Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.
Satu-satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari manusia ke
manusia adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur dengan virus flu
manusia. Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia karena
kontak langsung, misalnya karena menyentuh unggas secara langsung, juga dapat terjadi
melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu, di kandangnya dan alat-alat peternakan
( termasuk melalui pakan ternak ). Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk
sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit dan pada saat jual
beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan yang
tepat pada klien dengan flu burung.
2. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari flu burung
2) Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi fisiologi organ respiratori
3) Mahasiswa mampu menyebutkan berbagai etiologi dari flu burung
4) Mahasiswa mampu menyebutkan berbagai manifestasi klinis dari flu burung
5) Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dari flu burung
7) Mahasiswa mampu menyebutkan komplikasi yang mungkin terjadi dari flu
burung
8) Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan pada kasus
flu burung
9) Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien penderita flu burung
10) Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa dari flu burung
11) Mahasiswa mampu membuat rencana tindakan pada pasien penderita flu
burung.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.Flu
burung (bahas Inggris: avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia (Rahmat Ilham, 2010).
B. Etiologi
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A. Virus influenza termasuk famili
Orthomyxoviridae. Virus influenza tipe A dapat berubah-ubah bentuk (Drift, Shift), dan dapat
menyebabkan epidemi dan pandemi. Virus influenza tipe A terdiri dari Hemaglutinin (H) dan
Neuramidase (N), kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode subtipe flu burung
yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya terdapat jenis H1N1, H2N2, H3N3, H5N1,
H9N2, H1N2, H7N7. Sedangkan pada binatang H1-H5 dan N1-N9.
Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A
H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220 C dan lebih
dari 30 hari pada 00 C. Virus akan mati padapemanasan 600 C selama 30 menit atau 560 C
selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang
mengandung iodine.
C. Manifestasi Klinis
1. Tanda dan Gejala pada unggas
Gejala pada unggas yang sakit cukup bervariasi, mulai dari gejala ringan (nyaris tanpa
gejala), sampai sangat berat. Hal ini tergantung dari keganasan virus, lingkungan, dan
keadaan unggas sendiri. Gejala yang timbul seperti jengger berwarna biru, kepala bengkak,
sekitar mata bengkak, demam, diare, dan tidak mau makan. Dapat terjadi gangguan
pernafasan berupa batuk dan bersin. Gejala awal dapat berupa gangguan reproduksi berupa
penurunan produksi telur. Gangguan sistem saraf dalam bentuk depresi. Pada beberapa
kasus, unggas mati tanpa gejala. Kematian dapat terjadi 24 jam setelah timbul gejala. Pada
kalkun, kematian dapat terjadi dalam 2 sampai 3 hari.
2. Tanda dan Gejala pada manusia
Gejala flu burung pada dasarnya adalah sama dengan flu biasa lainnya, hanya
cenderung lebih sering dan cepat menjadi parah. Masa inkubasi antara mulai tertular dan
timbul gejala adalah sekitar 3 hari; sementara itu masa infeksius pada manusia adalah 1 hari
sebelum, sampai 3-5 hari sesudah gejala timbul pada anak dapat sampai 21 hari.
Gejalanya suhu > 38oC, demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot dan
sendi, sampai infeksi selaput mata ( conjunctivitis ). Bila keadaan memburuk, dapat
terjadi severe respiratory distress yang ditandai dengan sesak nafas hebat, rendahnya kadar
oksigen darah serta meningkatnya kadar CO.

D. Patofisiologi
Flu burung bisa menular ke manusia bila terjadi kontak langsung dengan ayam atau
unggas yang terinfeksi flu burung. Virus flu burung hidup di saluran pencernaan unggas.
Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini melalui tinja, yang kemudian
mengering dan hancur menjadi semacam bubuk. Bubuk inilah yang dihirup oleh manusia
atau binatang lainnya. Menurut WHO, flu burung lebih mudah menular dari unggas ke
manusia dibanding dari manusia ke manusia. Belum ada bukti penyebaran dari manusia ke
manusia, dan juga belum terbukti penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi.
Satu-satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari manusia ke manusia
adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur dengan virus flu manusia.
Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia karena kontak
langsung, misalnya karena menyentuh unggas secara langsung, juga dapat terjadi melalui
kendaraan yang mengangkut binatang itu, di kandangnya dan alat-alat peternakan ( termasuk
melalui pakan ternak ). Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk sepatu para
peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit dan pada saat jual beli ayam
hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain. Secara umum, ada 3 kemungkinan mekanisme
penularan dari unggas ke manusia.Dalam hal penularan dari unggas ke manusia, perlu
ditegaskan bahwa penularan pada dasarnya berasal dari unggas sakit yang masih hidup dan
menular. Unggas yang telah dimasak, digoreng dan lain-lain, tidak menularkan flu burung ke
orang yang memakannya. Virus flu burung akan mati dengan pemanasan 80C selama 1
menit.
Kemampuan virus flu burung adalah membangkitkan hampir keseluruhan respon
"bunuh diri" dalam sistem imunitas tubuh manusia. Makin banyak virus itu tereplikasi, makin
banyak pula produksi sitokin-protein dalam tubuh yang memicu peningkatan respons
imunitas dan berperan penting dalam peradangan. Sitokin yang membanjiri aliran darah
karena virus yang bertambah banyak, justru melukai jaringan tubuh (efek bunuh diri). Flu
Burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu
burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh yang belum begitu
kuat.
Masa Inkubasi
- Pada Unggas : 1 minggu
- Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul
gejala. Pada anak sampai 21 hari .
Penularan
Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas ke manusia, melalui air
liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar
virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekret burung/unggas yang menderita flu burung.
Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika terjadi kontak langsung dengan
unggas yang terinfeksi flu burung. Contohnya: pekerja di peternakan ayam , pemotong ayam
dan penjamah produk unggas lainnya.
Penyebaran
Mekanisme penyerangan virus flu burung pada unggas dan ruminansia hampir sama.
Virus memiliki inti virus yang di dalamnya mengandung asam inti yang dapat memproduksi
protein. Dalam istilah ilmu penyakit, asam inti yang dimiliki oleh virus mempunyai variasi
jenis virus. Semakin banyak protein yang dihasilkan berarti semakin banyak pula variasi jenis
3

virusnya. Virus pertama kali akan menyerang selaput lendir dengan menempel menggunakan
rambut-rambut tajam yang terdapat pada dinding luar (envelope).Pada saat menempel, virus
merusak dinding pelindung selaput lendir dan memasukkan asam inti virus. Asam inti virus
yang dimasukkan ini akan merubah susunan protein yang dibentuk selaput lendir sehingga
terjadi perubahan struktur protein. Protein selaput lendir yang telah terkontaminasi inilah
yang kemudian disebarkan keseluruh jaringan dan organ melalui darah. Bersamaan dengan
dimulainya peredaran protein ke seluruh tubuh maka saat itu juga virus mulai menyebar.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Setiap pasien yang datang dengan gejala klinis seperti di atas dianjurkan untuk
sesegera mungkin dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan darah rutin (Hb,
Leukosit, Trombosit, Hitung Jenis Leukosit), spesimen serum, aspirasi nasofaringeal.
Diagnosis flu burung dibuktikan dengan :
Uji RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) untuk H5.
Biakan dan identifikasi virus Influenza A subtipe H5N1.
Uji Serologi :
1. Peningkatan >4 kali lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen konvalesen
dibandingkan dengan spesimen akut ( diambil <7 hari setelah awitan gejala penyakit), dan
titer antibodi netralisasi konvalesen harus pula >1/80.
2. Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 >1/80 pada spesimen serum yang diambil pada hari
ke >14 setelah awitan (onset penyakit) disertai hasil positif uji serologi lain, misalnya titer HI
sel darah merah kuda >1/160 atau western blot spesifik H5 positif.
3. Uji penapisan
Rapid test untuk mendeteksi Influensa A.
ELISA untuk mendeteksi H5N1.
2.

Pemeriksaan Hematologi

Hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit, limfosit total. Umumnya


ditemukan leukopeni, limfositopeni dan trombositopeni.
3. Pemeriksaan Kimia darah
Albumin, Globulin, SGOT, SGPT, Ureum, Kreatinin, Kreatin Kinase, Analisis Gas
Darah. Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT dan SGPT, peningkatan
ureum dan kreatinin, peningkatan Kreatin Kinase, Analisis Gas Darah dapat normal atau
abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan penyakit dan komplikasi yang
ditemukan.
4. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan foto toraks PA dan Lateral harus dilakukan pada setiap tersangka flu
burung. Gambaran infiltrat di paru menunjukkan bahwa kasus ini adalah pneumonia.
Pemeriksaan lain yang dianjurkan adalah pemeriksaan CT Scan untuk kasus dengan gejala
klinik flu burung tetapi hasil foto toraks normal sebagai langkah diagnostik dini.
4

5. Pemeriksaan Post Mortem


Pada pasien yang meninggal sebelum diagnosis flu burung tertegakkan, dianjurkan
untuk mengambil sediaan postmortem dengan jalan biopsi pada mayat (necropsi), specimen
dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi dan PCR.
F. Komplikasi
1. Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau
selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai
organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam darah dan
berpindah ke dalam cairan otak.
2. Encephalitis ( bulbar )
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari
encephalitis, kebanyakan disebabkan oleh infeksi-infeksi. Paling sering infeksi-infeksi ini
disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang
menyebabkan peradangan dari otak.
3. Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
Myocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium, pada umumnya
disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap
obat-obatan dan efek toxin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1999).
Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius dapat melalui tiga mekanisme dasar,
yaitu:
a. Invasi langsung ke miokard.
b. Proses immunologis terhadap miokard.
c. Mengeluarkan toksin yang merusak miokardium.
4. Paralisis akut flaksid
5. Pneumonia ( peradangan paru )
Penyakit pada paru-paru dengan kondisi pulmonary alveolus (alveoli) yang
bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer meradang dan terisi oleh cairan. Radang
paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh
bakteria, virus, jamur, ataupasilan (parasite). Radang paru-paru dapat juga disebabkan oleh
kepedihan zat-zat kimia atau cedera jasmani pada paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit
lainnya, seperti kanker paru-paru atau berlebihan minum alkohol.
6. Kematian
Terjadi jika mengalami gagal nafas akut

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara, keluhan utama,
pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Identitas /biodata klien
Meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, asal suku bangsa, nama orangtua,
pekerjaan orangtua, dan penghasilan.
2. Keluhan utama
Panas tinggi > 38c lebih dari 3 hari, pilek, batuk, sesak napas, sakit kepala, nyeri
otot, sakit tenggorokan
3. Riwayat penyakit sekarang
a.
b.
c.
d.

Suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang,/tidak ada.


Infeksi paru
Batuk dan pilek
Infeksi selaput mata

4. Pemeriksaan Fisik
a. Kulit : Tidak terjadi infeksi pada sistem integumen
b. Mata : orang yang terkena flu burung sklera merah, adanya nyeri tekan, infeksi
selaput mata.
c. Mulut dan Lidah : Lidah kotor, mulutnya kurang bersih, mukosa bibir kering.
d. Pemeriksaaan penunjang :
pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosa yang tepat,
sehingga dapat memberikan terapi yang tepat pula, pemeriksaan yang perlu dilakukan
pada orang yang mengalami flu burung, yaitu pemeriksaan laboratorium dilakukan
dengan pemeriksaaan darah.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan Bersihan jalan napas, b.d peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan,
tebal, sekresi kental akibat influenza.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan
napas oleh sekresi).
3. Ketidakseimbanngan nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea dan
anorexia
C. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan Bersihan jalan napas, b.d peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan,
tebal, sekresi kental akibat influenza.
Tujuan : Setelah diberikan intervensi selama 1x24 jam jalan napas kemabli efektif
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas bersih atau jelas
6

b. Mengeluarkan atau membersihkan secret


Intervensi:
a. Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi napas, misal mengi, krekels, ronki
Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan
dapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi napas adventisius, misal penyebaran, krekels basah
(bronkitis); bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); atau tak adanya bunyi
napas (asma berat).
b. Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Catat rasio inspirasi/ekspirasi.
Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut. Pernapasan dapat melambat dan
frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
c. Catat adanya/derajat dispnea, mis., keluhan lapar udara, gelisah, ansietas, distres
pernapasan, penggunaan otot bantu.
Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis
selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit, mis., infeksi, reaksi alergi.
d. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, mis., peninggian kepala tempat tidur, duduk pada
sandaran tempat tidur
Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan
menggunakan gravitasi. Namun, pasien dengan distres berat akan mencari posisi yang paling
mudah untuk bernapas. Sokongan tangan/kaki dengan meja, bantal, dan lain-lain membantu
menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
e. Pertahankan polusi lingkungan minimum, mis., debu, asap, dan bulu bantal yang
berhubungan dengan kondisi individu.
Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.
f. Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir.
Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan
menurunkan jebakan udara.

2.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan
napas oleh sekresi).
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 1x24 jam pertukaran gas kembali normal
Kriteria hasil :
a. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam
rentang
normal (PCO2 : 35-45 mmHG, PO2 : 80-100 mmHG) dan tak ada gejala
distres
pernapasan
b. Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi

Intervensi:
a. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas bibir,
ketidakmampuan bicara/berbincang.
Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan/atau kronisnya proses
penyakit.
b.Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas.
Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai kebutuhan/toleransi individu.
Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan napas
untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja napas.
c. Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar
bibir/atau daun telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya
hipoksemia.
d. Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.
Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran
gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.
e. Palpasi fremitus
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.
f. Awasi tingkat kesadaran/status mental. Selidiki adanya perubahan.
Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia. GDA memburuk
disertai bingung/somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang berhubungan dengan
hipoksemia.
g. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan kalem. Batasi aktivitas
pasien atau dorong untuk tidur/istirahat di kursi selama fase akut. Mungkinkan pasien
melakukan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan sesuai toleransi individu.
Rasional : Selama distres pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara total tak mampu
melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea. Istirahat diselingi aktivitas
perawatan masih penting dari program pengobatan. Namun, program latihan ditujukan untuk
meningkatkan ketahanan dan kekuatan tanpa menyebabkan dispnea berat, dan dapat
meningkatkan rasa sehat.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea dan anorexia
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Menunjukkan peningkatan napsu makan
b. Mempertahankan/meningkatkan berat badan
Intervensi:
a. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasi berat
badan dan ukuran tubuh.
Rasional : Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum,
dan obat.
b. Auskultasi bunyi usus
Rasional : Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan
konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan,
pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.
c. Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan
tisu.
Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap napsu makan
dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas.
d. Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan. Berikan makan porsi
kecil tapi sering.
Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan
kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.
e. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas abdomen dan
gerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.
f. Hindari makanan yang sangat pedas atau sangat dingin.
Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.
g. Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan, dan
evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan: Penurunan berat badan dapat berlanjut,
meskip un masukan adekuat sesuai teratasinya edema.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. KASUS
An. S (10 tahun) laki-laki masuk rumah sakit dihantar oleh Ayahnya dengan keluhan sulit
bernapas. Ayah Klien mengatakan anaknya sudah sekitar tiga minggu mengalami pilek dan
batuk. Ayah klien mengatakan An.S selalu mengeluh sakit kepala Klien mengalami kesulitan
saat nafas sejak 1 hari yang lalu karena penumpukan sekret di saluran pernapasan, klien
terkadang batuk dengan mengeluarkan sedikit sekret berwarna kuning dengan konsitensi
kental. Klien mengatakan badannya panas sejak sehari yang lalu. Ayah klien mengatakan
An.S gemar memelihara burung, sekitar sebulan yang lalu burung peliharaannya mati karna
lemas dan tidak mau makan,kepala bengkak, sekitar mata bengkak.
Dari pemeriksaan fisik ada An.S didapatkan adanya sputum di saluran pernapasan,
kemerahan pada konjungtiva, keadaan umum composmentis. TTV (TD 120/80 mmHg, suhu
38,5oC, nadi 90x/menit, RR 32x/menit-irregular). BB anak saat ini 23 kg.
B. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Identitas klien/pasien
Nama
Usia
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan/pendidikan
Status Pernikahaan
Alamat
Diagnosa Medis
Tanggal masuk RS
Tanggal pengkajian
Penanggung Jawab
Nama
Usia
Agama
Pekerjaan
Status Pernikahaan
Alamat
Hubungan Dengan klien

: An.S
: 10 Tahun
: laki-laki
: Islam
: Belum bekerja/SD
: Belum Menikah
: Paminggir
: Avian Influenza ( flu burung )
: 14 september 2015
jam : 09.00 wita
: 15 september 2015
jam : 10.05 wita
: Tn.Q
: 36 Tahun
: Islam
: Peternak/SWASTA
: Menikah
: Paminggir
: Ayah

2. Keluhan utama
Klien mengatakan sulit bernapas, demam dan nyeri pada otot dan sendi
P : Klien merasa nyeri pada bagian otot dan sendi di tangan dan kaki klien, Keadaan ini akan
lebih berat jika klien terlalu banyak melakukan aktivitas, usaha yang dilakukan klien yaitu
istirahat
Q : klien mengatakan nyeri seperti tertusuk jarum
R : nyeri pada bagian otot dan sendi di tangan dan kaki, dan tidak menyebar
S : Skala nyeri 3 (berat)
-0
: tidak ada nyeri
-1
: nyeri ringan
-2
: nyeri sedang
10

-3
: nyeri berat
-4
: sangat nyeri
T : nyeri dirasakan klien jika klien menggerakkan tangan/kakinya
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Ayah Klien mengatakan anaknya sudah sekitar tiga minggu mengalami gejala flu, pilek,
batuk, demam dan mengeluh sakit kepala. Klien juga mengatakan mengalami nyeri pada otot
dan sendi.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya tidak pernah sakit seperti ini dan klien tidak pernah masuk rumah sakit.
c.

Riwayat Penyakit Keluarga


Ayah klien mengatakan bahwa di keluarganya tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang
sama seperti klien dan tidak ada memiliki riwayat penyakit keturunan seperti hipertensi,
DM,penyakit jantung, dan asma.
GENOGRAM

keterangan :
= laki-laki
= klien
= perempuan
= meninggal
= kawin
= serumah
11

4.Aktivitas sehari-hari
a. Makan dan minum
Dirumah

: Klien mengatakan makan 3 x/hari dengan menu nasi dan lauk


pauk. Klien minum sekitar 7 8 gelas perhari berupa air putih,

Di RS

the dan susu.


: Klien mengatakan makan 2x/hari dengan menu nasi dan lauk
pauk. Klien minum sekitar 5-6 gelas sehari berupa air putih

b. Eleminasi
1. BAB
Dirumah

: klien mengatakan klien BAB 1-2x sehari, warna kuning, dan

Di RS

berbau khas serta tidak ada keluhan


: Pada saat pengkajian klien BAB 1 - 2 kali / hari dengan
konsistensi lunak dan berwarna kuning

2. BAK
Dirumah

: klien mengatakan klien BAK 5 6 x sehari warna kuning dan


berbau khas. BAK klien tergantung berapa banyak cairan yang

Di RS

dikonsumsi
: klien mengatakan klien BAK 4-5x/hari warna kuning dan
berbau khas.

c. Istirahat dan tidur


Dirumah

: klien mengatakan klien istirahat siang 1- 2 jam sehari dan tidur

Di RS

malam + 7 - 8 jam
: Klien terbaring di tempat tidur saja dan sering terlihat tidur +
11 jam/hari

d. Aktivitas
Dirumah

: Klien biasa pergi sekolah dan bermain bersama teman-

Di RS

temannya
: Klien hanya berbaring di tempat tidur dan sesekali duduk untuk
makan dan minum

e. Kebersihan diri
Dirumah

: Klien mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari dan keramas, serta


potong kuku kalau panjang
12

Di RS

: Pada saat pengkajian klien diseka 1 x/hari oleh perawat


ruangan, sikat gigi belum ada.

f. Rekreasi
Dirumah

: Klien biasanya nonton TV, bermain dengan teman sebaya dan

Di RS

berkumpul bersama keluarga.


: Klien hanya berbaring ditempat tidur, tidak dapat melakukan
aktifitas apa

5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum
Kesadaran klien
: Compos Metis,
keadaan umum
: lemah.
GCS
: E4 V5 M6
TD
: 120/80 mmHg
Nadi : 90x/menit
RR
: 32x/
S
: 38,0C
b. Kepala
Bentuk kepala simetris, tidak ada tonjolan dan oedema,tidak ada nyeri tekan, kulit normal
tidak ada pendarahaan, lesi, dan lembab, tidak kotor, kulit berwarna sawo matang. Muka
normal tidak ada pendarahaan, lesi, dan lembab. Sclera putih, konjungtiva kemerahan ,reflek
pupil isokhor, palpebra tidak ada lesi dan oedema, lensa normal tidak keruh. Bentuk hidung
normal tidak ada septum deviasi dan polipnasi, terdapat secret berwarna kuning dan
konsistensi kental. Pada mulut, bibir klien agak kering dan pucat, gigi klien putih bersih,
terdapat caries di bagian gigi belakang sebelah kiri. Klien tidak menggunakan gigi palsu.
Telinga klien simetris terlihat bersih dan terdapat secret yang lembab berwarna kuning.
c.

Leher
Leher klien terlihat normal, tidak ada pembesaran tyroid, tidak terdapat kaku kuduk dan lesi
pada leher. Tidak ada pembesaran tonsil dan klien mengatakan merasa nyeri saat menelan.
d. Dada
Bentuk dada klien simetris, tidak terjadi barrel chest, funnel chest maupun pigeon chest. Pada
dada tidak ada lesi, oedema.
Inspeksi : Pengembangan paru kiri dan kanan simetris dan dada klien terlihat ada
Retraksi/otot bantu napas.
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan.
Perkusi
: Pada lapang paru terdapat bunyi sonor
Auskultasi : Pada lapang paru terdengar bunyi suara napas vesikuler
e. Abdomen
13

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
f.

: abdomen klien tidak terdapat pembesaran, tidak ada lesi, warna kulit
abdomen sawo matang dan terlihat bersih.
: peristaltik usus 20x/menit.
: klien tidak mengalami nyeri tekan,abdomen klien tidak mengalami asites,
tidak terdapat hepatomegali, splenomegali, maupun tumor. Hasil perkusi
pada abdomen terdengar bunyi timpani.

Genetalia
Genetalia klien terlihat normal, tidak terdapat hipospadia ataupun epispadia, tidak terjadi
hernia, tidak terdapat oedema dan tumor pada genatalia.

h. Ekstremitas
Kekuatan otot ektermitas atas kanan dan kiri sangat baik, bisa digerakan aktif. Kekuatan otot
ektermitas bawah kanan dan kiri baik dan mengalami nyeri pegal-pegal.
6. Psiko sosio budaya dan spirirual
- Psikologis
Klien mengatakan sama sekali tidak mengetahui tentang penyakit yang dialami saat ini. Klien
khawatir penyakitnya akan semakin parah. Klien mendapat sumber koping dari keluaga dan
teman-temannya. Klien mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga dan selalu berdoa
untuk kesembuhannya..
- Sosial
Ayah klien mengatakan hubungan klien dengan masyarakat tempat dia tinggal sangat baik.
Komunikasi keluarga dan tetangga terjalin baik. Klien juga mengatakan tidak ada kebiasaan
lingkungan yang tidak disukai.
- Budaya
Klien mengatakan mengikuti budaya banjar, klien juga mengatakan tidak ada kebiasaan yang
dianutnya merugikan kesehatan.
- Spiritual
Klien mengatakan sebelum sakit rutin beribadah dan setelah sakit ia tidak melakukan ibadah
karna sering mengeluh.

14

7. Pemeriksaan Penunjang
INDIKATOR
RENTANG NORMAL
Hemoglobin
14 18 gr%
Hematokrit
40 48%
Leukosit
4700 10300 /l
Trombosit
150.000 450.000
Erytrosit
4 5,5 jt /l
Urea
15 45 mg/dl
Creatinin
0,6 1,3 mg/dl
SGOT
10 50 /l
SGPT
10 50 /l
Albumin
3,5 5,2 g/dl
8. Terapi Medis
Klien mendapatkan cairan IV tipe RL 20tpm,
Ceftriaxone 2x1gr,
Ranitidin 2x 10gr,
Flexatide atrovent 3x1
Paracetamol 3x1 tab.

15

HASIL
13,5 gr/dL
40,1 %
17.250 mg/dl
366.000 mg/dl
5.380.000 mg/dL
43 mg/dl
5,1 mg/dl
53,1 /l
55 /l
2 g.dl

INTEPRETASI
kurang
Normal
Tinggi
Nornal
Normal
Normal
Tinggi
Normal
Tinggi
Rendah

C. ANALISA DATA
Nama Klien : An. S
No. Register
: 294884
Umur
: 10 Tahun
Diagnosa Medis : Avian Influenza
Ruang Rawat : Bangsal Teratai No.12
Alamat
: Paminggir
TGL/JA
DATA FOKUS
ETIOLOGI
PROBLEM
M
29/03/12
DS:-Klien mengalami kesulitan saat nafas Sekresi yang
Ketidakefektifan
sejak 1 hari yang lalu karena penumpukan tertahan
bersihan jalan napas
sputum di saluran pernapasan, klien
terkadang batuk dengan mengeluarkan
sedikit sekret berwarna kuning dengan
konsistensi kental.
DO:-Dari pemeriksaan fisik didapatkan
adanya sekret di saluran pernapasan.
-Bibir klien terlihat agak kering dan pucat
-Pada dada klien terlihat ada retraksi/otot
bantu napas.
-TTV (TD :120/80mmHg, suhu 38,0oC,
nadi 90x/menit, RR 32x/menit-irregular).
29/03/13 D DS:-Klien mengatakan mengalami nyeri Agen cedera
pada otot dan sendi. Klien mengatakan biologis
nyeri akan semakin terasa apabila
kaki/tangannya digerakan atau dipegang.
P : Klien merasa nyeri pada bagian otot dan
sendi di tangan dan kaki klien, Keadaan ini
akan lebih berat jika klien terlalu banyak
melakukan aktivitas, usaha yang dilakukan
klien yaitu istirahat
Q : klien mengatakan nyeri seperti tertusuk
jarum
R : nyeri pada bagian otot dan sendi di
tangan dan kaki, dan tidak menyebar
S : Skala nyeri 3 (berat)
-0
: tidak ada nyeri
-1
: nyeri ringan
-2
: nyeri sedang
-3
: nyeri berat
-4
: sangat nyeri
T : nyeri dirasakan klien jika klien
menggerakkan tangan/kakinya
DO:- Klien terlihat meringis
-

Klien tampak lemas

16

Nyeri akut

29/03/13

DS:-Ayah Klien mengatakan badannya Proses infeksi


teraba panas.
penyakit
DO:-T : 38,0
-klien tampak gelisah, terkadang
tampak meringis

Hipertermia

D. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d sekresi yang tertahan
2. Nyeri akut b.d agen cedera biologis
3. Hipertermia b.d proses infeksi penyakit

E. INTERVENSI
No
1

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakefektif
an bersihan
jalan napas b.d
sekresi yang
tertahan

Tujuan & Keperawatan

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
pada An.S selama 2x24
jam diharapkan klien
dapat bernapas tanpa
hambatan dengan KH:
-Saluran napas
bersih,tidak ada sputum
yang berlebihan
-Tidak terdapat retraksi
dada
-TTV dalam rentang
normal :
Nadi : 80-100x/mnt
-R R: 16-24x/mnt
TD:120/60-140/90mmHg
Suhu: 36,5-37,5

Nyeri akut b.d Setelah dilakukan


agen
cedera tindakan keperawatan
biologis
pada An.S selama 3x24

Intervensi
1.Auskultasi bunyi
napas(catat adanya bunyi
napas, misal mengi,
krekels, ronki)
2.Monitor TTV
3.Kaji tanda-tanda sianosis
4.Berikan posisi yang
nyaman bagi pasien

Rasionalisasi
1.Menunjukkan
kelainan pada
saluran pernapasan

Nama/
TTD
Mudi
Wara

2.Mengetahui tanda
kekurangan asupan
O2
3.Mengidetifikasi
tanda-tannda
abnormal
4.Meningkatkan
kenyamanan pasien

5.Ajarkan klien teknik batuk 5.Mengeluarkan


sputum yang
efektif
tertahan
6.Meningkatkan
6.Kolaborasikan pemberian
suplai O2
terapi oksigen bila
memungkinkan
7.Kolaborasikan pemberian 7.Mempercepat
penyembuhan
terapi obat mukolitik
1.Kaji riwayat,karakteristik
lokasi dan skala nyeri
17

1.Mengetahui
tingkat nyeri agar
perawatan berjalan

Mudi
wara

jam diharapkan nyeri


pasien dapat hilang /
berkurang dengan KH:
-Nyeri hilang / berkurang
-skala nyeri 0-1

Hipertermia
b.d Proses
infeksi
penyakit

efektif
2.Anjurkan tekhnik distraksi 2.Dapat mengurangi
dan relaksasi
nyeri
3.Berikan posisi yang
3.Mengurangi nyeri
nyaman
dan memenuhi rasa
nyaman
4 .Ciptakan lingkungan yang 4.Menurunkan
tenang
reaksi stimulus dari
luar
5.Kolaborasi dalam
5.Mengurangi nyeri
pemberian obat analgetik

- Dalam perawatan 3x24 1.Ukur suhu tubuh secara 1.Untuk


jam diharapkan suhu berkala
memudahkan
tubuh berada pada batas
intervensi
normal dengan KH:
selanjutnya
-Klien tampak baik
2.Berikan compress hangat 2.Merangsang
-Suhu tubuh 36,5-37oc
pada daerah frontal
hipotalamus untuk
-Tubuh tidak teraba panas
mengatur panas
3.Anjurkan orang tua klien
untuk member klien banyak
minum
4. Anjurkan orang tua klien
untuk memakaikan klien
pakaian yang tipis
5.Kolaborasi dalam
pemberian obat antipiretik

18

3.Mempercepat
penurunan panas
4.Proses hilangnya
panas akan
terhalangi dengan
pakaian tebal
5.Menurunkan/
menghilangkan
panas

Mudi
wara

F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Diagnosa
Tgl
Jam/
Implementasi
Keperawatan
WIB
Ketidakefektifan
29/03/13 08.15 1. Melakukan Auskultasi
bersihan jalan
bunyi napas(catat adanya
napas b.d sekresi
bunyi napas, misal mengi,
yang tertahan
krekels, ronki)
08.20 2.Memonitor TTV
08.25 3.Mengkaji tanda-tanda
sianosis
08.30 4.Memberikan posisi yang
nyaman bagi pasien
08.35 5.Mengajarkan klien teknik
batuk efektif
08.40 6.Berkolaborasikan pemberian
terapi oksigen bila
memungkinkan
08:45 7.Berkolaborasikan pemberian
terapi obat mukolitik
Nyeri akut b.d agen 29/03/13 08.50 1.Mengkaji
cedera biologis
riwayat,karakteristik lokasi
dan skala nyeri
08.55
09.00

2.Menganjurkan tekhnik
distraksi dan relaksasi
3.Memberikan posisi yang
nyaman

09.05

4 .Menciptakan lingkungan
yang tenang

09.10

5.Berkolaborasi dalam
pemberian obat analgetik
Asam mefenamat 500mg tab

Hipertermia
b.d 29/03/13 09.15
Proses
infeksi
penyakit
09.20

1.Mengukur suhu tubuh


secara berkala
2.Memberikan
19

Evaluasi
Tgl. 29/03/13
WIB

Jam:14.00

Nama
/TTD
Mudi
wara

S:
Klien mengatakan sesak dan
belum bisa bernapas dengan
lega.
O:
-Terlihat retraksi pada dada
klien
-Keluar sekret berwarna
kuning kental
-Terdapat sekret pada saluran
pernapasan
-TD:
120/80
mmHg,N:
100x/mnt,
RR:32x/mnt,
S: 38C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Tgl. 29/03/13 jam: 14.00
WIB

Mudi
wara

S:
Klien mengatakan nyeri pada
beberapa bagian tubuhnya
O:
-Klien terlihat meringis
-TD: 120/80 mmHg,
N: 100x/mnt,
RR:32x/mnt,
S: 38C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan

Tgl. 29/03/13 Jam:14.00 mudi


WIB
wara
S:
compress -ayah klien mengatakan

hangat pada daerah frontal


09.25
09.30

09.35

3.Menganjurkan orang tua


klien untuk member klien
banyak minum
4.Menganjurkan orang tua
klien untuk memakaikan klien
pakaian yang tipis

panas anaknya sebelumnya


mulai turun namun naik
kembali
O:
-suhu tubuh : 38,0
-klien tampak gelisah
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan

5.Berkolaborasi dalam
pemberian terapi:
Inj.Paracetamol 200 mg/8 jam

HARI KE 2
Nama Klien : An. S
No. Register
: 294884
Umur
: 10 Tahun
Diagnosa Medis : Avian Influenza
Ruang Rawat : Bangsal Teratai No.12
Alamat
: Paminggir
Diagnosa
Tgl
Jam/
Implementasi
Evaluasi
Keperawatan
WIB
Ketidakefektifan
30/03/13 09.45 1.Melakukan auskultasi bunyi Tgl. 30/03/13 Jam:14.00
bersihan
jalan
napas(catat adanya bunyi
WIB
napas b.d sekresi
napas, misal mengi, krekels,
S:
yang tertahan
ronki)
Klien mengatakan sesak dan
09.50 2.Memonitor TTV
belum bisa bernapas dengan
lega.
O:
09.55 3.Mengkaji tanda-tanda
-Terlihat retraksi pada dada
sianosis
klien
-Keluar sekret berwarna
10.00 4.Memberikan posisi yang
kuning kental
nyaman bagi pasien
-Terdapat sekret pada saluran
pernapasan
10.05 5.Mengajarkan klien teknik
-TD: 110/80 mmHg,
batuk efektif
N: 104x/mnt,
RR:28x/mnt,
10.10 6.Memberikan terapi obat
S: 37,8C
sesuai advice :
-Flexatide atrovent 3x1
A:
-Ceftriaxone 500mg IV
Masalah belum teratasi
-Ranitidin 2x 10gr
P:
-Paracetamol 200mg IV
Intervensi dilanjutkan

Nyeri akut b.d agen 30/03/13 10.15 1.Mengkaji


cedera biologis
riwayat,karakteristik lokasi
dan skala nyeri

20

Tgl. 30/03/13 Jam:14.00


WIB
S:
Klien mengatakan nyeri pada
beberapa bagian tubuhnya

Nama
/TTD
Mudi
wara

Mudi
wara

10.20
10.25

2.Menganjurkan tekhnik
distraksi dan relaksasi
3.Memberikan posisi yang
nyaman

10.30

4 .Menciptakan lingkungan
yang tenang

10.35

5.Berkolaborasi dalam
pemberian obat analgetik
Asam mefenamat 500mg tab

Hipertermia
b.d 30/03/13
.
Proses
infeksi
10.45 1.Mengukur suhu tubuh
penyakit
secara berkala
10.50

10.55
11.00

11.05

O:
-Klien terlihat meringis
-TD: 110/80 mmHg,
N: 104x/mnt,
RR:28x/mnt,
S: 37,8C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Tgl. 30/03/13
WIB

Jam:14.00 Mudi
wara

S:
2.Memberikan compress -ayah klien mengatakan
hangat pada daerah frontal
panas anaknya naik kembali
O:
-suhu tubuh : 37,8
3.Menganjurkan orang tua -klien tampak gelisah
klien untuk member klien A :
banyak minum
Masalah belum teratasi
4.Menganjurkan orang tua P :
klien untuk memakaikan klien Intervensi dilanjutkan
pakaian yang tipis
5.Berkolaborasi dalam
pemberian terapi:
Inj.Paracetamol 200 mg/8 jam

21

HARI KE 3
Diagnosa
Tgl
Keperawatan
Ketidakefektifan
01/04/13
bersihan jalan napas
b.d sekresi yang
tertahan

Jam/
WIB
08.15
08.20

1. Melakukan Auskultasi bunyi


napas(catat adanya bunyi napas,
misal mengi, krekels, ronki)
2.Memonitor TTV

08.25

3.Mengkaji tanda-tanda sianosis

08.30

4.Memberikan posisi yang


nyaman bagi pasien

08.35

5.Mengajarkan klien teknik


batuk efektif

08.40

6.Berkolaborasikan pemberian
terapi oksigen bila
memungkinkan
7.Berkolaborasikan pemberian
terapi obat mukolitik

08:45

Nyeri akut b.d agen


cedera biologis

01/04/13

08.50

08.55
09.00

Hipertermia
Proses
penyakit

b.d 01/04/13
infeksi

Implementasi

1.Mengkaji riwayat,karakteristik
lokasi dan skala nyeri
2.Menganjurkan tekhnik
distraksi dan relaksasi
3.Memberikan posisi yang
nyaman

09.05

4 .Menciptakan lingkungan
yang tenang

09.10

5.Berkolaborasi dalam
pemberian obat analgetik
Asam mefenamat 500mg tab

09.15

1.Mengukur suhu tubuh secara


berkala

09.20

Evaluasi
Tgl. 01/04/13 Jam:14.00 WIB
S:
Klien mengatakan sesak dan
belum bisa bernapas dengan
lega.
O:
-Terlihat retraksi pada dada
klien
-Keluar sekret berwarna kuning
kental
-Terdapat sekret pada saluran
pernapasan
-TD:
120/80
mmHg,N:
100x/mnt,
RR:30x/mnt,
S: 38C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Tgl. 01/04/13 jam: 14.00 WIB
S:
Klien mengatakan nyeri pada
beberapa bagian tubuhnya
O:
-Klien terlihat meringis
-TD:
120/80
mmHg,N:
100x/mnt,
RR:30x/mnt,
S: 38C
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan

Tgl. 01/04/13 Jam:14.00 WIB


S:
-ayah klien mengatakan panas
2.Memberikan compress hangat anaknya sebelumnya mulai
pada daerah frontal
turun namun naik kembali
O:
22

09.25
09.30

09.35

3.Menganjurkan orang tua klien


untuk member klien banyak
minum
4.Menganjurkan orang tua klien
untuk memakaikan klien pakaian
yang tipis
5.Berkolaborasi dalam
pemberian terapi:
Inj.Paracetamol 200 mg/8 jam

23

-suhu tubuh : 38,0


-klien tampak gelisah
A:
Masalah belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Flu burung
bisa menular ke manusia bila terjadi kontak langsung dengan ayam atau unggas yang
terinfeksi flu burung.
Satu-satunya cara virus flu burung dapat menyebar dengan mudah dari manusia ke
manusia adalah jika virus flu burung tersebut bermutasi dan bercampur dengan virus flu
manusia. Virus ditularkan melalui saliva dan feses unggas. Penularan pada manusia karena
kontak langsung, misalnya karena menyentuh unggas secara langsung, juga dapat terjadi
melalui kendaraan yang mengangkut binatang itu, di kandangnya dan alat-alat peternakan
( termasuk melalui pakan ternak ). Penularan dapat juga terjadi melalui pakaian, termasuk
sepatu para peternak yang langsung menangani kasus unggas yang sakit dan pada saat jual
beli ayam hidup di pasar serta berbagai mekanisme lain.
B. Saran
Kita sebagai perawat hendaknya memberikan penyuluhan dan informasi yang adekuat
kepada masyarakat mengenai penyakit flu burung, sehingga masyarakat memiliki
pengetahuan yang cukup tenntang tanda-tanda yang akan muncuul ketika seseorang terinfeksi
virus H5N1 dan segera membawa ke rumah sakit dan diihrapkan petugas kesehatan dapat
memberikan pelayanan dan pengobatan dengan baik agar ttidak terjadi iinfeksi yang lebih
berat.Selain itu sebagai tenaga kesehatan sebaiknya berusaha semaksimall mungkin untuk
melakukan pencegahan terjadiinya penyebaran virus H5N1, dengan meminimalkan faktor
penyebab dengan kolaborasi tenaga kesehatan lain dan pemerintah serta kerjasama dengan
masyarakat

24

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes,M.E.2008.Rencana Asuhan Keperawatan,Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perwatan pasien.Jakarta: EGC
Muttaqin,Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika
Padila.2012.Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah.Yogyakarta: Nuha Medika
Hidayat,A.A.Aziz.2006.Pengantar kebutuhan Dasar Manusia :Aplikasi konsep & Proses
Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika
Nanda Internasional.2010.Diagnosa Keperawatan:Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.Jakarta:EGC
Kusuma,Hardi & Amin Huda NUrarit.2012.Aplikasi asuhan Keperawatan berdasarjan
NANDA.Yogyakarta:Media Hardy
Wilkinson,Judith M.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil NOC,Ed.7.alih bahasa Widyawati.Jakkarta:EGC
Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius

25