Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunianya.Karena hanya dengan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan riset
sederhana dengan judul “ Pengaruh TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak terhadap
lingkungan di sekitarnya “

Kehadiran makalah ini diharapkan dapat membuka mata kita tentang pengaruh
sampah bagi kehidupan kita. Sehingga kita dapat berusaha menjaga lingkungan kita dari
dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah.

Dalam penyajian makalah ini, kami memilih untuk menggunakan gaya bahasa
yang sederhana dan menyajikannya secara sistematis, tetapi tidak mengurangi maksud
dan tujuan disusunnya makalah ini.Hal ini dimaksudkan agar para pembaca lebih mudah
memahami isi dari makalah ini.

Tak ada garding yang tak retak.Kami menyadari, dalam makalah ini tidak luput
dari kekurangan-kekurangan.Untuk itu, kepada semua semua pembaca makalah ini, kami
mengharapkan sumbang saran atau kritik yang konstruktif, demi perbaikan isi makalah ini
pada khususnya dan pendidikan pada umumnya. Tak luput kami ucapkan terima kasih
kepada warga Warga TPA dan Petugas Pengawas TPA sampah serta Sri Hartati
sekeluarga yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Pontianak, Maret 2009

Penyusun

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................3
BAB I............................................................................................................................4
Pendahuluan…………….………………………………………………………….….4
a. Latar Belakang……………………………………………………………..…...4
b. Rumusan Masalah……………………………………………………..………..5
c. Tujuan……………………………………………………………..……………5
BAB II...........................................................................................................................5
a. Tinjauan Pustaka………………………………………………………………..6
b Metode…………………………………………………………………………..7
BAB III………………………………………………………………………………..9
a. Hasil…………………………………………………………………………….9
b. Pembahasan…………………………………………………………………….13
BAB IV………………………………………………………………………………..16
a. Kesimpulan……………………………………………………………………..16
b. Daftar Pustaka…………………………………………………………………..16
LAMPIRAN…………………………………………………………………………..17

3
BAB I

1.PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Istilah sampah pasti sudah tidak asing lagi ditelinga. Jika mendengar istilah
sampah, pasti yang terlintas dalam benak adalah setumpuk limbah yang menimbulkan
aroma bau busuk yang sangat menyengat. Sampah diartikan sebagai material sisa
yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah adalah zat kimia,
energi atau makhluk hidup yang tidak mempunyai nilai guna dan cenderung merusak.
Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada
sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak (wikipedia).
Sampah dapat berada pada setiap fase materi yitu fase padat, cair, atau gas.
Ketika dilepaskan dalam dua fase yaitu cair dan gas, terutama gas, sampah dapat
dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Bila sampah masuk ke
dalam lingkungan (ke air, ke udara dan ke tanah) maka kualitas lingkungan akan
menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai
peristiwa pencemaran lingkungan (Pasymi).

Berdasarkan sumbernya sampah terbagi menjadi sampah alam, sampah


manusia, sampah konsumsi, sampah nuklir, sampah industri, dan sampah
pertambangan. Sedangkan berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi dua yaitu 1)
sampah organik atau sampah yang dapat diurai (degradable) contohnya daun-daunan,
sayuran, sampah dapur dll, 2) sampah anorganik atau sampah yang tidak terurai
(undegradable) contohnya plastik, botol, kaleng dll.

Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas
industri, misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk
industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-
kira mirip dengan jumlah konsumsi. Laju pengurangan sampah lebih kecil dari pada
laju produksinya. Hal ini lah yang menyebabkan sampah semakin menumpuk di
setiap penjuru kota.

4
Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan
menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung mau pun tidak langsung bagi
penduduk kota apalagi daerah di sekitar tempat penumumpukan. Dampak langsung
dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit
menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak
langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya
arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Selain
penumpukan di tempat pembuangan sementra (TPS), sampah pun akan semakin
meningkat jumlah nya di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Batulayang kota
Pontianak provinsi Kalimantan Barat pada TPA tersebut sampah sudah
menggununng serta memakan area yang cukup luas.selain itu pengolahan sampah
masih belum dilakukan dengan baik.

Berdasarkan hal itu kami merasa perlu untuk mengangkat masalah ini karena
berhubungan dengan kerusakan alam sekitar dan kesehatan manusia.dampak yang
ditimbulkan dari pencamaran tersebut tidak hanya bisa diselesaikan dalam jangka
waktu yang sebentar melainkan perlu waktu yang lama karena efek negatif yang
ditimbulkan akan bersifat permanen.

B. Rumusaan Masalah
a. Apa perubahan wilayah yang terjadi setelah di buat TPA tersebut ?
b. Apakah TPA sampah Batu Layang kota Pontianak memberikan dampak negatif
bagi lingkungan sekitarnya ?
c. Apakah ada usaha dari pemerintah untuk meminimalisir dampak negatif dari
sampah-sampah tersebut ?

C.Tujuan
a. Mengetahui dampak negatf dari TPA sampah Batu Layang kota Pontianak.
b.Menyalurkan aspirasi masyarakat yang selama ini terganggu dengan adanya TPA
tersebut.

5
BAB II

A.Tinjauan Pustaka

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:


1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan,
sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut
menjadi kompos;
2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng,
kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang
laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat
dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman,
kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;
Sampah organik tidak merusak lingkungan, malah dapat bermanfaat untuk
kesuburan tanah. Sedangkan sampah anorganik dapat merusak susunan tanah karena tidak
dapat terurai. Sampah anorganik banyak yang sulit hancur dan sulit diolah. Untuk
mengolah sampah ini memerlukan biaya dan teknologi tinggi.
Sampah anorganik yang sulit diuraikan akan menimbulkan masalah serius dalam
kaitannya dengan pencemaran lingkungan terutama pencemaran tanah, bakteri pengurai
di dalam tanah tidak dapat menguraikan misalnya kaleng, kayu, besi, dan plastik.
Sedangkan untuk sampah organik tidak ada masalah dalam penguraiannya, bakteri
pengurai mampu menguraikannya.
Sampah anorganik yang terbagi menjadi sampah rumah tangga, sampah industri,
dan sampah makhluk hidup. Intensitas pencemarannya sangat tinggi dan selanjutnya
menimbulkan kerugian untuk masyarakat, sampah rumah tangga misalnya setiap hari kita
diposisikan sebagai produsen sampah yang senantiasa memproduksi sampah terus-
menerus. Sampah jenis ini dakan terus bertambah seiring dengan barang kehidupan
sehari-hari yang digunakan.
Pengelolahan sampah yang tidak baik dapat memberikan dampak negatif
terhadap daerah di sekitarnya. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang
bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta
gangguan pernafasan.

6
Selain dampak yang telah disebutkan tadi, secara tidak langsung sampah yang
menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat adanya kenaikan temperatur
bumi atau yang lebih dikenal dengan istilah pemanasan global. Seperti yang telah kita
ketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca
seperti uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrooksida (N2O). Dari
tumpukan sampah ini akan dihasilkan ber ton-ton gas karbondioksida (CO2) dan metana
(CH4). Gas metana (CH4) dapat dirubah menjadi sumber energi yang akhirnya bisa
bermanfaat bagi manusia. Sedangkan untuk gas karbondioksida (CO2), sampai saat ini
belum ada pemanfaatan yang signifikan.

B.Metode

Lokasi :
Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) sampah Batu Layang Kota Pontianak
Kalimantan Barat.

Pelaksanaan :
- Kamis, 5 Maret 2009
- Rabu, 18 Maret 2009

Bahan dan Alat :


- Angket

Cara Kerja :
Menggunakan angket
1. Mencari objek masalah
2. Meninjau lokasi yang dijadikan objek masalah
3. Menyusun permasalahan yang akan diangkat

7
4. Membuat angket
5. Turun ke lapangan dan menyebar angket ke beberapa penduduk yang tinggal
disekitar TPA samapah Batu Layang
6. Merumuskan hasil angket
7. Membuat membahasan hasil angket

Dengan wawancara :
1. Mencari objek masalah
2. Meninjau lokasi yang dijadikan objek masalah
3. Menyusun permasalahan
4. Membuat daftar wawancara
5. Turun ke lapangan dan melakukan wawancara dengan beberapa sumber
6. Merumuskan hasil wawancara
7. Membuat pembahasan hasil wawancara
8. Membuat laporan dari hasil penelitian dengan menggabungkan hasil angket dan
wawancara

8
BAB III
A. HASIL

1. Hasil Angket
- Dari 10 angket yang kami sebarkan, 7 dari 10 penduduk setuju ( tidak keberatan )
dengan dijadikannya wilayah mereka menjadi TPA. Hal ini di karenakan
masyarakat di janjikan dengan sarana yang mendukung wilayahnya.
- Kemudian, dari pertanyaan angket no 2 dapat kita simpulkan bahwa 8 orang dari 10
penduduk merasa terganggu sedangkan 2 orang lainnya biasa-biasa saja.
- Mengenai pertanyaan no 3 tentang pengelolahan sampah apakah sudah berjalan
dengan baik, 6 orang menyatakan belum baik, 4 orang mengatakan cukup baik dan
tidak ada yang mengatakan sudah.
- Mengenai pertanyaan no 4, 8 orang menyatakan mengalami gangguan sejak TPA
tersebut berada di wilayah tersebut. Masalah yang timbul pada umumnya sama
yakni masalah kesehatan.
- Kemudian dari pertanyaan no 5, 9 orang menyatakan bahwa tidak ada upaya dari
pemerintah dalam menanggulangi permasalahan yang terjadi di sekitar daerah TPA
tersebut
- Dan dari pertanyaan no 6, harapan masyarakat di antaranya agar pengelolahan
sampah lebih baik dan pemerintah dapat memenuhi janji-janji mereka.

2.Hasil wawancara
a. Dari penduduk yang tinggal di sekitar TPA sampah Batu Layang
Dari hasil wawancara yang kami lakukan terhadap masyarakat yang tinggal disekitar
TPA sampah Batu Layang maka di dapatkan hasil sebagai berikut :
1. Masyarakat merasa sedikit terganggu sejak adanya TPA sampah Batu Layang
tersebut.
Masyarakat merasa terganggu karena
adanya perubahan baik dari aspek
kenyamanan dan aspek kesehatan
masyarakat.

9
Dari aspek kenyamanan, masyarakat merasa terganggu dengan adanya hirik mudik
truk pengangkut sampah yang walaupun sudah ditutup terpal, namun masih
menyebarkan bau yang tidak sedap saat lewat. Selain itu, jalan-jalan yang menjadi
jalan umum untuk warga juga menjadi rusak karena setiap hari dilewati truk
pengangkut sampah. Jalan-jalan tersebut berlubang-lubang dan becek saat
turunnya hujan.
Masyarakat juga merasa adanya bau yang tidak sedap yang ditimbulkan oleh
TPA sampah tersebut.
Dari aspek kesehatan, masyarakat mengalami gangguan kesehatan. Salah
satunya masyarakat mengalami gatal-gatal. Gatal- gatal tersebut diyakini
masyarakat timbul karena air sumur yang tercemar. Masyarakat mengatakan bahwa
adanya perubahan warna menjadi lebih hitam pada air sumur yang biasa mereka
pakai. Satu-satunya sumber air bersih yang dapat digunakan oleh masyarakat adalah
air sumur. Karena tidak dijumpai adanya Ledeng di wilayah tersebut.
2.Masyarakat merasa adanya ketidakpedulian dari pemerintah
Sebelum dibangunnya TPA tersebut, masyarakat tidak ada yang protes karena
masyarakat di janjikan sarana air bersih berupa Ledeng dan Pos Pelayanan
Kesehatan Masyarakat guna membantu masyarakat jika seandainya ada masalah
kesehatan yang timbul dari pengaruh TPA tersebut.
Namun, sampai sekarang tidak ada satupun yang terealisasikan. Sampai
sekarang, tidak ada Ledeng yang masuk diwilayah tersebut. Sehingga masyarakat
terpaksa menggunakan air sumur yang sudah tercemar.
Di sekitar daerah pemukiman penduduk tidak ditemukan Pos Pelayanan
Kesehatan Masyarakat, sehingga masyarakat perlu pergi jauh untuk mengatasi
masalah kesehatan mereka.

b. Dari seorang pengawas TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak yang bernama
bapak Moningka :
Dari hasil wawancara yang kami lakukan terhadap pengawas TPA tersebut maka
didapatkan hasil berikut:
1. Dari pemerintah sudah mengusahakan untuk
meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan dari
limbah TPA tersebut.

10

Bapak Moningka
Diantaranya pemerintah sudah mengusahakan drainase sebaik mungkin,
dimana air limbah dari TPA tidak keluar dari area tersebut. Air limbah tersebut,
hanya berputar di sekitar TPA itu saja. Namun, pada kenyataannya terjadi konflik
antara masyarakat yang pro dan kontra terhadap adanya TPA tersebut. Dimana
masyarakat yang tidak setuju, mengatakan bahwa penyakit gatal-gatal yang di
alami masyarakat di sebabkan oleh air limbah yang mencemari air parit besar
yang digunakan masyarakat untuk mandi. Namun, menurut bapak Moningka ;
tercemarnya air parit besar tersebut disebabkan karena masyarakat ( pemulung )
sering mengambil barang bekas yang berasal dari TPA dan mencucinya di parit
besar tersebut.
Pemerintah juga mengusahakan drainase terhadap limbah dengan cara
menanam pohon di sekeliling gundukan sampah. Namun, di akui oleh pengawas
tersebut penanaman pohon belum dapat terlaksana di karenakan terhambat
masalah dana.
Pemerintah juga telah mendirikan pabrik gas Methan dimana berfungsi
untuk mencegah adanya bahaya yang ditimbulkan akibat gas Methana yang di
hasilkan oleh penguraian sampah.
Dimana pabrik ini bertujuan untuk
menghasilkan gas ELP yang berguna
sebagai sumber energi pembangkit
listrik.. Namun, pabrik itu masih dalam
tahap percobaan, belum dapat
digunakan berfungsi secara maksimal.
2. Tanggapan Bapak Moningka terhadap pendapat negatif masyarakat mengenai
pengaruh TPA
Menurut bapak Moningka, mengenai perubahan warna air sumur, ini di
sebabkan oleh jenis tanah pada daerah tersebut. Tanah pada daerah tersebut
merupakan tanah gambut.
Mengenai janji pemerintah yang belum terlaksana, bapak Moningka
memang membenarkan adanya ketidaktanggungjawaban pemerintah terhadap
janji. Menurut bapak Moningka, walaupun tidak ada Pos Pelayanan Kesehatan
Masyarakat, dulunya ada petugas kesehatan yang rutin dalam memeriksa
kesehatan masyarakat. Namun, sekarang tidak pernah ada lagi.
3. Mengenai pengelolahan sampah di TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak

11
Sampah memang belum dipisahkan antara organik dan sampah
nonorganik. Sampah setelah di keluarkan dari truk pengangkut sampah, kemudian
di padatkan oleh mesin penggilas sampah. Kemudia apabila sudah sudah padat,
sampah akan ditutup dengan terpal. Lalu di timbun dengan tanah merah. Hal ini
dilakukan secara berlapis-lapis dalam bentuk 4 lapisan.

Gambar yang menunjukkan adanya


pemandatan sampah.

Gambar yang menunjukkan sampah


di tutup terpal

Gambar yang menunjukkan


gundukkan sampah yang telah di
lapisi tanah

Namun pada kenyataannya, terhambat oleh masalah biaya, pelapisan tanah


hanya bias dilakukan sebagian pada sampah. Selain itu, mesin pemandat sampah
yang berfungsi hanya satu. Sehingga sampah menjadi terbengkalai

12
B.PEMBAHASAN

TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak yang dibangun pada tahun 1997
ternyata memberikan perubahan yang besar. Diantaranya wilayah TPA sampah tersebut.
Dulunya merupakan daerah hutan yang lebat dan juga merupakan tanah garapan. Sejak
dijadikan TPA, wilayah tersebut yang dulunya penuh dengan macam-macam tumbuhan
serta menjadi habitat hewan, sekarang berubah menjadi gunung-gunung sampah yang
dapat mencemari tanah di wilayah tersebut. Sangat di sayangkan wilayah yang dipakai
untuk pembuatan TPA adalah lahan yang masih produktif, padahal masih banyak wilayah
yang sudah tidak terpakai lagi. Misalnya wilayah bekas pertambangan.
Kemungkinan wilayah TPA akan
semakin meluas merambat ke hutan-hutan
sekitarnya. Dapat di bayangkan, dalam satu
hari ada sekitar 30 truk pengangkut sampah
yang membawa sampah ke wilayah TPA
tersebut. Maka berapa banyak lagi wilayah
produktif yang akan terancam berubah
dengan adanya TPA tersebut.

Dampak negatif yang di timbulkan sejak adanya TPA tersebut adalah perubahan
lingkungan seperti perubahan wilayah yang telah di jelaskan di paragraph pertama. Selain
itu, adanya masalah kesehatan yang menimpa masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
Dalam hal ini, gangguan kesehatannya berupa gatal-gatal. Bahkan ada juga penduduk
yang sering mengalami sakit perut. Gangguan kesehatan yang terjadi disebabkan oleh
tercemarnya sumber air yang digunakan oleh masyarakat
Tercemarnya sumber air di wilayah tersebut
disebabkan pengelolaan sampah pada TPA kurang baik.
Dari hasil pengamatan kami, tidak adanya pemisahan
antara sampah organik dan sampah non organik pada
TPA tersebut. Sampah hanya dipisahkan oleh pemulung
dan di padatkan hanya dengan menggunakan satu mesin
pemadat sampah.

13
Selain itu, hanya satu gundukkan sampah saja yang di kelola secara baik.
Sedangkan pada gundukkan sampah lainnya, kurang terkelola dengan baik. Tidak ada
kami lihat drainase pada gundukan sampah tersebut. Hal ini yang menyebabkan
tercemarnya air di wilayah tersebut.

Dampak negatif juga terlihat dari sistem


drainase pada TPA tersebut. Sesuai dengan
pernyataan dari pengawas TPA yang mengataka
bahwa air limbah tidak
Air drainase
yang mengenang akan mengalir ke luar dan
hanya tergenang di TPA
tersebut. Genangan air merupakan tempat perkembangbiakkan nyamuk yang dapat
membahayakan masyarakat.
Selain itu, tumpukkan sampah yang mencapai 3 meter dapat membahayakan
masyarakat sekitar ( pemulung-pemulung ). Sampah yang di tumpuk dalam jangka waktu
yang lama dapat meledak dan runtuh. Seperti
yang terjadi di salah satu TPA yang ada di
Bandung beberapa tahun lalu. Bencana
longsong yang terjadi di TPA tersebut terjadi
karena adanya akumulasi panas dalam
tumpukan sampah yang pada akhirnya
menimbulkan ledakan yang sangat hebat.
Karena ledakan inilah maka sampah-sampah tersebut longsor dan menimbun puluhan
rumah serta pemiliknya. Tak kurang dari 100 orang meninggal karena peristiwa ini.
Dilihat dari lapangan, resiko itu dapat terjadi, karena banyaknya gundukkan sampah yang
terbengkalai.
Usaha yang dilakukan pemerintah guna meminimalisir dampak negatif yaitu :
Dari segi memperbaiki wilayah yang sudah di jadikan tempat penumpukkan sampah,
pemerintah mengusahakan gundukan sampah tersebut ditutup dengan lapisan tanah secara
selang-seling. Sehingga gundukan sampah berubah menjadi seperti gundukkan tanah.
Dari segi kesehatan, usaha pemerintah dalam meminimalisir protes-protes warga
yang merasa terganggu kesehatannya akibat limbah TPA tersebut adalah mengadakan
kontrol dari Dinas Kesehatan.

14
Untuk mengurangi resiko terjadinya musibah seperti TPA di Bandung, pemerintah
membuat pabrik gas Methan. Dimana pabrik ini menyedot gas dan panas yang
terakumulasi di gundukkan sampah tersebut.

Pabrik Methan yang di dirikan Pemerintah

15
BAB IV

A. KESIMPULAN
Sampah di TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak terdiri atas
sampah organik dan sampah non organik. Pengelolahan sampah di TPA
tersebut tergolong kurang baik, hal ini dapat di lihat dari banyaknya
dampak negatif yang ditimbulkan dari TPA tersebut.

B. DAFTAR PUSTAKA
Bowlang staf litbang hamit 2008. Pemanfaatan Sampah Sebagai Upaya
Mengurangi Pemanasan Global.18 Februari 2008.
Hermawan, Bendi. htpp:///Sampah Organik sebagai Bahan Baku Biogas
Chem-Is-Try. Situs Kimia .htm ( 18 Maret 2009 )
www. Wikipedia. com( 18 maret 2009 )
www. Kompas.com/// Industri Sampah, Masa Depan TPA Bantar
Gerbang.( 17 Maret 2009 )
www. Nasi Kuning .com/// Pengelolahan Sampah Terpadu.(18 Maret 2009 )

16
17