Anda di halaman 1dari 21

Fungsi Lumpur Pemboran

1 . Mengontrol tekanan formasi.


2 . Membantu stabilitas formasi.
3 . Melindungi formasi produktif.
4 . Membersihkan dasar lubang bor.
5 . Mengangkat cutting dari lubang bor dan mengendapkannya ketika dipermukaan.
6 . Mendinginkan dan melumasi pahat.
7 . Sebagai media logging.
8 . Membantu menahan beban rangkaian drillsting.
9 . Meningkatkan ROB dan WOB pada drillbit.
10. Memberikan mud cake pada dinding bor sebagai bantalan drillstring.
11. Menahan cutting agar tidak mengendap kedasar lubang bor ketika sirkulasi berhenti.
12. Memberikan informasi ( mud log, sampel log ).

LUMPUR PEMBORAN

Lumpur pemboran dapat didefinisikan sebagai semua jenis fluida (cairan-cairan


berbusa, gas bertekanan) yang dipergunakan untuk membantu operasi pemboran dengan
membersihkan dasar lubang dari serpih bor dan mengangkatnya kepermukaan, dengan
demikian pemboran dapat berjalan dengan lancar. Lumpur pemboran yang digunakan
sekarang pada mulanya berasal dari pengembangan penggunaan air untuk mengangkat serbuk
bor. Kemudian dengan berkembangnya teknologi pemboran, lumpur pemboran mulai
digunakan. Selain lumpur pemboran, digunakan pula gas atau udara sebagai fluida pemboran.

2.1

Fungsi Lumpur Pemboran


Pada awal penggunaan pemboran berputar, fungsi utama fluida pemboran hanyalah

mengangkat serpih dari dasar sumur ke permukaan. Tetapi saat ini fungsi utama lumpur
pemboran adalah:
1.

Pengangkatan Serpih Bor (Cutting Removal)


Lumpur yang disirkulasi membawa serpih bor menuju permukaan dengan adanya pengaruh
gravitasi serpih cenderung jatuh, tetapi dapat diatasi oleh daya sirkulasi dan kekentalan

lumpur. Dalam melakukan pemboran serbuk bor (cutting) dihasilkan dari pengikisan formasi
oleh pahat, harus dikeluarkan dari dalam lubang bor. Hal ini berdasarkan atas keberhasilan
atau tidaknya lumpur untuk mengangkat serbuk bor. Apabila serbuk bor tidak dapat
dikeluarkan maka akan terjadi penumpukan serbuk bor didasar lubang, jika hal ini terjadi
maka akan terjadi masalah seperti terjepitnya pipa oleh serbuk bor.
Serbuk bor dapat diangkat jika lumpur mempunyai kemampuan untuk mengangkatnya.
Kemampuan serbuk bor untuk terangkat hingga kepermukaan tergantung yield point lumpur
itu sendiri. Jika lumpur sudah memiliki yield point yang memadai maka dengan melakukan
sirkulasi serbuk bor dapat terangkat keluar bersamasama dengan lumpur untuk dibuang
melalui alat pengontrol solid (Solid Control Equipment) berupa shale shaker, desander, mud
cleaner, dan centrifuge.
2

Mendinginkan dan Melumasi Pahat

Panas yang cukup besar terjadi karena gesekan pahat dengan formasi maka panas itu harus
dikurangi dengan mengalirkan lumpur sebagai pengantar panas kepermukaan. Semakin besar
ukuran pahat, semakin besar juga aliran yang dibutuhkan. Kemampuan melumasi dan
mendinginkan pahat dapat ditingkatkan dengan menambahkan zatzat lubrikasi (pelincir)
misalnya : minyak, detergent, grapite, asphalt dan zat surfaktan khusus, serbuk batok kelapa
bahkan bentonite juga berfungsi sebagai pelincir karena dapat mengurangi gesekan antara
dinding dan rangkaian bor.
3.

Membersihkan Dasar Lubang (Bottom Hole Cleaning)

Ini adalah fungsi yang sangat penting dari lumpur bor, lumpur mengalir melalui corot pahat
(bit nozzles) menimbulkan daya sembur yang kuat sehingga dasar lubang dan ujungujung
pahat menjadi bersih dari serpih atau serbuk bor. Ini akan memperpanjang umur pahat dan
akan mempercepat laju pengeboran.

Laju sembur (jet velocity) minimum 250 fps untuk tetap menjaga daya sembur yang kuat
kedasar lubang. Laju sembur yang optimal sebaiknya harus memperhitungkan kekuatan
formasi atau daya kemudahan formasi untuk dibor (formation drillability). Kalau laju sembur
terlalu besar pada formasi yang lunak, dan akan mengakibatkan pembesaran lubang (hole
enlargement) karena kikisan semburan. Sedangkan pada formasi keras akan terjadi
pengikisan pahat dan menyianyiakan horse power
4.

Melindungi Dinding Lubang Supaya Stabil


Lumpur bor harus membentuk deposit dari ampas tapisan (filter cake) pada dinding lubang
sehingga formasi menjadi kokoh dan menghalang-halangi masuknya fluida (filtrat) kedalam
formasi. Kemampuan ini akan meningkat jika fraksi koloid dari lumpur bertambah, misalnya
dengan menambahkan attapulgite atau zat kimia yang dapat meningkatkan pendispersian
padatan. Dapat pula dengan menambahkan zatzat poliner sehingga viskositas dari filtrat (air
tapisan) meningkat, dengan demikian mobilitas filtrat didalam filter cake dan formasi akan
berkurang.
5.

Menjaga atau Mengimbangi Tekanan Formasi

Pada kondisi normal gradien tekanan normal : 0.465/ft, 0.107-ksc/ft. Berat dari kolom lumpur
yang terdiri dari fase air, partikelpartikel padat lainnya cukup memadai untuk mengimbangi
tekanan formasi. Tetapi jika menjumpai daerah yang bertekanan abnormal dibutuhkan materi
pemberat khusus (misal : XCD-polimer) yang mempunyai berat jenis tinggi untuk menaikkan
tekanan hidrostatis dari kolom lumpur agar dapat mengimbangi dan menjaga tekanan
formasi. Besarnya tekanan hidrostatik tergantung dari berat jenis fluida yang digunakan dan
tinggi kolom yang dapat dihitung dengan persamaan :
Hp

= 0.052 x Mw (ppg) x D = Psi


= 0,00695 x Mw (pcf) x D = Psi

dimana :

Hp

= Tekanan hidrostatic lumpur, psi.

Mw

= Densitas lumpur, ppg/pcf


D

6.

= Kedalaman, ft.

Menahan Serpih / Serbuk Bor dan Padatan Lainnya Jika Sirkulasi Dihentikan
Kemampuan lumpur bor untuk menahan atau mengapungkan serpih bor pada saat tidak ada
sirkulasi tergantung sekali pada daya agarnya (gel strengt). Daya agar adalah suatu sifat
fluida thixotropis yang mempunyai kemampuan mengental dan mengagar jika didiamkan
(static condition) dan kembali lagi mencair jika diaduk atau digerakgerakkan. Sifat
pengapungan atau penahan serpih didalam lumpur sangat diinginkan untuk mencegah
turunnya serpih kedasar lubang atau menumpuk di anulus yang akan memungkinkan
terjadinya rangkaian bor terjepit. Tetapi daya agar ini tidak boleh terlalu tinggi supaya
mengalirnya kembali lumpur tidak membutuhkan tekanan awal yang terlalu besar.

7.

Sebagai Media Logging


Data-data dari sumur yang diselesaikan sangat penting untuk dasar evaluasi sumur yang
bersangkutan, juga penting untuk dasar pembuatan program dan evaluasi sumur-sumur yang
akan di bor selanjutnya. Data-data tersebut diatas didapat dari analisa cutting dan pengukuran
langsung dengan wire logging. Untuk itu lubang bor harus bersih dari cutting.

8.

Menunjang (Support) Berat Dari Rangkaian Bor dan Selubung


Makin dalam pengeboran, maka berarti makin panjang pula rangkain pipa atau casing,
sehingga beban yang harus ditahan menara rig akan bertambah besar, dengan adanya
bouyancy effect dari lumpur akan menyebabkan beban efektif menjadi lebih kecil sehingga
dengan kemampuan yang ada mampu melakukan pengeboran yang lebih dalam. Faktor yang
mempengaruhi dalam hal ini adalah berat jenis dari lumpur.

9.

Menghantarkan Daya Hidrolika Kepahat

Lumpur pemboran adalah media untuk menghantarkan daya hidrolika dari permukaan
kedasar lubang. Daya hidrolika lumpur harus ditentukan didalam membuat program
pengeboran sehingga laju sirkulasi lumpur dan tekanan permukaan dihitung sedemikian agar
pendayagunaan tenaga (power) menjadi optimal untuk membersihkan lubang dan
mengangkat serpih bor. Kemampuan untuk membersihkan serbuk bor dari bit itu didapat
karena adanya tenaga hidrolik yang harus disalurkan dari permukaan menuju bit melalui
media lumpur yang disebut sebagai Bit Hydraulic Horsepower
10.

Mencegah dan Menghambat Laju Korosi


Korosi dapat terjadi karena adanya gas-gas yang terlarut seperti oksigen CO 2, dan H2S. Juga
karena pH lumpur

yang terlalu rendah atau adanya garam-garam di dalam. Untuk

menghindari hal - hal tersebut diatas, ke dalam lumpur dapat ditambahkan bahan bahan
pencegah korosi atau diusahakan untuk mencegah pencemaran yang terjadi.

2.2

Sifat-Sifat Penting Lumpur Pemboran

Dalam suatu operasi pemboran semua fungsi lumpur pemboran haruslah berada dalam
kondisi yang baik sehingga operasi pemboran dapat berlangsung dengan baik. Hal ini dapat
dicapai apabila sifat lumpur selalu diamati dan dijaga secara kontinyu dalam setiap tahap
operasi pemboran. Selain hal tersebut di atas pengukuran dan pengamatan sifat - sifat kimia
juga harus dilakukan dengan seksama.Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kestabilan sifat
sifat lumpur pemboran.
2.2.1 Berat Jenis
Sifat ini berhubungan dengan tekanan hidrostatik yang ditimbulkan oleh suatu kolom lumpur,
karenanya harus selalu di jaga guna mendapatkan tekanan hidrostatik yang sesuai dengan
tekanan yang dibor. Lumpur yang terlalu ringan akan menyebabkan enterusi fluida formasi

kedalam lubang dan hal ini akan menyebabkan kerontokan dinding lubang, kick dan blow
out. Lumpur yang terlalu berat akan dapat menyebabkan problema Lost Circulation.
2.2.2 Rheology dan Gel Strength
1. Viscositas
Viscositas adalah tahanan terhadap aliran atau gerakan yang penting untuk laminar flow. Alat
untuk mengukur viscositas lumpur ialah Marsh Funnel.
2. Plastic Viscosity (Pv)
Plasctic viscosity merupakan tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh gesekan antara
sesama benda padat didalam lubang bor dan merupakan salah satu parameter kenaikan solid
yang ada dalam lumpur.
3. Yield Point (Yp)
Yield point merupakan tahanan terhadap aliran yang disebabkan oleh gaya elektrokimia
antara padatan padatan, cairan cairan dan padatan cairan.
4. Gel Strength
Gel strength adalah sifat dimana benda cair menjadi lebih kental bila dalam keadaan diam,
dan makin lama akan bertambah kental. Sifat ini dikenal juga sebagai sifat THIXOTOPIC.
2.2.3 Sand Content
Penentuan kadar pasir pada lumpur pemboran adalah untuk mencegah abrasi
Pada pompa dan peralatan pengeboran lainnya, juga untuk mencegah penebalan mud cake
dan drill pipe sticking.
2.2.4 Solid Control
Kandungan solid di dalam lumpur bila tidak dikontrol dengan baik akan mempunyai
akibat akibat yang buruk antara lain :

Memperlambat peneteration rate

Susah mengatur sifat sifat rheologi

Bit dan peralatan lainnya cepat aus.

Treatment menjadi lebih mahal.


Solid dapat berasal dari penambahan weighting agent dapat pula berasal dari drilled cutting
formasi.
2.2.5 Alkalinity Filtrate
Tujuan pemeriksaan alkalinity filtrate adalah untuk mengetahui kontaminan kontaminan
terhadap lumpur. Kontaminan kontaminan ini dapat berasal dari formasi yang di bor
maupun dari air yang digunakan untuk pembuatan lumpur.

2.2.6 Fluid (Water) Loss


Bila suatu campuran padat cair, seperti lumpur berada dalam kontak dengan media porous
seperti dinding lubang bor dengan adanya tekanan yang bekerja padanya, makan akan terjadi
perembesan zat cair kedalam media porous tesebut.
2.2.7 PH
PH menyatakan konsentrasi dari gugus hidroxil (OH) yang terdapat dalam lumpur yang
akan mempengaruhi kereaktifan bahan bahan kimia yang digunakan dalam lumpur.

2.3

Komposisi Lumpur Pemboran


Komposisi dari lumpur pemboran disusun dari berbagai bahan kimia yang masing-

masing mempunyai fungsi secara individual, dan diharapkan saling bekerja secara sinergik
untuk mendapatkan sifat-sifat lumpur yang di harapkan Bahan-bahan kimia penyusun lumpur
tidak hanya berfungsi tunggal melainkan dapat berfungsi ganda. Fungsi pertama disebut
primary fungtion sedangkan fungsi keduanya disebut secondary fungtion.

Lumpur pemboran yang paling banyak digunakan adalah lumpur pemboran dengan
bahan dasar air (water base mud) dimana air sebagai fasa cair kontinyu dan sebagai pelarut
atau penahan materimateri didalam lumpur.
Empat macam komposisi atau fasa yang umum digunakan di dalam lumpur pemboran
adalah sebagai berikut :
1. Fasa cair (air atau minyak)
2. Reactive solids (padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid )
3. Inert solids (zat padat yang tidak bereaksi)
4. Fasa kimia
Dari keempat komponen ini dicampurkan sedemikian rupa sehingga didapatkan lumpur
pemboran yang sesuai dengan keadaan formasi yang ditembus.
2.3.1 Fasa Cair
Fasa cair adalah komponen utama lumpur pemboran. Fungsi dari fasa cair adalah
sebagai fasa dasar yang dapat menyebabkan lumpur dapat mengalir. Disamping itu bila
bereaksi dengan reaktif solid akan membentuk koloid yang viscositasnya tertentu sehingga
lumpur dapat mengangkat serpih bor. Fasa cair yang digunakan disesuaikan dengan kondisi
lapangan dan kondisi formasi yang yang dibor. Fasa cair yang biasa digunakan adalah air
tawar, air garam, minyak dan emulsi antara minyak dan air.
2.3.2 Reactive Solids
Padatan ini bereaksi dengan sekelilingnya untuk membentuk koloidal. Dalam hal ini
clay air tawar seperti bentonite mengisap (absorp) air tawar dan membentuk lumpur. Istilah
yield digunakan untuk menyatakan jumlah barrel lumpur yang dapat dihasilkan dari satu
ton clay agar viskositas lumpurnya 15 cp.
Bentonite digunakan antara lain sebagai bahan dasar lumpur pemboran, pada dasarnya
Bentonite dibuat dari bahan lempung ( clay ) yang besifat Na-Monntmorillonite dan Ca-

Monntmorillonit. Na-Monntmorillonite sangat baik digunakan sebagai bahan dasar lumpur


pemboran karena mampu mengembang ( Swelling ) sampai 8 kali jika direndam dalam air.
Kemampuan mengembang yang cukup besar, akan membentuk suatu larutan dengan
viscositas yang cukup besar, hal ini penting untuk membersihkan dasar lubang sumur dan
juga membentuk suatu lapisan dinding yang elastic yang akan melindungi dinding lubang
agar tidak runtuh.
Bentonite merupakan gabungan lempung ( Clay ) yaitu kumpulan mineral dan bahan
bahan seperti illit, kaolinit, siderite dan terbanyak adalah montmorillnite ( 85 90 % ) dan
logam alkali tanah.
Untuk salt water clay (attapulgite), swelling akan terjadi baik di air tawar atau di air
asin dan karenanya digunakan untuk pemboran dengan salt water muds. Baik bentonite
atau attapulgite akan memberikan kenaikan viskositas pada lumpur. Untuk oil base mud,
viskositas dinaikkan dengan penaikan kadar air dan penggunaan asphalt.
2.3.3 Inert Solids
Inert solid adalah padatan yang tidak bereaksi dengan air dan dengan komponen lainnya
dalam lumpur, dimana material ini tidak tersuspensi. Fungsi utama dari material ini adalah
berkaitan erat dengan densitas lumpur berguna untuk menambah berat ata berat jenis dari
lumpur, yang tujuannya untuk menahan tekanan dari tekanan formasi dan tidak banyak
pengaruhnya dengan sifat fisik lumpur yang lain. Material inert ini antara lain adalah barite
atau barium sulfate (BaSO4), besi oxida (Fe2O3), calcite atau calsium sulfate (CaSO4) dan
galena (PbS), dimana kebanyakan dari zat-zat ini berfungsi sebagai material pemberat.
Inert solid dapat pula berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa oleh lumpur
seperti chert, pasir atau clay-clay non swelling, padatan seperti ini bukan disengaja untuk
menaikkan densitas lumpur dan perlu dibuang secepat mungkin (dapat menyebabkan abrasi
dan kerusakan pompa).

Sebagai contoh yang umum digunakan sebagai inert solid dalam lumpur bor, adalah :
Barite (BaSO4)
Oksida Besi (Fe2O3)
Kalsium Karbonat (CaCO3)
Galena (PbS)
2.3.4 Fasa Kimia
Zat kimia merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mengontrol sifat sifat
lumpur misalnya menyebarkan partikel- partikel clay (disepertion), menggumpalkan partikel
partikel clay (flocculation) yang akan berefek pada pengkoloidan partikel clay itu sendiri.
Banyak sekali zat kimia yang dapat digunakan untuk menurunkan kekentalan, mengurangi
water loss, mengontrol fasa kolid yang disebut dengan surface active agent.
Zat kimia yang dapat menurunkan kekentalan dan mendispersi partikel clay biasa
disebut thiner. Thiner yang dapat menurunkan kekentalan atau mengencerkan partikel clay
diantaranya adalah :
1. Quobracho (dispersant)
2. Phosphate
3. Sodium Tannate (kombinasi caustic soda dan tannium)
4. Lignosulfonate
5. Lignite
Sedangkan zat-zat yang dapat menaikkan kekentalan antara lain :
1. C.M.C
2. Starch
3. Drispac

Zat-zat kimia tersebut diatas bereaksi dan mempengaruhi lingkungan sistem lumpur
tersebut, misalnya dengan menetralisir muatan muatan listrik clay, menyebabkan dispertion
dan lain sebagainya.

2.4

Jenis Lumpur Pemboran


Pada umumnya lumpur pemboran dibagi dalam dua sistem, yaitu lumpur bor dengan

bahan dasar air (water base mud) dan lumpur bor dengan bahan dasar minyak (oil base mud).
Lumpur bor berdasarkan fasa cairnya yaitu air dan minyak dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1.

Water base mud

Lumpur jenis ini yang paling banyak digunakan, karena biayanya relatif murah. Lumpur ini
terbagi atas fresh water mud dan salt water mud, dan apabila dilihat dari komposisinya
lumpur ini terbagi lagi sebagai berikut :
a)

Gel spud mud


Komposisinya adalah sebagai berikut :
-

20 25 lb/bbl bentonite

0.25 0.5 lb/bbl caustic soda

Lumpur ini digunakan pada awal pemboran dimana pemeliharaannya dengan cara
menjalankan desander dan desilter secara terus menerus selama sirkulasi lumpur.
b) Lignosulfonate mud
Lumpur ini dalah salah satu jenis fluida pemboran yang serba guna, dan dalam prakteknya
lumpur ini akan menajadi optimal bilamana beberapa syarat penting harus kita perhatikan,
antara lain :

Berat Jenis tinggi ( > 14ppg )

Tahan Panas ( 121 150o )

Toleransi padatan yang tinggi

Tapisan yang rendah ( < 10 cc )

Toleransi terhadap garam, anhydrite, gypsum

Tahan kontaminasi semen


Komponen dasarnya meliputi air tawar atau air asin, bentonite, Chrome Lignosulfonat,
lignite, caustic soda, CMC, atau modified Starch. Ada beberapa faktor yang harus
diperhatikan di dalam penggunaan lumpur Lignosulfonat :

Sifat inhibitive akan rusak paa suhu 300o F

Sifat pengontrolan laju tapisan akan rusak pada temperatur 350o F

Pada temperatur > 400o F lignosulfonat akan pecah

Viscositas akan berkurang seiring kenaikan temperatur

Lignosulfonate tidak efektif dalam menstabilkan shale

Filtrat lumpur Lignosulfonat dianggap mempinya peranan merusak formasi yang produktif

Lumpur Lignosulfonat yang sudah terkontaminasi semen akan mengental


Tergolong lumpur medium sampai berat, temperatur kerja 250 300 F,
toleransi tinggi terhadap konsentrasi garam, anhidrit gipsum dan semen.

Komposisinya adalah sebagai berikut :


-

Bentonite 20 25 lb/bbl

Spersene 2 lb/bbl
-

Xp 20 1 lb/bbl

Barite secukupnya sesuai dengan kebutuhan

c) Polimer mud
Komposisinya adalah sebagai berikut :
- Menggunakan air tawar

mempunyai

- 0.25 lb/bbl soda ash


- Bentonite
- Caustic soda

d) Sea water mud


Adalah lumpur lignosulfonate yang mempergunakan prehydrated bentonite untuk dasar
pengental didalam air asin, formulasinya berkisar 2 ppb caustic soda, 1.5 ppb kapur (lime), 24 ppb lignosulfonate, 1-2 ppb lignite dan larutan prehydrated bentonite secukupnya. Biasanya
alkalinity pf 1.3-3.00 cc dijaga dengan caustic soda, pm 3.0-8.0 cc dengan kapur dan tapisan
dipembuat lumpur. Konsentrasi garam dalam air laut berkisar 30-35,000 ppm dengan
berbagai ion-ion lain (Mg+2, Ca+2).
2.

Oil base mud


Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinyunya, komposisinya diatur agar

kadar airnya rendah (3-5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap contaminant.
Tetapi airnya adalah contaminant karena memberikan efek negatif bagi kestabilan lumpur ini.
Untuk mengontrol viskositas, gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi
filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia.
Faedah oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak, karena
itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi biasa
maupun formasi produktif. Kegunaan terbesar dari oil base nud ini adalah pada completion
dan work over sumur. Kegunaan yang lain adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit ,
mempermudah pemasangan casing dan liner. Oil base mud ini harus ditempatkan pada suatu
tanki besi untuk menghindarkan kontaminasi air. Rig harus dipersiapkan supaya tidak kotor
dan bahaya api berkurang.
Kerugian penggunaan oil base mud adalah :

dapat mengkontaminasi lingkungan terutama untuk daerah operasi offshore.

solid kontrol sulit dilakukan bila dibandingkan dengan water base mud.

Elektrik logging tidak dapat dilakukan.

Biayanya relatif lebih mahal.

3.

Emulsion mud
Terbagi atas oil in water emulsion dan water in oil emulsion tergantung dari fasa apa

yang terdispersi. Fungsi lumpur ini adalah untuk menambah ROP, mengurangi filtration loss,
menambah pelumasan dan mengurangi torque, dimana lumpur ini banyak digunakan dalam
directional drilling. Komposisinya adalah lumpur dasar ditambah minyak mentah atau
minyak solar 2-15% atau lumpur dengan dasar minyak ditambahkan air 24-45% air.

2.5

Faktor Utama Dalam Pemilihan Lumpur Bor


Dalam menentukan lumpur bor yang akan digunakan dalam operasi pemboran harus

diperhatikan beberapa faktor utama untuk memilih lumpur bor tersebut, yaitu :
Bahan dasar pembuatannya air tawar, air asin dan minyak.
Sifat formasi yang akan ditembus.
Problem yang akan terjadi dan yang berhubungan dengan lumpur diusahakan sekecil
mungkin.
Dibutuhkan atau tidaknya peralatan pengontrol padatan yang efektif.
Kestabilan terhadap temperatur dan kontaminasi yang terjadi (misalnya semen, air tawar).
Pengaruh terhadap total biaya pemboran.

2.6

Pemakain Polimer Pada Lumpur Dasar Air Tawar


Pemakaian polimer pada lumpur bor adalah yang dapat berfungsi sebagai

Penggumpal ( flocculants )

Floculant berfungsi untuk mengikat cutting agar mudah dipisahkan dari


lumpur. Semua floculant tersusun dari polymer, contoh :
1. PHPA : ( Partially Hidrolized Polyacril Amide )
2. SPA : ( Sodium Poly Acrilate )
Pemecah gumpalan ( deflocculants )
Bahan ini berfungsi untuk menurunkan viscositas dan pada umumnya mempunyai second
fungtion sebagai fluid loss reducer.
Pengontrol kehilangan lumpur ( fluid loss control agent )
Bahan ini berfungsi sebagai viscofier seperti cmc dan pac polymer,
sedangkan yang berfungsi sebagai thinner adalah lignite.penggunaan formulasi yang
menggunakan polymer hendaknya memeperhatikan temperatur, karena pada umumnya jenis
jenis polymer tidak tahan temperatur tinggi.
Pengental ( viscosifier )
Viscosifier adalah bahan yang digunakan untuk menaikkan viskositas yang biasanya
mempunyai secondary fungtion sebagai fluid loss reducer.
Ada dua macam viscosifier yaitu :

Tipe clay mineral

Tipe polymer seperti XCD polymer dan guard gum polymer

Meningkatkan daya guna bentonite ( bentonite extender )


Polimer dengan anion tinggi mampu meningkatkan viskositas dan gel strength di dalam
konsentrasi padatan 4% dan konsentrasi <20 ppb. Polimer jenis ini mampu menempel pada
ujung ujung lempung dan mengembang, sehingga luas permukaan akan bertambah dan
dengan sendirinya viskositas juga akan meningkat.
Penstabil shale ( shale stabilization agents )

Bahan ini berfungsi untuk menstabilkan shale formasi agar tidak gugur kedalam lubang bor.
Dengan pola kerja adalah sebagai berikut :

Pola Coating
Bahan akan menyelimuti partikel partikel shale sehingga kontaknya dengan fluida dapat
dikurangi.

Pola Osmosa
Pada pola ini mengandalkan garam garam terlarut untuk mengabsorbsi air dari dalam shale.

Penstabil pada suhu tinggi ( temperature stabilization )


Mengontrol rheologi lumpur pada temperatur tinggi, karena pada temperatur tinggi lumpur
biasanya akan terjadi gelation, yaitu naiknya viskositas lumpur jauh diatas normal, jadi pada
dasarnya bahan ini adalah defloculant untuk temperatur tinggi.
Mencegah korosi ( corrosion inhibitor )
Bahan ini berguna untuk mencegah terjadinya korosi pada drill string maupun pada peralatan
pengeboran lainnya.
Detergen
Detergen berfungsi untuk mencegah terjadinya balling oleh clay pada bit dan drill string. Di
samping itu juga berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan lumpur , sehingga cutting
lebih mudah diendapkan di settling pit.
Lubricant
Lubricant adalah bahan untuk mengurangi gesekan / torsi antara rangkain pipa dengan
dinding lubang dan pada umumnya di buat dari senyawa senyawa derivat fatty acid.

2.7

Kandungan Garam
Kandungan Cl ditentukan untuk mengetahui kadar garam dari lumpur. Kadar garam

dari lumpur akan mempengaruhi interprestasi logging listrik. Kadar garam yang besar aka

menyebabkan daya hantarnya besar pula. Pembacaan resistivity dari cairan formasi akan
terpengaruh. Naiknya kadar garam dari lumpur

disebabkan cutting garam yang masuk

kedalam lumpur disaat menembus formasi yang mengandung garam, dengan kata lain lumpur
terkontaminasi oleh garam.

2.8

Kontaminasi Lumpur Bor


Kontaminasi adalah suatu problem yang dapat muncul dengan gejala yang perlahan-

lahan ataupun dengan segera dan cepat, dan biasanya diamati suatu fluktuasi sifat-sifat
lumpur yang tadinya normal saja menjadi naiknya yield point, naiknya daya agar, viskositas
yang berlebih dan laju tapisan yang tidak terkontrol.
Kontaminan didefinisikan semua jenis zat (padat, cairan ataupun gas) yang dapat
menimbulkan pengaruh merusak terhadap sifat-sifat fisika atau kimiawi dari fluida
pemboran. Semua jenis lumpur mempunyai satu kontaminan umum yaiut padatan berat jenis
rendah (Low Solid Gravity), baik yang berasal dari serbuk bor ataupun dari pemakaian
bentonite yang terlalu berlebihan.
2.8.1 Kontaminasi Sodium Chlorida
Kontaminasi ini terjadi saat pemboran menembus kubah garam (salt dome), lapisan
garam, lapisan batuan yang mengandung konsentrasi garam yang cukup tinggi atau akibat air
formasi yang berkadar garam tinggi dan masuk kedalam sistim lumpur. Akibat adanya
kontaminasi ini, akan mengakibatkan berubahnya sifat lumpur seperti viscositas, yield point,
gel strengt dan filtration loss. Kadang-kadang penurunan pH dapat pula terjadi bersamaan
dengan kehadiran garam pada sistim lumpur.
2.8.2 Kontaminasi Gypsum dan Anhydrit
Hanya sedikit daerah didunia dimana tidak dijumpai formasi gypsum (CaSO 4), pilihan
yang diambil dalam mengatasi ini adalah dengan mengendapkan ion Ca +2 atau merubah

sisitim lumpur kapur (dasar kalsium). Gejala mula-mula dari kontaminasi gypsum adalah
viskositas yang tinggi, daya agar tinggi dan laju tapisan bertambah.
2.8.3 Kontaminasi Semen
Kemungkinan untuk kontaminasi semen itu selalu ada pada setiap sumur pemboran.
Semen tidak menjadi kontaminan hanya jika fluida yang dipakai air jernih, air garam, lumpur
kalsium dan lumpur minyak. Parah atau tidaknya kontaminasi ini tergantung pada faktorfaktor seperti konsentrasi padatan dalam lumpur dan keras atau lunaknya semen pada lubang.
Gejala kontaminasi semen adalah viskositas yang tinggi, yield point yang abnormal, daya
agar yang besar dan tapisan yang tidak terkontrol, ini disebabkan reaksi ion Ca +2 dari semen
dengan lempung dan tingginya pH larutan.

2.9

Sistem Lumpur Non Disperse Dengan Padatan Rendah


Sistem lumpur non dispersi dengan padatan rendah dipergunakan untuk memperoleh

laju penembusan yang lebih cepat tanpa merusak stabilitas lubang bor. Hal ini dapat
ditanggulangi dengan pemakain bahan kimiadan cara cara mekanis seperti :
- Menjaga lumpur dengan kadar padatan rendah dengan total kumulatif
dibawah 6%.
- Partikel koloid diperkecil di bawah 1 mikron.
Lumpur ini menggunakan bentonite dengan polimer untuk mencapai hasil yang
dikehendaki dan sifat kehilangan cairan yang terkontrol. Untuk pemberat lumpur ini dapat
dipakai barite.
Jika

lumpur ini dibuat dengan komposisi yang tepat dan terus dipelihara maka

pemakaian dispersane atau pengencer dapat dihindarkan. Jika koloid dan keseluruhan
kandungan tetap dijaga dalam batas batas yang dapat diterima maka pengaturan sifat sifat
aliran dapat dibuat dengan memakai sistem polyacrylate.

Lumpur tersebut memberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah dapat


memudahkan pembersihan padatan dengan kandungan rendah, meningkatkan daya hidrolik,
mempercepat laju penembusan, pemeliharaan yang mudah sehingga secara keseluruhan
membuat pelaksanaan operasi pemboran akan berjalan lebih efisien.
Pemakaian lumpur polimer non dispersi dengan padatan rendah sering digunakan pada
operasi pemboran dengan tingkat tinggi keberhasilan yang cukup tinggi. Dengan manfaat
yang terdapat dalam lumpur tersebut maka modifikasi dari lumpur ini menjadi tipe fluida
pemboran yang layak dipergunakan.
Faktor ekonomis dari pemakaian lumpur non dispersi dengan padatan rendah menjadi
salah satu faktor yang harus dipertimbagkan, terutama pada daerah dengan kemampuan laju
penembusan formasi 1 30 ft/jam. Dengan lumpur jenis ini maka laju penembusan akan
meningkat bahkan pada formasi batuan keras, sehingga dari segi biaya pemakaian lumpur ini
lebih menguntungkan.
Untuk penggunaan lumpur ini pada formasi sedang dengan laju penembusan ( 30 50
ft/jam ), didapat keuntungan pada usia pakai pahat bor, sehingga biaya pemboran dapat lebih
rendah.
Pada laju penembusan 50 75 ft/jam penggunaan lumpur ini akan memberikan nilai
keekonomisan yang cukup baik. Dengan catatan digunakannya menara bor ( rig ) yang
memiliki alat pengontrol padatan untuk membersihkan serbuk bor.
Pada kondisi luar biasa dengan kecepatan penembusan 75 200 ft / jam, lumpur
polimer non dispersi ini tidak dapat dipergunakan karena akan menghasilkan serbuk bor
dalam jumlah besar.

2.10 Sistem Lumpur Dispersi

Lumpur pemboran dispersi yang paling sederhana adalah lumpur air tawar yang
tercampur hidrat lempung secara alami apabila mata bor menembus formasi. Lumpur
pemboran dispersi ini disebut juga lumpur alami dan dipakai dalam pemboran dangkal atau
untuk pemboran bagian atas dari sumur yang dalam.
Pemboran dimulai dengan sirkulasi air tawar,dimana reaksi padatan lempung dalam
formasi yang sedang di bor menjadi hidrat dan menyebar ( dispersi ). Sifat kekentalan lumpur
pemboran juga diperlukan untuk pengangkatan serbuk bor kepermukaan.
Untuk meningkatkan viskositas, bentonite bisa ditambahkan sebagai pelengkap
lempung, dan jika peningkatan viskositas lebih cepat secara berlebihan maka lumpur
pemboran diencerkan dengan air. Pengencer ini terus berlanjut untuk tahap berikutnya
sehingga menjadi tidak praktis karena banyaknya volume lumpur yang perlu diperhatikan.
Tahap berikutnya adalah mempertahankan dan memlihara jenis lumpur tersebut dengan
membersihkan bebrapa padatan pemboran atau serbuk bor dengan perlengkapan mekanis dan
pengolahan bahan kimia.
Senyawa fosfat, asam sodium pyrofosfat, sodium tetrafosfat merupakan zat - zat utama
yang dipakai dalam mengontrol kondisi lumpur. Pengontrolan padatan pemboran didalam
lumpur dilakukan melalui penambahan bahan kimia ( additive) pengenceran lumpur dengan
air dan peralatan pembersih padatan bor.

Keuntungan Dan Kerugian Sistem Fluida Pemboran Disperse


Keuntungan dan kerugian yang didapat dengan menggunakan sistem fluida pemboran
disperse ( Lumpur Lignosulfonate ) antara lain :
Keuntungan :

Mudah dalam pembuatan dan relatif lebih sedikit menggunakan bahan kimia.
Mempunyai efek penurunan laju penembusan ( karena memiliki banyak partikel
yang berukuran < 1 mikron ).

Sesuai untuk lumpur dengan berat jenis tinggi.


Dapat dipakai pada temperatur tinggi.

Kerugian :

Tidak dapat dipakai pada pemboran formasi batuan yang keras.


Tidak dapat dipakai pada operasi pemboran yang cepat karena terlalu banyak serbuk
bor yang dihasilkan.