Anda di halaman 1dari 13

PENGERTIAN KONSEP ILMU PENDIDIKAN ISLAM

Pendahuluan
Pendidikan mempunyai peran dan fungsi yang vital dalam dinamika
perkembangan dan eksistensi manusia. Tanpa pendidikan, manusia sulit untuk
berkembang dan tumbuh potensi yang ada pada dirinya (statis).
Berbicara mengenai pendidikan, maka tidak dapat dilepaskan dari
pembahasan tentang ilmu pendidikan. Pembahasan seputar ilmu pendidikan sangat
terkait dengan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga aspek tersebut
merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam struktur keilmuan.
Ilmu Pendidikan Islam sebagai bagian integral dari pendidikan Islam,
merupakan suatu konsep keilmuan tersendiri. Ini terlihat jelas dengan sumber dan
pijakan Ilmu Pendidikan Islam, yaitu al-Quran dan sunnah. Ilmu Pendidikan Islam
bersifat dinamis, artinya Ilmu Pendidikan Islam selalu berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman. Teori-teori dan konsep-konsep Ilmu Pendidikan Islam selalu
mengalami perkembangan, teori-teori di sini merupakan buah pemikiran para ahli
pendidikan Islam yang telah diaplikasikan menjadi landasan/konsep dasar dalam Ilmu
Pendidikan Islam.
Pembahasan mengenai konsep dasar ilmu pendidikan Islam memang sangat
menarik untuk dikaji lebih mendalam. Dalam makalah ini, penulis akan membahas
lebih dalam tentang konsep dasar Ilmu Pendidikan Islam dengan memaparkan
pendapat/argumentasi dari para pakar pendidikan Islam.
Bertitik tolak dari uraian di atas, pemakalah merumuskan permasalahan dalam
makalah ini yaitu permasalahan apa hakikat Ilmu Pendidikan Islam itu sendiri dan
bagaimana konsep dasar Ilmu Pendidikan Islam ?

Pembahasan
1.

Hakikat Ilmu Pendidikan Islam


Istilah Ilmu Pendidikan Islam berasal dari kata ilmu dan pendidikan Islam.

kata ilmu dalam Kamus Ilmiah Popular, adalah pengetahuan.1


Dari segi bahasa, pendidikan berasal dari bahasa Arab, yaitu: tarbiyah
dengan kata kerja rabba, kata talim dengan kata kerja allama, yang berarti
pengajaran. Sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah
Islamiyah.2
Kata kerja rabba (mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad
SAW, seperti terlihat dalam ayat al-Quran dan hadits Nabi. Dalam ayat al-Quran,
kata ini digunakan dalam susunan kalimat sebagai berikut:

.... ( : )

Artinya : Ya Tuhan, sayangilah keduanya (ibu bapakku) sebagaimana mereka telah


mengasuhku (mendidikku) sejak kecil. (Q.S. Al- Isra : 24).3
1 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer, Gita Media Press, Surabaya, 2006, hal. 190.
2 Zakiah Daradjat, et.al, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta 1996, hal. 25.
3 Al-Quran surat al-Isra ayat 24, Al-Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penerbit dan Penerjemah al-Quran, Depag RI, 1977.

Sedangkan kata talim disebutkan dalam Al-Quran dengan susunan kalimat


sebagai berikut.

( : )

Artinya :Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.


(Q.S. Al-Baqarah ayat 31).4

Kata allama mengandung pengertian sekedar memberitahu atau memberi


pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, Lain halnya dengan
pengertian rabba jelas terkandung kata pembinaan, pimpinan, pemeliharaan dan
lain-lain.5
Sedangkan M. Naquib al-Attas sebagaimana dikutip oleh Achmadi, menyebut
istilah pendidikan Islam dengan istilah tadib, yang mana istilah tersebut berakar
dari kata addaba. Dalam argumentasinya yang tertuang dalam buku Konsep
Pendidikan Islam, istilah tadib yang berasal dari kata kerja addaba, mencakup
wawasan ilmu dan amal yang merupakan esensi pendidikan Islam.6

4 Ibid.,
5 Zakiah daradjat, Op.Cit. hal. 27.
6 Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992,
hal. 15.

Menurut Muhaimin, istilah pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai


pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yakni pendidikan yang dipahami
dan dikembangkan, dan diajarkan dalam nilai-nilai fundamental yang terkandung
dalam sumber dasarnya, yaitu, al-Quran dan as-sunah. Dalam pengertian ini,
pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan
diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar tersebut.7
Menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Islam adalah bimbingan dan asuhan
terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam secara menyeluruh, serta
menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai pandangan hidupnya (way of life) demi
keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat kelak.8
Dalam pendefinisian pendidikan Islam Zakiah Daradjat lebih menekankan
pada pendidikan secara praktis. Pendidikan Islam menurut beliau bukanlah
pendidikan yang disengaja, yang ditujukan kepada obyek yang dididik yaitu anak,
akan tetapi yang lebih penting daripada itu adalah keadaan dan suasana rumah tangga,
keadaan jiwa ibu-bapak, hubungan antar satu dengan lainnya dan sikap jiwa mereka
terhadap rumah tangga dan anak-anak.9
Sedangkan pendidikan Islam menurut Muzayin Arifin adalah sistem
pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin
kehidupannya, sesuai dengan citacita Islam, karena nilainilai Islam telah menjiwai
dan mewarnai corak kepribadiannya. Dengan istilah lain, manusia muslim yang telah
mendapatkan Pendidikan Islam itu harus mampu hidup di dalam kedamaian dan
7 Muhaimin, et.al. Paradigma Pendidikan Islam, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002,
hal. 29
8 Zakiah Daradjat, et.all, Ilmu Pendidikan Islam, Op.Cit. hal. 117.
9 Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 2001, hal. 61.

kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam. Pengertian Pendidikan


Islam dengan sendirinya bermuara pada pengertian sistem pendidikan yang mencakup
seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. Oleh karena Islam
memberi pedoman seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik duniawi maupun
ukhrawi.10
Jadi Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang nilainilai/aspek-aspek yang terkandung dalam ajaran Islam. Aspek-aspek tersebut
meliputi: aspek ibadah, syariah dan muamalah .
2.

Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam


Secara ontologis, sasaran obyek pendidikan adalah manusia. Karena Manusia

mengandung banyak aspek dan sifatnya yang kompleks, karena sifatnya yang
kompleks itu, maka tidak ada sebuah batasan yang cukup memadai untuk
menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan pendidikan yang dirumuskan
oleh para ahli sangat beraneka ragam, dan kandungannyapun berbeda. Perbedaan
tersebut disebabkan oleh orientas, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi
tekanan atau karena falsafah yang melandasi luasnya aspek yang dibina oleh
pendidikan.11
Pada aspek epistemologis, Ilmu Pendidikan Islam digali dari sumber
ajarannya yaitu al-Quran dan sunnah melalui studi ilmiah untuk mencari kebenaran
dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Kebenaran selalu berkaitan dengan dimensi keilmuan, menjadi prinsip yang
fundamental dalam epistemologi yang di dalamnya tersusun nilai-nilai benar atau
10 Muzayin Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Indisipliner, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, hal. 10.
11 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994,
hal. 26.

salah. Kebenaran dalam wacana ilmu adalah ketepatan metode dan kesesuaiannya
antara pemikiran dengan hukum-hukum internal dari obyek kajiannya.12
Para pendidik tidak boleh menafsirkan dan mengajarkan metode ilmiah secara
mati dan ritualistik, melainkan ditekankan kepada logika berpikir dan alur-alur jalan
pikirannya. Dengan demikian, maka dapat dihindari berkembangnya cara berpikir
yang kaku dan simplistik.13
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang
benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, oleh sebab itu
kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun juga
berbeda-beda.
Sebagai suatu kegiatan berpikir, maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu.
Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut
logika. Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran
mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga disimpulkan bahwa kegiatan
penalaran merupakan suatu proses berpikir logis, di mana berpikir logis di sini harus
diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu.
Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu
analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah

12 Musa Asyarie, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, (Yogyakarta: Lesfi, 2002),
hal.75-76.
13 Jujun S. Suria Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta, 1993, hal. 130.

logika penalaran yang bersangkutan.14 Artinya, penalaran ilmiah merupakan suatu


kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah.
Kegiatan berpikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran seperti intuisi.
Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang nonanalitik yang tidak mendasarkan
diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Berpikir intuitif ini memegang peranan yang
penting dalam masyarakat yang berpikir nonanalitik, yang kemudian sering bergalau
dengan perasaan. Dengan demikian, secara garis besar dapat dibedakan dua pola
berpikir, yaitu berpikir menurut penalaran dan berpikir yang bukan berdasarkan
penalaran. Perasaan merupakan suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan
penalaran.
Di samping itu, terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk mendapatkan
pengetahuan, yakni melalui wahyu. Dalam hal ini pengetahuan yang didapat bukan
berupa kesimpulan sebagai produk dari usaha aktif manusia dalam menemukan
kebenaran, melainkan berupa pengetahuan yang ditawarkan atau diberikan oleh
Tuhan. Sebagai contoh wahyu yang diberikan Tuhan lewat malaikat-malaikat dan
nabi-nabi-Nya. Manusia dalam menemukan kebenaran ini bersifat pasif sebagai
penerima pemberitaan tersebut, yang kemudian dipercaya atau tidak dipercaya,
berdasarkan masing-masing keyakinannya.15
Dengan wahyu, seseorang mendapatkan pengetahuan lewat keyakinan
(kepercayaan) bahwa yang diwahyukan itu adalah benar demikian juga dengan
intuisi, di mana kita percaya bahwa intuisi adalah sumber pengetahuan yang benar,
meskipun kegiatan berpikir intuitif tidak mempunyai logika atau pola berpikir
tertentu. Jadi dalam hal ini bukan saja kita berbicara mengenai. pola penemuan
kebenaran melainkan juga sudah mencakup materi pengetahuan yang berasal dari
14 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004, hal. 28.
15 Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Kencana, Jakarta, 2003, hal. 24.

sumber kebenaran tertentu. Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada


dasarnya bersumber pada rasio atau fakta.
Mereka

yang

berpendapat

bahwa

rasio

adalah

sumber

kebenaran

mengembangkan paham yang kemudian disebut sebagai rasionalisme. Sedangkan


mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia
merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empirisme.
Aspek yang ketiga yang harus ada dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah
aksiologi. Istilah aksiologi berasal dan kata axios dan logos. Axios artinya nilai atau
sesuatu yang berharga, sedangkan logos artinya akal, teori. Jadi aksiologi artinya teori
nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai. Dalam
pemikiran filsafat Yunani,, studi mengenai nilai ini mengedepankan pemikiran Plato
mengenai idea tentang kebaikan, atau yang lebih dikenal dengan Summum Bonum
(kebaikan tertinggi). Tokoh zaman pertengahan, Thomas Aquinas, membangun
pemikiran tentang nilai dengan mengidentifikasi fllsafat Aristoteles tentang nilai
tertinggi dengan penyebab final (causa prima) dalam diri Tuhan sebagai keberadaan
kehidupan, keabadian, dan kebaikan tertinggi.16
Nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang
telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (yakni manusia yang meyakini).
Sedangkan pengertian nilai menurut J.R. Fraenkel sebagaimana dikutif Chabib Toha 17
adalah a value is an idea a concept about what some one thinks is important in life.
Pengertian ini menunjukkan bahwa hubungan antara subjek dengan objek memiliki
arti penting dalam kehidupan objek.
16 Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002,
hal. 26.
17 Chabib Toha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996, hal.
60.

Sidi Gazalba sebagaimana dikutif Chabib Toha, mengartikan nilai sebagai


berikut:
Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit,
bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian
empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki,
disenangi dan tidak disenangi.18
Dari pengertian tersebut, menurut Chabib Toha, nilai merupakan esensi yang
melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Esensi belum
berarti sebelum dibutuhkan oleh manusia, tetapi tidak berarti adanya esensi karena
adanya manusia yang membutuhkan. Hanya saja kebermaknaan esensi tersebut
semakin meningkat sesuai dengan peningkatan daya tangkap dan pemaknaan manusia
sendiri.
Nilai dapat dilihat dari berbagai sudut, antara lain:
a.

Dilihat dari segi kebutuhan hidup manusia, menurut Abraham Maslaw,


sebagaimana dikutip oleh Chabib Toha, dikelompokkan menjadi: nilai
biologis, nilai keamanan, nilai cinta kasih, nilai harga diri, nilai jati diri. 19
Dilihat

dari

kemampuan

jiwa

manusia

untuk

menangkap

dan

mengembangkan, nilai dapat dibedakan menjadi dua yakni: nilai yang


statik, seperti kognisi, emosi, dan psikomotor dan nilai yang bersifat
dinamis, seperti motivasi berprestasi, motivasi berafiliasi, motivasi
berkuasa. 20
18 Ibid., hal. 61.
19 Chabib Toha, Op.Cit, hal. 62-63.
20 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Reka Sarasin, Yogyakarta, 1990,, hal.
133.

b.

Dilihat dari sumbernya, nilai dibedakan 21menjadi dua, yaitu: nilai illahiyah
(ubudiyah dan muamalah), dan nilai insaniyah. Nilai ilahiyah adalah nilai
yang bersumber dari agama (wahyu Allah), sedangkan nilai insaniyah
adalah nilai yang diciptakan oleh manusia atas dasar kriteria yang

c.

diciptakan oleh manusia pula.


Dilihat dari segi ruang lingkup dan keberlakuannya nilai dapat dibagi
menjadi (1) nilai-nilai universal dan (2) nilai-nilai lokal. Tidak tentu semua
nilai-nilai agama itu universal, demikian pula ada nilai-nilai insaniyah yang
bersifat universal. Dari segi keberlakuan masanya dapat dibagi menjadi (1)

d.

nilai-nilai abadi, (2) nilai pasang surut dan (3) nilai temporal. 22
Ditinjau dari segi hakekatnya nilai dapat dibagi menjadi (1) nilai hakiki
(root values) dan (2) nilai instrumental.23 Nilai-nilai yang hakiki itu bersifat
universal dan abadi, sedangkan nilai-nilai instrumental dapat bersifat lokal,
pasang-surut, dan temporal.

Perbedaan macam-macam nilai ini mengakibatkan menjadikan perbedaan dalam


menentukan tujuan pendidikan nilai, perbedaan strategi yang akan dikembangkan
dalam pendidikan nilai, perbedaan metoda dan teknik dalam pendidikan Islam. Di
samping perbedaan nilai tersebut di atas yang ditinjau dari sudut objek, lapangan,
sumber dan kualitas/serta masa keberlakuannya, nilai dapat berbeda dari segi tata
strukturnya. Tentu hal ini lebih ditentukan dari segi sumber, sifat dan hakekat nilai
itu.24

21 Noeng Muhadjir, Ibid., hal. 34.


22 Ibid.,
23 Ibid.,
24 Chabib Toha, Op.Cit, hal. 63-65.

10

Kesimpulan
Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu yang berasal dari konsep yang terkandung dalam
al-Quran dan Sunnah. Ilmu Pendidikan Islam digali dari sumbernya dengan berpijak
pada ketiga aspek, yaitu: aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis. Dalam Ilmu
Pendidikan Islam digunakan metodologi ilmiah dengan berdasarkan kepada kerangka
berpikir (logika), baik dengan mengedepankan rasio (rasionalisme), fakta yang ada
(empirisme) dan intuisi/wahyu (intuitif)

11

Daftar Pustaka
Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media,
1992
Al-Quran surat al-Isra ayat 24, Al-Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penerbit dan Penerjemah al-Quran, Depag RI, 1977
Arifin, Muzayin, Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis
Berdasarkan Pende
katan Indisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
Asyarie, Musa, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: Lesfi, 2002

12

Daradjat, Zakiah, et.al, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996
_____________, Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 2001
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Reka Sarasin, 1990
Muhaimin, et.al. Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2002
Mustansyir, Rizal dan Munir, Misnal, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002
S. Praja, Juhaya, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana, 2003
S. Suria Sumantri, Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1993
Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004
____________, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif, Bandung: Remaja Rosda Karya,
1994
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer, Gita Media Press, Surabaya, 2006
Toha, Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

13