Anda di halaman 1dari 16

Ekonomi Islam : Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

A.

Perekonomian di Masa Rasulullah Saw (571- 632 M)

Pada periode Makkah masyarakat Muslim belum sempat membangun


perekonomian, sebab masa itu penuh dengan perjuangan untuk mempertahankan
diri dari intimidasi orang orang Quraisy. Barulah pada periode Madinah Rasulullah
memimpin sendiri membangun masyarakat Madinah sehingga menjadi masyarakat
sejahtera dan beradab. Meskipun perekonomian pada masa beliau relatif masih
sederhana, tetapi beliau telah menunjukkan prinsip- prinsip yang mendasar bagi
pengelolaan ekonomi. Karakter umum dari dari perekonomian pada masa itu adalah
komitmennya yang tinggi terhadap pemerataan kekayaan.
Sebagaimana pada masyarakat Arab lainnya, mata pencaharian mayoritas
penduduk Madinah adalh berdagang, sebagian lainnya bertani, beternak, dan
berkebun. Berbade dengan Makkah yang gersang sebagian tanah di Madinah relatif
subur sehingga pertanian, peternakan dan perkebunan dapat dilakukan di kota ini.
Kegiatan ekonomi pasar relatif menonjol pada masa itu, dimana untuk menjaga
agar mekanisme pasar tetap berada dalam bingkai etika dan moralitas Islam,
Rasulullah mendirikan Al Hisbah untuk mengontrol pasar dan membentuk Baitul
Maal untuk kesejahteraan masyarakat.
Rasulullah mengawali pembangunan Madinah tanpa sumber keuangan yang pasti
sementara distribusi kekayaan juga timpang. Sumber pemasukan negara barasal
dari beberapa sumber tetapi yang palin pokok adalah Zakat dan Ushr. Secara garis
besar pemasukan negara ini dapat digolongkan bersumber dari umat Islam sendiri
berupa Zakat, Ushr (5-10%), Ushr (2,5%), Zakat Fitrah, Wakaf, Amwal Fadila,
Nawaib, Shadaqah yang lain, dan Khumus. Dari non- muslim berupa Jizyah, Kharaj,
dan Ushr (5%) dan umum berupa Ghanimah, Fay, Uang tebusan, pinjaman dari
kaum muslim atau non- muslim, dan hadiah dari pemimpin atau pemerintah negara
lain.
Sampai tahun ke-4 Hijrah, pendapatan dan sumber daya negara masih sangat kecil.
Kekayaan pertama datang dari Banu Nadir, suatu suku yang tinggal di pinggiran
Madinah. Kelompok ini masuk dalam piagam Madinah, tetapi mereka melanggar
perjanjian sehingga mereka ditaklukkan dan dipaksa meninggalkan kota. Semua
milik Banu Nadir yang ditinggalkan dan dibagikan kepada kaum Muhajirin dan kaum
Anshar yang miskin.
Harta rampasan perang juga merupakan pendapatan negara, meskipun nilainya
relatif tidak besar jika dibandingkan dengan biaya peperangan yang dikeluarkan.
Zakat dan Ushr merupakan sumber pendapatan pokok, terutama setelah tahun ke-9
H dimana zakat mulai diwajibkan kecuali perempuan, anak-anak, pengemis,
pendeta, orang tua, dan orang yang menderita penyakit dibebaskan dari kewajiban

ini.
Beberapa sumber pendapatan yang tidak terlalu besar berasal dari beberapa
sumber, misalnya: tebusan tawanan perang, pinjaman dari kaum muslim, khumuz
atau rikaz (harta karun temuan pada periode sebelum Islam), amwal fadhla (harta
kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris), wakaf, nawaib (pajak bagi
muslimin kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat,
zakat fitrah, kaffarat (denda atas kesalahan yang dilakukan seorang mislim pada
acara keagamaan), maupun sedekah dari kaum muslim.
B.
Pemikiran Ekonomi Islam: Kilasan Tokoh dan Pemikirannya
Terminoligi pemikiran ekonomi Islam disini mengandung dua pengertian, yaitu
pemikiran ekonomi yang dikemukakan oleh parasarjana muslim dan pemikiran
ekonomi yang didasarkan atas agama Islam. Dalam realitas kedua pengertian ini
sering kali menjadi kesatuan, sebab para sarjana muslim memang menggali
pemikirannya mendasarkan pada ajaran Islam. Pemikiran ekonomi dalam ajaran
Islam. Pemmikiran ekonomi dalam islam bertitik tolak dari Al Quran dan Hadis yang
merupakan sumber dan dasar utama Syariat Islam.
Nejatullah Siddiqi telah membagi sejarah pemikiran ini menjadi tiga periode, yaitu
periode pertama/ fondasi (Masa awal Islam 450 H/1058 M), periode kedua (450850 H/1058-1446 M), dan periode ketiga (850-1350 H/1446-1932 M). Periodesasi ini
masih didasarkan pada kronologikal (urutan waktu) semata bukan berdasarkan
kesamaan atau kesesuaian ide pemikiran. Hal ini dilakukan karena studi tentang
sejarah pemikiran ekonomi Islam masih pada tahap eksplorasi awal. Dan
ditambahkan periode kontemporer (pemikiran yang muncul sejak tahun 1930-an
sampai sekarang).
1.

Periode Pertama/Fondasi (Masa Awal Islam- 450 H/1058 M)

Pada periode ini banyak sarjana muslim yag pernah hidup bersama para sahabat
Rasulullah dan para tabiin sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam yang
autentik. Beberapa diantaranya adalah:
a.

Zaid bin Ali (120 H/798 M)

Zaid bin Ali, cucu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib merupakan ekonom pertama
yang memperbolehkan adanya harga tangguh tempo lebih tinggi daripada harga
tunai. Namun, ia melarang tegas riba dalam bentuk apapun.
b.

Abu Hanifa (80-150 H/699- 767 M)

Salah satu kebijakan Abu Hanifa adalah menghilangkan ambiguitas dan perselisihan
dalam masalah transaksi, hal ini merupakan salah satu tujuan Syariah dalam

hubungan dengan jual beli dan dia menyebutkan contoh, murabahah. Dalam
murabahah persentase kenaikan harga didasarkan atas kesepakatan antara penjual
dan pembeli terhadap harga pembelian yang pembayarannya diangsur.
Pengalaman Abu Hanifa dibidang perdagangan menjadikan beliau dapat
menentukan mekanisme yang lebih adil dalam transaksi ini dan transaksi yang
sejenis.
c.

Abu Yusuf (113-182 H/731-798 M)

Abu Yusuf menekankan pentingnya prinsip keadilan, kewajaran dan penyesuaian


terhadap kemampuan membayar dalam perpajakan, serta perlunya akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan negara. Ia juga membahas teknik dan sistem
pemungutan pajak, serta perlunya sentralisai pengambilan keputusan dalam
administrasi perpajakan. Menurutnya, negara memiliki peranan besar dalam
menyediakan barang/ fasilitas publik, yang dibutuhkan dalam pembangunan
ekonomi, seperti: jalan, jembatan, bendungan, dan irigasi. Dalam aspek mikro
ekonomi, ia juga telah mengkaji bagaimana mekanisme harga bekerja dalam pasar,
kontrol harga, serta apakah pengaruh berbagai perpajakan terhadapnya.
d.

Muhammad bin Al Hasan Al Shaybani (132-189 H/750-804 M)

Muhammad bin Al Hasan Al Shaybani telah menulis beberapa buku, antara


lain Kitab al Iktisab fiil Rizq al Mustahab dan Kitab al Asl. Buku pertama banyak
membahas berbagai aturan Syariat tentang ijarah (hiring out), tijarah (trade), ziraah
(agriculture), dan sinaah (industry). Perilaku konsumsi ideal menurutnya adalah
sederhana, suka memberikan derma (charity), tetapi tidak suka meminta- minta.
Buku yang kedua membahas berbagai bentuk transaksi/ kerja sama usaha dalam
bisnis, misalnya salam (prepaid order), sharikah (partnership), dan mudharabah.
e.

Abu Ubayd Al Qasim Ibn Sallam (224 H/838 M)

Buku yang ditulis oleh Abu Ubayd yang berjudul Al Amwal yang membahas
keuangan publik/kebijakan fiskal secara komprehensif. Didalamnya dibahas secara
mendalam tentang hak dan kewajiban negara, pengumpulan dan penyaluran zakat,
khums, kharaj, fay, dan berbagai sumber penerimaan negara lainnya.
f.

Harith bin Asad Al Muhasibi (243 H/859 M)

Harith bin Asad menulis buku berjudul Al Makasib yang membahas cara- cara
memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri,
dan kegiatan ekonomi produktif lainnya. Pendapatan ini harus diperoleh secara baik
dan tidak melampaui batas/ berlebihan. Laba dan upah tidak boleh dipungut atau
dibayarkan secara lazim, sementara menarik diri dari kegiatan ekonomi bukanlah
sikap muslim yang benar- benar Islami. Harith menganjurkan agar masyarakat

harus bekerja sama dan menguk sikap pedagang yang melanggar hukum (demi
mencari keuntungan).
g.

Junaid Baghdadi (297 H/910 M)

Junaid Baghdadi merupakan seorang sufi, karenanya ide- idenya tentang ekonomi
tergambar dari ajaran- ajaran tasawufnya. Menurutnya, inti dari ajaran tasawuf
adalah membuang motivasi untuk mementingkan diri sendiri dalam meningkatkan
kualitas spiritual serta mengabdikan diri pada pengetahuan yang benar. Seorang
muslim juga harus melakukan apa yang terbaik untuk kepentingan abadi,
mengharapkan kebajikan untuk seluruh masyarakat, serta menjadi benar- benar
beriman kepada Allah swt dengan mengikuti sunah Nabi Muhammad saw.
h.

Ibn Miskwaih (421 H/1030 M)

Ibn Miskwaih menulis buku yang berjudul Tahdib al Akhlaq yang banyak membahas
tentang pertukaran barang dan jasa serta peranan uang. Menurutnya, manusia
adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya untuk
memenuhi kebutuhan barang dan jasa. Karenanya, menusia akan melakukan
pertukaran barang dan jasa dengan kompensasi yang pas. Dalam melakukan
pertukaran uang akan berperan sebagai alat penilai dan penyeimbang dalam
pertukaran, sehingga dapat tercipta keadilan.
i.
Mawardi (450 H/1058 M)
Pemikiran Mawardi tentang ekonomi terutama dalam bukunya yang berjudul, Al
Ahkam al Sulthoniyyahdan Adab al Din wal Dunya. Bukunya yang pertama banyak
membahas tentang pemerintah dan administrasi, juga terdapat tugas muhtasib
untuk mengawasi pasar, menjamin ketepatan timbangan dan berbagai ukuran
lainnya, serta mencegah penyimpangan transaksi dagang dan pengrajin dari
ketentuan syariah. Buku yang kedua banyak membahas tentang perilaku ekonomi
muslim secara individual yang disampaikan melalui ajaran- ajaran tasawuf tentang
budi luhur dalam perekonomian dan juga membahas perilaku- perilaku yang dapat
merusak budi luhur.
2.

Periode Kedua (450-850 H/1058-1446 M)

Pemikiran ekonomi pada masa ini banyak dilatarbelakangi oleh menjamurnya


korupsi dan dekadensi moral, serta melebarnya kesenjangan antara golongan
miskin dan kaya, meskipun secara umum kondisi perekonomian masyarakat Islam
berada dalam taraf kemakmuran. Terdapat pemikir- pemikir besar yang karyanya
banyak dijadikan rujukan hingga kini, diantaranya adalah:
a.

Al Ghazali (451-505 H/1055-1111 M)

Dalam pandangan Al Ghazali, kegiatan ekonomi merupakan amal kebajikan


mencapai maslahah untuk memperkuat sifat kebijaksanaan, kesederhanaan, dan
keteguhan hati manusia. Lebih jauh Al Ghazali membagi manusia ke dalam tiga
kategori, yaitu: pertama, orang yang kegiatan hidupnya sedemikian rupa sehingga
melupakan tujuan akhirat. Kedua, orang yang mementingkan tujuan akhirat
daripada tujuan duniawi, golongan ini akan beruntung. Dan ketiga, golongan
pertengahan/kebanyakan orang, yaitu mereka yang kegiatannya sejalan dengan
tujuan akhirat.
b.

Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M)

Ibn Taimiyah telah membahas pentingnya suatu persaingan dalam pasar yang
bebas, peranan market supervisor dan lingkup dari peranan negara. Negara harus
mengimplementasikan aturan main yang Islami sehingga produsen, pedagang, dan
para agen ekonomi lainnya dapat melakukan transaksi secara jujur dan fair. Negara
juga harus menjamin pasar berjalan dengan bebas dan terhindar dari praktikpraktik pemaksaan, menipulasi, dan eksploitasi yang memanfaatkan kelemahan
pasar sehingga persaingan dapat berjalan dengan sehat. Selain itu, negara
bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan dasar dari rakyatnya.
c.

Ibn Khaldun (732-808 H/1332-1404 M)

Secara umum Ibn Khaldun sangat menekankan pentingnya suatu sistem pasaryang
bebas. Ia menentang intervensi negara terhadap masalah ekonomi dan percaya
akan efensiensi sistem pasar bebas. Ia juga telah membahas tahap- tahap
pertumbuhan dan penurunan perekonomian dimana dapat saja berbeda antara satu
negara dengan negara lainnya. Ia juga menekankan pentingnya demand side
economics khususnya pengeluaran pemerintah, sebagaimana pandangan
Keynesian, untuk mencegah kemerosotan bisnis dan menjaga pertumbuhan
ekonomi. Dalam situasi kemerosotan ekonomi, pajak harus dikurangi dan
pemerintah harus meningkatkan pengeluarannya untuk merangsang pertumbuhan
ekonomi.
d.

Nasiruddin Tusi (485 H/1093 M)

Tusi sangat menekankan pentingnya tabungan dan mengutuk konsumsi yang


berlebihan serta pengeluaran- pengeluaran untuk aset- aset yang tidak produktif,
seperti perhiasan dan pnimbunan tanahtidak produktif. Ia memandang pentingnya
pembangunan pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi secara
keseluruhan dan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Ia juga
merekomendasikan pengurangan pajak, dimana berbagai pajak yang tidak sesuai
dengan syariah Islam harus dilarang.
3.

Periode Ketiga (850-1350 H/1446-1932 M)

Dalam periode ketiga ini kejayaan pemikiran, dan juga dalam bidang lainnya, dari
umat Islam sebenarnya telah mengalami penurunan. Namun demikian, terhadap
beberapa pemikiran ekonomi yang berbobot selama dua ratus tahun terakhir,
sebagaimana tampak dalam karya dari:
a.

Shah Waliullah (1114-1176 H/1703-1762 M)

Berdasarkan pengamatannya terhadap perekonomian di Kekaisaran Mughal India,


Waliullah mengmukakan dua faktor utama yang menyababkan penurunan
pertumbuhan ekonomi. Dua faktor tersebut yaitu:pertama, keuangan negara
dibebani dengan berbagai pengeluaran yang tidak produktif. Kedua, pajak yang
dibebankan kepada pelaku ekonomi terlalu berat sehingga menurunkan semangat
berekonomi. Menurutnya, perekonomian dapat tumbuh jika terdapat tingkat pajak
yang ringan yang didukung oleh administrasi yang efisiensi.
b.

Muhammad Iqbal (1289-1356 H/1873-1938 M)

Muhammad Iqbal dikenal sebagai filosof, sustrawan juga pemikir politik tetap
sebenarnya ia juga memiliki pemikiran- pemikiran ekonomi yang brilian.
Pemikirannya memang tidak berkisar tentang hal- hal teknis dalam ekonomi, tetapi
lebih kepada konsep- konsep umum yang mendasar. Iqbal menganalisis dengan
tajam kelemahan kapitalisme dan komunisme dan menampilkan suatu pemikiran
poros tengah yang dibuka oleh Islam.
4.

Periode Kontemperer (1930- sekarang)

Era tahun 1930-an merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia


Islam. Kemerdekaan negara- negara muslim dari kolonialisme Barat turut
mendorong semangat para sarjana muslim dalam mengembangkan pemikirannya.
Khurshid membagi perkembangan ekonomi Islam kontemporer menjadi empat fase
yaitu:
1.

Fase Pertama

Pertengahan 1930-an banyak muncul analisis masalah ekonomi sosial dari


perspektif Islam sebagai wujud kepedulian terhadap dunia Islan yang secara umum
dikuasai oleh negara- negara Barat. Meskipun kebanyakan analisis ini berasal dari
para ulama yang tidak memiliki pendidikan formal bidang ekonomi , namun langkah
mereka telah membuka kesadaran baru tentang perlunya perhatian yang serius
terhadap masalah sosial ekonomi.
2.

Fase Kedua

Pada tahun 1970-an banyak ekonom muslim yang berjuang keras mengembangkan
aspek tertentudari ilmu ekonomi Islam, terutama dari sisi moneter. Mereka banyak
mengetengahkan pembahasan tentang bunga dan riba dan mulai menawarkan
alternatif pengganti bunga. Konferensi internasional pertama diadakan di Makkah,
Saudi Arabia pada tahun 1976, disusul Konferensi Internasional tentang Islam dan
Tata Ekonomi Internasional Baru di London, Inggris pada tahun 1977. Sejak itu
banyak karya tulis yang dihasilkan dalam wujud makalah, jurnal ilmiah hingga buku,
baik yang dipresentasikan dalam pertemuan- pertemuan internasional maupun
yang diterbitkan secara khusus.
3.

Fase Ketiga

Perkembangan ekonomi Islam selama satu setengah dekade terakhir menandai fase
ketiga dimana banyak berisi upaya- upaya praktikal- operasional bagi realisasi
perbankan tanpa bunga, baik di sektor publik maupun swasta. Bank- bank tanpa
bunga banyak didirikan, baik di negara- negara muslim maupun di negara- negara
non- muslim, misalnya di Eropa dan Amerika. Dengan berbagai kelemahan dan
kekurangan atas konsep bank tanpa bunga yang digagas oleh para ekonom muslim
(dan karenanya terus disempurnakan) langkah ini menunjukkan kekuatan riil dan
keniscayaan dari sebuah teori keuangan tanpa bunga.
4.

Fase Keempat

Pada saat ini perkembangan ekonomi Islam sedang menuju kepada sebuah
pembahasan yang lebih integral dan komprehensif terhadapteori dan praktik
ekonomi Islam. Adanya berbagai keguncangan dalam sistem ekonomi konvensional,
yaitu kapitalisme dan sosialisme, menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi
implementasi ekonomi Islam. Dari sisi teori dan konsep yang terpenting adalah
membangun sebuah kerangka ilmu ekonomi yang menyeluruh dan menyatu, baik
dari aspek mikro maupun makro ekonomi. Berbagai metode ilmiah yang baku
banyak diaplikasikan disini. Dari sisi praktikal adalah bagaimana kinerja lembaga
ekonomi yang telah (misalnya bank tanpa bunga) dapat berjalan baik dengan
menunjukkan segala keunggulannya, serta perlunya upaya yang berkesinambungan
untuk mengaplikasikan teori ekonomi Islam.
Pada awalnya, perkembangan ini diawali oleh kiprah para ulama (yang kebanyakan
tidak didukung pengetahuan ekonomi yang memadai) dalam menyoroti berbagai
persoalan sosial ekonomi saat itu dari perspektif Islam.
Zarqa membagi topik- topik kajian dari para ekonom dimasa ini menjadi tiga
kelompok tema, yaitu:
a.
Perbandingan sistem ekonomi Islam dengan ekonomi lainnya, khususnya
kapitalisme dan sosialisme

b.
Kritik terhadap sisten- sistem ekonomi konvensional, baik dalam tataran
filosofi maupun praktikal
c.
Pembahasan yang mendalam tentang ekonomi Islam itu sendiri, baik secara
mikro maupun makro.
C.

Melacak Missing Link Sejarah Pemikiran Ekonomi

Dalam magnus opusnya, History of Economic Analysis, Joseph Schumpeter


mengatakan, bahwa terdapat suatu great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi
selama lebih dari 500 tahun, yaitu pada masa yang dikenal sebagai dark ages oleh
Barat. Pada masa kegelapan tersebut Barat dalam keadaan terbelakang, dimana
tidak terdapat prestasi intelektual yang gemilang termasuk juga dalam pemikiran
ekonomi. Demikian pula pada kebanyakan buku sejarah pemikiran ekonomi,
misalnya Spiegel (1991), menganggap pada masadark age tidak terdapat karya
pemikiran tentang ekonomi. Spiegel memang membuka sejarah pemikiran ekonomi
dari Bibel (1M) dan para pemikir Yunani (SM), akan tetapi kemudian setelah itu
melompat ribuan tahun langsung pada pemikiran abad pertengahan.
Ternyata penilaian tentang dark age tersebut sangat bias dengan kepentingan
Barat. Dunia secara keseluruhan tentu bukan hanya dunia Barat, dan Barat tidaklah
mewakili dunia secara keseluruhan. Sebenarnya, pada sebagian besar masa dark
age itu justru merupakan masa kegemilangan di dunia Islam, suatu hal yang
berusaha ditutup- tutupi oleh Barat. Pada masa itu banyak karya- karya gemilang
diberbagai bidang ilmu, termasuk ilmu ekonomi, yang lahir dari sarjana- sarjana
muslim. Jadi, sesungguhnya terdapat dua missing link dalam sejarah pemikiran
ekonomi, yaitu great gap pada masa dark age dan relasi antara pemikiran di Barat
dan dunia Islam. Dan ternyata banyak pemikiran dari para sarjana muslim tersebut
yang mirip, bahkan sama dengan pemikiran para sarjana Barat yang hidup beratusratus tahun kemudian.
D.

Pemikiran Ekonomi dari Timur (Islam) ke Barat

Pemikiran para sarjana muslim ternyata banyak yang mirip, sejalan atau bahkan
sama dengan pemikiran para ekonom Barat yang datangnya beratus- ratus
kemudian. Terdapat beberapa kemungkinan jawaban, antara lain:
a.
Terjadi dua kebetulan yang sama, yaitu kebetulan diantara sarjana muslim
dengan para ekonom Barat punya pemikiran dan ide yang sama.
b.
Para pemikir Barat secara langsung dan tidak langsung sangat dipengaruhi
oleh pemikiran dari para sarjan muslim.
c.

Para pemikir Barat melakukan plagiasi/ penjiplakan terhadap karya- karya

para sarjana muslim.


Jika kemungkinan pertama yang terjadi, hal ini mengindikasikan betapa cemerlang
dan briliannya para sarjana muslim waktu itu. Beratus- ratus tahun yang lalu, jauh
ketika dunia Barat masih dalam kebodohan dan kegelapan (dark age), para sarjana
muslim berhasil merumuskan pemikiran- pemikiran ekonomi yang baru ditulis oleh
para ekonom Barat beratus- ratus kemudian.
Untuk memilih kemungkinan kedua dan ketiga,tentunya akan membutuhkan diskusi
yang panjang. Namun langkah awal dapat dilakukan dengan mencermati sejarah
proses perpindahan (transformasi) ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat.
Dengan mencermati proses transformasi ini maka akan ditemukan indikasi- indikasi
untuk menjawab pertanyaan mengapa banyak terjadi kesamaan antara pemikiran
sarjana muslim dan sarjana Barat. Sejarah telah membuktikan bahwa dunia ilmu
pengetahuan dikalangan masyarakat muslim mendapat pengaruh yang luar biasa
terhadap dunia luar, termasuk Eropa. Kebudayaan dan ilmu pengetahuan Ialam
mencapai Eropa melalui beberapa cara, yaitu:
1.
Melalui para mahasiswa dan cendekiawan dari Eropa Barat yang belajar
disekolah- sekolah tinggi dan universitas Spanyol dan Timur Tengah.
2.
Melalui terjemahan-terjemahan karya- karya muslim dari sumber- sumber
bahasa Arab terutama ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan
Catalonia/latin.
3.
Melalui Andalusia dimana kaum muslimin telah menetap di negeri ini sekitar 8
abad lamanya. Kebudayaan Islam di Andalusia melalui perkembangan pesat
diberbagai pusat kota, misalnya Cordova, Sevila, Granada.
4.
Melalui Sisilia, kaum muslim menundukkan Sisilia pada masa akhir lewat
tangan Dinasti Aghlabiyyah yang berkuasa dikawasan Tunis dan Aljazair.
5.
Melalui perang Salib menetapnya pasukan salib dalam waktu yang lama di
dunia Islam antara abad ke-5 sampai abad ke-7 H atau 12-14 M membuat mereka
berhubungan dengan berbagai aspek kebudayaan Islam.
6.

Melalui perdagangan antar Barat dan Timur lewat Mesir.

Selain itu, banyak universitas di Eropa yang didirikan oleh orang- orang Kristen,
tetapi mendapat pengaruh Islam yang besar, baik dari para pengajar/dosen maupun
literatur- litaratur yang digunakannya. Pendirian universitas di Eropa waktu itu harus
mendapat izin dari Paus terlebih dahulu karena untuk menjaga agar pelajaranpelajaran tidak menyimpang dari kemurnian ilmu para sarjana muslim.
Dengan mempertimbangkan fakta diatas, maka sangatlah mungkin kalau para

ekonom Barat kemungkinan dipengaruhi/ bahkan menjiplak karya- karya sarjana


muslim. Indikasi ini diperkuat pula oleh kenyataan bahwa beberapa praktik ekonomi
di Barat diadopsi dan diadaptasi dari praktik ekonomi didalam Islam, misalnya:
syirkah (serikat dagang/ partnership), suftaja (bills of exchange), hawala (letter of
credit), funduq (specialized large scale commercial institution and market which
developed into virtual stock exchanges).

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam


August 3, 2014 - Uncategorized
Pemikiran ekonomi Islam tidak pernah lepas dari peran sumber nilai Islam yaitu Al
Quran dan Al Hadits, kebijakan ekonomi yang berlaku sudah berlangsung dari masa
Rasulullah saw yang dilanjutkan pada masa Khulafaur Rasyidin dan dilanjutkan pada
masa-masa berikutnya.
Menurut Siddiqi sejarah pemikiran ekonomi Islam berkembang selama tiga fase:
Fase Dasar-dasar Ekonomi Islam (berkembang dari awal hingga abad ke-5 hijriyah).
Tokoh-tokoh (fuqaha) yang ada pada masa ini adalah Zain bin Ali (memperbolehkan
penjualan dengan sistem kredit), Abu Hanifah (menghilangkan ambiguitas dan
perselisihan dalam masalah transaksi), Abu Yusuf (pemecahan masalah harga yang
tidak boleh dikendalikan oleh penguasa, pemecahan masalah keuangan publik), dan
Ibnu Masakawaih (pertukaran dan peranan uang).
Fase Kemajuan (dimulai dari abad ke-5 hijriyah hingga abad ke-9 hijriyah). Fase ini
terkenal sebagai fase yang cemerlang bagi pemikiran ekonomi Islam karena telah
meninggalkan warisan intelektual yang sangat kaya. Tokoh-tokoh popular pada
masa ini adalah Al Ghazali (evolusi pasar, peranan uang, pelarangan penimbunan
uang), Ibnu taimiyah (mewujudkan keadlian ketika akad transaksi), dan Al Maqrizi
(penggunaan fulus/uang yang harus dibatasi peredarannya).
Fase Stagnasi (dimulai pada abad ke-9 hijriyah hingga fase tertutupnya pintu ijtihad
yaitu abad ke-14 hijriyah). Tokoh-tokoh pemikir ekonomi Islam yang terkenal pada
masa ini adalah Shah Wali Allah, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, dan
Muhammad Iqbal.
Sistem Ekonomi dan Fiskal pada Masa Rasulullah saw

Pada zaman Rasulullah saw umat Islam telah menerima dasar-dasar keuangan
negara, tepatnya ketika Rasulullah saw berada di Madinah sebagai pemimpin
negara pada saat itu. Sistem ekonomi Islam yang dipakai pada saat itu berakar
pada prinsip bahwa kekuasaan tertinggi hanya milik Allah swt semata dan manusia
diciptakan sebagai khalifah-Nya di bumi. Rasulullah memberikan pengetahuan
dalam ekonomi seperti pada ayat berikut:
Celakalah semua pedagang jahat dan suka menjatuhkan orang lain yang
menumpuk hartanya dan memperbanyak dengan harapan harta tersebut dapat
menjadikanya hebat dan selalu bertahan selamanya. (Al Humazah : 1-3)
Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa haram hukumnya untuk menumpuk
harta.
Perekonomian pada masa Rasulullah sudah mengenal sistem pajak seperti kharaj,
yakni pajak yang dibayarkan oleh penduduk Madinah non-muslim, ushr (pajak untuk
pertanian) dan jizyah (pajak perlindungan dan pengecualian orang-orang nonmuslim dari wajib militer).
Sistem Ekonomi dan Fiskal pada Masa Khuafaur Rasyidin
Pada masa ini sudah terdapat Baitul Maal yang perannya sangat penting dalam
mengumpulkan dana ummat. Contohnya pada zaman kekhalifahan Abu Bakar yang
sangat menekankan pembayaran zakat sehingga Baitul Maal berfungsi sebagai
pendistribusi zakat yang telah diambil. Pada masa Umar bin Khattab Baitul Maal
didirikan di setiap provinsi agar dana ummat dapat tersalurkan dengan merata, pun
pada masa Umar bin Khattab ini Baitul Maal juga berperan dalam bidang militer
karena pada masa tersebut khalifah Umar mengadakan ekspansi wilayah seluasluasnya sehingga Baitul Maal berperan untuk memberikan tunjangan pada pasukan.
Pada masa khalifah Utsman bin Affan terjadi perubahan penghitungan zakat yaitu
zakat dihitung sendiri-sendiri. Hal ini dilakukan demi menghindari kecurangan dari
oknum pengumpul zakat. Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib kebijakan ekonomi
lebih kepada pemerataan distribusi uang yang dibagikan untuk rakyat. Kebijakan
ekonomi yang terjadi pada setiap masa ini mengalami sedikit perubahan pada
setiap khlifahnya namun hal tersebut tetap berlandaskan kepada Al Quran dan
Hadits.
Pemikiran Ekonomi Para Cendekiawan Muslim pada Masa Klasik dan Pertengahan
Islam
Dalam perkembangan pemikiran ekonomi Islam terdapat banyak sekali
cendekiawan yang sangat terkenal pada masanya, yakni:
Al Syaibani (132-289 H). Karya yang telah ditulis dapat digolongkan menjadi 2
kelompok yakni Zahir Al Riwayah (berdasarkan pelajaran yang diberikan Abu
Hanifah) yang terdiri dari kitab-kitab Al Mabsut,Al Jamial Kabir, Al Jamial Shaghir, Al

Siyar Al Kabir dan Al Ziyada yang kesemua dihimpun oleh Abi Al Fadhl Muhammad
bin Muhammad menjadi satu kitab yang berjudul Al Kafi Al Nawadir yaitu kitab yang
ditulis berdasarkan pendangan Al Syaibani sendiri seperti Amali Muhammad fi Al
Fiqh, Al Ruqayyat, Al Makharij fi Al Hiyal dan Al Atsar.
Abu Ubaid (150-224 H). Beliau telah menulis satu kitab terkenal yang berjudul Al
Amwal, kitab ini berisi tentang hak dan kewajiban pemerintah terhadap rakyatnya.
Secara khusus kitab ini membahas keuangan public (Public Finance) dan membahas
pendapatan negara yang berupa pajak serta harta rampasan perang. Karena kitab
ini juga banyak mengandung isi tentang keuangan pemerintahan, kitab ini bisa
menjadi referensi utama dalam pemikiran hukum ekonomi.
Yahya bin Umar (213-289 H). Semasa hidupnya telah menulis karya hingga 40 juz.
Di antara karyanya yang terkenal adalah kitab Al Mutakhabah fi Ikhtisar Al
Mutakhrijah fi Fiqh Al Maliki dan kitab Ahkam Al Sud (merupakan kitab pertama
yang membahas masalah hisbah dan berbagi hukum pasar).
Al Ghazali (450-505 H). Beliau merupakan seorang ilmuwan dan penulis yang
sempat menarik perhatian dunia. Karya-karyanya yang disebut dalam sejarah
sempat mempengaruhi pemikir-pemikir barat abad pertengahan seperti Raymond
Martin, Thomas Aquinas, dan Pascal. Diperkirakan Al Ghazali sempat menulis
sebanyak 300 karya tulis, tetapi yang tersisa hingga sekarang hanya sekitar 84
buah, yang di antaranya berjudul Ihya Ulum Al Din, Al Wajiz, Al Mustashfa, Mizan Al
Amal, Syifa Al Ghalil dan Al Tibr Al Masbuk fi Nasihat Al Muluk.
Al Syatibi (W 790 H). Beliau adalah seorang tokoh yang berhasil menerbitkan
karya Maqashid Al Syariah. Karya tersebut menjelaskan bahwa syariah
menginginkan setiap individu untuk memperhatikan kesejahteraan mereka dan
manusia dituntut untuk mencari kemaslahatan agar kebaikan dapat diperoleh di
dunia maupun di akhirat.
Ibnu Taimiyah (661-728 H). Karya yang telah beliau hasilkan di bidang ekonomi
antara lain Majmu Fatawa Syaikh Al Islam, Al Siyasah Asy Syariyyah fi Ishlah Ar RaI
wa Ar Raiyah dan Al Hisbah fi Al Islam.
Ibnu Khaldun (732-808 H). Beliau adalah ilmuwan yang secara resmi telah
mendahului banyak ilmuwan-ilmuwan barat seperti Smith, Ricardo, Malthus dan
Kenyes dalam ilmu ekonominya. Dapat dikatakan bahwa Ibnu Khaldun adalah bapak
penemu teori-teori ekonomi karena Ibnu Khaldun diklaim sebagai pendahulu bagi
para pemikir Eropa.
Al Maqrizi (766-845 H). Beliau merupakan ilmuwan terakhir pada abad pertengahan
yang meneliti penelitian terhadap uang. Tokoh ini dalam karya tulisnya menjelaskan
tentang korelasi antara uang dengan inflasi yang melanda suatu negeri.
PERBANKAN SYARIAH

Perbankan syariah atau perbankan Islam (Arab: al-Mashrafiyah alIslamiyah) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan
hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan
dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan
mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usahausaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat
menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha
yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau
hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain.
Meskipun prinsip-prinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah
perekonomian Islam, namun baru pada akhir abad ke-20 mulai berdiri bank-bank
Islam yang menerapkannya bagi lembaga-lembaga komersial swasta atau semiswasta dalam komunitas muslim di dunia.[1][2]
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Suatu bentuk awal ekonomi pasar dan merkantilisme, yang oleh beberapa ekonom
disebut sebagai "kapitalisme Islam", telah mulai berkembang antara abad ke-8 dan
ke-12.[3]Perekonomian moneter pada periode tersebut berdasarkan mata
uang dinar yang beredar luas saat itu, yang menyatukan wilayah-wilayah yang
sebelumnya independen secara ekonomi.
Pada abad ke-20, kelahiran perbankan syariah tidak terlepas dari hadirnya dua
gerakan renaisans Islam modern, yaitu gerakan-gerakan neorevivalis dan modernis.
[2] Sekitar tahun 1940-an, di Pakistan dan Malaysia telah terdapat upaya-upaya
pengelolaan dana jamaah haji secara non konvensional. Tahun 1963, Islamic Rural
Bank berdiri di desa Mit Ghamr di Kairo, Mesir.[4]
Perbankan syariah secara global tumbuh dengan kecepatan 10-15% per tahun, dan
menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang konsisten di masa depan.[5] Laporan
dari International Association of Islamic Banks dan analisis Prof. Khursid Ahmad
menyebutkan bahwa hingga tahun 1999 telah terdapat lebih dari 200 lembaga
keuangan Islam yang beroperasi di seluruh dunia, yaitu di negara-negara dengan
mayoritas penduduk muslim serta negara-negara lainnya di Eropa, Australia,
maupun Amerika.[6] Diperkirakan terdapat lebih dari AS$ 822.000.000.000 aset di
seluruh dunia yang dikelola sesuai prinsip-prinsip syariah, menurut analisis
majalah The Economist.[7] Ini mencakup kira-kira 0,5% dari total estimasi aset
dunia pada tahun 2005.[8] Analisis Perusahaan Induk CIMB Group menyatakan
bahwa keuangan syariah adalah segmen yang paling cepat tumbuh dalam sistem
keuangan global, dan penjualan obligasi syariah diperkirakan meningkat 24 persen
hingga mencapai AS$ 25 miliar pada 2010.[9]
Prinsip perbankan syariah[sunting | sunting sumber]

Perbankan syariah memiliki tujuan yang sama seperti perbankan konvensional,


yaitu agar lembaga perbankan dapat menghasilkan keuntungan dengan cara
meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai kegiatan usaha, atau kegiatan
lainnya yang sesuai. Prinsip hukum Islam melarang unsur-unsur di bawah ini dalam
transaksi-transaksi perbankan tersebut:[4]
Perniagaan atas barang-barang yang haram,
Bunga ( riba),
Perjudian dan spekulasi yang disengaja ( maisir), serta
Ketidakjelasan dan manipulatif ( gharar)
Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional adalah sebagai berikut:
[4]
Bank Islam

Bank Konvensional

Melakukan hanya investasi yang halal menurut hukum Islam

Melakukan investas

Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan sewa

Memakai perangka

Berorientasi keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai


ajaran Islam)

Berorientasi keuntu

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan

Hubungan dengan

Penghimpunan dan

Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah


Afzalur Rahman dalam bukunya Islamic Doctrine on Banking and Insurance (1980)
berpendapat bahwa prinsip perbankan syariah bertujuan membawa kemaslahatan
bagi nasabah, karena menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam
sistem ekonominya.[10]
Produk perbankan syariah[sunting | sunting sumber]
Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain:
Titipan atau simpanan[sunting | sunting sumber]
Al-Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat
mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak
berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah.
Bank Muamalat Indonesia-Shahibul Maal.
Deposito Mudharabah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang
tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank
akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

Bagi hasil[sunting | sunting sumber]


Al-Musyarakah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau
joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati
sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masingmasing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini
ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada
campur tangan
Al-Mudharabah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha.
Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati.
Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang
diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak
nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
Al-Muzara'ah, adalah bank memberikan pembiayaan bagi nasabah yang bergerak
dalam bidang pertanian/perkebunan atas dasar bagi hasil dari hasil panen.
Al-Musaqah, adalah bentuk lebih yang sederhana dari muzara'ah, di mana nasabah
hanya bertanggung-jawab atas penyiramaan dan pemeliharaan, dan sebagai
imbalannya nasabah berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.
Jual beli[sunting | sunting sumber]
Bai' Al-Murabahah, adalah penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan
membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali
ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang
ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya
angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah
margin yang disepakati. Contoh: harga rumah 500 juta, margin bank/keuntungan
bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur
selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah.
Bai' As-Salam, Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan di kemudian hari,
sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Barang yang dibeli harus diukur dan
ditimbang secara jelas dan spesifik, dan penetapan harga beli berdasarkan
keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak. Contoh: Pembiayaan bagi petani
dalam jangka waktu yang pendek (2-6 bulan). Karena barang yang dibeli (misalnya
padi, jagung, cabai) tidak dimaksudkan sebagai inventori, maka bank melakukan
akad bai' as-salam kepada pembeli kedua (misalnya Bulog, pedagang pasar induk,
grosir). Contoh lain misalnya pada produk garmen, yaitu antara penjual, bank, dan
rekanan yang direkomendasikan penjual.
Bai' Al-Istishna', merupakan bentuk As-Salam khusus di mana harga barang bisa
dibayar saat kontrak, dibayar secara angsuran, atau dibayar di kemudian hari. Bank
mengikat masing-masing kepada pembeli dan penjual secara terpisah, tidak seperti

As-Salam di mana semua pihak diikat secara bersama sejak semula. Dengan
demikian, bank sebagai pihak yang mengadakan barang bertanggung-jawab
kepada nasabah atas kesalahan pelaksanaan pekerjaan dan jaminan yang timbul
dari transaksi tersebut.
Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa melalui
pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang
itu sendiri.
Al-Ijarah Al-Muntahia Bit-Tamlik sama dengan ijarah adalah akad pemindahan hak
guna atas barang dan jasa melalui pembayaran upah sewa, namun dimasa akhir
sewa terjadi pemindahan kepemilikan atas barang sewa.
Jasa[sunting | sunting sumber]
Al-Wakalah adalah suatu akad pada transaksi perbankan syariah, yang merupakan
akad (perwakilan) yang sesuai dengan prinsip prinsip yang di terapkan dalam
syariat islam.
Al-Kafalah adalah memberikan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada
pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung,
dengan kata lain mengalihkan tanggung jawab seorang yang dijamin dengan
berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai jaminan.
Al-Hawalah adalah akad perpindahan dimana dalam prakteknya memindahkan
hutang dari tanggungan orang yang berhutang menjadi tanggungan orang yang
berkewajiban membayar hutang (contoh: lembaga pengambilalihan hutang).
Ar-Rahn, adalah suatu akad pada transaksi perbankan syariah, yang merupakan
akad gadai yang sesuai dengan syariah.
Al-Qardh adalah salah satu akad yang terdapat pada sistem perbankan syariah
yang tidak lain adalah memberikan pinjaman baik berupa uang ataupun lainnya
tanpa mengharapkan imbalan atau bunga ( riba . secara tidak langsung berniat
untuk tolong menolong bukan komersial.