERTIAN DESINFEKTAN

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan
untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus,
juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit
lainnya.

Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau
membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan
hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai,
ruangan, peralatan dan pakaian (Signaterdadie, 2009).

Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan
desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya
batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak
merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan
desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses
pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat
berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi.

Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat
menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganisme yang akan dimatikan.
Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara
kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia,
khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.

Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya
dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia
yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang
mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa
kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus-X; golongan fenol dan fenol
terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan
golongan biguanida.

Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan


glutaraldehid) dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme
Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dengan
tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid dan halogen yang
dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien fenol.

Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest sebagai kontrol negatif dan larutan
aldehid dan halogen dalam pengenceran 1 : 100 sampai 1 : 500 dicampur dengan suspensi
bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi resisten ampisilin yang telah
diinokulum, keburaman pada tabung pengenceran menandakan bakteri masih dapat
tumbuh.

Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara membandingkan aktivitas suatu larutan fenol
dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji. Hasil dari uji koefisien fenol menunjukan
bahwa disinfektan turunan aldehid dan halogen lebih efektif membunuh bakteri
Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien fenol 3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut
untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit, begitu juga dengan bakteri
Salmonella typhi, disinfektan aldehid dan halogen masih lebih efektif dengan nilai
koefisien fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan 2,27 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid,
iodium dan hipoklorit. (Signaterdadie, 2009).

PENGGUNAAN DESINFEKTAN

Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan membantu
mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari staf medis
yang ada di rumah sakit dan juga membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh
penyakit pasien. Perlu diperhatikan bahwa desinfektan harus digunakan secara tepat
(Imbang, 2009).

a. Desinfektan tingkat rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan :


1. Golongan pertama
Desinfektan yang tidak membunuh virus HIV dan Hepatitis B.
1. Klorhexidine (Hibitane, Savlon).
2. Cetrimide (Cetavlon, Savlon).

3. Fenol-fenol (Dettol).
Desinfektan golongan ini tidak aman untuk digunakan :
1. Membersihkan cairan tubuh (darah, feses, urin dan dahak).
2. Membersihkan peralatan yang terkena cairan tubuh misalnya sarung tangan yang terkena
darah.
3. Klorheksidine dan cetrimide dapat digunakan sebagai desinfekan kulit
4. fenol-fenol dapat digunakan untuk membersihkan lantai dan perabot seperti meja dan
almari namun penggunaan air dan sabun sudah dianggap memadai.
2. Golongan kedua
Desinfektan yang membunuh Virus HIV dan Hepatistis B.
a). Desinfektan yang melepaskan klorin.

Contoh : Natrium hipoklorit (pemutih, eau de javel), Kloramin (Natrium tosilkloramid,


Kloramin T) Natrium Dikloro isosianurat (NaDDC), Kalsium hipoklorit (soda
terklorinasi, bubuk pemutih)

b). Desinfektan yang melepaskan Iodine misalnya : Povidone Iodine (Betadine, Iodine lemah)
1. Alkohol : Isopropil alkohol, spiritus termetilasi, etanol.
2. Aldehid : formaldehid (formalin), glutaraldehid (cidex).
3. Golongan lain misalnya : Virkon dan H2O2. (Imbang, 2009)
PERBEDAAN STERILISASI DAN DESINFEKSI
a. Sterilisasi
1. Semua mikroba termasuk spora bakteri akan terbunuh.
2. Dapat dilakukan dengan menggunakan pemanasan uap (autoklav) atau dengan panas
kering.
3. Dapat juga dilakukan dengan penjenuhan dengan glutaraldehid atau formaldehid selama
10 jam.

b. Desinfeksi tingkat tinggi


1. Semua mikroba, sebagian dari spora bakteri terbunuh.
2. Dapat dilakukan dengan pendidihan selama 20 menit atau dengan penjenuhan dengan
jumlah besar disinfektan selama 30 menit misalnya dengan mengunakan glutaraldehid
atau H2O2
c. Desinfeksi tingkat rendah

Akan menghilangkan jumlah mikroba sehingga peralatan atau permukaan badan aman
untuk

dipegang.

Desinfeksi

ini

dapat

dilakukan

dengan

beberapa

macam

disinfektan(Signaterdadie, 2009)
DISINFEKSI DAN ANTISEPTIK

Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia


atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan dalam
membunuh mikroorganisme patogen. Disenfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan
tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik.

Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada
jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Disinfectant dapat pula
digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.

Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris
organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi.
(Signaterdadie, 2009)

ANTISEPTIK

Banyak zat kimia yang digolongkan sebagai antiseptik. Berikut antiseptik yang umumnya
digunakan :

1. Alkohol 60-90% (etil, atau isopropil, atau methylated spirit).


2. Klorheksidin glukonat 2-4% (Hibiclens, Hibiscrub, Hibitane).
3. Klorheksidin glukomat dan setrimide, dalam berbagai konsetrasi (Savlon).
4. Yodium 3%, yodium dan produk alkohol berisi yodium atau tincture (yodium tinktur).
5. Iodofor 7,5-10% berbagai konsentrasi (Betadine atau Wescodyne).

6. Kloroksilenol 0,5-4% (para kloro metaksilenol atau PCMX) berbagai konsentrasi


(Dettol).
7. Triklosan 0,2-2% . (Syaifudin, 2005).

Dalam pemilihan suatu antiseptik, perlu diperhatikan karakteristik yang diinginkan


(misalnya absorpsi dan daya tahan), keamanan, efektivitas, ketersediaan, penerimaan oleh
staf dan yang terpenting biayanya (Boyce dan Pitter 2002; Larson 1995; Rutala 1996).
Larutan

antiseptik

yang

dianjurkan,

aktivitas

mikrobiologinya

dan

potensi

penggunaannya. (sistem gradasi yang digunakan pada kolom adalah sangat baik, baik,
cukup dan tidak) (Syaifudin, 2005).
Tabel 2.1 Aktivitas mirkobiologis dan kegunaan potensial
AKTIVITAS MELAWAN BAKTERI (AKTIVITAS MIKROBIOLOGIS)
1. Kelompok: Alkohol (60-90% etil atau isopropil)
2. Gram-positif: Sangat Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Sangat Baik
4. TB: Sangat Baik
5. Virus: Sangat Baik
6. Jamur: Sangat Baik
7. Endospora: Nihil
8. Tindakan kecepatan relatif: Cepat
1. Kelompok: Klorheksidin (2-4%) (Hibitane, Hibiscrub).
2. Gram-positif: Sangat Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Baik
4. TB: Sedang
5. Virus: Sangat Baik
6. Jamur: Sedang
7. Endospora: Nihil
8. Tindakan kecepatan relatif: Sedikit

1. Kelompok: Pemberian Iodin (3%)


2. Gram-positif: Sangat Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Sangat Baik
4. TB: Sangat Baik
5. Virus: Sangat Baik
6. Jamur: Baik
7. Endospora: Sedang
8. Tindakan kecepatan relatif: Ditandai
1. Kelompok: Iodofor (7,5-10%) (betadine)
2. Gram-positif: Sangat Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Sangat Baik
4. TB: Sedang
5. Virus: Baik
6. Jamur: Baik
7. Endospora: Nihil
8. Tindakan kecepatan relatif: Sedang
1. Kelompok: Para-kloro Metaksilenol (PCMX) (0,5-4%)
2. Gram-positif: Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Sangat Baik
4. TB: Sedang
5. Virus: Baik
6. Jamur: Tidak diketahui
7. Endospora: Tidak diketahui
8. Tindakan kecepatan relatif: Lambat
1. Kelompok: Triklosan (0,2-2%)
2. Gram-positif: Sangat Baik
3. Gram-negatif terbanyak: Baik

4. TB: Sedang
5. Virus: Sangat Baik
6. Jamur: Nihil
7. Endospora: Tidak diketahui
8. Tindakan kecepatan relatif: Minim
KEGUNAAN POTENSIAL
1. Kelompok: Alkohol (60-90% etil atau isopropil)
2. Terinfeksi bahan organik: Cukup
3. Basuh operasi: Ya
4. Persiapan kulit : Ya
5. Keterangan: Tidak digunakan pada selaput lendir. Tidak baik untuk pembersihan kulit,
tidak tertahan lama.
1. Kelompok: Klorheksidin (2-4%) (Hibitane, Hibiscrub).
2. Terinfeksi bahan organik: Sedikit
3. Basuh operasi: Ya
4. Persiapan kulit : Ya
5. Keterangan: Punya daya tahan yang bagus beracun untuk mata dan telinga.
1. Kelompok: Pemberian Iodin (3%)
2. Terinfeksi bahan organik: Ditandai
3. Basuh operasi: Tidak
4. Persiapan kulit : Ya
5. Keterangan: Tidak digunakan pada selaput lendir. Bisa membakar kulit, hilang setelah
beberapa menit.
1. Kelompok: Iodofor (7,5-10%) (betadine)
2. Terinfeksi bahan organik: Cukup
3. Basuh operasi: Ya
4. Persiapan kulit : Ya

5. Keterangan: Bisa digunakan pada selaput lendir.


1. Kelompok: Para-kloro Metaksilenol (PCMX) (0,5-4%)
2. Terinfeksi bahan organik: Minim
3. Basuh operasi: Tidak
4. Persiapan kulit : Ya
5. Keterangan: Menembus pada kulit, jangan digunakan pada bayi baru lahir.
1. Kelompok: Triklosan (0,2-2%)
2. Terinfeksi bahan organik: Minim
3. Basuh operasi: Ya
4. Persiapan kulit : Tidak
5. Keterangan: Penerimaan pada tangan bervariasi.
Sumber data : Diadaptasi dari Boyce dan Pittet 2002, Olmted 1996.

Keuntungan dan kerugian antiseptik, sebagai berikut :


a. Alkohol

Etil dan isopropil alkohol 60-90% merupakan antiseptik yang baik dan mudah diperoleh
serta murah. Sangat efektif dalam mengurangi mikroorganisme di kulit. Juga efektif
terhadap virus hepatitis dan HIV, jangan dipakai untuk selaput lendir (misalnya di
vagina), karena alkohol mengeringkan dan mengiritasi selaput lendir dan kemudian
merangsang pertumbuhan mikroorganisme.

Menurut Larson (1995) alkohol merupakan salah satu antiseptik paling aman. Etil atau
isopropil alkohol 60-70% efektif dan pengeringan kulit kurang pada konsentrasi lebih
tinggi, lebih murah dari yang konsentrasi lebih tinggi. Karena pengeringan pada kulit
kurang, etil alkohol lebih sering digunakan pada kulit.

1. Keuntungan :
1. Cepat membunuh jamur dan bakteri termasuk mikrobakteri; isopropil alkohol membunuh
sebagian besar virus, termasuk HBV dan HIV; etil alkohol membunuh semua jenis virus.

2. Walaupun alkohol tidak mempunyai efek membunuh yang persisten, pengurangan cepat
mikroorganisme di kulit, melindungi organisme tumbuh kembali bahkan di bawah sarung
tangan selama beberapa jam.
3. Relatif murah dan tersedia di mana-mana.
2. Kerugian :
1. Memerlukan emulien (misalnya gliserin dan atau propilen glikol) untuk mencegah
pengeringan kulit.
2. Mudah pengeringan kulit.
3. Mudah diinaktivasi oleh bahan-bahan organik.
4. Mudah terbakar sehingga perlu disimpan di tempat dingin atau berventilasi baik.
5. Merusak karet atau lateks.
6. Tidak dapat dipakai sebagai bahan pembersih. (Syaifudin, 2005)
b. Klorheksidin Glukonat (CHG)

Klorheksidin glukonat adalah antiseptik yang sangat baik. Ia tetap aktif terhadap
mikroorganisme di kulit beberapa jam sesudah pemberian dan aman bahkan untuk bayi
dan anak. Karena klorheksidin glukonat diinaktivasi oleh sabun, aktivitas residualnya
bergantung pada konsentrasinya. Konsentrasi 2-4% merupakan yang dianjurkan.
Formulasi baru 2% dalam air dan 1% klorheksidin tanpa air, dicampur alkohol juga
efektif.

1. Keuntungan :
1. Antimikrobial spektrum luas.
2. Secara kimiawi aktif paling sedikit 6 jam.
3. Perlindungan kimiawi (jumlah mikroorganisme terhalang) meningkat dengan penggunaan
ulang.
4. Pengaruh material organik minimal.
5. Tersedia produk komersial, yang umum adalah dicampur dengan deterjen dan alkohol.
2. Kerugian :

1. Mahal dan tidak selalu tersedia.


2. Efek dikurangi atau dinetrelisasi oleh sabun, air ledeng, dan beberapa krim tangan.
3. Tidak efektif terhadap basil TBC, baik dan efektif melawan jamur.
4. Tidak dapat dipakai pada pH > 8 karena mengalami dekomposisi.
5. Hindari kontak dengan mata, karena dapat mengakibatkan konjungtivitas. (Syaifudin,
2005)
c. Larutan Yodium dan Iodofor

Larutan yodium 3% sangat efektif dan tersedia dalam bentuk cair (lugol) dan tinktur
(yodium dalam alkohol 70%). Iodofor 7,5-10% adalah larutan yodium dicampur dengan
polivinil pirolidon (providon) yang mengeluarkan yodium jumlah kecil. PVI adalah
iodofor yang umum dan tersedia di mana-mana.

Sejumlah yodium bebas menunjukkan tingkat aktivitas anti mikrobial iodofor


(misalnya 10% povidon iodin berisi 1% iodin, menghasilkan konsentrasil bebas iodin
dari 1 ppm (0,0001%) (Anderson, 1989). Iodofor mempunyai aktivitas spektrum yang
luas. Ia membunuh bakteria vagetatif, virus mikrobakteria, dan jamur. Namun, ia
memerlukan waktu 2 menit untuk mengeluarkan yodium bebas yang merupakan bahan
kimiawi aktif. Sejak mengeluarkan yodium bebas, ia mempunyai efek membunuh yang
cepat. Akhirnya, iodofor umumnya nontaksik dan non-iritaif pada kulit dan selaput lendir,
kecuali jika pasiennya alergi terhadap yodium.

1. Keuntungan
1. Efek antimokrobial spektrum luas.
2. Preparat yodium cair murah, efektif, dan tersedia di mana-mana.
3. Tidak mengiritasi kulit atau selaput lendir, dan ideal untuk pembersihan vaginal.
4. Larutan 3% tidak menodai kulit.
2. Kerugian :
1. Efek antimikrobial lambat atau perlahan.
2. Iodofor mempunyai efek residual yang kecil.
3. Cepat diinaktivasi oleh material organik seperti darah atau dahak.

4. Yodium tinktur atau cairan dapat mengiritasi kulit dan harus dibersihkan dari kulit
sesudah kering (pakai alkohol).
5. Absorpsi yodium bebas melalui kulit dan selaput lendir dapat mengakibatkan
hiptiroidisma pada bayi baru lahir. Oleh karena itu batasi pemakaiannya (Newman 1989).
6. Reaksi alergi terhadap iodin dan iodofor dapat terjadi, jadi cek riwayat alergi. (Syaifudin,
2005)
d.Kloroheksilenol

Kloroheksilenol (para-kloro-metaksilenol atau PCMX) adalah devisi halogen dari silenol


yang

luas

tersedia

dalam

konsentrasi

0,5-4%.

Kloroheksilenol

memecahkan

mikroorganisme dengan memecah dinding sel. Hal ini merupakan penghapus kuman
yang beraktivitas rendah (Fevero, 1985) dibandingkan dengan alkohol, yodium, iodofor
dan kurang efektif dalam menurunkan flora kulit daripada CHG atau iodofor (Sheen dan
Stiles, 1982). Karena ia menembus kulit, dapat beracun jika dioleskan pada beberapa
bagian dari tubuh, dan tidak boleh digunakan pada bayi. Meskipun, produk komersil
dengan kloroheksilenol dengan konsentrasi di atas 4% tidak boleh digunakan.
1. Keuntungan :
1. Aktivitas bersepektrum luas.
2. Hanya sedikit efeknya terhadap materi organik.
3. Efek residu tahan sampai beberapa jam.
4. Minimal efek oleh bahan organik.
2.Kerugian :
1. Diinaktivasi oleh sabun (surfaktan nonionik), penggunaan untuk persiapan kulit
berkurang.
2. Tidak boleh digunakan pada bayi baru lahir, karena dapat menyerap dengan cepat dan
potensial meracuni. (Syaifudin, 2005)
e. Triklosan

Triklosan adalah subtansi tidak berwarna yang terdapat dalam sabun sebagai
antimikrobial. Konsentrasi 0,2-2,0% mempunyai aktivitas antimikrobial sedang terhadap
koki gram positif, mikobakteria dan jamur, tapi tidak terhadap baksil gram negatif,
khususnya P aeruginosa (Larson 1995). Meskipun perhatian ditujukan pada resistensi
terhadap bahan ini bisa berkembang lebih siap dari bahan antiseptik lain, resistensi pada
flora kulit tidak ditemukan penelitian klinis sampai saat ini.

1. Keuntungan :
1. Aktivitas berspektrum luas.
2. Persistensi sangat bagus.
3. Sedikit efeknya oleh bahan organik.
2. Kerugian :
1. Tidak ada efeknya terhadap P aeruginosa atau baksil gram negatif lain.
2. Bakteriostatik (hanya mencegah pertumbuhan). (Syaifudin, 2005)
EFEKTIFITAS DISINFEKTAN

Efektifitas disinfektan antiseptik berdasarkan keuntungan, kerugian dan hasil tabel 2.1
aktivitas mikrobiologi dan kegunaan potensial yang telah diuraikan di atas.

a. Alkohol
1. Efektif
1. Kecepatan membunuh bakteri 10-15 menit (Imbang Dwi, 2009).
2. Sangat efektif dalam mengurangi mikroorganisme di kulit, virus hepatitis dan HIV.
3. Menurut Larson (1995) alkohol merupakan salah satu antiseptik paling aman. Etil atau
isopropil alkohol 60-70% efektif dan pengeringan kulit kurang pada konsentrasi lebih
tinggi.
2. Tidak efektif
1. Memerlukan emulien (misalnya gliserin dan atau propilen glikol) untuk mencegah
pengeringan kulit.

2. Mudah pengeringan kulit.


3. Mudah diinaktivasi oleh bahan-bahan organik.
4. Tidak dapat dipakai sebagai bahan pembersih.
b.Savlon (klorheksidin glukonat)
1.Efektif
1. Kecepatan membunuh bakteri 20-30 menit (Imbang Dwi, 2009).
2. Klorheksidin glukonat tetap aktif terhadap mikroorganisme di kulit beberapa jam sesudah
pemberian.
3. Aman untuk bayi dan anak.
2. Tidak efektif
1. Efek dikurangi atau dinetrelisasi oleh sabun, air ledeng, dan beberapa krim tangan.
2. Tidak efektif terhadap basil TBC, baik dan efektif melawan jamur.
3. Tidak dapat dipakai pada pH > 8 karena mengalami dekomposisi.
e). Betadine (yodium dan iodofor)
1. Efektif
1. Kecepatan membunuh bakteri 10-20 menit (Imbang Dwi, 2009).
2. Sejumlah yodium bebas menunjukkan tingkat aktivitas anti mikrobial iodofor
(misalnya 10% povidon iodin berisi 1% iodin, menghasilkan konsentrasil bebas iodin
dari 1 ppm (0,0001%) (Anderson, 1989).
3. Iodofor mempunyai aktivitas spektrum yang luas.
4. Membunuh bakteria vagetatif, virus mikrobakteria, dan jamur.
2. Tidak efektif
1. Absorpsi yodium bebas melalui kulit dan selaput lendir dapat mengakibatkan
hiptiroidisma pada bayi baru lahir. Oleh karena itu batasi pemakaiannya (Newman 1989).
2. Reaksi alergi terhadap iodin dan iodofor dapat terjadi, jadi cek riwayat alergi.

Maka perpaduan antiseptik antara alkohol-betadine dengan savlon-betadine lebih efektif


alkohol-betadine karena kedua antiseptik salvon dan betadine masih ada keterkaitan
dengan alkohol, misalnya :

1. Pada keuntungan salvon: Tersedia produk komersial, yang umum adalah dicampur
dengan deterjen dan alkohol.
2. Pada kerugian betadine: Yodium tinktur atau cairan dapat mengiritasi kulit dan harus
dibersihkan dari kulit sesudah kering (pakai alkohol).

Sedangkan pada segi kecepatan membunuh bakteri :

a. Alkohol-Betadine

Pada tabel 2.1 aktifitas mikrobiologis dan kegunaan potensial pada kolom aktifitas
melawan bakteri di sub kolom tindakan kecepatan relatif tergolong cepat (alkohol) dan
sedang (betadine).

b.Salvon-Betadine

Pada tabel 2.1 aktifitas mikrobiologis dan kegunaan potensial pada kolom aktifitas
melawan bakteri di sub kolom tindakan kecepatan relatif tergolong sedang (salvon) dan
sedang (betadine).

Dari segi kecepatan membunuh bakteri dapat disimpulkan bahwa antiseptik alkoholbetadine lebih cepat daripada salvon-betadine.

MEMBUAT LARUTAN DESINFEKTAN


MEMBUAT LARUTAN DESINFEKTAN
Pengertian
Menyiapkan/membuat larutan desinfektan sesuai ketentuan .
Tujuan
Menyediakan larutan desinfektan yang dapat digunakan secara tetap guna dan aman serta
dalam keadaan siap pakai.
Jenis desinfektan

Sabun yang mempunyai daya antiseptic, misalnya Asepso, sopoderm

Risol

Kreolin

Salvon

PK (Permanganas Kalikus)

Betadin
Cara pembuatan

1) Cara membuat larutan sabun


Kegunaan
Mencuci tangan dan peralatan, seperti alat tenun, logam, kaca, karet/plastic, kayu bercat dan
yang berlapis formika.
Persiapan alat

Sabun padat, sabun krim, atau sabun cair


Gelas ukur/spuit
Timbangan (jika ada)
Pisau atau sendok makan

Alat pengaduk
Air panas/hangat dalam tempatnya
Ember/baskom
Prosedur pelaksanaan

1. Membuat larutan dari sabun padat/krim


Masukkan sabun padat sekurang-kurangnya 4 gram ke dalam ember berisi 1 liter air
panas/hangat lalu aduk sampai larut.
2. Membuat larutan dari sabun cair
Campurkan 3 cc sabun cair ke dalam eber berisi 1 liter air hangat, kemudian aduk sampai rata.
2) Cara membuat larutan lisol dan kreolin
Kegunaan

Lisol 0,5%
: Memcuci tangan.
Lisol 1%
: Disinfeksi peralatan perawatan/ kedokteran.
Lisol 2-3%
: Merendam peralatan yang digunakan pasien pengidap penyakit

menular, selama 24 jam.


Kreolin 0,5% : Mendesinfeksi lantai.
Kreolin 2%
: Mendesinfeksi lantai kamar mandi/ WC/spulhok.
Persiapan alat

Larutan lisol
Gelas ukur
Ember berisi air
Ember/baskom
Kreolin
Prosedur pelaksanaan

1. Membuat larutan lisol/kreolin 0.5%


Campurkan 5 cc lisol/kreolin ke dalam 1 liter air.
2. Membuat larutan lisol/kreolin 2% sampai 3%
Campurkan 20 cc sampai 30 cc lisol/kreolin ke dalam 1 liter air.
3) Cara membuat larutan savlon
Kegunaan

Savlon 0,5%
Savlon 1%

: Mencuci tangan.
: Merendam peralatan perawatan/kedokteran.

Persiapan alat

Savlon
Gelas ukur
Ember atau baskom
Ember berisi air secukupnya
Prosedur pelaksanaan

1. Membuat larutan savlon 0,5%


Campurkan 5 cc savlon ke dalam 1 liter air.
2. Membuat larutan savlon 1%
Campurkan 10 cc savlon ke dalam 1 liter air.
4) Cara membuat larutan PK
Rumus:
Keterangan:
V1 : Jumlah pelarut (air) yang sudah diketahui
V2 : Jumlah pelarut (air) yang dicari
K1 : Kosentrasi PK yang tersedia
K2 : Kosentrasi PK yang dibutuhkan (1/4000)

DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier, Sunita. 2005. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
2. Arikunto, S. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogya : Rineka Cipta.

3. Ensiklopedia,

2010.

Bedah

Sesar.

(Online),

(http://www.wikipedia.ensiklopedia.com/2010/09/01/bedah-sesar.html/diakses

tanggal,

20-09-2010, jam 03.58 WIB)


4. Hidayat Alimul Aziz, 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika.
5. Iqbal,

2010.

Sectio

Sesarea

II.

(http://www.Iqbalbaldctr2002.co.cc/2010/04/17/serctio-sesarea-II.html/diakses

(Online),
tanggal,

01-10-2010, jam 17.00 WIB)


6. Mochtar, Rustam, 2005. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC.
7. Notoatmodjo Soekidjo, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
8. Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
9. Nunung,

2009.

Seputar

Sectio

saesar.

(Online),

(http://www.nunung.himapid.blogspotcom/2009/08/01/seputar-sectio-saesar.html/diakses
tanggal, 24-10-2010, jam 17.58 WIB)
10. Pratiknya, 2007. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada.
11. Potter, 2006. Fundamental Keperawatan. Jakarta EGC.
12. Sugiyono, 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfebeta.
13. Santoso,

2009.

Penyembuhan

Luka.

(Online),

(http://www.Dr.Budhi.Santoso@ho.otsuka.co.id/2009/10/28/penyembuhanluka.html/diakses tanggal, 30-10-2010, jam 15.40WIB)


14. Saifuddin, 2005. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan
denghan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
15. Tjahyono

Sigit

A,

2009.

Penyembuhan

Bedah

Caesar.

(Online),

(http://www.Dr.A.Sigit.Tjahyono,Sp.B,Sp.BTKV(K).detikhealth.com/2009/07/17/penye
mbuhan-bedah-saesar.html/diakses tanggal, 25-09-2010, jam 15.10 WIB)
16. Yusuf,

2009.

Penyembuhan

Luka.

(Online),

(http://www.sinagayusuf.com/2009/04/19/penyembuhan-luka.html./diakses tanggal, 2010-2010, jam 19.00 WIB)

17. Signaterdadies,

2009.

Desinfektan.

(Online),

(http://www.signaterdadies.com/2009/10/04/desinfektan.html./diakses tanggal, 20-102010, jam 19.30 WIB)