Anda di halaman 1dari 14

KERANGKA ACUAN KERJA

PEKERJAAN BELANJA JASA KONSULTASI SURVEI


PENGUKURAN DAN PELACAKAN (KABUPATEN ROKAN HULU
KABUPATEN PASAMAN)

1.

LATAR BELAKANG
Provinsi Riau adalah salah satu provinsi di Indonesia yang saat
ini mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dibidang
pembangunan maupun bidang pertumbuhan penduduk dan
ekonomi. Provinsi Riau dibentuk berdasarkan Undang-Undang
Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerahdaerah Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau, sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958
Tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun
1957 Tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Sumatera
Barat, Jambi dan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1957 Nomor 75) sebagai Undang-Undang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 112, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 1646).
Secara Administrasi Pemerintahan awalnya Provinsi Riau terdiri
dari 6 daerah Tingkat II kabupaten dan kotamadya yang meliputi
kabupaten Kampar, kabupaten Bengkalis, kabupaten Indragiri
Hulu, Kotamadya Pekanbaru, kabupaten Indragiri Hilir, dan
kabupaten Kepulauan Riau. Kemudian Provinsi Riau mengalami
pemekaran dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau yang
berasal dari kabupaten Kepulauan Riau. Dengan berpisahnya
kabupaten Kepulauan Riau maka wilayah ini berkurang menjadi
5 kabupaten dan kota.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999,
Provinsi Riau secara administrasi pemerintahan mengalami
perubahan dengan dibentuknya kabupaten Kuantan Singingi,
kabupaten Pelalawan, kabupaten Siak, kabupaten Rokan Hulu,
kabupaten Rokan Hilir, Kota Dumai dan kabupaten Kepulauan
Pag

Meranti. Dengan demikian daerah Riau bertambah menjadi 12


kabupaten dan kota. Disamping itu secara Geografis Provinsi
Riau berbatasan langsung dengan Porovinsi Sumatera Utara,
Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi
Jambi.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang
diikuti

dengan

menuntut

pesatnya

adanya

pembangunan

pembukaan

dibidang

daerah-daerah

ekonomi

baru

yang

tersebar di daerah kabupaten/kota di Provinsi Riau. Dalam


melaksankan pembangunan di daerah-daerah yang baru dibuka
tersebut terutama pada daerah-daerah yang berbatasan dengan
Provinsi tetangga selalu mengalami kendala yaitu adanya konflik
perbatasan. Hal tersebut mengharuskan pemerintah melakukan
penataan dan penegasan tapal batas antar provinsi yang
dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah
provinsi.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor 44 Tahun 2013 telah ditetapkan Batas Daerah Provinsi
Riau dengan Provinsi Sumatera Barat. Dalam pasal 3 Peraturan
Menteri Dalam Negeri tersebut disepakati titik-titik batas antara
Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat yang dilengkapi
dengan koordinat-koordinat yang menunjukan lokasi masingmasing titik batas.
Untuk memperkuat legalitas dan memperjelas batas antara
Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat secara fisik di
lapangan, maka pada Tahun Anggaran 2016 Pemerintah Provinsi
Riau cq. Badan Pengelola Perbatasan Daerah melaksanakan
PEKERJAAN

BELANJA

PENGUKURAN

DAN

JASA

PELACAKAN

KONSULTASI
(KABUPATEN

SURVEI
ROKAN

HULUKABUPATEN PASAMAN).
2. LANDASAN HUKUM PENEGASAN BATAS DAERAH
a. Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Tentang
Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Sumatera Barat,
Pag

Jambi, dan Riau (Lembaran Negara Republik Indoneisa Tahun


1957 Nomor 75, sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 61 Tahun 1958 Tentang Penetapan UndangUndang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan
Daerah-daerah Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 75)
sebagai

Undang-Undang

(Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik


Indonesia Nomor 1646)
b. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pmerintahan
Daerah (Lembaran Negaran Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali,
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik

Indonesia

Tahun

2008

Nomor

59,

Tambahan

Lembaran Negara Repubulik Indonesia Nomor 4844)


c. Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 Tentang Pembentukan
kabupaten Pelalawan, kabupaten Rokan Hulu, kabupaten
Rokan Hilir, kabupaten Siak, kabuapaten Karimun, kabupaten
Natuna,

kabupaten

Kuantan

Singingi,

dan

Kota

Batam

(Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 199 Nomor 181,


Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3902)
d. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah
e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007
Tentang Penataan Ruang
f.

Peraturan

Pemerintah

Nomor

37

Tahun

1998

Tentang

Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah


g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2012
Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah

Pag

h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2013


Tentang

Batas

Daerah

Provinsi

Riau

dengan

Provinsi

Sumatera Barat.
3. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN KEGIATAN
3.1. MAKSUD KEGIATAN
Maksud dari pelaksanaan Pekerjaan Belanja Jasa Konsultasi Survei
Pengukuran dan Pelacakan (Kabupaten Rokan Hulu-Kabupaten Pasaman)
ini adalah :
a.

Mengumpulkan dan melakukan inventarisasi data dan


permasalahan yang terdapat di wilayah perbatasan
antara Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat;

Melakukan pelacakan dan pengukuran langsung di


lapangan berdasarkan peta acuan dan peta Rupa Bumi
Indonesia

(RBI).

Kegiatan

ini

dilakuakn

dengan

menggunakan peralatan GPS handheld dengan sistem


Datum

Geodesi

Nasional

1995

(DGN-95),

dan

menggunakan teknologi GIS. Pilar tanda batas tersebut


digambar pada peta rupa

bumi (Proyeksi UTM) skala

minimal 1 : 50.000, selanjutnya dipakai sebagai data


dasar pembuatan peta pelacakan batas daerah Provinsi
Riau dengan Provinsi Sumatera Barat;
c.

Menyusun peta pelacakan garis batas daerah Provinsi


Riau dengan Provinsi Sumatera Barat.

3.2. TUJUAN KEGIATAN


a. Memperoleh data yang konperhensip tentang kondisi
pilar

batas

daerah

Provinsi

Riau

dengan

Provinsi

Sumatera Barat
b. Tersusunnya standard dan spesifikasi teknis pengukuran

dan pelacakan pilar batas daerah Provinsi Riau dengan


c.

Provinsi Sumatera Barat


Tersedianya peta pengukuran dan pelacakan pilar batas
hasil pelacakan berdasarkan atas kesepakatan kedua
belah pihak yang berbatasan dengan memperhatikan

Pag

unsur sosial budaya, status lahan, aksesbilitas dan


aspirasi masyarakat.
3.3. SASARAN KEGIATAN
Sasaran kegiatan ini adalah sebagai berikut :
a. Terinventarisasi dan teridentifikasi dokumen

batas

daerah (UU Pembentukan Daerah, PP/Perda Kecamatan,


Perda Desa dan Peraturran Perundang-undangan lainnya,
Peta, kesepakatan dan lainnya)
b. Teridentifikasi garis batas (provinsi,

kabupaten/kota,

kecamatan, kelurahan/desa) diatas peta dan di lapangan


c. Terpasangnya patok batas sementara disepanjang garis
batas di lapangan
d. Terpasangnya pilar batas daerah permanen disepanjang
e.

garis batas di lapangan


Teridentifikasinya arah, jarak dan posisi pilar batas pasti

f.

dilapangan
Teridentifikasinya koordinat titik-titik pilar batas pasti di

lapangan dengan menggunakan alat GPS Geodetik


g. Pembuatan Peta Batas Daerah Provinsi Riau dengan
Provinsi Sumatera Barat.
4. LOKASI KEGIATAN
Lokasi kegiatan ini

berada

di

daerah

perbatasan

antara

kabupaten Rokan Hulu dengan kabupaten Pasaman.

5.

NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA


Nama dan organisasi pengguna jasa, adalah PEMERINTAH
PROVINSI RIAU, BADAN PENGELOLA PERBATASAN DAERAH.

6. RUANG LINGKUP KEGIATAN


Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun
2012 Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah,

Ruang

Lingkup kegiatan ini meliputi :


a. Pengumpulan dan penelitian dokumen berupa data sekunder
(Peta Batas Daerah Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera
Barat Tahun 2013, Peta Administrasi Provinsi Riau, Peta Rupa

Pag

Bumi Indonesia

dan Surat-surat Kesepakatan dan lain

sebagainya).
b. Penyusunan data dan inventarisasi Pilar Batas hasil Pelacakan
dilapangan untuk dijadikan acuan

dalam

pelaksanaan

Pengukuran dan Pelacakan Pilar Batas antar daerah Provinsi


Riau dengan Provinsi Sumatera Barat.
c. Memproses data-data lapangan hasil pelacakan.
d. Pembuatan dan finalisasi peta hasil pengukuran

dan

pelacakan pilar batas antar daerah Provinsi Riau dengan


Provinsi Sumatera Barat.
7. TAHAPAN DAN METODOLOGI KEGIATAN
A. TAHAPAN KEGIATAN
1. Tahapan Sosialisasi
Sebelum kegiatan pengukuran dan pelacakan pilar batas
daerah provinsi dilakukan, yang perlu dipersiapkan adalah
surat-surat yang menyangkut dengan penentuan lokasi
kegiatan. Dalam kegiatan ini, yang mengeluarkan surat
penentuan lokasi adalah Pemerintah Provinsi Riau Cq.
Badan

Pengelola Perbatasan Daerah yang ditujukan

kepada Penyedia Jasa/Barang Pemerintah.


Selanjutnya

setelah diperoleh

surat penentuan lokasi

kegiatan maka dilakukan koordinasi dengan Lembaga dan


Instansi terkait antara lain ke kantor bupati setempat cq.
Bagian

Administrasi

kecamatan,

kantor

Pemerintahan

Umum,

kelurahan/desa,

LPM/BPD,

kantor
dan

instansi/lembaga terkait lainnya. Dari hasil koordinasi


dengan pihak-pihak tersebut diatas, selanjutnya ditentukan
Jadwal

Pelaksanaan

Sosialisasi.

Kemudian

sosialisasi

diadakan di aula kantor bupati yang wilayahnya berbatasan


dengan Provinsi Sumatera Barat dan difasilitasi oleh Badan
Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Riau.
Seiring dengan kegiatan sosialisasi sekaligus dilakukan
pengumpulan data-data berupa dokumen, peta-peta, suratsurat
Pag

kepemilikan

lahan,

surat-surat

perjanjian,

kesepakatan,

dokumen-dokumen

pembentukan

dan

pemekaran daerah kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan


dan bukti-bukti autentik lainya yang memungkinkan untuk
dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan pengukuran dan
pelacakan pilar batas antar daerah provinsi.
2. Tahapan Penelitian Dokumen
Dalam tahapan penelitian dokumen, dilakukan kegiatan
inventarisasi dan penelitian terhadap dasar hukum tertulis
maupun sumber hukum lainnya yang diperoleh pada waktu
dilakukan sosialisasi. Dokumen-dokumen dan peta

yang

dipakai harus dapat disepakati oleh kedua belah pihak


yang berbatasan
merupakan

dan proses kesepakatan dimaksud

tanggungjawab

penyedia

jasa

untuk

merealisasikannya.
3. Tahapan Survei dan Pelacakan
Dalam tahapan kegiatan ini meliputi penentuan garis batas
sementara diatas peta kerja yang sudah disepakati oleh
kedua belah pihak yang berbatasan dan pelacakan garis
batas di lapangan yang mencakup kegiatan lapangan untuk
menentukan posisi/letak titik koordinat batas disepanjang
lokasi garis batas, sesuai dengan peta garis batas yang
telah disepakati sebelumnya.
4. Tahapan Kesepakatan
Kegiatan dimulai dari pencarian titik awal yang diketahui
yang sudah disepakati dan berakhir dengan titik akhir
sesuai dengan peta kerja. Hasil kegiatan dituangkan dalam
Berita

Acara

Kesepakatan

Hasil

Pelacakan

yang

ditandatangani masing-masing pihak yang berbatasan


sesuai dengan Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2012
Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah.
Proses tercapainya kesepakatan yang telah ditandatangani
kedua

Pag

belah

pihak

yang

berbatasan

merupakan

tanggungjawab

dari

penyedia

jasa

untuk

merealisasikannya.

5. Tahapan Pengukuran Garis Batas


Tahapan kegiatan pengukuran garis batas dilakukan untuk
menentukan arah, jarak dan posisi garis batas daerah
Kabupaten Rokan Hulu di Provinsi Riau dengan kabupaten
Pasaman di Provinsi Sumatera Barat. Data dalam bentuk
deskripsi titik koordinat batas dan garis batas tersebut
dituangkan ke dalam

Berita Acara Kesepakatan Batas

Daerah yang ditandatangani kedua belah pihak yang


berbatasan dan

menjadi tanggungjawab penyedia jasa

untuk merealisasikannya.
6. Tahapan Pembuatan Peta Garis Batas
Pada tahapan kegiatan pembuatan peta batas meliputi
peta garis batas yang dapat menyajikan informasi dengan
benar sesuai dengan kebutuhannya. Untuk setiap peta
harus memenuhi spesifikasi

yang sesuai dengan tema

informasi yang disajikan dan harus ditandatangani kedua


belah

pihak

yang

berbatasan.

Proses

tercapainya

kesepakatan peta batas yang telah ditandatangani kedua


belah pihak yang berbatasan menjadi tanggungjawab
penyedia jasa untuk merealisasikannya.
7. Tahapan Pembuatan dan Pemasangan Pilar Batas
Tahapan kegiatan ini akan dilakukan oleh perusahaan
kontraktor pelaksana setelah tercapainya kesepakatan
mengenai lokasi penempatan pilar batas daerah Provinasi
Riau dengan Provinsi Sumatera Barat.
8. Sosialisasi, Koordinasi dan Supervisi
Selama pelaksanaan kegiatan selalu dilakukan koordinasi
dengan

daerah

yang

berbatasan

provinsi, kabupaten, kecamatan,


Pag

mulai

dari

pejabat

desa/kelurahan dan

masyarakat diwilayah perbatasan dimana pilar batas akan


dipasang dan konsultasi serta supervise dari otoritas yang
ada sesuai dengan aturan yang berlaku yaitu dengan
Kementerian Dalam Negeri sehingga hasil pekerjaan sesuai
dengan yang diharapkan.
B. METODOLOGI KEGIATAN
Metodologi yang digunakan dalam Pekerjaan Belanja Jasa
Konsultasi Survei Pengukuran Dan Pelacakan (Kabupaten Rokan Hulu
Kabupaten Pasaman) ini adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan
Hukum/Perundang-undangan,
mengacu

dan

menggunakan

dokumen

resmi

yaitu
yang

berkaitan dengan batas daerah(UU/PP/Perda, Peta, Patok


Tanah, Kesepakatan dan sebagainya) yang disepakati
2. Pendekatan kelembagaan, yaitu senantiasa melalui
koordinasi, sosialisasi dengan provinsi, kabupaten/kota
bahkan sampai ke tingkat kecamatan, desa/kelurahan
dan masyarakat yang berbatasan pada daerah yang
berbatasan

dimana

akan

dipasang

sementara dan pilar batas permanen


3. Pendekatan Teknis Survei Pemetaan,
pelacakan,

pemasangan

patok

batas

patok

batas

yaitu

mulai

sementara,

pengukuran (survei) untuk menentukan arah, jarak dan


posisi

titik

pilar

batas

dengan

alat

GPS

untuk

menentukan koordinat UTM pilar batas.


8. DATA DAN FASILITAS PENDUKUNG
Adapun data-data yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan
tersebut diatas antara lain :
1. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000 atau 1:50.000
atau skala yang lebih besar yang tersedia
2. Undang-undang Pembentukan Daerah
3. Peta Citra Satelit atau Peta Foto Udara
4. Peta tematik, antara lain peta penggunaan lahan, peta
pendaftaran tanah, peta kehutanan, peta administrasi dan
peta lain-lainnya yang terkait dengan batas daerah provinsi

Pag

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 76


Tahun 2012 Tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2013 Tentang Batas Daerah Provinsi Riau dengan
Provinsi Sumatera Barat
7. Berita Acara

Kesepakatan Bersama antara Gubernur Riau

dengan Gubernur Provinsi Sumatera Barat

tanggal 27 Juli

2011
8. Data kependudukan dan sosial ekonomi masyarakat wilayah
perbatasan.
9. SUMBER PENDANAAN
Pendanaan kegiatan ini bersumber dari Dana APBD Provinsi Riau
Tahun Anggaran 2016 sebesar Rp. 50.000.000,-- (LIMA PULUH
JUTA RUPIAH).

10.

JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Pekerjaan Belanja Jasa Konsultasi Survei Pengukuran dan Pelacakan


(Kabupaten Rokan Hulu-Kabupaten Pasaman) ini, diselesaikan dalam
waktu 45 (Empat Lima Puluh) hari kalender terhitung sejak
ditandatangani Surat Perintah Kerja (SPK).
11. TENAGA AHLI, TENAGA PENDUKUNG DAN PERALATAN
A. Tenaga Ahli
Tenaga ahli profesional yang harus dihimpun oleh pelaksana
kegiatan

(konsultan)

untuk

melaksanakan

kegiatan

ini

adalah sebagai berikut :


i) 1 (satu) orang ahli Teknik Survei Pemetaan sebagai Team
Leader, berlatar belakang pendidikan S-1 Teknik Geodesi
dengan pengalaman minimal 10 tahun dibidangnya
dengan waktu penugasan selama 3 (tiga) bulan dengan
melampirkan Sertifikat Keahlian Geodesi

Pag

10

ii) 1 (satu) orang ahli Teknik Survei Pemetaan, berlatar


belakang

pendidikan

pengalaman

S-1

tahun

Teknik

Geodesi

dibidangnya

dengan

dengan

waktu

penugasan selama 3 (tiga) bulan dengan melampirkan


Sertifikat Keahlian Geodesi
iii) 1

(satu)

orang

pendidikan

S-1

ahli

Kartografi

Geografi

dengan

berlatar

belakang

pengalaman

kerja

minimal 3 (tiga) tahun dibidangnya dengan waktu


penugasan selama 3 (tiga) bulan.
B. Tenaga Pendukung
i) 2 (dua) orang Surveyor Pemetaan, dengan pengalaman 5
(lima) tahun dibidang survei pengukuran dan pemetaan
dengan waktu penugasan selama 3 (tiga) bulan
ii) 1 (satu) orang tenaga administrasi berlatar belakang
pendidik D-3 dengan waktu penugasan selama 3 (tiga)
bulan
iii) 1 (satu) orang tenaga operator computer berlatar
belakang pendidikan minimal SMA
iv) 2 (dua) orang tenaga buruh lokal.

C. Peralatan dan Material

Penyedia jasa/barang menyediakan peralatan dan material


yang berkaitan dengan Pekerjaan Belanja Jasa Konsultasi Survei
Pengukuran dan Pelacakan (Kabupaten Rokan Hulu Kabupaten Pasaman)
yang meliputi :
1) Global Positioning System (GPS) Navigasi
2) Perangkat

computer

untuk

pengolahan data

system

informasi geografis dan keperluan administrasi


3) Perangkat lunak untuk pengolahan data system informasi
geografis, dan
4) Perangkat penggandaan produk keluaran
5) Kendaraan roda 4 (empat)
Pag

11

6) Kendaraan roda 2 (dua).


12. KELUARAN
a. Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan memuat informasi antara lain :
1. Pengorganisasian pelaksanaan Pekerjaan Belanja Jasa Konsultasi
Survei Pengukuran dan Pelacakan (Kabupaten Rokan HuluKabupaten
Pasaman) yang meliputi :
Uraian mengenai urutan pekerjaan
Berapa jumlah personil yang akan ditugaskan
Jadwal penyelesaian pekerjaan seluruhnya
Jadwal penugasan personil.
2. Data cakupan wilayah kecamatan dan desa serta kondisi
topografi yang berbatasan, perencanaan peta kerja di atas
peta referensi RBI skala minimal 1:50.000 (perencanaan
posisi pilar batas yang akan dilengkapi informasi data
cakupan wilayah). Laporan tersebut dibuat dalam Format
Kertas A4 dijilid bagus, menarik dan rapi (berwarna dan
peta dibuat berwarna).
b. Laporan Draf Akhir (Antara)
Draft Laporan Akhir berisi hasil survei sekunder dan survei
primer

(pelacakan

lapangan)

yang

telah

dilakukan,

dokumentasi, berita acara, data yang telah diolah, peta hasil


survei yang telah didigitasi. Laporan ini diserahkan paling
lambat 6 (enam) minggu setelah SPMK diterbitkan dan
diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) eksamplar dalam kertas
ukuran A4 dan peta kertas ukuran A3.
c. Laporan Akhir
Laporan akhir memuat informasi antara lain :
1. Data koordinat sementara di lapangan hasil pelacakan
batas (posisi patok kayu
2. Data hasil pengukuran panjang garis batas, arah dan
posisi batas di lapangan.
3. Data mentah hasil penentuan posisi pilar batas dengan
alat GPS handheld
4. Data koordinat Geografis pilar batas
Pag

12

5. Deskripsi lokasi pilar batas, dilengkapi foto situasi dalam


jumlah yang memadai dari berbagai posisi
6. Peta batas daerah yang menggambarkan posisi pilar
batas pada garis batas skala minimal 1:50.000
7. Berita Acara Kesepakatan : Pelacakan,

Penelitian

Dokumen, Pengukuran dan Peta Hasil Pelacakan


8. Hal-hal lain yang penting
Laporan tersebut dibuat dalam format kertas A4, dijilid
bagus,

rapi,

berwarna).
Laporan-laporan

menarik

(berwarna

tersebut

diatas

dan

peta

diserahkan

dibuat

sebanyak

masing-masing 4 (laporan Pendahuluan), 6 (Laporan Draf


Akhir) dan 10 buku (laporan Akhir).
13. PENUTUP
Kerangka Acuan Kerja ini disusun untuk memberikan gambaran
dan arahan kepada konsultan mengenai tahap-tahap yang
harus dilakukan dan landasan bagi penyusunan penawaran
untuk Pekerjaan Belanja Jasa Konsultasi Survei Pengukuran dan Pelacakan
(Kabupaten Rokan Hulu-Kabupaten Pasaman).
.
Pekanbaru,

Maret 2016

Pejabat Pembuat Komitmen

DR. H.M. RAMLI, SE, M.Si


NIP.196108S3 198703 1
007

KERANGKA ACUAN KERJA


(KAK)

Pag

13

KEGIATAN
BELANJA JASA KONSULTANSI SURVEI

PEKERJAAN
BELANJA JASA KONSULTASI SURVEI PENGUKURAN
DAN PELACAKAN
(KABUPATEN ROKAN HULU KABUPATEN PASAMAN)

PEMERINTAH PROVINSI RIAU


BADAN PENGELOLA PERBATASAN
DAERAH
TAHUN ANGGARAN 2016

Pag

14

Anda mungkin juga menyukai