Anda di halaman 1dari 9

MINI SOCCER COMPETITION

SAVORING THE SWEETNESS OF VICTORY

30 JULI – 7 AGUSTUS 2010


GELANGGANG MAHASISWA SOEMANTRI BRODJONEGORO KUNINGAN
– FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

SENAT MAHASISWA
IKATAN KELUARGA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
1
BAB I
PESERTA

1.1. Peseta Mini Soccer Liga Medika 2010 wajib menaati peraturan umum dan peraturan
Mini Soccer Liga Medika 2010.
1.2. Peserta Mini Soccer Liga Medika 2010 adalah tim yang telah mendaftar sebelumnya.
1.3. Anggota tim adalah mahasiswa yang memiliki Kartu Tanda Mahasiswa dan surat
pernyataan dari pimpinan fakultas yang menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut
sedang mengikuti pendidikan di universitas tersebut.
1.4. Setiap tim maksimal mengirimkan 15 orang yang terdiri dari 12 pemain, 1 pelatih dan
2 official
1.5. Setiap pemain hanya boleh bermain untuk 1 (satu) tim. Pemain yang melanggar
peraturan ini Liga Medika 2010 tidak boleh bermain sepanjang Liga Medika 2010
berlangsung.
1.6. Pemain yang ikut serta dalam pertandingan wajib mengumpulkan ID card yang telah
diberikan panitia sebelumnya.

BAB II
SISTEM KOMPETISI

2.1. Kompetisi Mini Soccer Liga Medika 2010 menggunakan sistem setengah kompetisi
terdiri dari fase grup, fase perempat final, fase semifinal, perebutan tempat ketiga,
dan final.
2.2. Fase grup terdiri dari 4 grup, dimana tiap grup terdiri dari 5 tim. Juara dan runner-up
tiap grup akan maju ke babak perempat final.
2.3. Pertandingan di fase grup dilaksanakan dalam waktu 2x15 menit ditambah injury time
(lamanya injury time sesuai kebijakan wasit) dengan istirahat antar babak 5 menit.
2.4. Pada fase grup, setiap pertandingan yang dimenangkan oleh sebuah tim akan diberi
nilai 3 (tiga), setiap pertandingan yang berakhir seri akan diberikan nilai 1 (satu), dan
kekalahan pada pertandingan tidak diberikan nilai.
2.5. Sesuai aturan resmi FIFA, Penentuan peringkat di klasemen dalam fase grup berturut-
turut adalah :
2.5.1. Nilai total
2.5.2. Nilai dalam Head-to-head antara tim yang bersangkutan (tim yang sudah
dipastikan lolos dan tim yang tidak berpeluang lolos tidak diperhitungkan,
pertandingan melawan tim2 ini diabaikan)
2.5.3. Selisih gol antara tim yang bersangkutan
2.5.4. Agresivitas gol memasukkan antara tim yang bersangkutan
2.5.5. Selisih gol total

2
2.5.6. Agresivitas gol memasukkan total
2.5.7. Undian (undian dilakukan oleh panitia dengan koin bersama kedua tim di
tempat dan waktu yang disepakati bersama)
2.6. Di fase semifinal, pemenang babak perempat final akan bertanding melawan
pemenang lainnya sesuai dengan pohon turnamen hasil pengundian sebelumnya.
2.7. Tim yang menang di fase semifinal maju ke fase final, sedangkan tim yang kalah
melaju ke perebutan tempat ketiga.
2.8. Pertandingan di sistem gugur, dilaksanakan dalam waktu 2x20 menit +injury time
(lamanya injury time sesuai kebijakan wasit) dengan istirahat antar babak 10 menit.
Bila belum ada pemenangnya, selanjutnya diberikan waktu istirahat 10 menit untuk
memasuki perpanjangan waktu.
2.9. Perpanjangan waktu dilaksanakan 2x5 menit. Diantara 2 babak perpanjangan waktu
tidak ada istirahat. Bila setelah perpanjangan waktu masih belum ada pemenangnya,
dilaksanakan Adu Penalti.

BAB III
PERTANDINGAN

3.1. Panitia berhak menentukan jadwal pertandingan.


3.2. Pertandingan dilaksanakan sesuai jadwal. Tidak ada penggantian jadwal.
3.3. Tim yang akan bertandingan diharuskan datang 15 menit sebelum waktu kick-off yang
telah ditentukan, guna melakukan pemanasan dan persiapan lain.
3.4. Tim harus sudah siap dengan kelengkapannya 5 menit sebelum waktu kick-off.
3.5. Waktu toleransi adalah 10 menit setelah waktu kick-off. Tim yang belum datang akan
dipanggil tiga kali. Tim yang tidak datang sampai melebihi waktu tersebut dinyatakan
kalah Walkover (WO).
3.6. Tim yang dinyatakan WO dianggap kalah dengan skor 3-0.
3.7. Jika kedua tim tidak datang, keduanya dinyatakan kalah dengan skor 3-0.
3.8. Bola yang boleh digunakan hanya bola yang disediakan panitia.
3.9. Jumlah pemain yang ada di lapangan untuk 1 tim adalah 7 orang (termasuk penjaga
gawang), dan 5 orang pemain cadangan.
3.10. Setiap tim yang ingin mengganti pemain harus melapor terlebih dahulu ke meja
panitia, dan menunggu instruksi wasit untuk melakukan pergantian. Pergantian
pemain dibatasi: 3 pemain dalam 1 babak, dan boleh bermain kembali pada babak
selanjutnya. Pergantian pada waktu istirahat antar babak dianggap sebagai pergantian
babak berikutnya.
3.11. Setiap pemain dan atau tim tidak boleh bermain bila tidak memenuhi persyaratan
kelengkapan (lihat butir 4).
3.12. Bila terjadi adu penalti, tim mendaftarkan terlebih dahulu urutan 5 para penendang
penaltinya sebelum adu penalti berlangsung. Yang boleh menendang penalti
3
hanyalah pemain yang berada di lapangan ketika peluit akhir perpanjangan waktu
dibunyikan. Pemain cadangan tidak diperbolehkan. Tidak ada pergantian pemain saat
adu penalti. Bila 7 pemain sudah menendang penalti dan belum diketahui
pemenangnya, maka kembali ke penendang pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya
sampai diketahui pemenangnya.
3.13. Tidak ada goal-kick, diganti menjadi goal-throw (lemparan gawang). Penjaga gawang
diharuskan melempar bola apabila bola dalam keadaan mati. Apabila bola dalam
keadaan hidup, penjaga gawang dapat menendang bola.
3.14. Pertandingan dipimpin oleh wasit yang memiliki kapabilitas dan kualitas dalam
menjalankan tugasnya.
3.15. Wasit adalah pemimpin tertinggi di lapangan. Keputusan wasit tidak dapat diganggu
gugat.
3.16. Setiap kejadian di lapangan diselesaikan berdasarkan keputusan wasit. Setiap tim
wajib menghormati dan menaati setiap keputusan yang diambil oleh wasit.
3.17. Setiap kejadian di luar lapangan diselesaikan secara bersama oleh kedua tim, dan
panitia.
3.18. Denda kartu kuning sebesar Rp 15.000,00 (sepuluh ribu rupiah)
3.19. Denda kartu merah sebesar Rp 40.000,00 (tiga puluh ribu rupiah)
3.20. Dua kartu kuning dalam 1 pertandingan dianggap 1 kartu merah.
3.21. Pemain yang terkena kartu merah diharuskan keluar dari pertandingan tersebut dan
tidak boleh diganti pemain lain.
3.22. Liga Medika 2010 menggunakan sistem akumulasi kartu kuning maupun kartu merah.
Setiap pemain yang telah mengumpulkan 2 kartu kuning atau 1 kartu merah pada
babak penyisihan tidak dapat bermain pada pertandingan selanjutnya dan akumulasi
dihapuskan saat memasuki babak sistem gugur (mulai dari perempat final)
3.23. Jika kartu merah didapatkan pada babak sistem gugur (misal di perempat final,
pemain dikeluarkan dari pertandingan dan tidak boleh bermain di semifinal tetapi
boleh bermain di final jika lolos. Tetapi kalau di semifinal yang terkena, maka si
pemain harus keluar dari pertandingan dan tidak dapat bermain di final jika timnya
lolos)
3.24. Bila turun hujan, pertandingan tetap dilaksanakan dengan persetujuan wasit, kedua
tim, panitia, dan pengelola lapangan. Bila salah satu pihak tidak setuju, pertandingan
ditunda ke jadwal yang ditentukan selanjutnya dengan persetujuan wasit, kedua tim,
panitia, dan pengelola lapangan.
3.25. Tim yang keluar dari pertandingan sebelum pertandingan selesai (walk-out) dan
menolak melanjutkan pertandingan, dinyatakan didiskualifikasi dari Liga Medika 2010.
3.26. Tim yang membuat KERIBUTAN* dan diputuskan bersalah oleh panitia pertandingan
beserta konsultasi dengan wasit pemimpin pertandingan, dikenai denda
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan didiskualifikasi dari Liga Medika 2010.

4
3.27. Tim yang pendukungnya membuat KERIBUTAN* dan diputuskan bersalah oleh panitia
pertandingan beserta konsultasi dengan wasit pemimpn pertandingan, dikenai denda
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan didiskualifikasi dari Liga Medika 2010.

BAB IV
KELENGKAPAN

4.1. Setiap pemain wajib memakai perlengkapan bermain: baju tim yang seragam
dengan nomor punggung, celana, shin guard, sepatu bola, dan kaos kaki panjang.
4.2. Tim yang bajunya tidak seragam, atau tidak bernomor punggung, wajib
mengenakan rompi yang disediakan panitia.
4.3. Panitia akan menentukan apabila terjadi kemiripan kostum. Apabila terjadi
demikian salah satu tim wajib memakai rompi, kecuali bila wasit memutuskan tidak
perlu memakai rompi. Tim yang memakai rompi ditentukan dengan undian.
4.4. Pemain tidak diperbolehkan menggunakan aksesoris yang dapat membahayakan
pemain lainnya. Aksesoris tersebut harus dilepas sebelum pertandingan (kalung,
gelang, cincin, jam tangan)
4.5. Setiap tim harus mengisi berkas daftar pemain dan menyerahkan ID Card dan
diserahkan ke meja panitia 5 menit sebelum pertandingan.
4.6. Pemain yang boleh bermain hanyalah pemain yang namanya tercantum dalam
berkas daftar pemain yang diisi sebelum pertandingan, dan menyerahkan ID Card
yang menunjukkan dia adalah anggota tim bersangkutan.
4.7. Kapten tim harus menandatangani berita acara pertandingan sesudah pertandingan selesai.

BAB V
KERIBUTAN

5.1. Keributan disini berarti adalah suatu kejadian atau peristiwa yang diakibatkan oleh
salah satu atau kedua belah pihak (permainan kasar atau perkelahian, permainan
kata, menindas baik ke pemain atau wasit) yang mengakibatkan salah satu atau
kedua belah pihak tersebut merugi (cedera, baku hantam, perusakan, dll)
5.2. Kejadian di point diatas menyebabkan wasit harus menghentikan pertandingan yang
sedang berjalan, sehingga akan merugikan semua pihak termasuk panitia dari segi
efisiensi waktu.
5.3. Hanya panitia dan wasit yang berhak menentukan siapa yang bersalah, jika kedua
belah pihak terlibat dan dinyatakan bersalah oleh wasit, maka keduanya akan
diberikan sanksi seperti yang sudah terlampir sebelumnya.

5
BAB VI
PENUTUP

1. Peraturan ini mengacu kepada Peraturan Umum Liga Medika 2010.


2. Peraturan yang belum termaktub dalam peraturan ini akan ditetapkan kemudian.

Jakarta, 7 Mei 2010

Senat Mahasiswa
Ikatan Keluarga Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Liga Medika 2010


“Savoring the sweetness of victory”

6
LAMPIRAN

Penentuan Kelolosan sebuah tim dalam babak penyisihan.

CONTOH KASUS 1
Grup B
Tim P vs Tim R 2-2 Tim Q vs Tim P 1-3
Tim Q vs Tim S 1-1 Tim Q vs Tim R 2-1
Tim S vs Tim P 1-2 Tim R vs Tim S 4-3

Klasemen
Tim P 3 2 1 0 (7-4) 7
Tim Q 3 1 1 1 (4-5) 4
Tim R 3 1 1 1 (7-7) 4
Tim S 3 0 1 2 (5-7) 1

• Dengan melihat nilai total, maka Tim P dipastkan lolos ke fase selanjutnya. Namun Tim
Q dan R memiliki nilai total yang sama.
• Selanjutnya dilihat Nilai dalam Head-to-head antara tim yang bersangkutan. Dalam hal
ini Tim Q lebih unggul dari Tim R karena berhasil menang 2-1 dalam pertemuan mereka

Klasemen head-to-head antara tim yang bersangkutan


Tim Q 1 1 0 0 (2-1) 3
Tim R 1 0 0 1 (1-2) 0

Sehingga urutan klasemen akhir :


Tim P 3 2 1 0 (7-4) 7
Tim Q 3 1 1 1 (4-5) 4
Tim R 3 1 1 1 (7-7) 4
Tim S 3 0 1 2 (5-7) 1

CONTOH KASUS 2
Grup F
Tim A vs Tim C 3-0 Tim B vs Tim A 0-2
Tim B vs Tim D 4-0 Tim B vs Tim C 2-2
Tim D vs Tim A 0-4 Tim C vs Tim D 3-1

Klasemen
Tim A 3 3 0 0 (9-0) 9
Tim B 3 1 1 1 (6-4) 4
Tim C 3 1 1 1 (5-6) 4
Tim D 3 0 0 3 (1-11) 0

• Dengan melihat nilai total, maka Tim A dipastkan lolos ke fase selanjutnya. Namun Tim
B dan C memiliki nilai total yang sama.

7
• Selanjutnya dilihat Nilai dalam Head-to-head antara tim yang bersangkutan. Dalam hal
ini nilai kedua tim masih sama karena pertemuan mereka berakhir dengan 2-2

Klasemen head-to-head antara tim yang bersangkutan


Tim B 1 0 1 0 (2-2) 3
Tim C 1 0 1 0 (2-2) 0

• Selisih gol antara tim yang bersangkutan masih sama, maka kemudian digunakan
Agresivitas gol memasukkan antara tim yang bersangkutan. dan masih sama pula.
• Selanjutnya dilihat selisih gol total. Dalam hal ini Tim B lebih unggul dengan +2,
sedangkan Tim C dengan -1.

Sehingga urutan klasemen akhir :


Tim A 3 3 0 0 (9-0) 9
Tim B 3 1 1 1 (6-4) 4
Tim C 3 1 1 1 (5-6) 4
Tim D 3 0 0 3 (1-11) 0

CONTOH KASUS 3
Grup A
Tim K vs Tim L 1-2 Tim K vs Tim N 4-2
Tim M vs Tim N 3-1 Tim N vs Tim L 0-1
Tim M vs Tim L 2-1 Tim M vs Tim K 0-1

Klasemen
Tim L 3 2 0 1 (4-3) 6
Tim K 3 2 0 1 (6-4) 6
Tim M 3 2 0 1 (5-3) 6
Tim N 3 0 0 3 (2-8) 0

• Karena tiga tim memiliki nilai total sama dan ketiganya berpeluang lolos, maka
selanjutnya digunakan Nilai Head-to-head antara tim yang bersangkutan (tim yang
sudah dipastikan lolos dan tidak berpeluang lolos tidak diperhitungkan, pertandingan
melawan tim2 ini diabaikan).
• Karena yang disertakan dalam head to head adalah 3 tim, maka untuk menentukannya
dibuat klasemen antara tim yang bersangkutan (tim yang tidak berpeluang lolos tidak
diperhitungkan, pertandingan melawan tim ini diabaikan).

Klasemen head-to-head antara tim yang bersangkutan


Tim L 2 1 0 1 (3-3) 3
Tim K 2 1 0 1 (2-2) 3
Tim M 2 1 0 1 (2-2) 3

• Nilai dalam head-to-head antara tim yang bersangkutan sama, selanjutnya digunakan
Selisih gol antara tim yang bersangkutan.

8
• Dalam hal Selisih gol antara tim yang bersangkutan ketiga tim masih sama, maka
kemudian digunakan Agresivitas gol memasukkan antara tim yang bersangkutan.
Berarti Tim L paling unggul karena memasukkan 3 gol antara tim yang bersangkutan.
• Satu tim sudah lolos, untuk memastikan satu tim lagi, digunakan cara yang berikutnya
yaitu Selisih gol total, untuk ini Tim K dan M masih sama yaitu +2.
• Selanjutnya digunakan Agresivitas gol total. Dengan ini tim K lebih unggul dari tim M,
karena memasukkan 6 gol secara total.

Sehingga urutan klasemen akhir:


Tim L 3 2 0 1 (4-3) 6
Tim K 3 2 0 1 (6-4) 6
Tim M 3 2 0 1 (5-3) 6
Tim N 3 2 0 1 (2-8) 0