Anda di halaman 1dari 33

KARATE DO GOUJUURYU ()

MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas


mata kuliah Etnolinguistik

Dosen Pembina:
Dr. Nani Sunarni, M.A

Oleh:
Aulia Arifbillah Anwar
180120130029

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU BUDAYA
JATINANGOR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa dalam masyarakat digunakan untuk berbagai konteks dengan
berbagai macam makna, fungsi utamanya sebagai alat komunikasi. Terutama di
kalangan orang yang membahas soal-soal bahasa, ada yang berbicara tentang
bahasa tulisan, bahasa lisan atau bahasa tuturan dan sebagainya. Tidak dapat
disangkal bahwa bahasa memegang peran penting dalam kehidupan manusia.
Di dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggunakan bahasa dalam
segala aktivitasnya. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang bersifat
arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk
bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Harimurti, 1983: 17). Bahasa
berfungsi sebagai alat komunikasi dalam anggota masyarakat, pemakai bahasa
dan merupakan dokumentasi kegiatan atau aktivitas hidup manusia, selain itu
bahasa berfungsi sebagai alat pengembangan kebudayaan, jalur penerus
kebudayaan dan inventaris ciri-ciri kebudayaan sesuai dengan kemajuan jaman
(Nababan, 1984:38).
Bangsa Jepang merupakan bangsa yang sangat menjujung tinggi bahasa
dan budayanya. Hal itu tercermin dari cara mereka yang sangat ekslusif
menggunakan bahasa negaranya dan tidak terlalu banyak menggunakan bahasa
asing bahkan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sekalipun. Dari segi
budaya, Jepang masih memegang kearifan lokal dengan berbagai do ( ) atau
jalan hidup yang masih eksis hingga saat ini. Misalnya karate do
sebagai suatu seni beladiri yang telah mendunia hingga saat ini.
Menurut sejarah, karate do () pada awalnya bernama tote ()
yang berarti tangan Cina. Merupakan suatu beladiri yang lahir dan berkembang
di Okinawa selama berabad-abad, karena terjadinya perdagangan dan hubungan
yang lain antara Okinawa dan dinasti Ming di Cina saat itu, tapi sampai saat ini
tidak ada catatan tertulis yang menerangkan asal mula dikembangkannya To-te.

Pada perkembangannya di Jepang, nasionalisme Jepang yang mencapai


puncaknya, sehingga Gichin Funakoshi mengubah kanji Tote ( )yang berarti
tangan Cina ke dalam kanji Jepang menjadi karate() yang berarti tangan
kosong agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas
dua kanji, yaitu pertama adalah Kara yang berarti kosong dan kedua, te
, berarti tangan'. Kedua kanji bersama artinya tangan kosong.
Saat ini di Jepang dan di dunia sendiri telah muncul berbagai banyak aliran
seni beladiri Karate dengan berbagai nama perguruan dan keunikannya masingmasing. Namun hingga saat ini, di Jepang berdasarkan Zen-Nippon Karatedo
Renmei () atau Japan Karate do Federation (JKF) dan World
Karate do Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama
yaitu : Shotokan-Ryu (), Goju-Ryu (), Shito-Ryu (), dan
Wado-Ryu (). Keempat aliran ini diakui sebagai gaya Karate yang utama
karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
Goju-ryu ( ) terdiri dari tiga kanji dasar yaitu gou , juu ,
ryu . Gou ( ) berarti keras, Juu( ) berarti lembut, dan ryu ( ) berarti
aliran, sehingga secara penamaannya sendiri berarti aliran keras-lembut. Aliran
ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu
perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang.
Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang setelah masuknya Shotokanryu ( ) ke Jepang yang dibawa oleh Gichin Funakoshi ( ),
maka aliran Goju () ikut pula dibawa dan dikembangkan ke Jepang oleh
Chojun Miyagi ( ). Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik karate
sebelumnya, hingga lahirlah teknik-teknik Goju-ryu yang memiliki ciri khas
tersendiri. Pembaharuan tersebut menyebabkan banyak orang menganggap
Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu..
Karate-do sebagai seni dan jalan hidup, tidak hanya mengajarkan latihan
fisik semata tetapi juga berbagai nilai-nilai filosofis, etika dan estetika yang dapat
tercermin dari penggunaan bahasa dalam proses pembelajarannya.Oleh karena itu

penulis mencoba melihat lebih jauh karakter seni bela diri Karate Do Goju-Ryu
dari beberapa aspek seperti, gerakan dasar, sumpah dan falsafahnya.
1.2.
Identifikasi Masalah
1. Apa saja bentuk-bentuk lingual yang ada dalam penamaan sumpah Karate Do,
sumpah dan gerakan Karate Do Goju-Ryu?
2. Apa makna kultural yang terkandung di dalam gerakan, sumpah Karate Do,
sumpah dan gerakan Karate Do Goju-Ryu?
3. Bagaimana hubungan bentuk lingual, dan makna kultural tersebut dengan
identitas Karate Do Goju-Ryu?
1.3.
Tujuan Penelitian
4. Mendeskripsikan bentuk-bentuk lingual yang ada dalam penamaan sumpah
Karate Do, sumpah dan gerakan Karate Do Goju-Ryu?
5. Mendeskripsikan bentuk-bentuk makna kultural yang terkandung di dalam
sumpah Karate Do, sumpah dan gerakan Karate Do Goju-Ryu?
1. Mendeskripsikan hubungan bentuk lingual, dan makna kultural tersebut dengan
identitas Karate Do Goju-Ryu
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengenal identitas masyarakat Jepang melalui seni
beladiri Karate, khususnya aliran Karate Do Goju-Ryu dari aspek kebahasaan,
dihubungkan dengan kebudayaan.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1
Etnolinguistik sebagai kajian Interdisipliner
Etnolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari struktur
bahasa berdasarkan cara pandang dan budaya yang dimiliki masayarakat.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Humboldt bahwa perbedaan persepsi
kognitif dan perbedaan pandangan dunia dari suatu masyarakat dapat dilihat dari
bahasanya. Dikatakan bahwa each language.contains a characteristics
woldview (Wierzbicka, 1995).
Dari paparan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa bahasa sangat erat
kaitannya dengan budaya. Dari bahasa kita dapat memahami persepsi dan kognisi
suatu etnis tertentu.
2.2

Linguistik Mikro

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal sebuah bahasa


tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya,yang lazim disebut sebagai
Lingusitik atau

Linguistik Umum. Dalam linguistik mikro ada beberapa

subdisiplin yaitu:
1. Fonologi: menyelidiki tentang bunyi bahasa.
2. Morfologi: menyelidiki tentang morfem.
3. Sintaksis: menyelidiki tentang satuan-satuan kata.
4. Semantik: menyelidiki makna bahasa.
5. Leksikologi: menyelidiki leksikon atau kosakata.
2.3

Istilah Penamaan
Menurut Harimurti (1983: 67), istilah adalah kata atau gabungan kata yang

dengan cermat mengungkapkan konsep, keadaan, atau sifat yang khas dalam
bidang tertentu. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1976: 388) menjelaskan
bahwa istilah adalah perkataan yang khusus mengandung arti tertentu di
lingkungan ilmu pengetahuan, pekerjaan atau kesenian.
Sedangkan penamaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995),
adalah proses, cara, perbuatan menamakan. Jadi dalam hal ini, istilah penamaan
adalah istilah yang digunakan dalam perbuatan menamakan, didalamnya

mengandung arti tertentu dan terkait dengan konsep, keadaan, atau sifat yang khas
yang dimiliki pemilik nama tersebut.
2.4

Unsur-unsur Kebudayaan

Unsur-unsur kebudayaan terdiri dari tujuh unsur, yaitu:


1.

Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang
dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang
dapat memuaskan.

2. Sistem teknologi dan peralatan


Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang barang dan
sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan
manusia dengam makhluk hidup yang lain.
3. Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan
sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan
kelebihan masing masing antar individu sehingga timbul rasa utuk
berorganisasi dan bersatu.
4. Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai
lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah
ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang barang dan
sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan
manusia dengam makhluk hidup yang lain.
6.

Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang
berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula,
sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.

7. Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul
karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa
2.5

Sejarah Karate Do
Ilmu beladiri sebenarnya sudah dikenal sejak manusia ada, hal itu dapat

dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala, diantaranya : senjata-senjata dari


batu, lukisan-lukisan pada dinding goa yang menggambarkan pertempuran atau
perkelahian dengan binatang buas menggunakan senjata seperti tombak, kapak
batu, dan panah. Pada saat itu, beladiri bersifat untuk mempertahankan diri dari
gangguan binatang buas atau alam sekitarnya. Setelah manusia berkembang,
gangguanpun timbul tidak hanya dari binatang buas dan alam sekitarnya tapi juga
dari manusia itu sendiri.
Setelah Sidartha Gautama, pendiri Budha wafat, para pengikutnya
mendapat amanat untuk mengembangkan ajaran Budha ke seluruh dunia. Akibat
sulitnya medan yang dilalui, para pendeta dibekali ilmu beladiri. Sekitar abad
ke-5, seorang pendeta Budha dari India yang bernama Bodhidharma (Daruma
Daishi), mengembara ke China untuk menyebarkan dan membetulkan ajaran
Budha yang sudah menyimpang saat itu. Setelah ada selisih paham atau perbedaan
pandangan dalam ajaran Budha dengan Kaisar Wu, Kaisar Kerajaan Liang waktu
itu, Daruma Daishi kemudian mengasingkan diri di Biara Shaolin Tsu, di
Pegunungan Sung, bagian selatan Loyang, Ibukota Kerajaan Wei. Daruma Daishi
melanjutkan pengajaran Agama Budhanya di biara itu, yang kemudian merupakan
cikal bakal ajaran Zen. Di samping mengajarkan agama, beliau juga memberikan
Buku Petunjuk mengenai Latihan Fisik kepada murid- muridnya. Buku Petunjuk
itu juga mengajarkan teknik-teknik pukulan, yang bernama 18 Arhat. Berawal dari
situ biara tersebut terkenal sebagai Shaolin Chuan, pusat beladiri di daratan China
hingga sekarang.
Pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) muncul seorang ahli beladiri yang
sangat terkenal, yaitu Chang Sang Feng (Thio Sam Hong), yang pada awalnya
belajar beladiri di Shaolin Tsu, kemudian mengasingkan diri di Gunung Wutang

(Butong) dan menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya, yang
diberi nama Aliran Wutang. Perbedaannya, Shaolin Chuan hanya dipraktekan
dalam biara shaolin oleh para pendetanya, sedangkan Aliran Wutang
diperuntukkan kepada orang awam yang tidak ada ikatan dengan kuil manapun.
Aliran Wutang mengajarkan teknik menerima pukulan dengan gaya lemah
gemulai, ada gerak melingkar yang luwes seperti air mengalir dan menyerang
dengan gerakan ujung yang tajam, dengan satu kepastian atau satu kali pukul
untuk mengakhiri perlawanan. Aliran ini mempunyai dampak yang luas dalam
perkembangan beladiri di China, tersebar merata di seluruh China bagian utara,
kemudian berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan.
Banyak tokoh seni beladiri muncul di seluruh wilayah China dan menciptakan
gaya serta alirannya masing-masing, gaya dan aliran tersebut dikembangkan
menurut sifat dan kondisi lingkungan masing-masing. Bermacam gaya dan aliran
yang ada pada umumnya dapat dibagi menjadi dua aliran pada umumnya, yaitu
Aliran Utara dan Selatan. Aliran Utara berkembang di wilayah China Utara
bagian hulu Sungai Yang Tse, dengan sifat dan kondisi daerah pegunungan.
Wilayah ini banyak orang yang terlibat perburuan binatang dan penebangan kayu
sebagai sumber nafkah, oleh karena itu aliran ini lebih menekankan pada gerakan
yang lincah dan penggunaan teknik tendangan. Aliran Selatan berasal dari daerah
China Selatan bagian hilir Sungai Yang Tse, beriklim sedang, banyak aliran
sungai, dan masyarakat banyak yang mempunyai kegiatan perekonomian
bercocok tanam, atau sebagai petani. Rakyat setempat cenderung bertubuh
gempal, kuat dan lebih berkembang pada badan bagian atas karena bekerja di
sawah dan mendayung perahu, hal ini dikarenakan banyaknya aliran sungai
sebagai jalur transportasi utama. Aliran ini lebih menekankan pada gaya melentur
dan penggunaan teknik tangan serta kepala.
Selama peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli
beladiri China melarikan diri ke negara lain agar terbebas dari penindasan dan
pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu sebagai
penguasa China saat itu. Akibatnya, ilmu beladiri tersebar ke berbagai negara lain
seperti Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. Sampai abad

ke-15 Kepulauan Okinawa masih terbagi menjadi 3 kerajaan dan pada tahun 1470
Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan semua pulau di
Kepulauan Okinawa dibawah kekuasaannya. Shin Sho sebagai penguasa ke-2 dari
golongan Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata tajam. Kemudian
Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai Kepulauan Okinawa,
tetapi larangan terhadap kepemilikan senjata tajam masih diberlakukan.
Akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan keterampilan
fisik mereka untuk membela diri. Pada saat yang sama, ilmu beladiri China mulai
diperkenalkan di Kepulauan Okinawa melalui para pengungsi China yang
berdatangan. Pengaruh ilmu beladiri China sangat cepat berkembang di seluruh
Kepulauan Okinawa. Melalui ketekunan dan kekerasan dalam berlatih, rakyat
Okinawa berhasil mengembangkan sejenis gaya dan teknik perkelahian baru, yang
akhirnya dapat melampaui sumber asli dari teknik-teknik setempat atau aliran
yang berasal dari Okinawa itu sendiri, yaitu seni beladiri Okinawa-te

tangan Okinawa atau Tode/Tote tangan China merupakan suatu


seni beladiri tangan kosong atau tanpa menggunakan senjata yang telah
mengalami perkembangan selama berabad-abad di Okinawa.
Pada perkembangannya terdapat peraturan pelarangan penggunaan senjata
tajam yang masih tetap diberlakukan oleh Keluarga Satsuma dari Kagoshima
setelah mereka memegang kendali pemerintahan atas Okinawa pada tahun 1609,
bahkan keluarga itu juga melarang keras latihan-latihan Tote, sehingga
menyebabkan latihan-latihan Tote, yang menjadi alat terakhir untuk membela diri,
dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh rahasia. Orang Okinawa
kemudian mengembangkan seni perkasa ini menjadi beladiri yang betul-betul
mematikan dan dapat digunakan untuk membebaskan mereka dari penindasan saat
itu. Oleh sebab itu, latihan dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh
rahasia hingga ada keluarga yang tidak tahu jika di antara anggota keluarganya
melakukan latihan beladiri ini. Keadaan seperti itu berlangsung hingga tahun 1905
ketika Sekolah biasa di Shuri dan Sekolah Menengah Pertama dari Provinsi,
menetapkan Karate sebagai mata pelajaran resmi untuk Pendidikan Jasmani.
Kekuatan yang membinasakan dari karate mulai dikenal di kalangan tertentu

dengan istilah Reimyo Tote tangan ajaib dan Shimpi Tote


tangan penuh rahasia. Karena sifatnya yang penuh rahasia
sehingga upaya untuk mempopulerkan pada masyarakat umum mengalami
kesusahan.
Tahun 1921, Gichin Funakoshi (1886-1957), orang dari Shuri, berhasil
memperkenalkan beladiri Tote di Jepang. Peristiwa itu menandai dimulainya
pengalaman baru beladiri Tote secara benar dan sistematis. Tahun 1929, Gichin
Funakoshi mengambil langkah-langkah revolusioner dalam perjuangannya yang
ulet dan pantang menyerah untuk memperkenalkan Tote bagi masyarakat Jepang.
Namun akibat tantangan dari keadaan Jepang yang sangat anti Cina saat itu maka
dia mengganti kanji menjadi agar bisa menyesuaikan dengan karakter
dan aksen masyarakat Jepang. Selanjutnya teknik asli Okinawa menjadi suatu seni
perkasa baru Jepang. Saat itu kemudian timbul istilah baru, yaitu Kime ( )
fokus dengan hati sebagai pengganti Ikken Hisatsu ( ) atau Kill with
One Blow sekali pukul roboh.
Pada era 1920-an dan permulaan tahun 1930-an, seni beladiri ini tambah
disenangi oleh semua lapisan masyarakat di Jepang, antara lain ; pakar hukum,
seniman, pengusaha dan tak terkecuali para pelajar atau mahasiswa. Mereka
sangat tertarik dan bersemangat dalam mempelajari seni perkasa ini. Populernya
karate di kalangan pelajar/mahasiswa sangat menguntungkan bagi perkembangan
karate dan membantu merubah pandangan masyarakat dari karate ajaib dan penuh
rahasia menjadi karate modern. Atas usahanya itu, Gichin Funakoshi kemudian
diberi gelar Bapak Karate Modern".
Masatoshi Nakayama, salah seorang murid Gichin Funakoshi, turut
mempopulerkan beladiri ini. Dalam mengajarkan karate, beliau menggunakan
metode yang sistematis sehingga dapat lebih diterima oleh nalar. Karate juga
dapat dipertandingkan seperti olahraga lain dengan tetap tidak mengabaikan unsur
beladirinya, asal dilakukan dengan benar. Dalam bukunya The Best Karate",
beliau berpesan : Bila suatu pertandingan karate diselenggarakan, hendaknya
dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan semangat yang benar, nafsu untuk

memenangkan

pertandingan

semata-mata

hanya

akan

menghasilkan

ketidaksungguhan dalam mempelajari karate, sehingga menjadi buas dan lupa


sikap hormat pada lawan. Padahal sikap hormat itulah yang merupakan hal
terpenting dalam setiap pertandingan karate-do. Menentukan siapa yang
menang/kalah bukan merupakan tujuan akhir karate-do melainkan pembinaan
mental melalui latihan-latihan tertentu sehingga seorang karate-ka mampu
mengatasi segala rintangan hidup.
Secara harfiah Karate-do dapat diartikan sebagai berikut ; Kara = kosong,
cakrawala, Te = tangan atau seluruh bagian tubuh yang mempunyai kemampuan,
Do = jalan. Dengan demikian Karate-do dapat diartikan sebagai suatu taktik yang
memungkinkan seseorang membela diri dengan tangan kosong tanpa senjata.
Setiap anggota badan dilatih secara sistematis sehingga suatu saat dapat menjadi
senjata yang ampuh dan sanggup menaklukan lawan dengan satu gerakan yang
menentukan. Beladiri karate merupakan keturunan dari ajaran yang bersumber
agama Budha yang luhur. Oleh karena itu, orang yang belajar karate seharusnya
rendah hati dan bersikap lembut, punya keyakinan, kekuatan dan percaya diri.
Sekarang ini karate hampir mencapai titik puncak penyempurnaan dan
penyebaran di seluruh belahan dunia. Bahkan di luar Jepang, di negara Eropa,
Amerika dan Asia sudah menyamai Jepang dalam tingkat kemampuan
bertandingnya, tak terkecuali Indonesia.
2.6 Karatedo Gojuryu
Gojuryu merupakan satu dari 4 aliran beladiri karate yang diakui oleh ZenNippon Karatedo Renmei () atau Japan Karate do Federation
(JKF). 4 Aliran beladiri tersebut antara lain;

Shotokan Ryu

Goju Ryu

Wado Ryu

Shito Ryu

Dahulu ketika Gichin Funakoshi dari Shuri Te (tangan Shuri) mengajarkan


aliran beladirinya yang beraliran Shotokan Ryu, turut pula seorang praktisi Tote
dari aliran Naha Te (Tangan Naha) yang juga mengembangkan alirannya sendiri.
Dia bernama Chojun Miyagi , yang di gelari Fuseishutsu no kensi (orang sakti
tak ada bandingannya). Miyagi adalah murid dari Higaona Kanrio yang pernah
berlatih seni bela diri di Cina (Shaolin).
Nama Goju Ryuu ditransfer dari Bubishi, sebuah buku kuno yang di
dokumentasikan dalam arsip Cina. Goju mengandung makna metode menarik
dan menghembuskan nafas Go (keras) dan Ju (lunak), dan itulah yang dinamai
Go-Ju-Ryu. Miyagi mengajar karate pada sekolah pelatihan polisi Okinawa, juga
di suatu sekolah bisnis publik Naha, pada sekolah Master Okinawa dan pada Pusat
Kesehatan Okinawa. Di era ke-4 Showa (1929), Miyagi diundang sebagai dosen
tamu kehormatan oleh suatu klub karate yang di Universitas Kyoto, Miyagi telah
diundang untuk mengajar secara tetap sebagai Shihan ( ) oleh Universitas
Ritsumeikan. Ia mengembangkan metodenya ke seluruh Jepang dan inisiatif
memperkenalkan Goju-Ryu. Selama waktu itulah, Gogen Yamaguchi mengenal
Shihan Miyagi dan oleh Miyagi, Yamaguchi dibebani tanggung jawab untuk
menyebarkan metode ciptaan Miyagi dan untuk mengorganisirnya.
2.6.1 Sumpah Karate Jepang
Semua Karate di seluruh dunia, sebelum memulai latihan wajib mengucapkan
sumpah karate. Sumpah Karate berbunyi sebagai berikut;

(Nihon Karate Shoutou Renmeijou Kunkaisetsu)



(Ichi, Jinkakukansei Ni Tsutomuru Koto)

(Ichi, Makoto No Michi o Mamoru Koto)



(Ichi, Doryoku No Seishin o Yashinau Koto)

(Ichi, Reigi o Monjiru Koto)


(Ichi, Kekki No Yuu O Imashimuru Koto)
2.6.2 Falsafah-falsafah dalam Karate-do Goju Ryu
Falsafah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) adalah anggapan,
gagasan, dan sikap batin yg paling dasar yg dimiliki oleh orang atau masyarakat,
pandangan hidup.
Falsafah dalam karate Goju-Ryu akan diidentifikasi dari tuturan para guru
besarnya. Kemudian akan dimaknai berdasarkan makna leksikal dan makna
kulturannya kemudian dihubungkan dengan karakternya
2.6.3

Teknik-teknik dasar karate Do-Goju

Teknik dasar dalam beladiri karate ada 3 yaitu, kihon (), kata () dan kumite
().
Kihon secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai
Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Kata (:) secara
harfiah berarti bentuk , pola atau jurus.
Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Setiap
Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Goju ryu sendiri
memiliki 12 jenis kata yang diajarkan di tiap tingkatan yang berbeda
Kumite ( ) adalah bentuk pertarungan secara harfiah berarti pertemuan
tangan, mengaplikasikan teknik dan jurus kedalam sebuah pertarungan dengan
mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Pemahaman bahwa seorang
karateka diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya agar tidak mencederai
kawan bertanding.dalam beladiri karate. Pembatasan gerakan secara baku
digunakan dalam kumite pertandingan, dan tidak diterapkan dalam kumite jalanan
atau pertarungan bebas. Dalam pertarungan bebas, kontrol diri dari seorang karate
adalah hal yang utama.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Sumpah Karate Do
Sumpah Karate Do melambangkan nilai tujuan yang harus tercermin dari seorang
karateka. Berikut adalah bunyi sumpah tersebut.

(Nihon Karate Shoutou Renmei Dojou Kunkaisetsu)


Peringatan Ikrar Gabungan Seluruh Dojo Karate Jepang


(Ichi, Jinkakukansei Ni Tsutomuru Koto)
Satu, sanggup memelihara kepribadian

(Ichi, Makoto No Michi o Mamoru Koto)


Satu, sanggup patuh pada kejujuran

(Ichi, Doryoku No Seishin o Yashinau Koto)
Satu, sanggup bersungguh-sungguh mengembangkan diri

(Ichi, Reigi o Monjiru Koto)
Satu, sanggup menjaga sopan santun

(Ichi, Kekki no Yuu o Imashimuru Koto)
Satu, Sanggup mengusai diri.
Dari paparan sumpah karate, dapat diidentifikasi semua menggunakan leksikon
satu. Hal itu berarti semua menjadi nomor satu, dengan kata lain semuanya
merupakan hal yang pertama dan utama sebelum memulai latihan karate. Lima
poin yang harus ada tersebut yaitu memelihara diri, patuh pada kejujuran,
bersungguh-sungguh, menjaga sopan santun, dan dapat menguasai diri.

3.2 Analisis Falsafah-falsafah Karate Do Goju


Falsafah-falsafah Karate Do Goju Ryu, diambil dari tokoh-tokoh awal pendiri
karate Do, baik itu yang diserap dari Shotokan Ryu, maupun yang murni berasal
tokoh-tokoh pendiri Gojuryu itu sendiri.
Falsafah dari bapak Karate Modern, Gichin Funakoshi yang terkenal di dunia,
yaitu berbunyi;

Karate Ni Sente Nashi


Di Karate, tak ada tangan yang lebih dulu

Falsafah ini menjelaskan bahwa seorang karateka, tidak boleh tangannya lebih
dulu menyerang atau dengan kata lain memulai atau mengundang perkelahian.
Karate digunakan untuk menjaga diri dan sesama bukan untuk menyerang orang
lain.
Falsafah lain yang diucapkan Chojun Miyagi yang dikutip dalam Majalah Kuro
Obi yang berbahasa Inggris, sebagai berikut;
If your temper rises, withdraw your hands. If your hand rises, withdraw
your temper
Ketika emosimu naik, tarik tanganmu. Ketika tanganmu naik, tarik
emosimu.
Falsafah ini menjelaskan pentingnya pengendalian diri seorang karateka. Ketika
emosi seseorang meningkat, maka dianjurkan untuk segera menarik tangannya
agar bisa terkontrol dan tidak sembarangan digunakan menyerang. Sebaliknya
ketika tangan seorang karateka telah naik atau siap untuk menyerang, maka dia
dianjurkan untuk menahan emosinya.

Hito ni utarezu, hito utadasu, kotonaki o moto to suru nari


Tidak menyerang, dan tidak diserang, menjadi dasar utama selamat tanpa
insiden.
Falsafah ini menjelaskan bahwa bertarung bukanlah hal utama, tetapi menjaga diri
dari semua hal yang dapat mencelakakan diri dan orang lain itu yang terbaik.
Mengutip pernyataan Gogen Yamaguchi dalam majalah Kuro Obi , yang juga
menjadi Falsafah dari ajaran Goju Ryu, berikut;
5 Secret Of Goju ryu
5 Rahasia Karate Do Goju Ryu
1. Move Quickly
Bergerak Cepat
2. Sound, Calm Mind
Suara, Pikiran yang tenang
3. Be Light In Body

Bergerak seperti cahaya


4. Have A Clever Mind
Miliki Pikiran yang cerdas
5. Master The Basics
Jadilah ahli dalam dasar
Bergerak cepat, berarti berdiri di tempat yang tepat. Berikan musuh waktu
untuk melawan. Siapa yang menyerang lebih agresif dan tidak lari meninggalkan
musuhnya, itulah pemenangnya.
Suara, pikiran yang tenang mengandung arti bahwa pikiran seorang
karateka tidak boleh melompat langsung untuk melakukan kekerasan. Akan tetapi
dia harus bermeditasi untuk mendengarkan suara dalam pikirannya. Ini disebut
dengan berpikir jernih.
Bergerak seperti cahaya mengandung arti bahwa seseorang karateka dalam
bergerak haruslah merasa dirinya ringan dan mampu bergerak cepat di atas tanah
tempat berpijaknya.
Miliki pikiran yang cerdas adalah mampu memikirkan apa yang akan
dilakukan lawan, potensi apa yang harus digunakan, bagian mana dari diri musuh
yang mudah diserang.
Jadilah ahli dalam dasar memiliki arti bahwa dalam segala aktivitas yang
ditekuni, dasar menjadi pondasinya. Dalam karate, orang yang tidak pernah
belajar bertarung, tidak mungkin dapat bertarung. Oleh karena itu latihan dan
pengusaan dasar yang terus menerus harus terus dilakukan,

Falsafah lainnya dari Gogen Yamaguchi yang diambil sebagai dasar


motivasi seorang karateka, berbunyi :
I shall be happy if you understand that the essence of the Martial Arts is not
the strength, not the art, but that which is hidden deep within yourself.

Saya akan senang jika engkau mengeti bahwa esensi dari bela diri bukanlah
untuk menjadi kuat, bukan pula seni, tetapi mengetahui mana sisi dalam
yang tersembunyi dari dirimu sendiri.
Falsafah ini mengandung pengertian bahwa menemukan potensi diri, itulah yang
paling utama dari seorang karateka.Penggunaan teknik, menjadi kuat, dan mampu
memahami pelajaran itu hanyalaih pengantar untuk masuk mengenali diri yang
sesungguhnya.
3.3 Analisis Teknik-teknik dasar Karate
3.3.1 Kihon ()
Kihon dalam karate Goju ryu terdiri dari, Tachi Waza () , Uke Waza (
), Tsuki Waza (), Uchi Waza (), Geri Waza (). Berikut akan
dijelaskan secara singkat tentang gerakan gerakan dalam kihon Karate.
1. Tachi Waza()

Tachi Waza atau posisi kuda-kuda terbagi menjadi;


NEKO SANCH SHIKO
IN
ASHI
DACHI:
DACHI:
DACHI:
Posisi
Posisi Posisi menungg
Kaki frontal,
ang
Kucing fokus ke
depan,
dengan
berat
badan di
pinggan
g

HEISOKU DACHI:
Kaki, jari kaki dan tumit
sejajar

MUSUBI DACHI:
Tumit kaki bertemu

HACHIJI DACHI:
kaki sejajar denganjari-jari
menghadap keluar

H
H
T E
A
S I
N
U K
K
R O
U
U D
T
A A
S
S C
U
HH
D
I I:
A
D K
C ak
A
H
C i
I: Se
H
P
I: jaj
os ar
P
isi
os
fr
isi
o
b
nt
ur
al
u
de
n
n
g
ga
ba
n
n
sa
ga
tu
u
ka
ki
ja
u
h
ke
de
pa
n,
pe
nj
ag
aa
n
al
a
m
i
da
la
m
be
rt
ar

n
g

Adapun jenis-jenis cara melangkah antara lain;



DE ASHI ()
: Lurus ke depan

TEIJI
DACHI
UCHI HIRI
ASHI
RENOJ
(): Melangkang belakang
:
HACHI
I
Posisi ASHI
JI YOKO
DACHI:
( ) : Menyamping
DACHI huruf
Posisi
T
: Kaki
huruf () : Memutar
MAWARI
ASHI
sejajar
L
dengan
TOBI ASHI: Melompat
jari-jari
mengha
Tachi
dalam karate memegang peranan yang amat penting. Jenis-jenis kuda-kuda
dap ke
dalam
ini
digunakan dalam berbagai kata dan kumite yang berbeda. Fungsinya pun

berbeda-beda. Beberapa Kuda-kuda diserap dari gaya bertarung hewan contohnya


bangau, dan kucing. Banyaknya jenis kuda-kuda memiliki maksud agar seorang
karateka harus siap dan beradaptasi dalam kondisi apapun.
2. Uke Waza ()
Uke waza atau jenis-jenis tangkisan terdiri dari;

CHUDAN UKE:
JODAN UKE:
Menangkis di tengah
Menangkis dengan
badan dengan membawa membawa pukulan
pukulan lawan keluar
lawan ke atas

UCHI UKE:
Menangkis dengan
menepis serangan ke
dalam

GEDAN BARAI
UKE: Menangkis
daerah bawah badan
dengan membawa
serangan ke luar

KAKE UKE:
TEISHO UKE:
Menahan pukulan dengan Menahan dengan
menggenggam
telapak tangan
pergelangan tangan
mendorong pukulan
ke bawah

ASHI MAWASHI UKE:


JUJI UKE:
Menahan serangan
Menahan dengan
dengan kaki mendorong
dua tangan
ke dalam setengah
menyilang
di atas

lingkaran
kepala
MAWASHI UKE:
Tangkisan dengan
tangan atas mendorong
dada, dan tangan
bawah menahan
serangan (pukulan atau
paha yang akan
menendang)

HAIWAN UKE:
menepis dengan
lengan bawah

Uke

GEDAN UKE:
Menangkis
serangan ke bawah
tubuh dengan cara
menepis
menggunakan
belakang atau
punggung tangan

NAGASHI UKE:
Memutar serangan
dengan telapak
tangan

TEKATANA UKE:
Menangkis dengan
pisau tangan atau tepi
tangan

MOROTE UKE:
Menahan serangan
dengan siku menekan
ke bawah dan telapak
tangan lain mendorong

KAKIWAKE UKE:
Menggengam tangan
lawan dan mendorong
ke luar badan

(dua kake uke)

KAKUTO UKE:
Menangkis dengan
pergelangan tangan
mendorong pukulan ke

atas

KEITO UKE:
Menangkis dengan
punggung tangan
menekuk pergelangan
tangan musuh

TEKUBI KAKE
UKE: Menepis
serangan dengan
pergelangan tangan

HAISHU UKE:
Menepis dengan
punggung tangan

KOKEN UKE:
Menepis serangan di
bagian tengah badan
dengan pergelangan
tangan

atau tangkisan diajarkan lebih dahulu daripada tsuki atau serangan. Makna

yang tersirat bahwa kita harus siap menahan diri dahulu dan menerima setiap
serangan atau tantangan yang bisa datang kapan saja.
3. Tsuki Waza ()

Berikutnya daftar tsuki atau serangan , yaitu

Bola Kepalan

TSUK
I:
Pukul
an
denga
n
gengg
aman
kuat,
fokus
kekuat
an
terleta
k pada
dua
bola
kepala
n

GYAKU TSUKI:
Memukul dengan
tangan belakang

KIZAMI TSUKI:
Memukul dengan
tangan depan

OI TSUKI: Memukul
simultan dua kali
dengan tangan
belakang dan depan
bergantian

MAWASHI TSUKI:
Memukul dari arah luar
ke dalam setengah
lingkaran

MOROTE TSUKI: NAGASHI TSUKI:


Dua pukulan
Memukul dari arah
bersamaan
bawah ke atas diagonal
dengan menggunakan
punggung tangan

HASAMI TSUKI:
HEIKO TSUKI:
Dua pukulan ke arah Dua pukulan bersamaan
rusuk
sejajar

TATE TSUKI:
URA TSUKI: Memukul
Memukul dengan
dengan awalan pendek
kepalan tangan vertikal

YAMA TSUKI:
Memukul membentuk
huruf U ke arah wajah
dan rusuk

AWASE TSUKI: Dua


pukulan bersamaan di
atas dan bawah

DAN TSUKI (): Memukul dengan tangan yang sama berkali-kali

4. Uchi Waza ()
Berikutnya serangan Uchi waza yaitu serangan yang tidak menggunakan kepalan
tangan atau bola tangan, atau senjata tubuh lainnya yang menggunakan tangan.

IPPON-KEN:
NUKITE:
IPPON NUKITE:
Menyerang hidung
Menyerang mata
Menyerang mata

dengan lipatan ibu jari dengan dua ujung jari dengan satu ujung jari
TEISHO UCHI:
Menyerang dengan
pergelangan tangan

TETTSUI UCHI:
TEKATANA
WASHIDE UCHI:
Memukul
jidat
dengan
UCHI: Menyerang
Menyerang dengan
telinga atau dagu kepalan tangan bagian pergelangan tangan yang
bawah
dengan pisau tangan
ditekuk menyerupai
sayap elang

HAITO UCHI:
Mendorong kepla
dengan pisau tangan

KUMADE UCHI:
Mencengkram Wajah

HIRAKEN UCHI:
Memukul jakun

NIHON NUKITE:
Menekan lubang di
bawah jakun dengan jari
tengah yang dilipat
setengah

TEISHO
TEISHO USHIRO:
MAWASHI:
Memukul alat vital
Menekan rusuk
lawan dengan gerakan
dengan telapak tangan
telapak tangan
dengan gerakan
mengayun
melingkar

AGE EMPI:
Menghantam dagu
dengan siku

MAE EMPI:
Menyiku dada lawan

HAISHU UCHI () : Menyerang dengan menamparkan punggung


tangan

NAKADAKA IPPON KEN (): Memukul dengan jari


tengah dikepal setengah

KEITO UCHI () : Memukul dengan tepi dalam pergelangan tangan

KOKEN UCHI () : Memukul dengan tepi luar pergelangan


tangan

URAKEN UCHI(): Memukul dengan kepalan seperti


mencambuk

USHIRO EMPI : Menyerang dengan menyiku ke


belakang ( saat dipeluk)

MAWASHI EMPI (): Menyiku dari samping luar ke dalam

YOKO EMPI: Menyiku dari dalam ke luar

OTOSHI EMPI: Menyiku dari atas ke bawah

Baik tsuki waza dan uchi waza keduanya dikenal sebagai senjata tangan.
Serangan-serangan itu ditujukan untuk menyerang titik-titik vital lawan secara
efektif.
5. Keri Waza ()
Keri Waza atau rangkaian tendangan, terdiri dari :

MAE GERI () : Menendang dengan kaki depan


USHIRO GERI : Menendang dengan kaki belakang

HIZA GERI:
KAKATO GERI:
MAE GERI:
Menghantam dada
Menendang
ke bawah
Menendang cepat lurus
atau perut dengan
ke depan dengan jari dengan tumit di tekuk ke
lutut
atas
kaki ditekuk (bola jari
kaki)

KIN GERI:
Menendang kemaluan

YOKO GERI:
MAWASHI GERI:
MIKAZUKI GERI:
Menendang
Tendangan setengah Tendangan bulan sabit atau
dengan bagian
lingkaran dari arah
menendang kemudian
pisau kaki ke arah luar ke dalam menuju
ditekuk cepat ke bawah
leher lawan
rusuk atau telinga

SOKUTO
NAGASHI GERI:
Menendang dengan
pisau kaki diarahkan
ke belakang
pergelangan lutut
kemudian disentak
ke bawah

USHIRO GERI:
URA MAWASHI
Tendangan
ke arah
GERI: Kebalikan dari
belakang
dengan
mawashi geri,
melesatkan kaki ke arah
tendangan dari arah
perut lawan
dalam diayunkan ke
luar memutar setengah
lingkaran

KANZETSU
GERI:
Tendangan dengan
pisau kaki ke arah
pergelangan lutut

TOBI GERI:
Tendangan dengan
awalan
berlari kemudian
melompat

Dari berbagai bentuk serangan yang dimiliki aliran Goju Ryu, memiliki pesan
bahwa semua yang ada diri dapat digunakan sebagai senjata. Apapun bentuk
senjata itu haruslah memiliki kontrol dan dilatih secara terus-menerus agar tidak
kaku atau tumpul.

3.3.2

Kata ()

Gerakan dasar selanjutnya setelah kihon adalah kata. Kata adalah perpaduan dari
berbagai kihon yang dibentuk ke dalam suatu pola tertentu. Goju ryu memiliki 12
jenis kata inti. Kata yang menjadi ciri khas adalah Sachin ( ) dan Tensho(
). Sanchin mewakili unsur Go ( ) atau kekuatan, dan Tensho mewakili unsur

Ju () atau kelembutan. Berikut adalah daftar kata dari Goju Ryu


1. Kihongata () /Jenis Kata Dasar
a. Gekisai ()
Gekisai (kanji: ; katakana: ) berarti serang dan hancurkan Kata
ini dibuat sekitar tahun 1940 oleh Chojun Miyagi dan Nagamine Shoshin sebagai
kata dasar, untuk memperkenalkan bentuk dasar dari karate di sekolah menengah
di Okinawa, dan membantu memberi standarisasi dalam karate, dan mengajarkan
seperangkat teknik dasar dari pertahanan diri. Gekisai sangat dipengaruhi oleh
Shuri-Te yang dipelajari Miyagi dari Anko Itosu.
Siswa pertama kali belajar gekisai satu dan kemudian gekisai dua. Perbedaan
mendasar antara gekisai satu dan dua adalah teknik dengan tangan terbuka dan
cara berdiri yang baru. Siswa diperkenalkan teknik kuda-kuda Neko Ashi Dachi
(kaki kucing) dan tangkisan mawashi uke (tangkisan melingkar).
b. Saifa ()
Saifa (Kanji: ; Katakana: ) berarti banting dan robek ". Saifa
aslinya berasal dari Cina, dan dibawa ke Okinawa oleh Higashionna. Isinya
mengandung gerakan seperti mencambuk cepat, memalu dengan tangan, dan
memukul dengan pukulan belakang tangan, terutama mematikan langkah utama
lawan. Saat menutup jarak kemudian menyerang dengan seluruh tenaga. Ini
adalah kata mahir pertama dari pembelajar Goju ryu dan dipelajari setelah
Geikisai.
c. Sanchin ()

Sanchin (Kanji: ; Katakana: ) berarti "tiga pertarungan". Kata ini


ini adalah gerakan meditasi pendek, yang menggabungkan tiga potensi
pertarungan yaitu pikiran, tubuh dan semangat. Tekniknya dilakukan sangat
lambat, sehingga siswa harus dengan sempurna menguasai perpindahan,
pernafasan, posisi berdiri kokohm , kekuatan internal, kestabilan antara pikiran
dan tubuh.
Sanchin adalah pondasi dari semua kata, dan dianggap kata terpenting dari kata
untuk mencapai guru besar kata. Ketika siswa baru dating ke Miyagi, dia akan
sungguh-sungguh berlatih sekitar tiga sampai lima tahun sebelum diperkenalkan
kata sanchin. Akibat sulitnya beberapa dari siswa keluar sebelum mendapatkan
kata ini. Siswa akan berlatih menstabilkan tiga potensi tadi, kemudian setelah
mempelajari sanchin maka akan ditambah lagi waktu dua hingga tiga tahun hanya
untuk mempelajari kata ini. Sanchin ciptaan Miyagi sangat keras dan siswa harus
berlatih tana henti untuk tetap mengokohkan dirinya.
d. Tensho ()
Tensho (Kanji: ; Katakana: ) berarti memutar tangan. Serupa
dengan sanchin, tensho adalah dasar gerakan meditasi. Tensho menggabungkan
posisi berdiri kokoh dengan pergerakan tangan lembut gemulai, dan
mengkonsentrasikan kekuatan di tanden (perut bagian bawah). Tensho adalah
lawan dari kata Sanchin yang menerapkan prinsip Go (kekerasan). Tensho
menggunakan prinsip Ju (kelembutan).
2. Kaishugata ()/Kata dengan tangan terbuka
Kaishugata yang berarti kata dengan tangan terbuka. Jenis kata adalah kata
mahir dan lebih tinggi daripada Heishugata atau kata dengan tangan tertutup yang
merupakan rangkaian teknik dasar bertarung . Kaishugata memiliki lebih banyak
interpretasi penerapan (Bunkai) dengan keadaan tangannya yang terbuka.
e. Seiyunchin ()

Seiyunchin (kanji: ; katakana: (serang, taklukkan, tekan;


juga mengacu pada kontrol dan motivasi dalam pertarungan. Kata Seiunchin di
demostrasikan dengan menggunakan banyak menggunakan teknik dalam
keadaan kritis, tidak seimbang seperti membanting dan bergulat, empat arah
serangan, sapuan, menjatuhkan dan melempar jauh lawan..
f. Shischin ()
Shisouchin, Kanji: - Katakana: berarti hancurkan dalam
empat arah atau bertarung dalam empat arah". Kata ini memadukan integrasi
kekuatan serangan dalam empat arah angin secara linear, gerakan melingkar, dan
teknik memblokir. Ini adalah kata favorit di akhir hidup Miyagi.
g. Sanseir ()
Sanseir, Kanji: - Katakana: berarti 36 tangan. Kata ini
mengajarkan bergerak di sekitar lawan, dengan serangan dari empat arah mata
angin. Menekan pergerakan lawan dengan kanzetsu geri (mematahkan lututnya).
h. Seipai ()
Seipai - Kanji: - Katakana: berarti 18 tangan. Sempai
menggabungkan 4 gerakan ke empat penjuru mata angin, dan serangan dengan
bentuk sudut 45 dan menerapkan gabungan serangan jarak jauh dan dekat.
i. Kururunfa ()
Kururunfa, Kanji: - Katakana: (bergantung dan
menyerang tiba-tiba. Teknik ini diambil dari teknik berdoa Cina meniru gaya
mantis atau belalang sembah.

j. Seisan ()

Seisan, Kanji: - Katakana: berarti 13 tangan. Merupakan salah


satu kata tertua yang diajarkan pada Naha-Te (tangan naha) sebelum adanya
Karate di sekolah-sekolah di Okinawa.
k. Suparimpei ()
Suparimpei, kanji: - Katakana: berarti 108
tangan. Dikenal juga dengan nama Pechurin, adalah kata mahir dari Goju Ryu.
Seorang karateka yang memainkan Suparimpei haruslah telah mengusai kata
dengan prinsip kekerasan Go, kata menengah dan kata mahir lainnya

3.3.3

Kumite ()

Kumite adalah praktik pertarungan dengan menggunakan kombinasi dari berbagai


kihon dan bunkai kata. Dalam karate Goju Ryu, kumite terbagi menjadi 4 yaitu;

1. Kihon Kumite ( ) adalah latihan pertarungan dasar yang


dilakukan di tempat dengan posisi inti heiko dachi, dilakukan dengan gerakan
maju dan mundur.
2. Yakusoku Kumite atau pertarungan perjanjian adalah jenis
kumite dengan teknik serang dan tangkis yang telah disepakati sebelumnya.
3. Jiyu Kumite () adalah jenis kumite dengan satu orang melawan
dua orang atau lebih. Kumite ini adalah miniature dari pertarungan bebas
hanya saja tetap mengontrol serangan.
4. Dentou Kumite () dengan gaya tradisional

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Karate Goju Ryu merupakan gabungan dari teknik Tote aliran Naha di
Okinawa dengan beladiri Cina dari kitab bubishi. Inti dari ajarannya adalah
keharmonisan menggunakan unsur Gou

(kekuatan) dan Juu

(kelembutan) dalam diri manusia. Ajaran-ajarannya banyak dipengaruhi oleh


falsafah budha tentang ketenangan pikiran, fokus, penguasaan diri dan jalan
untuk mencapi kesempurnaan.
4.2 Saran
Tulisan ini hanya menjelaskan secara umum tentang Karate Go Juu Ryu. Agar
lebih mendalam mengetahui karakter beladiri ini dapat ditelusuri dengan studi
lapang atau penelusan ke sumber ajarannya di provinsi Okinawa, Jepang dan
Cina.

REFERENSI
Harimurti Kridalaksana. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Nababan, P.W.J.1993. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : PT GRAMEDIA.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991. Jakarta : Balai Pustaka
Darsono., Sejarah, Etika dan Filosofi Karate. 2000. Jurnal
http://en.wikipedia.org/wiki/gj-ry
Tim Penyusun. Buku panduan karate Goju-Ryu. Fakultas Hukum UNHAS