Anda di halaman 1dari 10

1.

Ordo Crocodilia

Ordo crocodilia mencakup hewan reptil yang berukuran paling besar diantara reptil
lain. Kulit tebal, dan liat karena mengandung kepingan tulang yang tersusun berderet dan
berlunas membentuk perisai dermal mengandung sisik dari bahan tanduk. Kepala berbentuk
pyramid, keras dan kuat, dilengkapi dengan gigi runcing bertipe gigi poliodont. Mata kecil
terletak dibagian kepala yang menonjol di dorsal-lateral. Pipil vertical dilengkapi selaput
mata, tertutup oleh lipatan kulit yang membungkus tulang sehingga lubang tersebut hanya
Nampak seperti celah. Lubang hidung terletak pada sisi dorsal ujung moncong dan
dilengakapi dengan suatu penutupdari otot yang dapat berkontraksi secara otomatispada saat
buaya menyelam. Lubang telinga terdapat disebelah caudal mata tertutup oleh lipatan kulit.
Ekor panjang dan kuat. Tungkai relatif pendek tetapi cukup kuat. Tungkai belakang lebih
panjang, berjari empat dan berselaput. Tungkai depan berjari 5 tanpa selaput. Jantung uaya
mempunyai 4 ruang namun sekat antar ventrikel kanan dan kiri tidak sempurna yang
menyebabkan terjadinya percampuran darah. Pada jantungnya memiliki foramen panizza.
Crocodilia merupakan hewan poikilotermik sehingga kebanyakan akan berjemur disiang hari
untuk menjaga suhu tubuhnya. Mereka berburu dimalam hari. Bersifat ovipar, betina
membuat sarang dengan menggali lubang ditanah untuk menyimpan telur. Ordo Crocodilia
mempunyai 3 familia yaitu: Alligatoridae, Crocodilydae, Gavialidae.
a. Famili Aligatoridae
Famili aligatoridae memiliki ciri-ciri bentuk moncongnya yang tumpul dengan
deretan gigi pada rahang bawah tepat menancap pada gigi yang terdapat pada rongga pada
deretan rahang atas sehingga pada saat moncongnya mengatup hanya deretan gigi pada
rahang atasnya saja yang terlihat, dapat mencapai umur maksimal 75 tahun. Tahan terhadap
suhu rendah. Memiliki lempeng tulang pada pinggung dan bagian perut bawah memiliki sisik
dari bahan tanduk yang lebar berjumlah lebih dari 6 sisik. Beberapa spesies yang termasuk
family ini adalah:
Genus Aligator:Alligator mississippiensis, Alligator sinensis
Genus Caiman: Caiman crocodiles,Caiman latirostris.
Genus Melanosuchus : Melanosuchus niger.

Gambar 1. Alligator
mississippiensis (Sumber :
wikimedia.org)

Gambar 2.Gambar
Caiman
crocodiles niger
3. Melanosuchus
(Sumber
:
(Sumber : www.wikiwand.com)
enciclopediaanimal.wordpress.com)

b.
Crocodylidae

Family

Ciri-ciri dari family ini adalah moncongnya meruncing dengan bentuk yang hampir
segitiga, dan pada saat mengatup, ke dua deret giginya terlihat dengan jelas.Kedua tulang
rusuk pada ruas tulang belakang pertama bagian leher terbuka lebar.Terdapat pula baris
tunggal sisik belakang kepala yang melintang yang tidak lebih dari 6 buah di bagian tengkuk.
Spesies anggota Famili Crocodylidae yang ada di Indonesia adalah ;
1)
Crocodylus novaeguineae (Buaya Irian)
Spesies yang sering disebut buaya irian ini
dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan
ukuran sisiknya yang lebih besar, terutama sisik
ventralnya.Sisik belakang kepalanya berjumlah 4-7
buah. Sisik D.C.W (Double Crest Whorl) sejumlah 17-20
pasang, sedangkan sisik S.C.W (Single Crest Whorl)
berjumlah 18-21 buah. Jumlah sisik ventral terdiri atas 23-28
baris dari depan ke belakang. Ukuran maksimum dapat
mencapai 3350 mm untuk jantan dan 26550 mm untuk
betina.
Gambardan
4. Crocodylus
novaeguineae
Pada waktu akan bertelur, betina akan membuat sarang
bertelur pada
awal musim
(Sumber
:
carnivoraforum.com)
kemarau, hal ini berlawanan dengan Crocodylus porosus. Telur-telur ini dijaga oleh induk
sampai mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya-buaya ini menempati habitat yang
sama dengan buaya air tawar di Indonesia Barat dan dijumpai sampai ke pedalaman dengan
persebaran meliputi Irian sebelah utara, mulai dari daerah DAS Memberamo, sampai
semenanjung selatan Papua Nugini.
2)

Crocodylus porosus (Buaya Muara)

Buaya muara dikenal sebagai buaya


terbesar di dunia dan dapat mencapai panjang
tujuh meter. Buaya ini dibedakan dengan buaya
yang lain berdasarkan sisik belakang kepalanya
yang kecil ataupun tidak ada, sisik dorsalnya
berlunas pendek berjumlah 16-17 baris dari depan
ke belakang biasanya 6-8 baris. Tubuhnya
berwarna abu-abu atau hijau tua terutama pada
yang dewasa sedangkan yang muda berwarna
lebih kehijauan dengan bercak hitam, dan pada ekornya
terdapat
belang hitam
dari bercakGambar
5. Crocodylus
porosus
bercak berwarna hitam.
(Sumber : wikimedia.org)
Saat bertelur, betina akan membuat sarang dari sampah tumbuhan, dan dedaunan.
Buaya ini bertelur pada awal musim penghujan. Telur-telur ini akan terus dijaga oleh induk
sampai menetas dan mereka dapat mencari makanan sendiri. Buaya jenis ini menempati
habitat muara sungai. Kadang dijumpai di laut lepas. Makanan utamanya adalah ikan
walaupun sering menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum.
Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesa.

3)

Crocodylus siamensis (Buaya Air Tawar)

Dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan


sisik post occipital-nya yang berjumlah 2-4 buah.
Moncongnya tidak berlunas tetapi terdapat lunas yang
jelas di antara kedua matanya.. Panjang moncongnya
satu setengah sampai satu tiga perempat kali lebarnya.
Umumnya memiliki 3-4 buah sisik belakang kepala.
Tubuhnya kecil dan hanya dapat mencapai panjang
sekitar satu meter, berwarna hijau tua kecoklatan dan
anakan berwarna lebih muda dengan bercak-bercak pada
punggung dan ekor. Belang hitam pada ekor umumnya
Gambar 6. Crocodylus siamensis
tidak utuh.
(Sumber : www.carpshunters.com)
Buaya air tawar betina bertelur pada awal musim penghujan. Buaya ini hidup pada
pedalaman dengan air yang tawar, sungai atau rawa-rawa. Makanan utamanya adalah ikan.
Jenis ini juga dikenal sebagai buaya siam. Persebarannya meliputi Kalimantan Timur,dan
Jawa.
c.

Family Gavialidae

Memiliki bentuk moncong yang memanjang dan pada saat moncong tersebut
menangkup, kedua deret gigi yaitu yang berada di rahang atas dan bawah terlihat berseling.
Ujung moncongnya lebar bersegi 8. Contoh spesies dari famili Gavialidae adalah Tomistoma
Schlegelii (Buaya Senyulong).
1.)

Tomistoma Schlegelii (Buaya Senyulong)

Buaya ini dapat dibedakan dengan buaya yang lain berdasarkan moncongnya yang
sangat sempit dengan ukuran tubuh yang mencapai 5,6m. Jari kakinya memiliki selaput, dan
sisi kakinya berlunas. Matanya memiliki iris yang tegak. Betinanya bertelur pada awal musim
penghujan. Telurnya diletakkan dalam tanah dan ditimbun dengan sampah tetumbuhan.
Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk yang relatif dalam, rawarawa, hingga ke pedalaman. Makanan utama adalah ikan, udang dan juga monyet. Persebaran
buaya ini meliputi Sumatera, Kalimantan dan
Jawa.

Gambar 7. Tomistoma Schlegelii

2. Ordo Testudinata

(Sumber : wikipedia.org)

Bangsa hewan yang termasuk didalam Ordo Testudinata (atau Chelonians) ini khas
dan mudah dikenali dengan adanya rumah atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung
disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian
setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan
keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng
tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi
(Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan
lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya. Ordo ini terdiri dari beberapa Famili, 2
diantaranya yaitu :

a. Famili Chelonidae
Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu
boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak
menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya.
Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas
moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.
Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies
anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contoh spesiesnya
adalah:

Gambar 8. Penyu Hijau (Chelonia


mydas)
(Sumber : wikimedia.org)

Gambar 9. Penyu sisik (Eretmochelys


imbricata)
(Sumber : wikimedia.org)

b. Famili Tryonychidae
Spesies dari Famili ini menyebar luas di Amerika utara, Afrika dan Asia, ini adalah suku labilabi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa
contohnya dari Indonesia adalah:

Gambar 10. Bulus (Amyda


cartilaginea)
(Sumber : Wikipedia.org)

Gambar. 11 Labi-labi hutan (Dogania


subplana)
(Sumber : ecologyasia.com

3. Ordo Squamata
Squamata merupakan kelompok Reptilia terbesar dengan jumlah spesies terbanyak.
Habitat anggotanya mulai dari bawah tanah hingga pepohonan, dari gurun hingga ke laut, dan
dari ekuator sampai Arctic. Anggotanya biasanya tetrapoda akan tetapi pada subordo
Serpentes/Ophidia dan sedikit anggota dari Lacertilia tungkainya mereduksi (Cambell et al.,
2002).
Secara umum memiliki ciri-ciri antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari
bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting.
Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan kutikula baru di bawah
lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit/sisiknya terkelupas secara keseluruhan,
sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan
sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar klasifikasi karena polanya cenderung tetap.
Pada ular sisik ventral melebar ke arah transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi
menjadi tonjolan atau tuberkulum; memiliki tulang kuadrat; memiliki ekstrimitas. Kecuali
pada Subordo Ophidia, Subordo Amphisbaenia, dan beberapa spesies Ordo Lacertilia;
berkembang biak secara ovovivipar atau ovipar dengan vertilisasi internal; persebarannya
sangat luas, hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik, Antartika, Irlandia, Selandia
Baru, dan beberapa pulau di Oceania. Ciri lain dari Squamata adalah tidak adanya gigi
vomer, tidak ada hubungan antara pterygoid dan vomer, columella pipih, dan hemipenis
yang berkembang dengan baik (Cambell et al., 2002). Ordo Squamata dibedakan menjadi
3 sub ordo yaitu :

Subordo Lacertilia/ Sauria

Subordo Serpentes/ Ophidia

Subordo Amphisbaenia

a. Subordo Lacertilia/ Sauria


Subordo Lacertilia umumnya adalah hewan pentadactylus dan bercakar, dengan sisik
yang bervariasi. Sisik tersebut terbuat dari bahan tanduk namun ada pula yang sisiknya
termodifikasi membentuk tuberkulum. Dan sebagian lagi menjadi spina. Sisik-sisik ini dapat
mengelupas. Pengelupasannya berlangsung sebagian dalam artian tidak semua sisik
mengelupas pada saat yang bersamaan (Zug,1993).
Selain itu pada Lacertilia mereka memiliki kelopak mata dan lubang telinga. Lidah
Lacertilia panjang dan adapula yang bercabang. Pada beberapa spesies lidah ini dapat
ditembakkan (projectile) untuk menangkap mangsa seperti pada genus Chameleon. Beberapa

anggota Subordo Lacertilia banyak yang memiliki kemampuan untuk melepaskan ekornya
(autotomi) (Zug, 1993).
Kebanyakan kadal tinggal di atas tanah (terestrial), sementara sebagiannya hidup
menyusup di dalam tanah gembur atau pasir (fossorial). Sebagian lagi berkeliaran di atas atau
di batang pohon (arboreal). Alih-alih sebagai predator penyergap, kebanyakan kadal aktif
menjelajahi lingkungannya untuk memburu mangsa.
Walaupun kebanyakan jenisnya adalah binatang pemangsa (predator), namun
sesungguhnya makanan kadal sangat bervariasi. Mulai dari buah-buahan dan bahan nabati
lain, serangga, amfibia, reptil yang lain, mamalia kecil, bangkai, bahkan kadal besar semacam
biawak Komodo juga dapat memburu mamalia besar, hingga sebesar rusa atau babi hutan.
Kadal-kadal bertubuh kecil memakan aneka serangga seperti nyamuk, lalat, ngengat dan
kupu-kupu, berbagai tempayak serangga, cacing tanah, sampai kodok dan reptil yang lain
yang berukuran lebih kecil. Kadal kebun (Mabouya multifasciata) kadang-kadang memangsa
kodok tegalan (Fejervarya limnocharis), bahkan suka memanjat tembok yang kasar untuk
menangkap cecak kayu (Hemidactylus frenatus) yang terlengah. Contoh spesies dari Ordo
Lacertilia :

Gambar 13. Mabouya

multifasciata
(Sumber : egiajib.wordpress.com

Gambar 14. Varanus komodoensis


(Sumber : wikipedia.com)

b. Subordo Serpentes/ Ophidia


Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang
seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa
semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh
anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh
sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain,
pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastis (Zug, 1993).
Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya
termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya
vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang
disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor.

Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan
mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Zug, 1993).
Ular adalah reptilia tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti
kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata). Perbedaannya adalah
kadal pada umumnya berkaki, memiliki lubang telinga, dan kelopak mata yang dapat dibuka
tutup. Akan tetapi untuk kasus-kasus kadal tak berkaki (misalnya Ophisaurus spp.) perbedaan
ini menjadi kabur dan tidak dapat dijadikan pegangan. namun ular tetap dapat dibedakan
karena ular tidak memiliki telinga dan kelopak mata.
Contoh spesies dari subordo serpentes ialah :

Gambar 15. Naja naja


(Sumber : askhokspandan.com)

Gambar 16. Eunectes murinus


(Sumber : wikimedia.org)

c. Subordo Amphisbaenia
Subordo Amphisbaenia dipisahkan dari Lacertilia dikarenakan bentuk morfologinya
yang berbeda dan lebih menyerupai cacing yang dihubungkan dengan modifikasi anatomi
dikarenakan anggotanya hidupnya fossorial. Penampakan segmentasi pada Amphisbaenia
sangat unik jika dibandingkan dengan Reptilia lain, meskipun garis keturunannya sangat
dekat dengan Lacertilia (Zug, 1993).
Sebagai hewan fossorial, Amphisbaenia memiliki tengkorak yang kompak
dikarenakan kepalanya digunakan untuk menggali. Mata tereduksi akan tetapi masih dapat
digunakan untuk melihat. Tidak ditemukan adanya telinga luar, tungkai dan gelang bahu
(kecuali pada Bipes). Tubuhnya memanjang dan memiliki ekor yang pendek. Seperti pada

vertebrata tak bertungkai lainnya, salah satu paru-paru mereduksi, dan paru-paru yang
mereduksi adalah paru-paru kanan (Zug, 1993).
Subordo Amphisbaenia merupakan bagian dari Ordo Squamata yang tidak berkaki
namum memiliki kenampakan seperti cacing karena warnanya yang semu merah muda dan
sisiknya yang tersusun seperti cincin. Kelangkaannya dan kehidupnya yang meliang
menjadikan sedikit keterangan yang bisa diketahui dari subordo ini (Grzimek, 2003).
Kepalanya tidak memisah dari lehernya, tengkorak terbuat dari tulang keras, memiliki
gigi median di bagian rahang atasnya tidak memiliki telinga luar dan matanya tersembunyi
oleh sisik dan kulit. Tubuhnya memanjang dan bagian ekornya hampir menyerupai kepalanya
(Grzimek, 2003). Contoh spesies dari subordo ini adalah :

Gambar 17. Amphisbaenia


alba
(Sumber :

4. Ordo Spenodonta/Rhynchocephalia

Ordo ini diketahui berdasarkan catatan fosil pada Era Triasik Akhir yaitu antara 210220 juta tahun yang lalu. Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe tengkorak diapsid.
Morfologinya mirip dengan anggota lacertilia dan panjang dewasanya mencapai 30 cm.
Anggota ordo ini semuanya karnivora dan mencari makan di malam hari. Habitat hidupnya di
air atau di daratan. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan fertilisasi
internal. Telurnya ditempatkan dalam suatu lubang seperti kebanyakan anggota Kelas Reptilia
lainnya dan menetas dalam waktu 1 tahun .Anggota Ordo Rhynchocephalia mempunyai satu
familia yaitu Sphenodontidae dan hanya satu genus Sphenodon. Genus ini terdiri dari
duaspesies yaitu Sphenodon punctatus dan Sphenodon guntheri (Tuatara). Keduanya
merupakan hewan endemik Selandia Baru.

Gambar 18. Sphenodon sp.

(Sumber : www.lepoint.fr)

Klasifikasi Tuatara
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Subkelas

: Diapsida

Super Ordo

: Lepidosauria

Ordo

: Rhyncochepalia

Family

: Sphenodontidae

Genus

: Sphenodon

Spesies

: Sphenodon sp.

Daftar Pustaka (tambahan)


Brotowijoyo.Djarubito Mukayat. 1994. Zoologi Dasar. Bandung: Erlangga
Cambell, N.A.,Reece, J.B.,Mitchell, L.G., 2002. Biologi. Alih bahasa lestari, R. et
al. safitri, A., Simarmata, L., Hardani, H. W. (eds). Erlangga, Jakarta.
Kurniati, M.Pd. Tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. UIN SGD. Banadung.
Lilis Suhaerah. 2006. Zoologi Vertebrata. Ardesigen. Bandung
Madison, Harold. 1958. Vertebrate Anatomy. The macmillan, New York.
Simarmata, L., Hardani, H. W. 2003. (eds). Erlangga, Jakarta.
Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles.
Academic Press. London, p : 357 358.

Anda mungkin juga menyukai