Anda di halaman 1dari 8

Infeksi:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama Pasien: Rizal


Tanggal Lahir/Usia: 1,5 tahun
Suku: Makassar
Jenis Kelamin: Pria
Alamat : Dusun Bangkeng Buki Kecamatan Eremerasa
Anamnesis Lengkap:
Pasien R, seorang anak laki laki berusia 1,5 tahun, warga dusun Bangkeng Buki,
Desa Pabentengang, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng. Pasien datang
diantar oleh Ibunya ke Puskesmas Pabentengang pada tanggal 20 Januari 2016
dengan keluhan ada cacing pada feses saat buang air besar 3 hari sebelum datang ke
Puskesmas.
Pasien juga demam, tetapi tidak batuk. Demam yang dialami sejak 2 hari yang
lalu. Riwayat penyakit dalam keluarga disangkal.

Pasien mengaku tidak

mengkonsumsi obat sebelumnya. Pasien termasuk golongan ekonomi menengah


kebawah.
Pasien disuspek sebagai kecacingan. Orang tua pasien diberikan edukasi agar
anak mengistirahatkan diri, jangan melakukan pekerjaan berat, sebaiknya jangan jajan
sembarangan tempat, dan mengkonsumsi makanan bergizi.
Perbaikan kebersihan perorangan adalah cara ampuh untuk pencegahan.
Membiasakan mencuci tangan sebelum makan atau setelah bermain, buang air besar
di jamban, memasak makanan dengan bersih hingga matang sempurna. Terapi
farmakologis untuk pasien ini adalah Pirantel 125 1x 1. Paracetamol drop
7. Tanda Vital:
a. Tekanan darah: 120/80
b. Denyut Nadi: 84x/menit. Reguler
c. Frekuensi pernapasan: 20x/menit
d. Suhu: 37,2
8. Status Gizi:
BB: 8,5 kg
9. Pemeriksaan Fisis:
a. Inspeksi: Pasien tampak kurus dan lemah
b. Palpasi: c. Perkusi: d. Auskultasi: 10. Pemeriksaan Penunjang: Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
11. Diagnosis: Kecacingan
12. Perencanaan Terapi:
a. Pirantel 125 mg 1x 1
b. Paracetamol drop
13. Kaji Pustaka:
a. Definisi

Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa


cacing. Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Kecacingan
menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, terhambatnya tumbuh kembang anak,
kurang gizi dan zat besi yang mengakibatkan anemia. Infeksi kecacingan adalah
infeksi yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus khususnya yang
penularan melalui tanah, diantaranya
a. Ascaris lumbricoides
b. Trichuris trichiura dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus) dan Strongyloides stercoralis
Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Negara-negara
sedang berkembang khususnya pada daerah yang tropik adalah penyakit infeksi
kecacingan khususnya cacing yang ditularkan melalui tanah. Cacing umumnya
tidak menyebabkan penyakit berat sehingga sering kali diabaikan walaupun
sesungguhnya memberikan gangguan kesehatan. Tetapi dalam keadaan infestasi
berat atau keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung memberikan analisa
keliru kearah penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat fatal.
Nematoda adalah cacing yang tidak bersegmen, bilateral simetris, mempunyai
saluran cerna yang berfungsi penuh, biasanya berbentuk silindris serta panjangnya
bervariasi dari beberapa milimeter hingga lebih dari satu meter.
Semua Nematoda yang menginfeksi manusia mempunyai jenis kelamin
terpisah, yang jantan biasanya lebih kecil daripada yang betina. Nematoda dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu Nematoda jaringan dan Nematoda usus.
b. Gejala-gejala
Mengeluarkan cacing pada saat buang air besar atau muntah
Badan kurus dan perut buncit
Kehilangan nafsu makan, lemas, lelah, pusing, nyeri kepala, gelisah dan sukar
tidur
Gatal-gatal disekitar dubur terutama malam hari (cacing kremi)
Pada jenis cacing yang menghisap darah (cacing pita, cacing tambang, cacing
cambuk) dapat terjadi anemia.
Gejala spesifik untuk tiap jenis cacing adalah
Gejala penderita cacing kremi (Oxyuris/Entrobius vermicularis) adalah

rasa gatal sekitar anus terutama malam hari, gelisah dan sukar tidur.
Gejala penderita cacing gelang (Askariasis) adalah gangguan lambung,
kejang perut diselingi diare, kehilangan berat badan dan demam

Gejala penderita cacing tambang (Nekatoriasis/Ankilostomiasis) adalah


gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare dan nyeri ulu hati), pusing

nyeri kepala, lemah dan lelah, anemia, gatal di daerah masuknya cacing.
c. Penyebab
Cacing penyebab penyakit pada manusia terdiri dari :
Cacing gelang (Askariasis lumbriocoides)
Cacing cambuk (Tricularis sp)
Cacing kremi (Entrobius vermicularia)
Cacing tambang (Nekatoria dan ankilostomia)
Cacing pita (Taenia sp) Trematoda
d. Patomekanisme
Dalam siklus hidupnya, cacing-cacing tesebut memerlukan hidup dalam tubuh
manusia untuk tumbuh dan berkembang biak. Pada saat inilah, gangguan
kesehatan dapat timbul pada anak yang mengalami kecacingan. Sebagian besar
cacing masuk kedalam tubuh manusia dalam bentuk telur yang tertelan. Telur
cacing ini bisa terdapat di tanah yang terkontaminasi oleh feses yang mengandung
telur cacing yang telah dibuahi.
Penularan biasanya terjadi karena termakan makanan atau minuman yang
tercemar oleh telur cacing. Bayi dapat terinfeksi cacing melalui jari ibunya yang
mengandung telur cacing. Sehingga pendapat yang beranggapan cacingan selalu
berhubungan dengan higiene sanitasi sangatlah benar. Cacing tambang dapat
masuk melalui larva yang tertelan atau larva yang menembus kulit. Cacing kremi
betina mengeluarkan telurnya di sekitar dubur terutama pada malam hari,
penularan dapat terjadi dengan tertular telur yang jatuh di alas tempat tidur
ataupun benda lain yang terkontaminasi. Cacing pita dapat masuk dalam tubuh
manusia, dengan cara makan daging sapi/babi mentah atau tidak di masak dengan
baik.
Sebagian besar kasus sering tidak menunjukkan gejala. Biasanya akan
ditemukan gangguan terhadap penyerapan zat makanan dalam usus. Secara tidak
langsung akan menimbulkan gangguan gizi yang selanjutnya berakibat gangguan
pertumbuhan dan perkembangannya.

Gejala yang terjadi secara khusus disebabkan oleh migrasi larva dan cacing
dewasa. Migrasi larva cacing gelang dapat menimbulkan gangguan pada paru.
Cacing dewasa yang hidup di usus halus dapat menyebabkan timbulnya gejala
tidak enak di perut, gangguan selera makan atau diare. Massa cacing yang sangat
banyak, meskipun jarang terjadi dapat menyebabkan penyumbatan saluran cerna.
Cacing cambuk dapat mengakibatkan anemia, karena untuk menempel pada
dinding usus, cacing ini harus membenamkan kepalanya dan mengakibatkan
lapisan usus mudah berdarah. Larva cacing tambang yang menembus kulit,
menimbulkan rasa gatal pada kulit. Infeksi oleh cacing kremi sering menyebabkan
rasa gatal di daerah dubur, terutama pada malam hari.
Cacing masuk tubuh manusia dengan berbagai cara. Telur cacing gelang
tertelan sewaktu makan makanan yang terkontaminasi oleh kotoran. Sedang larva
cacing tambang hidup ditanah dan masuk lewat kulit yang menyebabkan infeksi.
Cacing pita dan trematoda sebagian besar siklus hidupnya berada pada binatang
dan masuk tubuh manusia karena makan daging/ikan mentah atau setengah
matang. Di Indonesia masalah cacing masih merupakan masalah kesehatan umum,
yang paling sering ditemukan adalah cacing gelang dan cacing kremi. Cacing
kremi bertelur di sekitar dubur. Telur-telur ini terbawa oleh jari-jari bila penderita
menggaruk, kemudian bila tidak dicuci kedua tangan tersebut maka bisa
menularkan ke orang lain. Penyebab kecacingan juga biasanya karena makanan,
minuman dan lingkungan yang tidak bersih. Pada umumnya yang terjangkit
kecacingan adalah anak-anak. Penularan umumnya terjadi melalui makanan dan
melalui kulit.
Ascariasis
Definisi
Biasanya penyakit ini disebabkan oleh cacing Ascarias Lumbrocoides . infeksi
pada manusia terjadi kalau larva cacing ini mengkontiminasi makanan dan minuman.
Di dalam usus halus larva cacing akan keluar menembus dinding usus halus dan
kemudian menuju pembuluh darah dan limfe menuju paru. Setelah itu larva cacing ini
akan bermigrasi ke bronkus, faring, dan kemudian turun ke esofagus dan usus halus.
Lama perjalanan ini sampai menjadi bentuk cacing dewasa 60-75 hari.

Panjang cacing dewasa 20-40 cm dan hidup di dala usus halus manusia untuk
bertahun-tahun lamanya. Sejak telur matang tertelan sampai vaving dewasa bertelur
diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Ascaris lumbricoides atau cacing gelang. Ascaris
lumbricoides adalah cacing bulat yang besar dan hidup dalam usus halus manusia.
Epidemiologi
Cacing ini terutama tumbuh dan berkembang pada penduduk di daerah
beriklim panas dan lembab dengan sanitasi yang buruk. Di Indonesia prevalensi
askariasis tinggu terutama pada anak. Kurangnya pemakaian jamban keluarga
menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah
pohon, di tempat mencuci dan di tempat pembuangan sampah.
Gejala klinis
Biasanya terjadinya perdarahan, penggumpalan sel leukosit dan pneumonitis
Askaritis. Pada foto thoraks

tampak infiltrat yang mirip pneumonia viral yang

menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaanini disebut sindrom Loeffler. Pada


pemeriksaan darah akan didapatkan eosinifilia.
Larva cacing ini dapat menyebar dan menyerang organ lain seperti otak,
ginjal, mata, sumsum tulang belakang dan kulit. Dalam jumlah yang sedikit cacing
dewasa tidak akan menimbulkan gejala. Kadang-kadang penderita mengalami gejala
gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.
Bila infestasi tersebut berat dapat menyebabkan cacing-cacing ini menggumpal dalam
usus sehingga terjadi obstruksi usus ( ileus ). Kadang-kadang penderita mengalami
gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau
konstipasi. Cacing dewasa dapat juga menyebabkan gangguan nutrisi terutama pada
anak-anak. Cacing ini dapat mengadakan sumbatan pada saluran empedu, saluran
pankreas, divertikel dan usus buntu. Selain hal tersebut di atas, cacing ini dapat juga
eosinofilifa. Cacing dewasa dapat keluar melalui mulut dengan perantaraan batuk,
muntah atau langsung keluar melalui hidung.
e. Penatalaksanaan

Piperazin
Merupakan obat pilihan utama, diberikan dengan dosis sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Berat badan 0-15 kg: 1g sekali sehari selama 2 hari berturut-turut


Berat badan 15-25 kg: 2 g sekali sehari selama 2 hari berturut-turut
Berat badan 25-50 kg: 3 g sekali sehari selama 2 hari berturut-turut
Berat badan lebih dari 50 kg: 3 sekali sehari selama 2 haru berturut-turut
Satu tablet obat ini mengandung 250 dan 500 mg piperazin. Efek samping
penggunaan obat ini adalah pusing, rasa melayang dan gangguan penglihatan.
Heksilresorsinol
Obat ini baik infeksi Ascaris lumbricoides dalam usus. Obat ini diberikan
setelah pasien dipuasakan terlebih dahulu, baru kemudian diberikan 1
gheksiresorsinol sekaligus disusul dengan pemberian laksans sebanyak 30 g
MgSO4, yang diulangi lagi 3 jam kemudian untuk tujuan mengeluarkan cacing.
Bila diperlukan pengobatan ini dapat diulang 3 hari kemudian.

Pirantel Pamoat
Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan,
maksimum 1 g. Efek samping obat ini adalah rasa mual, mencret, pusing, ruam
kulit dan demam.
Levamisol
Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis tunggal 150 mg.
Albendazol
Obat ini cukup efektif bila diberikan dengan dosis tunggal 400 mg
Mebendazol
Obat ini cukup bila diberikan dengan dosis 100 mg, 2 kali sehari selama 3
hari.

f. Komplikasi
Selama larva sedang bermigrasi dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergik
yang berat dan pneumonitis dan bahkan dapat menyebabkan timbulnya
pneumonia.
g. Pencegahan

Menjaga kebersihan diri dengan memotong kuku, menggunakan sabun pada


waktu mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar dan pada waktu
mandi

Menghindari makanan yang telah dihinggapi lalat dan cuci bersih bahan
makanan untuk menghindari telur cacing yang mungkin ada serta biasakan
memasak makanan dan minuman

Menggunakan karbol di tempat mandi

Menggunakan alas kaki untuk menghindari sentuhan langsung dengan tanah


saat bekerja dihalaman, perkebunan pertanian, pertambangan, dll

h. Prognosis
Selama tidak terjadi obstruksi oleh cacing dewasa yang bermigrasi, prognosis
baik. Tanpa pengobatan infeksi cacing ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5
tahun.

REFERENSI
1. Price A. Sylvia, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi konsep klinis proses-proses
penyakit Volume 2. Edisi 6. Jakarta: EGC . 2005. p.1096
2. Setiati S, Alwi I, Sudoyo Aru W., Simadribata K, Setiyohadi Bambang, Syam Ari
Fahrial, Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam Edisi Keenam Jilid I, Hal. 595-611.

3. Partono, Felix dan Agnes Kurniawan. 2006. Wuchereria bancrofti. Srisasi


Gandahusada, Herry D. Ilahude, dan Wita pribadi. Parasitologi Kedokteran edisi ke-3.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.35-44.