Anda di halaman 1dari 21

Percobaan 2

ISOTERM ADSORPSI KARBON AKTIF


Candra Tri Kurnianingsih
4301413032

Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang


Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia kode pos 50229
candratri95@yahoo.co.id, 089667721333
ABSTRAK
Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukan distribusi adsorben antara fasa
teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan pada suhu
tertentu. Adsorpsi isoterm karbon aktif termasuk dalam adsorpsi fisika karena terjadi
melalui gaya Van der Waals. Dalam percobaan ini asam asetat berperan sebagai
adsorbat, dan arang sebagai adsorben. Daya adsorpsi karbon aktif dapat diukur melalui
pengukuran konsentrasi asam asetat sebelum dan sesudah perlakuan. Pengukuran
konsentrasi ini dilakukan dengan metode titrasi alkalimetri dengan larutan standar
NaOH. Konsentrasi asam asetat yang digunakan dibuat bervariasi untuk mengetahui
kemampuan arang dalam mengadsorpsi larutan asetat dengan berbagai konsentrasi.
Berdasarkan percobaan diperoleh nilai k sebesar 0.1336 dan n sebesar 1.256.
Kata kunci : isotherm adsorpsi, karbon aktif, konsentrasi asam asetat

ABSTRACT
Adsorption isotherm is a relationship that shows the adsorbent distribution between
adsorbed phase on the surface of the adsorbent with the bulk phase at equilibrium at a
certain temperature. Activated carbon adsorption isotherms are included in physical
adsorption due to occur through Van der Waals force. In this experiment acetic acid
acts as adsorbate, and charcoal as an adsorbent. Adsorption power of the activated
carbon can be measured by measuring the concentration of acetic acid before and after
treatment. The measurement of concentration is done by alkalimetry titration with a
standard solution of NaOH. The concentration of acetic acid used is varied to
determine the ability of charcoal to adsorb acetate solution with various
concentrations. Based on the experiment, the value of k is 0.1336 and n is 1.256.
Keyword : adsorption isotherm, activated carbon, concentration of acetic acid.

I.

PENDAHULUAN
Adsorpsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada
permukaan zat lain akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaan tersebut.
Isoterm adsorpsi merupakan hubungan yang menunjukan distribusi adsorben antara
fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan
pada suhu tertentu.
Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorf dan berpori yang mengandung
85-95% karbon yang dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon
(batubara, kulit kelapa dan sebagainya) atau dari karbon yang diperlakukan dengan
cara khusus baik aktivasi kimia maupun fisika untuk mendapatkan permukaan yang
lebih luas. Karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia
tertentu, sifat adsorpsinya tergantung pada volume pori-pori dan luas permukaan.
Berdasarkan teori diatas maka dilakukanlah percobaan ini untuk menentukan
adsorpsi isoterm menurut Freundlich pada proses adsorpsi asam asetat dengan
arang.
Landasan Teori
Adsorpsi
Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan partikel suatu fluida (cairan maupun
gas) oleh suatu padatan hingga terbentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan
adsorben. Padatan yang dapat menyerap partikel fluida disebut bahan pengadsorpsi
atau adsorben. Sedangkan zat yang terserap disebut adsorbat. Secara umum
Adsorpsi didefinisikan sebagai suatu proses penggumpalan substansi terlarut
(soluble) yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana
terjadi suatu ikatan kimia fisika antara substansi dengan penyerapnya. Penyerapan
partikel atau ion oleh permukaan koloid atau yang disebut peristiwa adsorpsi ini
dapat menyebabkan koloid menjadi bermuatan listrik.
Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai gaya tarik
ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya

ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi berbeda
dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam adsorben, sedang
pada adsorpsi zat yang diserap hanya pada permukaan (Sukardjo, 2002).
Gaya yang berperan dalam adsorpsi tergantung pada sifat dasar kimia
permukaan dan struktur spesies teradsorpsi. Suatu efek elektrostatik yang dapat
dilihat dengan jelas juga terlibat dalam adsorpsi ion-ion keatas permukaan zat padat
ionik (Day dan Underwood, 2002)
Peristiwa adsorpsi disebabkan oleh gaya tarik molekul-molekul dipermukaan
adsorben. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi, karena pada absorpsi zat yang diserap
masuk kedalam absorben, misalnya absorpsi air oleh sponge atau uap air oleh CaCl 2
anhidrous. Pada adsorpsi zat terlarut oleh zat padat, arang merupakan absorben yang
paling banyak digunakan untuk menyerap zat-zat dalam larutan. Zat ini banyak
dipakai di pabrik untuk menghasilkan zat-zat warna dalam larutan. Penyerapan zat
dalam larutan, mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Penyerapan bersifat
selektif, yang diserap hanya zat terlarut bukan pelarut. Bila dalam larutan ada dua
zat atau lebih, zat yang satu akan diserap lebih kuat dari zat yang lain. Zat-zat yang
dapat menurunkan tegangan muka antara, lebih kuat diserap. Makin kompleks zat
yang terlarut, makin kuat diserap oleh adsorben (Sukardjo, 1984).
Jenis Jenis Adsorpsi
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Adsorpsi fisika terjadi karena gaya Van der Waals, ketika gaya tarik molekul
antara larutan dan permukaan media lebih besar daripada gaya tarik substansi
tersebut dan larutan, maka substansi terlarut akan diadsorpsi oleh permukaan
media. Adsorpsi fisika ini memiliki gaya tarik Van der Waals yang kekuatannya
relatif kecil. Molekul terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada
adsorpsi ini relatif rendah sekitar 20kJ/mol. Contoh : adsorpsi oleh arang aktif.
Aktivasi arang aktif pada temperatur tinggi akan menghasilkan struktur berpori
dan luas permukaan adsorpsi yang besar. Semakin besar luas permukaan, maka
semakin banyak substansi terlarut yang melekat pada permukaan media
adsorpsi.

2. Adsorpsi kimia terjadi ketika terbentuk ikatan kimia antara substansi terlarut
dalam larutan dengan molekul dalam media. Adsorpsi kimia diawali dengan
adsorpsi fisika, yaitu partikel-partikel adsorbat mendekat ke permukaan
adsorben melalui gaya Van der Waals atau melalui ikatan hidrogen. Dalam
adsorpsi kimia partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan
kimia (biasanya ikatan kovalen), dan cenderung mencari tempat yang
memaksimumkan bilangan koordinasi dengan substrat. Contoh : ion exchange
(Atkins, 1999).
Tabel 1. Perbedaan adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia
Adsorpsi Fisika
Molekul terikat pada adsorben
oleh gaya Van der Waals
Mempunyai entalpi reaksi (-4)
40 kJ/mol
Dapat
membentuk
lapisan
multilayer
Adsorpsi terjadi pada temperatur
dibawah titik didih adsorbat
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan fungsi adsorbat
Tidak melibatkan energi aktivasi
tertentu
Bersifat tidak spesifik
(Atkins, 1999)

Adsorpsi Kimia
Molekul terikat pada adsorben
oleh ikatan kimia
Nenpunya entalpi reaksi (-40)
800 kJ/mol
Membentuk lapisan monolayer
Adsorpsi dapat terjadi pada
temperatur tinggi
Jumlah adsorpsi pada permukaan
merupakan
karakteristik
adsorben dan adsorbat
Melibatkan
energi
aktivasi
tertentu
Bersifat sangat spesifik

Untuk proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat yang terabsorbsi bergantung
pada beberapa faktor yaitu :
a. Jenis adsorben
b. Jenis adsorbat atau zat yang teradsorbsi
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat terlarut
e. Temperatur.

Adsorben dan Adsorbat


Adsorpsi menggunakan istilah adsorban dan adsorben. Adsorben merupakan
suatu penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon, sedangkan adsorbat
adalah merupakan suatu media yang diserap. Kebanyakan adsorben adalah bahanbahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding poripori atau pada letak-letak tertentu di dalam partikel itu. Oleh karena pori-pori
biasanya sangat kecil maka luas permukaan lebih besar daripada permukaan luar
dan bisa mencapai 2000 m/g. Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot molekul
atau karena perbedaan polaritas yang menyebabkan sebagian molekul melekat pada
permukaan tersebut lebih erat daripada molekul lainnya. Adsorben yang digunakan
secara komersial dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a. Adsorben Polar disebut juga hydrophilic. Jenis adsorben yang termasuk kedalam
kelompok ini adalah silika gel, alumina aktif, dan zeolit.
b. Adsorben non polar disebut juga hydrophobic. Jenis adsorben yang termasuk
kedalam kelompok ini adalah polimer adsorben dan karbon aktif.
(Saragih, 2008).
Adsorbat merupakan substansi dalam bentuk cair atau gas yang terkonsentrasi
pada permukaan adsorben. Adsorbat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok polar
seperti air dan kelompok non polar seperti methanol, ethanol dan kelompok
hidrokarbon (Suzuki, 1990 dalam saragih, 2008). Karbondioksida merupakan jenis
adsorbat yang sesuai digunakan untuk adsorben jenis hidrofobic seperti karbon aktif.
Karbondioksida merupakan persenyawaan antara karbon dengan oksigen. Pada
kondisi tekanan dan temperatur atmosfir, karbondioksida merupakan gas yang tidak
berwarna, tidak berbau, tidak reaktif, tidak beracun dan tidak mudah terbakar
(nonflammable). Pada kondisi triple point, karbondioksida dapat berupa padat, cair
ataupun gas bergantung pada kondisinya. Karbondioksida berada pada fase padat
pada temperature -109 F(-78,5oC) dan tekanan atmosfir akan langsung
menyublimasi tanpa melalui fase cair terlebih dahulu. Sedangkan pada tekanan dan
temperatur di atas triple point dan di bawah temperatur 87,9 F (31,1 oC) maka
karbondioksida cair dan gas akan berada pada kondisi kesetimbangan.

Adsorpsi Isoterm Freundlich


Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukan distribusi adsorben antara
fasa teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan fasa ruah saat kesetimbangan
pada suhu tertentu (Castellan, 1983). Isoterm yang menggambarkan suatu
keseimbangan adsorpsi biasanya tidak linier. Banyak sistem mengikuti persamaan
Freundlich, sekurang-kurangnya jika konsentrasinya tidak terlalu tinggi. Persamaan
Freundlich dapat diberikan dalam bentuk :

CS= k CL1/n
Dimana CS merupakan konsentrasi zat terlarut yang teradsorpsi pada suatu fasa
padat yang berkestimbangan dengan suatu larutan dengan konsentrasi zat terlarut
CL. Satuan yang biasanya dipakai untuk C S adalah milimol zat terlarut per gram
adsorben, dan untuk CL, molaritas; k dan n adalah konstanta. Terlihat bahwa jika
n=1, persamaan Freundlich direduksi ke bentuk pernyataan kesetimbangan lain
seperti hukum Henry atau hukum distribusi Nernst untuk zat terlarut di dalam
ekstraksi pelarut. Umumnya n>1 dan karena itu grafik CS vs CL (disebut isotherm
adsorpsi). Untuk mengevaluasi k dan n, dapat menggunakan logaritma dari kedua
ruas persamaan Freundlich, menghasilkan :

log CS= log k +

( 1n )

log CL

Konstanta k dan n adalah hanya untuk sistem yang diketahui dan tentu saja,
hanya untuk temperatur yang ditetapkan saja (Day dan Underwood, 2002)
Jumlah zat yang dapat diserap oleh setiap berat adsorben, tergantung konsentrasi
dari zat terlarut. Namun demikian, bila adsorben sudah jenuh, konsentrasi tidak lagi
berpengaruh. Persamaan Freundlich dan Langmuir juga berlaku untuk larutan,
hanya tekanan gas diganti konsentrasi (Sukardjo, 1984):
x
m

log

= k . Cb
x
m

= log k + b log C

C
y

C
b

= a +

Persamaan Langmuir berlaku untuk penjerapan lapisan tunggal (monolayer)


pada permukaan zat homogen. Persamaan ini menganggap terjadinya suatu
kesetimbangan antara molekul yang dijerap dengan molekul yang masih bebas.
Persamaan Langmuir dapat dituliskan sebagai berikut:
x
m

( mx )

. ac

max

1+ac

Menurut Freundlich, banyaknya zat padat yang dijerap oleh sejumlah tertentu
penjerap relatif bertambah cepat dengan bertambahnya konsentrasi, kemudian
menjadi lambat jika permukaan penjerap tertutup oleh molekul gas yang terdapat
dalam larutan. Persamaan Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut :
x
1/n
m =k.C
Dimana:
x = jumlah zat teradsorpsi
m = jumlah adsorben dalam gram
C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan setelah tercapai kesetimbangan
adsorpsi
k = tetapan
n = tetapan
Persamaan diatas dapat diubah menjadi :
x

log m = log k + n log C


Sedangkan kurva isoterm adsorpsi Freundlich dapat disajikan pada Gambar 1.

Gambar1. Kurva Adsorpsi Isoterm Freundlich


Kurva diatas mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi menuruti isoterm
Freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus. Dari
garis lurus tersebut dapat dievaluasi tetapan k dan n.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari kurva isoterm adalah sebagai berikut :
1. Kurva isoterm yang cenderung datar artinya, isoterm yang digunakan menyerap
pada kapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan.
2. Kurva isoterm yang curam astinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan
meningkatnya konsentrasi kesetimbangan (Mulyono, 2005).
Karbon Aktif
Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung
karbon. Arang tersusun dari atom-atom karbon yang berikatan secara kovalen
membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya.
Susunan kisi-kisi heksagonal datar ini tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar
yang saling bertumpuk dengan sela-sela di antaranya.Sebagian pori-pori yang
terdapat dalam arang masih tertutup oleh hidrokarbon dan senyawa organik lainnya.
Komponen arang ini meliputi karbon terikat, abu, air, nitrogen, dan sulfur
(Puspitasari Dyah Pratama,2006).
Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorf dan berpori yang mengandung
85-95% karbon yang dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon
(batubara, kulit kelapa dan sebagainya) atau dari karbon yang diperlakukan dengan

cara khusus baik aktivasi kimia maupun fisika untuk mendapatkan permukaan yang
lebih luas.
Manes (1998) mengatakan bahwa karbon aktif adalah bentuk umum dari
berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk
meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon
grafit yang pori-porinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk
mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang
terdispersi dalam cairan (Roy 1985). Luas permukaan, dimensi, dan distribusi
karbon aktif bergantung pada bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi.
Berdasarkan ukuran porinya, ukuran pori karbon aktif diklasifikasikan menjadi 3,
yaitu mikropori (diameter <2 nm), mesopori (diameter 250 nm), dan makropori
(diameter >50 nm) (Baker 1997).
Karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu, sifat
adsorpsinya tergantung pada volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap
karbon aktif sangat besar, yaitu 25- 1000% terhadap berat karbon aktif. Karena hal
tersebut maka karbon aktif banyak digunakan oleh kalangan industri. Dalam satu
gram karbon aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2,
sehingga sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus
berukuran 0.01-0.0000001 mm. Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif manjadi
jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya karbon aktif dikemas dalam
kemasan yang kedap udara.
Aktivasi adalah perubahan fisik berupa peningkatan luas permukaan karbon
aktif dengan penghilangan hidrokarbon. Ada dua macam aktifasi, yaitu aktivasi
fisika dan kimia. Aktivasi kimia dilakukan dengan merendam karbon dalam H 3PO4,
ZnCl2, NH4Cl, dan AlCl3 sedangkan aktivasi fisika menggunakan gas pengoksidasi
seperti udara, uap air atau CO2.
Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan harga isotherm adsorbsi menurut
Freundlich pada proses isotherm adsorpsi asam asetat terhadap arang aktif. Dari
isotherm ini dapat diketahui kapasitas atau efesiensi dari suatu adsorben dalam
menyerap air.

II.

MOTODE
Alat yang digunakan pada percobaan isoterm adsorpsi isoterm Freunlich adalah
cawan porselin, labu erlenmeyer 250 mL sebanyak 18 buah, pipet 10 mL, pipet 5
mL, buret 25 mL, beaker gelas 100 mL, corong sebanyak 6 buah, termometer 100,
statif dan penyangga, kasa, spatula, pengaduk, labu takar 100 mL, labu takar 25 mL
dan ball pipet. Sedangkan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 250
mL larutan NaOH yang sudah distandarisasi dengan normalitas 0.075 N, larutan
asam asetat 0.5 N; 0.250 N; 0.125 N; 0.065 N; 0.0313 N; 0.0156N masing-masing
100 mL, kertas saring sebanyak 6 buah, indikator phenolphtalein, adsorben arang,
plastik dan karet.
Langkah kerja percobaan ini adalah pertama memanaskan arang aktif yang
bertujuan untuk mengaktifkannya, namun jangan sampai membara. Kemudian
memasukkan sebanyak masing-masing 0.5 gram arang yang sudah diaktifasi ke
dalam 6 buah erlenmeyer dan menambahkan 50 mL larutan asam asetat 0.5 N; 0.250
N; 0.125 N; 0.065 N; 0.0313 N; 0.0156 N; ke dalam masing-masing labu
erlenmeyer lalu menutupnya menggunakan plastik dan karet. Membiarkan larutan
tersebut selama 30 menit sambil mengocok larutan selama 1 menit secara teratur
setiap 10 menit, mengukur temperatur selama percobaan. Setelah setengah jam
masing-masing larutan disaring menggunakan kertas saring, kemudian larutan
filtratnya dititrasi sebagai berikut : larutan dengan konsentrasi 0.5 N; 0.250 N; 0.125
N; diambil 5 mL larutan sedangkan larutan dengan konsentrasi 0.065 N; 0.0313 N;
0.0156 N; diambil 10 mL untuk dititrasi dengan larutan standar NaOH 0.075 N
dengan menggunakan indikator fenolftalein.
Kemudian untuk larutan sisa asam asetat dengan konsentrasi 0.5 N; 0.250 N;
0.125 N; diambil 5 mL larutan sedangkan larutan dengan konsentrasi 0.065 N;
0.0313 N; 0.0156 N; diambil 10 mL untuk dititrasi dengan larutan standar NaOH
0.075 N dengan menggunakan indikator fenolftalein.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data Pengamatan

Pada temperatur 30C


Tabel 2. Data Titrasi Asam Asetat dengan Larutan NaOH Sebelum Adsorpsi
No [CH3COOH] awal V CH3COOH
V NaOH
.
1.
0.500 N
5 mL
24.5 mL
2.
0.250 N
5 mL
13.1 mL
3.
0.125 N
5 mL
7.1 mL
4.
0.0625 N
10 mL
7.0 mL
5.
0.0313 N
10 mL
3.8 mL
6.
0.0156 N
10 mL
1.95 mL
Tabel 3. Data Titrasi Asam Asetat dengan Larutan NaOH Setelah Adsorpsi
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

[CH3COOH] awal

V CH3COOH

V NaOH

0.500 N
0.250 N
0.125 N
0.0625 N
0.0313 N
0.0156 N

5 mL
5 mL
5 mL
10 mL
10 mL
10 mL

22.45 mL
12.15 mL
6.1 mL
5.9 mL
4.15 mL
1.55 mL

Hasil Perhitungan
Tabel 4. Konsentrasi CH3COOH Sebelum dan Sesudah Adsorpsi
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

[CH3COOH]
awal
0.500 N
0.250 N
0.125 N
0.0625 N
0.0313 N
0.0156 N

[CH3COOH]
sebelum adsorpsi
0.5228 N
0.2848 N
0.1544 N
0.0761 N
0.0413 N
0.0212 N

[CH3COOH]
sesudah adsorpsi
0.4881 N
0.2641 N
0.1326 N
0.0641 N
0.0451 N
0.0168 N

Tabel 5. Data Variabel Persamaan Adsorpsi Isoterm Freundlich


No
.

Massa
arang
(gram
)

[CH3COOH] (N)
Sebelu
Sesudah
C
m
adsorps
adsorpsi i

x (gram)

x
m

log
x
m

log C

1.
2.
3.
4.
5.
6.

0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5

0.5228
0.2848
0.1544
0.0761
0.0413
0.0212

0.4881
0.2641
0.1326
0.0641
0.0451
0.0168

0.0347
0.0207
0.0218
0.0120
0.0038
0.0044

0.2084
0.1243
0.1309
0.0721
0.0228
0.0264

0.4168
0.2486
0.2618
0.1442
0.0456
0.0528

-0.3801
-0.6045
-0.5820
-0.8410
-1.3410
-1.2774

-1.4597
-1.6840
-0.8831
-1.9208
-2.4202
-2.3565

Grafik 1. Grafik Isoterm Adsorpsi Freundlich

Grafik hubungan antara log x/m dan log c


-1.5

-1

-0.5

0
0
-0.5
-1

Log x/m

f(x) = 1.26x - 0.74


R = 0.73

-1.5

Linear ()

-2
-2.5
-3

log C

Tabel 6. Persamaan Adsorpsi Isoterm Freundlich


Persamaan Isoterm Freundlich
y = 1.256x 0.7352

Nilai k
0.1336

Nilai n
1.256

Pembahasan
Percobaan isoterm adsorpsi arang aktif ini dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan isoterm adsorpsi menurut Freundlich bagi proses adsorpsi asam asetat
pada arang. Adsorpsi merupakan proses penyerapan suatu zat pada permukaan zat
lain. Prinsip percobaan adsorpsi isoterm yang didasarkan pada teori Freundlich yaitu

banyaknya zat yang diadsorpsi pada temperatur tetap oleh suatu adsorben
bergantung pada konsentrasi dan kereaktifan adsorbat dalam mengadsorpsi zat
tertentu. Percobaan ini termasuk dalam adsorpsi fisika karena adanya gaya Van der
Waals antara adsorben dengan adsorbat yang digunakan, sehingga proses adsorpsi
hanya terjadi pada permukaan larutan.
Pada percobaan ini adsorbat yang digunakan adalah asam asetat dengan variasi
konsentrasi dan adsorben yang digunakan adalah arang. Sebelum digunakan, arang
perlu diaktifasi terlebih dahulu dengan pemanasan. Hal ini bertujuan untuk
membuka pori-pori permukaan arang sehingga luas permukaan arang (adsorben)
semakin besar dan daya penyerapannya akan semakin maksimal. Dalam percobaan
ini variasi konsentrasi asam asetat yang digunakan adalah 0,500N; 0,250N; 0,125N;
0,0625N; 0,0313N; 0,0156N. Variasi konsentrasi ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan arang dalam mengadsorpsi larutan asetat dengan berbagai konsentrasi
pada temperatur konstan (isoterm).
Untuk dapat mengetahui besarnya potensi penyerapan arang aktif dalam proses
adsorpsi, maka dilakukan perbandingan antara konsentrasi asam asetat sebelum dan
sesudah adsorpsi. Penentuan konsentrasi asam asetat ini dilakukan dengan metode
titrasi alkalimetri, yaitu proses titrasi menggunakan larutan standar basa sebagai
titran yang digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan asam sebagai titrat tang
berada di erlenmeyer. Larutan standar basa yang digunakan adalah larutan NaOH
yang sudah dibakukan terlebih dahulu dengan larutan asam oksalat dengan
konsentrasi 0.05 M, sehingga didapatkan normalitas NaOH sebesar 0.1087 N.
Dalam proses titrasi ini indikator yang digunakan adalah indikator fenolftalein (PP).
karena indikator ini sangat peka terhadap gugus OH yang terdapat pada larutan
NaOH dan akan memberikan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah
muda saat titik akhir titrasi tercapai.
Pada percobaan ini proses adsorbsi dilakukan dengan menambahkan 0.5 gram
arang aktif kedalam larutan asam asetat. Agar proses adsorbsi dapat berlangsung
dengan baik, maka dilakukan proses pengocokan selama satu menit secara teratur
setiap 10 menit selama setengah jam. Proses pengocokan juga berguna untuk
menghomogenkan asam asetat dengan karbon arang aktif sehingga dapat

mempermudah proses adsorbsi. Peristiwa adsorpsi yang terjadi bersifat selektif dan
spesifik dimana asam asetat lebih mudah teradsorbsi dari pelarut (air), karena arang
aktif (karbon) hanya mampu mengadsorpsi senyawa-senyawa organik.
Kemudian setelah homogen, larutan tersebut disaring untuk memisahkan arang
aktif dari asam asetat. Larutan titrat dari proses penyaringan tersebut juga harus
harus titrasi dengan larutan NaOH untuk mengetahui konsentrasinya setelah
mengalami proses adsorpsi. Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah sebagai
berikut :

CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O


Berdasarkan tabel 4, dapat diketahui bahwa konsentrasi asam asetat sebelum
diadsorbsi lebih tinggi daripada konsentrasi setelah adsorbsi. Hal ini dikarenakan
asam asetat telah diadsorbsi oleh arang aktif. Kemudian konsentrasi awal asam
asetat juga mempengaruhi volume NaOH yang diperlukan saat titrasi. Semakin
besar konsentrasi asam asetat, maka semakin banyak volume NaOH yang
digunakan. Hal ini karena semakin besar konsentrasi, letak antar molekulnya
semakin dekat sehingga semakin sulit untuk mencapai titik ekuivalen pada saat
proses titrasi.
Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorpsi isoterm
Freundlich bagi proses adsorpsi asam asetat terhadap arang. Berdasarkan tabel 5
yaitu data variabel adsorbsi isoterm Freundelich dapat diketahui konsentrasi asam
asetat yang teradsorpsi (C) yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan

massa asam asetat yang teradsorpai (x) dengan cara x = C . Mr .

100
1000 .

Berdasarkan data perhitungan juga dapat dibuat grafik isoterm adsorpsi Freundlich

dengan memplotkan log

x
m

sebagai ordinat dan log C sebagai absis seperti yang

disajikan dalam grafik 1. Dari persamaan grafik diatas jika dianalogikan dengan
persamaan Freundlich maka akan didapatkan nilai k dan n. Berdasarkan grafik

hubungan antara log c dan log x/m maka didapat persamaan y = 1.256x - 0.7352
sehingga berdasarkan perhitungan didapatkan nilai k = 0.1336 dan nilai n = 1.256.
IV.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
1. Isotherm adsorpsi karbon aktif merupakan hubungan antara banyaknya zat yang
teradsorpsi (asam klorida) persatuan luas atau persatuan berat adsorben, dengan
konsentrasi zat terlarut pada temperature tertentu.
2. Konsentrasi asam asetat sebelum proses adsorpsi lebih besar daripada
konsentrasi asam asetat setelah proses adsorpsi.
3. Berdasarkan percobaan dan analisis data yang sudah dilakukan diperoleh nilai k
sebesar dan n sebesar 1 untuk proses isoterm adsorpsi asam asetat pada arang
menurut teori Freundlich.
Saran
1. Praktikan diharapkan lebih cermat dalam memperhitungkan bahan yang akan
digunakan untuk titrasi, terutama untuk larutan NaOH sehingga titrasi dapat
dilakukan secara duplo (2 kali)
2. Praktikan diharapkan lebih teliti dalam perhitungan pada saat persiapan bahan
agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan larutan dan konsentrasi yang
didapatkan dapat sesuai dengan yang diharapkan.
3. Praktikan diharapkan lebih berhati-hati dalam melakukan titrasi, karena satu
tetes titrat sangat berpengaruh terhadap hasil akhir titrasi yang akan menjadikan
data kurang valid.

V.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P. W. 1999. Kimia Fisika edisi ke-2. Jakarta : Erlangga.
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry. New York : Addison- Wesley Publising
Company.
Baker,F.S, Miller,C.E, Repik,A.J,dan Tollens,E.D. 1997. Activated Carbon. New
York : J.Wiley
Day, R.A, Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga

Manes,M. 1998. Activated Carbon Adsorption Fundamental. Didalam:RA.Meyer


(penyunting). Encyclopedia Of Environmental Analysis and Remediation,
Volume 1. New York : J.Wiley
Mulyono, HAM. 2005. Kamus Kimia Cetakan ke-3. Jakarta: Bumi Aksara.
Puspitasari,Dyah Pratama,2006 Adsorpsi Surfaktan Anionik Pada Berbagai pH
Menggunakan Karbon Aktif Termodifikasi Zink Klorida.dalam Jurnal
Kimia,Departeman Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam:
Institut Pertanian Bogor.
Saragih,SA.2008. Pembuatan dan Karekterisasi Karbon Aktif dari Batubara Riau
sebagai Adsorben. Tesis. Jakarta : Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.
Sukardjo. 1984. Kimia Anorganik. Yogyakarta : Bina Aksara.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Yogyakarta : Bina Aksara.
LAMPIRAN
Data Perhitungan
Standarisasi larutan NaOH dengan larutan H2C2O4 0.05 M
No.
Volume H2C2O4
1.
10 mL
2.
10 mL
Volume rata-rata NaOH
V NaOH . N NaOH
4.6 mL . N NaOH
N NaOH

Volume NaOH
4.6 mL
4.6 mL
4.6 mL

= V H2C2O4 . N H2C2O4
= 10 mL . 2 . 0.025 M
=

0.5
4 . 6 = 0.1087 N

Penentuan konsentrasi asam asetat sebenarnya (hasil titrasi) sebelum adsorpsi


a. CH3COOH 0.500 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
5 mL . N CH3COOH = 24.05 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.5228 N

b. CH3COOH 0.250 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
5 mL . N CH3COOH = 13.1 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.2848 N
c. CH3COOH 0.125 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
5 mL . N CH3COOH = 7.1 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.1544 N
d. CH3COOH 0.065 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 7 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0761 N
e. CH3COOH 0.0313 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 3.8 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0413 N
f. CH3COOH 0.015 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 1.95 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0212 N
Penentuan konsentrasi asam asetat sebenarnya (hasil titrasi) setelah adsorpsi
a. CH3COOH 0.500 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
5 mL . N CH3COOH
N CH3COOH

= 22.45 mL . 0.1087 N
= 0.4881 N

b. CH3COOH 0.250 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
5 mL . N CH3COOH = 12.15 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.2641 N
c. CH3COOH 0.125 N

V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH


5 mL . N CH3COOH = 6.1 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.1326 N
d. CH3COOH 0.065 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 5.9 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0641 N
e. CH3COOH 0.0313 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 4.15 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0451 N
f. CH3COOH 0.015 N
V CH3COOH . N CH3COOH = V NaOH . N NaOH
10 mL . N CH3COOH = 1.55 mL . 0.1087 N
N CH3COOH = 0.0168 N
Penentuan jumlah zat yang teradsorpsi (x)
1. x1

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
1000

= ([CH3COOH]sblm [CH3COOH ssdh]).Mr CH3COOH .


V CH 3 COOH total
1000
= (0.5228 0.4881)N . 60.05 gram/mol .

= 0.0347 N. 60.05 gram/mol .

100 mL
1000

1 mL
10

= 0.2084 gram
2. x2

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
1000

= ([CH3COOH]seblm [CH3COOH sesudh]).Mr CH3COOH .


V CH 3 COOH total
1000
= (0.2848 0.2641) N . 60.05 gram/mol .

= 0.0207 N . 60.05 gram/mol .

100 mL
1000

1 mL
10

= 0.1243 gram
3. x3

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
1000

= ([CH3COOH]seblm [CH3COOH sesudh]).Mr CH3COOH .


V CH 3 COOH total
1000
= (0.1544 0.1326) N . 60.05 gram/mol .

= 0.0218 N . 60.05 gram/mol .

100 mL
1000

1 mL
10

= 0.1309 gram
4. x4

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
1000

= ([CH3COOH]seblm [CH3COOH sesudh]).Mr CH3COOH .


V CH 3 COOH total
1000
= (0.0761 0.0641) N . 60.05 gram/mol .

= 0.0120 N . 60.05 gram/mol .

1 mL
10

100 mL
1000

= 0.0721 gram
5. x5

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
100

= ([CH3COOH]seblm [CH3COOH sesudh]) .MrCH3COOH .


V CH 3 COOH total
1000
= (0.0413 0.0451) N . 60.05 gram/mol .

= 0.0038 N . 60.05 gram/mol .

100 mL
1000

1 mL
10

= 0.0228 gram
6. x6

= C . Mr CH3COOH .

V CH 3 COOH total
100

= ([CH3COOH]seblm [CH3COOH sesudh]).Mr CH3COOH .


V CH 3 COOH total
100
= (0.0212 0.0168) N . 60.05 gram/mol .

= 0.0044 N . 60.05 gram/mol .


= 0.0264 gram
Persamaan Adsorpsi Isoterm Freundlich
y = 1x - 1.0795
y = - 1.0795 + 1x
x
m

= k . C 1/n

1 mL
10

100 mL
1000

log

x
m

= log k +

Nilai n
1
n

log c = 1x

1
n

= 1x

n =1
Nilai k
log k = - 1.0795
k = log-1 (-1.0795)
k = 0.0327

1
n

log c