Anda di halaman 1dari 24

KEGAWATDAR

URATAN
BUNUH DIRI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
STIKES MW KENDARI
2013

BAB II
TINJAUAN PUSTAK

A.Defenisi
Pendapat beberapa ahli :
1. Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri
sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri
mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Keliat
1991 : 4)
2. Bunuh diri adalah perbuatan menghentikan hidup
sendiri yang dilakukan oleh individu itu sendiri atau
atas permintaannya. (Wikipedia : 2011 ).
3. Setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian ( Gail w. Stuart,
Keperawatan Jiwa, 2007).
4. Pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann
Isaacs, Keperawatan Jiwa & Psikiatri, 2004).
5. Ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering
menyertai gangguan depresif asering terjadi pada
remaja ( Harold Kaplan, Sinopsis Psikiatri, 1997).

B.Etiologi
Penyebab perilaku bunuh diri dapat dikategorikan sebagai
berikut :
1. Faktor genetik
penelitian menyingkapkan bahwa dalam beberapa garis
keluarga, terdapat lebih banyak insiden bunuh diri
ketimbang
dalam
garis
keluarga
lainya.
Namun,
kecenderungan genetik untuk bunuh diri sama sekali tidak
menyiratkan bahwa bunuh diri tidak terelakan
2. Faktor kepribadian
Para ahli mengenai soal bunuh diri telah menggolongkan
orang yang cenderung untuk bunuh diri sebagai orang
yang tidak puas dan belum mandiri, yang terus-menerus
meminta, mengeluh, dan mengatur, yang tidak luwes dan
kurang mampu menyesuaikan diri

Next
3. Faktor psikologis
Faktor psikologis yang mendorong bunuh diri adalah kurangnya
dukungan sosial dari masyarakat sekitar, kehilangan pekerjaan,
kemiskinan, huru-hara yang menyebabkan trauma psikologis,
dan konflik berat yang memaksa masyarakat mengungsi.
4. Faktor ekonomi
Menurut riset, sebagian besar alasan seseorang ingin mengakhiri
hidupnya/ bunuh diri adalah karena masalah keuangan/ekonomi.
5. Gangguan mental dan kecanduan
Gangguan mental merupakan penyakit jiwa yang bisa membuat
seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Mereka tidak
memikirkan akan apa yang terjadi jika menyakiti dan mengakhiri
hidup mereka, karena sistem mental sudah tidak bisa bekerja
dengan baik.

D. Jenis Bunuh Diri


Jenis Bunuh Diri antara lain :
1. Ancaman Bunuh Diri
Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri.
2. Upaya bunuuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan
oleh individu yang dapat mengarah kematian jika tidak
dicegah.
3. Bunuh diri
Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan
terlewatkan atau diabaikan.
4. Bunuh diri langsung
Adalah tindakan yang disadari dan disengaja untuk
mengakhiri
kehidupan seperti pengorbanan diri
(membakar diri), menggantung diri, melompat dari tempat
yang tinggi, menembak diri, menenggelamkan diri.
5. Bunuh diri tidak langsung
Adalah keinginan tersembunyi yang tidak disadari untuk
mati, yang ditandai dengan perilaku kronis beresiko seperti
penyalahgunaan zat, makan berlebihan, aktivitas sex bebas,

E. Tanda dan Gejala Awal


1. Bicara mengenai
kematian
2. Baru saja
kehilangan
3. Perubahan
kepribadian
4. Perubahan perilaku
5. Perubahan pola
tidur
6. Perubahan
kebiasaan makan

7. Berkurangnya
ketertarikan
seksual
8. Kurangnya
harapan akan
masa depan
9. Ketakutan atau
kehilangan

F. Patofisiologi
Patofisiologi dari Bunuh diri tergantung dari tipe percobaan bunuh diri
yang dilakukan pasien, tindakan yang paling umum dilakukan klien
dalam upaya bunuh diri adalah dengan sengaja mengonsumsi zat aditif
atau
bahan
beracun,
memutus
nadi
pergelangan
tangan,
penenggelaman, dan lain sebagainya.
Pada intoksifikasi zat beracun, Intoksikasi atau keracunan adalah
masuknya zat atau senyawa kimia ke dalam tubuh seorang manusia
yang menimbulkan efek yang bersifat merugikan pada yang
menggunakannya.
Ada 2 macam insektisuda yang paling benyak digunakan dalam
bidang pertanian pada pembasmian hama :
1. Insektisida hidrokarbon khorin ( IHK = Chlorinated Hydrocarbon
Insektisida)
2. Isektida fosfat organic ( IFO = Organo Phosphatase Insectisida)Yang
paling sering digunakan adalah IFO yang pemakaiannya terus
menerus meningkat.

G.Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul pada klien dengan Bunuh Diri sangat
tergantung pada jenis dan cara yang dilakukan klien untuk bunuh diri,
namun resiko paling besar dari klien dengan Bunuh Diri adalah berhasilnya
klien dalam melakukan tindakan bunuh diri, serta jika gagal akan
meningkatkan kemungkingan klien untuk mengulangi perbuatan Bunuh diri

H.Faktor Resiko Tingkah Laku


Bunuh Diri ( Stuart&
Sundeen
87)25-45 tahun dan kurang 12 tahun
1.
Umur 45 tahun dan remaja
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jenis Laki-laki Perempuan


Status perkawinan Cerei, pisah, janda, duda Kawin
Jabatan Profesional Pekerja kasar
Pekerjaan Pengangguran Pekerja
Penyakit fisik Kronik, terminal Tidak ada yang serius
Gangguan mental Depresi, halusinasi, delusi
kepribadian

Gangguan

I.Pemeriksaan Penunjang
Koreksi penunjang dari kejadian Bunuh
Diri akan menentukan terapi resisitasi dan
terapi lanjutan yang akan dilakukan pada klien
dengan Bunuh diri.
Pemeriksaan
darah
lengkap
dengan
elektrolit akan menunjukan seberapa berat
syok yang dialami klien, pemeriksaan EKG dan
CT scan bila perlu bia dilakukan jika dicurigai
adanya perubahan jantung dan perdarahan
cerebral.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN
A KLIEN DENGAN BUNUH

A.Pengkajian
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan
dasar utama dan hal yang paling penting dilakukan oleh perawat,
baik pada saat penderita pertama kali masuk Rumah Sakit (untuk
mengetahui riwayat penyakit dan perjalanan penyakit yang
dialami pasien) maupun selama penderita dalam masa perawatan
(untuk mengetahui perkembangan pasien dan kebutuhannya
serta mengidentifikasi masalah yang dihadapinya).
Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan
dalam pengkajian:
1. Wawancara
2. Pemeriksaan fisik
3. Observasi atau pengamatan
4. Catatan atau status pasien
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain

Pengkajian Primer meliputi:


1. Airway
Menilai apakah jalan nafas pasien bebas. Apakah klien dapat
berbicara dan bernafas dengan mudah, nilai kemampuan klien
untuk bernafas secara normal.
2. Breathing
Kaji pernafasan klien, berupa pola nafas, ritme, kedalaman, dan
nilai berapa frekuensi pernafasan klien per menitnya. Penurunan
oksigen yang tajam ( 10 liter/menit ) harus dilakukan suatu
tindakan ventilasi. Analisa gas darah dan pulse oxymeter dapat
membantu untuk mengetahui kualitas ventilasi dari penderita.
Tanda hipoksia dan hiperkapnia bisa terjadi pada penderita dengan
kegagalan ventilasi seperti pada klien dengan kasus percobaan
bunuh diri yang dapat mengakibatkan asfiksia. Kegagalan
oksigenasi harus dinilai dengan dilakukan observasi dan auskultasi
pada leher dan dada melalui distensi vena

Next..
3.

4.

Circulation
Nilai sirkulasi dan peredaran darah, kaji pengisian
kapiler, kaji kemampuan venus return klien, lebih lanjut
kaji output dan intake klien Penurunan kardiak out put dan
tekanan darah, klien dengan syok hipovolemik biasanya
akan menunjukan beberapa gejala antara lain, Urin out put
menurun kurang dari 20cc/jam, Kulit terasa dingin,
Gangguan fungsi mental, Takikardi, Aritmia.
Disability
Menilai kesadaran dengan cepat dan akurat. Hanya
respon terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Tidak
di anjurkan menggunakan GCS, adapun cara yang cukup
jelas dan cepat adalah:
A : Awakening
V : Respon Bicara
P : Respon Nyerin
U : Tidak Ada Nyeri

Next..
5.

Exposure
Lepaskan pakaian yang dikenakan dan penutup tubuh agar
dapat diketahui kelaianan atau cidera yang berhubungan dengan
keseimbangan cairan atau trauma yang mungkin dialami oleh
klien dengan tentamen suicide, beberapa klien dengan Bunuh
Diri akan mengalami trauma pada lokasi tubuh percobaan bunuh
diri tersebut, misalnya di leher, pergelangan tangan dan
dibagian-bagian tubuh yang lain.

Pengkajian sekunder
1. Data pasien
2. Review sistem tubuh (pada sistem utama yang
mengalami
gangguan)
Pengkajian dilanjutkan dengan mengkaji keluhan utama,
keluhan tambahan serta aspek psikologis dari klien

B. Tinjauan
Keperawatan

Proses

Tinjauan kembali riwayat klien untuk adanya stressor


pencetus dan data signifikan tentang :
1. Kerentaan genetik-biologik (riwayat keluarga).
2. Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan
kehilangan yang baru dialami.
3. Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi
untuk depresi.
4. Riwayat pengobatan.
5. Riwayat pendidikan dan pekerjaan.
6. Catat ciri-ciri respon psikologik, kognitif, emosional
dan prilaku dari individu dengan gangguan mood.

Next..
7. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas prilaku
bunuh diri:
a. Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres, solusi
masalah yang sulit.
b. Rencana bunuh diri termasuk apakah klien memiliki
rencana yang teratur dan cara-cara melaksanakan
rencana tersebut.
c. Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan pikiran,
tingkat gelisah, keparahan gangguan mood).
d. Sistem pendukung yang ada.
e. Stressor saat ini yang mempengaruhi klien, termasuk
penyakit lain (baik psikiatrik maupun medik),
kehilangan
yang
baru
dialami
dan
riwayat
penyalahgunaan zat.
f. Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan
dasar keluarga klien, atau keluarga tentang gejala,
meditasi dan rekomendasi pengobatan gangguan

C.Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku
percobaan bunuh diri :
1. Dorongan yang kuat untuk bunuh diri berhubungan dengan
gangguan alam perasaan : depresi.
2. Potensial
untuk
bunuh
diri
berhubungan
dengan
ketidakmampuan menangani stres, perasaan bersalah.
3. Koping yang tidak efektif berhubungan dengan ingin bunuh
diri sebagai pemecahan masalah.
4. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan keadaan
stress yang tiba-tiba
5. Isolasi sosial berhubungan dengan usia lanjut atau fungsi
tubuh yang menurun.
6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan
dengan kegagalan (sekolah, hubungan interpersonal).

D.Rencana Tindakan
Menurut Stuart dan Sundeen (1997) dalam Keliat (1991:
13) mengidentifikasi intervensi utama pada klien untuk
prilaku bunuh diri yaitu :
1. Melindungi :
Merupakan intervensi yang paling penting untuk
mencegah klien melukai dirinya. Tempatkan klien di
tempat yang aman, bukan diisolasi dan perlu dilakukan
pengawasan.
2. Meningkatkan harga diri
Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang
rendah. Bantu klien mngekspresikan perasaan positif dan
negatif. Berikan pujian pada hal yang positif.

Next
4. Menguatkan koping yang konstruktif/sehat.
Perawat perlu mengkaji koping yang sering dipakai klien.
Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif.
Untuk koping yang destruktif perlu dimodifikasi/dipelajari
koping baru.
5. Menggali perasaan
Perawat membantu klien mengenal perasaananya.
Bersama mencari faktor predisposisi dan presipitasi yang
mempengaruhi prilaku klien.
6. Menggerakkan dukungan sosial, untuk itu perawat
mempunyai peran menggerakkan sistem sosial klien,
yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga pelayanan
di masyarakat agar dapat mengontrol prilaku klien.

E. Pelaksanaan
Tindakan keperawatan yang dilakukan harus
disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah
disusun. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah
direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan
singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dengan
kebutuhannya saat ini (here and now). Perawat juga
meniali diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan
interpersonal, intelektual, teknikal sesuai dengan
tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali
apakah aman bagi klien, jika aman maka tindakan
keperawatan boleh dilaksanakan.

BAB
IV
PEN

A.Kesimpulan
Bunuh diri adalah, perbuatan menghentikan hidup
sendiri, yang dilakukan oleh individu itu sendiri. Namun,
bunuh diri ini dapat dilakukan pula oleh tangan orang
lain. Misal : bila si korban meminta seseorang untuk
membunuhnya, maka ini sama dengan ia telah
menghabisi nyawanya sendiri. Dimana, Menghilangkan
nyawa, menghabisi hidup atau membuat diri menjadi
mati oleh sebab tangan kita atau tangan suruhan,
adalah perbuatan-perbuatan yang termasuk dengan
bunuh diri. Singkat kata, Bunuh diri adalah tindakan
menghilangkan nyawa sendiri dengan menggunakan
segala macam cara.

B.Saran
Diharapkan bagi perawat agar dapat
meningakatkan keterampilan dalam memberikan
asuhan keperawtan serta pengetahuan sehingga
dapat memberikan asuhan keperawtan gawat
darurat yang optimal khususnya pada klien
dengan ancaman BUNUH DIRI.