Anda di halaman 1dari 58

SKRIPSI 2014

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN PADA PASIEN
RAWAT JALAN RSUD LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR

DISUSUN OLEH :
Muh. Idham Rahman
C11109253

PEMBIMBING :
Dr. dr. Sri Ramadhany, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2014

Telah Disetujui untuk Dicetak dan Diperbanyak

Judul Skripsi :
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN PADA PASIEN RAWAT
JALAN RSUD LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR

Makassar,

Pembimbing

(Dr. dr. Sri Ramadhany, M.Kes)

ii

PANITIA SIDANG UJIAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Skripsi

dengan

judul

ANALISIS

FAKTOR-FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN PADA

PASIEN

RAWAT

JALAN

RSUD

LABUANG

BAJI

KOTA

MAKASSAR telah diperiksa, disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim


Penguji Skripsi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran
Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin pada :

Hari/Tanggal : Selasa, 22 Juli 2014


Waktu

: 10.00 WITA

Tempat

: Ruang Seminar IKM-IKK FKUH PB.622

Ketua Tim Penguji :

(Dr. dr. Sri Ramadhany, M.Kes)

Anggota Tim Penguji :

Anggota I

Anggota II

(Dr. dr. A. Armyn Nurdin, M.Sc)

(dr. Muh. Rum Rahim, M.Kes)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pembentukan Serumen Obsturan Pada Pasien Rawat Jalan RSUD Labuang
Baji Kota Makassar

Oleh nama : Muh. Idham Rahman

Stambuk : C11109253

Telah diperiksa dan disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar pada :

Hari / Tanggal

: Kamis, 17 Juli 2014

Pukul

: 11.00 WITA

Tempat

: Ruang Seminar PB. 622 IKM & IKK FK Unhas

Makassar, Juli 2014

Mengetahui,

Pembimbing

(Dr. dr. Sri Ramadhany, M.Kes)

iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa telah
melimpahkan

segala

rahma

dan

karunia-Nya,

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan skripsi ini yang merupakan salah satu tugas kepaniteraan klinik di
bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin. Dengan rahmat dan petunjuk-Nya disertai
usaha yang sungguh-sungguh, doa, ilmu pengetahuan yang diperoleh selama
perkuliahan dan pengalaman selama masa kepaniteraan klinik serta dengan arahan
dan bimbingan dokter pembimbing, maka skripsi yang berjudul Analisis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Serumen Obsturan Pada
Pasien Rawat Jalan RSUD Labuang Baji Kota Makassar ini akhirnya dapat
diselesaikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini


masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan. Hal ini disebabkan karena
terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, tetapi penulis tetap
berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan yang terbaik dan berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak


mungkin terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
perkenankan penulis menghaturkan terima kasih kepada :
1.

Dr. dr. Sri Ramadhany, M.Kes selaku pembimbing yang dengan kesediaan,
keikhlasan, dan kesabaran meluangkan waktunya untuk memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis mulai dari penyusunan proposal sampai
pada penulisan skripsi ini.

2.

Staf pengajar Bagian IKM-IKK FK-UH yang telah memberikan bimbingan


dan arahan selama penulis mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian IKM-IKK
FK-UH.

3.

Dr. dr. H. A. Armyn Nurdin, M.Sc selaku ketua Bagian IKM-IKK FK-UH
yang telah memberikan banyak bimbingan dan bantuan selama penulis
mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian IKM-IKK FK-UH.

4.

Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, para Wakil Dekan, staf pengajar, dan
seluruh karyawan yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada
penulis selama mengikuti kepaniteraan klinik di FK Unhas.

5.

Pemerintah Kota Makassar yang telah membantu memberikan rekomendasi


penelitian.

6.

Pihak RSUD Labuang Baji yang telah membantu dalam pelaksanaan


penelitian ini.

7.

Rekan-rekan mahasiswa kepaniteraan klinik yang telah banyak memberikan


bantuan selama penulis melakukan penelitian serta semua pihak yang tidak
sempat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis selama
penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan,
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi
penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak.

Makassar,

Juli 2014

Penulis

vi

SKRIPSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
JULI 2014

Muh. Idham Rahman (C11109253)


Dr.dr. Sri Ramadhany, M.Kes
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN PADA PASIEN RAWAT
JALAN RSUD LABUANG BAJI KOTA MAKASSAR
(xii + 33 halaman + 10 tabel + 1 skema + )
ABSTRAK
Latar Belakang : Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya insidensi serumen
obsturan sudah banyak diketahui secara teoritis, tapi belum banyak diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap pembentukan serumen obsturan.
Metode : Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel
berupa semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke poliklinik THT RSUD
Labuang Baji Makassar tanggal 25 November 14 Desember 2013 yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan metode consecutive sampling.
Sampel diperiksa menggunakan alat otoskop pada kedua telinga. Faktor yang
mempengaruhi pembentukan serumen obsturan dinilai melalui pertanyaanpertanyaan yang diajukan di dalam kuesioner.
Hasil : Insidensi serumen obsturan sebanyak 57% (67 pasien) dari 121 pasien
yang diteliti. Distribusi jenis kelamin pada penelitian ini terdiri dari 51 pasien
laki-laki dan 70 pasien perempuan dengan distribusi serumen obsturan sebanyak
28 (23,1%) pasien laki-laki dan 41 (33,9%) pasien perempuan. Hasil uji
komparatif Chi-square antara pembentukan serumen obsturan dengan jenis
kelamin, umur, Indeks Massa Tubuh (IMT),dan riwayat sakit telinga tidak
didapatkan hubungan yang signifikan. Pekerjaan dan perilaku membersihkan
telinga berhubungan secara signifikan dengan kejadian serumen obsturan.
Kesimpulan : Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara serumen
obsturan dengan jenis kelamin, umur, Indeks Massa Tubuh (IMT) , dan riwayat
sakit telinga.Hubungan yang signifikan didapatkan antara kejadian serumen
obsturan dengan pekerjaan dan perilaku membersihkan telinga.
Kata Kunci : faktor pengaruh, serumen obsturan
Kepustakaan : 17 (2006-2014)

vii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
ABSTRAK ...................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................................... viii
DAFTAR SKEMA .......................................................................................... x
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 2
1.3 Pertanyaan Penelitian ................................................................... 3
1.4 Tujuan Penelitian .......................................................................... 3
1.4.1 Tujuan Umum ..................................................................... 3
1.4.2 Tujuan Khusus .................................................................... 3
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ......................................................................................... 5
2.2 Epidemiologi ................................................................................ 5
2.3 Faktor risiko ................................................................................. 6
a. Jenis Kelamin ........................................................................... 6
b. Umur ......................................................................................... 6
c. Obesitas .................................................................................... 6
d. Pekerjaan / aktivitas ................................................................. 7
e. Riwayat sakit telinga ................................................................ 7
f. Riwayat membersihkan telinga ................................................. 7
2.4 Patomekanisme ............................................................................. 8

viii

2.5 Diagnosis ....................................................................................... 8


2.6 Penatalaksanaan ........................................................................... 9
2.7 Prognosis dan Komplikasi ............................................................ 9
BAB III KERANGKA KONSEP
3.1 Dasar pemikiran variabel penelitian ............................................. 10
3.2 Kerangka konsep .......................................................................... 10
3.3 Definisi Operasional ..................................................................... 11
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain penelitian .......................................................................... 14
4.2 Waktu penelitian .......................................................................... 14
4.3 Lokasi penelitian .......................................................................... 14
4.4 Populasi dan sampel penelitian .................................................... 14
4.5 Kriteria seleksi .............................................................................. 15
4.6 Manajemen penelitian .................................................................. 15
4.7 Etika penelitian ............................................................................. 15
BAB V GAMBARAN UMUM RSUD LABUANG BAJI
5.1 Sejarah singkat ............................................................................. 17
5.2 Visi, misi dan tujuan...................................................................... 19
5.3 Fasilitas pelayanan ....................................................................... 19
5.4 Profil kunjungan pasien ................................................................ 20
BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6.1 Hasil penelitian ............................................................................. 23
6.2 Pembahasan .................................................................................. 27
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ................................................................................... 30
7.2 Saran ............................................................................................. 31

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 32

ix

DAFTAR SKEMA
Skema

Halaman

3.1 Kerangka Konsep ..................................................................................... 10

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman

Tabel 1. Jumlah kunjungan pasein di RSUD Labuang baji Tahun 2011-2012


.................................................................................................... 20
Tabel 2. Daftar 10 penyakit terbanyak rawat jalan di RSUD Labuang Baji
tahun 2012................................................................................... 21
Tabel 3. Daftar 10 penyakit terbanyak rawat inap di RSUD Labuang Baji
tahun 2012 .................................................................................. 22
Tabel 4. Karakteristik sampel pasien rawat jalan RSUD Labuang Baji
Makassar .................................................................................... 23
Tabel 5. Hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian serumen obsturan
.................................................................................................... 23
Tabel 6. Hubungan antara umur dengan kejadian serumen obsturan ....... 24
Tabel 7. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian
serumen obsturan ....................................................................... 24
Tabel 8. Hubungan antara pekerjaan dengan kejadian serumen obsturan
.................................................................................................... 25
Tabel 9. Hubungan antara perilaku membersihkan telinga dengan kejadian
serumen obsturan ....................................................................... 26
Tabel 10. Hubungan antara riwat menderita sakit telinga dengan kejadian
serumen obsturan ....................................................................... 26

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Surat pemberitahuan pelaksanaan penelitian

Lampiran 2

Surat undangan ujian skripsi mahasiswa

Lampiran 3

Surat Izin Penelitian BKPMD Pemerintah Provinsi Sulawesi


Selatan

Lampiran 4

Surat rekomendasi penelitian RSUD Labuang Baji

Lampiran 6

Riwayat Hidup Peneliti

Lampiran 7

Lembar Kuisioner penelitian

Lampiran 8

Hasil pengolahan data

xii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea dan kelenjar serumenosa
yang terdapat di kulit sepertiga luar liang telinga. Dalam keadaan normal serumen
dapat keluar sendiri bersama rambut dan kotoran lainnya saat mengunyah atau
menelan tanpa kita sadari. Serumen menimbulkan masalah bila terjadi serumen
obsturan atau serumen impaction, yaitu suatu keadaan patologis dari serumen
yang walaupun tidak membahayakan jiwa tetapi dapat mengakibatkan rasa penuh
di telinga, nyeri, gangguan pendengaran dan ketulian serta penurunan kualitas
hidup.1,2
Serumen obsturan mempunyai prevalensi yang cukup tinggi dan bisa
mengenai semua umur. Serumen obsturan dapat ditemukan pada sekitar 10%
anak-anak, 5% orang dewasa normal, lebih dari 57% pada orang tua yang dirawat
di rumah, dan 36% pasien dengan retardasi mental.1,3 Penyakit ini ini merupakan
salah satu dari 10 penyakit terbanyak di poliklinik THT RS. Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Hasil penelitian Farida Muhammad tahun 2008
dilaporkan 2.015 orang dari 7.184 orang atau terdapat sekitar 28% murid SD yang
telah dilakukan pemeriksaan pada 14 SD di Makassar menderita serumen
obsturan.1
Di Indonesia, adanya sumbatan kotoran telinga atau serumen prop
merupakan penyebab utama dari gangguan pendengaran pada sekitar 9,6 juta
orang. Berdasarkan survei cepat yang dilakukan Profesi Perhati dan Departemen
Mata Fakultas Kedokteran Indonesia (FK UI) di beberapa sekolah di enam kota di
Indonesia, prevalensi serumen prop pada anak sekolah cukup tinggi, yaitu antara
30-50%.4
Deformitas anatomi dan peningkatan jumlah rambut pada bagian luar liang
telinga, serta penghalang fisik terhadap proses pembersihan serumen (seperti
penggunaan cotton swab, alat bantu dengar, pelindung telinga) telah diketahui
memiliki hubungan terhadap peningkatan insidens dari serumen obsturan.
Pengeluaran serumen merupakan prosedur THT yang paling sering dilakukan
1

pada pelayanan kesehatan primer, sekitar 4% dari pasien yang datang ke


pelayanan kesehatan primer akan mengkonsultasikan kepada dokter terkait adanya
serumen obsturan.3
Tidak semua pasien yang datang untuk konsultasi ke dokter ahli disebabkan
serumen obsturan. Sekitar 39,3 per 1000 pasien yang datang ke pelayanan
kesehatan karen masalah yang terkait dengan serumen obsturan. Insidens yang
cukup tinggi tersebut menunjukkan masalah yang cukup serius terkait serumen
pada penduduk yang menerima perawatan kesehatan primer. Namun, tidak ada
literatur yang dapat merincikan setiap faktor antropologi, psikologis, faktor sosial
ekonomi atau medis yang mempengaruhi serumen obsturan pada pasien. Bahkan
sebuah survei di Lothian, Skotlandia melaporkan bahwa dari 289 pelayanan
kesehatan primer rata-rata melayani 5 hingga >50 pasien dengan dengan serumen
obsturan setiap bulan.5
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap terjadinya serumen obsturan pada pasien rawat jalan
di poliklinik THT-KL RSUD Labuang Baji Makassar. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat menambah informasi epidemiologi di bidang THT Komunitas
serta dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya
kesehatan telinga serta pencegahan terhadap timbulnya serumen obsturan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan referensi dan latar belakang masalah yang telah dipaparkan,
Prevalensi penyakit serumen obsturan masih sangat tinggi dan ditemukan pada
setiap kelompok usia, serta merupakan penyebab utama terjadinya gangguan
pendengaran. Penyakit ini ditemukan pada setiap unit pelayanan kesehatan primer
masyarakat. Berbagai literatur telah mengungkapkan faktor risiko yang
berhubungan dengan kejadian serumen obsturan serta komplikasi yang dapat
ditimbulkan. Namun, masih sedikit dilakukan penelitian terkait faktor-faktor apa
saja yang mempunyai hubungan dengan kejadian serumen obsturan. Hal ini
sangat penting untuk diketahui agar dapat menentukan penanganan yang tepat
dalam mencegah terjadinya serumen obsturan ataupun komplikasinya di
masyarakat. Dengan demikian, masalah penelitian ini adalah faktor apa saja yang
2

menjadi faktor risiko terjadinya serumen obsturan pada pasien yang mengunjungi
pelayanan kesehatan primer.

1.3. Pertanyaan Penelitian


1. Apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan terjadinya
serumen obsturan ?
2. Apakah terdapat hubungan antara umur dengan terjadinya serumen
obsturan ?
3. Apakah terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan
terjadinya serumen obsturan ?
4. Apakah terdapat hubungan antara pekerjaan/aktivitas dengan terjadinya
serumen obsturan ?
5. Apakah terdapat hubungan antara perilaku membersihkan telinga
dengan terjadinya serumen obsturan ?
6. Apakah terdapat hubungan antara riwayat sakit telinga dengan
terjadinya serumen obsturan ?

1.4. Tujuan Penelitian


1.4.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi faktor risiko terjadinya
serumen obsturan pada pasien poliklinik THT RSUD Labuang Baji
1.4.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan
terjadinya serumen obsturan
b. Untuk mengetahui hubungan antara umur dengan terjadinya
serumen obsturan
c. Untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan
terjadinya serumen obsturan
d. Untuk mengetagui hubungan antara pekerjaan/aktivitas dengan
terjadinya serumen obsturan
3

e. hubungan antara perilaku membersihkan telinga dengan terjadinya


serumen obsturan
f. Untuk mengetahui hubungan antara riwayat sakit telinga dengan
terjadinya serumen obsturan

1.5. Manfaat penelitian


Peneliti berharap agar sekiranya hasil penelitian ini dapat memberikan
manfaat bagi beberapa pihak, antara lain :
1. Masyaraat umum, untuk memberikan informasi kepada masyarakat
tenteng faktor-faktor risiko terjadinya serumen obsturan sehingga
meningkatkan kewaspadaan dan perhatian masyarakat akan penyakit
serumen obsturan
2. Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji, diharapkan hasil penelitian
ini dapat menjadi referensi dalam memberikan pelayanan kesehatan
kepada pasien serumen obsturan
3. Instansi kesehatan lainnya, sabagai salah satu referensi dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan serta perbaikan program pencegahan
penyakit yang dapat ditimbulkan akibat serumen obsturan
4. Sebagai tambahan ilmu, kompetensi, dan pengalaman berharga bagi
peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan pada umumnya, dan
terkait tentang penyakit serumen obsturan pada khususnya.
5. Sebagai acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang ingin melakukan
penelitian mengenai serumen obsturan ataupun kesehatan telinga

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1. Definisi
Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea dan kelenjar serumenosa
bercampur epitel skuamosa yang terdapat di kulit sepertiga luar liang telinga.
Komponen organik dari serumen terdiri dari rantai panjang asam lemak jenuh dan
tidak jenuh, alkohol, squalene (penyusun 12-20% komponen serumen) dan
kolesterol (6-9%). Serumen merupakan substansi yang normal dibentuk untuk
membersihkan, melindungi dan melumasi bagian luar liang telinga. Serumen
dikeluarkan dari liang telinga bersama kotoran melalui self-cleaning mechanism
pergerakan rambut pada kulit telinga yang menyebabkan serumen bergerak ke
arah luar dari liang telinga dan dibantu oleh pergerakan rahang saat mengunyah
atau menelan2,5. Meskipun demikian, dapat terjadi keadaan patologis yaitu
serumen obsturan dimana serumen terakumulasi dan menumpuk sehingga
menyebabkan sumbatan pada sebagian ataupun seluruh liang telinga (baik salah
satu bagian ataupun kedua bagian telinga) dan dapat menimbulkan rasa tidak
nyaman/penuh di telinga, gangguan pendengaran, tinnitus, nyeri, serta penurunan
kualitas hidup. 1,3.

2. 2. Epidemiologi
Serumen obsturan ditemukan pada semua kelompok umur, sekitar 10% pada
anak-anak, 5% pada orang dewasa normal, lebih dari 57% pada pasien orang tua
yang dirawat di rumah, dan 36% pada pasien dengan retardasi mental3. Di
Indonesia jumlah penderita gangguan pendengaran diperkirakan mencapai 9,6 juta
orang dan sebagian besar diantaranya disebabkan karena sumbatan kotoran
telinga. Berdasarkan survei yang dilakukan Fakultas Kedokteran Indonesia di
beberapa sekolah di enam kota di Indonesia, prevalensi serumen prop / serumen
obsturan pada anak sekolah cukup tinggi, yaitu antara 30-50%4. Prevalensi
terjadinya gangguan pendengaran dan serumen obsturan menunjukkan angka yang
lebih tinggi pada komunitas pasien rawat jalan / melakukan perawatan di rumah.
5

Suatu penelitian menunjukkan hampir 40% pasien rawat jalan menderita serumen
obsturan, dan prevalensinya meningka pada orang tua5.

2. 3. Faktor risiko
a. Jenis Kelamin
Kelenjar seruminosa merupakan kelenjar apokrin yang menghasilkan
serumen memiliki kemiripan dengan kelanjar di ketiak dan mammae. Wanita
memiliki produksi kelenjar yang lebih banyak dibanding laki-laki disebabkan
karena wanita hamil dan menyusui. Kelenjar mammae menghasilkan kolostrum
yang mempunyai hubungan terhadap bentuk dari serumen (kering atau basah).
Suatu penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan kadar kolostrum tinggi
memiliki tipe serumen yang basah/lembab, sehingga lebih mudah mengikat debu
dan menempel pada kulit liang teling sehingga lebih sulit dikeluarkan yang
kemudian akan lebih berisiko untuk terjadi serumen obsturan6,7.

b. Umur
Insidens serumen banyak ditemukan pada anak-anak usia sekolah dan juga
pada orang tua yang di rawat di rumah. Hal ini disebabkan perubahan fisiologis
dan perilaku kelompok individu tersebut yang kurang memperhatikan kebersihan
telinga mereka3,4. Pada suatu penelitian juga ditemukana bahwa pasien usia muda
relatif memiliki derajat sumbatan yang lebih besar dibanding dengan pasein usia
tua8.

c. Obesitas
Orang dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas normal memiliki resiko
lebih besar untuk terkena serumen obsturan, disebabkan perubahan metabolisme
dibanding orang dengan IMT normal. Pada orang dengan obesitas terjadi lipolisis
yang berlebihan sehingga meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam tubuh
yang merupakan salah satu komponen mayor dari serumen. Penelitian yang
dilakukan oleh Mahardika melaporkan terdapat hubungan yang bermakna
(p=0.004) antara IMT dengan kejadian serumen obsturan pada anak sekolah
dasar9,10.
6

d. Pekerjaan / aktivitas
Pembentukan serumen juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, lingkungan
yang lembab akan menyebabkan serumen dengan tipe yang lebih basah,
sebaliknya lingkungan yang panas atau kering akan menyebabkan serumen
dengan tipe yang kering. Beberapa pekerjaan terutama yang terpapar oleh panas
ataupun debu diudara akan berpotensi lebih besar menyebabkan serumen obsturan
disebabkan karena serumen menjadi lebih lembab dan semakin banyak partikel
debu yang melekat, sehingga meningkatkan potensi terjadinya penumpukan
serumen pada liang telinga5,10,11.

e. Riwayat sakit telinga


Otitis eksterna mempunyai manifestasi klinik berupa pruritus, nyeri, eritem,
udem, otore dan tuli konduktif. Adanya otore yang dihasilkan akan menyulitkan
dokter untuk membedakannya dengan serumen obsturan. Meskipun serumen
obsturan juga mempunyai komplikasi menuju otitis eksterna. Infeksi telinga yang
berulang ataupun alergi dapat menyebabkan reaksi inflamasi pada telinga
sehingga menimbulkan produksi kelenjar apokrin yang berlebihan pada liang
telinga sebagai usaha tubuh untuk melindungi liang telinga sehingga dapat juga
menyebabkan akumulasi produk yang akan menyumbat telinga11,13.

f. Riwayat membersihkan telinga


Kebanyakan orang menggunakan cotton bud atau kapas lidi untuk
membersihkan telinganya sendiri. Tetapi, penggunaan cotton bud tidak dapat
membersihkan serumen secara sempurna, sebagian akan tertinggal dan akan
mengalami penumpukan jika tidak dikeluarkan semua. Penggunaan cotton bud
yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kerusakan pada membran timpani dan
merusak epitel kulit liang telinga, sehingga migrasi serumen ke arah luar akan
terganggu3,5,11. Rata-rata orang membersihkan liang telinga mereka 2 kali dalam
seminggu, semakin lama tidak dibersihkan maka akan menyebabkan tumpukan
serumen sehingga menyumbat liang telinga. Suatu penelitian terhadap 651 sampel
berusia 2-20 tahun dilaporkan bahwa, 70% diantaranya ditemukan serumen
obsturan dengan riwayat membersihkan telinga dengan cotton bud dalam 2 bulan
7

terakhir. Penelitian tersebut melaporkan terdapat hubungan bermakna antara


riwayat membersihkan telinga menggunakan cotton bud dengan terjadinya
cerumen obsturan pada sebagian kecil sampel tersebut8.

2. 4. Patomekanisme
Liang telinga adalah kulit berlapis, 2,5 cm cul-de-sac. 33% bagian lateral
dari liang telinga memiliki struktur tulang rawan yang ditutup oleh lapisan
sebasea dan kelenjar apokrin serta rambut. Kelenjar menghasilkan lapisan tipis
serumen yang memberikan perlindungan melalui lisozim sederhana sebagai antimikroba. Sifat serumen yang lengket dapat merekatkan benda asing yang masuk
ke telinga sehingga mencegah kontak langsung dengan berbagai organisme,
polutan dan serangga. Serumen juga mempunyai pH yang rendah berkisar antar 45 sehingga mencegah pertumbuhan bakteri dan membantu mengurangi risiko
infeksi pada telinga bagian luar. Konsistensinya biasanya lunak, tetapi kadangkadang kering. Dipengaruhi oleh faktor keturunan, iklim, usia dan keadaan
lingkungan6,7,8.
Serumen dapat keluar sendiri dari liang telinga akibat migrasi epitel kulit
yang bergerak dari arah membran menuju ke luar serta dibantu gerakan rahang
sewaktu mengunyah. Jika proses ini terganggu akibat adanya faktor dari luar
seperti kebiasaan membersihkan telinga menggunakan benda tajam yang dapat
merusak lapisan epidermis sehingga proses migrasi terganggu ditambah produksi
yang terus terjadi maka akan menyebabkan penumpukan dan sumbatan serumen
pada liang telinga. Kelembaban dan temperatur lingkungan juga mempengaruhi
konsistensi dari serumen. Jika konsistensinya keras, maka akan lebih sulit untuk
dikeluarkan dari liang telinga6,7,8. Serumen obsturan juga bisa terbentuk sebagai
hasi pembersihan telinga yang tidak efektif 9.

2. 5. Diagnosis
Diagnosis Serumen obsturan dapat ditegakkan dengan melihat secara
langsung liang telinga menggunakan otoskop. Adanya benda asing dan liang
telinga yang bengkak akibat dari otitis eksterna dapat mengganggu visualisasi
membran timpani dan harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum mencoba
8

mengeluarkan serumen. Sumbatan merupakan penyebab tersering dari gangguan


pendengaran pada pasien usia lanjut dan juga yang mengalami retaradasi mental,
oleh karena itu wajar untuk memeriksa adanya serumen obsturan pada pasien
dengan gangguan pendengaran. Pada sebuah penelitian dilaporkan 35% pasien
usia lebih dari 65 tahun yang dirawat dirumah sakit menderita serumen obsturan
dan 75% diantaranya mengalami perbaikan pendengaran setelah dilakukan
pengeluaran serumen3.
Serumen obsturan dapat menyebabkan gatal pada liang telinga, nyeri,
tinnitus, pusing, batuk, vertigo, peningkatan risiko infeksi, hingga gangguan
pendengaran berupa tuli konduktif, terutama bila liang telinga kemasukan air
(sewaktu mandi, berenang), serumen mengembang sehingga menimbulkan rasa
tertekan dan gangguan pendengaran semakin dirasakan sangat mengganggu6,7.
Pemeriksaan secara rutin tidak diindikasikan pada populasi orang tua dan
juga orang dengan gangguan mental disebabkan besarnya potensi untuk
munculnya komplain spesifik berkaitan dengan serumen obsturan3.

2. 6. Penatalaksanaan
Serumen dapat dibersihkan sesuai dengan konsistensinya. Serumen yang
lembek dibersihkan dengan menggunakan kapas yang dililitkan pada aplikator.
Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret. Apabila dengan cara
ini serumen tidak dapat dikeluarkan, maka serumen harus dilunakkan dahulu6,10.
Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong ke dalam liang telinga sehingga
dikhawatirkan

menimbulkan

trauma

pada

membran

timpani

mengeluarkannya, dikeluarkan dengan mengalirkan air (irigasi).

sewaktu
Air yang

digunakan dipertahankan pada suhu 37-38 C, karena air yang terlalu dingin atau
terlalu

hangat

akan

menginduksi

terjadinya

vertigo.

Irigasi

dilakukan

menggunakan spoit atau penyemprot pada bagian superior-posterior dari liang


telinga, tidak boleh langsung diarakan ke membran timpani6,10,11.

2. 7. Prognosis dan Komplikasi


Infeksi telinga merupakan perkembangan yang paling sering ditemukan
pada serumen obsturan yang tidak ditangani dengan baik2,4. Jika serumen
9

menyentuh gendang telinga maka akan menyebabkan keadaan tidak nyaman pada
liang telinga juga vertigo. Beberapa komplikasi yang dilaporkan terjadi pada
pasien serumen obsturan yang setelah dilakukan terapi berupa irigasi liang telinga
adalah sebagai berikut 17:

Infeksi pada luar liang telinga (otitits eksterna)

Infeksi telinga tengah

Jejas pada meatus acusticus externa

Nyeri telinga

Vertiga

Tinnitus

Perdarahan pada liang telinga bisa saja terjadi jika pasien mengeluarkan
sendiri serumen dari liang telinganya menggunakan alat tajam. Mual, muntah dan
vertigo dapat terjadi olehkarena variasi suhu air yang digunakan untuk irigasi17.
Pada beberapa keadaan yang jarang terjadi (1 diantara 100 telinga yang
diirigasi) dapat mengakibatkan komplikasi serius seperti infeksi saraf (terutama
pada orang tua dengan diabetes) dan juga tinnitus kronik17.

10

BAB III
KERANGKA KONSEP

3. 1. Dasar pemikiran variabel penelitian


Berdasarkan kepustakaan yang ada, serta disesuaikan dengan tujuan dari
penelitian, maka terdapat beberapa faktor yang memiliki pengaruh terhadap
terjadinya serumen obsturan, yaitu : jenis kelamin, umur, indeks massa tubuh
(IMT), pekerjaan/aktivitas, perilaku membersihkan telinga dan riwayat sakit
telinga.

3. 2. Kerangka Konsep
Berdasarkan variabel penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka
disusunlah pola hubungan antara variabel sebagai berikut :

Skema 1. Kerangka konsep

Jenis kelamin
Umur

IMT

Pekerjaan

Serumen
Obsturan

Perilaku
membersihkan telinga
Riwayat sakit telinga

11

3. 3. Definisi Operasional
a. Serumen obsturan
Definisi : Suatu keadaan dimana serumen (hasil produksi kelenjar
sebasea dan kelenjar serumenosa yang terdapat di kulit sepertiga luar
liang telinga) menumpuk dan menyumbat liang telinga (baik parsial
ataupun total)
Cara ukur : Dengan melakukan pemeriksaan fisis telinga menggunakan
otoskopi

b. Jenis kelamin
Definisi : perbedaan seksual yang terdiri dari laki-laki dan perempuan
Cara ukur : Meminta pasien untuk mengisi kuisioner
Hasil ukur : 1. Laki-laki
2. Perempuan
c. Umur
Definisi: lamanya seseorang hidup mulai saat pertama dilahirkan
sampai usianya pada saat masuk rumah sakit untuk yang pertama kali
yang dinyatakan dalam satuan tahun.
Cara ukur : Meminta pasien untuk mengisi kuisioner
Hasil ukur:
Anak-Remaja : Usia <= 18 tahun
Dewasa-Lansia : Usia >18 tahun

d. Indeks massa tubuh


Definisi : Berat badan dibagi kuadrat dari tinggi badan (dalam satuan
meter)
Cara ukur : Menggunakan timbangan dan meteran
Hasil ukur :

Underweight (IMT <= 18,5 kg/m2)

Normal (IMT 18,5 24,9 kg/m2)

Overweight (IMT >= 25 kg/m2)


12

e. Pekerjaan
Definisi : Menunjukkan aktivitas yang dilakukan sehari-hari baik
memperoleh penghasilan atasnya ataupun tidak.
Cara ukur : Meminta pasien untuk mengisi kuisioner
Hasil ukur :

1. Dalam ruangan
2. Luar ruangan

f. Perilaku membersihkan telinga


Definisi : Frekuensi membersihkan liang telinga yang dilakukan oleh
pasien
Cara ukur : Meminta pasien untuk mengisi kuisioner
Hasil ukur : 1. Sering (>= 2x setiap pekan)
2. Jarang (<2x setiap pekan)

g. Riwayat sakit telinga


Definisi : Riwayat pasien menderita keluhan pada telinga hingga datang
ke dokter/petugas kesehatan lainnya untuk mendapatkan penanganan.
Cara ukur : Meminta pasien untuk mengisi kuisioner
Hasil ukur : 1. Jarang (<=1x dalam 3 bulan terakhir)
2. Sering (>1x dalam 3 bulan terakhir)

13

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4. 1. Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan
menggunakan desain penelitian analitik multivariat, yang mana pengukuran
variabel dilakukan secara cross-sectional dengan menggunakan kuisioner pada
pasien rawat jalan poliklinik THT RSUD Labuang baji.

4. 2. Waktu penelitian
Penelitian ini direncanakan diadakan pada tanggal 25 November 14
Desember 2013.

4. 3. Lokasi penelitian
Penelitian ini direncanakan diadakan pada poliklinik THT RSUD Labuang
Baji, Makassar, Sulawesi Selatan.

4. 4. Populasi dan Sampel penelitian


Populasi adalah semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke poliklinik
THT RSUD Labuang Baji Makassar tanggal 25 November 14 Desember 2013.
Setiap populasi tersebut dijadikan sampel penelitian secara consecutive sampling,
yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus :


N = (10xV) / insidens
N = Subjek
V = Jumlah variabel

N = (10x6) / 0,4
N = 150
Jadi, jumlah sampel yang diperlukan untuk penelitian ini adalah 150 sampel
14

4. 5. Kriteria Seleksi
a. Kriteria Inklusi : Semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke
poliklinik THT RSUD Labuang Baji.
b. Kriteria Ekslusi : Sampel menolak untuk diperiksa, sampel tidak
mengisi kuisioner secara lengkap, sampel yang sedang mengalami
peradangan pada telinga, sampel yang memili perforasi membran
timpani.

4. 6. Manajemen penelitian
1. Pengumpula Data
Dalam penelitian ini data yang diambil berupa data primer yang diperoleh
langsung dengan menggunakan kuisioner dari pasien rawat jalan yang
melakukan kunjungan ke poliklinik THT THT RSUD Labuang Baji
Makassar tanggal 25 November 14 Desember 2013.

2. Teknik Pengolahan Data


Pengolahan data menggunakan Software Statistical Product and Service
Solution (SPSS), untuk uji beda dengan taraf signifikansi p < 0,05. Hasil
uji komparatif menggunakan Chi-Square.

3. Penyajian Data
Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk
menggambarkan hubungan antara faktor jenis kelamin, usia, pekerjaan, perilaku
membersihkan telinga, dan riwayat sakit telinga terhadapa kejadian serumen
obsturan pada pasien rawat jalan Poliklinik THT RSUD Labuang Baji Makassar

tanggal 25 November 14 Desember 2013.

4. 7. Etika Penelitian
Hal-hal yang terkait dengan etika penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada pihak pemerintah
setempat sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.

15

2. Berusaha menjaga kerahasiaan identitas pasien yang terdapat pada


rekam medik, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa
dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telah
disebutkan sebelumnya.

16

BAB V
GAMBARAN UMUM RSUD LABUANG BAJI

5. 1. Sejarah Singkat
Rumah Sakit Labuang Baji didirikan Zending Gereja Gerofermat Tahun
1938, dan pada tanggal 12 Juni 1938 diresmikan dengan kapasitas tempat tidur
sebanyak 25 TT. dan pada tahun 11946 - 1948 Rumah Sakit Labuang Baji
mendapat bantuan dari Pemerintah Indonesia Timur (NIT) dengan merehabilitasi
gedung-gedung yang hancur/rusak akibat perang dan digunakan untuk
penampungan korban akibat Perang Dunia II.
Tahun 1946 -1951 Zending mendirikan bangunan permanen dan
meningkatkan pelayanan spesifik serta penambahan jumlah tempat tidur menjadi
170 TT, sejalan dengan perkembangannya maka pada Tahun 1952 - 1955
Pemerintah Kotapraja Makassar memberikan bantuan penambahan ruang
perawatan sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 190 TT.
Sejak Tahun 1955 Rumah Sakit Labuang Baji dibiayai oleh Pemerintah
Daerah Tk. I Sulawesi Selatan dan berubah namanya menjadi Rumah Sakit
Umum Daerah Labuang Baji (RSUDLB). dan pada tahun 1960 oleh Zending
RSUD Labuang Baji diserahkan penuh kepada Pemerintah Daerah Tk. I Provinsi
Sulawesi Selatan dan penuh menjadi milik Pemerintah Daerah Tk. I Sulawesi
Selatan.
Selanjutnya untuk peningkatan pelayanan RSUD Labuang Baji mulai
didukung dengan berbagai kebijakan diantaranya;
1. Dikeluarkannya Peraturan Daearah (Perda) Nomor 2 Tahun 1996, tanggal
16 Januari 1996 ditingkatkan statusnya darfi rumah sakit kelas tipe C
menjadi Rumah Sakit Umum kelas Tipe B non pendidikan Perda ini
diserahkan oleh menteri dalam negeri pada tanggal 7 Agustus 1996.
2. Dikeluarkannya Perda Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
Nomor 6 Tahun 2002 yang merubah status dari RSUD non pendidikan
menjadi BP RSUD Labuang Baji yang berada dibawah dan bertanggung

17

jawab langsung kepada Gubernur Sulawesi Selatan, namun sebelumnya


RSUD Labuang Baji telah Terakreditasidengan 5 (lima) bidang pelayanan
3. Dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2008 pada tanggal 21
Juli 2008 dengan merubah struktur organisasi RSUD Labuang Baji dari
bentuk badan menjadi Rumah Sakit Umum.
4. Dikeluarkannya

Keputusan

Gubernur

Sulawesi

Selatan

Nomor2130/VIII/2012 tentang Penetapan RSUD Labuang Baji Provinsi


Suklawesi Selatan Sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk
menetapkan pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah
secara penuh.
5. Sepanjang perjalanan RSUD Labuang Baji telah mendapatkan 3 (tiga) kali
akreditasi dari Pemerintah Pusat Melalaui Menteri Kesehatan Republik
Indonesia yang terdiri dari; (a) Tahun 2000 terakreditasi dengan 5 (lima)
bidang pelayanan, (b) Tahun 2004 terakreditasi menjadi 12 bidang
pelayanan dan (c) tahun 2012 terakreditasi menjadi 16 bidang pelayanan.
Sepanjang sejarahnya Sampai saat ini Tahun 2013, RSUD Labuang Baji
sudah 19 kali menmgalami pergantian pimpinan yaitu;
1. direktur pertama adalah dr. On Yang Hong
2. Direktur ke 2; Prof. Dr. Warouw
3. dr. G.J. Hoekstra
4. dr. Hibertein
5. dr. A.W.F. Wiegers
6. dr. P. Rooft
7. dr. R.A. Tini Iswan (1967)
8. dr. Ny. Th. Sumantri Tulong (1967 - 1978)
9. dr. B. Tjahyadi (1978 - 1981)
10. dr. H.A. Wahid Baelang (1981 - 1991)
11. dr. H. Mustafa Djide, SKM (1991 - 1996)
12. dr. H.A. Jasmin Abu Mattimu 11995 - 1997)
13. dr. Hj. Nurfiah A. Pattiroi, MHA. (1997 - 1998)
18

14. dr. H. Muh. Basir Palu, SpA, MHA (1998 - 2001)


15. dr. H. Sofyan Muhammad, M.Si (2006)
16. dr. H. Muh. Thalib Suyuti, M.Kes (2006 - 2008)
17. dr. H. Bambang Arya, M.Kes (2008 - 2011)
18. DR. Drs. H. Azikin Solthan, M.Si (2011)
19. dr. Enrico Marentek, SpPD (9 September 2011 - Sekarang)
5. 2. Visi, Misi dan Tujuan
5.2.1

Visi

Rumah Sakit Unggulan Sulawesi Selatan

5.2.2

Misi
1. Mewujudkan Profesionalisme SDM
2. Meningkatkan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit
3. Memberikan Pelayanan Prima
4. Efisiensi Biaya Rumah Sakit
5. Meningkatkan Kesejahteraan Karyawan

5.2.3

Tujuan
1. Meningkatkan kemampuan profesionalisme
2. Terwujudnya sarana pelayanan yang aman dan nyaman

5.3 Fasilitas Pelayanan


5.3.1 Instalasi Rawat Jalan
1. Poliklinik Mata

11. Poliklinik Endoktrin

2. Poliklinik Bedah

12. Poliklinik THT

3. Poliklinik Paru dan TB

13. Poliklinik Kulit & Kelamin

4. Poliklinik KIA dan Laktasi

14. Poliklinik Konsultasi Gizi

5. Poliklinik Penyakit Dalam

15. Poliklinik Anak

6. Poliklinik Saraf

16. Unit Hemodialisa

7. Poliklinik Kardiologi

17. Apotek Rawat Jalan


19

8. Poliklinik Gigi dan Mulut

18. General Check Up

9. Poliklinik Fisioterapi

19. Poliklinik Jantung

10. Poliklinik Bedah Urologi

20. Poliklinik Bedah Orthopedi

5.3.2 Instalasi Rawat Inap


Terdapat 17 ruang perawatan umum dan 6 ruang perawatan khusus Ruang
bedah sentral, bedah kebidanan/kandungan, Perawatan khusus/RPK,
Rawat Intensif, Hemodialisa, Kamar Bersalin), dan perawatan CVCU
Fasilitas Tempat tidur :
Kelas VVIP

: 3 tempat tidur

Kelas Utama (VIP)

: 4 tempat tidur

Kelas I

: 50 tempat tidur

Kelas II

: 66 tempat tidur

Kelas III

: 205 tempat tidur

ICU

: 8 tempat tidur

Hemodialisa

: 9 tempat tidur

CVCU

: 6 tempat tidur

RPK

: 3 tempat tidur

IRD

: 13 tempat tidur

Jumlah

: 367 tempat tidur

5.4 Profil kunjungan pasien


5.4.1 Jumlah kunjungan
Tabel 1. Jumlah kunjungan pasein di RSUD Labuang baji Tahun 20112012
No

Jumlah Kunjungan

Tahun 2011

Tahun 2012

Rawat Jalan

77.376

134.702

Rawat Inap

12.672

12.777

Rawat Darurat

15.095

9.585

Jumlah

105.143

157.064

Sumber : Profil RSUD Labuang Baji tahun 2012


20

5.4.2 Rawat jalan


Tabel 2. Daftar 10 penyakit terbanyak rawat jalan di RSUD Labuang Baji
tahun 2012
No

Jenis Penyakit

Jumlah

Cedera YDT lainnya, YTT dan dae


rah badan multipel
Demam yang sebabnya tidak diketahui
Diare & GEA oleh penyebab infeksi
tertentu
Penyakit telinga dan prosesus mastoid

1.987

7.49

1.493

5.63

1.207

4.55

1.134

4.27

Neoplasma Jinak Lainnya

931

3.51

Dyspepsia

928

3.50

760

2.86

725

2.73

Gangguan Refraksi dan Akomodasi


Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut
Lainnnya
Katarak dan Gangguan Lain Lensa

690

2.60

10

Penyakit Pulpa dan Periapikal

656

2.47

Subtotal

10.511

39.61

Lain-lain

16.029

60.39

Total

26.540

100

2
3

Sumber : Profil RSUD Labuang Baji tahun 2012

21

5.4.3 Rawat Inap


Tabel 3. Daftar 10 penyakit terbanyak rawat inap di RSUD Labuang Baji
tahun 2012
No

Jenis Penyakit

Jumlah

Diare dan GE oleh penyebab Infeksi


tertentu (colitis Infeksi )
Neoplasma
yang
tidak
menentu
perangainya & tdk diketahui sifatnya
Pneumonia
Cedera YDT lainnya, YTT & daerah
badan multipel
Dyspepsia

841

6.66

478

3.78

468

3.71

367

2.91

309

2.45

Demam yang sebabnya tidak diketahui

259

2.05

Demam Berdarah Dengue

240

1.91

Tuberkolosis Paru Lainnya


Tuberkolosis (TB) Paru BTA (+) dgn
tanpa biakan lainnya
Penyakit Sistem Kemih lainnya

196

1.55

195

1.55

189

1.49

Subtotal

3.542

28.06

Lain-lain

9.079

71.94

Total

12.621

100

2
3
4

9
10

Sumber : Profil RSUD Labuang Baji tahun 2012

22

BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1 Hasil penelitian


Sampel yang didapatkan berjumlah 150 dan sebanyak 29 sampel
disingkirkan karena termasuk dalam kriteria eksklusi, yang terdiri dari pasien
dengan serumen obsturan pada telinganya sebanyak 69 (57%) pasien, dan sisanya
sebanyak 52 (43%) pasien tidak terdapat serumen obsturan. Distribusi jenis
kelamin pada penelitian ini terdiri dari

51 pasien laki-laki dan 70 pasien

perempuan dengan distribusi serumen obsturan sebanyak 28 (23,1%) laki-laki dan


41 (33,9%) perempuan. Hasil uji komparatif Chi-square antar variabel telah
dilakukan dan diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4. Karakteristik sampel pasien rawat jalan RSUD Labuang Baji Makassar
Karakteristik sampel
Usia (tahun)
0-5
6-11
12-18
19-40
41-65
>65
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Sumber : Data primer, 2013

8
10
10
48
39
6

6.6
8.3
8.3
39.6
32.2
5.0

51
70
121

42.1
57.9
100.0

Tabel 4 menunjukkan karakteristik pasien rawat jalan di poliklinik THT


RSUD Labuang Baji yang dapat dijadikan sampel penelitian. Pasien dengan
kelompok umur 31-40 adalah yang paling banyak dijadikan sampel yaitu
sebanyak 30 sampel (24.8%) dan yang paling sedikit adalah kelompok umur 1120 dan >60 tahun yang berjumlah masing-masing 11 sampel (9.1%). Median
umur yang dijadikan sampel adalah 34 tahun. Sedangkan jumlah sampel berjenis

23

kelamin laki-laki sebanyak 51 sampel (42.1%) dan perempuan 70 sampel


(57.9%).

Tabel 5. Hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian serumen obsturan


Serumen Obsturan
Jenis Kelamin
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
Perempuan
41
58.6
29
41.4
Laki-laki
28
54.9
23
45.1
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013

Jumlah
n
70
51
121

%
100.0
100.0
100.0

0.687

Tabel 5 menunjukkan hubungan antara jenis kelamin dengan angka


kejadian serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chi-square) diperoleh
hasil p = 0.687 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis
kelamin dengan kejadian serumen obstruan karena nila p > 0.05.

Tabel 6. Hubungan antara umur dengan kejadian serumen obsturan


Serumen Obsturan
Umur
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
Dewasa-Lansia
52
55.9
41
44.1
Anak-Remaja
17
60.7
11
39.3
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013

Jumlah
n
93
28
121

%
100.0
100.0
100.0

0.653

Tabel 6 menunjukkan hubungan antara umur dengan angka kejadian


serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chi-square) diperoleh hasil p =
0.653 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin
dengan kejadian serumen obstruan karena nila p > 0.05.

24

Tabel 7. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian serumen
obsturan
Serumen Obsturan
IMT
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
Lebih
20
58.8
14
41.2
Kurang-Normal
49
56.3
38
43.7
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013

Jumlah
n
34
87
121

%
100.0
100.0
100.0

0.803

Tabel 7 menunjukkan hubungan antara indeks massa tubuh dengan angka


kejadian serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chi-square) diperoleh
hasil p = 0.803 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis
kelamin dengan kejadian serumen obstruan karena nila p > 0.05.

Tabel 8. Hubungan antara pekerjaan dengan kejadian serumen obsturan


Serumen Obsturan
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
Luar ruangan
16
88.9
2
11.1
Dalam ruangan
53
51.5
50
48.5
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013
Pekerjaan

Jumlah
n
18
103
121

%
100.0
100.0
100.0

0.003

Tabel 8 menunjukkan hubungan antara jenis pekerjaan dengan angka


kejadian serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chi-square) diperoleh
hasil p = 0.003 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin
dengan kejadian serumen obstruan karena nila p < 0.05.

25

Tabel 9. Hubungan antara perilaku membersihkan telinga dengan kejadian


serumen obsturan
Serumen Obsturan
Perilaku
membersihkan
Ada
Tidak ada
telinga
n
%
n
%
Jarang
21
80.8
5
19.2
Sering
48
50.5
47
49.5
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013

Jumlah
n
26
96
121

%
100.0
100.0
100.0

0.005

Tabel 9 menunjukkan hubungan antara perilaku membersihkan telinga


dengan angka kejadian serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chisquare) diperoleh hasil p = 0.005 yang berarti ada hubungan yang bermakna
antara jenis kelamin dengan kejadian serumen obstruan karena nila p < 0.05.

Tabel 10. Hubungan antara riwat menderita sakit telinga dengan kejadian
serumen obsturan
Serumen Obsturan
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
Sering
10
58.8
7
41.2
Jarang
59
56.7
45
43.3
Jumlah
69
57.0
52
43.0
Sumber : Data primer, 2013
Riwayat sakit
telinga

Jumlah
n
17
104
121

%
100.0
100.0
100.0

0.871

Tabel 10 menunjukkan hubungan antara riwayat menderita sakit telinga


dengan angka kejadian serumen obsturan dan dari hasil uji statistik (uji chisquare) diperoleh hasil p = 0.871 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna
antara jenis kelamin dengan kejadian serumen obstruan karena nila p > 0.05.

26

6.2 Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara jenis kelamin dengan serumen obsturan (p=0.687). Hasil ini
sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh ST Subhas dan Raman
R, bahwa hal ini tidak ditemukan hubungan yang siginifikan antara adanya
serumen dengan variabel seperti : usia, jenis kelamin, etnis atau sisi yang
terpengaruh dan disebabkan tidak terdapat perbedaan dalam proses kimia
pembentukan serumen obsturan pada pria dan wanita.5
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan

yang

signifikan antara umur dengan serumen obsturan (p=0.653) dikarenakan sampel


yang didapatkan kebanyakan adalah dewasa dibandingkan dengan anak-anak (93
: 28 pasien). Disamping itu, dapat dikaitkan dengan tingkat aktivitas yang
dilakukan. Merujuk pada orang dewasa-lansia memiliki tingkat aktivitas yang
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak-remaja. Namun perlu diingat pula
bahwa terdapat faktor lainnya yang mempengaruhi pembentukan serumen
obsturan seperti kelainan anatomis ataupun fisiologis yang terdapat pada masingmasing sampel tertentu. Berdasarkan penelitian

Saiko Sugiura et al yang

dilakukan pada 67 pasien yang semuanya berusia di atas 80 tahun menunujukkan


bahwa terjadi peningkatan pembentukan serumen dan mengakibatkan terjadinya
penurunan daya pendengaran. Peningkatan produksi serumen dapat disebabkan
oleh beberapa hal, yakni : seiring proses penuaan , lapisan epitel telinga luar
menjadi lebih tipis, jaringan subkutaneus menjadi atrofi, kelenjar serumen dan
sebasea memproduksi minyak pelumas yang lebih sedikit, dan panjang rambut
telinga.6
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara indeks massa tubuh dengan pembentukan serumen obsturan (p=0.803).
Namun, insidensi serumen obsturan lebih banyak pada sampel dengan indeks
massa tubuh yang normal (28,1%) dibandingkan sampel dengan berat badan lebih
(16,5%) dan sampel dengan berat badan kurang (12,4%). Orang dengan indeks
massa tubuh di atas normal (overweight-obesitas) memiliki kecenderungan
gangguan metabolisme, yaitu terjadinya lipolisis yang berlebihan sehingga
menyebabkan kadar asam lemak bebas di dalam tubuh meningkat. Asam lemak
27

yang berlebih pada orang dengan indeks massa tubuh di atas normal diduga akan
berpengaruh dalam pembentukan serumen obsturan.7 Namun berdasarkan hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
indeks massa tubuh dengan serumen obsturan (p=0.803). Hal ini mungkin
disebabkan tidak seimbangnya jumlah sampel yang dibandingkan, yaitu sampel
dengan berat badan kurang sampai normal dan sampel dengan berat badan
berlebih.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara riwayat sakit telinga dengan serumen obsturan (p=0.871). Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian Perry ET dan Nichols AC, serta sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Jankowski A.7 Tidak didapatkannya hasil
hubungan antara riwayat sakit telinga dengan serumen obsturan mungkin
diakibatkan karena sebagian besar sampel yang diteliti dan mengakui pernah
memiliki riwayat sakit telinga, lebih banyak yang memiliki riwayat sakit telinga
tengah daripada riwayat sakit telinga luar,informasi tersebut didapatkan setelah
dilakukan wawancara lebih lanjut.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan signifikan hubungan
antara pekerjaan dengan seruman obsturan (p=0.003) dikarenakakan pembagian
antara jenis pekerjaan hanya berdasarkan pekerjaan di dalam maupun di luar
ruangan, tanpa mengetahui jenis dan tempat pekerjaan dari sampel yang dipilih.
Hal lain yang menyebabkan hasil tersebut signifikan karena sampel yang bekerja
di luar ruangan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sampel yang bekerja di
dalam ruangan (18 : 103 pasien) sehingga memungkinkan terjadinya bias. Hasil
ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Sokota, Nigeria terhadap 200
orang subjek studi dengan pekerjaan yang berbeda-beda (polisi, pembantu rumah
tangga, misioner, pekerja bebas, guru, dan murid) menunjukkan bahwa ternyata
baik pekerjaan yang berada dalam ruangan (pembantu rumah tangga, misioner,
guru, dan murid) maupun pekerjaan di luar ruangan (polisi dan pekerja bebas)
memiliki kebiasaan yang hampir sama dalam membersihkan telinga baik dari segi
frekuensi, cara, dan alat yang digunakan. Berdasarkan dari hasil penelitian di
Sokota pekerjaan tidak menjadi topik utama dalam permasalahan munculnya
28

serumen obsturan sehingga tidak dapat ditentukan secara pasti apakah jenis
pekerjaan memiliki pengaruh terhadap terbentuknya serumen obsturan.8
Selain

itu,didapatkan

hubungan

yang

signifikan

antara

perilaku

membersihkan telinga dengan serumen obsturan (p=0.005). Akan tetapi, pada


penelitian lain menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara
perilaku membersihkan telinga dengan serumen obsturan yaitu penelitian yang
dilakukan Guest Jf et al disebutkan bahwa selain penggunaan lidi kapas sebagai
suatu kebiasaan yang dapat mempercepat timbulnya serumen obsturan,diameter
liang telinga memiliki peranan yang penting. Semakin kecil diameter liang telinga
maka semakin besar pula resiko terjadinya serumen obsturan.9,10

29

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan telinga, sampel yang menderita serumen
obsturan persentasenya lebih banyak dibandingkan pasien tanpa
serumen obstturan.
2. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian serumen
obsturan pada pasien rawat jalan poliklinik THT RSUD Labuang Baji,
Makassar.
3. Tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian serumen obsturan
pada pasien rawat jalan poliklinik THT RSUD Labuang Baji, Makassar.
4. Tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan kejadian
serumen obsturan pada pasien rawat jalan poliklinik THT RSUD
Labuang Baji, Makassar.
5. Ada hubungan yang bermakna antara jenis pekerjaan dengan kejadian
serumen obsturan pada pasien rawat jalan poliklinik THT RSUD
Labuang Baji, Makassar. Dimana orang yang bekerja di luar ruangan
lebih berisiko menderita serumen obsturan.
6. Ada hubungan yang bermakna antara perilaku membersihkan telinga
dengan kejadian serumen obsturan pada pasien rawat jalan poliklinik
THT RSUD Labuang Baji, Makassar. Dimana orang yang jarang
membersihkan liang telinganya lebih berisiko menderita serumen
obsturan.
7. Tidak ada hubungan antara riwayat menderita sakit telinga dengan
kejadian serumen obsturan pada pasien rawat jalan poliklinik THT
RSUD Labuang Baji, Makassar.

30

7.2 Saran
Dengan melihat bahwa banyaknya faktor-faktor yang dapat berperan dalam
menimbulkan terjadinya serumen obsturan, maka penulis memberikan saran
sebagai berikut :
1. Serumen obsturan kadang tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat
mengakibatkan gangguan pendengaran. Sehingga perlu bagi kita untuk
mengetahui hal apa saja yang dapat mempengaruhi terbentuknya
serumen pada telinga. Faktor yang bermakna dalam menyebabkan
serumen obsturan adalah riwayat pekerjaan atau beraktivitas diluar
ruangan sehingga penting bagi siapa saja yang kesehariaannya
melakukan aktivitas di luar ruangan agar sering membersihkan liang
telinga dan mengontrolnya ke dokter ahli THT.
2. Pemeriksaan kesehatan secara berkala khususnya pemeriksaan telinga,
sehingga bila terdapat kelainan-kelainan dapat didiagnosa lebih dini
guna pencegahan dan penanganan.

31

DAFTAR PUSTAKA

1.

Syahrijuita, Sutji PR, Nani ID, Riskiana D. Perbandingan efektivitas


beberapa pelarut terhadap kelarutan cerumen obturans secara in vitro. Ina J
Otolaryngol-Head and Neck Surg. 2012; 42(1): 23-27.

2.

Roland PS, et al. Clinical practice guideline: Cerumen Impaction.


Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Am Acad Otolaryngol-Head and
Neck Surg Found. 2008; 139 (3 suppl2):S1-S21.

3.

McCarter DF, Susan MP. Cerumen Impaction. American Family Physician.


Vol. 75. No. 10. 2007

4.

Kementerian Kesehatan RI.

Gangguan Telinga bikin Anak Sulit

Menangkap Pelajaran di Sekolah. Kliping Berita Kesehatan. Pusat


komunikasi publik Setjen Kemenkes RI. 2013.
5.

Guest JF, Greener MJ, Robinson AC, Smith AF. Impacted Cerumen:
Composition, Production, Epidemiology, and Management. Q.J. Med. 2004;
97(8): 477-88.

6.

Miura K, et al. A strong association between human earwax-type and


apocrine coclstrum secretion from mammary gland. Hum Genet. 2007; 121:
631-633.

7.

Tomita H, et al. Mapping of the wet/dry earwax locus to the pericentromeric


region of chromosome 16. Lancet. 2002; 359: 2000-02.

8.

Macknin ML, Talo H, Medendorp SV. Effect of Cotton-Tipped Swab use


on Earwax occlusion. Clinical Pediatrics. 1994: 14-18.

9.

Crummer RW, Hassan GA. Diagnostic Approach to Tinnitus. American


Family Physician. 2004: 96: 120-126.

10. Mahardika M. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan serumen


obturans (Studi kasus pada siswa SD kelas V di kota semarang). FK Undip.
2010.
11. Soetjipto, Damayanti dan Endang Mangunkusumo. Telinga dalam Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Edisi Ketujuh, Efiaty A,
Nurbaiti I (ed). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2012: 59-60.
32

12. Carl

van

Wyk

F.

Cerumen

Impaction

Removal.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/1413546-overview pada tanggal 10


November 2013.
13. Osgurthorpe JD, Nielsen DR. Otitis externa: review and clinical update. S
Afr Fam Pract. 2011; 53(3): 223-229.
14. Isaacson JE, Vora NM. Differential diagnosis and treatment of hearing loss.
Am Fam Physician. 2003;68:1125-1132.
15. Folmer RL, Shi Y. Reduce your risk of complication during ear wax
removal. American Tinnitus Association. 2005. 20-21.
16. Saloranta K, Westermarck T. Prevention of cerumen impaction by treatment
of ear canal skin. A pilot randomized controlled study. Clin Otolaryngol.
2005; 30: 112-114.
17. National Health Services choices. Earwax comlication . diunduh dari
http://www.nhs.uk/Conditions/Earwax/Pages/Complications.aspx

pada

tanggal 10 November 2013.

33

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Data Pribadi
Nama

: Muh. Idham Rahman

Tempat / Tanggal lahir

: Ujung pandang, 01 Mei 1992

Alamat

: Jalan Baji Ampe 1 No. 4B

Agama

: Islam

Riwayat Pendidikan
Tahun 1998 Lulus TK Nurul Askar Makassar
Tahun 2003 Lulus SD Negeri Mattoangin III Makassar
Tahun 2006 Lulus SLTP Negeri 3 Makassar
Tahun 2009 Lulus SMA Negeri 2 Makassar
Tahun 2012 Lulus S1 Pendidikan Dokter FK UNHAS Makassar

Nama Orang Tua


Ayah

: Rahman Madawali

Ibu

: Hanasiah

Makassar, Juli 2014

Muh. Idham Rahman

KUESIONER PENDATAAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


TERJADINYA SERUMEN OBSTURAN
Daftar pertanyaan ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang memberikan pengaruh terhadap
terjadinya serumen obsturan (sumbatan liang telinga oleh kotoran telinga). Hasil dari penelitian ini akan
dipergunakan sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak yang mengambil peran dalam menentukan
kebijakan terkait dengan usaha mencegah ketulian ataupun penyakit telinga lainnya akibat serumen obsturan
Petunjuk:
1. Isilah identitas saudara di lembar jawaban!
2. Jawablah dengan jujur pertanyaan di bawah ini menurut pengetahuan saudara!
3. Coret yang tidak perlu pada pertanyaan dengan tanda (*)
4. Identitas dan jawaban saudara dijamin kerahasiaaannya.

Nama

: ________________________

Tanggal lahir

: ________________________

Umur

: ________________________

Jenis Kelamin

: *Laki-laki / Perempuan

Pekerjaan

: ________________________
: *Luar ruangan / Dalam ruangan

Hasil Pengukuran
Berat badan (kg)

: ________________________

Tinggi badan (cm)

: ________________________

IMT

: _____________

Apakah anda sering membersihkan liang telinga ?


*Sering / Jarang / Sangat jarang

Berapa kali anda membersihkan liang telinga anda dalam 2 bulan terakhir ? ______

Berapa kali anda membersihkan liang telinga anda dalam setiap pekan/minggu ? ______

Apakah anda sering menderita penyakit pada telinga sebelumnya ?


*Sering / Jarang / tidak pernah
Hasil pemeriksaan fisis telinga (diisi oleh pemeriksa)
Telinga kanan

Telinga kiri

Kelainan anatomi

Ada / Tidak ada

Ada / Tidak ada

Peradangan

Ada / Tidak ada

Ada / Tidak ada

Perforasi gendang telinga

Ada / Tidak ada

Ada / Tidak ada

Serumen obsturan

Ada / Tidak ada

Ada / Tidak ada

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46

Nama
Zainuddin
Raodatul Janna
narwis
marthen
Diana
Nurhayati
Anazir
Dian
Amalia
Dahlia
Hardiyanti
Rusmin
Syahrul
M Adi Eko
Muh Fadil
D Zainal Arifin
Nohadin
Darmia
Sofyan
Mutmainnah
Rosilawati
Patimang
Ramli
Masdina
Febriana
Nurdiana
Irnawati
Hj. Sahruni
Nuraini
Kasma
Sultan
Fitri
Darmawati
Nuraeni
Yusuf
Syamsul Rijal
Widya
Erli
Nurul Febriana
Paulina
Suriani
Sampaia
Abdul Jalil
Rahmat
Abdul Farid
Raisia

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan

Umur
55
7
38
47
22
39
65
40
3
53
34
31
17
21
13
55
72
37
70
31
63
51
60
34
9
32
41
58
55
28
12
10
42
26
53
26
1
16
6
45
37
52
66
55
42
7

Nilai

Interpretasi

Perilaku
membersihkan
telinga

19,96
14,88
26,72
19,92
19,74
26,94
17,97
26,02
15,42
26,62
25,39
17,85
18,67
20,06
15,98
22,49
24,24
17,90
21,48
20,17
30,92
24,22
33,20
26,02
12,40
17,57
28,00
26,37
27,64
30,22
20,83
19,12
28,89
19,83
24,06
18,42
18,77
17,97
19,32
23,74
22,84
20,20
29,07
19,96
22,38
14,88

Normal
Kurang
Lebih
Normal
Normal
Lebih
Kurang
Lebih
Kurang
Lebih
Lebih
Kurang
Normal
Normal
Kurang
Normal
Normal
Kurang
Normal
Normal
Lebih
Normal
Lebih
Lebih
Kurang
Kurang
Lebih
Lebih
Lebih
Lebih
Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Kurang
Normal
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Kurang

Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang

IMT

Pekerjaan
(In/Out)

BB

In
In
in
out
In
out
In
In
In
In
in
in
in
in
in
Out
in
in
Out
in
in
in
Out
in
in
in
in
in
in
in
in
in
in
in
out
in
in
in
in
in
in
in
in
In
Out
In

55
19
71
51
45
59
46
57
19
69
65
48
49
52
35
65
66
43
55
51
65
62
85
51
20
39
63
65
69
68
30
28
65
54
72
52
10
46
16
52
66
55
85
55
58
19

TB
166
113
163
160
151
148
160
148
111
161
160
164
162
161
148
170
165
155
160
159
145
160
160
140
127
149
150
157
158
150
120
121
150
165
173
168
73
160
91
148
170
165
171
166
161
113

Riwayat sakit
telinga

Serumen

Kelainan
anatomi

Peradangan

Perforasi

Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang

Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Ada

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96

Akbar A.
Ramlah
Ani Rofiqah
Zaenab
Dg. Baso
Suminten
Arini Nurzahra
Bayu chandra
Muliawati
Irfan Nur
Rangga asri
M. Nasrul
Syukri M.
Rahman
Huseng
Tego
Nurul Muchliza
Dian Fatmawati
Raodah
Nani
Dg. Japa
Khaerunnisa
Rani Octavina
Citra Sari Astuti
Purwandri
Wahidin
Syamsul Bahri
Nikmatia
Nurwahida
Nurul Hikmah
Anton
Arifatul Mahmud
Suryanto
Taufiq Akbar
Bunga Ismail
Dinawati
Alinda N.
Machmud
Munawaroh
Maria Rosario
Sarah Azizah
Hamzah Suryanto
Muh. Qahar
Dimas Rizaldi
Armansal
Irmayanti
Nurwahidah M.
Fadli Putra
Bekkeng
Purnamanita

Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan

47
22
22
39
65
40
4
31
34
31
17
21
13
55
72
70
33
31
63
51
60
34
9
10
42
53
26
1
16
37
52
66
55
42
7
22
39
65
40
5
34
31
23
17
20
22
58
1
55
28

in
In
In
out
In
In
In
in
in
in
in
in
in
Out
in
Out
in
in
in
in
Out
in
in
in
in
out
in
in
in
in
in
Out
In
Out
In
In
out
In
In
In
in
in
in
in
in
in
in
in
in
in

51
45
54
59
46
57
21
55
65
48
49
52
35
65
66
55
54
51
65
62
85
51
20
28
65
72
52
10
46
62
64
85
55
58
19
55
59
46
57
25
65
48
68
49
60
50
65
7
69
68

160
149
152
148
160
148
110
166
160
164
162
161
148
170
165
160
156
159
145
160
160
140
127
121
150
173
168
73
160
167
162
171
166
161
113
152
148
160
148
117
160
164
172
162
160
162
157
60
158
150

19,92
20,27
23,37
26,94
17,97
26,02
17,36
19,96
25,39
17,85
18,67
20,06
15,98
22,49
24,24
21,48
22,19
20,17
30,92
24,22
33,20
26,02
12,40
19,12
28,89
24,06
18,42
18,77
17,97
22,23
24,39
29,07
19,96
22,38
14,88
23,81
26,94
17,97
26,02
18,26
25,39
17,85
22,99
18,67
23,44
19,05
26,37
19,44
27,64
30,22

Normal
Normal
Normal
Lebih
Kurang
Lebih
Kurang
Normal
Lebih
Kurang
Normal
Normal
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Lebih
Normal
Lebih
Lebih
Kurang
Normal
Lebih
Normal
Kurang
Normal
Kurang
Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Kurang
Normal
Lebih
Kurang
Lebih
Kurang
Lebih
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Lebih
Normal
Lebih
Lebih

Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Jarang
Sering
Jarang

Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering

Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146

Fikar
Eka Mawar Setya
Rahmi
Tuti Hastuti
Iin Fadhillah
Achmad M
Nur Hidayat
Sri Rismawati
Fatmasari Natsir
Ririn Arini N,
Sulmiati
Idha
Saifullah
Andi Syukri
Dedi Trimarwanto
Herianto
Anita
Suciati syam
Syamsiah Burhan
Dwi R.
Denali W.
Ernawati
Arnold WR.
Rahmah
Iqramullah
Umar Wiranegara
Shinta
Kaizar
Sidik Pratama
Nurlaeli
Andi Rio Ismanto
Tika
Dhini Hudryah
Maria
Angelica
Andika M.
Irma
Yudistira
Dian Utami R.
Dg. Ngai
Yuyun
Suryani
Suryani
Iffah Auliah
M. Baso Farid
Rusman K.
Aqsha
Julianna
Syamsuddin Umar
Jihan Fahira

Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan

12
10
42
39
26
53
26
1
16
6
45
37
55
42
38
47
22
22
39
41
4
53
31
34
31
43
23
32
24
34
21
23
3
41
5
40
53
23
39
41
26
6
45
2
38
47
22
53
31
9

in
in
in
in
in
out
in
in
in
in
in
in
In
Out
in
out
In
In
in
In
In
In
In
in
in
Out
In
Out
in
in
in
in
in
out
in
out
In
in
in
out
in
in
in
in
out
out
In
In
Out
in

30
28
65
66
54
72
52
10
46
16
52
69
55
58
71
51
45
54
59
57
21
69
55
65
48
60
55
55
66
53
60
50
8
66
15
71
67
68
43
66
54
16
52
15
71
51
45
69
55
20

120
121
150
165
165
173
168
73
160
91
148
169
166
161
163
160
155
149
148
148
110
161
166
160
164
165
158
167
172
157
160
165
58
166
80
164
163
172
155
165
165
91
148
80
163
160
149
161
166
127

20,83
19,12
28,89
24,24
19,83
24,06
18,42
18,77
17,97
19,32
23,74
24,16
19,96
22,38
26,72
19,92
18,73
24,32
26,94
26,02
17,36
26,62
19,96
25,39
17,85
22,04
22,03
19,72
22,31
21,50
23,44
18,37
23,78
23,95
23,44
26,40
25,22
22,99
17,90
24,24
19,83
19,32
23,74
23,44
26,72
19,92
20,27
26,62
19,96
12,40

Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Normal
Kurang
Normal
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Normal
Lebih
Lebih
Kurang
Lebih
Normal
Lebih
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Kurang
Normal
Normal
Normal
Lebih
Lebih
Normal
Kurang
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Lebih
Normal
Normal
Lebih
Normal
Kurang

Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering
Sering

Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Jarang
Sering
Jarang
Sering
Sering
Sering
Jarang
Jarang
Sering

Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Ada

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Tidak

147
148
149
150

Ridha
Dian Fatmasari
Ardini K.P.
Japa

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki-laki

32
41
7
61

in
in
In
In

39
63
19
46

149
150
113
160

17,57
28,00
14,88
17,97

Kurang
Lebih
Kurang
Kurang

Sering
Sering
Sering
Sering

Sering
Sering
Sering
Sering

Tidak
Tidak
Tidak
Ada

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Tidak
Ada
Ada
Tidak

Ada
Ada
Ada
Ada

CROSSTABS
/TABLES=Jenis_Kelamin Pekerjaan Umur IMT Riwayat_sakit_telinga Perilaku_membersihkan_telinga BY Se
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ CC CORR
/CELLS=COUNT
/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs
Notes
Output Created

16-JUL-2014 21:52:37

Comments
Input

Data

D:\Research\Master.sav

Active Dataset

DataSet1

Filter

<none>

Weight

<none>

Split File

<none>
121

Missing Value Handling

Definition of Missing

Cases Used

Syntax

Resources

Processor Time

00:00:00,03

Elapsed Time

00:00:00,03

Dimensions Requested
Cells Available

2
174762

[DataSet1] D:\Research\Master.sav

Page 1

Case Processing Summary


Cases
Valid
N

Missing

Percent

Total

Percent

Percent

Jenis Kelamin * Serumen

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

Pekerjaan * Serumen

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

Umur * Serumen

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

IMT * Serumen

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

121

100,0%

0,0%

121

100,0%

Jenis Kelamin * Serumen


Crosstab
Count
Serumen
Ada
Jenis Kelamin

Tidak ada

Total

Laki-Laki

28

23

51

Perempuan

41

29

70

69

52

121

Total

Chi-Square Tests
Value

df
a

Pearson Chi-Square

,162

,687

Continuity Correction

,047

,828

Likelihood Ratio

,162

,687

Fisher's Exact Test

,713
,161

N of Valid Cases

,414

,688

121

a.
b.

Page 2

Symmetric Measures
a

Value

Approx. Tb

,037

Approx. Sig.

Nominal by Nominal

Contingency Coefficient

Interval by Interval

Pearson's R

-,037

,091

-,400

,690c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

-,037

,091

-,400

,690c

N of Valid Cases

,687

121

a.
b.
c.

Pekerjaan * Serumen
Crosstab
Count
Serumen
Ada
Pekerjaan

Tidak ada

Total

Indoor

53

50

103

Outdoor

16

18

69

52

121

Total

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
b

Continuity Correction
Likelihood Ratio

df

8,761a

,003

7,300

,007

10,086

,001

Fisher's Exact Test

,004
8,688

N of Valid Cases

,002

,003

121

a.
b.
Symmetric Measures
Value

Approx. Tb

Nominal by Nominal

Contingency Coefficient

Interval by Interval

Pearson's R

-,269

,068

-3,048

,003c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

-,269

,068

-3,048

,003c

N of Valid Cases

,260

Approx. Sig.
,003

121

a.
b.
c.
Page 3

Umur * Serumen
Crosstab
Count
Serumen
Ada
Umur

Tidak ada

Total

0-18 tahun

17

11

28

>18 tahun

52

41

93

69

52

121

Total

Chi-Square Tests
Value

df
a

Pearson Chi-Square

,202

,653

Continuity Correction

,054

,816

Likelihood Ratio

,204

,652

Fisher's Exact Test

,828
,201

N of Valid Cases

,410

,654

121

a.
b.
Symmetric Measures
Value

Approx. Tb

Approx. Sig.

Nominal by Nominal

Contingency Coefficient

,041

Interval by Interval

Pearson's R

,041

,090

,446

,656c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

,041

,090

,446

,656c

N of Valid Cases

,653

121

a.
b.
c.

IMT * Serumen
Crosstab
Count
Serumen
Ada
IMT
Total

Tidak ada

Total

<=24,9 kg/m2

49

38

87

>=25 kg/m2

20

14

34

69

52

121

Page 4

Chi-Square Tests
Value

df
a

Pearson Chi-Square

,062

,803

Continuity Correctionb

,002

,964

Likelihood Ratio

,063

,802

Fisher's Exact Test

,841
,062

N of Valid Cases

,484

,803

121

a.
b.
Symmetric Measures
a

Value

Approx. Tb

Contingency Coefficient

Interval by Interval

Pearson's R

-,023

,091

-,248

,805c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

-,023

,091

-,248

,805c

N of Valid Cases

,023

Approx. Sig.

Nominal by Nominal

,803

121

a.
b.
c.

Riwayat sakit telinga * Serumen


Crosstab
Count
Serumen
Ada
Riwayat sakit telinga
Total

Tidak ada

Total

Jarang

59

45

104

Sering

10

17

69

52

121

Page 5

Chi-Square Tests
Value

df
a

Pearson Chi-Square

,026

,872

Continuity Correctionb

,000

1,000

Likelihood Ratio

,026

,871

Fisher's Exact Test

1,000
,026

N of Valid Cases

,544

,872

121

a.
b.
Symmetric Measures
a

Value

Approx. Tb

,015

Approx. Sig.

Nominal by Nominal

Contingency Coefficient

Interval by Interval

Pearson's R

-,015

,090

-,160

,873c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

-,015

,090

-,160

,873c

N of Valid Cases

,872

121

a.
b.
c.

Perilaku membersihkan telinga * Serumen


Crosstab
Count
Serumen
Ada

Total

Tidak ada

Total

Sering

48

47

95

Jarang

21

26

69

52

121

Page 6

Chi-Square Tests
Value

df
a

Pearson Chi-Square

7,619

,006

Continuity Correctionb

6,435

,011

Likelihood Ratio

8,201

,004

Fisher's Exact Test

,007
7,556

N of Valid Cases

,005

,006

121

a.
b.
Symmetric Measures
Value

Approx. Tb

Contingency Coefficient

Interval by Interval

Pearson's R

-,251

,078

-2,828

,006c

Ordinal by Ordinal

Spearman Correlation

-,251

,078

-2,828

,006c

N of Valid Cases

,243

Approx. Sig.

Nominal by Nominal

,006

121

a.
b.
c.

Page 7