Anda di halaman 1dari 22

BAB 7

MANAJEMEN PIUTANG

Tujuan intruksional khusus


Setelah membaca dan mempelajari bab ini diharapkan para mahasiswa/I mampu
memahami dengan baik tentang :
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian piutang
Hubungan piutang dan bad debt.
Pengertian cash conversion cycle dan manajemen piutang
Reseivable turnover dan hari rata-rata pengumpulan piutang
Mampu menjawab soal-soal yang diberikan dengan baik dan tepat.

Setiap perusahan bisnis terlibat dalam utang dan piutang. Baik dalam pembelian barang
secara kredit dan juga penjualan barang secara non tunai. Dan setiap utang dan piutang ini
memiliki dimensi permasalahannya masing-masing. Pada bab ini kita akan mengkaji
persoalan piutang beserta seluk beluknya.
1. Definisi piutang
Piutang merupakan bentuk penjualan yang dilakukan oleh suatu perusahaan dimana
pembayarannya tidak dilakukan secara tunai, namun bersifat bertahap. Penjualan piutang
artinya lebih jauh perusahaan menerapkan manajemen kredit. Dan salah satu target dari
manajemen kredit adalah tercapainnya target penjualan sesuai dengan perencanaan, serta
selanjutnya menunggu masuknya dana angsuran ke kas perusahaan.
Pituang itu sendiri beserta berbagai bentuknya Subramanyam dan John J. Wild
memberikan pendapatnya sebagai berikut :
piutang (receivable) merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan
barang atau jasa , atau dari pemberian pinjaman uang. Piutang mencakup nilai jatuh
tempo yang berasal dari aktivitas seperti sewa dan bunga . piutang usaha (account
receivable) mengacu pada janji lisan untuk membayar yang berasal dari penjualan
produk dan jasa secara kredit . wesel tagih (notes receivable) mengacu pada janji
tertulis untuk membayar.

Dalam kebijakan perusahaan piutang terbesar itu terlihat pada piutang dagang (account
receivable), dan piutang dagang itu tercipta karna daya tarik yang tinggi konsumen pada

produk hasil ciptaan perusahaan. Bagi perusahaan semakin besar piutang dagang maka
artinya semakin besar pula kepemilikan financial yang berada di luar yang akan masuk
secara bertahap dan sistematis ke kas perusahaan.

2. Piutang dan Bad Debt


Penjualan produk secara kredit atau piutang daagang dilakukan dengan maksud untuk
menggenjot penjualan agar tercapai sesuai dengan target yang diinginkan. Namun persoalan
sering terjadi pada saat angka penjualan kredit diperbesar menjaadi seiring dengan
meningkatnya piutang ragu-ragu (bad debt), dan semakin besar piutang ragu-ragu maka
semakin besar permasalahan yang harus ditanggung oleh perusahaan di kemudian hari, dan
ini lebih jauh berakibat pada mengecilnya perolehan keuntungan yang akan diterima.
Pendapat ini dipertegas oleh Subramanyam dan John J. Wild pengalaman
menunjukkan bahwa perusahaan tidak dapat menagih semua piutangnya. Dalam hal ini
perusahaan berarti harus menyediakan cadangan piutang tak tertagih ( uncollectible reserve).
Terdapat dua hal yang sering dikhawatirkan berkenaan dengan piutang , yaitu :
(i)
(ii)

Peningkatan piutag yang pesat, lebih pesat dari peningkatan penjualan;


Cadangan piutang tak tertagih yang relatif tidak berubah.

Bagi seorang manajer yang bijaksana ia pasti mengerti penyebab suatu piutang bisa
berubah menjadi bad debt (piutang tak tertagih/ piutang macet). Suatu piutang yang bersifat
bad debt timbul disebabkan oleh beberapa sebab, antara lain :
a. Perusahaan ingin mengejar target penjualan, sehingga angka penjualan dinaikkan.
Kenaikan angka penjualan otomatis biasannya menaikkan jumlah bad debt, dan begitu
pula sebaliknya.
b. Perusahaan dalam memperbesar penjualan dengan menaikkan penjualan produk boleh
dibeli secara non tunai. Maka angka piutang tak tertagih artinya otomatis akan membesar
dengan sendirinnya.
c. Penjualan produk yang bersifat non tunai dilakukan secara tidak hati- hati. Artinnya
ambisi untuk meningkatkan penjualan menjadi lebih dominan dibandingkan menerapkan
manajemen resiko. Termasuk keinginan yang begitu tinggi mengejar bonus.
d. Perusahaan memiliki tagihan atau kewajiban dalam bentuk kredit kepada suatu
perbankan. Disisi lain uang kas perusahaan tidak lagi mencukupi, dengan begitu
perusahaan mengantisipasinnya dengan melakukan penjualan non tunai. Seperti bayar
down payment ( uang muka 40% maka sisannya dalam bentuk kredit. Perolehan 40%
tersebut dipakai membayar kewajiban ke perbankan.

Untuk menciptakan suatu tata kelola manajemen keuangan yang baik, maka manajer
keuangan berkewajiban untuk membuat catatan yang lebih realistis tentang pengkategorian
piutang. Karna piutang usaha bias dimasukkan kedalam kelompok asset lancer dan asset
tidak lancer . pengelompokkan ini tentu saja dengan pertimbangan bagian mana dari piutang
tersebut yang seegera dapat dikonversikan menjadi uang dan mana yang lebih sulit
dikonversikan dengan uang. Dengan pengelompokan demikian, sebenarnya pembaca laporan
keuangan telah dibantu untuk memilah berkenaan dengan kualitas piutang.

3. Cara-cara memperkecil Bad Debt


Oleh karna itu, ada beberapa acuan yang harus diterapkan oleh suatu perusahaan
untuk memperkecil resiko timbulnya bad debt, yaitu :
a. Menghindari keputusan penjualan produk pada saat pasar dalam kondisi fluktuatif atau
akan berada dalam kondisi menuju krisis moneter.
b. Membatalkan penjualan produk pada konsumen yang memiliki reputasi buruk dalam
dunia bisnis.
c. Menghindari produksi dan penerimaan order pada saat pasar tidak menentu.
d. Melakukan dan menerapkan tindakan prudential principle (prinsip kehati-hatian) pada
saat tingkat persaingan bisnis semakin tinggi, dan inovasi prduk perusahaan
berlangsung secara lambat.
e. Ada ukuran persentase yang layak diterapkan untuk besaran piutang, misalnya 30 40
% dari total penjualan, atau pada kondisi ekonomi sangat stabil perusahaan boleh
memperbesar hingga 45%. Namun jika persentas itu ingin ditingkatkan lagi maka
pembahasan dengan seluruh manajer yang dimaksud disini adalah mulai dari manajer
marketing , finance, production, hingga human resource dilibatkan secara intensif dan
focus.

Dalam praktiknya, perusahaan melaporkan piutang sebesar nilai realisasi bersih (net
realizable value) jumlah piutang total dikurangi penyisihan piutang tak tertagih ( kadangkadang disebut juga piutang sangsi atau piutang ragu-ragu). Memang pihak manajemen
bagian penjualan sudah melakukan analisis secara sangat mendalam dalam nmenentukan
kepihak-pihak mana yang paling tepat menerima order penjualan artinya bonafid, trust
analysis kajian mikro dan makro ekonomi, metodologi analisis , advise konsultan, dan lain
sebagainya. Tapi sebagai manusia biasa yang terbiasa mengandalkan data masa lalu sebagai
alat prediksi dimasa depan, maka memungkinkan ada beberapa data yang tidak layak lagi
untuk dipergunakan atau tidak sesuai dengan realita masa depan. Disinilh kesalahan itu
terjadi, dan piutang ragu-ragu menjadi salah satu sebab yang harus ditanggung oleh pihak
manajemen perusahaan.

4. Cash conversion cycle dalam perspektif manajemen piutang


Cash conversion cycle atau siklus konversi kas, menyangkut bagaimana suatu perusahaan

mengusahakan agar pengeluaran kas terpergunakan sesuai dengan waktunnya. Jika waktu
yang digunakan adalah lebih singkat maka itu artinnya adalah semakin efisien , dan begitu
pula sebaliknya. Artinya dengan perputaran dan pengembalian yang cepat akan membuat dana
kas tersebut dapat dipergunakan lagi di tempat lain yang dianggap memiliki memiliki nilai
produktif.
Munurut Lukas Setia Atmaja, cash conversion cycle (ccc) adalah waktu rata-rata antara penjualan
kas untuk sumber daya produktif dengann penerimaan kas dari penjualan produk. Dalam neraca
posisi kas menduduki tempat tertinggi atau tempat yang dianggap paling likuid. Dengan begitu
perusahaan menginginkan dana yang tersedia dikas selalu berada dalam posisi mencukupi, sehingga
wajar jika manajer keuangan menginginkan siklus konversi kas selalu dalam keadaan aman dan
terkendali.
Adapun pengertian dari conversion (konversi) dapat kita lihat pendapat yang dikemukakan oleh
Joel G. Siegel dan Jae K. Shim dibawah ini.
1. Tindakan mengubah satu kelas surat berharga perusahaan menjadi kelas surat berharga lainnya.
Misalnya mengkonversikan obligasi menjadi saham.
2. Membuat penilaian pengganti untuk yang lain. Misalnya, menyatakan kembali biaya historis untuk
biaya saat ini.
3. Pengiriman saham dana bersama dari dana yang satu kedana yang lain dalam satu jenis.
4. Menukar mata uang dari yang satu ke yang lainnya dengan menggunakan rasio pertukaran (kurs).

Sedangkan untuk penafsiran cash conversion cycle disini dapat diterjemahkan sebagai dana kas
yang dipakai untuk menghasilkan produk atau membeli bahan mentah atau bahan setengah jadi atau
bahan jadi untuk selanjutnya diproses dan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih menguntungkan.
Dimana keuntuntungan tersebut dapat dipakai untuk menambah kas perusahaan.
Untuk menghitung kas conversion cycle kita dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Cash conversion cycle = ICP + RCP + PDP


Dimana :
CCC = cash conversion cycle ( siklus konversi kas)
ICP = Inventory conversion period (periode konversi persediaan)
RCP = reseivable collection period

PDP = payable deferral period (periode penundaan piutang)

Adapun pengertian lebih dalam dari ICP,RCP, dan PDP dapat kita lihat pendapat yang dikemukakan
oleh Lukas Setia Atmaja dibawah ini ,
a. Inventory conversion period adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mengubah bahan
mentah menjadi produk jadi dan kemudian dijual kembali. Rumus untuk menghitung ICP adalah :

inventory conversion period=

360
HPP/ Persediaan

HPP = Harga pokok penjualan


b. Receivable collection period adalah waktu rata-rata untuk mengubah piutang menjadi kas. Rumus
untuk mnghitung RCP adalah :
Receivable collection period =

piutang
penjualan/360

360 x piutang
HPP

c. Payable differal period adalah waktu rata-rata antara pembelian bahan baku dan tenaga kerja
dengan waktu pembayarannya.

5. Unsur- unsur kredit


Unsur unsur kredit adalah sebagai berikut :
a. Kepercayaan, kepercayaan ( trust) adalah suatu yang paling utama dari unsur kredit
yang arus ada karena tanpa ada rasa saling percaya antara kreditur dan debitur akan
sangat sulit terwujud suatu sinergi kerja yang baik . karna dalam konsep sekarang ini
kreditur dan debitur adalah mitra bisnis.
b. Waktu, waktu (time) adalah bagian yang paling sering dijadikan kajian oleh pihak
analisis finance khususnya oleh analisis kredit. Ini dapat dimengerti karna bagi pihak
kreditur saat ia menyerahkan uang kepada debitur maka juga harus memperhitungkan
juga saat pembayaran kembali yang akan dilakukan oleh debitur itu sendiri, yaitu limit
waktu yang tersepakati dalam perjanjian yag telah ditandatangani kedua belah phak.
Analsis waktu bagi pihak kreditur menyangkut dengan analisis dalam bentuk
calculation of time value of money ( hitungan nilai waktu dari uang) yaitu nilai uang
pada saat sekarang adalah berbeda dengan nilai uang pada saat yang akan datang.
c. Resiko, resiko disini menyangkut persoalan seperti degree of risk. Disini yang paling
dikaji adalah pada keadaaan yang terburuk yaitu pada saat kredit tersebut tidak
kembali atau timbulnya kredit macet. Ini menyangkut dengan persoalan seperti

lamanya waktu pemberian kredit yang menyebabkan naiknya tingkat resiko yang
timbul, karna para pebisnis menginginkan adanya ketetapan waktu dalam proses
pemberian kredit ini. Lamanya proses pemberian kredit ini tidak terlepas dari berbagai
masalah seperti menyangkut dengan kajian dan analisis apakah kredit tersebut layak
diberikan dan ukuran kelayakannya sejauh mana untuk pantas dicairkan. Jadi sisi
kajian resiko disini menjadi bagian yang paling penting untuk dikaji, sehingga dengan
begitu muncullah penempatan jaminan (collaterial) dalam pemberian kredit.
d. Prestasi, prestasi yang dimaksud disini adalah prestasi yang dimiliki oleh kreditur
untuk memberikan keada debitur pada dasarnya bentuk atau objek dari kredit itu
sendiri adalah tidak selalu dalam bentuk uang tapi juga boleh dalam bentuk barang dan
jasa (goods and service) namun pada saat sekarang ini pemberian kredit dalam bentuk
uang adalah lebih dominan terjadi dari pada bentuk barang. Maka bagi pihak kreditur
akan sangat menilai akan bagaimana tindakan yang dilakukan oleh pihaak debitur
dalam usahannya atau prestasinnya mengelola kredit yang diberikaan tersebut. Jadi
disini dikaji dari segi prestasi dan wanprestasi.
e. Adanya kreditur, kreditur yang dimaksud disini adalah pihak yang memiliki uang
(money), barang (goods), atau jasa (service) untuk dipinjamkan kepada pihak lain,
dengan harapan dari hasil pinjaman itu akan diperoleh keuntungan dalam bentuk
interest (bunga) sebagai balas jasa dari uang, barang, atau jasa yang telah dipinjamkan
tersebut.
f. Adanya debitur, debitur yang dimaksud disini adalah pihak yang memerlukan uang
(money), barang (goods), atau jasa (service) dan berkomitmen untuk mampu
mengembalikannya tepat sesuai dengan waktu yang disepakati serta bersedia
menanggung berbagai resiko jika melakukan keterlambatan sesuai dengan ketentuan
administrasi dalam kesepakata perjanjian yang tertera di sana.

6. Jenis kredit dan jangka waktunya


Kategori kredit menyebabkan kredit itu sendiri memiliki beberapa posisinya
masing-masing dengan kegunaan yang berbeda-beda pula. Perbedaan-perbedaan tersebut
menyebabkan public (masyarakat) bias memutuskan mana kredit yang akan dipilihnya
sesuai dengan yang diperlukan pada bentuk kebutuhan yang akan digunakannya. Maka
untuk lebih jelasnyadapat kita lihat penjelasan-penjelasan sebagai berikut :
a. Kredit berdasarkan jenisnya
1) Kredit Konsumtif (consumptive credit) kredit ini adalah kredit yang diajukan
oleh seorang debitur kepada kreditur guna memenuhi kebutuhan pribadinnya.
Seperti untuk membeli sepeda motor , mobil, rumah, perabotan rumah, untuk
renovasi rumah dan lain-lainnya.
2) Kredit Produktif (productive credit) kredit ini adalah umumnya di pakai atau
diajukan oleh mereka yang mempunyai bisnis dan membutuhkan dana dalam

usahanya untuk berekspansi bisnis atau bertujuan untuk meningkatkan grafik hasil
yang telah diperoleh saat ini menjadi lebih tinggi , seperti ingin menghasilkan
produk baru/ tambahan, ingin membuka kantor cabang baru (brand office) untuk
bidang pemasaran. Umumnya kredit ini dibagi dua, yaitu :
a) Kredit Investasi (investment credit) adalah kredit yang saat diajukan oleh
debitur ke kreditur dengan tujuan akan dipergunakan untuk membeli barangbarang modal (capital goods).
b) Kredit Modal Kerja ( Working Capital credit) adalah kredit yang saat
diajukan oleh debitur ke kreditur dengan tujuan akan digunakan dananya
khusus untuk membeli bahan baku (material) atau kebutuhan suku cadang
( spare part).
3) Kredit Perdagangan (Trade Credit) , kredit ini adalah umumnya dananya
dipergunakan untuk keperluan perdagangan (trade) . kredit perdagangan diajukan
dengan maksud untuk membuat agar barang yang telah diproduksi tersebut
menjadi lebih berguna dan bias dipakai oleh banyak orang bukan hanya pada
mereka yang berada di satu area tapi diharapkan barang tersebut bias dipakai oleh
banyak orang dari tempat yang berbeda baik daerah , Negara, kawasan dan juga
budaya, atau ini bias disebut untuk membuat barang tersebut memiliki
peningkatan utility of place dari suatu barang. Umumnya kredit perdagangan ini
dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) kredit perdagangan dalam negeri, dan
b) kredit perdagangan luar negeri atau biasa disebut dengan kredit ekspor dan
impor (export and import).
b. Kredit Menurut Jangka Waktu
1) Kredit jangka pendek (short term credit). Kredit ini memiliki jangka waktu
selama-lamanya 1 (satu ) tahun atau maksimum 1 (satu ) tahun. Penggunaan
kredit ini misalnya dipergunakan oleh mereka yang bercocok tanaman yang usia
tanamannya adalah dalam kurun waktu hanya satu tahun.
2) Kredit jangka menengah ( medium term loan) kredit ini memiliki jangka
waktu antara 1 (satu ) sampai dengan 3 (tiga) tahun . debitur biasannya
mempergunakan kredit ini untuk keperluan yang menyangkut working capital
yaitu seperti membeli bahan baku (material) , membayar upah buruh , membeli
suku cadang (spare part).
3) Kredit jangka panjang (long term loan). Kredit ini memiliki jangka waktu
yang lebih dari 3 (tiga) tahun, adalah kredit yang berjangka waktu melebihi 3
tahun . debitur biasanya mengajukan dan mempergunakan dana hasil kredit ini
untuk keperluan investasi, penambahan produksi, atau juga karna produk bisnis
yang ditekuninya sudah mulai memasuki pasar luar negeri (international trade)
seperti untuk memperluas usaha dengan membuka kantor cabang (brand office)
dan kantor cabang pembantu (sub brand office) di beberapa daerah atau bahkan
di luar negeri , sedang melakukan pengerjaan proyek baru, dan lain-lainnya.

c. Kredit Berdasarkan Jaminan


Keputusan untuk menetapkan jaminan (secure) pada setiap debitur yang
mengajukan pinjaman kepada lembaga pemberi pinjaman adalah dengan tujuan untuk
melindungi terhadap keberadaan dana yang telah diberikan tersebut. Kebijakan
perbankan untuk menaikkan receivable turnover-nya akan turut mempengaruhi
tingginya profit yang akan diperolehnya namun bukan tidak mungkin bisa
menimbulkan naiknya bad debt (piutang tak tertagih) yang semakin tinggi pula pada
saat sikap ketidak hati-hatian dalam menilai kelayakan pemberian kredit yang akan
dicairkannya.
Maka guna meng-hedging dari dana yang sudah disalurkannya tersebut
perbankan, leasing dan sejenisnya harus memperhatikan sekali beberapa platform
pengajuan kredit yang diajukan dalam jumlah jaminan yang tertera pada proposal.
Bila platform-nya adalah seharga dari angka pinjaman yang diajukan jelas pihak
kreditur akan menolaknya apa lagi jika jaminan tersebut adalah nilainya lebih rendah
dari angka pinjaman yang diajukan. Mungkin bank akan menganggap baik atau cepat
melakukan proses pencairan kredit yang diajukan atau kredit dicairkan dengan nilai
50% dari nilai jaminan. Kedudukan jaminan dalam kredit adalah bertujuan
memperkecil resiko yang akan diterima di kemudian hari (future risk).
7. Bentuk Kredit Berdasarkan Jaminan
Kredit berdasarkan jaminan ini ada dua yaitu kredit dengan jaminan (secured
loans) dan kredit tanpa jaminan (insecure loans).
a. Kredit dengan jaminan (secured loans). Kredit Dengan jaminan ini merupakan
kredit yang kepemilikan dananya berasal dari bank dan debitur bertugas untuk
menjamin resiko yang akan timbul ke depan nantinya. Kredit ini terdiri atas :
1) Jaminan kebendaan yang bersifat tangible , ini terdiri dari benda-benda
bergerak seperti mesin, kendaraan bermotor , dan lain-lain, maupun yang tidak
bergerak seperti tanah ( land) , bangunan (building) dan lain-lainnya.
2) Jaminan perseorangan (borgtocht) yaitu kredit yang jaminanya dijamin oleh
seseorang atau badan dimana ia bertindak sebagai pihak yang bertanggung jawab
untuk menjamin bahwa kredit tersebut akan mampu untuk melunasi tepat pada
waktunya.
3) Jaminan berbentuk commercial paper (surat berharga) seperti stock (saham) ,
bond (obligasi) yang didaftarkan dan di perdagangkan di bursa efek.
b. Kredit tanpa jaminan (insecure loans) , sering disebut kredit blanko . kredit ini
diberikan kepada debitur adalah tanpa adanya jaminan tapi atas dasar kepercayaan
saja karena debitur dianggap mampu untuk mengembalikan pinjaman tersebut.
c. Jenis kredit berdasarkan kualitas

Pada saat kredit disalurkan ke masyarakat maka artinya pihak bank tela melakukan
kebijakan perputaran piutang (receivable turnover) dalam jumla tertentu dan siap
untuk melakukan penarikan receivable tersebut dengan ditambah keuntungan dalam
bentuk interest (bunga) yang akan diterimanya setiap bulan . tentunya dari receivable
turnover tersebut akan terlihat dimana debitur yang lancar membayar cicilan plus
bunganya dengan tepat waktu setiap bulannya dan mana debitur yang tidak tepat
waktu atau masuk dalam kategori bermasalah . kajian kelancaran kredit bagi pihak
perbankan memposisikan kredit tersebut berdasarkan pada kualitas kredit . sehingga
secara umum ada dua jenis kredit berdasarkan kualitas yaitu :
1) Kredit performing
Performing credit atau kredit performing ini dikategorikan pada dua kualitas yaitu
pertama kredit dengan kualitas lancar dan kedua kredit dengan kualitas yang
harus mendapat perhatian khusus.
2) Kredit nonperforming
Non performing credit ini adalah kredit yang dikategorikan dalam tiga kualitas
yaitu pertama kredit dengan kualitas yang kurang lancar, kedua kredit dengan
kualitas yang diragukan dan ketiga kredit macet atau yang biasa disebut dengan
bad debt.
8. Persyaratan Umum Untuk Mengajukan Kredit
Untuk mengajukan pinjaman kredit ke suatu lembaga perbankan ada beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur sebagai syarat administrasi yaitu :
a. Foto copy KTP (kartu identitas pemohon) dan foto copy KTP istri jika pemohon
adalah suami, begitu pula sebaliknya.
b. Foto Copy KK ( Kartu Keluarga).
c. SK 80% dan 100% (untuk 80% khusus bagi PNS, namun jika pegawai swasta juga
memilikinya agar turut menyertakannya.
d. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) .
e. Sertifikat kepemilikan rumah dan tanah sebagai jaminan, atau BPKB kendaraan
f. Buku tabungan baik di bank tersebut dan di bank lain.
g. Surat keterangan tempat berkerja ( bagi pegawai kontrak)
h. Slip gaji 3 (tiga) atau 4 (empat) bulan terakhir.
i. Mengisi formulir pengajuan kredit sesuai permintaan . contohnya mengisi formulir
pengajuan kredit KPR (Kredit Perumahan Rakyat) jika ingin mengambil pinjaman
untuk memiliki rumah.
j. Surat keterangan sanggup membayar cicilan kredit dengan baik jika masa pensiun
kerja semakin dekat. Contohnya masa kerja 10 tahun 7 bulan lagi dan calon debitur
ingin mengambil kredit 10 tahun maka keterangan atau jaminan dari pimpinan tempat
berkerja sangat diperlukan.
Pada poin d dijelaskan tentang NPWP , dimana permasalahan NPWP sekarang ini
menjadi suatu yang penting untuk dipertanyakan sehubungan keinginan pemerintah untuk
menikkan pendapatan dari sector fiscal. Bahkan bagi mereka yang akan keluar negeri

tanpa memeiliki NPWP juga tidak dibenarkan atau akan mengalami kesulitan untuk
pemberian izin.

9. Penilaian Kredit
Dalam memutuskan pemberian kredit atau melakukan pencairan dana melalui
kredit maka ada beberapa hal yang harus dipikirkan baik oleh kreditur atau juga debitur
secara umum dan itu sudah menjadi penilaian umum, yaitu yang biasa dikenal dengan
lima C (5C) prinsip lima C yaitu :
a. Character (karakteristik)
Ini menyangkut dengan sisi psikologis calon penerima kredit itu sendiri, yaitu
karakteristik atau sifat yang dimilikinya , seperti latar belakang keluargannya, hobi, cara
hidup yang dijalani, kebiasaan-kebiasaanya. Tinjauan karakteristik ini bisa dilihat pada
bagaimana ia melakukan keputusan bisnis selama ini dalam ketepatan waktu yang
menyangkut dengan perjanjian atau kesepakatan-kesepakatan yang telah dilakukan
selama ini. Kita bisa melakukan pengecekan pada pihak-pihak yang telah menjadi mitra
bisnisnya selama ini , yaitu menyangkut kepuasan dan juga kedisiplinanya menyelesaikan
hal-hal yang berhubungan dengan financial seperti penyelesaian utang dagang atau juga
seperti keinginannya untuk mampu memenuhi seperti 2/30 net 120. 2/30 net 120 artinya
adalah diberikanya diskon 2 persen jika di bayar jangka waktu 30 hari da jika lebih dari
30 hari tidak aka nada diskon atau diskonya dianggap hilang, sedangkan 120 hari adalah
batas waktu maksimal pembayaran. Dimana 2/30 net 120 adalah sebuah kebijakan
perusahaan dalam usahanya untuk mempercepat pengumpulan piutang dengan
memberikan discount 2/30 net 120 . pada prinsipnya jika sebuah perusahaan ingin benarbenar dinilai dari segi karakteristik ini maka tentulah ini semua tertuju kepada penilaian
kejujuran pihak manajemen perusahaan dalam mengelola perusahaan selama ini. Maka
analisis dengan pendekatan human resource dan aspek psikologi adalah sangat tidak bisa
dikesampingkan. Sehingga tidak mengherankan jika kita melihat mengapa pada
perusahaan-perusahaan yang berskala menengah keatas terutama perusahaaan yang go
public bahwa setiap manajer yang diterima disana dlakukannya uji seperti fit dan proper
test, adalah ini bukan tidak lain yaitu untuk melihat sisi lebih dalam dari diri seseorang
calon manajer tersebut , sebelum ia masuk dan memimpin perusahaan tersebut . secara
umum tujuan memahami karakteristik ini adalah menyangkut dengan persoalan seperti
kejujuran seorang nasabah dalam urusannyaa untuk berusaha memenuhi kewjibannya
atau dengan istilah lainnya adalah willingness to pay.
b. Capacity (kemampuan)
Capacity adalah menyangkut dengan business record atau kemampuan seorang
pebisnis mengelola usahannya , terutama pada masa-masa sulit sehingga nanti akan

terlihat ability to pay atau kemampuan membayar . kemampuan yang dimiliki oleh
setiap orang adalah berbeda-beda. Setiap orang memilki bakatnya masing-masing atau
keahliannya yang berbeda dengan orang lain dan itu pada dasarnya telah menjadi
keunggulannya yang lebih dibandingkan dengan orang lain. Maka pada saat seseorang
memutuskan untuk masuk kedalam satu sector bisnis dan memulai bisnis tersebut maka
yang menjadi persoalannya apakah bisnis yang dijalaninya tersebut dalah bisnis yang
sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya atau lebih pada sebuah keputusan yang
sifatnya melihat pada sisi trend saja. Dimana yang harus kita pahami dalam konsep
investasi ada beberapa factor yang selalu saja mengganggu atau membuat sebuah sector
bisnis itu mengalami masalah atau yang dikenal dengan istilah resiko bisnis. Maka bagi
seorang pebisnis akan lebih baik jika ia melakukan aktivitas bisnis adalah dengan
memperhatikan berbagai resiko yang mungkin timbul jika bisnis seperti ini yang
diambil dan juga apa tindakan yang akan diambilnya jika resiko yang seperti itu terjadi
nantinya. Ada sebuah nasehat dari para pebisnis adalah jangan menjadi peternak lebah
jika anda tidak tahu bagaimana menjaga lebah, atau ini dapat dianalogikan secara
sederhana yaitu jangan menjadi pedagang dengan menjual barang yang bukan sesuai
dengan kemampuan yang kita miliki karena itu akan beresiko nantinya. Maka begitu juga
bagi pihak perbankan ia akan melakukan analisis secara mendalam sebelum permohonan
kredit yang diajukan oleh nasabah tersebut layak untuk dicairkan.
c. Capital (modal)
ini menyangkut dengan kemampuan modal yang dimilki oleh seseorang pada
saat ia melaksanakan bisnisnya tersebut. Capital ini secara umum dapat dilihat pada
balancesheet , income statement, capital structure, return on equity , return on investment.
Maka akan lebih baik jika ia melakukan peminjaman kepada pihak perbankan atau
leasing maka angka pengajuan kreditnya trsebut adalah melebihi dari kepemilikan modal
yang dimilikinya . karena jika ia melakukan peminjaman dana adalah melebihi dari
kepemilikan modal yang dipunyainya maka jelas ini akan menimbulkan resiko
dikemudian hari (future risk) apalagi jika terjadinya persoalan kemacetan dalam cash
flow atau aliran kas yang dimilikinya . bahwa banyak konsultan keuangan member advise
kepada para bebisnis agar dalam tindakan keputusan berutang tersebut haruslah bisa
menyeimbangkan asset dan jumlah utang yang akan dilakukan. Pendapat ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh seorang ahli analisis senior pada Dun & Bradsreet
Analytical service, bila dikelola dengan baik, utang dapat sangat bermanfaat, karena
merupakan cara yang baik untuk menjadikan uang berkerja untuk anda . anda
meningkatkan harta anda , sehingga anda dapat menghasilkan lebih banyak uang dari
pada yang dibayarkan untuk bunga. Meskipun dmikian , utang yang berlebih dapat
merusak bisnis. Hal yang sam berlaku pula pada suatu bisnis. Terlalu besarnya utang
atau kebijakan uang tanpa control ternyata ini telah menenggelamkan ribuan perusahaan
setiap tahunnya.

d. Collateral (jaminan)
Collateral atau yang biasa disebut dengan jaminan adalah barang atau suatu yang
dapat dijadikan jaminan pada saat seseorang akan melakukan peminjaman dana dalam
bentuk kredit ke sebuah perbankan atau leasing. Untuk jenis barang ini dapat berupa
muali dari land (tanah), building (bangunan), automotive (mobil,motor) atau juga
pesawat, helikoper juga bisa dijadikan jaminan, dan juga barang lainnya yang kira-kira
dapat disetujui oleh pihak analisis kredit. Pada seorang karyawan tetap disebuah
perusahaan maka jika pada saat ia mengajukan pinjaman ia dapat memperlihatkan slip
gaji yang dimilikinya, surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai pegawai,dan
beberapa surat lain yang dianggap sebagai pendukung seperti kartu keluarga (KK) kartu
tanda penduduk (KTP) dan lainnya lagi yang dianggap bisa dipertanggung jawabkan
dikemudian hari nantinya. Selain yang diebutkan diatas maka jabatan yang dipegang oleh
seseorang juga bisa menjadi sebuah jaminan jika jabatan itu memungkinkan dan dapat
diterima sebagai bagian yang bisa dipertanggungjawabkan dikemudian hari, seperti
jabatan seorang gubernur, menteri dan lainnya.
e. Condition Of Economy (Kondisi Perekonomian)
Kondisi perekonomian yang tengah berlangsung disuatu Negara seperti tingka
pertumbuhan ekonomi yang tengah terjadi, angka inflasi, jumlah pengangguran,
purchasing power parity (daya beli), penerapan kebijakan moneter sekarang dan yang
akan datang, dan iklim dunia usaha yaitu regulasi pemerintah , serta situasi ekonomi
internasional yang tengah berkembang adalah bagian penting untuk dianalisa dan
dijadikan bahan pertimbangan , bagi analisis yunior bidang kredit atau bagi pihak yang
akan memulai usaha serta juga bagi mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan
ekonomi dan masih memiliki banyak kekurangan dalam memahami persoalan condition
of economy pada suatu Negara maka ada baiknya untuk tahap ini adalah dengan mencari
informasi terlebih dahulu dari mereka yang telah lama berkecimpung dalam masalah
kredit, seperti seorang analis kredit dari sebuah perbankan, penulis buku masalah kredit ,
atau setidaknya meminta pendapat dari para ahli ekonomi. Karena kesalahan yang banyak
terjadi pada mereka yang meminjam dana dari pihak perbankan atau mengambil kredit
adalah berdasarkan keputusan yang tidak di back up oleh dasar-dasar yang kuat namun
lebih pada intuisi dan perkiraaan yang sederhana saja tanpa mempertimbangkan banyak
segi dan factor khususnya fakor makro ekonomi. Maka bukan tidak mungkin kita
menemukan banyak sekali bukti yang memperlihatkan bahwa pada mereka yang
melakukan seperti itu dalam perjalanan usaha nya mengalami masalah dalam usaha
mengembalikan pinjaman yang telah dimilikinya tersebut yang bisa jadi karna factor
penurunan keuntungan dari yang diprediksi semula. Atau salah keputusan pada pada
lading usaha yang dikerjakan yaitu tidak sesuai dengan bakat namun mengikuti trend
dunia usaha yang sedang berkembang contohnya bisnis wartel (warung telekomunikasi)
dan warnet ( warung internet) , dimana kita mengetahui dalam era perkembangan

teknologi sekarang ini begitu dinamis telah menyeabkan pemakaian telepon pada wartel
mengalami penurunan yang tajam. Hal ini disebabkan salah satunya adalah munculnya
CDMA ( code division multiple access) , yatiu sejenis telepon dengan biaya local pada
saat kita akan menelepon rumah selama ini , apalagi dengan munculnya banyak jenis
CDMA saling bersaing untuk memperebutkan pelanggan seperti Flexi, Esia, Fren dan
lainnya yang mana ini telah menciptakan suatu kondisi pasar yang kompetitif atau perfect
market ( pasar persaingan sempurna) dimana setiap konsumen bebas untuk memilih
mana produk yang paling sesuai dengan kebutuhan yang dimilikinya dan juga biaya yang
paling murah. Sehingga efek yang begitu dinamis dari perkembangan teknologi telepon
berjenis CDMA ini adalah dimana yang terjadi yaitu bagi mereka yang memiliki rumah
tempat tinggal baru atau biasanya para pasangan muda yang memiliki rumah tempat
tinggal baru atau biasanya para pasangan muda adalah tidak lagi memasang telepon
rumah mereka dengan cara mendaftar pada kantor Telkom untuk mengurus pemasangan
nomor teleopn rumah dan itu butuh waktu serta prosedur administrasi yang lama dalam
artian tidak bisa selesai dalam waktu 1 (satu ) jam tapi bisa lebih dari itu bahkan bisa
berhari-hari apalagi denga birokrasi yang panjang . maka untuk urusan CDMA ini bagi
seorang konsumen adalah dapat dilakukan dengan cara yang paling mudah yaitu
mendatangi sebuah counter penjualaan handphone dan dapat segera membeli handphone
CDMA tersebut sekaligus membeli nomor berserta pulsanya . dan keuntungan lain yang
bisa diperoleh adalah sikonsumen tidak perlu antri membayar tagihan telepon setiap
bulannya karna ia dapat mengisi pulsa telepon tersebut dengan cepat pada setiap kios
yang menjual pulsa telepon untuk CDMA tersebut. Maka begitu juga yang terjadi dengan
warnet yaitu perkembangan teknologi menyebabkan munculnya handphone yang bisa
terhubung dengan internet yang mana si konsumen bisa langsung mengecek email atau
inforrmasi lain yang ia dibutuhkan atau dengan munculnya Hot Spot pada tempat-tempat
tertentu di caf, mall, kampus yang menyediakan dan tesedia layanan hotspot . belum lagi
dengan adanya teknologi perangkat kecil yang dapat dihubungkan langsung dengan
notebook seseorang sehingga orang tersebut dapat langsung bisa connect dengan internet
dimanapun ia berada . dan semua itu dapat dilakukannya tanpa harus khusus datang ke
warnet. Dan semua ini karena factor perkembangan teknologi yang begitu cepat
berkembang terutama teknologi asing yang masuk dan mereka berusaha dengan kuat
untuk membuka pasar bagi penjualan produknya pada setiap Negara di dunia ini.
Tabel 7.1 pangsa pemerintah dan kelompok temasek
Dari segi kegiatan usaha (miliar rupiah)
PT Indosat
PT telkomsel
PE Exelcomindo
Pangsa pemerintah

2003

2004

2005

2006

8.229,6
11.146,0
2.228,7
22,61%

10.430,1
14.765,1
2.590,7
23,05%

11.589,8
21.132,9
3.059,1
24,20%

12.239,4
29.145,2
4.681,7
24,85%

21,44%
Pangsa kelompok temasek
Dari segi nilai tambah Bruto (miliar rupiah)
4.647,7
PT Indosat
8.189,1
PT telkomsel
1,625,4
PE Exelcomindo
23,43%
Pangsa pemerintah
20,57%
Pangsa kelompok temasek
Sumber : kompas, 15 agustus 2007, hal 21.

21,56%

21,11%

20,12%

6.408,7
10.989,9
1.126,2
26,67%
21,84%

6.697,7
16.102,1
1.129,7
26,39%
21,32%

7.026,4
21.767,8
2.928,0
26,00%
19,79%

Pada perosalan mengenai penggunaan handphone ini adalah sebenarnya diindonesia


masih jauh dari yang dianggap murah atau terciptanya suatu pasar yang kompetitif
terutama untuk pengguna telepon seluler (GSM) . ini dikarenakan di Indonesia pada saat
ini adalah dimana indosat dan telkomsel kepemilikan sahamnya dimiliki oleh perusahaan
induk yang sama sebuah perusahaan yang berasal dari singapura yaitu temasek holdings.
Maka karena kepemilikan sahamnya berasal dari satu perusahaan maka sangat sulit
menemukan suatu bentuk persaingan yang sehat tapi bisa dikatakan lebih bersifat semu.
Karena kondisi kepemilikan yang seperti ini maka cenderung telah menyebabkan pasar
tidak berkerja secara hokum pasar tapi berdasarkan keputusan yang terkndali atau dari
segi ekonomi kondisi ini biasa disebut dengan pasar berstruktur oligopoly.
Pasar oligopoly adalah dimana suatu kondisi hanya ada beberapa pasar hanya
memiliki sedikit penjual yang mana penjual ini tidak melakukan persaingan agresif .
maka dalam kondisi pasar yang bersifat oligopoly ini jelas para konsumen akan sangat
dirugikan dan produsen begitu sangat diuntungkan karena public tidak mempunyai
pilihan lain selain menggunakan produk tersebut. sehingga dalam kondisi oligopoly
seperti ini dirasa sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah sebagai pemegang otoritas
kekuasaan untuk campur tangan yaitu dengan mengeluarkan kebijakannya atau aturan
agar kondisi yang bersifat persaingan semu ini tidak tercipta begitu lama.
Tabel 7.2 pangsa pasar tiga operator besar GSM berdasarkan jumlah pelanggan
no
1
2
3

operator
Telkomsel
Indosat (cell)
exelcomindo
Total

Jumlah pelanggan
29.987.000
14.655.238
8.233.774
52. 876.012

Sumber : Dirjen postel ,2006, dalam tribun Biz, 28 juli 2007 hal 3 (diolah)

Penguasaan pasar (%)


56.72
27.72
15.57
100

Sebenarnya pada Negara Indonesia peraturan yang menjelaskan hal yang seperti itu
sudah terjelaskan dalam undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang praktik monopoly
dan persaingan usaha yang tidak sehat . maka dengan begitu berdasarkan isi peraturan
pada UU No 5/1999 jelas bahwa kasus telepon seluler (GSM) diatas adalah telah
melanggar peraturan. Maka untuk menyelesaikan permasalahan ini kiranya peranan KPU
atau komisi pengawas persaingan usaha sangat dibutuhkan.
Adapun isi dari pasal 27 huruf a pada UU no 5/1999 adalah berbunyi bahwa
pelaku usaha dilarang memilki saham mayoritas pada beberap perusahaan sejenis yang
melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama,
atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada
pasar bersangkutan yang sama , apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan : a satu
pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih 50 pangsa pasar satu
jenis barang atau jasa tertentu. pada kasus Telkomsel dan Indosat (cell) adalah mereka
(temasek holdings) tidak langsung menguasai saham-saham tapi melakukannya lewat
anak perusahaanya yaitu Sing Tel. bahwa sampai pada akhir tahun 2006 dimana tarif
untuk operator seluler ditentukan pemerintah berdasarkan keputusan memteri pariwisata,
pos dan telekomunikasi No. KM 27./PR.301/MPPT-98.
Dari data diatas terlihat bahwa telkomsel dan indosat (cell) menguasai 84,44%
pangsa pasar atau 44.642.238 jumlah pelanggan dari 52. 876.012. total pelanggan. Ini
adalah sebuah jumlah yang besar apalagi jika dilihat akan jumlah keuntungan yang
diperolehnya.

Tabel 7.3 potensi pasar music ponsel di Indonesia


Keterangan
Jumlah operator
Pengguna seluler
Ring back tone

Jumlah
11
Sekitar 70 juta
Peringkat ke -3 dunia 2007

Sumber : diolah dari berbagai sumber , dalam bisnis Indonesia 15 februari 2008, hal T8.

Dari pembahasan di atas pada prinsipnya untuk saat ini character adalah menjadi bagian
dominan untuk dianalisis apalagi jika dihubungkan dengan terjadinya banyak kasus-kasus
yang menyebabkan timbulnya kredit macet di perbankan dalam satu dasawarsa ini.
Penyelesaian kasus perbankan yang bermasalah dengan membuat keputusan seperti merger
dan bahkan lebih jauh yaitu akuisisi, tentunya ini keputusan yang bijak jika dilihat dari sudut
pemerintah . bentuk kebijakan pemerintah seperti merger dan bahkan lebih jauh yaitu akuisisi
itu sebenarnya merupakan cara pemerintah untuk menyelamatkan dan memberikan
kenyamanan kepada para nasabah serta tetap mempertahankan citra positif dalam iklim

kebijakan moneter diindonesia terhadap penilaian pada kepercayaan pemerintah dalam


menyelesaikan dan mengendalikan moneter.
Maka pada persoalan character di atas harus mendapat perhatian khusus sebab banyak
sekali dunia perbankan yang terkecoh dengan strategi dan model manajemen yang diterapkan
oleh para colon kreditor pada saat berhadapan dan memberikan proposal ke bank. Serta juga
masih lemahnya kemampuan perbankan dalam mengaudit kelayakan suatu ajuan kredit
tersebut, atau bisa disimpulkan kapasitas SDM perbankan saat ini tidak begitu sangat cekatan
atau sigap menghadapi kaum praktisi bisnis dengan tingkat kelihaian yang telah mereka miliki
secara teori dan praktis.
Kajian 5c ini secara umum dapat dijadikan patokan penilaian untuk merealisasikan
pemberian atau pencairan kredit tersebut . walaupun pada prinsipnya 5C ini tidak mutlak.
Secara konsep memang dipahami bahwa suatu dunia usaha tidak akan berkembang tanpa
adanya bantuan dana dari pihak eksternal khususnya dunia perbankan. Namun public juga
harus mengerti bahwa kesalahan dalam pemberian kredit yang tidak pada tempatnya
cenderung telah menyebabkan naiknya angka kredit macet, dimana jika angka kredit macet ini
bertambah dan tanpa ada jaminan penyelesaian maka implikasi yang timbul akhirnya juga
berpengaruh pada menurunnya laju pertumbuhan ekonomi . dan seperti kita ketahui beberapa
dana yang harus dikeluarkan oleh suatu government (pemerintah) guna menstabilkan kembali
kondisi perekonomian yang cenderung sulit untuk kembali normal dalam waktu dekat.

10. Pengawasan Kredit


Pada saat kredit sudah diberikan kepada debitur maka sudah menjadi kewajiban
jugs bagi pihak perbankan untuk mengawasi kelancaran terselesaikannya kredit tersebut
hingga lunas . karena tujuan dari pemberian kredit adalah salah satunya terhindar dari
timbulnya kredit macet.
Ada dua bentuk pengawasan yang dilakukan oleh pihak perbankan dalam bidang
pengawasan kredit yaitu,
a. Pengawasan dengan model preventif control
Pengawasan dengan model ini adalah delakukan oleh pihak perbankan sebelum
kredit tersebut tercairkan atau diberikan kepada calon debitur. Tujuannya adalah
guna menghindari kesalahan yang lebih fatal di kemudian hari . jadi disini akan
dilihat mulai dari kelengkapan berkas yang diajukan hngga survey ke lapangan
seperti jaminan dan bentuk usaha yang akan dilakukan.
b. Pengawasan dengan model represif control
Pengawasan dengan model ini adalah dilakukan pada saat kredit tersebut telah
diberikan kepada debitur , pengawasan disini diberikan dengan tujuan agar kreditur

tersebut terbangun kedisiplinan yang kuat untuk melunasi setiap pinjamannya secara
tepat waktu.
11. Tingkat kolektibilitas kredit (collectability credit)
Bank Indonesia yang juga disebut sebagai the last of resort dalam surat keputusan
direksi bank Indonesia No 31/147/KEP/DIR tanggal 12 november 1998 tentang kualitas
aktiva produktif pasal 6 ayat 1 membagi tingkat kolektibilitas kredit kedalam 5 jenis
yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Kredit lancar
Kredit dalam perhatian khusus
Kredit kurang lancar
Kredit keraguan, dan
Kredit macet

12. Menghitung Receivable Turnover dan Hari Rata-Rata Pengumpulan Piutang

Dalam konsep piutang (receivable concept) semakin tinggi perputaran maka


semakin baik, namun begitu pula sebaliknya semakin lambat perputaran piutang maka
semakin tidak baik. Karena itu bagi suatu perusahaan untuk menaikkan angka penjualan
salah satu caranya dengan menerapkan kebijakan piutang, termasuk memperlunak jangka
waktu piutang . misalnya dari 40 hari menjadi 55 hari, dan itu juga diikuti dengan
memperbesar penjualan kredit misalnya dari 400 juta menjadi 650 juta.
Adapun rumus untuk menghitung receivable turnover adalah :

recevables turnover=

Net Credit Sales


Average Receivables

Selanjutnya perusahaan dapat menghitung hari rata-rata pengumpulan piutang dengan


menggunakan rumus sebagai berikut :
hari rat arata pengumpulan piutang=

360
recevablesturnover

Hari rata-rata pengumpulan piutang dapat di hitung dengan ,


360 x average receivable
Net Credit Sales

Istilah penting dalam bab ini


Average receivable
Bad debt
Manajemen resiko
Piutang
Receivable turnover
Pertanyaan untuk didiskusikan
1. Jelaskan pengertian piutang, dan berikan contohnya.
2. Jelaskan mengapa suatu perusahaan perlu melakukan kebijakan piutang.
3. Apakah pengertian cash conversion cycle. Berikan penyelesaian cash conversion
cycle dengan arus kas suatu perusahaan . jika ada dan tidak ada hubungan berikan
penjelasan anda
4. Ada dua bentuk pengawasan yang dilakukan oleh pihak perbankan dalam bidang
pengawasan kredit yaitu , model preventif control dan represif control , jelaskan
kelebihan dan kekurangan kedua bentuk model tersebut.
Soal dan jawaban
1. Soal
Manajemen keuangan PT Sentosa Sejahtera melakukan analisis pada manajemen
piutang yang sudah berlangsung selama ini. Dimana hasil analisis terlihat bahwa
perusahaan memiliki rata-rata pengumpulan piutang adalah 75 hari , dan rata-rata
pembayaran utang dagang adalah 55 hari, serta rata-rata inventory turnover (perputaran
persediaan) adalah 96 hari . maka hitunglah cash conversion cycle PT Sentosa
Sejahtera ?
Jawaban
Untuk menghitung cash conversion cycle kita dapat menggunakan rumus di bawah ini .
Cash conversion cycle = ICP + RCP + PDP
Maka :

Cash conversion cycle = ICP + RCP + PDP


= 96 + 75+ 55

= 226 hari

Sehingga Cash conversion cycle PT Sentosa Sejahtera adalah 226 hari

2. Soal
Perhatikan tabel dibawah ini
Uraian
Net Credit Sales
Receivable :
Awal tahun
Akhir tahun
Average Receivable
Receivable turnover
Receivable collction period

2008
Rp. 50. 000.000,-

Tahun
2009
Rp. 54.000.000.-

2010
Rp 58. 000.000,-

Rp 12.000.000,Rp 18.000.000,Rp 15. 000.000,6x


120 hari

Rp 18.000.000,Rp 22. 000.000,Rp 17. 000.000,7x


130 hari

Rp 22. 000.000,Rp 27. 000.000,Rp 19. 000.000,9x


145 hari

Berdasarkan data diatas maka hitunglah Receivable turnover dari rata-rata pengumpulan
piutang .
Jawaban

recevables turnover=

Net Credit Sales


Average Receivables

Tahun 2008
15.000 .000,

Receivable turnover = 50.000.000,

= 3,3333
= 333,33%

Tahun 2009
17.5 00.000,

Receivable turnover = 54 .000 .000,

= 3,0857
= 308,57%

Tahun 2010
19.0 00.000,

Receivable turnover = 58 .000.000,

= 3,0526
= 305,26%

3. Soal
Apakah suatu piutang selalu berpotensi timbulnya bad debt. Jelaskan bagaimana anda
memahami persoalan bad debt dalam perspektif manajemen piutang. Dan berikan contoh
Jawaban
Bad debt sering disebut juga dengan kredit macet atau piutang ragu-ragu, kondisi dan
kasus bad debt terjadi pada saat angka penjualan kredit perusahaan diperbesar. Tujuan
diperbesarnya angka penjualan kredit juga untuk meningkatkan perolehan keuntungan
penjualan . contoh misalkan pada saat angka penjualan produk perusahaan untuk tahunn
2011 adalah 1,5 miliar dan hitungan bad debt adalah 2,5% atau sebesar Rp 37. 500.000,dan disaat diterapkan kebijakan ingin meraih keuntungan dari penjualan dengan
melakukan ekspansi pemasaran yang lebih besar di tahun 2012 dengan meningkatkan
angka penjualan menjadi 3,5 miliar maka diperkirakan angka bad debt juga turut terjadi
peningkatan sebesar Rp 875.000.000,- namun yang menjadi persoalan jika kondisi bad
debt tersebut naik dari 2,5 % menjadi 5% hingga 7 % atau bahkan lebih dari itu. Karena
menghilangkan seratus persen bad debt juga sulit untuk dilakukan , akan tetapi
melakukan pengontrolan untuk menciptakan bad debt selalu dalam batas ambang yang
realistis merupakan keinginan dari pemilik
mereka yang menjalankan perusahaan.
Catatan Akhir

perusahaan dan manajemen peusahaan

1) Subramanyam dan John J. Wild, 2010, Analisis Laporan Keuangan , buku 1, Salemba Empat , Jakarta,
2)
3)
4)
5)

(terjemahan ). Hlm. 274.


Subramanyam dan John J. Wild, Op. Cit., Buku 1, Hlm. 275.
Said Kelana Aswani dan Chandra Wijaya, 2010, Pengantar Valuasi ,Jakarta, Salemba Empat, Hlm. 19
Said Kelana Aswani dan Chandra Wijaya,Ibid
Pendapat penulis dilihami dari sumber tulisan Said Kelana Aswani dan Chandra Wijaya, Op. Cit., hlm.

6)
7)
8)
9)
10)

20.
Said Kelana Aswani dan Chandra Wijaya,Ibid.
Said Kelana Aswani dan Chandra Wijaya,Ibid.
Subramanyam dan John J. Wild, Op. Cit., Buku 1, Hlm. 275
Lukas Setia Atmaja, 2001, Mnanajemen Keuangan , Yogyakarta, Andi offset. Hlm. 366.
Joel G. Siegel dan Jae K. Shim, 1999, kamus istilah akuntansi, Jakarta, Elex Media Komputindo,

11)
12)
13)
14)

(terjemahan). 105.
Lukas Setia Atmaja, op, cit ., hlm 366
Lukas Setia Atmaja,Ibid
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) 2001
untuk lebih dalam baca Taswan , 2003, Akuntansi Perbankan Transaksi dalam Valuta Rupiah, edisi

Revisi, UPP AMPYKPN, Yogyakarta.


15) Fit and proper test , adalah bentuk test yang dilakukan menyangkut dengan test kesehatan dan test
potensi akademik seseorang. Penggunaan fit and proper test ini menjadi penting jika kita
menginginkan memperoleh seorang karyawan yang bak dari segi kapabilitas atau kemampuannya
mengambil keputusan bahkan stamina fisiknya yang kuat. Pada periode kedua kepresidenan susilo
Bambang Yudhoyono, beliau melakukan test dalam bentuk fit and proper test keada para calon
menterinya dengan tujuan guna menghindari para menteri pada saat berkeerja mengalami masalah baik
dari segi kemampuan dan kesehatan . sebab pada periode pertama beliau menjabat sebagai presiden,
menteri dalam negeri Maruf mengalami sakit hingga selama beberapa bulan tidak berkerja dan
digantikan sementara oleh Widodo AS (Menkompolkam) untuk selanjutnya mengangkat Mardiyanto
sebagai mendagri sebagai pengganti Maruf.
16) Willingness to pay , salah satu bagian analysis yang dilakukan oleh seorang appraisal kredit adalah
Willingness to pay, dan ada banyak analisa lain yang dijadikan ukuran termasuk melihat kondisi
internal perusahaan , business record , kapabilitas suatu personal individu yang berada di organisasi
tersebut, dan lain sebagainya.
17) Business record , catatan dan perjalanan bisnis suatu usaha pememegang pengaruh penting dalam
menilaai suatu kinerja perusahaan , seperti sebuah perusahaan yang jarang mengalami permasalahan
dalam tunggakan pembayaran cicilan kredit dan sebagainnya.
18) Purchasing power parity ini dipengaruhi oleh berbagai sebab, termasuk oleh kondisi mikrodan makro
ekonomi.
19) Termesek holdings. Saat ini termesek holdings merupakan salah satu perusahaan yang bereputasi
internasional dan berkualitas, dimana kepemilikan kekayaannya telah berada di berbagai tempat
termasuk sahamnya di indosat dan di telkomsel.
20) Rumus receivable turnover ini penulis kutip dari buku Bambang Riyanto, 2001, dasar-dasar
pembelanjaan perusahaan, Yogyakarta ,BPFE. Hlm. 90.
21) Rumus hari rata-rata pengumpulan piutang ini penulis kutip dari buku Bambang Riyanto, 2001 dasardasar pembelanjaan perusahaan, Yogyakarta ,BPFE. Hlm. 90.

22) Bambang Riyanto, Ibid.


23) Contoh soal disini penulis kutip dari buku Lukas Setia Atmaja, 2001 manajemen keuangan ,
Yogyakarta, Andi offset. Hlm. 379 namun angka dan beberapa bahasa sudah penulis lakukan
perubahan.
Soal dibawah ini bersumber dari Bambang Riyanto, Op Cit., hlm.91. namun disini angka dan

24)

berbagai bahasa sudah penulis rubah agar menjadi lebih fleksibel dan mudah dimengerti oleh para
pembaca.

Anda mungkin juga menyukai