Anda di halaman 1dari 7

BAB 1.

PENDAHULUAN
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ketumbar
Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn) diduga berasal dari sekitar
Laut Tengah dan Kaukasus di Timur Tengah. Biji ketumbar di sana yang
dikeringkan dinamakan fructus coriandri. Tanaman ketumbar di Indonesia dikenal
dengan sebutan katuncar (Sunda), ketumbar (Jawa & Gayo), katumbare
(Makassar dan Bugis), katombar (Madura), ketumba (Aceh), hatumbar (Medan),
katumba (Padang), dan katumba (Nusa Tenggara) (Hadipoentyani dan Wahyuni,
2004). Taksonomi tanaman ketumbar dapat diklasifikasikan sabagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Sub kingdom : Trachebionta


Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Sub kelas

: Rosidae

Ordo

: Apiles

Famili

: Apiaceae

Genus

: Coriandrum

Spesies

: Coriandrum sativum

(Sumber: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2004).

Gambar 1. Biji Ketumbar

Tanaman ketumbar berupa semak semusim, dengan tinggi sekitar satu


meter. Akarnya tunggang bulat, bercabang dan berwarna putih. Batangnya
berkayu lunak, beralur, dan berlubang dengan percabangan dichotom berwarna
hijau. Tangkainya berukuran sekitar 5-10 cm. Daunnya majemuk, menyirip,
berselundang dengan tepi hijau keputihan. Buahnya berbentuk bulat, waktu masih
muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna kuning kecokelatan. Bijinya
berbentuk bulat dan berwarna kuning kecokelatan (Hadipoentyani dan Wahyuni,
2004; Astawan, 2009).
Ketumbar dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi
hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dipanen
setelah berumur tiga bulan, kemudian dijemur dan buahnya yang berwarna
kecoklatan dipisahkan dari tanaman kecokelatan (Hadipoentyani dan Wahyuni,
2004; Astawan, 2009). Hasil panen umumnya dijual ke pasar tradisional untuk
keperluan bumbu rumah tangga. Tanaman ketumbar di Indonesia belum
dibudidayakan secara intensif dalam skala luas, penanaman hanya terbatas pada
lahan pekarangan dengan sistem tumpangsari dan jarang secara monokultur.
Daerah penanaman yang dianggap cocok dan sudah ada tanamannya adalah
Cipanas, Cibodas, Jember, Boyolali, Salatiga, Temanggung, dan sebagian daerah
di Sumatera Barat (Astawan, 2009).
Ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan tanaman herba setahun dari
famili Umbeliferae dengan tinggi mencapai 1,3 m (De Guzman and Siemonsma,
1999). Ketumbar mempunyai jumlah kromosom 2n = 22, hanya dikenal dari
tanaman budi daya dan klasifikasi antar kultivar belum mantap. Beberapa karakter
pembeda yang biasa digunakan untuk klasifikasi ketumbar adalah (1) ukuran
buah, (2) periode vegetatif, tinggi tanaman, percabangan, karakter daun, dan (3)
ekogeografi (De Guzman and Siemonsma, 1999; Diederichsen, 1996).
Berdasarkan ukuran buah, ketumbar dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu C.
sativum var. vulgare Alert dengan diameter biji 3-6 mm dan C. sativum var.
microcarpum DC dengan diameter biji 1,5-3 mm (Purseglove et al., 1981). De
Guzman and Siemonsma (1999) membedakannya ke dalam tiga kelompok, yaitu
C. sativum var. sativum dengan ukuran buah besar, C. sativum var. micocarpum

yang berukuran buah kecil, dan C. sativum var.indicum yang mempunyai bentuk
buah lonjong. Berdasarkan ekogeografi, terdapat sembilan tipe ketumbar, yaitu
tipe Eropa, Afrika Utara, Kaukasia, Asia Tengah, Siria, Ethiopia, India, Bhutanic,
dan Omanic (De Guzman and Siemonsma, 1999).
2.2 Kandungan Kimia Ketumbar
Tabel 1. Komposisi Nutrien Per 100 Gram Biji Ketumbar (as fed)
Komposisi
Jumlah
Satuan
Metabolis

298

kkal

air

11,2

12,37

17,77

41,9

0,709

0,409

0,330

0,035

1,267

0,016

2,13

mg

Riboflavin (B2)

0,29

mg

folat (B9)

0,1

mg

21

mg

Magnesium
Potasium
Atsiri
(B3)

Sumber : USDA (2009)


Ketumbar mempunyai aroma yang khas, aromanya disebabkan oleh
komponen kimia yang terdapat dalam minyak atsiri. Ketumbar mempunyai
kandungan minyak atsiri berkisar antara 0,4-1,1%, minyak ketumbar termasuk
senyawa hidrokarbon beroksigen, komponen utama minyak ketumbar adalah
linalool yang jumlah sekitar 60-70% dengan komponen pendukung yang lainnya
adalah geraniol (1,6-2,6%), geranil asetat (2-3%) kamfor (2-4%) dan mengandung
senyawa golongan hidrokarbon berjumlah sekitar 20% (-pinen, -pinen,

dipenten, p-simen, -terpinen dan -terpinen, terpinolen dan fellandren)


(Lawrence dan Reynolds, 1988; Guenther, 1990). Minyak ketumbar termasuk
golongan senyawa hidrokarbon beroksigen. Senyawa tersebut menimbulkan
aroma wangi dalam minyak atsiri, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses
oksidasi dan resinifikasi.
Kadar minyak esensial yang terkandung pada biji ketumbar berjumlah
sekitar -1% mampu menjadi antimikroba atau antibakteri, dan spesifik terhadap
spesies Salmonella, sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan
penyakit. Minyak esensial (atsiri) yang dikandungnya berkhasiat sebagai penguat
organ pencernaan, merangsang enzim pencernaan, dan peningkatan fungsi hati,
sehingga dapat meningkatkan nafsu makan (Hernandez et al., 2004). Chithra dan
Leelamma (1997) memaparkan bahwa penambahan biji pada makanan dapat
menurunkan produk peroksida lipid dan kolesterol.
Linaool merupakan penyusun utama minyak ketumbar, pada minyak
ketumbar linalool yang terkandung sekitar 60 - 70%, linalool termasuk senyawa
terpenoid alkohol, berbentuk cair, tidak berwarna dan beraroma wangi. Linalool
mempunyai rumus empiris C10H18O rumus struktur 3,7 dimetil-1,6 oktadien-3-ol,
linalool merupakan senyawa alcohol tidak siklik (lurus). Senyawa linalool
merupakan komponen yang menentukan intensitas aroma harum, sehingga
minyak ketumbar dapat dipergunakan sebagai bahan baku parfum, aromanya
seperti minyak lavender atau bergamot. Linalool banyak digunakan dalam dalam
industri farmasi sebagai obat analgesik (obat menekan rasa sakit), parfum, aroma
makanan dan minuman, sabun mandi, bahan dasar lilin, sabun cuci, sintesis
vitamin E dan pestisida hama gudang maupun insektida untuk basmi kecoa dan
nyamuk.

BAB 3. MANFAAT KETUMBAR


Ketumbar (Coriandum sativum) dapat digunakan untuk sayuran, bahan
penyedap dan obat-obatan, mengandung karbohidrat, lemak dan protein yang
cukup tinggi (Wahab dan Hasanah, 1996). Ketumbar juga berdampak positif
terhadap kesehatan karena hampir seluruh bagian tanaman dapat digunakan
sebagai obat, daun yang muda untuk lalaban, analgesic dan obat sakit mata (Basu,
1975), dan bunganya bersifat karminatif (Hargono, 1989). Selain itu minyak
ketumbar dapat untuk menghilangkan rasa mual, sariawan dan pelega perut
(Soeharso, 1988) serta mencegah bau nafas tak sedap (Duryatmo, 1999).
Ketumbar digunakan untuk rempah, antara lain berupa penyedap masakan
(Ketaren, 1985). Ketumbar juga digunakan untuk obat mual, mulas waktu haid,
pelancar ASI dan pencernaan. Daunnya dapat digunakan untuk obat batuk, demam
atau campak (De Guzman and Siemonsma, 1999). Kandungan atsiri ketumbar di
antaranya adalah coriandrol (linalool) yang banyak digunakan untuk parfum
(Archanter, 1969). Kandungan linalool ketumbar berkisar antara 25-80%
(Purseglove et al., 1981).
Kegunaan ketumbar sebagai bahan obat antara lain untuk diuretik (peluruh
air kencing), antipiretik (penurun demam), stomatik (penguat lambung), stimulant
(perangsang), laxatif (pencahar perut), antelmintif (mengeluarkan cacing),
menambah selera makan, mengobati sakit empedu dan bronchitis (Wahab dan
Hasanah, 1996).

DAFTAR PUSTAKA
Archanter, S. 1969. Perfume and flavour chemicals (Aroma chemichals) II. Det
Hoffensbergske. Copenhagen. Denmark
Astawan, M. 2009. Ketumbar. http://cybehealt.cbn.net.id [18 April 2016]
Balai Penelitian Tanaman

Rempah

dan Obat. 2004.

Tanaman Obat:

Ketumbar (Coriandrum sativum L.). Departemen Keshatan RI, Jakarta.


Basu, B.D., 1975. Indian Medical Plant. Part II. Bishen Singh Mahendra Pal
Singh, New Connaught Place, Dahra Dun. 64 p.
Chithra, V. & S. Leelamma. 1997. Hypolipidermic effect of coriander seeds
(Coriandrum sativum). Antioxidant enzyme in experimental animals. Ind.
J.Biochem. Biophys. 36: 59-61.
De Guzman, C.C. and J.S. Siemonsma. 1999. Plant resources of South East Asia
No. 13: Spices. Prosea. Bogor. Indonesia. 400 p.
Diederichsen, A. 1996. Promoting the conservation and use of underutilized and
neglegted crops 3: CORIANDER (Coriandrum sativum L.). IPK
Gatersleben-IPGRI. 83 p.
Duryatmo S., 1999. Majalah Trubus 356 (XXX). Jakarta. hal 71.
Guenther, E., 1990. Minyak atsiri. Jilid IV B, Penerjemah S. Ketaren dan
Indonesia. hal. 679-693.
Hadipoentyanti,

E.

&

S.

Wayuni.

2004.

Pengelompokan

Kultivar

Ketumbar Berdasarkan Sifat Morfologi. Balai Penelitian Tanaman Rempah


dan Obat Departemen Kesehatan, Bogor.
Hargono D. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Departemen Kesehatan
Indonesia. hal. 149-152.

Hernandez, F., J. Madrid, V. Garcia, J. Orengo & M.D. Megias. 2004. Influence
of two plant extract on broiler performance, digestibility and digestive
organ size. Poult. Sci. 83: 169-174
Ketaren, S. 1985. Pengantar teknologi minyak atsiri. P.N Balai Pustaka. Jakarta.
hlm. 61-67.
Lawrence, B.M. and R.J., Reynolds. 1988. Progress in essential oils. Perfumer
Flavorist. An Allured Publication. Vol. 13(3): 49-50.
Purseglove, J.W., E.G. Brown, C.L. Green, and S.R.J. Robbins. 1981. Spices
Volume 2. Longman-London, New York. p. 736-788.
Soeharso. 1988. Coriandrum Sativum L. Asri (63) :98 p.
USDA. 2009. Coriander seeds nutrition facts (USDA National Nutrient data).
www.nutrition-and-you.com [18 April 2016]
Wahab, I. dan M., Hasanah, 1996. Perkembangan penelitian aspek perbenihan
tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn). Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Vol XV(1) 1-5.