Anda di halaman 1dari 21

MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA

Logo
kabupaten

SOP

No. Dokum
No Revisi
Tanggal Terbit
Halaman

: SOP/ADMEN/MMD
: 00
: 25 Pebruari 2016
: 1/ 2

Puskesmas
Rendang

Ni L Km Trisnahari,SKM,M.Kes
NIP. 197507231997032004

Pengertian

MMD adalah pertemuan perwakilan warga desa untuk membahas


hasil Survei Mawas Diri (SMD) dan merencanakan penanggulangan
masalah kesehatan yang diperoleh dari hasil SMD

Tujuan

Sebagai acuan Masyarakat mengenal masalah kesehatan


diwilayahnya
a. Masyarakat bersepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan
b. Masyarakat menyusun rencana kerja untuk menanggulangi
masalah kesehatan, melaksanakan desa siaga dan poskesdes.
c. Tersusunnya

Kebijakan

SK Kepala Puskesmas No.

Referensi

- Buku Pedoman PHBS Tahun 2007.


- Pedoman Identifikasi Jenis Pelayanan di Puskesmas Rendang.
Alat dan Bahan
1. Undangan
2. Daftar Hadir
3. Notulen
6. Langkah- Langkah
Bagan Alir
1. Ka UPT membuat undangan MMD
Undangan
Persiapan
ke desa/kelurahan,kader, PKK,
pertemuan
camat ditembuskan ke dikes kab
2. Ka UPT menyiapkan bahan hasil
analisa SMD
Pembukaan
3. Menyiapkan persiapan pertemuan
(susunan acara, tempat, konsumsi,
ATK,trasportasi)
Penyajian hasil
4. Pembukaan dilakukan oleh Kepala
survey
Desa dengan menguraikan tujuan
MMD dan menghimbau seluruh
Perumusan & penentuan
peserta agar aktif mengemukakan
prioritas survey
pendapat dan pengalaman sehingga
membantu pemecahan masalah
Gali potensi
yang dihadapi bersama.
5. Perkenalan peserta yang dipimpin
Penyusunan
oleh kader untuk menimbulkan
rencana kerja

Penutup
kesimpulan

suasana keakraban.
6. Penyajian hasil survei oleh kader
selaku tim pelaksana MMD.
7. Perumusan dan penentuan prioritas
masalah kesehatan atas dasar
pengenalan masalah kesehatan dan
hasil SMD dilanjutkan dengan
rekomendasi teknis dari petugas
kesehatan di desa / bidan di desa.
8. Menggali dan menemu-kenali
potensi yang ada di masyarakat
untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.
9. Penyusunan
rencana
kerja
penanggulangan masalah kesehatan
yang dipimpin oleh kepala desa.
10. Penyimpulan hasil MMD berupa
penegasan tentang rencana kerja
oleh Kepala Desa.
11. Penutup.
7. Hal-hal yang perlu
diperhatikan
8. Unit terkait

8. Dokumen terkait

Undangan disampaikan minimal 3 hari sebelum pelaksanaan


kegiatan dan memastikan kehadiran
1. Perangkat desa
2. Pemegang program
3. Koordinator Darbin
4. Puskesmas Pembantu
1. Notulen
2. Daftar Hadir

SOP TINDAKAN KONSERVATIF


(PENAMBALAN TETAP )
SOP

No. Dokumentasi
POLI GIGI
No Revisi
Tanggal Terbit
Halaman

: SOP/ADMEN
: 00
: 04 Januari 2016
: 1/ 2
Ditetapkan Oleh
Kepala Puskesmas Susut I

Puskesmas Susut I
Dr. Ni Nyoman Kurniawati
NIP. 198406092010012008

1.

Pengertian

2. Tujuan

Suatu cara pemberian obat oral dengan cara mencampur/ meracik


obat sesuai dengan Resep Dokter
- Agar pasien mengerti cara meminum obat sesuai dengan
dosis obat.

a. 3.

Kebijakan

- Agar Anak-Anak mudah meminum obat secara oral.


SK Kepala Puskesmas No.

b. 4.

Referensi

- Standar pelayanan kefarmasian di Apotik No.35 Tahun 2014.

c. 5. Alat dan Bahan

1. Lemari Obat
2. Kertas Perkamen
3. Martil
4. Lumpang
5. Alkohol 70 %
6. Kapas
7. Obat-obatan
8. Plastik Klip
9. Spidol
10. Buku Register Harian
11. Buku Register Bulanan

5. 6. Langkah- Langkah
Menerima resep obat.
Memberikan nomor pada resep.
3. Mengambilkan obat sesuai dengan
resep.
4. Menyiapkan Kertas perkamen.
5. Memasukan obat kedalam martil
lalu menumbuk obat sampai halus.
6. Membagi obat sesuai dengan dosis.
7. Membungkus obat dan memasukan
obat kedalam plastic klip.
8. Memberikan etiket sesuai dengan
resep dan mencocokan dengan

Bagan Alir
Pasien
membawa
resep

Resep diterima
dan diskrining
oleh Apoteker /
AA

membawa

Memberi nomor pada


resep
Obat di racik, Diberi etiket,
control lagi dan obat siap

diserahkan
Pasien menerima obat
beserta pemberian
kesimpulan informasi obat
Penutup

nomor pasien.
9. Memberikan
penjelasan
pada
pasien tentang cara minum obat
sesuai dengan dosis.
10.Menanyakan kembali pada pasien
apakah sudah mengerti tentang
cara meminum obat.
11.Mencatat resep ke dalam register
harian.
12.Mencatat resep obat dari register
harian ke register bulanan.
13.Membersihkan lumping/ Martil
dengan alcohol.
7. Hal-hal yang perlu
diperhatikan
8. Unit terkait

9. Dokumen terkait

Pencatatan ke
buku register

Sebelum meracik obat terlebih dahulu mencuci tangan, alat martil


harus bersih, dan kerapian dalam melipat kertas perkamen.
- Gudang Obat
- Poli Umum ( BP )
- Poli Gigi
- Poli KIA
1. Notulen
2. Buku register harian dan bulanan

SOP PEMBERIAN OBAT ORAL


DI APOTIK
SOP

No. Dokumentasi
:
SOP/ADMIN/APOTIK
No Revisi
: 00
Tanggal Terbit
: 04 Januari 2016
Halaman
: 1/ 2
Ditetapkan Oleh
Kepala Puskesmas Susut I

Puskesmas Susut I
Dr. Ni Nyoman Kurniawati
NIP. 198406092010012008

3.

Pengertian

4. Tujuan

Suatu cara pemberian obat oral sesuai dengan Resep Dokter.

- Agar pasien mengerti cara meminum obat sesuai dengan


dosis obat.

a. 3.

Kebijakan

b. 4.

Referensi

c. 5. Alat dan Bahan

SK Kepala Puskesmas No.


- Standar pelayanan kefarmasian di Apotik No.35 Tahun 2014.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Lemari obat
Obat-Obatan
Plastik Klip
Etiket obat
Spidol
Buku Register Harian
Buku Register Bulanan

6. 6. Langkah- Langkah
1. Menerima Resep obat.
2. Memberikan Nomor pada resep
3. Mengambilkan obat sesuai dengan
resep
4. Memberikan etiket sesuai dengan
dosis.
5. Menanyakan kepada dokter apabila
obat tidak ada atau tulisan kurang
jelas.
6. Memberikan obat kepada pasien
sesuai dengan nomor resep sambil
menjelaskan pada pasien tentang

Bagan Alir
Pasien
membawa
resep

membawa

Resep diterima
dan diskrining
oleh Apoteker /
AA
Memberi nomor pada
resep
Pengambilan obat di lemari
obat, Diberi etiket, control
lagi dan obat siap

Pasien menerima obat


Penutup beserta pemberian
kesimpulan informasi obat

cara minum obat dan aturanya.


7. Menanyakan
kembali
kepada
pasien apakah sudah mengerti
tentang cara meminum obat yang
benar.
8. Mencatat resep ke dalam register
harian obat.
9. Mencatat resep obat dari register
harian ke register bulanan.
Pencatatan ke
buku register

7. Hal-hal yang perlu


diperhatikan
8. Unit terkait

9. Dokumen terkait

Alat untuk mengambil obat ( bijian ), Waktu obat Expierd.


- Gudang Obat
- Poli Umum ( BP )
- Poli Gigi
- Poli KIA
1. Notulen
2. Buku register harian dan bulanan

Protap Kesehatan Gigi dan Mulut


STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT
PUSKESMAS MALINAU KOTA

I. ANAMNESA
1. Menanyakan dan mencocokkan identitas penderita dengan data yang
terdapat pada kertas status, identitas tersebut meliputi :

Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :

2. Menanyakan dan mencatat riwayat kesehatan, yaitu :

Jantung
Kencing manis
Darah tinggi
Kehamilan (pada wanita)
Kebiasaan individu
Alergi
Komplikasi yang pernah dialami pada riwayat pengobatan lalu
Asma
TBC(paru)
HIV/AIDS

3. Menanyakan dan mencatat keluhan utama yang dialami oleh penderita,


meliputi :

Kapan dirasakan
Sifat (akut,kronis )
Tempat (lokal,menyebar )
Sudah diobati/belum

II. PEMERIKSAAN
EKSTRA ORAL :
Pipi : dilihat, diraba ada kelainan/tidak
Bibir : dilihat, diraba ada kelainan/tidak

Kelenjar lymphe : dilihat, diraba ada kelainan/tidak


INTRA ORAL :

Gigi geligi : warna, posisi, karies, bentuk/ukuran


Kelainan mukosa pipi (ulcus, lesi,radang )
Langit-langit keras (Kista, celah langit, tumor, eksostosis)
Dasar mulut (bengkak, kista, ranula)

III. DIAGNOSA
Ditetapkan dengan mempertimbangkan anamnesa, pemeriksaan klinis dan
pemeriksaan penunjang (bila ada) yang diperoleh dari penderita.

IV. RENCANA PERAWATAN


Rencana perawatan diputuskan dengan mempertimbangkan diagnosa dan
prognosa perawatan. Berdasarkan kesepakatan yang dihasilkan pada rapat
antara penyedia layanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dengan dinas
kesehatan Kabupaten Malinau, maka jenis perawatan yang dilakukan pada
klinik gigi dan mulut Puskesmas Malinau Kota adalah :
Tumpatan amalgam
Tumpatan komposit
Tumpatan GIC
Ekstraksi gigi sederhana
Fissure sealant
Skeling
PROSEDUR PERAWATAN GIGI PERMANEN
I. MENYAPA PASIEN DENGAN RAMAH
II. ANAMNESA
Menanyakan dan mencatat identitas penderita
Menanyakan keluhan utama
Menanyakan lokasi gigi yang sakit
Mulai kapan dirasakan
Sifat sakit :
# Terus menerus
# Kadang-kadang (bila kemasukan makanan)

# Timbulnya rasa sakit


# Spontan (tanpa rangsangan)
# Adanya rangsangan (dingin,panas)

III. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Ekstra Oral
Melihat pipi dan bibir apakah ada pembengkaan bentuknya simetris atau
tidak, apakah ada celah bibir.
Bila ada pembengkaan pipi, meraba pipi memakai empat jari dengan
menekan pipi secara lembut untuk merasakan adanya benjolan/ pembengkaan
dan menilai apakah keras, lunak, ada fluktuasi atau tidak.
Bila ada pembengkaan bibir, memeriksa bibir bawah dengan menarik bibir
bawah kearah bawah dan memeriksa bibir atas dengan menariknya ke atas
untuk melihat apakah ada perubahan warna, benjolan, pembengkaan.
Menekan dengan lembut bibir untuk merasakan apakah keras, lunak atau ada
fluktuasi.
Memeriksa kelenjar getah bening di bawah rahang bawah dengan cara
meraba menggunakan jari telunjuk dan jari tengah menekan dengan lembut
menyusuri dari belakang telinga ke submandibula sampai arah depan/dagu
untuk menemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening.

Pemeriksaan Intra Oral


Inspeksi
Meminta pasien membuka mulut selebar mungkin
Melihat menggunakan kaca mulut yang dipegang dengan tangan kiri/kanan
ke seluruh permukaan gigi apakah keadaannya bersih / kotor, adakah gigi
lubang (karies), warna, bentuk, gigi permanen sudah tumbuh atau belum dan
letak gigi.
Melihat apakah ada gusi bengkak, gusi bernanah, kemerahan dan berdarah.
Melihat apakah ada kelainan pada mukosa pipi dan lidah, bercak putih,
bercak merah, warna merah kebiruan, radang dan ulcus.
Melihat apakah ada kelainan celah pada palatum/langit-langit mulut, tumor
eksostosis.
Melihat dasar mulut apakah ada bengkak, lesi, ulcus
Melihat adanya perubahan warna gigi menjadi kehitaman.

Palpasi
Merasakan apakah ada gigi goyang dengan cara menjepitkan pinset pada

bagian mahkota gigi kemudian menggoyangkan gigi kearah luar dan dalam 2
kali, bila gigi bergerak sejauh > 2mm berarti gigi tersebut goyang.
Meraba gigi dengan cara menjepit cotton pellet menggunakan pinset
kemudian menekan gusi dengan lembut dan melihat apakah mudah berdarah
atau keluar nanah.
Meraba gusi dengan ujung jari telunjuk tangan kanan dan menekannya
apakah gusi bengkak, keras, lunak, fluktuasi, keluar nanah, nyeri (dengan
melihat ekspresi pasien).
Test vitalitas
Test dingin (menggunakan kapas yang telah disemprot chlor-ethil dan di
letakan di kavitas)
Test open buur (di lakukan bila tes dingin dan sonde memberikan hasil yang
negatif)
Perkusi
Mengetuk mahkota gigi dengan menggunakan pangkal kaca mulut untuk
mengetahui nyeri dengan melihat ekspresi penderita.
Druk
Mengetahui penjalanan keradangan dengan cara meletakan pangkal kaca
mulut di atas mahkota gigi kemudian penderita di minta menggigit perlahanlahan untuk mengetahui nyeri dengan melihat ekspresi penderita (Bila gigi
lawan tidak cukup ditekan dengan pangkal kaca mulut).
Pemeriksaan sulkus gingiva
Gunakan probe periodontal standar WHO menyusuri sulkus gingiva tanpa
tekanan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menguji ada tidaknya keradangan
dan/atau kerusakan jaringan penyangga pada gigi tersebut.
Pemeriksaan Penunjang
Melakukan rujukan pemeriksaan foto rontgenologis untuk membantu
menentukan kondisi di dalam rahang yang tidak terpantau pada pemeriksaan
klinis.
IV. DIAGNOSA
Ditegakkan berdasarkan:
Anamnesa
Keluhan Utama
Pemeriksaan Intra Oral
Pemeriksaan Ekstra Oral
Pemeriksaan Penunjang lainnya

V. RENCANA PERAWATAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pulpitis reversibel Penumpatan tetap


Pulpitis Non Perforasi Indirect pulp capping + Penumpatan sementara
Pulpitis perforasi Direct pulp capping + Penumpatan sementara
Pulpitis irreversibel Pengobatan/rujuk/ekstraksi
Periodontitis akut Pengobatan
Periodontitis kronis oleh karena Gangren pulpa/akar Ekstraksi
Abses Pengobatan
Gingivitis atau periodontitis oleh karena kalkulus Pembersihan karang gigi

VI. PROSEDUR TETAP PERAWATAN


A. PROSEDUR TUMPATAN SEMENTARA
1. Pembuangan jaringan karies dengan eskavator.
2. Preparasi kavitas dengan bur sesuai dengan klasifikasi tumpatan.
3. Sterilisasi kavitas.
4. Pemberian obat (eugenol) sebagai relief of pain (eugenol + kapas).
5. Penambalan sementara dengan fletcher (Powder + Liquid).
6. Instruksi paska penumpatan
a. Tidak boleh digunakan untuk makan selama 1 jam setelah ditumpat
b. Hati-hati bila menyikat gigi terutama pada gigi dengan tumpatan
sementara.
7. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

B. PROSEDUR TUMPATAN TETAP


1. Pembersihan jaringan nekrotik dalam kavitas dengan eskavator.
2. Preparasi kavitas dengan diamond bur berkecepatan tinggi yang selalu
dialiri oleh air.
3. Pemblokiran menggunakan cotton roll.
4. Penderita diinstruksi untuk tidak menutup mulut.
5. Sampai dengan proses penumpatan selesai pasien diinstruksikan untuk
tidak menggerakkan lidah.
6. Mengeringkan kavitas dengan CHIP BLOWER / THREE WAY SYRING.
7. Irigasi kavitas dengan aquades.
8. Aplikasikan lapisan basis berupa pasta zinc oxide posphat (untuk tumpatan
amalgam) atau pasta kalsium hidroksida (untuk tumpatan sintetis).
9. Aplikasikan tumpatan tetap pada kavitas, rapikan.
10. Penderita diinstruksikan untuk:
- Tidak menggunakan gigi tersebut selama sehari semalam.
- Datang kembali ke klinik untuk dilakukan pemulasan pada tumpatan.

11. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

C. PROSEDUR PERAWATAN PULPA (PULP CAPPING)


DEFINISI : Perawatan pulpa dibatasi pada perawatan yang dilakukan untuk
mempertahankan vitalitas gigi, yaitu Pulp Capping.
TUJUAN : Mempertahankan vitalitas pulpa agar tidak terjadi kerusakan lebih
lanjut maupun kematian jaringan pulpa.
1. Pembuangan jaringan karies yang nekrosis dengan preparasi kavitas dengan
diamond bur yang selalu dialiri air sesuai dengan klas karies.
2. Lakukakan isolasi dengan meletakkan cotton roll.
3. Keringkan kavitas dengan three way syringe.
4. Aplikasikan pasta zinc oxide eugenol (indirect pulp capping) atau kalsium
hidroksida (direct pulp capping).
5. Aplikasikan tumpatan sementara.
6. Pasien diberi obat analgesik untuk menahan rasa sakit.
7. Pasien diinstruksikan untuk mengurangi penggunaan gigi tersebut.
8. Pasien diinstruksikan untuk kembali setelah seminggu.
9. Uji vitalitas gigi tersebut pada pertemuan berikutnya. Apabila vitalitas gigi
tersebut terjaga, maka perawatan ini telah berhasil.
10. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.
Pada kasus-kasus pulpitis irreversibel pasien harus diinformasikan mengenai
pilihan perawatan yang lainnya, mengingat perawatan pada tingkat
puskesmas tidak termasuk perawatan saluran akar.
D. PROSEDUR PERAWATAN EKSTRAKSI
1. Mempersiapkan lidokain ampul dan mematahkan ujung ampul
menggunakan menggunakan tangan pada leher ampul.
2. Mempersiapkan spuit 3 cc, membuka tutup spuit dan memindahkan lidokain
ke dalam spuit dengan cara menghisap isi ampul sampai habis dan menutup
kembali spuit.
3. Membuang botol ke tempat sampah medis.
4. Membuang udara dalam spuit dengan cara memposisikan spuit dengan
ujung jarum menghadap ke atas, kemudian ketuk perlahan syringe. Kemudian
dorong pompa perlahan-lahan sampai udara tidak tampak lagi dan cairan
keluar sedikit di ujung jarum.
5. Mengambil kapas steril menggunakan pinset dan menetesinya dengan
betadine.
6. Mengolesi gusi yang akan dilakukan injeksi dengan gerakan searah 1 kali.
7. Untuk menganastesi gusi bagian bukal, lidokain di suntikkan ke gusi di
sekitar apeks pada gigi yang akan dicabut dan melakukan aspirasi, apabila

keluar darah menggeser posisi jarum ke titik lain dan memasukkan jarum
sampai menyentuh tulang. Menyuntikkan lidokain 0,5-1 cc. Mencabut kembali
jarum.
8. Untuk menganastesi gusi bagian lingual/palatal, lidokain disuntikkan ke gusi
sekitar apeks pada gigi yang akan dicabut atau pada percabangan saraf dan
melakukan aspirasi apabila keluar darah menggeser posisi jarum ke titik lain
dan memasukkan jarum sampai menyentuh tulang. Menyuntikan lidokain 0,5-1
cc. Mencabut kembali jarum
9. Membuang spuit pada safety box dengan cara ujung jarum masuk lebih
dulu.
10. Menunggu sampai obat bereaksi dan menimbulkan rasa tebal dengan
menanyakan pada pasien apakah sudah terasa tebal dan bagaimana perasaan
pasien apakah terasa mata berkunang-kunang atau pusing. Bila sudah terasa
tebal maka langsung dilakukan pencabutan.
11. Melakukan pemisahan gigi dan gusi dengan memakai bein dengan posisi
bein mesio bukal / disto bucal gigi yang bersangkutan, dengan gerakan bein
apikal ke coronal (dari bawah ke atas) sampai gigi goyang.
12. Meletakkan ujung tang pada bagian bukal dan lingual/palatinal gigi sampai
dengan cervical gigi / bifurkasi gigi.
13. Pada gigi yang mempunyai 1 akar (gigi anterior) memutar gigi searah
sambil ditarik keluar.
14. Pada gigi yang mempunyai lebih akar menggerak-gerakkan gigi ke arah
bukal dan lingual/palatinal supaya gigi terlepas dan menarik gigi keluar.
15. Mengambil tampon menggunakan pinset kemudian menetesi tampon
dengan betadine di atas cucing meletakkan tampon pada luka bekas
pencabutan dan meminta pasien untuk menggigit tampon kuat-kuat.
16. Membuang sampah medis kapas betadine, tampon yang digunakan selama
tindakan dan gigi yang sudah dicabut ke dalam tempat sampah medis.
17. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan dalam tempat sampah medis
kemudian mencuci tangan memakai sabun.
18. Memberikan instruksi post-ekstraksi kepada pasien/pengantar.
19. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

E. PROSEDUR PERAWATAN FISSURE SEALANT


DEFINISI : Perawatan fissure sealant adalah penutupan pit dan fissure pada
gigi molar pertama permanen yang bebas karies.
TUJUAN : Mempertahankan gigi molar pertama permanen dalam kondisi bebas
karies.
1.
2.
3.
4.

Pastikan bahwa gigi molar pertama permanen yang dimaksud bebas karies.
Blokir saliva dengan cotton roll.
Olesi gigi dengan cairan etsa asam dan ditunggu beberapa saat.
Bilas gigi dengan air sampai dengan cairan etsa asam seluruhnya terbilas.

5. Siapkan lampu light cure.


6. Olesi gigi dengan cairan bonding.
7. Keringkan daerah kerja.
8. Aplikasikan resin komposit pada gigi yang dimaksud.
9. Paparkan light cure sesuai dengan aturan pemakaian bahan dari
perusahaan penghasil resin.
10. Oleskan varnish pada permukaan resin komposit yang telah mengeras.
11. Instruksikan pasien untuk tidak menggunakan gigi tersebut untuk makan
selama satu jam, menjaga kebersihan gigi dan mulut serta tidak memberikan
beban yang berlebihan pada gigi tersebut.
12. Instruksikan pasien untuk kembali 7 hari setelah perawatan.
13. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.
F. PROSEDUR PERAWATAN SKELING
1. Persiapkan ultrasonic scaller, pastikan air mengalir dengan lancar dan mata
scaller dalam kondisi steril.
2. Instruksikan pasien untuk berkumur.
3. Ulasi daerah kerja dengan antiseptik.
4. Persiapkan saliva ejector.
5. Letakkan saliva ejector tip pada dasar mulut pasien.
6. Bersihkan karang gigi, baik supra maupun sub gingival kalkulus dengan
menggunakan ultrasonic scaller dengan tanpa tekanan pada gigi.
7. Poles gigi yang telah dibersihkan dari kalkulus sehingga halus.
8. Ulasi daerah kerja dengan antiseptik.
9. Berikan dental health education pada pasien.
10. Instruksikan pasien untuk kontrol 7 hari setelah perawatan.
11. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

PROSEDUR PERAWATAN GIGI SULUNG


I. MENYAPA PASIEN DENGAN RAMAH
II. ANAMNESA
Menanyakan dan mencatat identitas penderita
Menanyakan keluhan utama
Menanyakan lokasi gigi yang sakit
Mulai kapan dirasakan
Sifat sakit :
# Terus menerus
# Kadang-kadang (bila kemasukan makanan)
# Timbulnya rasa sakit
# Spontan (tanpa rangsangan)
# Adanya rangsangan (dingin,panas)

IV. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Ekstra Oral
Melihat pipi dan bibir apakah ada pembengkaan bentuknya simetris atau
tidak, apakah ada celah bibir.
Bila ada pembengkaan pipi, meraba pipi memakai empat jari dengan
menekan pipi secara lembut untuk merasakan adanya benjolan/ pembengkaan
dan menilai apakah keras, lunak, ada fluktuasi atau tidak.
Bila ada pembengkaan bibir, memeriksa bibir bawah dengan menarik bibir
bawah kearah bawah dan memeriksa bibir atas dengan menariknya ke atas
untuk melihat apakah ada perubahan warna, benjolan, pembengkaan.
Menekan dengan lembut bibir untuk merasakan apakah keras, lunak atau ada
fluktuasi.
Memeriksa kelenjar getah bening di bawah rahang bawah dengan cara
meraba menggunakan jari telunjuk dan jari tengah menekan dengan lembut
menyusuri dari belakang telinga ke submandibula sampai arah depan/dagu
untuk menemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening.

Pemeriksaan Intra Oral


Inspeksi
Meminta pasien membuka mulut selebar mungkin
Melihat menggunakan kaca mulut yang dipegang dengan tangan kiri/kanan
ke seluruh permukaan gigi apakah keadaannya bersih / kotor, adakah gigi
lubang (karies), warna, bentuk, gigi permanen sudah tumbuh atau belum dan
letak gigi.
Melihat apakah ada gusi bengkak, gusi bernanah, kemerahan dan berdarah.
Melihat apakah ada kelainan pada mukosa pipi dan lidah, bercak putih,
bercak merah, warna merah kebiruan, radang dan ulcus.
Melihat apakah ada kelainan celah pada palatum/langit-langit mulut, tumor
eksostosis.
Melihat dasar mulut apakah ada bengkak, lesi, ulcus
Melihat adanya perubahan warna gigi menjadi kehitaman.

Palpasi
Merasakan apakah ada gigi goyang dengan cara menjepitkan pinset pada
bagian mahkota gigi kemudian menggoyangkan gigi kearah luar dan dalam 2
kali, bila gigi bergerak sejauh > 2mm berarti gigi tersebut goyang.
Meraba gigi dengan cara menjepit cotton pellet menggunakan pinset

kemudian menekan gusi dengan lembut dan melihat apakah mudah berdarah
atau keluar nanah.
Meraba gusi dengan ujung jari telunjuk tangan kanan dan menekannya
apakah gusi bengkak, keras, lunak, fluktuasi, keluar nanah, nyeri (dengan
melihat ekspresi pasien).
Tes vitalitas
Test dingin (menggunakan kapas yang telah disemprot chlor-ethil dan di
letakan di kavitas)
Test open buur (di lakukan bila tes dingin dan sonde memberikan hasil yang
negatif)
Perkusi
Mengetuk mahkota gigi dengan menggunakan pangkal kaca mulut untuk
mengetahui nyeri dengan melihat ekspresi penderita.
Druk
Mengetahui penjalanan keradangan dengan cara meletakan pangkal kaca
mulut di atas mahkota gigi kemudian penderita di minta menggigit perlahanlahan untuk mengetahui nyeri dengan melihat ekspresi penderita (Bila gigi
lawan tidak cukup ditekan dengan pangkal kaca mulut).
Pemeriksaan Penunjang
Melakukan rujukan pemeriksaan foto rontgenologis untuk membantu
menentukan kondisi di dalam rahang yang tidak terpantau pada pemeriksaan
klinis, adanya kelainan benih gigi atau adanya kekurangan tempat.

VI. DIAGNOSA
Ditegakkan berdasarkan:
Anamnesa
Keluhan Utama
Pemeriksaan Intra Oral
Pemeriksaan Ekstra Oral
Pemeriksaan Penunjang lainnya

VII. RENCANA PERAWATAN


1.
2.
3.
4.

Pulpitis
Pulpitis
Pulpitis
Pulpitis

reversibel Penumpatan tetap


Non Perforasi Indirect pulp capping + Penumpatan sementara
perforasi Direct pulp capping + Penumpatan sementara
irreversibel Pengobatan/rujuk/ekstraksi

5. Periodontitis akut Pengobatan


6. Periodontitis kronis oleh karena Gangren pulpa/akar Ekstraksi
7. Abses Pengobatan
PROSEDUR TETAP PERAWATAN
A. PROSEDUR TUMPATAN SEMENTARA
1. Pembuangan jaringan karies dengan eskavator.
2. Preparasi kavitas dengan bur sesuai dengan klasifikasi tumpatan.
3. Sterilisasi kavitas.
4. Pemberian obat (eugenol) sebagai relief of pain (eugenol + kapas).
5. Penambalan sementara dengan fletcher (Powder + Liquid).
6. Instruksi paska penumpatan
a. Tidak boleh digunakan untuk makan selama 1 jam setelah ditumpat
b. Hati-hati bila menyikat gigi terutama pada gigi dengan tumpatan
sementara.
7. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

B. PROSEDUR TUMPATAN TETAP


1. Pembersihan jaringan nekrotik dalam kavitas dengan eskavator.
2. Preparasi kavitas dengan diamond bur berkecepatan tinggi yang selalu
dialiri oleh air.
3. Pemblokiran menggunakan cotton roll.
4. Penderita diinstruksi untuk tidak menutup mulut.
5. Sampai dengan proses penumpatan selesai pasien diinstruksikan untuk
tidak menggerakkan lidah.
6. Mengeringkan kavitas dengan CHIP BLOWER / THREE WAY SYRING.
7. Irigasi kavitas dengan aquades.
8. Aplikasikan lapisan basis berupa pasta zinc oxide posphat (untuk tumpatan
amalgam) atau pasta kalsium hidroksida (untuk tumpatan sintetis).
9. Aplikasikan tumpatan tetap pada kavitas, rapikan.
10. Penderita diinstruksikan untuk:
- Tidak menggunakan gigi tersebut selama sehari semalam.
- Datang kembali ke klinik untuk dilakukan pemulasan pada tumpatan.
11. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.
C. PENCABUTAN GIGI SULUNG
1. Menjelaskan kepada penderita bahwa akan dilakukan tindakan pencabutan
gigi sulungnya dengan tujuan untuk memberi kesempatan gigi permanen
tumbuh dengan baik.
2. Menjelaskan kepada penderita bahwa sebelumnya pencabutan akan
dilakukan pembiusan dan setelah itu penderita akan merasakan dingin (bila
menggunakan Chlor Ethyl) atau merasa tebal (bila menggunakan suntikan

lidocaine).
3. Minta ijin penderita/pengantar untuk dilakukan tindakan (bolehkah saya
mulai sekarang ?).
4. Mempersiapkan alat dan obat anastesi dan alat tindakan pencabutan gigi
sulung yang sudah disterilkan.
5. Mencuci tangan dengan sabun dan memakai sarung tangan steril.
6. Tindakan anastesi, bila sudah goyang menggunakan Chlor Ethyl dan belum
goyang menggunakan lidocain.
Bila menggunakan Chlor Ethyl :
1. Mengambil kapas steril menggunakan pinset dan menetesinya dengan
betadine.
2. Mengolesi gusi pada daerah gigi yang akan dicabut dengan gerakan searah
1 kali.
3. Mengambil kapas 2 buah gulungan dengan pinset, kemudian kapas
dipegang dengan tangan kiri.
4. Memegang Tabung Chlor Ethyl dengan tangan kanan kemudian ujungnya
didekatkan pada kapas dengan jarak 1 cm kemudian menyemprot kapas
dengan Chlor Ethyl, tunggu sampai kapas berbuih.
5. Meminta pasien membuka mulut kemudian meletakkan kapas sambil di
tekan pada bagian bukal dan lingual/palatinal gigi yang akan dicabut.
Bila menggunakan anastesi lidokain komp 2 % :
1. Mempersiapkan lidokain ampul dan mematahkan ujung ampul
menggunakan menggunakan tangan pada leher ampul.
2. Mempersiapkan spuit 3 cc, membuka tutup spuit dan memindahkan lidokain
ke dalam spuit dengan cara menghisap isi ampul sampai habis dan menutup
kembali spuit.
3. Membuang botol ke tempat sampah medis.
4. Membuang udara dalam spuit dengan cara memposisikan spuit dengan
ujung jarum menghadap ke atas, kemudian ketuk perlahan syringe. Kemudian
dorong pompa perlahan-lahan sampai udara tidak tampak lagi dan cairan
keluar sedikit di ujung jarum.
5. Mengambil kapas steril menggunakan pinset dan menetesinya dengan
betadine.
6. Mengolesi gusi yang akan dilakukan injeksi dengan gerakan searah 1 kali.
7. Untuk menganastesi gusi bagian bukal, lidokain di suntikkan ke gusi di
sekitar apeks pada gigi yang akan dicabut dan melakukan aspirasi, apabila
keluar darah menggeser posisi jarum ke titik lain dan memasukkan jarum
sampai menyentuh tulang. Menyuntikkan lidokain 0,5-1 cc. Mencabut kembali
jarum.
8. Untuk menganastesi gusi bagian lingual/palatal, lidokain disuntikkan ke gusi
sekitar apeks pada gigi yang akan dicabut atau pada percabangan saraf dan
melakukan aspirasi apabila keluar darah menggeser posisi jarum ke titik lain
dan memasukkan jarum sampai menyentuh tulang. Menyuntikan lidokain 0,5-1

cc. Mencabut kembali jarum


9. Membuang spuit pada safety box dengan cara ujung jarum masuk lebih
dulu.
10. Menunggu sampai obat bereaksi dan menimbulkan rasa tebal dengan
menanyakan pada pasien apakah sudah terasa tebal dan bagaimana perasaan
pasien apakah terasa mata berkunang-kunang atau pusing. Bila sudah terasa
tebal maka langsung dilakukan pencabutan.
11. Melakukan pemisahan gigi dan gusi dengan memakai bein dengan posisi
bein mesio bukal / disto bucal gigi yang bersangkutan, dengan gerakan bein
apikal ke coronal (dari bawah ke atas) sampai gigi goyang.
12. Meletakkan ujung tang pada bagian bukal dan lingual/palatinal gigi sampai
dengan cervical gigi / bifurkasi gigi.
13. Pada gigi yang mempunyai 1 akar (gigi anterior) memutar gigi searah
sambil ditarik keluar.
14. Pada gigi yang mempunyai lebih akar menggerak-gerakkan gigi ke arah
bukal dan lingual/palatinal supaya gigi terlepas dan menarik gigi keluar.
15. Mengambil tampon menggunakan pinset kemudian menetesi tampon
dengan betadine di atas cucing meletakkan tampon pada luka bekas
pencabutan dan meminta pasien untuk menggigit tampon kuat-kuat.
16. Membuang sampah medis kapas betadine, tampon yang digunakan selama
tindakan dan gigi yang sudah dicabut ke dalam tempat sampah medis.
17. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan dalam tempat sampah medis
kemudian mencuci tangan memakai sabun.
18. Memberikan instruksi post-ekstraksi kepada pasien/pengantar.
19. Mencatat hasil tindakan pada kartu status penderita.

VII. PENGOBATAN
Peresepan obat diberikan berdasar pada prinsip-prinsip medikasi yang
rasional dan proporsional.
Mencatat pengobatan pada kartu status penderita.
VIII. KONSELING
1. Menjelaskan kepada pasien/pengantar setelah pencabutan untuk:
a. Menggigit tampon 1 jam, boleh meludah tapi tampon tidak dibuang/tetap
digigit.
b. Tidak menyentuh bekas pencabutan dengan lidah karena bisa menyebabkan
infeksi
c. Tidak menghisap-hisap karena bisa menyebabkan infeksi
d. Tidak berkumur-kumur terlalu keras selama 24 jam,
e. Menghindari perdarahan dan infeksi
f. Mengajukan kepada pasien/pengantar untuk menjaga kebersihan mulut
dengan cara menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur dengan
memperagakan cara menyikat gigi yang benar

g. Menganjurkan pasien menyikat gigi setelah makan makananmanis dan


asam, dan makanan yang lengket di gigi
h. Membiasakan memakan makanan yang berserat masalnya sayur dan buah
i. Menganjurkan pada pasien/pengantar untuk segera kontrol bila ada keluhan
atau bila ada lagi gigi yang berlubang
j. Menganjurkan pada pasien/pengantar untuk memeriksakan gigi secara rutin
setiap 6 bulan sekali
k. Memberi kesempatan pada pasien/pengantar untuk menanyakan hal yang
kurang jelas dan menjawab pertanyaan sampai pasien/penderita jelas
l. Mengecek pemahaman pasien/pengantar dengan memberikan pertanyaan
terbuka atas informasi yang sudah disampaikan
m. Mencatat hasil konseling pada kartu status penderita
n. Mengucapkan terima kasih sudah datang dan semoga lekas sembuh
IX. PASCA PELAYANAN
A. DEKONTAMINASI
Memakai sarung tangan rumah tangga
Memasukkan alat-alat yang sudah terpakai ke dalam bak dekontaminasi
selama 10 menit
Memindahkan alat dari bak dekontaminasi ke dalam bak air sabun
Membersihkan alat-alat dengan sikat dan air sabun
Membilas alat-alat yang sudah bersih dengan air mengalir
Mengeringkan alat-alat dengan handuk bersih.
Lalu diletakkan ke dalam bak instrumen tertutup sesuai dengan jenis alat
B. STERILISASI

Memasukkan alat-alat bak instrumen tertutup ke dalam sterilisator


Mengunci kran pembuangan air
Mengisi air ke dalam sterilisator, sehingga alat-alat terendam seluruhnya
Menyalakan sterilisator selama 30 menit
Membuang air dari sterilisator
Menunggu alat hingga dingin
Menyimpan alat yang telah disterilkan ke dalam tempat alat steril